Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Cari Alam Melayu Gara-Gara Nusantara dan Pikir-Pikir Jawi

Kawasan Asia Tenggara ini memang unik. Tidak hanya dari segi geografisnya yang berada di “ujung dunia” namun juga kekayaan alam serta keanekaragaman budayanya. Menurut sejarawan Anthony Reid, Asia Tenggara adalah sebuah area khusus yang memiliki perjalanan sejarah panjang dan membentuk sebuah “hub” atau penghubung antara peradaban Cina dan India. Kawasan ini sudah sejak zaman peradaban kuno dipandang oleh dunia luar sebagai bagian dari bumi yang penuh misteri sekaligus eksotis. Tercatat dari tujuh kali pelayaran Sindbad Si Pelaut keliling berbagai tempat di dalam Kisah 1001 Malam, kira-kira dua hingga tiga di antaranya berada di wilayah kepulauan Asia Tenggara. Pelayaran pertama si pelaut asal Baghdad menuju Cina ini konon membuatnya terdampar di Pulau Sumatera yang saat itu dipimpin oleh seorang raja bernama “Mihrajan”, gelar yang identik dengan Maharaja di Sriwijaya.

Sebagai sebuah kawasan yang terletak di kawasan persimpangan kebudayaan-kebudayaan besar, mengutip Remy Sylado, bangsa Asia Tenggara ini tidak mengenal “pagar”. Kemampuan adaptasi dan adopsi mereka amat tinggi, terbukti dengan kayanya bahasa-bahasa Austronesia dengan serapan dari Bahasa Sansekerta, Arab, Persia dan Cina. Meskipun kebanyakan pengaruh-pengaruh tersebut masuk karena dominasi keagamaan, peran hubungan maritim pun juga tak dapat diabaikan. Malah konon agama-agama mayoritas di Asia Tenggara seperti Islam, Kristen, Hindu dan Buddha awalnya masuk melalui jalur perdagangan. Masih dari Anthony Reid, Asia Tenggara yang sudah tidak asing dengan kedatangan para pendatang ini terlihat begitu menggemaskan dan membuat penasaran karena selain menerima hal-hal baru yang dibawa oleh orang-orang tersebut, mereka tetap mempertahankan identitas lokal mereka dan bahkan mengulen keduanya menjadi sebuah bentuk baru yang unik. Contoh paling sederhana yang dapat kita temukan sekarang adalah seperti ini: saya bernama depan “Muhammad” yang diambil dari tradisi Islam dan nama belakang “Buana” yang berarti dunia dalam Bahasa Sansekerta. Kombinasi keduanya tidak terdengar asing sama sekali di telinga Austronesia kita, bukan?

Masyarakat di kepulauan Asia Tenggara ini sejatinya amatlah majemuk. Meskipun menunjukkan ciri-ciri asal-mula yang sama (bangsa Austronesia, dengan sedikit campuran bangsa-bangsa ras Asiatik lainnya), keragaman muncul dalam intensitas yang cukup tinggi. Dalam sebuah pulau saja, terdapat beberapa bahasa yang berbeda. Ada kalanya bahasa-bahasa tersebut saling berhubungan dekat satu-sama lain sehingga antarsuku masih dapat mengerti, namun ada kalanya bahasa-bahasa tersebut berbeda begitu jauh satu sama lain sehingga membutuhkan kehadiran bahasa ketiga sebagai lingua franca. Proses difusi juga terus-menerus terjadi: ada kalanya entitas budaya yang lebih kuat mempengaruhi budaya lain yang lebih lemah sehingga terjadi peleburan. Rasa keserumpunan sudah tertanam sejak penyebaran nenek moyang mereka dari Taiwan ribuan tahun yang lalu. Beberapa contoh kebiasaan seperti pengolahan umbi-umbian, pengagungan terhadap tanaman padi serta permainan rakyat “tari bambu” seakan-akan menjadi penghubung mereka semua.

