Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba Old Stuff Good Stuff

Makanan dan Tradisi Perjamuan dalam Epos La Galigo

Sobat Lontara, pada tanggal 27 Maret 2026 silam, untuk pertama kalinya diadakan sebuah acara bertajuk Indonesian Food Outside Indonesia Symposium di kota Leiden. Acara yang terselenggarakan oleh kolaborasi antara Stichting Eating Habits bersama Indonesian Diaspora Network Global dan KITLV ini bertujuan untuk menjadi wadah bagi diaspora Indonesia di luar negeri saling bertukar gagasan serta pengalaman mempromosikan kuliner Indonesia di kancah mancanegara. Panelis-panelis yang diundang sudah pasti berkaliber pada bidangnya, mereka merupakan orang-orang Indonesia/keturunan Indonesia yang memiliki bisnis restoran, penulis buku-buku resep masakan, hingga influencer kuliner dari berbagai pelosok benua Eropa dan Amerika.

Nah, ngomong-omong soal makanan, tahu kah kamu bahwa epos La Galigo yang didapuk sebagai karya sastra terpanjang di dunia itu juga merekam tradisi kuliner dan bahkan adab dalam menghidangkan makanan? Simak ceritanya di artikel ini yuk!

Bananas, goiaba e outras frutas, Albert Eckhout (17th century)

Epos La Galigo menyiratkan bahwa tradisi menjamu tamu dengan makanan telah eksis bahkan sebelum Dunia Tengah diisi oleh manusia. Hal ini nampak pada episode “Mula Taué” (Permulaan Manusia) yang bercerita tentang persiapan para dewata untuk menurunkan Batara Guru La Togeq Langiq sebagai manusia pertama di muka bumi. Demi membahas detail prosedur peristiwa yang maha-penting ini, Datu Patotoé selaku penguasa tertinggi Boting Langiq (Dunia Atas) sekaligus ayah Batara Guru mengundang saudarinya, Sinaung Toja, yang bertakhta sebagai penguasa di Toddang Toja (Dunia Bawah) bersama sang suami, Opu Samudda, untuk naik ke atas langit menghadiri rapat besar. Dalam master plan Datu Patotoé, nantinya Batara Guru akan ditemani pula oleh Wé Nyiliq Timoq, putri sulung pasangan Sinaung Toja dan Opu Samudda, sebagai pasangan suami-istri pertama di Dunia Tengah.

Nah, dalam perjalanan rombongan Sinaung Toja yang tak terbilang jumlahnya dari dasar samudera menuju ke Boting Langiq melalui sebuah jembatan pelangi, mereka melewati negeri-negeri langit yang diperintah oleh anak-anak Datu Patotoé lainnya. Salah satunya adalah negeri Léténg Riuq yang dipimpin oleh Balassa Riuq, Sang Penyabung Petir. Ketika melihat rombongan bibinya dari Toddang Toja itu melewati istananya, maka selaku keponakan yang baik, Balassa Riuq bergegas menyambut dan mengundang Sinaung Toja untuk makan siang.

Sompa makkeda Balassa Riuq, “Léppang ko mai, Puang Ponratu, majjelleq tikkaq ri jajaremmu, tasitinroq pa ménréq manaiq ri Boting Langiq, apaq nadapiq maneng kkeng obiq.” Mabbali ada Sinaung Toja, “Kerruq jiwamu, Anaq Ponratu, lé tellépang ngaq, Anaq, majjelleq ri langkanamu, apaq mabéla mua pa ronnang ri Rualletté, lé nadapiq ni tanra tikkaqna ncajiangngé kko.”

(Menyembah sambil berkata Balassa Riuq,

“Mampirlah kemari, Puang-ku, makan siang di balairungmu, nanti kita beriring jalan naik ke Boting Langiq, sebab kami pun mendapat panggilan (dari Datu Patotoé).”

Menjawab Sinaung Toja,

“Kur jiwamu, Paduka Anakanda. Aku tidak singgah makan siang di istanamu karena masih jauh nian Rualetté (istana Datu Patotoé), telah tiba pula hari yang ditetapkan oleh orang tuanmu.”)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 1, Leiden University Library

Undangan makan siang dari Balassa Riuq tersebut adalah sebuah gambaran adat-istiadat yang hingga hari ini masih berlaku di tengah masyarakat Bugis. Menjamu tamu adalah suatu keharusan, tindakan ini tidak hanya menunjukkan keramah-tamahan namun juga tingginya adab seseorang selaku tuan rumah kepada tetamu yang memasuki rumahnya. Sikap Balassa Riuq ini adalah manifestasi dari nilai sipakalebbiq (saling memuliakan) yang juga nampak dari pepatah Bugis “Macca duppa to polé, panguju to lao” (pandai dalam menerima tamu serta membekali ia yang bepergian).

