Kalau saja seluruh kisah cinta keturunan Batara Guru (mulai dari Batara Lattuq yang dalam episode Mutiara Tompoq Tikkaq berlayar untuk menemukan tambatan hati yang belum pernah Ia lihat sekilas pun wajahnya) dijadikan buku atau film… Twilight bakalan lewat!!! Niscaya yang diteriakkan remaja gadis hari ini bukan lagi “EDWAAARD!!! JACOOOB!!!” melainkan “BATARA LATTUQ!!! MARRY MEEE…”.
Apa coba?
Jangan anggap remeh dulu, nenek moyang kita terbukti gila dalam berfantasi, ratusan tahun sebelum Stephanie Meyer bahkan. Mereka mampu menciptakan adegan cinta super-lebay dan sangat jeli dalam menceritakan hal-hal romantis (meskipun sebenarnya amat repetitif dalam mendeskripsikan detail). Berani jamin, kalau dibaca anak perempuan labil seperti fans Twilight, maka hiduplah mereka dalam khayalan romantisme ala lelaki Bugis jaman dulu.
Sparkling Gay vs Not-Sparkling Gay
Ya, nenek moyang kita memang hidup dalam cerita turun menurun bahwasanya dahulu pembesar negeri Bugis ini merupakan keturunan mahapenting, yakni To Manurung -para pewaris Bottiq Langiq dan Peretiwi yang kemudian melahirkan seorang anak yang bernama Batara Lattuq. Batara Lattuq ialah calon raja selanjutnya yang akan menggantikan Batara Guru memerintah Kerajaan Ale Luwu dengan segala kebesaran dan kemasyhurannya. Beranjak dewasa, Batara Guru merasakan kegelisahan si perjaka Luwu yang telah tiba masanya untuk mempersunting seorang gadis. Namun dengan satu catatan mutlak : Perempuan ini haruslah memiliki garis keturunan dewa pula untuk menjaga kemurnian darah mulia mereka, yang digambarkan saat Batara Lattuq datang meminang We Datu Sengngeng (satu diantara dua bersaudara yang kecantikannya tiada tara – bahkan tidak ada yang lebih cantik lagi di atas Botting Langiq sana atau di bawah Bumi Peretiwi). We Adiluwuq yang merupakan kakak We Datu Sengngeng bahkan secara dramatis mengiris jarinya sendiri, memperlihatkan darah dewa-nya yang berwarna putih susu (bahkan dalam artian yang sebenarnya, jadi bukan istilah darah biru seperti pada bangsawan Jawa) kepada Batara Lattuq.
Singkat cerita, digambarkan pula bagaimana kerennya perahu (kalau di zaman sekarang mungkin bisa disamakan dengan mobil mewah ya) dan mahar Batara Lattuq yang langsung diturunkan oleh Datu Patotoqe, sang kakek yang menjadi penguasa Dunia Atas. Dibutuhkan waktu berhari-hari untuk mengangkut harta benda masuk ke dalam perahu yang extravagant, kehadiran ribuan perahu pendamping, ribuan pengayuh, ribuan dayang-dayang, dan segala jumlah ribuan lainnya demi mengarungi samudera berbulan-bulan menuju Kerajaan Tompoq Tikkaq, tempat We Datu Sengngeng berada.
Peta Pelayaran Batara Lattuq menuju Tompoq Tikkaq oleh F. Ambo Enre (Sumber: La Galigo Menelusuri Jejak Warisan Dunia, 2003)
Itu baru mula cerita.
Takkan habis rasanya berimajinasi akan keroyalan Kerajaan Luwu pada masa itu. Cerita-cerita tersebut mengindikasikan betapa kekayaan alam, bumi dan langit mampu menanggung kebutuhan berpesta selama berhari-hari dengan jamuan tak terhingga. Alam itu sendiri yang menjadi tuan rumah dan menjamu para hadirin.
