Categories
Featured Liputan

Heritage Conservation: Australia Part 1

Sekali lagi, Melbourne dianugerahi predikat sebagai Ranking 1 “The Most Livable City in the World”. Dan belakangan saya ketahui dinobatkan sebagai City of Literature oleh UNESCO pada tahun 2014.

The Iconic Flinders Station di Swanston Street

Kok bisa? Terlepas dari kontroversi dari masyarakat Melbourne sendiri, sebagai pelajar internasional yang telah berdomisili disini selama kurang lebih tiga semester, saya tidak punya banyak hak untuk mengkritik. Tugas utama sih ya pasti belajar, tapi seperti biasa – merantau itu menjanjikan lebih banyak pengalaman. Lebih dari yang bisa kita peroleh di ruang kelas tentunya. Dalam beberapa misi dan minat yang berhubungan dengan tourism & heritage, di Melbourne ini saya belajar banyak mengenai konservasi budaya. Sejujurnya, seringkali menyebabkan kecil hati dan ironis berkepanjangan. Untuk urusan penanganan situs-situs budaya dan sejarah, kota Melbourne sendiri perlu diacungi empat jempol.

Secara historis, tidak banyak variasi yang bisa ditawarkan oleh pemerintah Australia kepada wisatawan mancanegara. Australia cukup terkenal dengan kondisi geografinya yang unik meskipun bisa dibilang terlalu kering bagi orang-orang yang terbiasa hidup di wilayah tropis. Bagian utara yang berseberangan dengan Indonesia dan tengah benua menawarkan tur-tur gurun untuk mengeksplor lebih banyak kebudayaan asli Aborigin atau jenis-jenis fauna liar dan buas; mulai dari jenis kadal, hingga buaya air asin. Sementara bagian selatan Australia lebih cocok bagi mereka yang ingin merasakan empat musim secara berkala. Sangat jelas kelihatan, pemerintah Australia memeras otak untuk mempromosikan negaranya sebagai alternatif utama liburan bagi siapa saja – dan berhasil.

Tidak seperti kota-kota lain di Australia, hampir semua mahasiswa Indonesia berpendapat bahwa walaupun cuacanya terlampau labil, namun dari segi tata kota dan transportasi publik, Melbourne-lah yang paling nyaman untuk dihuni. Untuk mahasiswa beasiswa yang perhitungan seperti kami, Melbourne adalah surga jalan-jalan. Disini sebagian besar Museum, perpustakaan, galeri nasional, dan taman dapat dikunjungi secara gratis. Ya, Gratis! Entah berapa miliar anggaran daerah yang berani digelontorkan untuk biaya perawatan spot-spot heritage seperti itu. Tapi yang jelas, tanpa program konservasi heritage dan festival, mungkin Melbourne tidak akan pernah seramai sekarang. Kota ini tidak pernah sepi dari ratusan program entertainment tiga bulan sekali. Bahkan di saat-saat tertentu, kami merayakan momen dimana gedung-gedung bersejarah dibuka untuk pengunjung umum seperti pada Australian Day dan Australian Open Day.

Perpustakaan Gedung Parlemen

Ketjeh!

Kebanyakan gedung bersejarah di kota Melbourne masih difungsikan seperti biasa. Meski beberapa telah diambil alih oleh perusahaan-perusahaan komersil seperti pusat perbelanjaan, tapi disini pemerintah Kota Melbourne membuktikan bahwa mereka mengawasi ketat masalah pemeliharaan dan hak milik dari gedung-gedung tersebut. Tentu saja, disini pemerintah dan warganya sama-sama berkomitmen untuk mengembangkan kota. Tidak hanya secara sepihak loh ya. Pemerintah senantiasa mengedukasi masyarakat Melbourne mengenai value dari bangunan bersejarah. Tanpa eksplorasi budaya dan sejarah yang cukup kontroversi itu Australia hanyalah negara biasa yang bergantung pada hasil alam yang juga tidak seberapa banyak. Ketika persediaan emas sudah habis, orang-orang Australia telah mengamankan kota dengan cara mengadakan hiburan komersil maupun non-komersil bagi para wisatawan. Apalagi dengan diakuinya universitas-universitas Australia sebagai institusi pendidikan kelas dunia, membuat seolah gelombang pengunjung yang datang dan pergi di Melbourne (mahasiswa, papa mamanya mahasiswa, dan teman-teman sekampungnya mahasiswa) tidak pernah berhenti. Setiap hari berasa libur. Singkat kata mah, bikinlah orang-orang betah tinggal di Melbourne!