Kiranya, sebagai sebuah kawasan yang terdiri atas orang-orang serumpun, layaklah kepulauan Asia Tenggara ini memiliki nama yang mereka gunakan untuk memanggil diri sendiri maupun sepupu-sepupu di sekitar mereka. Salah satu rekaman sejarah tertua yang memandang kepulauan Asia Tenggara sebagai satu-kesatuan dengan sebuah nama julukan ialah Kitab Negarakretagama. Kitab peninggalan kerajaan Majapahit yang ditemukan di sebuah puri di Pulau Lombok ini menggambarkan cita-cita Mahapatih Gadjah Mada yang ingin menaklukkan seluruh “Nusantara”. Apakah Nusantara ini? Nusantara, berdasarkan tafsiran dari kitab itu sendiri, sejatinya adalah pulau-pulau yang berada di luar kekuasaan Majapahit. Secara etimologis Nusantara berasal dari kata “nusa” dan “antara”. Dulu, jauh sebelum Gadjah Mada dan Majapahit, Prabu Kertanegara dari Singasari pernah mencetuskan istilah senada dengan nama “Dwipantara”.

Ketika Indonesia baru merdeka, istilah Nusantara kemudian digunakan oleh pendahulu kita untuk menekankan kesatuan dalam perbedaan yang merata di negara kepulauan ini. Nusantara diadopsi dan definisinya dikembangkan dengan luas, kali ini Pulau Jawa juga merupakan bagian dari Nusantara tersebut. seiring dengan perkembangan zaman, Nusantara pun menjadi semakin luas. Yang tadinya hanya meliputi daerah Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka sekarang juga meliputi negara serumpun seperti Malaysia dan Filipina. Seiring dengan berkembangnya studi antropologi dan genetika maka semakin luas pula cakupan Nusantara ini. Kini Nusantara terbentang dari Madagaskar hingga Hawaii, pulau-pulau yang dihuni oleh ras Austronesia dan sepupu mereka, bangsa Polynesia.

Akan tetapi, ternyata tidak semua orang menerima istilah Nusantara ini untuk menggambarkan masyarakat Indonesia dan serumpunnya. Ada yang keberatan dengan latar kesejarahan Imperium Majapahit yang berniat menundukkan seluruh bangsa di bawah lambang kebesarannya. Di Malaysia, istilah Alam Melayu digunakan sebagai sinonim untuk Nusantara. Bagi mereka pada dasarnya seluruh penghuni kepulauan Asia Tenggara ini masuk ke dalam dunia komponen besar yaitu Proto-Melayu dan Deutro-Melayu. Meskipun secara kultur berbeda, keduanya sama-sama berasal dari akar Melayu, yang konon jika ditarik maka sejatinya berasal dari Yunnan. Penggunaan terminologi “Melayu” bagi ras pribumi berkulit coklat ini kemudian dipopulerkan oleh Raffles dengan tambahan unsur baru: Islam. Penjelajah yang sekaligus seorang biologiawan dari Inggris bernama Alfred R. Wallace juga kemudian menggunakan istilah “Kepulauan Melayu” di dalam bukunya untuk menyebut Indonesia dan Malaysia. Menurut Anthony Reid, mengapa Melayu yang dipilih sebagai simbol keserumpunan oleh bangsa Eropa, karena berdasarkan observasi mereka, dulu terdapat sebuah kemaharajaan maritim bernama Sriwijaya yang amat sangat berpengaruh di kepulauan Asia Tenggara. Sriwijaya inilah yang menjadi cikal-bakal kebudayaan Melayu.

Nah, lain Nusantara, lain Alam Melayu maka lain pula dengan Jawi. Jawi ialah singkatan dari “Jaza’ir al Jawi” yang bermakna kepulauan Jawa. Zaman dahulu, pedagang Arab menggunakan terminologi Jawi untuk menyebut seluruh daerah di Asia Tenggara maritim.

Samathrah, Sholibis, Sundah, kullah Jawi” (Sumatera, Sulawesi, Sunda, semuanya Jawa), ujar mereka dalam Bahasa Arab.

Istilah ini kemudian berkembang untuk menyebut sistem tulis bangsa Melayu yang diadopsi dari huruf Arab. Abjad Jawi ini dalam perkembangannya justru identik dengan kebudayaan Melayu, menyebar hingga Malaysia, Indonesia, Filipina Selatan, Thailand Selatan, Singapura, dan Brunei Darussalam. Seorang ulama masyhur asal Banten bahkan dijuluki Syaikh Muhammad Nawawi Al-Jawi Al-Bantani. Konon, mengapa bangsa Arab memukul rata seluruh kepulauan Asia Tenggara dengan nama Jawi disebabkan oleh sebuah komoditas perdagangan bernama kemenyan. Jenis kemenyan tertentu dalam Bahasa Arab disebut luban jawi (kemenyan Jawa), yang asal sebenarnya dari Sumatera. Oleh para pedagang Eropa luban jawi ini berubah nama menjadi La Benjawi, yang kemudian oleh pedagang Venezia diubah lagi menjadi La Benzoin, hingga akhirnya masuk ke dalam Bahasa Inggris sebagai benzoin.

