Categories
Cerita Silat Bersambung Galigoku

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode IV – “Penantian Sambut”

Bab V: Penantian Sambut

 

Setelah 9 bulan berlatih, gua merasa bisa banyak. Langkah 1 sudah lancar, jurus-jurus sudah hapal dan gerakan mulai terlihat bagus. Arahan-arahan dari Mas Ka sudah mulai bisa diikuti dengan baik, dan set latihan mulai bisa dikuasai

Suatu saat selesai latihan, gua pulang kerumah. Setelah menikmati makan malam bersama keluarga, orangtua gua bertanya: “Jadi, kamu sudah belajar apa saja sama Mas Ka?” Gua menjelaskan panjang lebar tentang latihan, apa saja yang dilakukan pada saat latihan, langkah apa saja yang sudah dipelajari, nama-nama gerakan, gedik, rambet, semuanya.

Ayah gua yang sepak terjangnya di dunia persilatan sudah lama melegenda ini meminta gua untuk menunjukkan langkah silat yang sudah dipelajari. Dengan penuh percaya diri, gua segera menunjukkan apa yang sudah gua latih selama ini. Setelah beberapa detik bergerak, ayah berdiri dari sofa.

“Bagus tuh gerakanmu,”bBeliau berkata sembari melihat gerakan gua. “Oke, Papa mau tanya deh, gerakan itu tadi buat apa ya?”

Dan gua pun terdiam. Kepala kosong, selama ini yang gua pelajari adalah gerakkan yang kosong. “Belum dikasih tahu Pa, gerakannya untuk apa.”

Ayah gua tersenyum, “Besok tanya deh ke Mas Ka, Papa jadi pengen tahu juga hehe.”

“Aduh, masih hari Jumat depan latihannya” gua ngedumel dalam benak gua, dan gua harus menghadapi sekolah selama seminggu kedepan. Baiklah, tidak apa, gua harus sabar menunggu, karena beberapa penantian itu memang nikmat.

Seminggu itu sekolah berlalu SANGAT lambat. Banyak sekali PS (bagi teman-teman yang membaca dan kelahiran 1990 – 1993 pasti tahu kalau PS itu bukan “Plaza Senayan”, atau “Playstation”, melainkan “Pekerjaan Sekolah”), PR (yang ini tahu kan kalau “Pekerjaan Rumah”?) dan tugas-tugas kelompok yang harus dikerjakan. Ditambah badan dan kaki yang pegal-pegal, gua pun berjalan seperti kakek-kakek yang lututnya goyang.

Dikarenakan gua mengendarai mobil antar-jemput ketika SMP, tidak banyak hal yang bisa gua lakukan setelah sekolah. Gua harus langsung lari ke parkiran antar jemput ketika bel sekolah berbunyi, dan ketika sampai rumah, gua mengerjakan PR dan… berlatih silat.

Suatu saat, sahabat-sahabat gua di SMP memperhatikan kenapa cara jalan gua aneh dan jari-jemari gua gemetar ketika menulis.

“Put, lu kenapa sih? Kok jalannya aneh?”

“Iya nih… Gua lagi sering latihan silat”

Didalam benak seorang bocah yang menghabiskan masa kecilnya dibacakan cerita wayang, didongengi cerita-cerita silat, dan menonton serial-serial seperti “Wiro Sableng” dan atau “Si Buta Dari Gua Hantu”, gua merasa gagah bisa cerita kalau gua pegal-pegal habis latihan silat.

Lain ceritanya ketika anak-anak Jakarta masa kini (pada jaman itu) yang menghabiskan waktunya menonton acara-acara MTV, beli barang-barang dari toko-toko macam Point Break atau Surfer Girl (kalau gua belanja, Ibu tercinta akan membawa gua ke department store lokal macam “Matahari” atau mungkin “Aneka Busana”), dan membaca novel-novel ‘teenlit’ (dimana gua akan disajikan TJERITA WAYANG oleh ayah gua yang digambar dan ditulis oleh mendiang R.A. Kosasih). Gua adalah orang aneh dimata mereka. Dan seperti yang mungkin teman-teman bayangkan, gua jadi bahan ketawaan.

“HUAHAHAHAHAH Latihan silat??? Lu bisa keluarin sinar ungu dong dari tangan lu, terus nembak batu nanti batunya pecah? HAHAHAHAHA” ~ ini mungkin mereka membuat sebuah referensi dari film-film silat yang dimata mereka itu norak.

“Ehm… Enggak sih… Tapi ya ini silat tradisional…” tukas gua dengan nada pelan tetapi pasti.

“Terus kenapa sih lu mau belajar silat gitu? Emang lu bisa apa sekarang?” ledek mereka

“Iya namanya kan juga proses latihan, enggak langsung lah hasilnya, sakitnya sekarang, tapi sehatnya nanti kedepan.” Jawab gua sambil tersenyum percaya diri.

“Tapi lu jalan sekarang kayak kakek-kakek! HAHAHAHAH”

Yap,  itulah silat dimata mereka.

Seminggu itu akhirnya berlalu, dan gua sudah sampai di akhir pekan. “Akhirnya, gua bisa latihan.” Gumam gua di dalam benak gua. Sepulang sekolah pada hari Jumat, gua langsung menggowes sepeda gua kerumah Mas Ka.

“Mas Ka!” Gua lompat dari sepeda gua, dan langsung lari masuk ke garasi Mas Ka

“Yop! Masuk Put!” Suara Mas Ka terdengar menyahut dari dalam rumah. Gua langsung stretching dan pemanasan sendiri, Mas Ka pun keluar dari rumah dan tersenyum lebar.

“Put, hari ini kita latihan sambut ya.”

“Sambut itu apaan mas? Latihan hormat gitu?” Tanya gua dengan dungu dan polos

“Haha enggak lah Put, ‘Sambut’ itu kalau di Silat Betawi, artinya sparring. Kalau kamu lagi di acara silat gitu, dan ada yang bilang ‘Mas, boleh saya sambut?’ itu artinya nantang kamu sparring. Jadi kamu ‘disambut’ sama jurus-jurusnya dia, dan kamu harus tau cara ‘menyambut’ yang baik, dan yang sopan.” Mas Ka menjelaskan dengan kalem.

“Sopan? Kok kita ditantang harus sopan mas? Orang yang nantang saja udah enggak sopan.” Gua mendadak sewot.

“Put, kalau di Silat Betawi itu, ada yang namanya ‘Lu Jual, Gua beli’. Memang kita enggak mau dan enggak boleh cari gara-gara, tapi kalau di gelanggang, itu memang sudah tempatnya kita unjuk ilmu dan cobain ilmu lain. Selain itu, Silat itu juga ada tata kramanya! Kan kamu sudah aku ajarin, kalau misalnya kuda-kuda aku merendah, kamu ikut merendah juga. Ini tuh gesture-gesture kecil yang menunjukkan kalau kamu itu pesilat yang mengerti tata krama dan orang yang santun.”

“Oh gitu ya mas. Hmm… contohnya gimana mas?”

Mas Ka pun mendekat, dia memasang kuda-kuda siap,

“Ini Put, posisiku kalau siap sambut. Kalau di silat Betawi yang ‘main’nya jarak dekat, kamu tempel tangan kamu sama tanganku.”

Gua mengerjakan apa yang Mas Ka diktekan, dan gua mencoba untuk bersikap dan memasang kuda-kuda yang sama dengan Mas ka. Kepalan Mas Ka gua tempelkan dengan kepalan kanan gua.

“Nah, ini kamu mau adu keras kalau gaya kamu kayak gini Put.” Mas Ka terkekeh.

Gua bingung, “Maksudnya gimana Mas?”

“Kamu nyodorin kepalan pas aku nyodorin kepalan. Itu artinya kamu siap melawan aku dengan keras. Kecuali kalau kamu begini…”

Mas Ka membuka kepalan tangannya, dan menyodorkan tangan terbuka dengan telapak menghadap keatas,  beliau pun mengubah posisi tubuhnya. Dada mengahadap kedepan, tangan kiri tetap menyilang dada dengan mengepalkan tangan, seakan “mempersilahkan” gua untuk memulai.

