Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Cari Alam Melayu Gara-Gara Nusantara dan Pikir-Pikir Jawi

Kawasan Asia Tenggara ini memang unik. Tidak hanya dari segi geografisnya yang berada di “ujung dunia” namun juga kekayaan alam serta keanekaragaman budayanya. Menurut sejarawan Anthony Reid, Asia Tenggara adalah sebuah area khusus yang memiliki perjalanan sejarah panjang dan membentuk sebuah “hub” atau penghubung antara peradaban Cina dan India. Kawasan ini sudah sejak zaman peradaban kuno dipandang oleh dunia luar sebagai bagian dari bumi yang penuh misteri sekaligus eksotis. Tercatat dari tujuh kali pelayaran Sindbad Si Pelaut keliling berbagai tempat di dalam Kisah 1001 Malam, kira-kira dua hingga tiga di antaranya berada di wilayah kepulauan Asia Tenggara. Pelayaran pertama si pelaut asal Baghdad menuju Cina ini konon membuatnya terdampar di Pulau Sumatera yang saat itu dipimpin oleh seorang raja bernama “Mihrajan”, gelar yang identik dengan Maharaja di Sriwijaya.

Sebagai sebuah kawasan yang terletak di kawasan persimpangan kebudayaan-kebudayaan besar, mengutip Remy Sylado, bangsa Asia Tenggara ini tidak mengenal “pagar”. Kemampuan adaptasi dan adopsi mereka amat tinggi, terbukti dengan kayanya bahasa-bahasa Austronesia dengan serapan dari Bahasa Sansekerta, Arab, Persia dan Cina. Meskipun kebanyakan pengaruh-pengaruh tersebut masuk karena dominasi keagamaan, peran hubungan maritim pun juga tak dapat diabaikan. Malah konon agama-agama mayoritas di Asia Tenggara seperti Islam, Kristen, Hindu dan Buddha awalnya masuk melalui jalur perdagangan. Masih dari Anthony Reid, Asia Tenggara yang sudah tidak asing dengan kedatangan para pendatang ini terlihat begitu menggemaskan dan membuat penasaran karena selain menerima hal-hal baru yang dibawa oleh orang-orang tersebut, mereka tetap mempertahankan identitas lokal mereka dan bahkan mengulen keduanya menjadi sebuah bentuk baru yang unik. Contoh paling sederhana yang dapat kita temukan sekarang adalah seperti ini: saya bernama depan “Muhammad” yang diambil dari tradisi Islam dan nama belakang “Buana” yang berarti dunia dalam Bahasa Sansekerta. Kombinasi keduanya tidak terdengar asing sama sekali di telinga Austronesia kita, bukan?

Masyarakat di kepulauan Asia Tenggara ini sejatinya amatlah majemuk. Meskipun menunjukkan ciri-ciri asal-mula yang sama (bangsa Austronesia, dengan sedikit campuran bangsa-bangsa ras Asiatik lainnya), keragaman muncul dalam intensitas yang cukup tinggi. Dalam sebuah pulau saja, terdapat beberapa bahasa yang berbeda. Ada kalanya bahasa-bahasa tersebut saling berhubungan dekat satu-sama lain sehingga antarsuku masih dapat mengerti, namun ada kalanya bahasa-bahasa tersebut berbeda begitu jauh satu sama lain sehingga membutuhkan kehadiran bahasa ketiga sebagai lingua franca. Proses difusi juga terus-menerus terjadi: ada kalanya entitas budaya yang lebih kuat mempengaruhi budaya lain yang lebih lemah sehingga terjadi peleburan. Rasa keserumpunan sudah tertanam sejak penyebaran nenek moyang mereka dari Taiwan ribuan tahun yang lalu. Beberapa contoh kebiasaan seperti pengolahan umbi-umbian, pengagungan terhadap tanaman padi serta permainan rakyat “tari bambu” seakan-akan menjadi penghubung mereka semua.