Akhirnya, sampailah kita pada sebuah penghujung. Istilah manakah yang layak digunakan untuk menyebut kesatuan rumpun masyarakat dan negara-negara di kepulauan Asia Tenggara ini? Apakah Nusantara yang beraroma kekuasaan Majapahit, Alam Melayu yang demikian luas tafsirannya, ataukah Jawi? Jawabannya: terserah anda. Dengan nama apapun kepulauan Asia Tenggara ini disebut, unsur-unsur keserumpunan budaya dan bahasa, kesatuan leluhur serta kesamaan geografis akan selalu muncul. Justru yang paling penting bukanlah dengan nama apa kita disebut tetapi bagaimana pemaknaan kita terhadap keistimewaan kawasan ini sendiri.

Kalau kata William Shakespeare dulu: “Apalah arti sebuah nama.”

Salam Nusantara, Alam Melayu dan Bani Jawi!

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Bugis of Sabah: A Story of Migration

This writing is based on the author interview with Mohd Safar Abdul Halim, the third generation of Bugis migrant in Sabah, Malaysia. The Bugis community are best known as sailors, fishermans, merchants and also paid warriors to fight against the pirates of the Sulu Sea by the Sultanate of Sulu. They once also known as “the most energetic and successful cultivator of coconuts” in Tawau. The strong nature of family relationship in Bugis culture has made them one of the most-closely-connected-to each other ethnic group in eastern part of Malaysia. This is the story of their preservation toward ancestor’s tradition, although separated thousand miles away from their original homeland in South Sulawesi, Indonesia.

The Bugis people started to migrate to Tawau, Sabah in 1880. They decided to sail and settle in Sabah because the region was rich of potentials such as fertile soil for farm, and also British Petroleum Company and Japanese lodging company that require a lot of labor. It is known that wherever the Bugis people took abode, the surrounding area will be profited by their creativity to open businesses. The Bugis then hold important place in the economic life of Sabah, they even created job field for the locals. The new generation of Bugis in Sabah has enjoyed the benefit of education by government, many of them are studying until university level. They even hold significant role in the state’s ministries. A lot of the Bugis people in Sabah nowadays are already mixed through marriages with local people such as Dusun, Murut, Iban, Kadazan, and others.

The Bugis who’s migrated to Sabah brought a set of adat law and traditions. The Bugis of Sabah really take a great care of their traditional values, which can be seen from the way they embraces the system of pangaderreng such as adeq, wari, siriq, rappang, and saraq. It is important for Bugis-Sabah that their well-educated children should be raised and adorned with those values. Although lately not so many Bugis generations undersand the philosophy of their traditions, they still perform it, out of respect, to their parents.

Some important cultural expressions related to daily life are still performed by Bugis of Sabah. Important traditional ceremony such as maccera tasiq and mendeq bola is still widely celebrated. This tradition is seen as a way to strengthen their identity. Moreover, these ceremonies become cultural attraction that invite people from different ethnic group in Sabah to come and enjoy the proceedings. Another cultural element that could still be traced from Bugis of Sabah is the preservation of traditional culinary. Dishes such as  burasa, burasa koa, burasa pulu, sokko, palopo, bilundra. ketupat pulut, tumbu, masak likku, tapai, beppa sawalla, bandang-bandang, bandang mallojo, barongko, baulu pecak, katiri salah. kuek bangkek, barobbo and others. Those dishes show uniqueness of Bugis culture, which is very much appreciated by the locals.

Bugis family in Sabah

Although not so many of them lasted with the ability to speak Bugis language anymore, they are still curious and longing to see long-distance relatives from Indonesia. They see their preserved culture as identity to strengthen brotherhood with the Indonesians, especially people of South Sulawesi.

Categories
Featured Galigoku

Budaya dan Media sebagai Penjaga Ketentraman dalam Berbangsa

Budaya bagi saya adalah sesuatu yang terbilang rumit, pelik dan luas. Budaya mengandung banyak sekali unsur, mulai dari unsur geografis hingga unsur ideologis. Dimulai dari adanya budaya, agama dan bangsa, lahirlah sebuah negara atau suatu golongan. Budaya, biasa kita sebut juga dengan culture, di bawahnya ada subculture dan di atasnya ada mainstream. Semuanya berkesinambungan, lebih tepatnya saling tarik-menarik dan berkaitan. Apabila kita membahas salah satu substansi dari kata budaya tersebut, kita juga harus menarik benang-benang lain yang terkait dengan substansinya.

