Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba Old Stuff Good Stuff

Makanan dan Tradisi Perjamuan dalam Epos La Galigo

Sobat Lontara, pada tanggal 27 Maret 2026 silam, untuk pertama kalinya diadakan sebuah acara bertajuk Indonesian Food Outside Indonesia Symposium di kota Leiden. Acara yang terselenggarakan oleh kolaborasi antara Stichting Eating Habits bersama Indonesian Diaspora Network Global dan KITLV ini bertujuan untuk menjadi wadah bagi diaspora Indonesia di luar negeri saling bertukar gagasan serta pengalaman mempromosikan kuliner Indonesia di kancah mancanegara. Panelis-panelis yang diundang sudah pasti berkaliber pada bidangnya, mereka merupakan orang-orang Indonesia/keturunan Indonesia yang memiliki bisnis restoran, penulis buku-buku resep masakan, hingga influencer kuliner dari berbagai pelosok benua Eropa dan Amerika.

Nah, ngomong-omong soal makanan, tahu kah kamu bahwa epos La Galigo yang didapuk sebagai karya sastra terpanjang di dunia itu juga merekam tradisi kuliner dan bahkan adab dalam menghidangkan makanan? Simak ceritanya di artikel ini yuk!

Bananas, goiaba e outras frutas, Albert Eckhout (17th century)

Epos La Galigo menyiratkan bahwa tradisi menjamu tamu dengan makanan telah eksis bahkan sebelum Dunia Tengah diisi oleh manusia. Hal ini nampak pada episode “Mula Taué” (Permulaan Manusia) yang bercerita tentang persiapan para dewata untuk menurunkan Batara Guru La Togeq Langiq sebagai manusia pertama di muka bumi. Demi membahas detail prosedur peristiwa yang maha-penting ini, Datu Patotoé selaku penguasa tertinggi Boting Langiq (Dunia Atas) sekaligus ayah Batara Guru mengundang saudarinya, Sinaung Toja, yang bertakhta sebagai penguasa di Toddang Toja (Dunia Bawah) bersama sang suami, Opu Samudda, untuk naik ke atas langit menghadiri rapat besar. Dalam master plan Datu Patotoé, nantinya Batara Guru akan ditemani pula oleh Wé Nyiliq Timoq, putri sulung pasangan Sinaung Toja dan Opu Samudda, sebagai pasangan suami-istri pertama di Dunia Tengah.

Nah, dalam perjalanan rombongan Sinaung Toja yang tak terbilang jumlahnya dari dasar samudera menuju ke Boting Langiq melalui sebuah jembatan pelangi, mereka melewati negeri-negeri langit yang diperintah oleh anak-anak Datu Patotoé lainnya. Salah satunya adalah negeri Léténg Riuq yang dipimpin oleh Balassa Riuq, Sang Penyabung Petir. Ketika melihat rombongan bibinya dari Toddang Toja itu melewati istananya, maka selaku keponakan yang baik, Balassa Riuq bergegas menyambut dan mengundang Sinaung Toja untuk makan siang.

Sompa makkeda Balassa Riuq, “Léppang ko mai, Puang Ponratu, majjelleq tikkaq ri jajaremmu, tasitinroq pa ménréq manaiq ri Boting Langiq, apaq nadapiq maneng kkeng obiq.” Mabbali ada Sinaung Toja, “Kerruq jiwamu, Anaq Ponratu, lé tellépang ngaq, Anaq, majjelleq ri langkanamu, apaq mabéla mua pa ronnang ri Rualletté, lé nadapiq ni tanra tikkaqna ncajiangngé kko.”

(Menyembah sambil berkata Balassa Riuq,

“Mampirlah kemari, Puang-ku, makan siang di balairungmu, nanti kita beriring jalan naik ke Boting Langiq, sebab kami pun mendapat panggilan (dari Datu Patotoé).”