Kerajaan Ale Luwu atau Tompoq Tikkaq kini tidak menyisakan apapun selain nama. Bahkan tak secuil pun kehormatan pada anak cucunya yang bisa dibanggakan. Kisah kemegahan keturunan dewata, kerajaan yang bersahabat dengan alam, dan segala keagungannya itu hanya tinggal naskah bisu dalam kesunyian di tengah temperatur dingin pada sebuah ruangan khusus di Leiden, Belanda. Sementara hanya segelintir orang yang menangisi dari tanah Bugis untuk menunggunya pulang, generasi muda Indonesia semakin lama semakin luntur dari kearifan lokal nenek moyang mereka.
Semoga kita masih bisa menyaksikan hari ketika Batara Lattuq menjadi sepopuler Edward Cullen. Suatu hari nanti, mudah-mudahan.
Sekitar jam 10 pagi, saya dan Fitria menyelinap keluar dari Wisma Handayani di Jalan RS Fatmawati Jakarta Selatan untuk mencari taksi ke arah Jakarta Pusat. Sejak kemarin kami menginap di wisma tersebut guna membantu proses seleksi tahunan pertukaran pelajar ke Amerika Serikat di bawah program Youth Exchange and Study (disingkat YES). Suatu kehormatan bagi kami berdua yang terhitung alumni YES untuk dapat sedikit bantu-bantu demi keberlanjutan program ini. Nah, kebetulan di tengah-tengah waktu kosong Seleksi YES ada pameran Keris Bugis dan Serumpunnya sekaligus launching buku “Senjata Pusaka Bugis” di Bentara Budaya Kompas. Keris Bugis? Hmm… Produk kebudayaan yang jarang diekspos media. Kesempatan lowong yang cuma sebentar itu jelas tidak akan saya sia-siakan untuk menggali dan mendapatkan informasi lebih dalam lagi.
Sesampainya di Bentara Budaya, kami bertemu dengan Diku, salah seorang rekan yang masih berstatus sebagai mahasiswi di FISIPOL Universitas Indonesia. Dia juga berasal dari Makassar (meskipun berdarah murni Jawa) semangat ke-Sulawesi Selatan-an Diku tak ada bandingannya. Kami berkeliling di sayap kanan galeri Bentara Budaya yang ternyata digunakan sebagai tempat kolektor-kolektor keris nusantara memamerkan atau menjual koleksi keris mereka. Kami mendapatkan banyak informasi berharga tentang dunia perkerisan dari pengalaman orang-orang yang berkecimpung langsung di dalamnya. Salah satu info menarik yang kami dapatkan adalah metode awam untuk membedakan pamor yang terbuat dari besi meteor (bintang jatuh) dan pamor yang terbuat dari besi biasa. Keris yang pamornya berasal dari batu meteor umumnya memiliki corak-corak khas, corak alami yang tidak dapat dibuat oleh manusia. Keris dengan pamor dari besi meteor dipercaya lebih kuat dan memiliki daya magis. Selain itu, kami juga diajari bagaimana cara mengeluarkan keris yang benar, membedakan jenis keris Jawa dengan keris dari daerah lainnya, menentukan periodesasi keris berdasarkan ornamennya (dengan memperhatikan unsur Hindu-Buddha atau Islam yang terpatri di hulu keris), dan memaknai hiasan warangka (sarung keris) yang ternyata disesuaikan dengan karakter pemiliknya.