 

bersambung…

Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba

Menggambar Kenangan Lewat Lukisan

Sore itu, mungkin jadi salah satu sore yang paling sibuk di Makassar. Padatnya arus lalu lintas di setiap ruas-ruas jalan, membuat saya harus berkonsentrasi penuh mengemudikan motor di antara berpuluh-puluh jenis kendaraan lainnya. Namun kami sudah mengatur jadwal, akan bertemu dengan Seorang Pelukis Tanah Liat, bahkan mungkin masih satu-satunya di Dunia.

Salah satu Lukisan Kilat Daeng Beta

Sepulang dari Fort Rotterdam, walau dehidrasi menyerang badan, memaksa bulir-bulir keringat jatuh dengan tak acuh, akhirnya saya dan Wulan, tiba di Hotel Clarion. Kebetulan memang ada pameran busana muslimah. Kami heran juga, apakah Daeng juga memiliki usaha butik selain profesinya melukis? Ya sudahlah, yang jelas kami hanya ingin bertemu dengan Zainal Beta, yang juga sekaligus membimbing beberapa komunitas Seni Rupa di Makassar. Salah satunya adalah Indonesia’s Sketcher. Kami ingin berbincang sebentar, mengundang beliau untuk menjadi pembicara Heritage Camp Agustus besok.

Karena bingung, di mana kah gerangan mencari stand Daeng Beta, walaupun sudah menelepon dan diminta mencari stand lukisan, kami yang sempat berputar-putar di area pameran, akhirnya menyerah dan bertanya pada Petugas Karcis masuk, “Oh, itu Dek. Ada ki di nomor 7, di samping panggung.”

Walahh, kami tak berpikir sejauh itu. Maklum, saat masuk, di panggung sendiri sedang diadakan bincang-bincang dengan Puput Melati, walhasil penontonnya yang mayoritas terdiri dari kaum ibu-ibu langsung memadati area sekitar panggung. Kami pun masuk lagi, lewat jalan samping, dan seketika saya berujar pada Wulan, “Itu e! Deh, sangar ya tampangnya.”

Tapi mau tak mau saya harus menyapa. Dan apa yang terjadi? Ohlala, Daeng Beta ternyata SRS. Sungguh Ramah Sekali. Di antara stand-stand busana muslimah trendi lainnya, lukisan-lukisan tanah liat milik Daeng Beta mirip sebuah gerobak es buah : menyegarkan!

Baru kali ini saya berkesempatan melihat langsung hasil lukisan tanah liat itu. Kami tak hentinya berdecak kagum, apalagi sambil ngobrol dengan Sang Maestro yang memulai karya-karyanya ini pada tahun 80-an.

Daeng Beta, hingga hari ini, masih menggunakan tanah liat asli dari Indonesia. Walau lukisan-lukisannya sudah bertaraf Internasional, bahkan sudah ditawari untuk tinggal di Amerika, beliau memutuskan untuk tetap tinggal disini. Sambil menekuni profesi dan mendidik siapa pun yang mau belajar melukis di studio miliknya di  Gedung G Fort Rotterdam.

“Salah satu yang paling berkesan hingga hari ini, adalah ketika Affandy, yang kalo Presiden saja mau bertemu dengannya – pun dia tolak, mencari saya pada tahun 1986. Dia (Affandy) kaget mengetahui usia saya pada saat itu masih 26 tahun. Hingga saat ini, dia Profesor, saya masih Doktor. Hahahaha…” kenangnya dengan raut wajah gembira. Kami yang tadinya hanya ingin mengundang, entah tiba-tiba berubah penasaran. Jadi kepo. Ingin tahu ini itu tentang Daeng Beta dan karya-karyanya.