“Put, kamu coba serang aku ya, aku isi sambut dari kamu pakai langkah yang udah kita latih selama ini.” Raut Mas Ka mendadak berubah menjadi serius.

Gua deg-degan, Mas Ka seakan-akan mengubah atmosfer yang biasanya dipenuhi penuh pembelajaran dan canda tawa menjadi tenang tetapi menegangkan.

“Mas Ka, aku mesti nyerang gimana nih?” Suara gua mendadak parau dan menunjukkan betapa bingung akan apa yang harus gua lakukan. Mendengar pertanyaan gua, kuda-kuda Mas Ka merendah, beliau tidak bergeming.

Akhirnya gua melakukan apa yang Mas Ka instruksikan, gua memasang kuda-kuda siap, dan gua melontarkan sebuah pukulan ke arah dada Mas Ka. Bet! Pergelangan tangan gua dirambet, dan sikut Mas Ka sudah di depan muka gua (ya karena Mas Ka itu tinggi, dan gua pada saat itu masih setinggi pohon singkong), secara reflek, gua menepis sikutan Mas Ka, dan tiba-tiba tangan Mas Ka merambet telapak gua dan mendorong pundak gua kesamping, dan bruk! Gua kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Hyeh hyeeeh Putra… kaget ya? He he he he” Mas Ka terkekeh sembari membantu gua berdiri,

“Katanya mau pakai langkah yang Mas Ka latih aku, kok aku belum apa-apa jatuh duluan coba.” Gua menggerutu sambil mengusap-usap pundak.

“Nah, Put, namannya juga lagi sparring, berarti harus bereaksi dong sama sambutan yang kamu kasih. Kan setiap orang enggak pasti memukul kearah perut, ada nanti yang tiba-tiba nendang, ada yang bisa ngerambet tangan kamu duluan. Intinya, kamu harus siap dengan apa yang orang mau kasih kamu.”

Mas Ka bersiap lagi, dan gua pun memasang kuda-kuda. “Put, sekarang kamu aku serang, nah, kamu harus bisa ‘ngisi’ pakai semua yang kita udah latih ya.” Sembari berbicara, Mas Ka melancarkan pukulan dengan pelan, “Ayo, dirambet tanganku.”

Instruksi beliau gua ikuti perlahan-lahan, setiap pukulan, egosan, kuncian, berhasil gua tangani dengan langkah-langkah yang Mas Ka sudah latih gua. Tiba di suatu gerakan, dimana Mas Ka menyerukan “Tendang!” dan karena gua dulu sempat ikut olahraga Korea yang diminati anak-anak karena banyak tendangan, gua reflek menendang tinggi.

“Put! Kalau Silat Betawi jangan nendang tinggi-tinggi! Bahaya!” Mas Ka menegur gua,

“Lho, kan Mas Ka yang bilang nendang. Ya aku tendang.” Dengan lugunya gua menjawab.

“Oke, coba deh kamu tendang lagi.” Mas Ka mendadak memicikkan mata dan memberikan senyuman yang licik dan khas.

Gua tidak ragu, gua lancarkan tendangan tinggi, dan Wut! Tiba-tiba badan gua sudah terbalik! Kaki diatas, kepala dibawah, dan pinggang gua sudah dipegangi Mas ka. Posisi yang sangat ajaib ini diiringi kekeh Mas Ka yang khas. “Keh keh keeeh Puuut… kamu udah aku bilangin jangan nendang tinggi-tinggi.. Hyeh hyeeeh.”

“MAS!! INI AKU DIAPAIIIN” Suara cempreng belum pecah itu keluar lagi dari mulut gua.

Hari itu kami menghabiskan berjam-jam (sungguh!) untuk berlatih sambut, sampai di satu titik, gua sudah sangat lelah, berdiri pun goyah. Mas Ka menyuruh gua pulang untuk beristirahat, dan gua menggowes sepeda gua dengan lunglai sampai di rumah.

Sesampainya gua dirumah, pas waktunya makan malam. Ibu pun bertanya setelah melihat tampang gua yang amburadul dan kemleh-kemleh (maksud gua, lemas), “Kamu habis latihan apa tadi? Kok lemes banget?”

Gua menjawab singkat sembari berusaha mengangkat sendok nasi, “Latihan sparring Ma.”

Ayah gua tersenyum sembari mengunyah, “Oh ya? Jadi kamu sekarang udah bisa apa?”

BERSAMBUNG…

 Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

Categories
Featured Galigoku

Mengenal Sampit dan Masyarakatnya

Oleh:

Rinchi Andika Marry (Ilmu Sejarah Universitas Indonesia 2010)

Dari beberapa kota kabupaten di Kalimantan Tengah, Sampit merupakan kota penting yang sudah lebih maju dibanding daerah-daerah lainnya di Kalimantan Tengah. Sebagai kota yang berpenduduk relatif sedikit, Sampit memperlihatkan beberapa keunggulan, diantaranya adalah sebagai kota kabupaten yang memiliki pelabuhan air dan bandar udara sendiri. Sampit  terus memperlihatkan kemajuan sejak awal berdirinya hingga sekarang. Nama Sampit sendiri, berdasarkan beberapa sumber  online, diambil dari bahasa Cina, yaitu Sam artinya tiga dan It artinya satu,  jadi sam-it artinya tiga satu. Mengapa tiga satu? Karena sesuai dengan jumlah orang Tiongkok yang datang ke Sampit dan melakukan perdagangan dengan suku setempat. Tidak diketahui pasti siapa yang kemudian mencetuskan kata Sampit. Sumber lain lagi membantah bahwa nama Sampit berasal dari bahasa Cina, bahwa ada seorang yang bernama  Sampit yang berasal dari Kalimantan Selatan yang kemudian datang ke Sampit dan membangun Sampit.

Sampit sendiri merupakan ibu kota kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Luas wilayahnya hanya 16.796 km2 dengan jumlah penduduk 429.931 jiwa. Selain suku asli, yaitu suku Dayak, banyak juga para pendatang yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan Selatan, dan orang-orang Tiongkok yang kemudian membaur dengan masyarakat setempat sehingga terjalin harmonisasi antara masing-masing suku serta membentuk karakteristik masyarakat Sampit itu sendiri. Untuk orang-orang Tiongkok sendiri telah ada semenjak ratusan tahun lalu pada era perdagangan Nusantara.  Di jalan-jalan kota Sampit tidak ditemukan jembatan flyover maupun jalan tol, hal ini terkait dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak dan jarang terjadi macet sehingga tidak diperlukan adanya jalan tol maupun jembatan flyover. Dari luas wilayah yang ada, sebagian besar masih berupa hutan belantara. Jika musim kemarau tiba, seringkali terjadi pembakaran hutan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang kemudian menghasilkan kabut asap yang tebal dan mengganggu pernafasan. Tidak jauh berbeda dengan kondisi ibukota, pada siang hari terasa sangat panas dan  menyengat namun pada malam hari (mulai pukul 7 malam keatas) sangat berbanding terbalik, dingin yang cukup menusuk tulang.

Sampit. Sumber: Wikipedia.

Aktivitas masyarakatnya lebih banyak dilakukan di siang hari daripada malam hari. Malam hari jalanan cenderung sepi karena warganya banyak yang tinggal di dalam rumah kecuali jika ada keperluan tertentu atau untuk keperluan hiburan, biasanya pusat-pusat kota menjadi ramai dikunjungi warga. Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakatnya adalah bahasa Banjar (bahasa yang dipakai di Kalimantan Selatan) dengan aksen khas Sampit yang sedikit berbeda dengan bahasa Banjar yang digunakan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, selain itu Bahasa Dayak Sampit dan Dayak Ngaju (Dayak Hulu). Suku asli setempat, yakni suku Dayak telah membaur dengan suku-suku lainnya yang ada karena suku Dayak di Sampit cenderung  lebih bisa bersahabat dan membuka diri dengan suku lainnya sehingga dapat tejalin harmonisasi yang baik.