Dalam perjalanan hingga ke langit lapis kesembilan tempat istana Rualetté berada, Sinaung Toja dan suaminya terus mendapatkan undangan makan siang dari keponakan-keponakan mereka, namun seluruhnya ditolak. Nantinya, setelah rombongan Toddang Toja tiba di Rualetté, barulah ia berkenan untuk makan bersama sang kakak, Datu Patotoé. Tindakan Sinaung Toja dalam menolak tawaran-tawaran jamuan dari keponakan-keponakannya itu sejatinya adalah bentuk penghormatan kepada kakaknya sebagai pihak yang mengundang. Ia tidak ingin mengecewakan Datu Patotoé, apabila jika ternyata kedatangannya jadi terlambat karena menerima seluruh ajakan makan siang dari Balassa Riuq bersaudara. Nampak bahwa undangan untuk makan bukan sekadar ajakan untuk mengisi perut semata, namun punya arti yang begitu mendalam terkait tata krama!

Makanan Dewata v. Makanan Manusia

Salah satu aspek menarik terkait kuliner di dalam cerita-cerita La Galigo adalah dibedakannya makanan ke dalam dua kategori, yaitu makanan yang khusus disajikan kepada dewata serta makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Pembedaan dua jenis makanan ini berkaitan erat dengan kepercayaan leluhur di zaman dahulu bahwa kehidupan kita sehari-hari senantiasa tak terpisahkan dari ritual-ritual yang menghubungkan manusia dengan roh-roh nenek moyang. Di La Galigo, makanan yang dikonsumsi oleh para dewata di Boting Langiq kerap dijuluki pula dengan istilah ‘makanan orang Senrijawa yang tidak dipanggang di atas api.’ Senrijawa dalam konteks ini adalah istilah pars pro toto yang merujuk kepada seluruh kerajaan langit tempat para dewata bermukim. Nah, berbeda dengan makanan manusia yang harus diolah terlebih dahulu seperti dipanggang, maka makanan para dewata ini sudah tersaji dengan sempurna tanpa perlu diproses. Teknik memanggang makanan (ritunuang) menariknya adalah cara memasak paling awal yang manusia praktekkan di dalam epos ini.

Di Dunia Tengah, manusia pun juga memberikan sajian kepada para dewata sebagai bagian dari ritual. Umumnya, makanan dewata ini adalah makanan yang dapat dikonsumsi pula oleh manusia, namun pada saat ritual tengah berlangsung, makanan-makanan tersebut terlarang bagi mereka. Sebagai makanan yang dipersembahkan kepada dewata, tentu saja kualitas yang disajikan adalah yang terbaik. Daging kerbau menjadi pilihan utama yang kerap dipersembahkan dalam upacara-upacara adat maupun ritual-ritual untuk menyenangkan hati dewata. Disebutkan bahwa daging tédong camara (kerbau hitam dengan warna putih pada ubun-ubunnya) yang dipanggang adalah sajian terbaik untuk dipersembahkan kepada mereka. Tak heran jika kemudian ada banyak sekali adegan di epos La Galigo yang menampilkan bagaimana ratusan ekor kerbau jenis ini dikurbankan sebagai tanda melunasi nazar tertentu. Contohnya, saat Wé Nyiliq Timoq menderita di tengah persalinan melahirkan putra pertamanya, maka diadakan lah ritual doa memohon kemudahan kepada Datu Patotoé sekaligus pengurbanan kerbau-kerbau tersebut.

“Jaji o mai céro datué, natuo ina, natuo anaq, lé nasiwakkang lempuq datué ri jajianna. Lé nanre mua lé déwataé tédong camara tebbanna keti mattanruq kati ri alakkéreng lé potto buneq. Tekkuassengngen esso madécéng tikkaq mawajiq, kupaléssoq i samaja tédong jawi tinio sungeq datunna datu anriku.”