Menjawab Sinaung Toja,

“Kur jiwamu, Paduka Anakanda. Aku tidak singgah makan siang di istanamu karena masih jauh nian Rualetté (istana Datu Patotoé), telah tiba pula hari yang ditetapkan oleh orang tuanmu.”)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 1, Leiden University Library

Undangan makan siang dari Balassa Riuq tersebut adalah sebuah gambaran adat-istiadat yang hingga hari ini masih berlaku di tengah masyarakat Bugis. Menjamu tamu adalah suatu keharusan, tindakan ini tidak hanya menunjukkan keramah-tamahan namun juga tingginya adab seseorang selaku tuan rumah kepada tetamu yang memasuki rumahnya. Sikap Balassa Riuq ini adalah manifestasi dari nilai sipakalebbiq (saling memuliakan) yang juga nampak dari pepatah Bugis “Macca duppa to polé, panguju to lao” (pandai dalam menerima tamu serta membekali ia yang bepergian).

Dalam perjalanan hingga ke langit lapis kesembilan tempat istana Rualetté berada, Sinaung Toja dan suaminya terus mendapatkan undangan makan siang dari keponakan-keponakan mereka, namun seluruhnya ditolak. Nantinya, setelah rombongan Toddang Toja tiba di Rualetté, barulah ia berkenan untuk makan bersama sang kakak, Datu Patotoé. Tindakan Sinaung Toja dalam menolak tawaran-tawaran jamuan dari keponakan-keponakannya itu sejatinya adalah bentuk penghormatan kepada kakaknya sebagai pihak yang mengundang. Ia tidak ingin mengecewakan Datu Patotoé, apabila jika ternyata kedatangannya jadi terlambat karena menerima seluruh ajakan makan siang dari Balassa Riuq bersaudara. Nampak bahwa undangan untuk makan bukan sekadar ajakan untuk mengisi perut semata, namun punya arti yang begitu mendalam terkait tata krama!

Makanan Dewata v. Makanan Manusia

Salah satu aspek menarik terkait kuliner di dalam cerita-cerita La Galigo adalah dibedakannya makanan ke dalam dua kategori, yaitu makanan yang khusus disajikan kepada dewata serta makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Pembedaan dua jenis makanan ini berkaitan erat dengan kepercayaan leluhur di zaman dahulu bahwa kehidupan kita sehari-hari senantiasa tak terpisahkan dari ritual-ritual yang menghubungkan manusia dengan roh-roh nenek moyang. Di La Galigo, makanan yang dikonsumsi oleh para dewata di Boting Langiq kerap dijuluki pula dengan istilah ‘makanan orang Senrijawa yang tidak dipanggang di atas api.’ Senrijawa dalam konteks ini adalah istilah pars pro toto yang merujuk kepada seluruh kerajaan langit tempat para dewata bermukim. Nah, berbeda dengan makanan manusia yang harus diolah terlebih dahulu seperti dipanggang, maka makanan para dewata ini sudah tersaji dengan sempurna tanpa perlu diproses. Teknik memanggang makanan (ritunuang) menariknya adalah cara memasak paling awal yang manusia praktekkan di dalam epos ini.

Di Dunia Tengah, manusia pun juga memberikan sajian kepada para dewata sebagai bagian dari ritual. Umumnya, makanan dewata ini adalah makanan yang dapat dikonsumsi pula oleh manusia, namun pada saat ritual tengah berlangsung, makanan-makanan tersebut terlarang bagi mereka. Sebagai makanan yang dipersembahkan kepada dewata, tentu saja kualitas yang disajikan adalah yang terbaik. Daging kerbau menjadi pilihan utama yang kerap dipersembahkan dalam upacara-upacara adat maupun ritual-ritual untuk menyenangkan hati dewata. Disebutkan bahwa daging tédong camara (kerbau hitam dengan warna putih pada ubun-ubunnya) yang dipanggang adalah sajian terbaik untuk dipersembahkan kepada mereka. Tak heran jika kemudian ada banyak sekali adegan di epos La Galigo yang menampilkan bagaimana ratusan ekor kerbau jenis ini dikurbankan sebagai tanda melunasi nazar tertentu. Contohnya, saat Wé Nyiliq Timoq menderita di tengah persalinan melahirkan putra pertamanya, maka diadakan lah ritual doa memohon kemudahan kepada Datu Patotoé sekaligus pengurbanan kerbau-kerbau tersebut.

“Jaji o mai céro datué, natuo ina, natuo anaq, lé nasiwakkang lempuq datué ri jajianna. Lé nanre mua lé déwataé tédong camara tebbanna keti mattanruq kati ri alakkéreng lé potto buneq. Tekkuassengngen esso madécéng tikkaq mawajiq, kupaléssoq i samaja tédong jawi tinio sungeq datunna datu anriku.”

(“Lahirlah engkau kemari darah bangsawan, biar hidup ibu, hidup anak, agar sepangkuan jualah datu dengan anaknya. Kiranya dewata menerima kerbau cemara bertanduk emas yang seketi banyaknya, becocokkan hidung gelang emas. Tak kupeduli siang ataupun matahari terbit, kusembahkan nazar kerbau pembela jiwa kehidupan Sri Paduka ratu adinda.”)

Lantas, apa yang dimakan oleh manusia? Nah, masih di episode “Mula Tau”, dikisahkan bahwa ketika Batara Guru dan istrinya, Wé Nyiliq Timoq, masih awam selaku penghuni baru di Dunia Tengah, mereka memperhatikan alam di sekeliling mereka untuk menemukan makanan. Di salah satu kesempatan, Wé Nyiliq Timoq melihat beberapa ekor burung tengah menikmati suatu buah dengan lahapnya.

Ngkiling makkeda Wé Nyiliq Timoq, “Aré ga sia mennang ri awa lé maridié? Malampéq-lampéq mua lamana, napoinanré lé manuq-manuq tesserupaé.” Mabbali ada Batara Guru, “Ia na ro, Anri, riaseng lé utti tasaq.”

(Berpaling sembari berkata Wé Nyiliq Timoq:

“Apa gerangan di bawah sana, yang berwarna kuning? Agak panjang daunnya, menjadi makanan aneka macam burung.”

Batara Guru menjawab:

“Itulah, Adinda, yang dikatakan pisang masak.”)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 1, Leiden University Library

Ketika mengetahui bahwa burung-burung tersebut tidak mati keracunan setelah mengonsumsi pisang, maka Wé Nyiliq Timoq pun meminta untuk diambilkan buah itu sebagai makanan pertamanya di Dunia Tengah. Kejadian serupa terjadi beberapa kali: setelah melakukan observasi terhadap apa saja yang dimakan oleh para binatang di hutan, Wé Nyiliq Timor dan suaminya berhasil mengumpulkan beragam jenis makanan alami seperti biji-bijian, buah-buahan dan juga sayur-sayuran. Demikian lah epos La Galigo merekam bagaimana leluhur kita pertama kali menikmati makanan, eating by learning. Di adegan lain dari episode ini, Datu Patotoé juga menganugerahi pasangan suami istri ini dengan pangan seperti wetteng (jewawut) dan bataq (jagung) yang diturunkan dari langit. Apabila jewawut adalah tanaman pangan asli yang tumbuh di Kepulauan Nusantara, maka menarik untuk dicatat bagaimana epos ini juga menyertakan jagung yang sejatinya berasal dari Benua Amerika dan dikenal di tanah air seiring dengan kedatangan bangsa Eropa di abad ke-16 sebagai salah satu sumber pangan Batara Guru! Hal ini mencerminkan lapisan penulisan La Galigo yang lebih kemudian, ketika jagung telah dikenal luas di Nusantara. Nantinya setelah kelahiran salah seorang putri Batara Guru yang bernama Sangiang Serri Wé Oddang Riuq, barulah umat manusia di Dunia Tengah juga mengenal padi sebagai makanan utama mereka.

