Heritage Conservation: Australia Part 1

Sekali lagi, Melbourne dianugerahi predikat sebagai Ranking 1 “The Most Livable City in the World”. Dan belakangan saya ketahui dinobatkan sebagai City of Literature oleh UNESCO pada tahun 2014.

The Iconic Flinders Station
The Iconic Flinders Station di Swanston Street

Kok bisa? Terlepas dari kontroversi dari masyarakat Melbourne sendiri, sebagai pelajar internasional yang telah berdomisili disini selama kurang lebih tiga semester, saya tidak punya banyak hak untuk mengkritik. Tugas utama sih ya pasti belajar, tapi seperti biasa – merantau itu menjanjikan lebih banyak pengalaman. Lebih dari yang bisa kita peroleh di ruang kelas tentunya. Dalam beberapa misi dan minat yang berhubungan dengan tourism & heritage, di Melbourne ini saya belajar banyak mengenai konservasi budaya. Sejujurnya, seringkali menyebabkan kecil hati dan ironis berkepanjangan. Untuk urusan penanganan situs-situs budaya dan sejarah, kota Melbourne sendiri perlu diacungi empat jempol.

Secara historis, tidak banyak variasi yang bisa ditawarkan oleh pemerintah Australia kepada wisatawan mancanegara. Australia cukup terkenal dengan kondisi geografinya yang unik meskipun bisa dibilang terlalu kering bagi orang-orang yang terbiasa hidup di wilayah tropis. Bagian utara yang berseberangan dengan Indonesia dan tengah benua menawarkan tur-tur gurun untuk mengeksplor lebih banyak kebudayaan asli Aborigin atau jenis-jenis fauna liar dan buas; mulai dari jenis kadal, hingga buaya air asin. Sementara bagian selatan Australia lebih cocok bagi mereka yang ingin merasakan empat musim secara berkala. Sangat jelas kelihatan, pemerintah Australia memeras otak untuk mempromosikan negaranya sebagai alternatif utama liburan bagi siapa saja – dan berhasil.

Tidak seperti kota-kota lain di Australia, hampir semua mahasiswa Indonesia berpendapat bahwa walaupun cuacanya terlampau labil, namun dari segi tata kota dan transportasi publik, Melbourne-lah yang paling nyaman untuk dihuni. Untuk mahasiswa beasiswa yang perhitungan seperti kami, Melbourne adalah surga jalan-jalan. Disini sebagian besar Museum, perpustakaan, galeri nasional, dan taman dapat dikunjungi secara gratis. Ya, Gratis! Entah berapa miliar anggaran daerah yang berani digelontorkan untuk biaya perawatan spot-spot heritage seperti itu. Tapi yang jelas, tanpa program konservasi heritage dan festival, mungkin Melbourne tidak akan pernah seramai sekarang. Kota ini tidak pernah sepi dari ratusan program entertainment tiga bulan sekali. Bahkan di saat-saat tertentu, kami merayakan momen dimana gedung-gedung bersejarah dibuka untuk pengunjung umum seperti pada Australian Day dan Australian Open Day.

Perpustakaan Gedung Parlemen
Perpustakaan Gedung Parlemen

Ketjeh!

Kebanyakan gedung bersejarah di kota Melbourne masih difungsikan seperti biasa. Meski beberapa telah diambil alih oleh perusahaan-perusahaan komersil seperti pusat perbelanjaan, tapi disini pemerintah Kota Melbourne membuktikan bahwa mereka mengawasi ketat masalah pemeliharaan dan hak milik dari gedung-gedung tersebut. Tentu saja, disini pemerintah dan warganya sama-sama berkomitmen untuk mengembangkan kota. Tidak hanya secara sepihak loh ya. Pemerintah senantiasa mengedukasi masyarakat Melbourne mengenai value dari bangunan bersejarah. Tanpa eksplorasi budaya dan sejarah yang cukup kontroversi itu Australia hanyalah negara biasa yang bergantung pada hasil alam yang juga tidak seberapa banyak. Ketika persediaan emas sudah habis, orang-orang Australia telah mengamankan kota dengan cara mengadakan hiburan komersil maupun non-komersil bagi para wisatawan. Apalagi dengan diakuinya universitas-universitas Australia sebagai institusi pendidikan kelas dunia, membuat seolah gelombang pengunjung yang datang dan pergi di Melbourne (mahasiswa, papa mamanya mahasiswa, dan teman-teman sekampungnya mahasiswa) tidak pernah berhenti. Setiap hari berasa libur. Singkat kata mah, bikinlah orang-orang betah tinggal di Melbourne!

 

bersambung…

Merayakan Jejak Rantau Pelaut Bugis-Makassar di Australia: PART 1

Syahdan, di awal abad 18 dalam sebuah musim berburu teripang akhir tahun yang terik oleh pantulan sinar matahari di permukaan laut, sekelompok nelayan berkulit sawo matang telah meminta ijin kepada keluarga di rumah. Dalam petualangan yang berulang, semoga mereka pulang membawa tangkapan yang berlimpah kali ini. Sebab angin monsun akan mendorong layar perahu lebih jauh dari pandangan mata, menghilang ke arah selatan hingga pada akhirnya tiba di suatu daratan kering, pantai bertebing Kimberley di bagian barat Australia yang familiar mereka sebut Kayu Jawa dan di sepanjang garis pantai yang membentang di Arnhem Land – lebih mudah dilafalkan dengan lidah Makassar sebagai Marege`. Oleh para praktisi akademik, dokumentasi yang memuat mengenai informasi tentang pelaut Bugis-Makassar ini sudah sering diulas dan dibahas salam berbagai kesempatan.