(“Lahirlah engkau kemari darah bangsawan, biar hidup ibu, hidup anak, agar sepangkuan jualah datu dengan anaknya. Kiranya dewata menerima kerbau cemara bertanduk emas yang seketi banyaknya, becocokkan hidung gelang emas. Tak kupeduli siang ataupun matahari terbit, kusembahkan nazar kerbau pembela jiwa kehidupan Sri Paduka ratu adinda.”)

Lantas, apa yang dimakan oleh manusia? Nah, masih di episode “Mula Tau”, dikisahkan bahwa ketika Batara Guru dan istrinya, Wé Nyiliq Timoq, masih awam selaku penghuni baru di Dunia Tengah, mereka memperhatikan alam di sekeliling mereka untuk menemukan makanan. Di salah satu kesempatan, Wé Nyiliq Timoq melihat beberapa ekor burung tengah menikmati suatu buah dengan lahapnya.

Ngkiling makkeda Wé Nyiliq Timoq, “Aré ga sia mennang ri awa lé maridié? Malampéq-lampéq mua lamana, napoinanré lé manuq-manuq tesserupaé.” Mabbali ada Batara Guru, “Ia na ro, Anri, riaseng lé utti tasaq.”

(Berpaling sembari berkata Wé Nyiliq Timoq:

“Apa gerangan di bawah sana, yang berwarna kuning? Agak panjang daunnya, menjadi makanan aneka macam burung.”

Batara Guru menjawab:

“Itulah, Adinda, yang dikatakan pisang masak.”)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 1, Leiden University Library

Ketika mengetahui bahwa burung-burung tersebut tidak mati keracunan setelah mengonsumsi pisang, maka Wé Nyiliq Timoq pun meminta untuk diambilkan buah itu sebagai makanan pertamanya di Dunia Tengah. Kejadian serupa terjadi beberapa kali: setelah melakukan observasi terhadap apa saja yang dimakan oleh para binatang di hutan, Wé Nyiliq Timor dan suaminya berhasil mengumpulkan beragam jenis makanan alami seperti biji-bijian, buah-buahan dan juga sayur-sayuran. Demikian lah epos La Galigo merekam bagaimana leluhur kita pertama kali menikmati makanan, eating by learning. Di adegan lain dari episode ini, Datu Patotoé juga menganugerahi pasangan suami istri ini dengan pangan seperti wetteng (jewawut) dan bataq (jagung) yang diturunkan dari langit. Apabila jewawut adalah tanaman pangan asli yang tumbuh di Kepulauan Nusantara, maka menarik untuk dicatat bagaimana epos ini juga menyertakan jagung yang sejatinya berasal dari Benua Amerika dan dikenal di tanah air seiring dengan kedatangan bangsa Eropa di abad ke-16 sebagai salah satu sumber pangan Batara Guru! Hal ini mencerminkan lapisan penulisan La Galigo yang lebih kemudian, ketika jagung telah dikenal luas di Nusantara. Nantinya setelah kelahiran salah seorang putri Batara Guru yang bernama Sangiang Serri Wé Oddang Riuq, barulah umat manusia di Dunia Tengah juga mengenal padi sebagai makanan utama mereka.

Eating Manners ala La Galigo

Etiket atau tata cara makan yang baik juga telah dikenal sejak zaman La Galigo. Ada banyak adegan-adegan yang menggambarkan perjamuan di epos ini. Bagaimana urutan-urutan untuk menghidangkan makanan, cara menyantap sajian, hingga membersihkan tangan dan mulut, semuanya digambarkan dengan detail. Berikut ini cuplikannya:

lé tessitengnga siworengngé narisolongi, lé temmairung liseq rakkié naritodongi, nawekka pitu timpuq nasoroq Manurungngé mallaibini, Wé Datu Sengngeng massapo siseng, ripaccingiang ronnang parimeng tettincarinna, makkaci sumpang mpali timmomoq, ritanréréang méraq naota, ripaddampeng ni siworengngé, ripasoroq ni tolong rakkileq ajjellerenna, to ritaroé tuneq ri lino

(Belum habis separuh gelas minuman itu diisi lagi,

belum berkurang isi baki ditambah lagi.

Hanya tujuh kali menyuap Manurungngé suami istri sudah berhenti,

begitu pun Wé Datu Sengngeng bersepupu sekali.

Jari tangan mereka dibersihkan kembali,

lalu berkumur-kumur, disuguhi sirih lalu menyirih.