Budaya juga merupakan bagian dari keberagaman. Dalam suatu bangsa terdapat keanekaragaman budaya. Kita, masyarakat dengan raga manusia, sebagai bagian dari bangsa tersebut merupakan pemilik kebudayaan dan dituntut untuk mengenali, melindungi dan melestarikannya. Kita patut bersyukur berada di Tenggara, 30 derajat dari Timur, dimana macam-macam bentuk budaya masih terjaga utuh dan lestari. Budaya itu seni; seni itu indah; indah itu ketika damai terlaksana sebagaimana mestinya. Sekiranya ulasan di atas adalah sedikit gambaran tentang apa itu budaya dari sudut pandang saya.

Bendera Malaysia dan Indonesia. Sumber: www.sindonews.com

Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di bagian tenggara benua Asia, terkenal dengan kekayaannya akan budaya-budaya tradisional yang beberapa di antaranya masih bernuansa primitif, unik dan belum tersentuh modernisasi Barat. Dari Sabang sampai Merauke; ada suku Melayu yang memiliki bahasa yang halus nan indah, suku Bugis yang  kaya akan keteladanan sastranya, sampai suku Samin dengan ideologinya yang tak tergoyahkan. Itu benar-benar mencerminkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat dari beragam bidang. Namun, dewasa ini kerap terjadi fenomena-fenoma yang menyebabkan apa yang saya sebut damai seperti di atas tadi, terusik. Lebih menyedihkannya lagi yang mengusik kedamaian tersebut adalah isu kebudayaan.  Apalagi setelah mengetahui bahwa fenomena tersebut melibatkan negara tetangga kita yang memiliki cukup banyak kesamaan dengan Indonesia; ya, mereka tetangga kita sendiri, Malaysia.

Agar saya yang berintelegensi rendah ini  tidak memperluas hingga kemana-mana pembahasan dalam opini saya, mari kita tengok sejenak daftar dari isu-isu kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia yang pernah terjadi sebelumnya :

  1. Naskah kuno dari Riau, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  2. Naskah kuno dari Sumatera Barat, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  3. Naskah kuno dari Sulawesi Selatan, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  4. Naskah kuno dari Sulawesi Tenggara, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  5. Rendang (makanan) dari Sumatera Barat, Klaim oleh Warga Negara Malaysia.
  6. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  7. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  8. Lagu Soleram dari Riau, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  9. Lagu Injit Injit Semut dari Kalimantan Barat, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  10. Alat musik Gamelan dari Jawa, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  11. Tari kuda lumping dari Jawa Timur, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  12. Tari Piring dari Sumatera barat, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  13. Lagu Kakak Tua dari Maluku, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  14. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  15. Motif Batik Karang dari Yogyakarta, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  16. Badik Tumbuk Lada, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  17. Kain Ulos, Klaim tidak jelas dari oknum/pemerintah Malaysia.
  18. Alat musik Angklung, Klaim sepihak dari pemerintah Malaysia.
  19. Lagu Jali-Jali, Klaim sepihak dari pemerintah Malaysia.
  20. Tari Pendet dari Bali, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia

sumber : http://maxxalkahfi.blogspot.com/2011/11/pengklaiman-budaya-indonesia-oleh.html

Sudah ada 20 isu mengenai pengklaiman kebudayaan milik atau asal Indonesia yang mencuat di permukaan. Semuanya merupakan KLAIM SEPIHAK OLEH PEMERINTAH MALAYSIA. Sekali lagi saya tekankan disini KLAIM SEPIHAK OLEH PEMERINTAH MALAYSIA. Ketika pertama kali mengetahu kalimat tersebut yang terbersit di benak saya, ini adalah bentuk klaim dari pemerintah. Terus terang saja saya tergolong orang yang tidak pernah mempercayai pemerintah, termasuk pemerintah di Indonesia. Ketika mendengar hal tersebut merupakan perbuatan dari pemerintah saya sudah tidak heran lagi, karena menurut saya pemerintah sejak awal terbentuknya suatu negara memang sudah busuk dan layak dibenci – sebagaimana suku Samin membenci pemerintah sejak zaman Hindia-Belanda-. Tetapi bukan hal itu yang ingin saya bahas dan opinikan disini.

