Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Menyambut Tamu dengan Piper Betle

Epos La Galigo yang juga telah berusia panjang mengabadikan tradisi nyirih di dalam hampir setiap episode-episodenya. Sirih disuguhkan ketika tamu penting datang berkunjung, sirih bisa menjadi pengantar simbolik pesan cinta, bahkan sirih memiliki arti mistis di dalam penciptaan alam raya. Sirih merupakan penghormatan, peranannya begitu erat dengan kehidupan masyarakat purba yang komunal. Berikut ini beberapa cuplikan episode yang menyebutkan tradisi menyirih atau daun sirih dalam peradaban La Galigo secara eksplisit:

“… Batara Guru dan istrinya yang sedang duduk bersanding di atas takhta kemilaunya. Guratan kesedihan nampak di wajah penguasa Aleluwuk dan permaisuri tersebut. Ia lalu menyuguhkan sirih kepada anak-anaknya sambil meneteskan air mata.” – Episode Batara Guru dan We Nyiliktimo Naik ke Bottillangi Kembali

“Datu Palinge menyuruh suaminya menyuguhkan sirih kepada putra mahkota keturunan mereka. Datu Patotoe pun menyuguhkan cerana dan mempersilahkan Sawerigading menikmati sirih Bottillangi. Demikian pula kepada sepupu-sepupunya dipersilahkan menikmati sirih orang Abang.” – Episode Sawerigading dan Para Sepupunya Naik ke Langit

“…Tiwiko ritu siri’ atakka narekko mattengnga lalenno nonno rilino/ muadan-keng siri atakka ri ataunnu/ ianatu matu mancaji alek” (Bawalah sirih atakka manakala engkau tengah dalam perjalanan menuruni Bumi, susurkan sirih atakka di bagian kananmu, itulah  kelak  menjadi hutan). – Episode Turunnya Batara Guru ke Dunia Tengah

“Tellung mpuleng ni/ naulesai liseq siranreng/ tennapamarang ati goari… natimummungi biru paseleq ampuno gessa” (Sudah tiga bulan Ia gelisah karena wanita/ tiada bertenang karena gadis-gadis/ sehingga membuang waktu lebih banyak di luar dengan menyabung ayam, dimana Ia ‘ditimbuni sirih kiriman gadis-gadis’). – Episode Pelayaran Batara Lattuq ke Tompoq Tikkaq  

Di dalam upacara adat tradisional suku Bugis, persembahan berupa sirih dan pinang diletakkan bersama sesaji lainnya untuk “makhluk yang tak terlihat” (to-tenrita). Mereka disambut dengan cara yang sama untuk menghargai tamu-tamu yang terhormat. Sirih digunakan dalam upacara-upacara penyembuhan atau perlindungan dari suatu penyakit. Biasanya, dukun penyembuh yang dikenal dengan sebutan Sanro akan mengunyah sirih dan lalu menyemburkannya kepada orang yang sakit. Sanro juga mengusapkan kunyahan sirih tersebut ke bagian-bagian tubuh tertentu, seperti ubun-ubun, dahi, pelipis, tulang belikat, ulu hati, pusar atau paha. Metode penyembuhan seperti ini telah dikenal jauh sebelum agama Islam memasuki wilayah Sulawesi Selatan. Menurut Pelras, kepercayaan seperti ini merupakan warisan kebudayaan Austronesia yang amat sangat tua.

Keripik Sirih. Sumber: Website UNY

Selain memainkan peranan dalam kepercayaan tradisional, daun sirih yang sederhana ini ternyata memiliki 1001 macam khasiat yang telah diabsahkan oleh ilmu pengetahuan modern lho! Jika diolah dengan benar, maka sirih yang tergolong sebagai Tanaman Obat Keluarga (TOGA) ini mampu untuk menyembuhkan sakit mata, eksim, bau mulut, kulit gatal, menghilangkan jerawat; pendarahan gusi, mimisan, bronkhitis, batuk, sariawan, luka, sakit jantung, sifilis, alergi, diare, sakit gigi karena berlubang, dan keputihan. Baru-baru ini, empat orang mahasiswa Fakultas Biologi Universitas Negri Yogyakarta (UNY) berhasil mengolah sirih menjadi keripik yang dipercaya mampu mengatasi penyakit semacam ejakulasi dini, merangsang saraf pusat dan daya pikir,meningkatkan gerakan peristaltik, dan meredakan dengkuran. Mereka terinspirasi dari kebiasaan “menginang” perempuan Jawa yang kini semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Padahal daun sirih memiliki kandungan senyawa kimia yang lengkap sehingga dapat dimanfaatkan sangat luas sebagai bahan obat.

Tidak salah ya jika dulu leluhur kita menempatkan tanaman sirih ini sebagai suguhan yang penuh kehormatan untuk tamu-tamunya. Meskipun baru-baru ini ada penelitian yang mengatakan bahwa tingginya persentase oral cancer di wilayah Asia Tenggara disebabkan oleh kebiasaan mengunyah sirih penduduknya, masih ada banyak cara untuk dapat terus memanfaatkan sirih serta menjaga kearifan lokal melalui inovasi-inovasi kreatif lainnya. Menjadikan daun sirih sebagai keripik olahan yang dapat dikonsumsi semua orang sudah dilakukan oleh teman-teman kita di UNY. Yuk, kita telusuri lagi kekayaan budaya bangsa dan mengombinasikannya dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini!

 

Referensi:
Nunding Ram, Yusuf, Lely Yuliani Said. I La Galigo, Pustaka Refleksi, Makassar, 2011
La Galigo Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, Pusat Studi La Galigo, Makassar, 2003
Christian Pelras, Manusia Bugis, Nalar, Jakarta, 2006
http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/view.php?id=6
http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/2442/keripik-sirih-untuk-cegah-ejakulasi-dini

By Louie Buana

Seorang warga Panakkukang yang sedang belajar hukum dan sejarah di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Saat ini ia juga menjadi Guest Researcher di Royal Netherlands Institute of Southeast Asian & Carribean Studies (KITLV) Leiden. Punya hobi jalan-jalan, membaca buku dan karaoke.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *