Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Raya and The Last Dragon dan Epos La Galigo

Sobat Lontara, beberapa bulan yang lalu Disney merilis sebuah film animasi berjudul “Raya and The Last Dragon”. Film animasi ini terbilang istimewa karena untuk pertama kalinya Disney mengambil kawasan Asia Tenggara sebagai inspirasi cerita petualangan mereka. Spoiler warning! Raya, sang tokoh utama dalam film tersebut adalah gadis pemberani yang berupaya untuk menyelamatkan Kumandra, negeri fantasi yang menjadi latar cerita, dari mahluk-mahluk jahat bernama Druun. Demi mengalahkan Druun dan mengembalikan warga Kumandra yang terkena kutuk menjadi batu, Raya harus membangkitkan kembali Sisudatu, satu-satunya naga dalam legenda yang masih ada dan konon dapat mematahkan sihir Drun. 

Tahu kah teman-teman bahwa ada beberapa elemen dalam film Raya and The Last Dragon yang dapat pula kita temukan pada epos La Galigo? Sebagai sebuah karya sastra kuno masyarakat di Sulawesi Selatan, La Galigo menyimpan elemen-elemen kebudayaan Asia Tenggara yang unik dan khas. Artikel kali ini akan membahas beberapa kesamaan-kesamaan yang dapat kita jumpai pada film Raya and The Last Dragon dan epos La Galigo. Yuk, mari kita simak!

Sisudatu dan Naga

“Narirumpu na raung tangkiling

Nassirakkasi wéroni lakko

Ripalariang bajéq ri mangkeq to Senrijawa

Ripapasangeng sampuq patola kéteng ri naga.”


(Diasapilah dengan dupa kemenyan

Dikerubuti kipas keemasan

Dihembusi angin buatan orang Senrijawa

Dipakaikan kain sutera bersulamkan bulan naga)

-Volume I Naskah La Galigo NBG 188 koleksi Leiden University

Di Kumandra, naga adalah mahluk gaib yang memiliki hubungan erat dengan kekuatan alam, terutama air. Naga dapat terbang dan mengubah wujudnya menjadi manusia. Sisudatu alias Sisu adalah naga yang jago berenang serta dapat terbang di angkasa. Ia merupakan satu-satunya naga yang masih tersisa di Kumandra setelah bangsa naga berhasil mengalahkan mahluk gaib jahat bernama Druun.

Nah, sosok naga juga dikenal dalam kebudayaan Bugis lho. Dalam astronomi Bugis, naga adalah hewan mistis yang tinggal di langit sekaligus lambang dari galaksi Bima Sakti (Milky Way). Pada beberapa cerita rakyat, seperti halnya buaya, naga juga dianggap sebagai perwakilan dari Dunia Bawah. Epos La Galigo menyebutkan bahwa panji pangeran Sawerigading dari Ale Luwu bergambar seekor naga dan bulan (Kéteng ri Naga) sebagai simbol Boting Langiq (Dunia Atas) dan Toddang Toja (Dunia Bawah).

Pada rumah-rumah panggung milik golongan bangsawan Bugis, hiasan anjong atau pucuk bubungan atap dibikin berbentuk seperti naga sebagai simbol kekuasaan sang empunya rumah dan juga bermakna sebagai pelindung gaib. La Galigo menyebutkan bahwa hiasan naga terdapat pula pada kain-kain yang biasanya dipakai oleh keturunan dewata yang maddara takkuq (berdarah putih). Selain itu ada juga mitos di tengah masyarakat Sulawesi Selatan yang mempercayai bahwa gerhana terjadi akibat matahari/bulan ditelan oleh naga. Konon, sang naga menelan matahari/bulan karena ia marah dan kelaparan. Jika peristiwa tersebut terjadi, manusia di bumi harus mengadakan ritual Songka Bala (tolak bala) supaya sang naga cepat-cepat melepaskan kembali matahari/bulan. Apabila ritual Songka Bala tersebut tidak dilakukan, maka sang naga tidak akan mengeluarkan matahari/bulan dari perutnya sehingga akan terjadi kondisi pattang alias alam semesta ditelan kegelapan selama-lamanya!