Gelas-gelas telah dikembalikan,

dibereskan pula bakul kemilau tempat makanan

orang yang dijadikan tunas di bumi)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 3, Leiden University Library

Dari potongan bait di atas, nampak bahwa dalam menghidangkan santapan penting sekali bagi tuan rumah untuk memastikan gelas dan piring tamu yang ia jamu tidaklah kosong. Menambahkan minuman dan makanan sebelum habis adalah kewajiban. Tradisi ini masih berlaku di kalangan masyarakat Bugis abad ke-21 lho, dimana pada umumnya tamu diharapkan oleh tuan rumah untuk terus menambah makananannya! Hal ini menandakan kemurahan hati si penjamu sekaligus gestur sipakalebbiq untuk memuliakan tamunya.

Uniknya, La Galigo juga menyebutkan bahwa cara makan yang baik adalah dengan membagi porsinya menjadi tujuh suapan. Sepintas, kelihatannya sedikit banget ya makannya. Namun, di balik itu, ternyata ada pesan yang lebih mendalam. Tujuh suapan menyimbolkan kontrol seseorang untuk tidak makan secara berlebihan. Dengan jumlah suapan yang terkendali, mengunyah pun jadi lebih baik. Tidak hanya hidangan dapat dinikmati dengan lebih tenang, mengunyah lebih lama memberi waktu bagi otak untuk menerima sinyal kenyang, serta mengurangi risiko perut kembung, mual, dan asam lambung naik. Tubuh juga jadi lebih mudah menyerap nutrisi dari makanan yang sudah halus. Secara filosofis, angka tujuh dalam kebudayaan Bugis juga dianggap natujuangngi dalléq yang berarti mencapai rezeki. Dengan demikian, tujuh suapan adalah perlambang dari pemenuhan kebaikan pada diri seseorang dengan takaran yang cukup.

Setelah selesai makan, maka sang tamu akan disajikan mangkuk kecil berisi air untuk membersihkan tangannya. Ya, pada masa itu, belum dikenal alat makan seperti sendok dan garpu sehingga untuk menyuapkan makanan ke mulut harus menggunakan tangan. Setelah membersihkan jari-jemari, maka sang tamu akan berkumur-kumur terlebih dahulu, menghilangkan sisa-sisa makanan yang menempel di gigi. Sang tamu lalu disuguhkan daun sirih yang kemudian dikunyah untuk menghilangkan bau mulut serta mencegah gigi berlubang. Di zaman ketika tidak ada sikat dan pasta gigi, menyirih adalah tradisi adat yang, selain fungsi sosialnya, ternyata juga punya fungsi menjaga kesehatan mulut. Betapa mengagumkannya tradisi perjamuan dalam epos ini, detail higienitas juga diperhatikan!

Jejak Kuliner Diaspora Sulawesi Selatan

Gambar perahu Palari asal Sulawesi Selatan pada uang Dollar Singapura

Kembali ke cerita soal diaspora, tahu kah kamu bahwa seiring dengan bermigrasinya masyarakat Bugis-Makassar-Mandar ke Semenanjung Melayu, berlayar pula sebagian resep kuliner dari tanah Sulawesi bersama mereka? Fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari dinamika sosial: makanan adalah identitas yang menjadi pengikat komunitas dimanapun mereka berada. Maka, jangan heran jika kawan-kawan keturunan Bugis di Malaysia ataupun Singapura juga menganggap makanan-makanan khas Sulawesi Selatan sebagai warisan kebudayaan mereka.

Di negeri Johor, Malaysia, hingga hari ini kita masih dapat menemukan makanan Bugis seperti buras. Buras atau burasak yang berbahan dasar beras dan santan itu menjadi makanan khas masyarakat Johor keturunan Bugis tiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Menurut keterangan dari situs Gerbang Informasi Seni dan Budaya Malaysia, burasak telah menjadi makanan pokok orang Bugis yang menetap di Semenanjung Melayu sejak abad ke-16, diperkenalkan dari Kepulauan Sulawesi di Indonesia. Hidangan ini adalah sajian yang disukai para pedagang Bugis selama pelayaran karena dapat disimpan untuk waktu yang lama. Secara tradisional, di Johor burasak disajikan bersama hidangan seperti asam pedas ikan parang serta ayam masak likku.

