Dua karung terigu “tempo doeloe” ini tengah dipajang di pameran bertema kebudayaan Bugis yang berlangsung di Watampone, ibukota Kabupaten Bone-Sulawesi Selatan. Tahun ini, Watampone yang mengemban mandat menjadi tuan rumah untuk Festival Gau Maraja pada tanggal 25-30 September 2026. Kedua karung terigu ini merupakan bukti sejarah visual yang penting di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya Makassar dan Bone. Karung-karung tersebut adalah saksi dari sebuah jalur pelayaran kuno di wilayah Asia-Pasifik.
Jauh sebelum abad ke-20, para pelaut Makassan (julukan bagi para pencari teripang yang berangkat dari pelabuhan Makassar dan melibatkan pula orang-orang Bajo, Bugis, Mandar, Buton, Timor, Madura, Jawa dan lain sebagainya) telah berlayar ke Marege (Northern Territory, Australia) mencari teripang. Saat era pelayaran tradisional berakhir, hubungan perdagangan maritim kedua wilayah tidak ikut berhenti. Ia bertransformasi menjadi jalur logistik komoditas modern.
Karung koleksi milik @celebes_vintage_gallery yang dipamerkan selama Festival Gau Maraja di Museum Lapawawoi Watampone @wanuabone
Karung terigu bermerk “Frog Brand” yang bergambar katak dari Melbourne menampilkan cap bertuliskan “Makassar” berdampingan dengan kata “Asia”. Sedangkan karung “Superb Sydney”, menghadirkan gambar klasik kuda bertanduk (unicorn) bergaya Barat. Keduanya adalah arsip dari arus komoditas Australia bergerak ke utara menuju Indonesia Timur.
Karung-karung ini merupakan bagian dari koleksi Bapak Ansar Mulkin Abbas yang merupakan pendiri dari Celebes Vintage Gallery, sebuah kelompok kolektor yang fokus pada benda pusaka dan heritage dari wilayah Sulawesi. Pak Ansar yang juga asli Bone memiliki kecintaan pada benda-benda bernilai sejarah, yang turut memberi peran pada percakapan artistik narasi Jalur Teripang di Indonesia. Beliau mengoleksi pembungkus terigu ini melalui sumbangan dari keturunan salah satu pebisnis Tionghoa di Makassar pemilik warung kopi Ko Heng di kota Ujung Pandang yang beroperasi sekitar tahun 1930-1970an.
Pobasso, seorang nahkoda kapal asal Bone yang berlayar ke Australia. Dilukis oleh William Westwal saat Pobasso singgah di atas Investigator, kapal Matthew Flinders.
Di samping itu, Bone sendiri, dalam sejarah rute perdagangan teripang, tertulis dalam catatan/jurnal Circumnavigation-nya Matthew Flinders, bahwa ia bertemu dengan kapitan Pobbasso (Pung/Puang Baso) yang merupakan salah satu punggawa dari puluhan kapal pattaripang milik King of Boni (rajah Bone).
Melalui kemasan produk ini, kita dapat sama-sama menyaksikan bahwa sejarah Australia dan Indonesia senantiasa saling terikat dan mengalir terus bersama gelombang Laut Arafura.
Abdi Karya –Seorang seniman multidisiplin serta kolaborator antarbudaya yang berasal dari Makassar. Kini ia berbasis di Yogyakarta.
Sobat Lontara, pernahkah kamu mendengar lagu “Teluk Bayur” yang dipopulerkan oleh Ernie Djohan pada tahun 1967? Meskipun lagu ini berkisah tentang pelabuhan Teluk Bayur yang berada di kota Padang, Sumatera Barat, ternyata di pelosok Kalimantan Timur nama yang sama juga eksis sebagai sebuah kecamatan di daerah Kabupaten Berau. Nama Teluk Bayur bak mantra yang mengantarkan kita kembali ke era kolonial dan cikal-bakal pertambangan batubara di tanah air. Lewat tulisan ini, Anna berkisah akan napak tilasnya mengikuti Treasure Hunt Stenkolen Teluk Bayur 2024, menelusuri lembaran-lembaran kertas kusam dan bangunan-bangunan tua melacak jejak sejarah Teluk Bayur di Bumi Kalimantan.
