Sobat Lontara, beberapa waktu yang lalu kawan kita Wilda Yanti Salam meluncurkan buku pertamanya yang berjudul “Kisah Kasih dari Dapur”. Buku yang diterbitkan oleh Penerbit Partikular ini berisi kumpulan cerita pendek yang penulisnya dapatkan selama bertualang menjelajah narasi dapur di Sulawesi Selatan. Ditulis dengan bahasa yang ringan namun kaya akan informasi, Kisah Kasih dari Dapur menawarkan perspektif baru dalam memaknai kuliner lokal di tengah zaman yang semakin global ini.
Kisah Kasih dari Dapur – Wilda Yanti Salam (2024)
“Kisah Kasih dari Dapur” oleh Wilda Yanti Salam
Kisah Kasih dari Dapur adalah kumpulan esai yang menjadikan dapur sebagai jendela untuk memahami dunia di luar sekadar makanan. Dalam buku ini, makanan tidak hanya dilihat sebagai sesuatu yang dikonsumsi, tetapi juga sebagai cerminan dari dinamika sosial, politik, dan budaya yang membentuk kehidupan kita. Lewat berbagai kisah kuliner, kita diajak memahami bahwa makanan bukan cuma soal kenyang atau enak di lidah. Ada jejak sejarah di dalamnya, ada hubungan kekuasaan, ada ekonomi, ada tradisi yang diwariskan turun-temurun.
Acara peluncuran buku “Kisah Kasih dari Dapur” di Nipah Mall, Makassar (24 Mei 2024). Menghadirkan Yulianti Tanyadji sebagai penanggap diskusi dan Louie Buana sebagai moderator.
Salah satu cerita menarik dalam buku ini adalah tentang nasi, makanan pokok yang punya makna mendalam bagi orang Bugis. Dalam mitologi mereka, padi bukan sekadar tanaman, tapi jelmaan seorang anak. Konon, Batara Guru—tokoh penting dalam naskah La Galigo—memiliki seorang anak bernama We Oddang Riuq yang meninggal saat masih bayi. Tiga hari setelah dikuburkan, di atas makamnya tumbuh tanaman berwarna-warni. Batara Guru pun bertanya pada Datu Patoto’E, yang menjelaskan bahwa itu adalah Sangiang Serri, anaknya yang menjelma menjadi padi. Cerita ini menggambarkan betapa padi punya nilai lebih dari sekadar bahan makanan. Bahkan, kata serri’ sendiri berarti “rumput liar,” mengingatkan kita bahwa padi dulu belum dibudidayakan seperti sekarang.
Buku karya Wilda ini dapat kamu pesan di Penerbit Partikular melalui link berikut. Selamat membaca!
Sabtu, 24 Februari 2024, Lontara Project berduka. Hari itu, kawan kami, salah satu dari empat pendiri awal Lontara Project (link) meninggal dunia.
Setia Negara Budiman Tjaru (33 tahun), kerap disapa Setia atau Ega menghembuskan nafas terakhirnya di Bandung, Jawa Barat. Alumni SMA Negeri 5 Makassar yang pernah menjabat sebagai ketua organisasi Palang Merah Remaja (2006-2007) ini melanjutkan pendidikannya di ITB. Sejak ia lulus hingga tahun 2024, Setia lebih banyak berkecimpung di bidang teknologi. Selama berkuliah di ITB, ia pernah bergabung di Unit Kesenian Sulawesi Selatan (UKSS). Jauh dari Makassar ternyata membuatnya tergerak untuk memperkenalkan kultur asal kampung halamannya tersebut. Setia merasa bahwa narasi-narasi mengenai Sulawesi Selatan (baik orang-orangnya, makanannya maupun budayanya) amat jarang diketahui oleh masyarakat Pulau Jawa. Latarbelakangnya di bidang teknologi membuat Setia pernah memiliki ide untuk menciptakan game yang terinspirasi dari kebudayaan Sulawesi Selatan. Motivasi inilah yang kemudian mempertemukannya dengan Maharani Budi, Fitria Sudirman dan Louie Buana untuk menggagas komunitas Lontara Project di tahun 2011. Maka, sejak itulah ayah dari satu putri ini didaulat sebagai penanggung jawab utama web Lontara Project.
Bagi kami, Setia adalah kawan yang baik dan menyenangkan. Ia selalu punya ide-ide yang unik. Tak jarang gurauan-gurauan dan keusilan-keusilannya membuat kami geleng-geleng kepala. Namun kami tahu persis bahwa hatinya sungguh tulus. Kepergiannya yang begitu cepat ini membuat kami sangat terpukul. Kami mendoakan dari lubuk hati yang terdalam agar keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan keikhlasan. Dengan penuh rasa haru, kami melepaskan Setia pada pelayaran kembali kepada-Nya. Pelayaran ke Negeri yang Kekal, kembali kepada Sang Pemilik Hidup.
Setia akan terus hidup bersama kami dalam kenangan-kenangan indah di Lontara Project, selama-lamanya.
“Labuq tongengngaq ri sélingéreng bulo katikku.” (Sungguh, kehilangan daku akan saudara seketurunanku) – NBG 188, Vol. 1.
Senin, 11 Desember 2023 hujan turun seharian membasahi Makassar. Kemacetan lalu lintas dan genangan air di jalan-jalan berlubang kembali bermunculan, menandakan kota ini telah memasuki musim penghujan. Hari itu kawan-kawan di Kampung Buku sedang sibuk menyiapkan sesuatu yang spektakuler. Selepas maghrib, mereka akan membidani lahirnya sebuah karya yang tidak saja memperkaya khazanah literasi lokal namun juga menjembatani pemahaman lintas budaya tentang bahasa.