Berdasarkan wawancara singkat yang kami lakukan dengan para kolektor, keris-keris tersebut kebanyakan mereka dapat sebagai warisan (turun-temurun), pemberian, melalui jual-beli, hingga tukar-menukar. Harga keris yang mereka jual berkisar antara satu juta hingga milyaran rupiah. Masing-masing keris memiliki ceritanya sendiri; ada yang berharga karena bahan pembuatannya dan ada pula yang begitu mahal karena kesejarahan yang tersimpan bersamanya. Kalangan kolektor keris sendiri terbagi menjadi dua golongan: para pribadi penikmat estetika dan nilai historis keris secara rasional, dan mereka yang mengultuskan keris karena mempercayai nilai-nilai mistis di dalamnya. Kedua golongan sama-sama menghormati budaya adiluhung warisan leluhur bangsa kita ini dengan caranya masing-masing.
ritual bissu maggiri’
Setelah puas melihat-lihat dan berbincang-bincang dengan para kolektor keris, kami pun masuk ke galeri utama, tempat pameran Keris Bugis yang sebenarnya diselenggarakan. Sebuah miniatur perahu pinisi dipamerkan di dekat pintu masuk. Jantung kami berdesir, bangga sekaligus kagum menyaksikan tulisan Pinisi Nusantara pada miniatur milik Kompas yang digarap megah itu. Gantungan ornamen berwarna keemasan yang biasanya muncul pada pernikahan etnis Bugis-Makassar digantung menghiasi tembok ruang pameran. Alunan musik khas Sulawesi Selatan yang diputar lirih mengalun-ngalun merdu, mengantar imajinasi para pengunjung berlayar ke provinsi penghasil coklat terbesar di Indonesia itu. Beberapa foto berukuran poster yang mengambarkan pamor-pamor khas suku Bugis dipajang di berbagai penjuru ruangan.
Selama ini keris identik dengan senjata tradisional Jawa yang bertuah. Keris berbeda dengan pedang, dari ukurannya saja keris jauh lebih kecil. Keris juga memiliki luk (lekukan-lekukan berjumlah tertentu) yang menjadi identifier senjata ini. Alangkah mengejutkannya ketika stereotipe “budaya keris = budaya Jawa” itu patah melalui pameran ini. Berpuluh-puluh keris Bugis, alameng, dan badik berjejer rapi di dalam kotak-kotak kac. Kami disambut oleh sebuah poster besar yang menggambarkan bissu (pendeta transgender Bugis kuno) di tengah prosesi maggiri’. Maggiri’ merupakan ritual ketika bissu dipercaya sedang mengalami kontak dengan arwah leluhur atau Dewata di kahyangan. Pada saat seperti itu para bissu tidak sadarkan diri dan tubuh mereka menjadi kebal terhadap senjata tajam. Meskipun mereka menusuk-nusuk diri dengan gajang (keris) tidak ada setetes darah pun yang menetes atau segaris kulit pun yang tersobek!
Berdasarkan pengamatan kami selama berkeliling, kebanyakan keris yang dipamerkan merupakan koleksi-koleksi dari orang perorangan atau dari Polo Bessi Club. Polo Bessi Club merupakan sebuah klub pecinta Keris Bugis yang banyak melakukan diskusi mengenai sejarah maupun perkembangan senjata berseni ini. Ada beberapa perbedaan fisik antara Keris Bugis dan Keris Jawa yang kami catat. Pertama, dari jenis warangkanya. Keris Jawa memiliki model warangka sendiri, sedangkan warangka Keris Bugis mirip dengan warangka Keris Melayu. Keris Melayu dan Sumbawa banyak dipengaruhi oleh unsur Bugis dikarenakan kuatnya budaya yang dibawa oleh para pedagang asal Sulawesi Selatan ke wilayah-wilayah tersebut pada abad ke-18. Kami bahkan sempat bertemu dengan beberapa orang pria asal Malaysia yang sengaja datang jauh-jauh hanya untuk melihat-lihat pameran ini. Kedua, pada bagian hulu Keris Bugis, garis pangkalnya sedikit miring. Ini berbeda dengan hulu Keris Jawa yang pada umumnya bergaris pangkal lurus. Ketiga, gandik atau pegangan pada keris Bugis jauh lebih bengkok daripada keris Jawa. Gandik keris Bugis hampir membentuk huruf “L”. Perbedaan yang terakhir, Keris Bugis memiliki beberapa pamor-pamor khusus yang tidak terdapat pada keris-keris Jawa.