Eating Manners ala La Galigo

Etiket atau tata cara makan yang baik juga telah dikenal sejak zaman La Galigo. Ada banyak adegan-adegan yang menggambarkan perjamuan di epos ini. Bagaimana urutan-urutan untuk menghidangkan makanan, cara menyantap sajian, hingga membersihkan tangan dan mulut, semuanya digambarkan dengan detail. Berikut ini cuplikannya:

lé tessitengnga siworengngé narisolongi, lé temmairung liseq rakkié naritodongi, nawekka pitu timpuq nasoroq Manurungngé mallaibini, Wé Datu Sengngeng massapo siseng, ripaccingiang ronnang parimeng tettincarinna, makkaci sumpang mpali timmomoq, ritanréréang méraq naota, ripaddampeng ni siworengngé, ripasoroq ni tolong rakkileq ajjellerenna, to ritaroé tuneq ri lino

(Belum habis separuh gelas minuman itu diisi lagi,

belum berkurang isi baki ditambah lagi.

Hanya tujuh kali menyuap Manurungngé suami istri sudah berhenti,

begitu pun Wé Datu Sengngeng bersepupu sekali.

Jari tangan mereka dibersihkan kembali,

lalu berkumur-kumur, disuguhi sirih lalu menyirih.

Gelas-gelas telah dikembalikan,

dibereskan pula bakul kemilau tempat makanan

orang yang dijadikan tunas di bumi)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 3, Leiden University Library

Dari potongan bait di atas, nampak bahwa dalam menghidangkan santapan penting sekali bagi tuan rumah untuk memastikan gelas dan piring tamu yang ia jamu tidaklah kosong. Menambahkan minuman dan makanan sebelum habis adalah kewajiban. Tradisi ini masih berlaku di kalangan masyarakat Bugis abad ke-21 lho, dimana pada umumnya tamu diharapkan oleh tuan rumah untuk terus menambah makananannya! Hal ini menandakan kemurahan hati si penjamu sekaligus gestur sipakalebbiq untuk memuliakan tamunya.

Uniknya, La Galigo juga menyebutkan bahwa cara makan yang baik adalah dengan membagi porsinya menjadi tujuh suapan. Sepintas, kelihatannya sedikit banget ya makannya. Namun, di balik itu, ternyata ada pesan yang lebih mendalam. Tujuh suapan menyimbolkan kontrol seseorang untuk tidak makan secara berlebihan. Dengan jumlah suapan yang terkendali, mengunyah pun jadi lebih baik. Tidak hanya hidangan dapat dinikmati dengan lebih tenang, mengunyah lebih lama memberi waktu bagi otak untuk menerima sinyal kenyang, serta mengurangi risiko perut kembung, mual, dan asam lambung naik. Tubuh juga jadi lebih mudah menyerap nutrisi dari makanan yang sudah halus. Secara filosofis, angka tujuh dalam kebudayaan Bugis juga dianggap natujuangngi dalléq yang berarti mencapai rezeki. Dengan demikian, tujuh suapan adalah perlambang dari pemenuhan kebaikan pada diri seseorang dengan takaran yang cukup.

Setelah selesai makan, maka sang tamu akan disajikan mangkuk kecil berisi air untuk membersihkan tangannya. Ya, pada masa itu, belum dikenal alat makan seperti sendok dan garpu sehingga untuk menyuapkan makanan ke mulut harus menggunakan tangan. Setelah membersihkan jari-jemari, maka sang tamu akan berkumur-kumur terlebih dahulu, menghilangkan sisa-sisa makanan yang menempel di gigi. Sang tamu lalu disuguhkan daun sirih yang kemudian dikunyah untuk menghilangkan bau mulut serta mencegah gigi berlubang. Di zaman ketika tidak ada sikat dan pasta gigi, menyirih adalah tradisi adat yang, selain fungsi sosialnya, ternyata juga punya fungsi menjaga kesehatan mulut. Betapa mengagumkannya tradisi perjamuan dalam epos ini, detail higienitas juga diperhatikan!