Selain itu, beragam makanan ringan seperti kue-kue dari tradisi Bugis juga tersebar luas di Malaysia dan Singapura. Di negeri Selangor, salah satu warisan kuliner Sulawesi Selatan yang masih dapat ditemukan hari ini ialah Kuih Bugis Mandi. Kue ini biasanya disajikan pada perayaan-perayaan seperti kenduri, melambangkan semangat kebersamaan.

Di Singapura, resep-resep makanan seperti Toppa’ Lada dan Coto Makassar juga menjadi warisan kuliner setempat. Meskipun tidak seterkenal makanan Jawa ataupun Minang, namun di keluarga-keluarga Melayu keturunan Bugis, resep-resep tersebut dijaga dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Makanan sesungguhnya bukan sekadar soal rasa, melainkan jejak ingatan yang ikut berlayar bersama manusia. Ia membawa serta adat, nilai, dan cara memuliakan sesama: sebuah bahasa kultural yang melintasi batas geografis tanpa kehilangan maknanya. Apa yang hari ini dibicarakan dalam forum diaspora di Leiden pada akhirnya merefleksikan sesuatu yang telah lama hidup dalam La Galigo: bahwa melalui makanan, hubungan sosial dirajut, identitas dipertahankan, dan dunia—baik Dunia Atas, Dunia Tengah, maupun Dunia Bawah—dihubungkan dalam satu jaringan makna yang berkesinambungan.

Referensi:

Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa, La Galigo Menurut Naskah NBG 188 jilid 1 (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017).

Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa, La Galigo Menurut Naskah NBG 188 jilid 3 (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017).

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Dua Orang Pangeran Louis dari Makassar di Paris

Paris, ibukota fashion dunia. Paris juga tempat lahirnya sebuah revolusi besar yang menjadi sendi konsep negara modern di dunia. Paris, terima kasih atas kesuksesan seri buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, juga menjadi destinasi utama mahasiswa-mahasiswa Indonesia untuk berburu ilmu pengetahuan di luar negeri. Akan tetapi tidak banyak yang mengetahui bahwa di kota Paris ini terdapat sebuah situs bersejarah tempat dimana dulu dua orang pangeran Makassar yang tumbuh besar di negeri Siam pernah disambut oleh Raja Perancis. Penulis buku “Manusia Bugis” yaitu almarhum Christian Pelras pernah membahas perihal kedua pangeran ini di majalah Archipel tahun l997, dengan judul artikel “La premiere description de Celebes-Sud en francais et la destinee remarquable de deux jeunes princes makassar dans la France de Louis XIV”.

Alkisah, Perjanjian Bongaya mengakibatkan terjadinya eksodus besar-besaran di Sulawesi Selatan. Banyak penduduk Makassar, Bugis dan Mandar yang memutuskan untuk berdiaspora keliling Nusantara karena tak sudi tunduk di bawah kekuasaan VOC. Demikian pula halnya dengan seorang bangsawa dari Gowa yang bernama Daeng Mangalle. Bersama dengan kedua orang puteranya, Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, ia berhijrah ke negeri Siam (Thailand) yang saat itu dipimpin oleh baginda raja Phra Narai. Daeng Ruru dan Daeng Tulolo kemudian dikirim untuk bersekolah di sebuah kolese Jesuit bernama Louis Le-Grand setelah terjadi kudeta mengerikan yang dilakukan oleh orang-orang Makassar terhadap Phra Narai akibat muslihat adu domba dari orang-orang yang tidak menyukai kedekatan antara sang raja dengan kaum pendatang.

Gereja Saint Paul-Saint Louis di Paris (sumber: http://www.unjourdeplusaparis.com/en/paris-culture/visiter-eglise-saint-paul-saint-louis)

Kedua kakak beradik ini tiba di Paris dan disambut oleh Raja Louis XIV pada tahun 1687. Mereka berdua dibaptis di gereja Saint Paul-Saint Louis dan berada di bawah tanggung langsung Raja Louis XIV. Mereka berdua juga diberi nama baru yaitu Louis Pierre Macassar dan Louis Dauphin Macassar, mengikut kepada nama Raja Penguasa Istana Versailles tersebut. Tahun 1688, Pendeta Nicolas Gervaise menerbitkan sebuah buku berjudul “Description historique du Royaume Macassar” yang ditulis berdasarkan informasi yang ia terima dari kedua orang muridnya, kakak-beradik Louis berdarah Makassar serta budak asal Toraja yang ikut ke Paris. Setelah belajar Bahasa Perancis serta keagamaan di kolese Louis Le-Grand, kedua Louis kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah militer Clermont yang bergengsi. Nasib kedua kakak-beradik ini cukup cemerlang di Angkatan Laut Kerajaan Perancis. Daeng Ruru bahkan pernah berperang di Hindia Barat (kepulauan Karibia). Sayang, setelah itu tidak ada lagi kabar yang terdengar dari mereka berdua. Konon Daeng Ruru meninggal saat melaksanakan tugas di Havana sedangkan Daeng Tulolo dimakamkan di sebuah gereja bernama Louis de Brest.