Macassans at Victoria, Port Essington, 1845, by HS Melville, published in The Queen, 8 February 1862 (source: national museum Australia)
Macassans at Victoria, Port Essington, 1845, by HS Melville, published in The Queen, 8 February 1862 (source: national museum Australia)

Perburuan laut mungkin bermakna sederhana bagi para pelaut Bugis-Makassar yang pemberani itu: banyak tangkapan berarti banyak rezeki. Sebab orang-orang Tionghoa sangat gemar menyantap teripang sehingga nilainya melonjak tinggi. Jika diperkirakan, kegiatan berburu teripang terjadi pada saat pelabuhan Makassar telah sibuk melayani rute perdagangan antar benua. Tapi, kunjungan mereka rupanya meninggalkan pengaruh yang cukup signifikan bagi komunitas Aborigin yang sejatinya telah menempati daratan Australia sebagai penduduk asli. Bayangkan saja, dengan kemampuan olah bahasa tubuh seadanya, kedua suku berbeda kutub ini telah mencoba berkomunikasi satu sama lain. Di mata sejarah, pelaut Bugis-Makassar telah dikelompokkan sebagai perantau dari “dunia luar” yang pertama kali berhasil melakukan kontak dengan kelompok Aborigin sebelum kedatangan kapal bangsa Eropa bertahun-tahun kemudian. Dengan kondisi tersebut, gaya hidup mereka pun bercampur baur secara perlahan. Kata-kata serapan, budaya, bahkan aspek religi turut mewarnai proses akulturasi antara pelaut Bugis-Makassar dan suku Aborigin yang tinggal di area pesisir Marege` (Clark & May, 2013).

Makasar Prau, 1966, bark painting by Birrikitji Gumana, Yirrkala, 96 x 46cm. National Museum of Australia. © Buku-Larrnggay Mulka Art Centre (source: national museum Australia)
Makasar Prau, 1966, bark painting by Birrikitji Gumana, Yirrkala, 96 x 46cm. National Museum of Australia. © Buku-Larrnggay Mulka Art Centre (source: national museum Australia)

Lazimnya, para pelaut akan mendirikan satu perkemahan sederhana di tepi pantai. Dengan berbekal alat-alat sederhana yang digunakan untuk memasak dan kebutuhan sehari-hari, mereka mulai mengumpulkan hasil tangkapan laut menggunakan harpun selama berminggu-minggu. Adapun bukti peninggalan yang berhasil ditemukan oleh para arkeolog sekaligus mencakup perlengkapan melaut seperti kano, jala, mata pancing, atau barang-barang metal. Dari beberapa sumber disebutkan, orang-orang Aborigin yang tertarik dengan atmosfir kehidupan pendatang ini pun mendekat ke wilayah perkemahan dan akhirnya turut dalam aktifitas berburu teripang. Meskipun terkadang ada satu dua masalah komunikasi yang terjadi akibat salah paham, akan tetapi hubungan kedua bangsa tersebut dapat berjalan cukup lama, sebelum pada akhirnya bisnis ini semakin menurun akibat naiknya harga pajak dan pelarangan berburu tanpa ijin bagi nelayan-nelayan non-Australia dari pemerintah Inggris yang telah berkuasa di bagian selatan Australia di abad 19. Bahkan, sempat dituliskan bahwa beberapa orang Aborigin diperkenankan ikut dalam pelayaran kembali ke Makassar sehingga mereka pun ikut tinggal disana. Akan tetapi, disebabkan oleh kurang rapinya sistem arsip sejarah di Makassar, mungkin susah untuk kembali mencari tahu generasi Aborigin yang masih eksis di Indonesia hingga kini. 

Sebagai keturunan Bugis-Makassar, ada perasaan unik saat membaca naskah-naskah sejarah mengenai informasi ini yang dipampang hampir di setiap lokasi bersejarah mengenai Australia. Terbayanglah seperti apa ekspresi dan dialog yang mungkin terjadi saat pelaut Bugis-Makassar melihat suku Aborigin untuk pertama kalinya, begitu pula sebaliknya. Tanpa harus terjadi konfrontasi fisik dan peperangan berdarah, toh mereka akhirnya bisa kompak dalam urusan berburu teripang. Berbagi api, berbagi makanan, berbagi panci. Apakah orang-orang Aborigin sempat mencicipi burasa` dan abon ikan? Apakah pelaut-pelaut itu menyanyikan anging mamiri sambil merokok untuk mengingat rumah sebelum bulan April tahun berikutnya tiba? 

 

bersambung,..  

Clark, Marshall, Clark, Marshall Alexander, & May, Sally K. (2013). Macassan history and heritage : Journeys, encounters and influences. Canberra, Australian Capital Territory: ANU E Press.

MacKnight, C. C. (1976). The Voyage to Marege’: Macassan Trepangers in Northern Australia. Melbourne, Victoria Australia: Melbourne Univ Pr.

Fashion Show Sulawesi Selatan di Belanda

Meskipun telah lama berhijrah ke negeri Belanda, Adella Ranggong masih tak dapat melupakan Sulawesi Selatan sebagai kampung halamannya yang tercinta. Itulah sebabnya ketika kota Goes yang terletak di Provinsi Zuid Holland, Belanda memutuskan untuk mengangkat tema “Aziejaar” alias Tahun Asia, Tante Adella pun tak segan-segan mengajukan proposal kepada pemerintah kota ini. Usahanya tersebut berbuah manis. Pada tanggal 23 September 2017 lalu, bersama dengan rombongan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan cabang Belanda, mimpi Tante Adella akhirnya terwujud. Beragam corak baju daerah Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja yang dikenakan oleh model-model (terudiri atas warga asli Sulawesi Selatan yang bermukim di Belanda maupun warga Belanda sendiri) tersebut hilir-mudik di atas catwalk membuat publik Goes terkesima. Simak wawancara Louie Buana dengan Tante Adella terkait dengan event tersebut.

Aksi dua model cilik di Aziejaar kota Goes. Sumber: goesisgoes.nl
Aksi dua model cilik di Aziejaar kota Goes. Sumber: goesisgoes.nl

Louie: “Tante, bisa cerita bagaimana awalnya sehingga kok kota Goes memilih untuk mengadakan acara fashion show dengan melibatkan komunitas Sulsel di Belanda?”

Tante Adella: Tahun ini tema kota Goes adalah Asia. Ini melibatkan banyak negara-negara di Asia. Pemkot di sini tahun lalu sudah meminta warganya kalau ingin memberikan ide buat event-event yg bertemakan Azie. Bulan April lalu saya sudah pernah kelompok penari Kombongan Toraja untuk acara Goes Culture. Saya lihat orang di sini kurang kenal dengan daerah kita apalagi ukultur kita. Makanya saya pikir ini kesempatan bagus buat memperkenalkan Sulawesi Selatan. Kombongan tampil pada bulan Agustus di Goes. Pemkot Goes saat it sangat senang dan takjub melihat keunikan daerah kita. Mereka kemudian meminta kepada saya seandainya perwakilan dari Sulsel  sanggup mengisi acara mode show yg akan mereka adakan di bulan September. Ini kesempatan yang saya tentunya tidak mau lewatkan begitu saja. Kesempatan untuk mempromosikan daerah Sulsel buat memperlihatkan keindahan warna warni pakaian adat kita. Makanya saya langsung semangat dan menjanjikan kalo sanggup buat fashion show yang keren buat Goes.”

Louie: “Lalu untuk persiapan acaranya bagaimana, Tante? Siapa-siapa saja yang terlibat?”

Tante Adella: Persiapannya yach.. Saya sendiri yang mondar mandir rapat dengan pemkot Goes .. Tanya sama mereka secara detail panggung berapa meter panjang lebarnya, waktu berapa menit yang dialokasikan, berapa kali model kami harus tampil, kemudian mencari model dan lagunya juga. Koleksi pakaian saya pinjam dari KKSS, dengan bantuan dari Herlina dan Sunarti. Visagist (make up artist) yang membantu saya waktu itu ada Herlina, Lisda, Andi Wally (orang sulsel yang tinggal di Goes), serta Rana dan Nesri dari Kombongan Toraja. Mereka juga membantu memakaikan baju para modelku yg org Belanda. “

Pakaian Adat Toraja. Sumber: goesigoes.nl
Pakaian Adat Toraja. Sumber: goesigoes.nl

Louie: “Nah, konsep fashion shownya sendiri seperti apa?

Tante Adella: “Konsepnya sebenarnya berasal dari Pemkot Goes. Saya sekedar mengikuti prosedur mereka sebagai bahagian dari acara Aziejaar.”

Pakaian Adat Pengantin Bugis-Makassar. Sumber: goesisgoes.nl
Pakaian Adat Pengantin Bugis-Makassar. Sumber: goesisgoes.nl

Louie: “Pertanyaan terakhir, Tante. Bagaimana reaksi dari masyarakat Goes sendiri atas diadakannya fashion show ini?”

Tante Adella: “Responds masyarakat Goes sangat Antusias. Mereka kagum melihat keindahan baju-baju kita. Mereka baru mengetahui kalau Sulawesi Selatan itu juga bagian dari indonesia. Selama ini mereka hanya kenal pakaian batik, Pulau Jawa dan Bali. Lagu yang saya pakai dalam mode show ini saya mixing sendiri dari kiriman teman di Makassar. Lagu-lagunya dari De La Galigo Syndicate Jazz pimpinan Andi Mangara (Radio Mercurius). Sengaja pakai lagu ini karena enak didengar serta cukup international dengan sentuhan etnik. I am so proud to represent my fatherland here, in my second homeland. Pemkot Goes sangat puas karena shownya indah sekali dan I contribute something new to Goes.”

Bagi teman-teman yang penasaran dengan keindahan pakaian Sulawei Selatan yang diperagakan di Goes Mode Show, silakan mengunjungi websitenya di sini.

Perempuan Sulawesi Selatan: Motor Penggerak Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan se-Eropa

Saat berkunjung ke jazirah Sulawesi Selatan di abad ke-19, John Crawfurd pernah dibuat takjub oleh seorang perempuan yang menjabat sebagai ratu di negeri Lipukasi. Ia menuliskan bahwa ratu ini menjadi panglima perang dan memberikan contoh cara memegang tombak yang baik kepada prajuritnya yang laki-laki. Situasi tersebut mengejutkan bagi Crawfurd karena hal yang sama tidak mungkin terjadi di Eropa. Di abad yang sama, perempuan Eropa pada zaman Victorian adalah produk dari dominasi patriarki yang menghendaki mereka untuk tunduk patuh kepada kaum pria. Jangankan menjadi panglima perang atau memegang senjata, perempuan Eropa saat itu tidak memiliki hak suara sama sekali, tidak boleh keluar rumah dan seringkali menjadi korban dari penindasan oleh kaum pria. Jika melihat perbandingan tersebut maka jelaslah perempuan Bugis sudah jauh lebih progresif dibandingkan dengan perempuan-perempuan di belahan dunia lainnya.