Perbedaan Keris Bugis dan Keris Jawa
Pada dasarnya Keris Bugis dan Keris Jawa amatlah mirip. Hanya saja pada beberapa keris Bugis,luk-nya tidak begitu kentara (malah ada gajang yang bentuknya lurus, hampir mirip badik). Beda lagi dengan alameng. Alameng Luwu terkenal sebagai senjata yang secara fisik mirip pedang panjang berwarna hitam. Sepintas ada kesan seram ketika melihat bentuknya yang lurus, tajam, dan berkilat-kilat itu. Sedangkan untuk badik (di Luwu disebut dengan nama kawali), senjata yang satu ini masih populer di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Bentuk pegangan badik mempunyai ciri tersendiri, demikian pula dengan alur besinya yang berpangkal ramping (Makassar: bilah), “menggendut” di tengah (battang), lalu kembali meruncing di ujungnya (cappaq). Di daerah-daerah tertentu ketiga senjata tersebut terkadang berbeda dari bentuk umumnya. Hal ini disebabkan karena adanya proses interaksi yang menimbulkan akulturasi dan asimilasi kebudayaan Sulawesi Selatan dengan kebudayaan suku bangsa lain di nusantara selama berabad-abad.
pamor langka pada bilah keris
Iwan Sumantri, seorang arkeolog Universitas Hasanuddin yang menulis buku berjudul “Kedatuan Luwu” mengungkap sebuah fakta yang mencengangkan perihal Keris Bugis. Luwu ternyata sudah dikenal sejak zaman Majapahit. Terbukti dari penyebutan nama “kota Luwu” dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca (Pupuh 14/4). Terlepas dari kontroversi mengenai keabsahan kekaisaran Majapahit dalam memancangkan kedaulatannya di bumi Sulawesi, Luwu dikenal sebagai pemasok besi pamor berkualitas tinggi ke Tanah Jawa. Seorang tokoh bernama Mpu Luwuk tercatat dalam sejarah Majapahit sebagai pembuat keris terbaik di seantero Wilwatikta. Berdasarkan penelitian, daerah di sekitar Danau Matano, kabupaten Luwu mengandung bijih besi dan nikel dengan jumlah yang sangat besar.
Di sekitar lokasi danau tersebut kini banyak ditemukan titik-titik bekas pembakaran dan peleburan besi yang menyisakan tanah-tanah gosong. Kala itu, bahan baku besi yang mengandung nikel di bawa ke Ussu (ibukota Kedatuan Luwu) untuk kemudian diolah menjadi berbagai macam peralatan. Salah satunya yang paling terkenal dan menjadi komoditas perdagangan utama orang Luwu dengan Majapahit adalah keris. Menurut cerita, keris-keris yang berpamor besi dari Luwu ini memiliki ketajaman yang luarbiasa. Lambang Daerah Luwu hingga hari ini pun masih menyertakan sebilah keris yang dipercaya oleh penduduk sebagai Keris Bungawari. Keris Bungawari merupakan arayang atau benda pusaka yang turun dari langit untuk raja-raja Luwu. Sayangnya, sekarang keris tersebut telah hilang. Menurut cerita yang beredar, keris tersebut diambil oleh kompeni dan dibawa ke negri Belanda.
Bagaimana kaitan senjata keris dengan La Galigo? Sureq Galigo menceritakan episode kelahiran Sawerigading dan saudari kembarnya We Tanri Abeng dari rahim We Datu Sengngeng dengan amat menakjubkan. Setelah tujuh hari lamanya We Datu Sengngeng mengejan rahim untuk mengeluarkan kedua bayi kembar itu, Sawerigading muncul dengan berpakaian perang lengkap dan bermahkota. Sawerigading terlahir sambil membawa sebilah keris emas pusaka dari Datu PatotoE, Sang Penguasa Langit. Keris emas tersebut merupakan simbol legitimasi atas darah Tomanurung yang Ia warisi dari Batara Guru. Penggunaan keris sebagai senjata juga tergambar di berbagai adegan pertempuran La Galigo. Istilah Bessi to Ussu yang disebut berulang kali dalam teks kuno tersebut turut menjadi saksi atas kemashyuran lokasi geografis pembuatannya.