Kekuatan gaib naga yang mahadahsyat tersebut juga sering dimanfaatkan untuk mantra-mantra yang berhubungan dengan perdagangan dan percintaan. Naga Sikoi’ adalah jimat pengasihan dan penglaris dalam tradisi Bugis yang bergambar dua ekor naga dengan ekor yang saling membelit. Apabila sudah terkena mantra dari jimat ini, dijamin si doi bakal mabuk kepayang dan semakin sayang. Barang dagangan juga bakal selalu laris. Wah, naga dalam mitologi Bugis ternyata tidak hanya dapat menyebabkan gerhana namun juga bisa menjadi Mak Comblang!

Pedang Raya dan Gajang

“Nagiling mua Patotoqé napamoléi 

Gajang pareppaq sésumangeqna

Pakkaluri wi lé pattikaseng

Mpelluq-welluqna sebbu katinna

(Patotoqé pun menoleh sambil membuka

Ikatan keris agung taruhan jiwanya

Melilitkannya ke pinggang

langsing, anak sibiran tulangnya)

-Volume I Naskah La Galigo NBG 188 koleksi Leiden University

Senjata khas Raya dalam petualangannya di Kumandra adalah sebilah pedang dengan bentuk yang melekuk-lekuk mirip seperti keris. Selidik punya selidik, ternyata memang animator film Raya terinspirasi dari bentuk keris dalam kebudayaan di Nusantara. Keris punya kekhasan dari segi bentuk: semakin ke ujung maka bentuknya akan semakin kecil dan akhirnya meruncing.

Senjata keris di Sulawesi Selatan dikenal dengan nama “gajang” atau “tappi’”. Seperti halnya keris dalam kebudayaan Jawa yang dianggap bertuah, gajang pun dianggap memancarkan aura keistimewaan. Ornamen hiasan pada gajang juga menandakan status sosial pemiliknya. Seorang laki-laki konon tidak berpakaian dengan lengkap apabila tidak menyandang gajang. Pada masa lalu, saat bepergian tanpa ditemani oleh sanak-saudaranya, seorang perempuan biasanya akan membawa sebilah “cobbo” atau keris kecil di balik sarungnya sebagai alat untuk melindungi diri. Beberapa tokoh ratu atau penguasa perempuan dalam kebudayaan Bugis digambarkan pula menyandang keris, contohnya seperti ratu We Tenriawaru dari kerajaan Luwu.

La Galigo menyebutkan gajang sebagai senjata pertama yang diwariskan oleh Datu Patotoqé, dewa tertinggi di alam semesta, kepada Batara Guru yang akan turun ke Dunia Tengah sebagai manusia. Keris bernama La Ulabalu tersebut konon memiliki bentuk seperti ular yang meliuk-liuk. Menurut legenda yang beredar di tengah masyarakat Bone, senjata keris tercipta dari sehelai daun bambu kering yang digunakan Pangeran Sawerigading dari Ale Luwu untuk menghukum seorang pelaku kejahatan. Daun tersebut ia mantrai sehingga menjadi keras dan tajam, prototipe senjata tusuk yang dikemudian hari disebut gajang.  

Druun v. Pérésola

“Temmagangka ni allalatunna

Lé rumpu dapoq wara-waraé

Allalatunna lé pappaniniq

Puajo dengngeng Pérésolaé.”

(Tak henti-hentinya mengepul

Asap pedupaan yang gemerlapan

Asap tolak bala

Terhadap gangguan setan dan Pérésola)

-Volume I Naskah La Galigo NBG 188 koleksi Leiden University

Druun adalah mahluk gaib berbentuk seperti gumpalan awan hitam dan cahaya keunguan yang amat ditakuti di seantero Kumandra. Mahluk ini tidak jelas asal-usulnya dari mana. Ia tiba-tiba muncul dan menyebabkan kepanikan di tengah masyarakat Kumandra dengan sihirnya. Setiap mahluk yang “dilahap” oleh Druun akan berubah menjadi patung batu dalam sekejap mata. Tanpa pandang bulu, Druun bergerak cepat dan menyerang siapa pun yang ada di hadapannya.

Epos La Galigo juga memiliki mahluk dengan sifat yang mirip seperti Druun. Pérésola adalah mahluk gaib dengan kekuatan dahsyat yang menjadi pasukan dari dewata. Pérésola berbentuk seperti titik-titik cahaya yang makin lama makin membesar serta dapat “menelan” (membakar) segala macam mahluk yang ada di hadapannya, seperti halnya Druun. Habitat asli Pérésola adalah Perettiwi (Dunia Bawah) namun dari cerita-cerita di dalam La Galigo kita mengetahui bahwa ia dapat pula melakukan perjalanan melintasi luar angkasa apabila diperintahkan oleh para dewa.