Pada suku-suku Dayak pedalaman yang menganut kepercayaan Hindu Kaharingan, tradisi masih dipegang teguh terutama pada acara-acara tertentu seperti perkawinan, kematian, pengangkatan kepala suku, maupun acara adat lainnya. Namun di Sampit, suku Dayak yang ada sudah mulai meninggalkan tradisi nenek moyang mereka, meskipun dalam beberapa aktivitas masih tetap melekat. Hal ini dikarenakan suku Dayak di Sampit telah memeluk agama baru selain kepercayaan nenek moyang mereka. Agama mayoritas suku Dayak di Sampit adalah agama Islam, kemudian sisanya adalah Kristen Protestan dan Hindu Kaharingan. Meskipun demikian, perbedaan agama ini tidak lantas menjadikan suku Dayak merasa terpisah-pisah, rasa persaudaran sesama suku Dayak mereka masih kuat.

Bagi masyarakat luar kota Sampit, non suku Dayak khususnya, yang belum pernah mengunjungi kota Sampit mungkin akan berpikiran bahwa suku Dayak merupakan suku yang kejam dan tidak bersahabat. Namun akan berbeda rasanya jika sudah berkunjung ke kota Sampit. Masyarakatnya cenderung bisa menerima pendatang. Tidak sulit untuk bisa berbaur dengan suku Dayak, terutama suku Dayak yang ada di Sampit karena dalam aktivitas sehari-hari suku Dayak tidak rasis.  Suku Dayak Sampit juga bisa berbahasa Indonesia dengan baik sehingga untuk berkomunikasi pun tidak sulit.

Gadis Dayak Sampit. Sumber: sampitrami.blogspot.com

Kota Sampit terhubung dengan daerah-daerah lainnya di Kabupaten Kotawaringin Timur. Untuk mencapainya bisa dilalui dengan menggunakan transportasi darat maupun air. Warga Sampit rata-rata memiliki kendaraan pribadi sendiri. Tidak mengherankan jika kebanyakan warga Sampit memiliki motor sendiri karena bisa dikatakan tanpa motor sulit untuk melakukan aktivitas. Selain itu, transportasi air yang menghubungkan kota Sampit dengan daerah lainnya dengan menyeberangi sungai, dikenal dengan sebutan ­kelotok, yaitu perahu air yang memiliki mesin. Orang Sampit, khususnya suku asli sudah biasa jika berkendaraan/ bepergian dengan menggunakan kelotok untuk mencapai daerah –daerah lainnya. Rata-rata suku asli Sampit pandai berenang karena sehari-hari sudah akrab dengan kehidupan sungai. Sungai Mentaya merupakan sungai yang ada di Sampit. Di sungai Mentaya inilah biasanya kapal-kapal besar dengan tujuan Pulau Jawa dan kelotok melintas.

 

Sekilas mengenai kerusuhan Sampit tahun 2001

          Pada waktu kerusuhan di Sampit meletus awal tahun 2001, usia saya 11 tahun dan sedang duduk di bangku kelas 6 SD. Saya dan keluarga baru sekitar dua tahun tinggal di Sampit. Sebelumnya saya dan keluarga saya tinggal di sebuah kecamatan kecil tidak begitu jauh dari kota Sampit. Saya masih ingat saat kerusuhan terjadi, keadaannya sangat mencekam dan memprihatinkan. Pada waktu itu, sekolah-sekolah harus berhenti sejenak dari kegiatan belajar mengajarnya hingga kerusuhan mereda. Banyak rumah orang Madura yang ditinggalkan pemiliknya di bom dan dijarah oleh penduduk sekitar. Pemiliknya tidak pernah lagi kembali hingga kerusuhan telah mereda. Selain itu, di depan rumah tiap penduduk harus menuliskan nama suku masing-masing dan mengikuti kode sesuai dengan siapa yang sedang berkuasa saat itu. Sempat suku Madura yang berukuasa selama seminggu. Suku Dayak yang ada di Sampit sempat kalah dan mundur ke pedalaman dan memanggil para sesepuh suku Dayak. Saat Madura yang berkuasa, sempat tersiar kabar Sampit ingin dijadikan daerah Sampang ke dua dan akan diadakan pemutihan. Namun hal itu tidak sampai terjadi karena setelah satu minggu, suku Dayak yang ada di pedalaman kembali dengan jumlah massal yang lebih banyak dan menggunakan kemampuan mistik mereka dalam menumbangkan orang-orang Madura.