Kiranya, sebagai sebuah kawasan yang terdiri atas orang-orang serumpun, layaklah kepulauan Asia Tenggara ini memiliki nama yang mereka gunakan untuk memanggil diri sendiri maupun sepupu-sepupu di sekitar mereka. Salah satu rekaman sejarah tertua yang memandang kepulauan Asia Tenggara sebagai satu-kesatuan dengan sebuah nama julukan ialah Kitab Negarakretagama. Kitab peninggalan kerajaan Majapahit yang ditemukan di sebuah puri di Pulau Lombok ini menggambarkan cita-cita Mahapatih Gadjah Mada yang ingin menaklukkan seluruh “Nusantara”. Apakah Nusantara ini? Nusantara, berdasarkan tafsiran dari kitab itu sendiri, sejatinya adalah pulau-pulau yang berada di luar kekuasaan Majapahit. Secara etimologis Nusantara berasal dari kata “nusa” dan “antara”. Dulu, jauh sebelum Gadjah Mada dan Majapahit, Prabu Kertanegara dari Singasari pernah mencetuskan istilah senada dengan nama “Dwipantara”.

Ketika Indonesia baru merdeka, istilah Nusantara kemudian digunakan oleh pendahulu kita untuk menekankan kesatuan dalam perbedaan yang merata di negara kepulauan ini. Nusantara diadopsi dan definisinya dikembangkan dengan luas, kali ini Pulau Jawa juga merupakan bagian dari Nusantara tersebut. seiring dengan perkembangan zaman, Nusantara pun menjadi semakin luas. Yang tadinya hanya meliputi daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka sekarang juga meliputi negara serumpun seperti Malaysia dan Filipina. Seiring dengan berkembangnya studi antropologi dan genetika maka semakin luas pula cakupan Nusantara ini. Kini Nusantara terbentang dari Madagaskar hingga Hawaii, pulau-pulau yang dihuni oleh ras Austronesia dan sepupu mereka, bangsa Polynesia.

Akan tetapi, ternyata tidak semua orang menerima istilah Nusantara ini untuk menggambarkan masyarakat Indonesia dan serumpunnya. Ada yang keberatan dengan latar kesejarahan Imperium Majapahit yang berniat menundukkan seluruh bangsa di bawah lambang kebesarannya. Di Malaysia, istilah Alam Melayu digunakan sebagai sinonim untuk Nusantara. Bagi mereka pada dasarnya seluruh penghuni kepulauan Asia Tenggara ini masuk ke dalam dunia komponen besar yaitu Proto-Melayu dan Deutro-Melayu. Meskipun secara kultur berbeda, keduanya sama-sama berasal dari akar Melayu, yang konon jika ditarik maka sejatinya berasal dari Yunnan. Penggunaan terminologi “Melayu” bagi ras pribumi berkulit coklat ini kemudian dipopulerkan oleh Raffles dengan tambahan unsur baru: Islam. Penjelajah yang sekaligus seorang biologiawan dari Inggris bernama Alfred R. Wallace juga kemudian menggunakan istilah “Kepulauan Melayu” di dalam bukunya untuk menyebut Indonesia dan Malaysia. Menurut Anthony Reid, mengapa Melayu yang dipilih sebagai simbol keserumpunan oleh bangsa Eropa, karena berdasarkan observasi mereka, dulu terdapat sebuah kemaharajaan maritim bernama Sriwijaya yang amat sangat berpengaruh di kepulauan Asia Tenggara. Sriwijaya inilah yang menjadi cikal-bakal kebudayaan Melayu.

Nah, lain Nusantara, lain Alam Melayu maka lain pula dengan Jawi. Jawi ialah singkatan dari “Jaza’ir al Jawi” yang bermakna kepulauan Jawa. Zaman dahulu, pedagang Arab menggunakan terminologi Jawi untuk menyebut seluruh daerah di Asia Tenggara maritim.

Samathrah, Sholibis, Sundah, kullah Jawi” (Sumatera, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa), ujar mereka dalam Bahasa Arab.

Istilah ini kemudian berkembang untuk menyebut sistem tulis bangsa Melayu yang diadopsi dari huruf Arab. Abjad Jawi ini dalam perkembangannya justru identik dengan kebudayaan Melayu, menyebar hingga Malaysia, Indonesia, Filipina Selatan, Thailand Selatan, Singapura, dan Brunei Darussalam. Seorang ulama masyhur asal Banten bahkan dijuluki Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani. Konon, mengapa bangsa Arab memukul rata seluruh kepulauan Asia Tenggara dengan nama Jawi disebabkan oleh sebuah komoditas perdagangan bernama kemenyan. Jenis kemenyan tertentu dalam Bahasa Arab disebut luban jawi (kemenyan Jawa), yang asal sebenarnya dari Sumatera. Oleh para pedagang Eropa luban jawi ini berubah nama menjadi La Benjawi, yang kemudian oleh pedagang Venezia diubah lagi menjadi La Benzoin, hingga akhirnya masuk ke dalam Bahasa Inggris sebagai benzoin.