Keris Bugis memiliki tempat tersendiri di khazanah kebudayaan bangsa Indonesia. Senjata ini berevolusi bersama dengan perkembangan zaman. Senjata ini juga mempengaruhi perkembangan alat tempur sejenis di Jawa, Malaysia, Thailand Selatan, Riau, Bali dan Sumbawa. Keris Bugis yang menyimpan makna historis dan filosofis ini adalah warisan yang perlu digali lebih dalam lagi. Sebagai sebuah adikarya masyarakat Bugis, keris-keris tersebut memberikan sumbangsih yang memperkaya keragaman persenjataan di nusantara kuna. Sebagai sebuah artefak, keris-keris Bugis di pameran itu telah sukses menjayakan kembali masa lampau di tengah bisingnya kehidupan kota Jakarta.
Siang hari yang terik di bawah naungan Baruga Universitas Hasanuddin, Makassar. Angin yang bertiup sepoi-sepoi ternyata belum mampu untuk menahan keringat yang mengalir deras membasahi dahi dan punggung kami. Pasca Dhuhur, saya dan rekan Setia Negara duduk termangu menunggu kepastian di depan gedung rektorat universitas berlambang ayam jantan tersebut. Untuk apa saya yang melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada dan Setia yang notabene merupakan mahasiswa tingkat tujuh di Institut Teknologi Bandung duduk-duduk iseng di anak tangga gedung rektorat universitas lain? Jawabannya datang sekitar empat puluh lima menit setelah kami dengan sabarnya kepanasan menunggu saudari Maharani Budi.
Yang kami tunggu-tunggu dengan tergopoh-gopoh datang dan meminta maaf atas keterlambatannya. Tanpa banyak basa-basi kami pun segera melangkahkan kaki menuju Fakultas Ilmu Budaya yang lokasinya berada persis di sebelah gedung rektorat. Sesampainya di sana, terus terang kami bingung. Kemana (atau kepada siapa) kami harus bertanya untuk mengumpulkan informasi? Setelah beberapa menit celingak-celinguk kehilangan arah di tengah kumpulan mahasiswa Sastra Daerah yang menatap kami dengan dingin dari pinggiran koridor, kami memutuskan untuk mendatangi himpunan kemahasiswaan mereka. Di tempat yang kecil itu beberapa mahasiswa tampak sedang duduk-duduk bersendau gurau atau tidur-tiduran. Adapula yang sedang asyik berkutat dengan laptop dihadapannya (tugas? facebook?). Ketika kami menyampaikan niat untuk “mengenal” lebih lanjut tentang La Galigo, mereka dengan segera mengarahkan kami untuk berkunjung ke Laboratorium Naskah di lantai dua gedung tersebut. Dengan di-escort oleh salah seorang mahasiswi baru, sampailah kami di depan sebuah pintu berwarna abu-abu yang tidak sabar untuk kami masuki.
Laboratorium naskah jurusan sastra daerah universitas hasanuddin
Berkenalan dengan La Galigo: Asli Indonesia, Tersimpan di Belanda
Sekali lagi kesabaran kami harus diuji. Kami bertiga tidak dapat langsung masuk dan “menemui” La Galigo yang kami incar-incar itu karena ruangannya ternyata dikunci. Jelas si mahasiswi baru tidak memiliki kuncinya. Dengan penuh kepasrahan, kami harus menunggu. Maklum, saat itu memang masih jam istirahat siang Pegawai Negri Sipil. Setelah duduk termangu (lagi) selama hampir 15 menit, seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan berjalan perlahan menuju Laboratorium Naskah. Pucuk dicinta ulam pun tiba, kami segera melompat dari tempat duduk kami dan memperkenalkan diri. Dengan senyum yang bak oase di tengah panasnya sahara siang hari itu, ia membukakan pintu Laboratorium Naskah dan memperkenankan kami masuk.