Masyarakat Bugis meyakini sejenis burung yang dikenal dengan nama lokal Kulu-Kulu (Burung Tuwu, Eudynamys scolopaceus) konon dianggap sebagai pembawa sial karena kicauannya dapat memanggil kehadiran Pérésola. Nah, seperti halnya Druun yang takut oleh Dragon Gem, Pérésola juga memiliki kelemahan berupa benda pusaka dewata. Salah satu tokoh dalam epos La Galigo yang bernama Guttuq Sibali berhasil menundukkan Pérésola dengan keris yang turun dari langit. Tokoh lain bernama Aji Laide juga dapat mengendalikan Pérésola dengan pusaka saktinya dan bahkan menjadikan mahluk gaib tersebut sebagai pelayan yang membawa kotak sirihnya! Di kalangan masyarakat biasa, Pérésola dapat diusir lewat ritual appasiliq (tolak bala) dengan menggunakan medium air yang telah dimantrai dan asap kemenyan. 

Demikian lah tadi tiga elemen dalam film Raya and The Last Dragon yang dapat kita temukan padanannya di epos La Galigo. Elemen-elemen tersebut ada yang persis sama namun juga ada yang berbeda. Semoga suatu saat nanti, Sobat Lontara juga dapat mengembangkan film-film animasi maupun game-game petualangan yang terinspirasi dari epos La Galigo ya! Mari semangat berkarya sambil melestarikan budaya!

*Untuk artikel serupa dengan judul La Galigo, The Lord of The Rings-nya Indonesia bisa dibaca di sini.

Referensi:

I La Galigo Cerita Bugis Kuno, R. A. Kern, Gadjah Mada University Press.
La Galigo Menurut Naskah NBG 188, Nurhayati Rahman, Yayasan Obor Indonesia.

Categories
101 La Galigo Liputan

Sawerigading: Dari Nama Pangeran La Galigo hingga Padi di Luwu

Sobat Lontara, bagi kalian yang pernah mendengarkan atau membaca cerita dalam epos La Galigo tentunya sudah tidak asing lagi dengan tokoh Sawerigading. Nah, ternyata nama tokoh ini tidak hanya terkenal di dalam epos La Galigo saja lho. Ia sudah tersohor ke mancanegara, bahkan tidak hanya sebagai nama sosok manusia saja namun juga sebagai nama varietas tanaman pangan! Yuk, mari kita simak ceritanya.

Sawerigading adalah salah satu karakter yang paling banyak diceritakan pada berbagai episode La Galigo. Ia adalah putra dari pasangan penguasa negeri Ale Luwu yaitu Batara Lattuq dan We Datu Sengngeng. Sawerigading juga merupakan generasi kedua keturunan dari Batara Guru sebagai Tomanurung (Dewata yang turun ke muka bumi untuk memulai peradaban manusia) sekaligus saudara kembar dari We Tenri Abeng. 

Sawerigading punya banyak sekali nama. La Galigo merekam julukan-julukan yang amat menawan baginya, beberapa di antaranya seperti: “Toappanyompa”, “Opunna Ware”, “Sawe ri Sompa”, “Lawe” dan “La Madukelleng”. Pangeran Ale Luwu ini dikisahkan gemar berlayar menuju ke berbagai tempat di persada Nusantara. Ia bahkan pernah bertualang hingga ke kerajaan di tepi langit dan berangkat ke Ale Maje, negeri kematian yang berada di ujung dunia sebelah barat dalam kosmologi Bugis kuno. Ia membina persahabatan dengan banyak penguasa di negeri-negeri yang ia jelajahi, seperti raja dari Maloku, Gima (Bima), Pao (Davao), dan lain sebagainya. Kisah Sawerigading yang paling terkenal dalam La Galigo berkaitan dengan petualangannya ke negeri Ale Cina untuk melamar seorang putri bernama I We Cudai. Pelayarannya itu diceritakan tidak berjalan mulus karena beberapa kali harus berhadapan dengan para penguasa laut yang berasal dari perairan Maccapaiq (Majapahit), Malaka, serta Jawa Wulio (Buton).