Saya dan keluarga tinggal di sebuah kompleks perumahan yang baru saja dibuka dan letaknya berada di tengah hutan. Kebanyakan orang masih belum cukup mengenal kompleks tempat saya tinggal karena letaknya yang agak sulit dijangkau bagi orang yang belum benar-benar menjelajahi kota Sampit. Selama berlangsungnya kerusuhan, saya dan keluarga hanya berdiam diri di rumah. Kami juga harus mengirit bahan makanan jika tidak ingin kelaparan . Mencari bahan makanan ke pusat kota Sampit berarti mengorbankan nyawa, karena bisa saja kepala melayang. Saya sudah terbiasa mendengar suara tangisan ibu-ibu yang meratapi terjadinya kerusuhan setiap harinya. Setiap hari kita benar-benar harus waspada menghadapi ancaman kedatangan orang Dayak yang datang melakukan penyisiran ke rumah-rumah untuk menghabisi nyawa orang-orang Madura.

Selama kerusuhan saya tidak pernah pergi kemanapun selain di sekitar rumah. Pada saat itu ibu saya juga sedang mengandung lima bulan adik saya yang terakhir. Saya ingin sekolah lagi, ingin bisa makan enak tanpa dibatasi, tapi tentu saja itu tidak bisa dilakukan karena kerusuhan masih berlangsung dan bahan makanan susah didapat. Menurut cerita yang  saya dengar waktu itu, di pusat kota sudah banyak orang Madura yang dibantai dan kepalanya dibiarkan menggeletak begitu saja. Bahkan yang paling mengerikan tidak terbayangkan oleh saya, otak-otak orang Madura di masuk bersama dengan mie rebus. Saya tidak tahu cerita itu benar atau tidak karena saya tidak pernah melihat secara langsung, saya hanya mendengar cerita itu dari orang-orang di sekitar saya. Saya juga tidak pernah melihat pembantaian orang Madura secara langsung atau melihat kepala orang Madura berserakan, hanya beberapa tetangga saya yang pernah melihatnya.

Mengkritisi terjadinya kerusuhan, saya tidak tahu pasti pangkal penyebab terjadinya kerusuhan. Yang jelas, sebelum  meletus kerusuhan awal tahun 2001, pernah juga ada isu-isu pemicu kerusuhan tahun-tahun sebelumnya namun tidak pernah sampai meledak seperti yang terjadi pada awal tahun 2001 itu. Saya rasa karena pada Orde Baru hal-hal yang berbau SARA tidak diperbolehkan atau cepat bisa diredam sehingga tidak sampai terjadi kerusuhan besar.  Selain itu pula, antara suku Dayak dan Madura maupun suku lainnya sebelum kerusuhan terjadi masih hidup berdampingan dengan rukun dan toleransi. Setahu saya, orang Dayak sangat welcome dengan pendatang. Apalagi suku Dayak dan  suku  Madura pun telah  hidup berdampingan sekian tahun tanpa ada konflik besar yang tidak bisa diatasi dengan damai. Jika tidak karena adanya provokasi oleh golongan tertentu, kerusuhan yang banyak menelan korban jiwa dan kerugian material dan immaterial ini tidak akan terjadi.

Kerusuhan yang terjadi berlangsung tidak begitu lama, hanya dalam hitungan bulan. Kerusuhan antara kedua suku ini akhirnya bisa diselesaikan dengan cara damai setelah melihat jumlah korban jiwa dan kekacauan disana-sini yang terjadi. Banyak pihak-pihak yang tidak bersalah turut menjadi korban sehingga jalan damai pun menjadi alternatif. Terlalu kecil bagi saya memahami kondisi politis pada masa itu, tapi yang saya tahu kerusuhan akhirnya selesai damai. Orang-orang Madura yang berhasil mengungsi keluar Sampit dan terikat kontrak dengan pemerintah setempat atau memiliki keterikatan dengan kota Sampit akhirnya dipulangkan kembali ke Sampit. Cara damai yang ditempuh kedua belah pihak ini merupakan alternatif yang baik agar tercipta toleransi antar suku. Hingga saat ini, orang-orang Madura masih di temukan di Sampit dan sekitarnya. Harapan saya semoga kerusuhan sosial tahun 2001 tidak pernah terjadi lagi dan masyarakatnya bisa hidup rukun, damai, dan tidak mudah terprovokasi.