Nah, jika teman-teman berkunjung ke kota Paris, jangan hanya mejeng di depan Menara Eiffel aja! Sempatkan untuk berziarah ke gereja Saint Paul-Saint Louis, tempat dimana kedua pangeran muda dari Makassar ini disambut untuk memulai kehidupan mereka di benua biru yang penuh tantangan.

Salam hangat dari “Louie” yang lain di kota Leiden!

Categories
101 La Galigo Featured Liputan Old Stuff Good Stuff

Para Penggerak Zaman Kota Makassar

Kita sudah sering mendengar nama-nama tokoh-tokoh Sulawesi Selatan khususnya mereka yang tumbuh besar di kota Makassar. Nama-nama seperti Andi Pangeran Pettarani, Andi Mattalatta, Jendral Yusuf dan sebagainya. Setidak-tidaknya, pemuda Kota Daeng pasti pernah melihat patung-patung pahlawan yang terletak di Jalan Penghibur (di dekat Pantai Losari). Di sana ada tokoh-tokoh seperti Syekh Yusuf, Sultan Hasanuddin dan sebagainya. Kali ini saya akan menulis tentang beberapa tokohh yang mempunyai peran penting baik itu dalam pendirian universitas, pemerintahan, politik maupun beberapa sekolah di kota Makassar.

 
Dari tahun 1930 hingga tahun 1950 kota Makassar adalah sebuah kota penuh gairah yang dihuni oleh berbagai macam etnis seperti Bugis, Ambon, Minahasa, Minangkabau, Jawa, Tionghoa dan sebagainya. Berdasarkan data yang diperoleh dari sensus penduduk (pertama kali diadakan tahun 1930) kota Makassar memiliki jumlah penduduk sebanyak 83.144 (Burhaman Djunedding, Pesta Demokrasi di Daerah Bergolak: Politik Tingkat Lokal Dan Pemilihan Umum 1955Di Sulawesi Selatan. Yogjakarta, Tesis Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Sejarah Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada, 2010, hlm. 63.) Dengan jumlah warga sebanyak itu, Makassar pastinya sangat membutuhkan banyak wadah untuk pendidikan, administrasi, dan lain sebagainya

Penduduk kota ini berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia yang mempunyai semangat, keinginan untuk perkembangan kota Makassar.  Beberapa dari mereka ada yang diutus dari pemerintah pusat pada tahun 1950an sebagai pekerja, namun cinta terhadap kota Makassar lah yang membuat mereka kemudian menetap di kota ini. Mereka-mereka itulah yang mendirikan sekolah-sekolah dan universitas di Kota Makassar. Maka dari itu saya menulis tentang tokoh-tokoh tersebut. Mari simak satu per satu!

 
H. Sewang Daeng Muntu
H. Sewang Daeng Muntu dilahirkan di Makassar pada tahun 1903. Kemudian pada tahun 1905 Belanda mengasingkan beliau bersama dengan orang tuanya ke Sumatra Utara. Masa kecilnya pun dihabiskan di daerah tersebut, termasuk pendidikannya. Dalam masa pendidikan itu pula beliau belajar agama Islam, tepatnya di Sekolah Melayu. Pada tahun 1926 setelah menamatkan sekolahnya, beliau kembali ke Sulawesi dan mulai berkecimpung dalam perkumpulan Muhammadiyah. Pada tahun 1038 beliau akhirnya berhasil menjadi konsultan P.B Muhammadiyah untuk Sulawesi. pada masa pendudukan Jepang, H. Sewang Daeng Muntu pernah menjadi salah satu anggota Sukai Gi In dan Minseibu Sanjo (Badan Penasehat Minseibu). Pada masa pemerintahan N.I.T, beliau juga terpilih dan berhasil menjadi anggota parlemen dalam Fraksi Progresif yang diketuai oleh A. Mononutu. Selanjutnya, ketika Partai Politik Islam Masjumi di Sulawesi terbentuk, beliau pun tampil sebagai pemuka yang aktif di Pimpinan Wilayah dan salah satu yang memperjuangan perguruan Islam atau Universitas Muslim Indonesia Makassar, awal berdirinya pada tahun 1953 hingga diresmikannya 1954. Dalam Sumber ( Kumpulan Klipping Koran, Tokoh-Tokoh Masjumi dalam Pemilihan Umum. Jakarta. Dewan Dakwah Islam Indonesia. hal. 7)