Di Sulawesi Selatan secara umum, peran perempuan yang setara dengan laki-laki sudah bukan cerita baru. Kerajaan Gowa di Makassar contohnya. Kerajaan yang sempat menjadi kekuatan maritim utama di perairan Indonesia setelah runtuhnya Majapahit di abad ke-16 ini didirikan oleh seorang perempuan yang diberi gelar Tumanurunga ri Tamalate. Dikisahkan sebagai dewi yang turun dari langit (atau berasal dari sistem peradaban yang lebih tinggi), Tumanurunga ri Tamalate bersedia menjadi ratu pertama kerajaan Gowa sekaligus peletak fondasi dinasi raja-raja Makassar. Di Tana Toraja, perempuan juga memiliki hak-hak sebagaimana halnya laki-laki. Perempuan memiliki hak waris dan sistem kendali terhadap keluarga. Tercatat, sejak zaman Belanda dulu perempuan-perempuan berdarah ningrat di Toraja dapat menjadi pemimpin, bahkan sebagai bupati. Konsep yang sama pun ditemukan di dalam kebudayaan Mandar. Siwaliparriq atau berbagi derita merupakan ide persamaan gender yang diterapkan oleh nelayan-nelayan Mandar dan istrinya yang menguasai urusan domestik selama sang suami pergi berlayar. Kehadiran konsep siwaliparriq ini membantu berputarnya dinamika masyarakat, tidak bertumpu pada kehadiran laki-laki saja sehingga kehidupan politik, ekonomi, sosial dan budaya tidak akan mati begitu ditinggal oleh kaum prianya mencari uang.

Beribu-ribu kilometer dari kampung halaman, kedahsyatan perempuan Sulawesi Selatan dalam mengambil peran di tengah masyarakat terdengar gaungnya di Benua Biru. Minggu, 5 Juni 2016 langit Paris yang dilanda mendung menjadi saksinya. Bendera Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan berkibar di tanah Eropa. Disahkan oleh bapak DR. H. Andi Jamaro Dulung selaku Wakil Ketua Umum BPP KKSS di hadapan Duta Besar Indonesia untuk Perancis, Nurhaeda Temarenreng (Nena Doligez) dilantik sebagai ketua KKSS Eropa.

Persembahan dari Belanda: Tari 4 Etnis oleh Mahasiswa dari kota Leiden dan Amsterdam
Persembahan dari Belanda: Tari 4 Etnis oleh Mahasiswa dari kota Leiden dan Amsterdam

KKSS Eropa membawahi 15 negara yang tersebar mulai dari Inggris hingga Italia. Uniknya, organisasi ini didalangi dan mayoritas beranggotakan perempuan. Perempuan-perempuan bermental baja dari Sulawesi Selatan yang merantau jauh dari tanah kelahirannya. Tepatlah sudah organisasi ini disebut sebagai “Keluarga” bukannya persatuan maupun asosiasi perantau Sulawesi Selatan di Eropa. Perempuan merupakan pemersatu keluarga. Perempuan juga yang membuat api di dalam rumah tangga untuk terus hidup dan membawa kehangatan kepada seluruh anggotanya. Perempuan lah yang menjadi tiang utama (posiq bola, benteng polong, posiq boyang) di rumah panggung yang kita dirikan bersama-sama di bumi Eropa ini. Tentunya bukan tanpa kekurangan acara tersebut berlangsung. Sifat keterbukaan yang menjadi ciri khas masyarakat Sulawesi Selatan membuat kritik dan masukan agar acara KKSS Eropa dapat berjalan dengan lebih baik lagi mengalir begitu acara pelantikan selesai. Keterbatasan waktu, tempat, tenaga dan dana menjadi tantangan KKSS Eropa ke depan.

Semoga KKSS Eropa dapat tumbuh progresif, mampu menjadi wadah berkreasi anggota-anggotanya serta menjadi tempat untuk berandil bagi Indonesia dari luar negeri.

Leiden, 7 Juni 2016

 

Referensi sejarah:

Nurhayati Rahman, Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa Intelektual Penggerak Zaman, La Galigo

Langit Perempuan, http://www.langitperempuan.com/den-upa-rombelayuk-pulihkan-hak-pilih-adat-perempuan-toraja/

Di Oegstgeest ada Kampong Makassar

Sebuah kotamadya kecil di selatan Leiden menyimpan sebuah sejarah menarik yang berhubungan dengan nama Makassar. Oegstgeest yang luasnya mencakup area sekitar 8 kilometer dan berpenduduk 23.000 jiwa ini di kalangan masyarakat Indonesia di kota Leiden hanya dikenal sebagai suburb semata. Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang mencari tempat tinggal murah atau yang jaraknya tidak terlalu jauh dari stasiun kereta api Leiden banyak yang memilih untuk tinggal di kota ini. Dengan bersepeda selama 10 hingga 15 menit pusat kota Leiden sudah dapat dicapai dari Oegstgeest. Dulunya sebelum diadakan perluasan, sebahagian wilayah Oegstgeest merupakan bagian dari kota Leiden. Mulai tahun 1920, beberapa daerah yang seharusnya menjadi bagian kota Leiden “dicaplok” secara administratif oleh Oegstgeest.

Nah, Sobat Lontara, sebuah peta topografi kota Leiden tahun 1871 ternyata menyelipkan nama “Kampong Makassar” di wilayah Oegstgeest. Kampong Makassar ini bukanlah nama sebuah daerah melainkan nama gedung yang berdiri sejak tahun 1854. Berlokasi di antara Hooge Moorschweg dan Galgewater, Kampong Makassar merupakan sebuah hunian mewah milik keluarga Wiggers van Kerchem. Siapakah beliau dan mengapa rumah tersebut ia beri nama “Kampong Makassar”?