Referensi :
www.sampitonline.com
www.depdagri.go.id/pages/profil-daerah/kabupaten/id/62/name/kalimantan-tengah/detail/6202/kotawaringin-timur

 

 Rinchi Andika Marry, mahasiswi Ilmu Sejarah Universitas Indonesia ini memiliki nama panggilan yang beragam. Di keluarga ibu di panggil Iin, di keluarga bapak dipanggi Enchik, teman-teman kampus Rinchi. Suka mempelajari bahasa asing terutama Bahasa Inggris, Bahasa Korea, dan Bahasa Mandarin. Punya hobby nulis cerita pendek dan novel. Berharap suatu hari tulisan2nya bisa dimuat di majalah dan novelnya dipublish. Selalu berimajinasi dimanapun berada. 

 

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Menyambut Tamu dengan Piper Betle

Teman-teman punya kakek atau nenek yang hobi nyirih? Atau masih ada keluarga di kampung halaman kalian yang demen mengunyah tanaman unik ini? Jika iya, berarti kalian adalah sedikit dari mereka yang beruntung dapat menyaksikan tradisi berumur ribuan tahun asli bangsa Asia Tenggara!

Eh? Serius nyirih udah berlangsung selama ribuan tahun?

Daun Sirih

Tanaman sirih (Piper betle) dan tradisi mengunyah sirih diperkirakan berasal dari Asia Selatan serta Asia Tenggara. Ada juga yang mengatakan bahwa tradisi ini berawal dari Cina dan India lalu menyebar ke daerah Asia lainnya. Penemuan kotak sirih bersama benda-benda prasejarah seperti pisau besi, mata kail perunggu, gelang, anting-anting berbentuk hewan dan arca di Sulawesi Selatan menandakan bahwa sirih telah dikonsumsi oleh penghuni nusantara sejak Zaman Logam. Saat ini belum ada penemuan resmi yang membuka tabir asal-mula diolahnya sirih dalam peradaban manusia. Akan tetapi, dengan memperhatikan kebudayaan-kebudayaan yang berada di sekitar wilayah penyebaran daun sirih, dapat disimpulkan bahwa tradisi ini telah hidup setua masyarakat itu sendiri.

Di Vietnam, aktifitas mengunyah sirih merupakan “pembuka” dalam setiap forum resmi. Demikian pula di dalam lingkungan adat Melayu. Umumnya sirih dikunyah dengan pinang, kapur, kapulaga ataupun gambir. Di daerah Bengali (India) daun sirih malah biasanya dicampur dengan tobacco atau rempah-rempah lainnya. Istilah sekapur sirih yang kita kenal dalam Bahasa Indonesia sebagai kata pengantar atau sambutan pun lahir dari kebiasaan menyuguhkan daun sirih dan kapur untuk para tetamu.

Daun sirih yang dapat dengan mudah tumbuh di pekarangan rumah, kebun, hutan, atau bahkan di pinggir jalan membuat tanaman ini kosmopolitan bagi masyarakat Asia Tenggara. Dalam film berjudul Yamada The Samurai of Ayutthaya (2010) kita mengetahui bahwa bangsa Thai pun menganggap nyirih sebagai bagian dari kebudayaan klasik mereka. Berlatar zaman Kerajaan Ayuthayya, samurai Jepang bernama Yamada yang terluka ditolong oleh seorang gadis Thailand di sebuah desa kecil. Sambil menunggu lukanya sembuh, Ia diperkenalkan cara untuk mengonsumsi daun sirih (yang disebut sebagai ‘tradisi khas kami’) oleh seorang anak kecil lokal. Kontan saja karena perbedaan kebudayaan antara Jepang dan Thailand Ia merasa tidak nyaman ketika mengunyah sirih untuk pertama kalinya (dan menjadi bahan guyonan anak kecil tadi). Oleh bangsa-bangsa di Asia Tenggara, daun sirih dipercaya memiliki banyak khasiat; mulai dari  menyegarkan napas, membersihkan kotoran di tubuh, hingga sebagai obat perangsang.