Wanita yang memperkenalkan dirinya sebagai Bu Chia itu adalah seorang staff pengajar (dosen) di Sastra Daerah Universitas Hasanuddin. Beliau bersedia berbagi informasi kepada kami untuk mengenal lebih lanjut mengenai La Galigo. Beruntungnya lagi, ternyata beliau merupakan salah satu dari sedikit akademisi di Sulawesi Selatan (dan Indonesia) yang berkecimpung di dunia penelitian dan penulisan mengenai epik bangsa Austronesia terpanjang di dunia ini.
Berdasarkan penjelasan beliau, naskah Sureq Galigo merupakan naskah yang ditulis di atas lembaran-lembaran daun lontar (biasa disebut lontaraq) dengan menggunakan Bahasa Bugis Kuno, bahasa yang kini sudah tidak ada penuturnya. Sureq Galigo berisi cerita mengenai kemunculan manusia pertama di muka bumi untuk membangun peradaban. Disebutkan secara eksplisit bahwa manusia lahir untuk memuja Dewa di Langit (Datu Patotoe) melalui kalimat,
Teddewata iq, Puang, rekkua masuaq tau
Ri awaq langiq, le ri meneqna Peretiwie
Mattampa puang le ri Batara.
(You are not a god, Lord, if there are no humans
Under the heavens, above the Underworld,
to call the gods Lord)
Di dalamnya diceritakan pula kisah-kisah keturunan para tumanurung (orang yang turun dari langit) sebelum akhirnya mereka naik kembali dan meninggalkan bumi untuk dikuasai oleh umat manusia. Kisah La Galigo pada umumnya dituturkan oleh passureq (pembaca lontaraq) di upacara-upacara adat. Diperlukan suatu ritual khusus sebelum passureq mulai melagukan epik kuno ini. Naskah-naskah tersebut banyak terdapat di Sulawesi Selatan, akan tetapi umumnya hanya berupa fragmen atau petikan-petikan episode dari kisah keseluruhan La Galigo. Naskah La Galigo terlengkap yang ada di dunia hanya ada satu dan tidak terdapat di Sulawesi Selatan atau Indonesia sebagai tempat asal mula kisah ini berasal. Uniknya naskah itu sejak tahun 1800-an justru terdapat di Perpustakaan KITLV Leiden, Belanda.
Bu Chia dan Penulis
Bu Chia sempat menyinggung betapa sedikitnya orang yang sanggup membaca teks La Galigo. Perlu digarisbawahi, membaca di sini tidak sama dengan membaca dalam artian harfiah. Banyak masyarakat Sulawesi Selatan di daerah yang sanggup membaca aksara lontaraq, abjad yang digunakan dalam naskah La Galigo. Akan tetapi, hanya segelintir orang yang dapat memahami isinya, mengingat bahasa serta ketinggian sastra yang digunakan. Naskah yang terdapat di Belanda ini disusun oleh seorang ratu dari negri Pancana (Sekarang berada di Kabupaten Barru) bernama Colliq Pujie atas permintaan seorang penginjil bernama B.F.F. Matthes. Bersama dengan anak perempuannya, We Tenri Olla, Colliq Pujie mengumpulkan serpihan-serpihan naskah La Galigo dan mengompilasikannya menjadi sebuah manuskrip yang terdiri dari 300.000 larik cerita berangkai.