Berapa lama Daeng Beta mengerjakan sebuah lukisan? Beliau malah bertanya balik, “Mau coba tidak? Satu lukisan kecil begini dua menit saja. Kalau yang rumit, sekitar sejam dua jam.” Ia pun mengeluarkan alat-alat sederhananya.

Peralatan sederhana Daeng Beta

“Tanah liat ini diolah selama 3 bulan. Ya, supaya tidak kotor lagi dan juga tidak berbau. Tapi karakter tanah liat itu sendiri sudah berbeda-beda.” Kami memang mendapati tanah liat itu masing-masing memiliki tingkat warna yang tidak sama. Ada yang cokelat, ada yang kemerah-merahan. Ada yang agak kuning. Tapi semuanya sudah lunak seperti cat poster.

“Ini apa Daeng? Bambu kah?” Saya menunjuk sebuah alat yang mirip dengan pisau cutter. “Oh iya, ini memang bambu. Nanti kamu bisa melihat kegunaan bambu-bambu ini.” Terangnya sabar.

Tanpa saya sadari, beberapa pengunjung lain berdatangan ke stand Daeng Beta, ikut menyaksikan demo lukis yang sungguh sebentar sekali itu. Mereka pun terpancing untuk ikut bertanya, “Wah, lukisan Bapak bagus sekali. Seni itu memang mahal ya…” Daeng Beta hanya menjawab, “Iya.. Kalau mau dibilang mahal, ya mahal. Kalau mau dibilang murah, ya murah juga. Semuanya relatif. Hahahaha..”

Jika melihat lukisan-lukisan Daeng yang memang bernuansakan pedesaan dan kehidupan nelayan di laut, memang itulah salah satu gaya andalan Pelukis berperawakan kecil tapi lincah ini. “Ya, dulu kan banyak sawah. Bahkan tanah yang kita injak ini dulunya sawah. Ada kerbau, anak-anak bermain, perahu-perahu tradisional. Tapi semuanya digantikan sama gedung-gedung tinggi. Saya memang suka menggambar pemandangan, kalau susah itu seperti menggambar wajah. Bisa makan waktu 3 hari karena bukan mirip lagi, tapi memang harus mirip! Hahaha…” Daeng Beta memang gemar tertawa. Hahaha…

Kini keahliannya banyak turun kepada generasi yang lebih muda. Kepada anak-anaknya, kepada muridnya. Daeng Beta bertutur panjang tentang pentingnya regenerasi. “Nanti beberapa tahun lagi, akan banyak seperti ini. Variasi semakin berkembang, hanya saja, perlu untuk mencari satu hal yang bisa ditonjolkan. Budaya itu salah satunya.”

Kami menutup dialog hari itu dengan saling bertukar kartu nama. Wah, rasanya tidak sabar menggelar workshop melukis tanah liat kepada peserta-peserta Heritage Camp. Supaya semakin banyak yang tahu, bahwa melestarikan kearifan lokal itu tidak melulu membosankan.

Categories
Galigo Gallery Photos

WHD Makassar 2014

Klik untuk memperbesar gambar

Kali ini Lontara Project Chapter Makassar bekerjasama dengan Museum Kota mengagas sebuah acara bertemakan jaman dulu untuk dinikmati seluruh warga yang tinggal di sekitar kota Makassar.

Dibantu oleh beberapa komunitas lain, WHD Makassar akan dilaksanakan pada tanggal 18 April 2014, bertempat di Museum Kota Makassar.

Bagi yang berminat hadir, jangan lupa menggunakan atribut yang telah ditentukan. Bagi yang ingin bergabung, silahkan hubungi @Jiecess 🙂

Tiada kesan tanpa kehadiranmu…