Jejak Kuliner Diaspora Sulawesi Selatan

Gambar perahu Palari asal Sulawesi Selatan pada uang Dollar Singapura

Kembali ke cerita soal diaspora, tahu kah kamu bahwa seiring dengan bermigrasinya masyarakat Bugis-Makassar-Mandar ke Semenanjung Melayu, berlayar pula sebagian resep kuliner dari tanah Sulawesi bersama mereka? Fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari dinamika sosial: makanan adalah identitas yang menjadi pengikat komunitas dimanapun mereka berada. Maka, jangan heran jika kawan-kawan keturunan Bugis di Malaysia ataupun Singapura juga menganggap makanan-makanan khas Sulawesi Selatan sebagai warisan kebudayaan mereka.

Di negeri Johor, Malaysia, hingga hari ini kita masih dapat menemukan makanan Bugis seperti buras. Buras atau burasak yang berbahan dasar beras dan santan itu menjadi makanan khas masyarakat Johor keturunan Bugis tiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Menurut keterangan dari situs Gerbang Informasi Seni dan Budaya Malaysia, burasak telah menjadi makanan pokok orang Bugis yang menetap di Semenanjung Melayu sejak abad ke-16, diperkenalkan dari Kepulauan Sulawesi di Indonesia. Hidangan ini adalah sajian yang disukai para pedagang Bugis selama pelayaran karena dapat disimpan untuk waktu yang lama. Secara tradisional, di Johor burasak disajikan bersama hidangan seperti asam pedas ikan parang serta ayam masak likku.

Selain itu, beragam makanan ringan seperti kue-kue dari tradisi Bugis juga tersebar luas di Malaysia dan Singapura. Di negeri Selangor, salah satu warisan kuliner Sulawesi Selatan yang masih dapat ditemukan hari ini ialah Kuih Bugis Mandi. Kue ini biasanya disajikan pada perayaan-perayaan seperti kenduri, melambangkan semangat kebersamaan.

Di Singapura, resep-resep makanan seperti Toppa’ Lada dan Coto Makassar juga menjadi warisan kuliner setempat. Meskipun tidak seterkenal makanan Jawa ataupun Minang, namun di keluarga-keluarga Melayu keturunan Bugis, resep-resep tersebut dijaga dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Makanan sesungguhnya bukan sekadar soal rasa, melainkan jejak ingatan yang ikut berlayar bersama manusia. Ia membawa serta adat, nilai, dan cara memuliakan sesama: sebuah bahasa kultural yang melintasi batas geografis tanpa kehilangan maknanya. Apa yang hari ini dibicarakan dalam forum diaspora di Leiden pada akhirnya merefleksikan sesuatu yang telah lama hidup dalam La Galigo: bahwa melalui makanan, hubungan sosial dirajut, identitas dipertahankan, dan dunia—baik Dunia Atas, Dunia Tengah, maupun Dunia Bawah—dihubungkan dalam satu jaringan makna yang berkesinambungan.

Referensi:

Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa, La Galigo Menurut Naskah NBG 188 jilid 1 (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017).

Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa, La Galigo Menurut Naskah NBG 188 jilid 3 (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017).

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Ternyata ada Planet Tamalate di Jagad Raya!

Di suatu sudut galaksi yang jauh, tersembunyi sebuah planet bernama Tamalate. Planet dalam legenda, planet asing yang ternyata menyimpan sebuah harta karun rahasia. Di sanalah dua pemburu hadiah paling aneh di jagat raya—Kancil dan Tarub—memulai petualangan terbesar mereka.

Begitulah alur utama dari Jagad Raya, komik fantasi-sains yang mengangkat cerita rakyat Indonesia ke semesta kosmik. Bayangkan saja, dunia di mana tokoh-tokoh seperti Si Kancil, Jaka Tarub dan bahkan Situ Bagendit hidup dalam satu alam semesta, melintasi planet, berburu rahasia kuno, dan menantang takdir di antara bintang-bintang. Komik yang volume pertamanya rilis di akhir tahun 2024 silam ini membawa hawa baru yang menyegarkan bagi para pecinta legenda tanah air, termasuk bagi para penggemar epos La Galigo!