Media, sebagai pemberita, menjadi salah satu aktor di balik isu pengganggu perdamaian ini. Beberapa hari ini isu kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia  mencuat kembali, kali beredar isu tentang pengklaiman tari Tor-tor dan Gondang Sambilan milik komunitas Mandailing di Sumatera Utara. Isu yang diedarkan oleh sejumlah media adalah tentang Pengklaiman Tari Tor-tor oleh Pemerintah Malaysia. Contoh konkritnya ialah pemberitaan yang dilakukan oleh Viva News (Indonesia) dengan judul ‘Giliran Tari Tor-tor Batak Diklaim oleh Malaysia’ (http://nasional.vivanews.com/news/read/326095-giliran-tari-tor-tor-batak-diklaim-malaysia). Di sana dituliskan “Malaysia kembali mengklaim hasil kebudayaan asli Indonesia menjadi miliknya” lalu “Namun kini, Malaysia dengan berani akan meregistrasi kebudayaan itu berdasarkan Bab 67 Undang-undang Peninggalan Nasional 2005” dan “Aksi ini memancing reaksi keras dari masyarakat Indonesia. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu sempat marah atas klaim itu. Budayawan Malaysia juga menyesalkan klaim ini”.

Sumber: TempoInterAktif

Dari berita yang beredar tersebut dapat  diinterpretasikan bahwa ‘Pemerintah Malaysia atau Negara Malaysia seenak udelnya mengklaim tari Tor-tor sebagai warisan kebudayaan milik Malaysia, hal tersebut menyebabkan pemerintah Indonesia serta masyarakat Indonesia naik pitam dan menentang keras  apa yang sudah diperbuat oleh Pemerintah Malaysia atau Negara Malaysia’. Ada beberapa kata yang perlu kita garis bawahi dari interpretasi dan berita tersebut yaitu, ‘Klaim’, ‘Pemerintah’, ‘Rakyat’ dan ‘Registrasi’. Pemberitaan dari situs dengan skala kepercayaan cukup besar di Indonesia tersebut apabila diterima dengan mentah-mentah dapat menjadi pengusik kedamaian antara Indonesia dan Malaysia. Karena menurut saya pemberitaan yang beredar tersebut kurang bulat atau kurang obyektif. Dari postingan tersebut tidak disebutkan secara detail siapa pihak dari Malaysia yang mengklaim tari Tor-tor. Seolah-olah subyek yang melakukan klaim terhadap tarian tersebut adalah keseluruhan manusia yang ada di Malaysia, atau bisa diartikan sebagai pemerintah dan rakyatnya.

Lalu disebutkan bahwa Presiden Indonesia  marah akan hal tersebut. Memang jelas disebutkan nama Presiden Indonesia namun dalam penulisan kata rakyat, tidak disebutkan secara jelas juga rakyat yang mana yang meman bereaksi negatif atas apa yang dilakukan Malaysia terhadap tarian tersebut. Kemudian, terdapat kontradiksi dalam pemakaian kata-kata. Seperti yang disebutkan pada judul berita tersebut ada kata ‘Klaim’ namun dari substansi berita ditemukam kata ‘Registrasi’. Klaim dan registrasi  sungguh merupakan dua kata yang amat berbeda. Apabila memang yang dilakukan oleh Malaysia adalah klaim atas suatu warisan kebudayaan, lantas kenapa Malaysia hanya melakukan registrasi atau pendaftaran atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai listing saja? Apabila memang Malaysia mengklaim tarian tersebut dan Indonesia merasa sebagai pemilik asli dari tarian itu seharusnya sudah terjadi perang yang amat dahsyat di wilayah paling tenggara di Asia ini. Bila kita lihat dari sumber lain seperti Bernama.com (Malaysia) yang mengutip perkataan dari Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia Datuk Seri Dr Rais Yatim bahwa tarian tersebut akan didaftarkan dibawah Section 67 UU tentang warisan budaya nasional tahun 2005. Disebutkan di sana bahwa tarian tersebut hanya didaftarkan, bukan diakui sebagai milik atau berasal dari, sebagaimana interpretasi dari kata Klaim itu sendiri. 