Kampong Makassar di Oegstgeest
Kampong Makassar di Oegstgeest

Wiggers van Kerchem lahir di kota Hoorn pada tahun 1825. Ia merintis karirnya sebagai partner di firma dagang Tiedeman en Van Kerchem di Hindia Belanda. Ia juga merupakan pendiri dari Nederlandsch-Indie Escompto Maatschappij yang merupakan bank komersil modern pertama di tengah geliat Cultuurstelsel alias sistem tanam paksa di Hindia Belanda. Prestasi-prestasinya tersebut membuat ia melejit ke golongan kelas atas Eropa di Batavia. Sebelum akhirnya memutuskan untuk pensiun dan kembali ke Belanda, Wiggers van Kerchem juga pernah menjabat sebagai President van Javaasche Bank yang kira-kira hari ini setara dengan Gubernur Bank Indonesia.

Selama tinggal di Batavia, Van Kerchem memiliki sebuah rumah besar di daerah Meester Cornelis (Jatinegara sekarang). Rumah hunian itu ia beri nama Kampong Makassar, berhubung lokasinya berada di pemukiman Makasar. Makasar yang hari ini merupakan nama sebuah kecamatan di daerah Jakarta Timur dulunya merupakan tempat dimana prajurit-prajurit Makassar setelah kejatuhan kerajaan Gowa di abad ke-17 bertempat tinggal. Mereka diberi tempat di wilayah tersebut oleh gubernur jenderal Hindia Belanda sebagai tawanan perang. Kelak salah satu anak perempuan dari Daeng Matara, pemimpin pasukan asal Makassar tersebut, menikah dengan Pangeran Purbaya dari kesultanan Banten dan menguasai tanah di daerah Condet, sebelah barat kampung Makasar.

Van Kerchem yang ternyata belum bisa move on dari masa-masa kejayaannya di Hindia Belanda kemudian membeli sebuah tanah di Oegstgeest yang dulunya milik seorang bangsawan bernama Pieter Hendrik Baron Taets van Amerongen tot Natewisch. Sebuah rumah ia bangun di atasnya dan ia beri nama Kampong Makassar untuk mengenang kembali saat-saat membahagiakan di Hindia. Kampong Makassar yang awalnya hanya merupakan sebuah rumah hunian kemudian bertambah luas seiring dengan dibelinya beberapa taman dan bahkan jalan di sekitarnya oleh keluarga Van Kerchem. Sayangnya pada tahun 1980 terjadi kebakaran yang membumihanguskan sisa-sisa dari bangunan lamanya. Selanjutnya pada tahun 1983, daerah yang dulunya dikenal sebagai Kampong Makassar ini kemudian berubah menjadi bangunan apartemen Morsweg. Kampong Makassar di Oegstgeest hanya tinggal kenangan.

Screenshot_2016-05-07-23-34-23-1

Terakhir, Sobat Lontara, untuk menambah wawasan kita ternyata Kampong Makassar tidak hanya terdapat di Oegstgeest dan Jakarta saja lho. Di kota Bangkok Thailand terdapat sebuah distrik bernama “Makassan” yang dulunya merupakan tempat hunian diaspora kerajaan Gowa yang tak sudi tunduk pada VOC pasca Perang Makassar. Di Afrika Selatan, tak jauh dari Cape Town juga terdapat kota kecil bernama Macassar, dimana dulunya di sana banyak orang Makassar pengikut dari Syekh Yusuf yang dibuang oleh Belanda bermukim. Sosok Syekh Yusuf itu sendiri oleh Presiden Nelson Mandela dijadikan sebagai pahlawan nasional Afrika Selatan atas usahanya mengobarkan perlawanan terhadap penjajah dan jasanya dalam menyebarkan agama Islam. Masih di Afrika, tepatnya di Mozambique juga ada kota pelabuhan yang bernama Macassar. Hubungan antara Mozambique dan Makassar yang sebenarnya di Sulawesi Selatan belum dapat ditemukan, akan tetapi mengingat dulunya Mozambique merupakan koloni Portugis dan pedagang Portugis itu sendiri memiliki hubungan yang erat dengan sultan-sultan Gowa, maka terbuka kemungkinan di daerah tersebut juga pernah ada orang-orang Makassar yang ikut berdagang di bawah bendera kapal kerajaan Portugal.

Seru sekali ya, dari Makassar kita diajak berkeliling dunia!

 

Sumber: Over Oegstgeest, Halfjaarlijks tijdschrift, 23e Jaargang Nummer 2, November 2011

Jejak Sulawesi Selatan di Kota Leiden

Sebuah kota kecil di Provinsi Zuid Holland, Belanda punya peran penting dalam sejarah Indonesia zaman kolonial. Di kota inilah dulu bapak-bapak bangsa kita seperti Ali Sastroamidjojo, A.A. Maramis, Iskaq Tjokrohadisoerjo, Soepomo, Achmad Soebardjo dan bahkan Sultan Hamengkubuwono IX pernah menuntut ilmu. Di kota kecil bernama Leiden ini pula dulu organisasi kepemudaan Indonesia pertama di luar negeri yaitu Indonesisch Vereeniging (Perhimpoenan Indonesia) di-establish pada tahun 1922. Leiden menyaksikan bagaimana sekumpulan pelajar Indonesia yang berasal dari beragam latar belakang ini berkumpul bersama dan mendiskusikan usaha-usaha untuk dapat memerdekakan tanah air nan jauh di seberang samudera.

Kota Leiden ternyata tidak hanya identik dengan sejarah nasional semata lho, Sobat Lontara. Ada beberapa jejak sejarah serta kebudayaan Sulawesi Selatan (dari etnis Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja) yang teman-teman bisa temukan juga di kota ini. Penasaran? Yuk kita telusuri!