Berau pada masa lalu adalah sebuah kawasan kolonial yang terorganisasi. Pada abad ke-20, kawasan ini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern. Kerlap-kerlip lampu menghiasi gedung-gedung, bioskop ramai dengan beragam pertunjukan, dan pesta dansa menjadi hiburan mengasyikkan bagi pejabat-pejabat kolonial. Nuansa Eropa amat kental di sini, bahkan keberadaan Pelabuhan Teluk Bayur membuat Berau tampak seperti replika kecil Kota Amsterdam di Belanda.
Apa gerangan yang mendorong Belanda membangun kota modern nan jauh dari pusat pemerintahannya di Batavia? Jawabannya terletak pada lokasinya yang strategis serta potensi tambang batu baranya yang melimpah. Pertambangan di Teluk Bayur pertama kali dibuka melalui perjanjian antara Pemerintah Hindia Belanda dan Kerajaan Gunung Tabur. Sejak saat itu, Belanda mulai mendirikan kantor administrasi serta menyediakan fasilitas pendukung industri pertambangan.
Di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda, Berau berstatus sebagai wilayah Onderafdeeling yang berada di bawah Afdeeling (kabupaten) dan dipimpin oleh seorang pejabat Belanda yang disebut Controleur (setara dengan patih). Melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Belanda tanggal 13 April 1900 No. 2 yang ditandatangani oleh Algemeene SecretarieC.B. Nederburgh, Tanjung Redeb ditetapkan sebagai ibu kota Onderafdeeling Berau (Aji Rahmatsyah, 2018).
Ketika Teluk Bayur berkembang menjadi pusat industri pertambangan, wilayah ini kian ramai didatangi pendatang dari berbagai daerah. Pelabuhan Teluk Bayur menjadi sentra perdagangan sekaligus penghubung antara Berau dan dunia luar. Sepanjang abad ke-20, Berau dihuni oleh beragam suku bangsa, seperti masyarakat Banjar, Bugis, Tionghoa, Eropa, Jawa, dan etnis lainnya. Keberagaman penduduk serta aktivitas pertambangan ini mencerminkan identitas Teluk Bayur sebagai kawasan yang multikultural. Jejak-jejak kemajuan masa lalu tersebut kini masih bisa dijumpai melalui peninggalan bersejarah yang tersisa.
Foto Gedung Steenkollen Matschappij Prapatan NV (SMP). Koleksi Pribadi 2026.
Warisan Sejarah yang Hampir Terlupakan
Seiring bergulirnya roda zaman, sejarah kejayaan Teluk Bayur kian terlupakan dan kadang hanya dianggap sebagai cerita usang. Padahal, bangunan-bangunan bersejarah dari era Hindia Belanda yang masih tegak berdiri merupakan saksi bisu perjalanan zaman. Beruntung, ada inisiatif dari komunitas lokal untuk menelusuri kembali tempat-tempat bersejarah ini demi memahami dinamika perjalanan Berau sebagai bagian dari sejarah bangsa.
Pada 7 September 2024, saya mengikuti kegiatan Treasure Hunt Steenkolen 2024 yang diselenggarakan oleh Lembaga Kursus dan Pelatihan RH Beauty melalui dukungan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kaltimtara. Napak tilas dimulai dari gedung bekas kantor perusahaan NV Steenkolen Maatschappij Parapattan (SMP) yang beroperasi sejak 1912 hingga 1954. Setelah masa jayanya berakhir, gedung ini beberapa kali beralih fungsi, salah satunya menjadi kantor camat. Dilihat dari luar, gedung berbentuk U ini memiliki dua sisi ruang dengan tiang dan jendela tambahan di atas atap. Saat diperhatikan, tampak beberapa bagian telah mengalami renovasi, seperti penambahan pagar besi dan pembaruan lantai.