Hal yang saya soroti dari kedua sumber ini adalah terdapat banyak pengaburan fakta secara besar-besaran dari peristiwa sebenarnya dalam pemberitaan yang dilakukan oleh Viva News. Sebelum memublikasian berita, sudah sepatutnya pihak yang memberitakan hal ini mengetahui keseluruhan fakta peristiwa tersebut, sehingga tidak kemudian memunculkan perseteruan antara pihak yang merasa benar dan pihak yang disalahkan dalam beritanya. Seharusnya pembaca yang menjadi obyek sasaran dari media pemberita tersebut dapat menganalisa kebenaran dari peristiwa yang terjadi dan tidak langsung mempercayai berita yang diberitakan oleh media pemberita begitu saja. Hal itu dapat menyebabkan perseteruan dan terusiknya perdamaian antara kedua negara tersebut akan terus berkelanjutan. Media seyogyanya bisa menjadi tempat mencari fakta dan segala bentuk pengetahuan secara utuh. Bukan sebagai penyebar propaganda yang secara terang-terangan melakukan provokasi dengan mengaitkan beberapa pihak dalam suatu peristiwa dan merubah peristiwa tersebut menjadi konflik. Media seharusnya bisa menjaga keharmonisan hubungan antar umat dalam pengungkapan kebenaran tersebut.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan jika ingin mencari kebenaran dan menghindar dari pembutaan fakta yang dilakukan oleh media terkait isu Pengklaiman tari Tor-tor dan Gondang Sambilan adalah seperti melakukan kunjungan langsung ke Malaysia untuk mengkaji beberapa paham mengenai asal-usul kebudayaan tersebut. Sebagai sampel adalah kunjungan yang dilakukan oleh beberapa kawan dari La Galigo for Nusantara dalam proyek “Lontara Project Goes to Malaysia” . Dalam proyek tersebut mereka mengkampanyekan fakta bahwa Indonesia dan Malaysia terletak dalam satu Nusantara dan Satu bangsa, yaitu bangsa Melayu. Dari temuan tersebut terdapat beberapa fakta lagi yang dibuktikan yaitu bagaimana kebudayaan tersebut lahir di Indonesia, dan bagaimana kebudayaan tersebut bisa mengalami persebaran hingga bisa ditampilkan di negara lain; bahwa penduduk asli dari tempat asal kebudayaan itu lahir adalah para perantau yang berpindah tempat tinggal namun tetap ingin kebudayaan mereka lestari di tempat tinggal mereka yang baru itu. Satu fakta lagi yang ditemukan dalam kunjungan tersebut ialah hampir 80% artefak yang berada di museum kecil milik Akademi Pengkajian Melayu University of Malaya adalah artefak yang dapat ditemukan di Indonesia juga. Yang dapat disimpulkan dari fakta-fakta di atas adalah jika ada kesamaan kebudayaan atau benda-benda warisan kebudayaan seyogyanya dipandang dengan wajar, karena Indonesia dan Malaysia berada dalam satu rumpun Melayu yang memiliki kemiripan dan dinamis.

Kesimpulan dari opini dan analisa saya dari fakta-fakta yang ada:  Indonesia dan Malaysia adalah satu, satu rumpun Melayu. Isu kebudayaan yang memang sensitif dan pemberitaannya terkadang dilebih-lebihkan ini seharusnya tidak bisa menjadi perusak perdamaian antar bangsa. Masing-masing bangsa, Indonesia dan Malaysia, dengan mengetahui bahwa mereka berada dalam satu rumpun yang sama seharusnya menjadi bisa menjaga kestabilan hubungan mereka yang semula baik-baik saja. Bahkan budaya-budaya yang diributkan tersebut lahir jauh sebelum batas wilayah dan negara ada. Tidak seharusnya budaya diperebutkan dan menjadi penyebab rusaknya keharmonisan hubungan antar bangsa. Karena Indonesia dan Malaysia memang diciptakan berdekatan, bertetangga dan dalam memiliki banyak similiarities dalam satu rumpun Melayu tersebut.

Semoga budaya bisa tetap menjalankan fungsinya yaitu sebagai Penjaga Ketentraman dalam Berbangsa.  Semoga damai tercipta karena kebudayaan dan keanekaragaman ini adalah anugerah yang tidak bisa kita temukan di belahan dunia lainya. Salam!

 

Hilman Fathoni, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada angkatan 2010. Bungsu dari dua bersaudara ini kini menjabat sebagai Ketua Divisi Penelitian dan Pengembangan di Badan Pers dan Penerbitan Mahasiswa MAHKAMAH. Ketertarikannya terhadap gejala sosial dan filsafat membuat penyuka musik aliran keras dan film-film “hitam-putih” ini sering menampilkan ide-ide yang eksentrik. Kenali Hilman lebih jauh dengan mengunjungi blognya di http://jokerjester-jesterjoker.blogspot.com/