1. Rumah Achmad Soebardjo

Sebuah rumah di Jalan Noordeinde No. 32 yang letaknya tak jauh dari gedung utama Universitas Leiden menjadi kediaman seorang putra Indonesia yang kelak akan menjadi Menteri Luar Negeri pertama dan Duta Besar Indonesia untuk Switzerland. Namanya Achmad Soebardjo, mahasiswa Fakultas Hukum di universitas yang telah berdiri sejak tahun 1575 ini. Kediaman Soebardjo sering menjadi sarang tempat berkumpulnya mahasiswa-mahasiswa anggota Perhimpoenan Indonesia yang berasal dari berbagai kota di Belanda. Dulunya, sebuah bendera berwarna merah-putih dengan hiasan gambar benteng di tengahnya di simpan di kamar Soebardjo. Bendera tersebut menjadi representasi dari cita-cita pemuda Indonesia yang tengah berkuliah di luar negeri untuk memerdekakan bangsanya. Rumah Achmad Soebardjo tidak hanya sarat dengan diskusi politik yang serius. Ia juga suka bermain musik. Teman-teman bisa membayangkan pada tahun 1920-an saat Soebardjo masih meninggali rumah tersebut, sayup-sayup suara biola yang ia gesek dapat terdengar hingga ke jalanan. Lalu, apa hubungan antara Achmad Soebardjo dengan Sulawesi Selatan? Nah, ternyata Achmad Soebardjo ini berdarah campuran Aceh-Bugis-Jawa. Ibunya yang bernama Wardinah ialah seorang Jawa-Bugis yang berasal dari Cirebon. Ayah Soebardjo yang bernama Teuku Yusuf sendiri merupakan seorang Aceh dengan darah bangsawan. Tokoh nasional lainnya yang memiliki darah campuran Jawa-Bugis antara lain ialah Dr. Wahidin Soedirohusodo dan Presiden Habibie.

2. Gedung KITLV

Polena pelele winruq, tenre kutuju mata, padana sulisa” demikian bunyi pepatah yang ditulis dalam aksara Bugis di mural gedung KITLV. KITLV yang merupakan institut riset untuk wilayah-wilayah bekas jajahan Belanda di Asia dan Karibia ini memilih untuk mengabadikan pepatah Bugis tersebut untuk menggambarkan keindahan serta keluhuran kebijaksanaan lokal dari mengkaji beragam naskah kebudayaan Sulawesi Selatan. Arti pepatah yang tertuang di mural KITLV adalah “Saya telah pergi ke berbagai tempat, namun mata saya ini belum pernah menemukan keindahan seperti yang saya temukan di negeri ini”. KITLV sendiri telah banyak sekali menelurkan buku mengenai kebudayaan dan sejarah Sulawesi Selatan. Beberapa pakar Sulawesi Selatan yang berasal dari KITLV antara lain: Cense, Kern, Noorduyn, Roger Tol, Kathy Wellen dan Ian Caldwell.

Mahasiswa Indonesia berkumpul di depan gedung KITLV yang di depannya terdapat mural bertuliskan aksara Bugis
Mahasiswa Indonesia berkumpul di depan gedung KITLV yang di depannya terdapat mural bertuliskan aksara Bugis

3. Universiteitbibliotheek (UB)

Perpustakaan Universitas Leiden ini merupakan tempat paling favorite bagi mahasiswa, terutama saat menjelang minggu-minggu ujian! UB menyimpan banyak sekali naskah-naskah maupun dokumen-dokumen penting yang berhubungan dengan sejarah dan budaya Indonesia. Salah satunya yang paling terkenal tentu saja NBG188 yang tiada lain tiada bukan ialah naskah 12 jilid naskah La Galigo terlengkap di dunia. Naskah ini telah didaulat oleh UNESCO sebagai Memory of the World bagi Indonesia dan juga Belanda. Selain naskah La Galigo, banyak juga terdapat naskah kuno lainnya yang berasal dari daerah Makassar, Bugis, Mandar dan Toraja. Surat-surat penting sejak zaman kolonial hingga majalah-majalah terbaru Indonesia bisa ditemukan eksemplarnya di sini. Liputan khusus tim Lontara Project terkait perpustakaan ini bisa dibaca dengan lebih detail di sini.

4. Museum Volkenkunde

Koleksi boneka yang mengenakan pakaian adat Sulawesi Selatan di Museum Volkenkunde.
Koleksi boneka yang mengenakan pakaian adat Sulawesi Selatan di Museum Volkenkunde.

Museum Volkenkunde merupakan museum etnografi pertama di Eropa. Ada segala macam benda dari empat benua di museum ini. Museum ini menyimpan banyak sekali koleksi artefak bersejarah yang dikumpulkan sejak zaman VOC. Koleksi andalan Museum Volkenkunde tentu saja adalah Indonesische zaal alias ruang Indonesianya. Di ruangan tersebut ada beragam patung dan prasasti mulai dari zaman Singosari hingga zaman menjelang kemerdekaan. Koleksi emas kraton Cakranegara, Lombok yang merupakan hasil rampasan perang juga terpajang di sana. Museum Volkenkunde juga menyimpan banyak sekali benda-benda yang berasal dari Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah keris kerajaan (Staatsiekeris) yang berasal dari tanah Bugis. Keris ini dimiliki oleh Stadhouder Willem IV yang menjabat sebagai direktur VOC pada tahun 1740. Keris tersebut konon berasal dari abad sebelum kedatangan Islam di Sulawesi Selatan. Selain benda yang dianggap sakral seperti keris, artefak-artefak sehari-sehari seperti sarung, pakaian, kain penutup kepala, bejana dan bahkan keranjang rotan juga dikoleksi oleh Museum Volkenkunde.

Penasaran dengan jejak-jejak Sulawesi Selatan di kota Leiden? Kami tunggu kehadiran Sobat Lontara berkunjung ke sini!