 

 

Nazaruddin Rahmat


Naziruddin Rahmat berasal dari Sumatra Barat. Kepindahannya ke Sulawesi merupakan bagian dari penugasan Departemen Agama. Beliau merupakan kepala Jabatan Penerangan agama Provinsi Sulawesi. Perhatiannya terhadap pendidikan Islam di Sulawesi, khususnya Makassar membuatnya berfikir untuk mendirikan sebuah Universitas berbasis Islam yaitu Universitas Muslim Indonesia. Beliau pula yang memperjuangkan berdirinya Universitas Muslim Indonesia. Naziruddin Rahmat menghadap ke Gubernur Sulawesi dan walikota Kota Makassar, hingga para bupati-bupati Gowa dan Bone pada tahun 1953 untuk menyampaikan tujuannya. (dalam sumber wawancara dengan Umar Syihab pada tanggal 14-Juni-2012.)

 
Sutan Muhammad Yusuf Samah

Sutan Muhammad Yusuf Samah berasal dari Sumatra Barat. Kedatangannya ke Sulawesi bersamaan dengan Naziruddin Rahmat dan menjabat sebagai pegawai Jabatan Penerangan agama Provinsi Sulawesi di bawah pimpinan Naziruddin Rahmat. Selama perjalanan karirnya di Sulawesi, beliau aktif dalam PSII dan membuatnya terpilih menjadi ketua DPR Kota Makassar pada tahun 1952. Dalam sumber (Sidang DPR Kota Besar Golongan Minoriteit Bentuk fraksi Kerakjatan”, Pedoman Rakyat, Rabu 14 Januari 1954, hal. 1.) Tahun 1954 tercatat bahwa beliau mulai aktif dalam Yayasan Universitas Muslim Indonesia dan merupakan salah satu tokoh yang menandatangani akte Yayasan Universitas Muslim Indonesia. Beliau juga merupakan pengurus Wakaf Yayasan Universitas Muslim Indonesia.

 
Muhammad Noor

Muhammad Noor lahir di Bulukumba pada tanggal 14 April 1905. Beliau menamatkan pendidikannya di Sekolah Rakyat selama 6 tahun kemudian melanjutkannya di pesantren selama 3 tahun. Tahun 1919-1927 beliau bekerja di kantor Adatgemeenschap Gantarang. Kemudian tahun 1927-1930 bekerja di kantor Landrente Makassar sebagai Opnemer. Selain itu, beliau juga pernah menjadi guru pada standaardschool. Beliau adalah seorang mubaligh Islam dan aktivis organisasi Muhammadiyah di Sulawesi. Di masa pendudukan Jepang, organisasi ini dibekukan (1942-1944). Beliau beralih ke Kantor Dagang Mitsui Bussan Kaisha Tjabang Bulukumba dan dipercaya sebagai Kepala. Tahun 1946 pada bulan Februari, Muhammad Noor ditangkap dan dipenjarakan oleh NICA (Netherlands Indische Civil Administration) di Selayar, kemudian dipindahkan ke Makassar. Tahun 1948 beliau dibebaskan dan ikut dalam Pimpinan Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) di Makassar. Setelah itu beliau mendirikan Partai Masyumi cabang Makassar pada tanggal 10 oktober 1949 dan menjabat sebagai ketua Umum Wilayah Masyumi Sulawesi. Tahun 1951 beliau bekerja di kantor Penerangan Agama Provinsi Sulawesi. Tahun 1952 terpilih menjadi anggota DPD dan tahun 1955 menjadi ketua DPR Kota Besar Makassar. Dalam Sumber (Kumpulan Klipping Koran, Tokoh-Tokoh Masjumi dalam Pemilihan Umum. Jakarta. Dewan Dakwah Islam Indonesia, hal. 38.)