Akhirnya, sampailah kita pada sebuah penghujung. Istilah manakah yang layak digunakan untuk menyebut kesatuan rumpun masyarakat dan negara-negara di kepulauan Asia Tenggara ini? Apakah Nusantara yang beraroma kekuasaan Majapahit, Alam Melayu yang demikian luas tafsirannya, ataukah Jawi? Jawabannya: terserah anda. Dengan nama apapun kepulauan Asia Tenggara ini disebut, unsur-unsur keserumpunan budaya dan bahasa, kesatuan leluhur serta kesamaan geografis akan selalu muncul. Justru yang paling penting bukanlah dengan nama apa kita disebut tetapi bagaimana pemaknaan kita terhadap keistimewaan kawasan ini sendiri.

Kalau kata William Shakespeare dulu: “Apalah arti sebuah nama.”

Salam Nusantara, Alam Melayu dan Bani Jawi!

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Menyambut Tamu dengan Piper Betle

Teman-teman punya kakek atau nenek yang hobi nyirih? Atau masih ada keluarga di kampung halaman kalian yang demen mengunyah tanaman unik ini? Jika iya, berarti kalian adalah sedikit dari mereka yang beruntung dapat menyaksikan tradisi berumur ribuan tahun asli bangsa Asia Tenggara!

Eh? Serius nyirih udah berlangsung selama ribuan tahun?

Daun Sirih

Tanaman sirih (Piper betle) dan tradisi mengunyah sirih diperkirakan berasal dari Asia Selatan serta Asia Tenggara. Ada juga yang mengatakan bahwa tradisi ini berawal dari Cina dan India lalu menyebar ke daerah Asia lainnya. Penemuan kotak sirih bersama benda-benda prasejarah seperti pisau besi, mata kail perunggu, gelang, anting-anting berbentuk hewan dan arca di Sulawesi Selatan menandakan bahwa sirih telah dikonsumsi oleh penghuni nusantara sejak Zaman Logam. Saat ini belum ada penemuan resmi yang membuka tabir asal-mula diolahnya sirih dalam peradaban manusia. Akan tetapi, dengan memperhatikan kebudayaan-kebudayaan yang berada di sekitar wilayah penyebaran daun sirih, dapat disimpulkan bahwa tradisi ini telah hidup setua masyarakat itu sendiri.

Di Vietnam, aktifitas mengunyah sirih merupakan “pembuka” dalam setiap forum resmi. Demikian pula di dalam lingkungan adat Melayu. Umumnya sirih dikunyah dengan pinang, kapur, kapulaga ataupun gambir. Di daerah Bengali (India) daun sirih malah biasanya dicampur dengan tobacco atau rempah-rempah lainnya. Istilah sekapur sirih yang kita kenal dalam Bahasa Indonesia sebagai kata pengantar atau sambutan pun lahir dari kebiasaan menyuguhkan daun sirih dan kapur untuk para tetamu.

Daun sirih yang dapat dengan mudah tumbuh di pekarangan rumah, kebun, hutan, atau bahkan di pinggir jalan membuat tanaman ini kosmopolitan bagi masyarakat Asia Tenggara. Dalam film berjudul Yamada The Samurai of Ayutthaya (2010) kita mengetahui bahwa bangsa Thai pun menganggap nyirih sebagai bagian dari kebudayaan klasik mereka. Berlatar zaman Kerajaan Ayuthayya, samurai Jepang bernama Yamada yang terluka ditolong oleh seorang gadis Thailand di sebuah desa kecil. Sambil menunggu lukanya sembuh, Ia diperkenalkan cara untuk mengonsumsi daun sirih (yang disebut sebagai ‘tradisi khas kami’) oleh seorang anak kecil lokal. Kontan saja karena perbedaan kebudayaan antara Jepang dan Thailand Ia merasa tidak nyaman ketika mengunyah sirih untuk pertama kalinya (dan menjadi bahan guyonan anak kecil tadi). Oleh bangsa-bangsa di Asia Tenggara, daun sirih dipercaya memiliki banyak khasiat; mulai dari  menyegarkan napas, membersihkan kotoran di tubuh, hingga sebagai obat perangsang.