Naskah tersebut terbagi menjadi 12 volume. Dari ke-12 volume tersebut, baru dua yang dapat diterjemahkan. Dua terjemahan naskah tersebutlah yang ceritanya beredar di masyarakat luas dan menjadi sumber kajian oleh akademisi hari ini. Akan tetapi, isi kedua naskah pertama itu bahkan belum menyentuh petualangan I La Galigo, tokoh yang menjadi sorotan utama di dalam epik ini sama sekali. Jikapun ada tulisan yang berhubungan dengan tokoh atau petualangan I La Galigo, kebanyakan sifatnya hanya berupa ringkasan cerita, belum ada kisah lengkapnya. Menurut informasi dari Bu Chia, hanya Pak Salim (almarhum Muhammad Salim, sastrawan dan peneliti karya sastra klasik Bugis-Makassar) satu-satunya individu yang pernah membaca dan menerjemahkan ke-12 volume manuskrip tersebut. Sayangnya, Pak Salim yang meninggal di awal tahun ini belum sempat untuk menerbitkan terjemahannya ke khalayak umum. Untuk sementara, hak publikasi atas karya terjemahannya itu masih dipegang oleh keluarganya.
Mengetahui “harta karun” bangsa Indonesia serupa La Galigo ternyata berada di negara yang pernah menjajah kita selama 350 menjadi fakta yang amat menyedihkan. Mengapa tidak ada usaha dari pemerintah maupun legal standing prakarsa masyarakat kita sendiri untuk “merebut” apa yang seharusnya menjadi milik kita? Well, ternyata banyak pertimbangan serius. Apakah permindahan manuskrip langka dapat menjamin keselamatannya yang rentan terhadap kerusakan? Sumber daya manusia maupun teknologi yang digunakan oleh pemerintah masih kurang memadai. Ambil contoh jika kita memperbandingkannya dari segi sarana. Apabila di negri Daendels sana manuskrip Colliq Pujie mendapatkan perawatan intensif seperti tempat penyimpanan bersuhu khusus, maka sebaliknya di Indonesia kita hanya mampu menyediakan kotak kaca berdebu dengan penerangan dari cahaya lampu seadanya. Kita belum memiliki daya tawar untuk memulangkan harta karun tersebut.
Konservasi Kreatif La Galigo: Usaha Membentuk Perspektif Modern atas Budaya Kuno
Transkrip Sure' la galigo
Bu Chia amat mendukung usaha kami untuk PDKT terhadap La Galigo dan memperkenalkannya dengan bentuk baru kepada muda-mudi Indonesia di era globalisasi ini. Meminjam istilah Muhidin M. Dahlan saat saya temui di Gelaran I.Boe.Koe. bulan lalu, menyasar kaum muda zaman sekarang untuk mencintai budaya kuno caranya tiada lain tiada bukan ialah melalui “konservasi kreatif”. Menyajikan kemasan-kemasan baru atas karya kuna dengan mengerahkan segala daya cipta, rasa, dan karsa. Bentuknya dapat beragam; bisa melalui aransemen musik etnik, kaligrafi kontemporer aksara lontaraq, “mengurbanisasi” penggalan-penggalan kisah La Galigo, maupun mendesain karakter yang disiratkan oleh epik tersebut ke bentuk-bentuk yang familiar dengan kaum muda (seperti mengadopsi style anime maupun komik-komik DC/Marvel).
Lalu, bagaimana jika ada yang memprotes usaha kami untuk merevolusi tampilan La Galigo mengingat adanya pengultusan tradisi ini pada beberapa komunitas Bugis tradisional? Menanggapi hal tersebut Bu Chia berpendapat bahwa terdapat kebebasan dalam menafsirkan suatu hasil budaya dari berbagai sudut pandang. Bagi yang menafsirkan La Galigo sebagai “ayat-ayat suci” mereka punya pembelaan sendiri, dan bagi mereka yang berhaluan akademis sah-sah saja untuk mengangkat unsur intelektual atas peninggalan sejarah ini. Masalah kepercayaan terkadang sukar dicampur-adukkan dengan kepentingan untuk pengembangan informasi dan pengetahuan, namun titik temu keduanya terdapat pada penghormatan maupun kajian-kajian keilmuan yang muncul darinya.