Bangunan bersejarah lain yang lokasinya tak jauh dari gedung SMP adalah Museum Batu Bara, yang dulunya merupakan gedung Kamar Bola. Berada di atas bukit dekat bantaran Sungai Segah—tepatnya di dekat SDN 003 Teluk Bayur—gedung ini dahulu digunakan sebagai tempat hiburan untuk bermain biliar, bermusik, dan berdansa. Namun saat kami berkunjung, gedung tersebut belum dapat diakses layaknya museum umum; pintu-pintunya terkunci rapat dan suasananya sunyi.
Foto Gedung Steenkollen Matschappij Prapatan NV (SMP). Koleksi Pribadi 2026.
Perjalanan berlanjut ke titik berikutnya. Di antara hunian penduduk, berdiri sebuah bangunan tinggi bernama Gedung Serbaguna Teluk Bayur, yang dulunya merupakan gedung bioskop (Steenkolen Maatschappij). Di bagian depan gedung masih terlihat sisa lokasi penjualan tiket, tangga, dan palang antrean. Meski pintunya terkunci rapat, dari luar kami dapat mengamati bahwa bangunan tua ini masih relatif terawat dan berdiri kokoh.
Dari gedung bioskop, kami berjalan kaki menuju Museum Siraja. Bangunan berwarna kuning ini berlokasi di antara Jalan Kampung Cina dan Jalan Bioskop, melewati gang yang tidak jauh dari jalan utama. Bangunan ini memiliki banyak ruangan, dan salah satunya kami gunakan untuk berdiskusi bersama pihak pengelola.
Di dalam Museum Siraja tersimpan berbagai benda pusaka koleksi pribadi Bapak Aji Rahmatsyah yang kini dikelola oleh putranya. Terdapat foto-foto lama Teluk Bayur, bagan silsilah Kerajaan Berau dan Kerajaan Gunung Tabur, koleksi keramik, tempat sirih (penginangan), tempat dupa, vas bunga, patung Ratu Wilhelmina, uang kuno, gelang, mahkota, hingga kotak perhiasan.
Bapak Wahyu, perwakilan pengelola museum, memberikan gambaran umum mengenai sejarah pertambangan batu bara di Teluk Bayur serta keberadaan jalur kereta api yang kini hanya menyisakan rel tua. Menurut keterangannya, para pekerja pembangunan rel kereta api didatangkan oleh Belanda dari Pulau Jawa, begitu pula dengan material besi bajanya. Pak Wahyu juga menceritakan bahwa sebelum kedatangan Belanda, di Berau sudah terbentuk pemukiman seperti Kampung Cina, Kampung Bugis, dan Kampung Melayu. Hal ini membuktikan bahwa aktivitas perdagangan antarkerajaan di Nusantara telah berlangsung sejak lama. Selain itu, beliau menjelaskan bahwa raja-raja Berau menggunakan gelar “Aji” (seperti Raja Aji Raden Suryanata Kesuma yang memerintah pada 1377–1401), yang dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno berkaitan dengan makna penghormatan atau kepemimpinan.
Perjanjian kongsi Kerjasama anatara Datu Maharaja Dinda dan Khaerufi Louis Johan Brunei. Koleksi Museum Siraja Teluk Bayur.
Menghidupkan Kembali Pesona Teluk Bayur lewat Heritage Tourism
Penelusuran jejak Treasure Hunt Stenkolen di Teluk Bayur akhirnya menegaskan satu hal: Berau tidak hanya kaya akan pesona alam, tetapi juga menyimpan harta karun sejarah yang sangat berharga. Teluk Bayur yang dahulu pernah menjadi pusat kejayaan industri pertambangan batu bara dan miniature kota kolonial bergaya Eropa, kini berada di persimpangan zaman—antara memori yang terlupakan dan potensi yang menanti untuk dihidupkan kembali.
Bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh melintasi lintas era ini bukan sekadar benda mati, melainkan saksi bisu dinamika sosial, budaya, dan multikulturalisme Berau di masa lalu. Mengembangkan kawasan Kota Tua Teluk Bayur sebagai strategi destinasi pariwisata sejarah bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan strategis bagi Kabupaten Berau.
Melalui pendekatan pariwisata berbasis edukasi dan pelestarian warisan (heritage tourism), generasi muda tidak hanya diajak bernostalgia, melainkan juga belajar memahami akar sejarah bangsanya. Pada akhirnya, menjaga dan mengemas kembali keindahan serta keunikan Kota Tua Teluk Bayur adalah cara terbaik agar nama “Teluk Bayur” di tanah Berau tidak sekadar menjadi kenangan usang yang perlahan tergerus zaman, melainkan tetap menggema sebagai ikon kebanggaan Kalimantan Timur.
Anna Asriani Muchlis – Seorang guru dan praktisi sejarah yang senang akan bangunan-bangunan bersejarah (Heritage). Punya hobi jalan-jalan, nonton filem dan kulineran. Saat ini berdomisili di Berau-Makassar. Prinsip hidupnya adalah “Menjadi manusia yang berguna.”
Sobat Lontara, jika kita mengikuti berita hari ini, maka kabar terkait musibah di tanah air seperti kebakaran hutan, kekeringan, pencemaran laut, letusan gunung berapi dan lain sebagainya muncul silih berganti. Sebagian dari bencana alam tersebut tak ayal memang disebabkan oleh aktifitas manusia yang mengeksploitasi alam tanpa batas. Tak terkontrolnya kesewenang-wenangan manusia pada lingkungan memicu terjadinya perubahan iklim. Pada titik paling ekstrem, umat manusia akan mengalami kelangkaan pangan, kehancuran ekosistem serta sirnanya ruang hidup tempat kita bergantung.
Nah, tahukah kamu bahwa isu-isu perubahan iklim ini juga tidak terlepas dari bahaya yang mengancam tradisi ilmu pengetahuan warisan leluhur? Tulisan berikut ini akan membahas bagaimana perubahan yang terjadi dalam skala besar terhadap lingkungan hidup kita juga mengikis berbagai macam kearifan lokal masyarakat di Kepulauan Nusantara.
Pelaut-pelaut Mandar adalah salah satu penjelajah bahari terbaik di tanah air. Kemampuan mereka mengarungi lautan raya dengan perahu-perahu kayu tradisional seperti pangkur dan sandeq sudah tidak perlu diragukan sejak dahulu kala. Bagi pelaut-pelaut asal Polewali, Majene, Mamuju, maupun mereka yang berdiaspora di Jawa, Bali, Kalimantan, dan sekitarnya, menyusuri berbagai sudut bahari untuk mengejar penghidupan telah menjadi kebiasaan sehari-hari. Tak heran jika kemudian reputasi mereka diakui oleh pelaut-pelaut lain dari Sulawesi Selatan, seperti yang dituturkan ulang oleh almarhum Christian Pelras Daeng Palippu penulis The Bugis: “Pelaut Mandar tidak bisa hilang dan tersesat di laut”.
Selain keterampilan dalam menavigasikan perahu, pelaut-pelaut Mandar juga dibekali dengan laku-laku berdimensi spiritual. Melalui kebiasaan-kebiasaan tertentu seperti bacaan-bacaan maupun perbuatan-perbuatan simbolis (ussul), para pelaut ini tidak saja melestarikan suatu rantai tradisi yang menghubungkan mereka dengan para leluhur pengarung bahari di masa lampau, namun juga memberikan mereka sugesti akan keselamatan. Mengapa? Sebab keberadaan laku-laku ini tak lain untuk memberikan keamanan dan kesejahteraan selama proses pelayaran tersebut berlangsung. Nah, ternyata, ilmu-ilmu warisan leluhur tersebut mereka bawa pula keluar dari kampung halaman dan kembangkan di daerah-daerah perantauan.
