La Galigo?

Lontara Project adalah proyek konservasi kreatif budaya Indonesia. Lontara Project atau La Galigo for Nusantara Project akan bermula dengan konservasi dan promosi La Galigo sebagai titik awal baru kemudian merambah ke budaya Indonesia lainnya.

Apa sih La Galigo itu?
Sebagai karya sastra, La Galigo merupakan epik tulis terpanjang di dunia. Dengan jumlah 300.000 baris teks dan 12 volume manuskrip, La Galigo mengalahkan panjang epik Mahabharata. Sebagai tradisi lisan, La Galigo diperkirakan telah hidup sejak abad ke-14 M. Tradisi lisan La Galigo merupakan mitos mengenai suku bangsa Bugis di Sulawesi Selatan yang mengandung  budaya pra-Islam dan tradisi kehidupan bangsa Austronesia. La Galigo yang berbentuk tulisan disebut Sureq Galigo, ditulis di atas lembaran-lembaran daun lontar dan dinyanyikan pada upacara-upacara adat tertentu. Naskah Sureq Galigo yang dikenal dunia saat ini dikumpulkan oleh seorang misionaris Belanda bernama B.F. Matthes dan tersimpan di Leiden, Belanda. Pada tahun 2011, UNESCO mengakui La Galigo sebagai “Memory of the World” atas negara Indonesia dan Belanda.

Kenapa La Galigo?
Tradisi La Galigo ternyata dikenal pula oleh negara-negara yang zaman dulu disinggahi para pelaut Bugis seperti Malaysia, Singapura, hingga ke perbatasan Thailand. Indonesia, negara yang terdiri atas 300 suku bangsa dan memiliki 742 bahasa serta dialek lokal menjadi istimewa karena kedudukannya sebagai “kampung halaman” La Galigo. La Galigo yang ditulis dalam Bahasa Bugis Kuno (kini sudah tidak ada lagi penuturnya) bukan hanya milik rakyat Sulawesi Selatan saja, melainkan milik bangsa Indonesia. Pengakuan dunia internasional melalui penganugerahan Memory of the World dari UNESCO terhadap epik tulis terpanjang di dunia ini merupakan kebanggaan bersama. Selain itu, absennya unsur-unsur India menjadikan La Galigo unik, cerminan langsung kehidupan leluhur kita di masa lalu. Sayangnya karena ketiadaan penutur asli, sedikitnya kalangan akademisi yang mengkaji, dan  terlupakannya La Galigo dari panggung kebudayaan nasional menyebabkan ketidaktahuan sebagian besar generasi muda Indonesia akan harta karun budaya ini.

Lalu, bagaimana cara menyelamatkan La Galigo?
Kami belajar dari batik, keris, wayang dan angklung. Kebudayaan Indonesia, dari suku atau daerah mana pun Ia berasal merupakan aset bersama bangsa. Kondisi kritis pelestarian La Galigo di negaranya sendiri menggugah kami untuk berjuang mempopulerkan budaya ini sebelum dilupakan atau diklaim oleh negara lain. Dengan mengusung tema “konservasi kreatif”, kami berupaya memperkenalkan La Galigo dalam bentuk yang lebih familiar dan youth-friendly di kalangan pemuda Indonesia. Bersenjatakan kreativitas, media sosial, serta semangat untuk perubahan kami mengundang generasi muda untuk bergabung bersama kami. Mari kenali, lestarikan, dan sebarkan La Galigo!

***

What is La Galigo?
As a literature work, La Galigo is considered as the longest written epic in the world. Consisted of 300.000 text lines and 12 manuscript volumes, La Galigo beats the length of Mahabharata. As an oral tradition, La Galigo is estimated having been alive since 14th century. The oral tradition of La Galigo is a creation myth of Buginese tribe in South Sulawesi which comprises pra-Islam cultures and Austronesian traditions. Written La Galigo is called Sureq Galigo. It was written on palm leaves and sung in certain traditional ceremonies. Sureq Galigo scripts known by the world today were collected by a Dutch missionary named B.F. Matthes and are now being saved in Leiden, Netherlands. In 2011, UNESCO acknowledged La Galigo as “Memory of the World” of Indonesia and The Netherlands.

Why La Galigo?
It turns out that the tradition of La Galigo is also known by countries which were visited by Buginese sailors in the past, like Malaysia, Singapore, and Thailand. Indonesia, a country consisted of 300 ethnic groups and has 742 languages and local dialects as well, becomes special because of its status as the “hometown” of La Galigo. La Galigo written in ancient Buginese language (which native speakers do not exist anymore) does not only belongs to South Sulawesi, but also belongs to Indonesia. The acknowledgement of international world through the conferment of Memory of the World from UNESCO to this longest written epic in the world is part of our pride. Not to mention, the absence of Indian elements make La Galigo unique as a reflection of our ancestors’ life in the past. Unfortunately, due to the absence of native speakers, the lack of researchers, and the oblivion of La Galigo from the stage of national culture, most of young generations of Indonesia do not know about this cultural treasure.

How to save La Galigo?
We learn from Batik, Keris, Wayang, and Angklung. Indonesian culture, no matter where it is from, is an asset of our nation. Critical condition of how La Galigo is being treated in its own country moves us to fight for it, to bring this culture up to the surface before it gets forgotten and claimed by other countries. Using a theme of “creative conservation”, we try to introduce La Galigo in a more familiar and youth-friendly form to Indonesian youths. Armed with creativity, social medias, and spirit for a change, we invite you, young generation of Indonesia, to join us. Let’s uncover, preserve, and speak La Galigo!