Dalam komik ini, Kancil dan Tarub dikisahkan sebagai sahabat sekaligus bounty hunter yang nekat. Misi mereka sederhana—mencuri susu (ya, kamu tidak salah baca: susu alias milk alias léché!) dari makhluk misterius bernama Ratu Pok-Ame di planet Tamalate. Tapi ternyata, susu itu bukan sekedar susu biasa karena menyimpan sesuatu yang lebih besar dari yang mereka bayangkan: rahasia yang bisa mengguncang seluruh jagat raya.

Yang menarik, nama Tamalate bukan hasil karangan semata. Buat kamu yang berasal dari Sulawesi Selatan, nama Tamalate tidak terdengar asing lagi, bukan? Selain dikenal sebagai nama salah satu jalan di kecamatan Rappocini kota Makassar, nama Tamalate sebenarnya berakar kuat dalam sejarah Kerajaan Gowa. Pada masa awal berdirinya Kerajaan Gowa sekitar tahun 1300-an Masehi, ibu kotanya berada di Tamalate, yang dikenal dengan sebutan Kale Gowa. Konon, di tempat itulah dulunya sesosok perempuan yang turun dari langit pertama kali menjejakkan kakinya di Dunia Tengah. Ia dikenal dengan sebutan Tumanurunga ri Tamalate. Disebabkan oleh kharismanya, para pemimpin dari Baté Salapang (Sembilan Bendera) atau sembilan komunitas utama yang menjadi cikal-bakal dari Kerajaan Gowa kemudian memintanya untuk menjadi ratu mereka. Beliau kemudian memimpin bersama dengan suaminya, Karaéng Bayo yang muncul dari dasar lautan, sebagai penguasa Kerajaan Gowa yang pertama.

Tamalate kala itu berdiri di atas bukit setinggi tiga puluh meter di atas permukaan laut, dikelilingi hamparan tanah pertanian yang subur. Dari tanah itulah orang-orang Gowa tumbuh menjadi pengekspor beras utama di kawasan timur Nusantara pada abad ke-16 dan 17. Kini, bukit Tamalate dikenal sebagai kompleks pemakaman raja-raja Gowa-Tallo—tempat sejarah, adat, dan spiritualitas berpadu.

Di tangan para kreator Jagad Raya—Shani Budi, Ahmad Fadly, Anggaditya Putra, dan Sonny Hermawan—nama bersejarah itu dihidupkan kembali sebagai sebuah planet. Mereka tidak sekadar menciptakan dunia baru, tapi juga menanamkan akar budaya Nusantara di tengah semesta sains dan imajinasi. Di planet Tamalate versi kosmik ini, penduduknya menulis dengan Aksara Rikai, sistem tulisan futuristik yang terinspirasi oleh keindahan Aksara Lontara dari Sulawesi Selatan. Bentuk hurufnya yang melengkung dan bersinar di udara mengingatkan kita pada lontar kuno yang dulu menjadi media tulis para pujangga Bugis-Makassar.

Dalam komik Jagad Raya, puncak kekuasaan tertinggi di Planet Tamalate berada di tangan Ratu Pok-Ame, sosok anggun sekaligus kejam. Di Jagad Raya ia adalah seorang menjadi penjaga zat kuno—penyimpan rahasia asal-usul semesta. Saat Kancil dan Tarub berusaha melawan kekuasaannya, keberanian mereka diuji, dan bahkan Kancil sendiri mulai meragukan misinya. Ada sesuatu di planet ini yang ia lihat, sesuatu yang mengubah segalanya. Di Planet Tamalate, mereka juga bertemu dengan Rengganis, pemimpin pasukan yang tangkas dan juga berani. Sosok Rengganis ini ternyata terinspirasi dari karakter Dewi Rengganis, seorang putri Majapahit dalam cerita rakyat Jawa Timur lho!