Bagi para nelayan tua seperti Pua Janggo di Pulau Sugi (Pulau Laut, Kalimantan Selatan), keselamatan di laut tidak diraih dengan kesaktian mistis, melainkan melalui ilmu membaca tanda-tanda alam dan merespons tanda pada tubuh sendiri saat bernavigasi menembus karang laut atau hutan. Salah satu bukti keunggulan ini tampak pada ketangkasan para pelaut tua Mandar yang mampu berlayar menembus perairan dangkal penuh karang tanpa mengandalkan kompas modern. Melalui pemahaman mendalam atas tanda-tanda alam dan keheningan spiritual, mereka yakin tidak akan tersesat baik di tengah lautan luas maupun di lebatnya hutan pedalaman.
Kaligrafi berbentuk perahu pada sebuah mushaf Alquran di Majene, Sulawesi Barat. Sumber: CallFront.
Ilmu-ilmu tersebut selain diturunkan melalui tradisi lisan serta kebiasaan langsung saat berlayar, juga ada yang sebagian dicatat dalam naskah-naskah yang disebut lontaraq. Salah satunya yang cukup terkenal adalah Lontaraq Pattapingang. Lontaraq Pattapingang adalah sebuah naskah beraksara tradisional berbahasa campuran Mandar, Bugis dan Arab yang ditemukan di daerah Pamboang (Majene, Sulawesi Barat). Naskah ini disalin oleh seorang tokoh adat bernama Ledang Pabbicara Adolang (dan kemudian dilanjutkan oleh orang lain) yang ditulis secara bertahap sejak tahun 1922 hingga 1957. Pada tahun 1984-1985, naskah ini pernah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Suradi Yasil dan tim.
Naskah setebal 262 halaman ini memuat berbagai macam pengetahuan lokal seperti informasi terkait sejarah Mandar, adat-istiadat, aturan agama, nasehat leluhur, perjanjian antarkerajaan, hingga ilmu-ilmu praktikal seperti pengobatan, pertanian dan peternakan, ilmu perbintangan, ilmu bumi, dan mantra-mantra. Khususnya untuk kategori yang disebutkan terakhir, Lontaraq Pattapingang memuat pengetahuan agriklimatologi seperti penentuan musim yang baik untuk bertanam padi, kapas, kelapa, pisang, ubi jalar, serta lain sebagainya. Pengetahuan ini dilengkapi pula dengan ilmu falak yang memuat aturan tentang penentuan musim bercocok tanam, musim hujan dan kemarau berdasarkan pergerakan benda-benda langit, termasuk menentukan arah dan kecepatan angin.
Pada salah satu bagian dari Lontaraq Pattapingang, terdapat sebuah tabel yang berisi keterangan terkait kondisi cuaca dalam setahun berdasarkan skala kekuatan angin dan hujan. Di dalam tabel tersebut terdapat empat kategori sebagai berikut: marra-marrang (cuaca cerah), anging mallino (angin bertiup pelan), urang matambaq (hujan keras); urang iqda matambaq (hujan tidak keras). Keempat kategori itu menjadi patokan penting bagi pelaut yang hendak berlayar agar senantiasa berhati-hati di perjalanan. Tabel seperti ini tergolong sebagai putika (Bugis: kutika) yakni suatu metode penentuan saat terbaik untuk melakukan hajat tertentu. Lewat simbol-simbol seperti tanda lingkaran (o), tanda palang (+), simbol matahari, bintang dan lain sebagainya, perubahan cuaca disematkan pada rangkaian hari dalam 12 bulan berdasarkan penanggalan Qamariah (lunar).