Dilihat dari waktu ke waktu, sebenarnya bukan kali ini saja upaya membuat tampilan baru atas La Galigo muncul. Pada zaman menuju Islam di Sulawesi Selatan, terdapat unsur-unsur tauhid yang diselipkan ke dalam fragmen-fragmen La Galigo. Sebagai contoh, dikenal lontar yang mengisahkan perjalanan Sawerigading (ayah tokoh I La Galigo) berhaji menuju Mekkah. Untuk mengganti konsep polyteisme di dalam kisah-kisahnya, digunakanlah istilah Dewata Seuwae alias Tuhan Yang Maha Esa yang merombak pantheon Bugis kuno. Dengan demikian, kisah-kisah La Galigo pada lontar-lontar tersebut merupakan cerminan atas kondisi masyarakat pada saat itu. Pada tahun 2005 silam, seorang sutradara teater dari Amerika Serikat bernama Robert Wilson mendulang kesuksesan dengan mengemas kisah La Galigo ke panggung-panggung teater di Eropa, Asia, dan Amerika. Ide kreatif beliau mendapatkan sanjungan besar dari kalangan intelektual, penggiat seni, maupun tokoh masyarakat Sulawesi Selatan atas keunikan konsepnya.
Bu Chia mengaku, pemerintah belum memberikan perhatian yang lebih di bidang kebudayaan, utamanya terkait dengan La Galigo. Dari keterangan Bu Chia kami mendapat informasi bahwa ada sekitar 82 roll file di Badan Arsip Nasional Jakarta maupun Makassar yang menyimpan salinan naskah-naskah lontar dalam bentuk digital. Beberapa ada yang tidak dapat terbaca dikarenakan kondisi naskah yang jelek. Pemerintah baru akan ikut campur apabila ada keuntungan komersil yang ditawarkan. Kontras dengan apa yang dilakukan oleh pihak Belanda, dimana di sana bahkan terdapat usaha mengumpulkan naskah-naskah lontar dari Sulawesi untuk menambah koleksi sekaligus merehabilitasi bentuknya yang sudah tidak terawat lagi.
Pusat Studi La Galigo di Universitas Hasanuddin didirikan sebagai salah satu bentuk usaha untuk melestarikan karya sastra adiluhung nusantara ini. Namun ketika team kami berkunjung ke sana untuk memperoleh data, yang kami temukan adalah gedung tua seperti di film-film horor yang tengah direnovasi. Untuk waktu yang tak dapat diperkirakan, kami tidak dapat mengakses pelayanan informasi terhadap La Galigo. Miris melihat bagaimana akses masyarakat untuk mengetahui sastra yang terancam punah ini pun begitu sulit.
Siang itu ketika kami mengakhiri wawancara bersama Bu Chia, kami keluar Laboratorium Naskah Jurusan Sastra Daerah Universitas Hasanuddin dengan perasaan yang unidentified. Bahagia karena akhirnya dapat “bertemu” dengan La Galigo, bangga sekaligus sedih bercampur-campur setelah mengenalnya lebih dalam lagi. Yang pasti, kami mengantongi sebuah tekad. Kami ingin menyelamatkan warisan leluhur bangsa Indonesia hasil ketaman perjalanan tradisi selama berabad-abad ini. Satu-satunya yang dapat kami lakukan sebagai mahasiswa plus pemuda ialah dengan mewartakan eksistensi La Galigo kepada sesama kaum muda lainnya, generasi penerus bangsa. Dengan kepala dipenuhi oleh ide-ide baru, hari itu team La Galifo for Nusantara melenggang bersama tergelincirnya siang menuju senja.