Andi Makkuraga nama panggilannya. Lahir di Makassar. Tinggi sekitar 2 meter. Saat ia memasuki Kampung Buku dan melepas helm merahnya, yang nampak adalah seorang pria berperawakan Kaukasia. Namun begitu ia menyalami kami yang telah menunggunya sepanjang sore itu satu per satu, dari lidahnya mengalun Bahasa Bugis berlogat Soppéng.
Pria yang punya nama lahir Douglas Laskowske ini adalah seorang peneliti bahasa dari University of North Dakota. Kecakapan Douglas berbahasa Bugis ia peroleh ketika melakukan riset lapangan di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Fokus studinya memang Bahasa Bugis yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat penutur asli, sehingga mau tak mau ia pun juga harus menguasainya. Bahasa Indonesianya? Jelas ia fasih sekali. Bahasa Inggrisnya? Well, meskipun seorang native speaker berkebangsaan Amerika Serikat, ia mengaku sejak tinggal di Sulawesi Selatan selama 10 tahun ini ia lebih mahir bercakap dalam Basa Ogiq ketimbang English. Hasil penelitian selama bertahun-tahun itulah yang kemudian ia kumpulkan dan kembangkan sehingga menjadi sebuah kamus trilingual Bugis-Inggris-Indonesia pertama di dunia.
Ayahnya yang juga seorang linguist adalah orang yang bertanggung jawab dalam menularkan rasa cinta Douglas terhadap bahasa-bahasa di Sulawesi Selatan. Bagaimana tidak, ayah Douglas, Thomas Laskowske, dulunya pernah menghabiskan waktu bertahun-tahun di pedalaman Luwu utara untuk mempelajari Bahasa Seko Padang. Saat itu, Thomas harus berjuang dengan berjalan kaki ataupun menggunakan moda transportasi seperti kuda dan motor dari kota Masamba menuju ke pemukiman warga Seko Padang yang terpencil. Jerih payah Thomas membuahkan hasil saat akhirnya ia berhasil menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru ke Bahasa Seko Padang. Perjuangan sang ayah menginspirasi sang anak untuk menjadi seorang ahli bahasa di kemudian hari.
Acara launching Kamus Bugis-Inggris-Indonesia di Kampung Buku, Makassar. Menghadirkan Douglas Laskowske sebagai pencipta kamus, Azizi Aprilyah sebagai moderator, serta Anwar Jimpe Rachman mewakili penerbit Ininnawa.
Menurut Douglas, Bahasa Bugis adalah bahasa yang istimewa. Bahasa Bugis merupakan bahasa berpenutur terbanyak di kawasan Indonesia Timur. Mengapa? Sebab orang Bugis gemar merantau. Mereka banyak bermukim di luar pulau Sulawesi, terutama di Kalimantan, Nusa Tenggara dan Papua. Seiring dengan berpindahnya masyarakat Bugis ke kantong-kantong diasporanya, mengikut pula bahasanya, meskipun kebanyakan hanya dituturkan di lingkungan keluarga atau komunitasnya sendiri.
Terdapat kurang lebih 10 macam dialek dalam Bahasa Bugis yang masing-masing memiliki keunikan kosakata dan pengucapan. Dalam hal ini, Douglas memilih untuk mengeksplorasi dialek Soppeng sebab menurutnya dialek tersebut dianggap yang paling ‘netral’, sehingga dapat dipahami oleh beragam masyarakat Bugis di daerah-daerah lainnya. Hal ini tidak terlepas dari faktor geografis Soppeng yang terletak di tengah-tengah kawasan berpenutur Bahasa Bugis.
Kamus Douglas bukan lah kamus Bahasa Bugis pertama di dunia. Pada tahun 1874, B.F. Matthes yang merupakan seorang ahli bahasa dari Leiden pernah menerbitkan Boegineesche-Hollandsch woordenboek atau kamus Bahasa Bugis-Belanda. Namun sejatinya sebelum Matthes, C.H. Thomsen sudah pernah menerbitkan sebuah kamus kecil Bahasa Bugis-Inggris yang termuat dalam buku berjudul “A Code of Bugis Maritime Laws” (Mission Press: 1832) di Singapura. M. Ide Said juga pernah menerbitkan “Kamus Bahasa Bugis-Indonesia” pada tahun 1977. Douglas bahkan mengaku bahwa ia mengambil banyak inspirasi dari karya Rafiuddin Nur “Aku Bangga Berbahasa Bugis, Bahasa Bugis dari ka sampai ha” (Rumah Ide: 2008). Namun demikian, kamus Douglas ini menjadi kontribusi yang luarbiasa terutama bagi kawan-kawan pemula yang berminat untuk belajar Bahasa Bugis. Kehadiran tiga bahasa di kamus ini memperluas pengetahuan penggunanya akan keragaman kata dan makna di tiga kebudayaan yang berbeda.
Acara launching kamus trilingual Douglas pada malam hari itu berlangsung dengan penuh suka-cita dan tawa. Tidak lama setelah diskusi berakhir, selayaknya sebuah jumpa fans, Douglas dikerubungi oleh penonton yang meminta untuk menandatangani kamus karyanya tersebut atau sekedar untuk meminta foto. Bagi kawan-kawan yang berminat, Kamus Bahasa Bugis-Inggris-Indonesia ini dapat dipesan di Kampung Buku, l. Abdullah Daeng Sirua No.192 E, Pandang, Kec. Panakkukang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90231 (Nomor telepon: +6281354653603).