Rekonstruksi tabel keterangan perubahan angin dan hujan dari naskah terjemahan Lontaraq Pattapingang (tanpa tanggal 13–20).
Selain contoh di atas, Lontaraq Pattapingang juga memuat putika dalam bentuk naratif terkait perubahan cuaca. Abdur Rahman Hamid (2021) dalam bukunya ‘Jaringan Maritim Mandar’ mereproduksi keterangan pada putika tersebut, dimana kondisi cuaca dibagi per hari dalam setahun. Berikut ini beberapa cuplikannya:
16 April: Cuaca agak stabil, Timur Laut anginnya.
7 Mei: Tobalu (rasi bintang Alpha dan Beta Centauri) memanggil, sudah waktunya menanam ubi jawa (Ipomoea batatas), Barat Daya anginnya.
14 Juni: Hujan malam Selatan anginnya, (angin) Barat di sore hari.
4 Juli: Cerah matahari di pagi hari, baik untuk berlayar.
16 Agustus: Semua basah, juga tanah. Kalau hujan dan ada angin berarti tahun itu baik. Padi jadi, tanaman berhasil, baik untuk berlayar.
Selain memuat deskripsi cuaca yang lebih detail, putika ini menggunakan penanggalan Gregorian, berbeda dengan tabel putika sebelumnya yang menggunakan penanggalan Qamariah. Putika ini juga memberikan informasi yang lebih variatif, entah itu berupa informasi tentang posisi bintang, waktu bertiup serta arah angin, dan bahkan kondisi yang tepat untuk menanam tanaman pangan tertentu. Dapat dikatakan bahwa masing-masing putika dalam naskah Lontaraq Pattapingang didesain secara khusus untuk kepentingan pengguna yang berbeda-beda.
Pengetahuan seperti putika ini tentunya tidak lahir dari ruang kosong. Ia merupakan hasil pengamatan terhadap alam yang dilakukan oleh leluhur masyarakat Mandar secara terus-menerus, kemudian diuji melalui pengalaman selama beberapa generasi. Keteraturan musim, arah angin, curah hujan, peredaran bintang, arus laut, perilaku hewan, serta pertumbuhan tanaman menjadi semacam “buku terbuka” yang dibaca oleh para pelaut dan petani pada masa lampau.
Dengan demikian, ilmu tersebut sangat bergantung pada relatif stabilnya pola-pola alam. Jika perubahan arah angin biasanya terjadi pada bulan tertentu, para pelaut dapat memperkirakan waktu yang tepat untuk berlayar. Jika kemunculan suatu rasi bintang bertepatan dengan datangnya hujan, para petani dapat menjadikannya petunjuk untuk mulai menanam. Pengalaman yang berulang lalu disimpan dalam ingatan kolektif, diwariskan melalui praktik sehari-hari, atau dicatat dalam naskah seperti Lontaraq Pattapingang.
Dampak negatif Global Warmingterhadap Putika
Efek terbesar dari perubahan iklim adalah ketidakteraturan kondisi cuaca. Kenaikan suhu bumi memengaruhi sirkulasi atmosfer dan laut, sedangkan perubahan pola curah hujan membuat batas antara musim hujan dan musim kemarau semakin sulit diperkirakan. Musim dapat datang lebih awal, terlambat, berlangsung lebih singkat, atau justru menjadi lebih panjang daripada yang biasa dikenali masyarakat. Fenomena seperti El Niño dan La Niña juga dapat memperkuat kekeringan maupun curah hujan di berbagai wilayah Indonesia.