 

 

Dua Orang Pangeran Louis dari Makassar di Paris

Paris, ibukota fashion dunia. Paris juga tempat lahirnya sebuah revolusi besar yang menjadi sendi konsep negara modern di dunia. Paris, terima kasih atas kesuksesan seri buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, juga menjadi destinasi utama mahasiswa-mahasiswa Indonesia untuk berburu ilmu pengetahuan di luar negeri. Akan tetapi tidak banyak yang mengetahui bahwa di kota Paris ini terdapat sebuah situs bersejarah tempat dimana dulu dua orang pangeran Makassar yang tumbuh besar di negeri Siam pernah disambut oleh Raja Perancis. Penulis buku “Manusia Bugis” yaitu almarhum Christian Pelras pernah membahas perihal kedua pangeran ini di majalah Archipel tahun l997, dengan judul artikel “La premiere description de Celebes-Sud en francais et la destinee remarquable de deux jeunes princes makassar dans la France de Louis XIV”.

Alkisah, Perjanjian Bongaya mengakibatkan terjadinya eksodus besar-besaran di Sulawesi Selatan. Banyak penduduk Makassar, Bugis dan Mandar yang memutuskan untuk berdiaspora keliling Nusantara karena tak sudi tunduk di bawah kekuasaan VOC. Demikian pula halnya dengan seorang bangsawa dari Gowa yang bernama Daeng Mangalle. Bersama dengan kedua orang puteranya, Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, ia berhijrah ke negeri Siam (Thailand) yang saat itu dipimpin oleh baginda raja Phra Narai. Daeng Ruru dan Daeng Tulolo kemudian dikirim untuk bersekolah di sebuah kolese Jesuit bernama Louis Le-Grand setelah terjadi kudeta mengerikan yang dilakukan oleh orang-orang Makassar terhadap Phra Narai akibat muslihat adu domba dari orang-orang yang tidak menyukai kedekatan antara sang raja dengan kaum pendatang.

Gereja Saint Paul-Saint Louis di Paris (sumber: http://www.unjourdeplusaparis.com/en/paris-culture/visiter-eglise-saint-paul-saint-louis)
Gereja Saint Paul-Saint Louis di Paris (sumber: http://www.unjourdeplusaparis.com/en/paris-culture/visiter-eglise-saint-paul-saint-louis)

Kedua kakak beradik ini tiba di Paris dan disambut oleh Raja Louis XIV pada tahun 1687. Mereka berdua dibaptis di gereja Saint Paul-Saint Louis dan berada di bawah tanggung langsung Raja Louis XIV. Mereka berdua juga diberi nama baru yaitu Louis Pierre Macassar dan Louis Dauphin Macassar, mengikut kepada nama Raja Penguasa Istana Versailles tersebut. Tahun 1688, Pendeta Nicolas Gervaise menerbitkan sebuah buku berjudul “Description historique du Royaume Macassar” yang ditulis berdasarkan informasi yang ia terima dari kedua orang muridnya, kakak-beradik Louis berdarah Makassar serta budak asal Toraja yang ikut ke Paris. Setelah belajar Bahasa Perancis serta keagamaan di kolese Louis Le-Grand, kedua Louis kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah militer Clermont yang bergengsi. Nasib kedua kakak-beradik ini cukup cemerlang di Angkatan Laut Kerajaan Perancis. Daeng Ruru bahkan pernah berperang di Hindia Barat (kepulauan Karibia). Sayang, setelah itu tidak ada lagi kabar yang terdengar dari mereka berdua. Konon Daeng Ruru meninggal saat melaksanakan tugas di Havana sedangkan Daeng Tulolo dimakamkan di sebuah gereja bernama Louis de Brest.

Nah, jika teman-teman berkunjung ke kota Paris, jangan hanya mejeng di depan Menara Eiffel aja! Sempatkan untuk berziarah ke gereja Saint Paul-Saint Louis, tempat dimana kedua pangeran muda dari Makassar ini disambut untuk memulai kehidupan mereka di benua biru yang penuh tantangan.

Salam hangat dari “Louie” yang lain di kota Leiden!

Perayaan World Heritage Day 2016

WHD16
Makassar World Heritage Day 2016 Empat tahun Komunitas Lontara Project memperingati Perayaan World Heritage World (Hari Pusaka Dunia). Dalam tahun keempat ini, LP mempersembahkan WHD dengan mengangkat tema Warisan Budaya Takbenda dan Konservasi yang difokuskan pada warisan dalam lingkup wilayah Sulawesi Selatan. Mari kita membangun kesadaran akan warisan nenek moyang kita yang ada di sekitar. Lihat lebih dekat, karena dari akar budaya kita kembali. Ayo turut berpartisipasi dengan daftarkan diri teman-teman segera mungkin karena kuota peserta terbatas. RM. Makassar Tempo Doeloe Jl. Bonerate No 11A Makassar (Samping gedung Societeit De Harmonie 17 April 2016, 13.00 – 17.00 wita ProgramPresentasi: Sosialisasi Warisan Budaya TakBenda, Berbagi Komunitas, Studi Kasus dan Konservasinya, Pameran Barang antik, Pertunjukan Sinrilik dan Diskusi sejarah.

Senja di Desa Lemo-Lemo

Di tengah hiruk pikuk Kota Makassar sulit bagi kita untuk menemukan cerita kehidupan warga apalagi berbaur dengan mereka untuk menemukan makna dari sebuah cerita. Cerita kehidupan warga hanya ada di pelosok-pelosok negeri. Di sanalah ada berbagai ragam kehidupan yang masih tersimpan rapi dalam setiap langkah yang berdebu. Meski perjalananku kali ini ke Bulukumba bukanlah yang pertama kalinya, perjalanan ini merupakan kesempatan pertamaku untuk hidup berbaur ditengah-tengah warga pedesaan dan belajar menemukan makna dari kehidupan mereka.