Di luar cerita La Galigo, nama Sawerigading turut pula berkelana ke berbagai penjuru Nusantara seiring dengan berlayarnya pelaut-pelaut dari Sulawesi Selatan membawa kisah petualangannya. Di daerah Gorontalo ia disebut “Sawerigade”, di Kaili ia adalah “Afnawara”, sedangkan di Pulau Banggai ia dijuluki “Miattalolo”. Dalam naskah Ceritera Asal Bangsa Jin dan Segala Dewa-Dewa dari Bima, Sawerigading disebut dengan nama “Sangir Gading” sedangkan dalam Hikayat Kelantan ia adalah tokoh “Suwira Gading” yang berjuang bersama pahlawan Sanjaya dan Sang Setiaki Satirta membebaskan negeri Yuwana (Bumi Vietnam) dari serangan kerajaan Cina. Silsilah raja-raja Melayu yang direkam oleh kitab Tuhfat al-Nafis juga menyebutkan namanya sebagai salah satu leluhur sultan-sultan di Riau dan Johor. Thomas Gibson dalam bukunya yang berjudul And the Sun Pursued the Moon: Symbolic Knowledge and Traditional Authority among the Makassar bahkan mengaitkan sosok Sawerigading dengan tokoh Panji Inu Kertapati yang amat terkenal dalam kebudayaan pesisir di kawasan Asia Tenggara.

Di balik popularitas Sawerigading, siapa sangka bahwa ternyata namanya juga digunakan untuk beberapa varietas tanaman pangan lokal di Sulawesi Selatan. Kabupaten Luwu, daerah yang menjadi rahim sekaligus latar peristiwa dalam epos La Galigo adalah salah satu penghasil beras terbesar di Sulawesi Selatan. Tanahnya yang subur memberikan potensi alam yang membuat kawasan ini unik baik dari segi bentang geografisnya maupun keanekaragaman hayatinya. Menurut hasil reportase Mongabay, Luwu memiliki kekayaan varietas padi lokal. Sebelum pemerintah memperkenalkan varietas padi baru, dulunya masyarakat Luwu mengonsumsi beragam jenis padi lokal tersebut. 

Sayangnya seiring dengan berlalunya waktu, varietas-varietas padi lokal kemudian lenyap, tersaingi oleh varietas padi baru yang memiliki masa tanam singkat. Beruntung masih ada kalangan petani tradisional yang menyimpan bibit dari padi-padi lokal tersebut. Di antara segelintir varietas-varietas padi lokal yang masih bertahan dan dapat kita temukan bibitnya hari ini adalah varietas bernama Lotong Sawerigading, Ta’daga Sawerigading dan Nippon Sawerigading. Menurut penuturan Bapak Saghir Sama, seorang petani di Luwu, konon Nippon Sawerigading dinamakan demikian karena bulir-bulirnya yang berukuran cukup besar dan mudah untuk dimakan menggunakan sumpit, sehingga saat tentara Jepang masuk ke tanah air mereka memerintahkan para petani lokal untuk menanam varietas tersebut.

Nah, kisah nama padi yang terinspirasi dari sang pangeran Ale Luwu tidak berhenti hingga di situ saja. Pada tanggal 31 Desember 2013, Kabupaten Luwu mendaftarkan sebuah varietas padi lokal baru dengan nama Sawerigading. Berdasarkan keterangan dalam Surat Berita Resmi Pendaftaran Varietas Lokal, Padi Sawerigading tergolong sebagai padi sawah (Orysza sativa glutinosa). Varietas Padi Sawerigading ini wilayah sebarannya meliputi daerah Suli, Larompong hingga ke Welenrang. Informasi yang beredar di internet terkait Padi Sawerigading ini sayangnya masih amat terbatas.

Padi, tanaman pangan utama bagi sebagian besar penduduk di Indonesia sudah sejak lama mendapatkan posisi yang tinggi bahkan disakralkan oleh warga Sulawesi Selatan. Masyarakat Luwu menyanjung epos La Galigo kebanggaan mereka dengan menamai tanaman yang mereka cintai sesuai nama Sawerigading yang terkenal hingga ke mancanegara. Hari ini Sawerigading masih terus hidup lewat imajinasi dan sepiring nasi yang turut menggerakkan roda perekonomian para petani-petani hebat di kampung halaman La Galigo.