Muhammad Noor juga merupakan pejuang pendirian Universitas Muslim Indonesia Kota Makassar.

 

Andi Patiwiri

Andi Patiwiri berasal dari Sidenreng Rappang, lahir pada tahun 1915. Ayahnya bernama A. La Inding, ibunya bernama Hj. A. Mattingara. Andi Patiwiri seorang saudagar di Kota Makassar. Aktif dalam organisasi NU bersama-sama dengan K.H Muhammad Ramly. Beliau juga merupakan seorang ulama Islam di Kota Makassar. Andi Patiwiri salah satu dari lima orang yang menghadap ke notaris Pendirian Universitas Muslim Indonesia dan mewakafkan beberapa bahan bangunan pada kampus satu UMI yang hari ini letaknya berhadapan dengan TVRI, di Jalan Kakatua. (sumber: wawancara bersama cucu Andi Patiwiri yakni Andi Kumala Djabir SE)

 

La ode Manarfa
La Ode Manarfa lahir di Kulisusu pada tanggal 22 Maret 1916. Beliau anak dari Sri Sultan Buton ke-38, yakni La Ode Muh. Falihi Qaimuddin, dan Ibunya Wa Ode Aziza. Jenjang pendidikan beliau berawal dari bersekolah di HIS Bau-bau Pada tahun 1924. Ayah La Ode Manarfa mengirim beliau ke HIS Kota Makassar dan di Makassarlah beliau tamatkan studinya. Sesudah itu beliau melanjutkan pendidikannya ke Sekolah MULO di Kota Makassar tahun 1936-1938. Lalu sekolah di Batavia Centrum tahun tahun 1938-1940. Setamatnya dari Batavia Centrum, beliau bersekolah di Den Haag Belanda pada tahun 1948. Terakhir, tahun 1953 beliau bersekolah di Vereeniging Fakultaten Universitas Leiden. Beliau pernah menjadi pegawai diperbantukan pada kementrian dalam negeri di Jakarta tahun 1955. Di Tahun 1957-1959 menjabat sebagai Bupati Sulawesi Tenggara di Bau-Bau dan anggota Konstituante Bandung, dan tahun 1960: Pendidikan Militer Angkatan Darat kodam Hasanuddin Makassar. Pada tahun 1962 menjabat Seskoad Angkatan III Bandung, lalu tahun 1959-1964 kantor Gubernur Sulawesi di Makassar, dan 1964-1967 kantor Gubernur Sulawesi Tenggara di Kendari. Pernah menjadi Ketua DPRD Kendari di tahun 1967-1971.  Sebelum wafat, di tahun 1988-2002 beliau memegang jabatan selaku Rector Universitas Dayanu di Bau-Bau. (sumber: La Ode Muhammad Sjamsul Qamar, “Drs. H. L a Ode Manarfa yang satya kenal”. Manuskrip, Juni 1992)

Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang berperan penting di Kota Makassar, tetapi semuanya butuh penelitian yang lebih dalam lagi. Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini bahwa pada tahun 1950-an untuk mendirikan suatu universitas itu atau sekolah di kota Makassar, persaudaraan antaretnis berperan sangat erat. Meskipun berbeda partai dan organisasi mereka bisa menyatukan ide dan gagasan bersama. Sayangnya, hari ini perbedaan justru menjadi masalah di kota kita. Padahal sangat jelas bahwa di Makassar lah beragam etnis itu dulunya bisa bersatu untuk mendirikan universitas serta sekolah-sekolah.

 

Anna Asriani de Sausa, atau Anna Young Hwa, lulusan Ilmu Sejarah UNHAS 2013 yang fanatik dengan Mie Awa ini   merupakan pribadi yang heboh dan menggelegar. Kesukaannya terhadap sejarah, khususnya Sulawesi Selatan, membawanya bertemu langsung dengan para Sejarawan dan Budayawan yang tersebar di Indonesia. Anna bercita-cita untuk membangkitkan lagi kesadaran anak-anak muda akan kearifan lokal dengan bergabung menjadi Volunteer di Lontara Project. Di setiap kesempatan, Anna selalu bersemangat mengunjungi tempat-tempat baru, dan paling utama adalah mencicipi makanan khasnya. Kunjungi FBnya di : Anna Asriani De Sausa.