Bagi nelayan, perubahan tersebut bukan persoalan abstrak. Ketidakpastian arah dan kekuatan angin dapat menentukan apakah sebuah perahu kecil dapat kembali ke daratan dengan selamat. Gelombang tinggi yang muncul di luar pola yang biasanya dikenal dapat memperbesar risiko kecelakaan. Pergeseran suhu dan arus laut juga memengaruhi lokasi berkumpulnya ikan, sehingga nelayan harus berlayar semakin jauh dengan biaya yang lebih besar. Sementara itu, masyarakat pesisir menghadapi ancaman abrasi, banjir rob, kerusakan permukiman, dan meningkatnya kadar garam pada sumber air maupun lahan pertanian.
Dalam konteks ini, perubahan iklim berubah menjadi ancaman nyata terhadap ilmu orang Mandar. Perubahan iklim mengacaukan hubungan antara tanda alam dan peristiwa yang dahulu mengikutinya. Sebuah tanda yang pada masa lalu menandai datangnya hujan belum tentu menghasilkan keadaan serupa pada masa sekarang. Angin yang dahulu bertiup secara relatif teratur pada bulan tertentu dapat bergeser atau berubah kekuatannya. Kalender pengetahuan yang disusun berdasarkan pengulangan alam pun menghadapi keadaan yang belum pernah dialami oleh generasi terdahulu.
Di sinilah letak ancaman yang sering luput dibicarakan. Kepunahan pengetahuan tidak selalu dimulai dengan terbakarnya sebuah naskah. Ia dapat berlangsung secara perlahan ketika tidak ada lagi orang yang mampu menjelaskan makna suatu simbol; ketika seorang pelaut tua wafat tanpa sempat mewariskan ilmunya; ketika anak-anak nelayan tidak lagi mengenal nama angin dan bintang; atau ketika tanda alam yang dahulu dapat dibaca tidak lagi muncul pada waktu yang sama. Naskah mungkin tetap tersimpan, tetapi hubungan antara tulisan, pembaca, praktik, dan lingkungan yang memberinya makna telah terputus.
Dengan kata lain, global warming tidak hanya mengancam benda dan tempat, tetapi juga kemampuan manusia untuk mengingat.Lontaraq Pattapingang memang merekam sebagian pengetahuan orang Mandar, tetapi naskah tersebut tidak dapat menjelaskan dirinya sendiri. Tanpa keterangan dari pelaut, petani dan pemangku adat, tabel-tabel putika di dalamnya berisiko berubah menjadi susunan tanda yang kehilangan konteks.
Sobat Lontara, kisah Lontaraq Pattapingang memperlihatkan bahwa naskah kuno bukan hanya benda mati yang berbicara tentang dunia yang telah berlalu. Di dalamnya tersimpan jejak hubungan panjang antara manusia, laut, langit, tanaman, hewan, dan perubahan musim. Tabel-tabel dan keterangan cuaca yang tampak sederhana sesungguhnya merupakan arsip pengamatan lingkungan yang dihimpun melalui pengalaman lintas generasi.
Oleh sebab itu, perjuangan menghadapi perubahan iklim juga harus dipahami sebagai perjuangan mempertahankan kebudayaan dan ingatan. Sebab apabila laut, angin, musim, dan bentang alam tempat ilmu itu dilahirkan telah berubah tanpa dapat dikenali lagi, kita bukan hanya kehilangan petunjuk untuk membaca alam. Kita juga kehilangan sebagian dari cara orang Mandar, Toraja, Bugis, Makassar, Bajau, Buton, Jawa, Batak, Sumbawa, Bali, Manggarai, Timor, dan masyarakat lainnya dalam memahami dirinya sendiri.
Referensi:
Abd. Rahman Hamid, Jaringan Maritim Mandar: Studi tentang Pelabuhan “Kembar” Pambauwang dan Majene di Selat Makassar 1900-1980, Yogyakarta: Ombak, 2021.
Suradi Yasil, Inventarisasi, Transkripsi, Penerjemahan dan Penulisan Latar Belakang Isi Naskah Kuno/Lontara Mandar daerah Sulawesi Selatan, Makassar: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1984/1985.