Hari itu, Jumat tanggal 27 Februari 2015, kurang lebih 30 orang berpartisipasi dalam kegiatan “ Heritage Trail: Experience Of Phinisi”. Acara ini mengajak para pemuda mengenal budaya Sulawesi Selatan dengan hidup bersama warga di desa dan melakukan konservasi warisan budaya di Dusun Kajang serta Kapal Phinisi. Hari pertama, kami berkunjung ke salah satu desa di Kabupaten Bulukumba, yaitu Desa Lemo-Lemo, kurang lebih 6 jam dari Kota Makassar. Dalam perjalanan kupandangi setiap sudut Kota Makassar yang semakin hari tenggelam dalam era modernitas. Bus yang kami tumpangi semakin menjauh, menyisakan puncak gedung-gedung yang sekali-kali terlihat dari jendela.

Dalam perjalanan , kami berbagi keceriaan dan cerita. Beberapa teman mengisahkan tentang sejarah Sulawesi Selatan, yang seolah-olah mengajak kita mengarungi masa lalu. Walau perjalanan sangat melelahkan,aku tetap berusahadan terus membuka mata agar tidak ada yang terlewati dari proyeksi alam yang jauh membentang. Panoram pun mulai memanjakan mata dan di depanku terbentang-bentang jalan lurus yang disisinya dihiasi oleh hamparan padi yang menghijau. Bus yang kami tumpangi terasa sangat kecil ketika melintasi hamparan pedesaaan yang luas ini. Dari Bulukumba, kami harus menempuh satu jam perjalanan lagi untuk menuju Desa Lemo-Lemo. Sore menjelang dan sinar matahari mulai menyelinap di antara dahan-dahan pohon. Kira-kira pukul lima lewat kami pun sampai di Desa Lemo-Lemo.

Perjalanan menuju Desa Lemo-Lemo
Perjalanan menuju Desa Lemo-Lemo

Malam pertama kegiatan Heritage Trail dihabiskan untuk menghibur warga Desa Lemo-Lemo, yakni memutar beberapa film dokumenter yang menceritakan ekspedisi “NKRI” dan “Penyebaran Islam di Sulawesi Barat”. Warga nampak sangat antusias menikmati tayangan tersebut seolah-olah baru pertama kalinya. Ini adalah kesempatan pertama kami dengan warga setempat untuk berbaur dan merasakan dinginnya angin malam yang bersiul membelai daun di dahan pepohonan. Nyiur daun kelapa yang tumbuh di sepanjang pantai di tengah larutnya malam membuat suasana kehidupan di Desa Lemo-Lemo semakin tenang. Cahaya pelita mengintip dari celah-celah dinding dan bising kendaraan yang menabuh gendang telinga para penduduk kota tak akan terdengar sampai disini.

Badanku terlentang diatas papan untuk beristirahat melewati malam yang panjang. Meski sebagian dari teman-teman mulai mengayuh ke alam mimpi, aku masih tetap terjaga. Muncul sejuta pertanyaan : inikah rasanya hidup di pedesaan yang jauh dari keramaian? Walau ada rasa gelisah, aku tetap berusaha untuk beristirahat untuk mempersiapkan diri esok hari.

Aku bersama anak-anak di Desa Lemo-Lemo
Aku bersama anak-anak di Desa Lemo-Lemo

Hari menjelang pagi, sinar matahari menyelinap di jendela dapur. Bersama keluarga Pak Said, kami mulai sibuk menyiapkan sarapan. Pagi ini kami mempunyai kesempatan untuk belajar menggunakan peralatan dapur yang tampak sederhana, salah satunya tungku yang menggunakan kayu bakar. Bagi saya, memasak dengan menggunakan kompor tradisional sangatlah berat, tetapi bagi istri Pak Said nampak mudah saja.

Istri Pak Said menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak
Istri Pak Said menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak

Nun jauh disana, hamparan pasir putih yang terhempas oleh ombak membuatku ingin tinggal lebih lama di Desa Lemo-Lemo. Pemandangan pagi ini memberikanku pemahaman baru tentang kehidupan karena baru kali ini aku bersentuhan langsung dengan alam. Kehidupan warga di Desa Lemo-Lemo mengajarkan banyak hal tentang kesederhanaan dan ketekunan hidup yang mereka jalani meskipun sarana di pedesaan mereka belum tersentuh oleh pembangunan.

Pengalaman yang kami rasakan di Lemo-Lemo hanyalah sebuah potongan kecil dari bagian kehidupan warga desa yang utuh. Paling tidak, jika kita pahami, terdapat sejuta makna kehidupan yang sebenarnya ketika kita mampu menyatu dengan alam dan hidup dalam kesederhanaan. 

 


1656126_1462202057349759_8595336833510087351_nAnna Asriani de Sausa
atau Anna Young Hwa, lulusan Ilmu Sejarah UNHAS 2013 yang fanatik dengan Mie Awa ini   merupakan pribadi yang heboh dan menggelegar. Kesukaannya terhadap sejarah, khususnya Sulawesi Selatan, membawanya bertemu langsung denganpara Sejarawan dan Budayawan yang tersebar di Indonesia. Anna bercita-cita untuk membangkitkan lagi kesadaran anak-anak muda akan kearifan lokal dengan bergabung menjadi Volunteer di Lontara Project. Di setiap kesempatan, Anna selalu bersemangat mengunjungi tempat-tempat baru, dan paling utama adalah mencicipi makanan khasnya. Kunjungi FBnya di : Anna Asriani De Sausa.