Lewat Jagad Raya, Tamalate bukan hanya sebuah tempat di peta bintang. Ia adalah simbol: bahwa cerita rakyat dan sejarah kita bisa menjelma jadi semesta baru yang tak kalah megah dari anime, manga ataupun karya-karya luar negeri lainnya. Bahwa di antara gemerlap kosmos, masih ada gema nama-nama lokal yang hidup kembali—dari bukit Tamalate di Gowa hingga planet Tamalate di galaksi jauh sana.

Di sinilah kekuatan komik ini terasa: ia bukan hanya fantasi, tapi juga bentuk penghormatan terhadap budaya Indonesia nan beragam. Di tangan generasi baru, kisah-kisah Nusantara menemukan orbitnya sendiri di jagad raya! Bagi kamu yang tertarik untuk membaca petualangan Kancil dan Tarub, buruan gih mampir ke akun Instagram Cerita Jagad Raya!

Categories
101 La Galigo Featured Galigoku Liputan

Kebangkitan kedua I La Galigo di Kampung Buku, Makassar

Penulis: Muhammad Ulil Ahsan (Peneliti Pangan dan Budaya)

Membicarakan I La Galigo memang tidak pernah ada habisnya. Epos terpanjang di dunia yang telah diakui UNESCO sebagai Memory of the World ini selalu menyimpan daya tarik, penuh intrik, dan inspirasi. Namun, di balik kemunculannya, ada sosok-sosok cendekiawanyang merawat ingatan tersebut, mencatat dan mendokumentasikan 120.000 baris puisi yang begitu indah. Mereka adalah Benjamin Franklin Matthes dan Colliq Pujie.

Matthes adalah seorang ahli bahasa yang diutus ke Sulawesi Selatan dengan misi memahamibudaya setempat dan menerjemahkan Injil ke dalam bahasa mereka. Dalam perjalanannya, iabertemu dengan seorang putri Tanete yang diasingkan ke Makassar, Colliq Pujie. Matthes kemudian menawarkan kerja sama kepada Colliq Pujie, seorang tahanan politik, untukmembantunya mengumpulkan potongan-potongan cerita rakyat yang tersebar luas di masyarakat Sulawesi Selatan. Selama dua dekade, mereka bekerja sama hingga lahirlahmanuskrip megah yang tak kalah agung dari Mahabharata di India dan sajak-sajak Homerus dari Yunani.

Selama ini, ketika berbicara tentang I La Galigo, kita lebih sering terpukau dengan kisahturunnya Batara Guru atau perjalanan Sawerigading dalam mencari cinta. Namun, sedikityang mengetahui bagaimana kisah ini pertama kali dicatat dan bagaimana dua cendekiawanini memastikan warisan budaya ini tetap hidup hingga sekarang.

Senin, 24 Maret 2005, kami beruntung menghadiri diskusi novel “Matthes” karya Alan TH di Kampung Buku, Makassar. Novel ini mengisahkan perjalanan hidupBenjamin Franklin Matthes, penerjemah Injil yang bertemu dengan Putri Tanete. Sebuahkisah yang membawa kita lebih dekat ke balik layar lahirnya I La Galigo.

Masyarakat Bugis-Makassar patut berbahagia dengan lahirnya novel Matthes, karya Alan TH—sosok yang bisa jadi lebih Bugis dari orang Bugis sendiri. Menurut Anwar Jimpe Rahman,tuan rumah sekaligus pembahas dalam acara ini, novel ini menandai kebangkitan kedua I La Galigo, setelah kebangkitan pertamanya melalui Seminar dan Festival Internasional I La Galigo di Kabupaten Barru di tahun 2002. Sejak saat itu, epos ini menjadi perbincangan, tidak hanya di ruang-ruang akademis, tetapi juga di berbagai dokumenter, warung kopi, hingga pementasan internasional.