Referensi:

La Galigo Jejak Warisan Dunia, ed. Nurhayati Rahman, Anil Hukma, Idwar Anwar, Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin dan Kabupaten Barru, 2003.

And the Sun Pursued the Moon: Symbolic Knowledge and Traditional Authority among the Makassar, Thomas Gibson, University of Hawai’i Press, 2015.

Categories
101 La Galigo Featured Liputan Uncategorized

Pelaut Bajo, Bugis dan Mandar di balik Terciptanya Kapal Borobudur

Sobat Lontara, pernahkah kalian berkunjung ke Candi Borobudur di Jawa Tengah? Peninggalan sejarah dari era Dinasti Sailendra pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi tersebut didapuk sebagai monumen Buddha terbesar di dunia serta sebagai UNESCO World Heritage Site pada tahun 1991. Kemegahan Candi Borobudur tidak hanya terletak di balik ukurannya namun juga pada filosofi dan ajaran-ajaran kebaikan yang dituturkan lewat kisah-kisah yang terekam pada relief di dinding candi. Menurut keterangan dari Balai Konservasi Borobudur, candi ini memiliki sekitar 1.460 panel relief cerita dan 1.212 panel relief dekoratif. Di antara sekian ribu relief tersebut, ada sebuah panel relief istimewa yang menggambarkan kejayaan peradaban maritim di Nusantara pada masa itu.

Relief Kapal Nusantara pada Galeri I Candi Borobudur

Pada tahun 1982, sebuah panel di Galeri I Candi Borobudur, tepatnya pada rangkaian relief yang mengisahkan cerita Jataka-Avadana, menarik perhatian seorang veteran Angkatan Laut Kerajaan Inggris yang bernama Philip Beale. Relief tersebut menampilkan sebuah kapal berukuran besar dengan rincian layar, tiang layar, tali-temali serta kemudi yang amat khas Nusantara. Rasa penasaran kemudian menghantuinya sejak hari itu. Ia bermimpi untuk menciptakan sebuah replika berukuran asli dari relief kapal tersebut yang benar-benar dapat dilayari. Atas prakarsa bersama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, Philip Beale berkolaborasi dengan Nick Burningham (arkeolog dari Australia) kemudian memulai rencana mewujudkan gambaran pada relief Candi Borobudur tersebut sebagai kapal layar di tahun 2002.

Setelah membuat rancangan desain kapal dari relief tersebut, Philip dan Nick lalu mencari pengrajin kapal di tanah air yang masih mempraktekkan metode membangun kapal dengan cara tradisional. Mereka menemukan komunitas pelaut dan pengrajin kapal yang sesuai di daerah perbatasan antara Pulau Jawa dan Madura, tepatnya di Pulau Pagerungan Kecil. Pulau Pagerungan Kecil secara administrasi masuk ke dalam Kabupaten Sumenep, Madura. Penduduknya terdiri atas suku Madura, Mandar, Bajo dan juga Bugis. Keragaman lintas budaya mempererat persatuan masyarakat di pulau tersebut. Contohnya, banyak warga yang mengaku berasal dari suku Mandar namun berbahasa Bajo serta menggunakan perahu lete-lete yang merupakan desain lokal Madura. Masyarakatnya sudah begitu bercampur-baur dan hidup saling menghormati. Pak As’ad Abdullah, seorang pengrajin perahu keturunan Bugis yang lahir dan besar di Pulau Pagerungan Kecil terpilih sebagai pemimpin proyek pembangunan kapal Borobudur. Keterampilannya di bidang pembuatan perahu tradisional sudah tersohor di kawasan tersebut. Di Pulau Pagerungan Kecil yang berpasir putih dan dipenuhi oleh nyanyian pelaut itulah kapal Borobudur kemudian “dilahirkan”.

Nah, proses pengerjaan kapal Borobudur ini ternyata tidak akan dapat berlangsung tanpa kepandaian pelaut sekaligus tukang perahu dari kalangan warga Bajo dan Mandar. Tukang-tukang perahu yang terlibat berasal dari Pulau Pagerungan Kecil dan Pagerungan Besar, yang disebut terakhir ini adalah tempat dimana perahu khas Mandar tipe Pakur masih banyak ditemukan. Di Sulawesi Barat sendiri, kampung halaman suku Mandar, sudah tidak banyak perahu Pakur yang dapat dijumpai. Kayu untuk membuat kapal Borobudur dipesan oleh Pak As’ad Abdullah dari Pulau Sepanjang yang juga banyak dihuni oleh masyarakat dari suku Mandar.