Bagi Alan, “Buku akan menemukan takdirnya sendiri, dan seringkali antara penulis dan karyanya memiliki takdir yang berbeda.” Ia mencontohkan Pramoedya Ananta Toer, yang memiliki nasib tragis, sementara karyanya tetap menyala. Alan tidak berekspektasi lebih; iamembiarkan novelnya menemukan pembaca yang akan menjadikannya bagian dari sejarah. Baginya, karya yang bagus itu tidak disiapkan untuk merebut ruang, tapi yang tahanmenghadapi ujian waktu. Karya yang bagus mungkin tidak banyak dibaca hari ini, bisa jadidi lima, sepuluh, atau dua puluh tahun kemudian baru akan ramai dibaca.

Tim La Galigo Music Project didampingi Sirtjo Koolhof saat mengunjungi Perpustakaan Universiteit Leiden untuk melihat langsung koleksi naskah La Galigo pada bulan Desember 2013

Novel Matthes: Kepingan Puzzle Sejarah

Novel Matthes mengungkap siapa sebenarnya Benjamin Franklin Matthes, bagaimana latarbelakangnya, serta apa yang membawanya jauh ke Hindia kala itu, tepatnya di Celebes Selatan. Dengan ketekunan dan pergolakan batinnya, ia akhirnya bertemu Colliq Pujie, rekanintelektualnya dalam perantauan. Kisah mereka yang pelik dan penuh perjuangan menjadiinti dari novel ini.

Teringat pada Desember 2013, 12 tahun silam, tim Lontara Project ditemani Sirtjo Koolhof, seorang peneliti kebudayaan Bugis di Leiden, mengunjungi makam Matthes di pemakamanumum di Den Haag. Saat itu, tak banyak yang kami ketahui tentang sosok di balik nisanhitam bertinta keemasan tersebut. Bagaimana mungkin seorang Belanda yang namanyajarang terdengar justru menjadi sosok paling penting dalam menghidupkan “kitab suci” masyarakat Bugis-Makassar ini melalui pencatatan Panjang kisah I La Galigo hingga dikenaldunia saat ini?

Novel ini seperti kepingan puzzle yang melengkapi cerita tentang Matthes dan bagaimana iamenyalin epos besar ini. Novel Matthes akan menjadi bagian dari sebuah trilogi, ataumungkin lebih. Alan bahkan telah menyelesaikan sekuel keduanya, Colliq Pujie, yang akansegera hadir di rak-rak buku bulan depan. Jika novel Matthes berfokus pada konteks dan pergolakan kehidupan Matthes, maka Novel Colliq Pujie akan mengupas perjalananpencatatan I La Galigo dari perspektif sang putri Tanete. Sekuel ketiga pun sedang digarap, semakin menambah rasa penasaran kita akan kisah-kisah penting ini.

Pada acara diskusi tersebut, Rezky Ramadhani (Dosen Sastra Inggris Unhas) menilai novel ini menggugah semangatnya untuk lebih memahami I La Galigo dan kesusasteraan Sulawesi Selatan yang selama ini lebih banyak menggeluti sastra Inggris seperti cerita Yunani, Shakespeare, dan kisah-kisah lainnya. Kisah I La Galigo tidak kalah menariknya, tercermin dari novel Matthes ini.

Rahmat Komaruddin, moderator sekaligus seorang aktivis muda pengurus pusat TIDAR yang konsen pada isu-isu kebudayaan, ikut pula memberikan pandangan bahwa para politisi harusnya mampu lebih banyak membaca, belajar, dan memahami kebudayaan-kebudayaan local untuk mendapatkan hikmah, pembelajaran, dan kebijaksanaan di dalamnya. Termasuk I La Galigo ini.

Alan TH mungkin besar sebagai orang Sunda, tetapi dalam pencariannya terhadap sejarah, iatelah menjadi orang dari Bugis. Dengan riset mendalam dan ketekunan luar biasa, ia melahirkan karya monumental yang menandai kebangkitan kedua I La Galigo. Semoga novel-novel ini mampu menembus batas waktu, menemukan pembaca-pembacanya, dan menginspirasi kebangkitan-kebangkitan I La Galigo berikutnya sehingga dapat memahatsebuah peradaban yang besar di masa depan.