Menurut catatan Nick Burningham, para tukang perahu dari suku Mandar dan Bajo ini bekerja dengan amat sangat rapi dan profesional, mereka dengan mudah dapat menyesuaikan cara memasang papan-papan pada perahu sesuai dengan rekonstruksi arkeologi atas temuan kapal-kapal kuno di Nusantara. Secara garis besar, bentuk kapal Borobudur meniru corak perahu Soppe khas Bajo yang telah digunakan selama berabad-abad lamanya. Tidak hanya itu, Pak As’ad Abdullah juga memberikan banyak sekali masukan kepada desain Philip dan Nick sehingga membuat bentuk kapal Borobudur menjadi lebih nyata. Beliau bahkan menjelaskan filosofi tradisional dari komunitas Bugis, Bajo dan Mandar akan anatomi perahu yang mengibaratkannya sebagai tubuh manusia. Tiap perahu pasti memiliki kepala, tulang punggung, dan bahkan pusar. Seperti halnya manusia, kapal Borobudur yang mereka bangun itupun memiliki sesuatu seperti “jiwa”. Kapal tersebut diberi nama Lallai Baka Ellau yang dalam Bahasa Bajo berarti: “Berlari bersama Matahari”.

Kapal Borobudur akhirnya selesai dikerjakan dalam kurun waktu enam bulan. Kapal tersebut akan dipakai berlayar menyusuri Cinnamon Route atau Jalur Kayumanis yang dulu pernah dilayari oleh kapal-kapal asal Nusantara menuju Afrika. Rute yang telah ditetapkan adalah dari Jakarta menuju ke Port Tema di kota Accra, ibukota Ghana. Pada tanggal 15 Agustus 2003, Lallai Baka Ellau mendarat di Ancol. Presiden Megawati meresmikannya pada tanggal 17 Agustus 2003 dengan nama baru yaitu Samudera Raksa. Nama tersebut diambil dari Bahasa Sansekerta yang berarti “Pelindung Lautan”. Setelah sukses melayari Samudera Hindia dan mengitari Tanjung Harapan, Samudera Raksa akhirnya membuang sauhnya di museum bernama sama di kawasan Candi Borobudur. Ia menjadi bagian dari pameran permanen Museum Samudera Raksa.

Dari cerita kapal Samudera Raksa, kita mendapatkan banyak pelajaran. Kehadiran kapal Samudera Raksa membuktikan bahwa nenek moyang kita pada abad ke-8 Masehi mampu berlayar menyeberangi samudera beribu-ribu kilometer jauhnya. Akan tetapi, ada pesan yang jauh lebih penting lagi dari kapal ini. Kapal Samudera Raksa adalah bukti yang merekam peran pengrajin-pengrajin perahu dari beragam sukubangsa di persada Nusantara yang masih terus melestarikan tradisi pembuatan kapal tradisional hingga hari ini. Tanpa kehadiran mereka, niscaya bangsa Indonesia tidak akan pernah mengambil bagian dari era kejayaan perdagangan Jalur Rempah dunia serta berpartisipasi dalam membangun masa depan negara yang berorientasi kepada pembangunan maritim.

Jalesveva Jayamahe!

Referensi:

Balai Konservasi Borobudur, https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bkborobudur/candi-borobudur/

Samudra Raksa Ship Museum, https://borobudurpark.com/en/activity/samudra-raksa-ship-museum/

Ridwan Alimuddin, Mandar Nol Kilometer, Penerbit Ombak, 2011.

Nick Burningham, The Borobudur Ship Nusantara Memperluas hingga Afrika dan Kesenian Tinggi dalam ARUS BALIK (Borobudur Writers and Cultural Festival 2013).

Ghozi Ahmad, As’ad Abdullah dari Pagerungan Kecil keturunan Bugis Arab si Pembuat Kapal yang telah Mendunia, https://www.bajauindonesia.com/pagerungan-kecil-dan-asad-abdullah-si-pembuat-kapal-yang-telah-mendunia/