Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba Old Stuff Good Stuff

Makanan dan Tradisi Perjamuan dalam Epos La Galigo

Sobat Lontara, pada tanggal 27 Maret 2026 silam, untuk pertama kalinya diadakan sebuah acara bertajuk Indonesian Food Outside Indonesia Symposium di kota Leiden. Acara yang terselenggarakan oleh kolaborasi antara Stichting Eating Habits bersama Indonesian Diaspora Network Global dan KITLV ini bertujuan untuk menjadi wadah bagi diaspora Indonesia di luar negeri saling bertukar gagasan serta pengalaman mempromosikan kuliner Indonesia di kancah mancanegara. Panelis-panelis yang diundang sudah pasti berkaliber pada bidangnya, mereka merupakan orang-orang Indonesia/keturunan Indonesia yang memiliki bisnis restoran, penulis buku-buku resep masakan, hingga influencer kuliner dari berbagai pelosok benua Eropa dan Amerika.

Nah, ngomong-omong soal makanan, tahu kah kamu bahwa epos La Galigo yang didapuk sebagai karya sastra terpanjang di dunia itu juga merekam tradisi kuliner dan bahkan adab dalam menghidangkan makanan? Simak ceritanya di artikel ini yuk!

Bananas, goiaba e outras frutas, Albert Eckhout (17th century)

Epos La Galigo menyiratkan bahwa tradisi menjamu tamu dengan makanan telah eksis bahkan sebelum Dunia Tengah diisi oleh manusia. Hal ini nampak pada episode “Mula Taué” (Permulaan Manusia) yang bercerita tentang persiapan para dewata untuk menurunkan Batara Guru La Togeq Langiq sebagai manusia pertama di muka bumi. Demi membahas detail prosedur peristiwa yang maha-penting ini, Datu Patotoé selaku penguasa tertinggi Boting Langiq (Dunia Atas) sekaligus ayah Batara Guru mengundang saudarinya, Sinaung Toja, yang bertakhta sebagai penguasa di Toddang Toja (Dunia Bawah) bersama sang suami, Opu Samudda, untuk naik ke atas langit menghadiri rapat besar. Dalam master plan Datu Patotoé, nantinya Batara Guru akan ditemani pula oleh Wé Nyiliq Timoq, putri sulung pasangan Sinaung Toja dan Opu Samudda, sebagai pasangan suami-istri pertama di Dunia Tengah.

Nah, dalam perjalanan rombongan Sinaung Toja yang tak terbilang jumlahnya dari dasar samudera menuju ke Boting Langiq melalui sebuah jembatan pelangi, mereka melewati negeri-negeri langit yang diperintah oleh anak-anak Datu Patotoé lainnya. Salah satunya adalah negeri Léténg Riuq yang dipimpin oleh Balassa Riuq, Sang Penyabung Petir. Ketika melihat rombongan bibinya dari Toddang Toja itu melewati istananya, maka selaku keponakan yang baik, Balassa Riuq bergegas menyambut dan mengundang Sinaung Toja untuk makan siang.

Sompa makkeda Balassa Riuq, “Léppang ko mai, Puang Ponratu, majjelleq tikkaq ri jajaremmu, tasitinroq pa ménréq manaiq ri Boting Langiq, apaq nadapiq maneng kkeng obiq.” Mabbali ada Sinaung Toja, “Kerruq jiwamu, Anaq Ponratu, lé tellépang ngaq, Anaq, majjelleq ri langkanamu, apaq mabéla mua pa ronnang ri Rualletté, lé nadapiq ni tanra tikkaqna ncajiangngé kko.”

(Menyembah sambil berkata Balassa Riuq,

“Mampirlah kemari, Puang-ku, makan siang di balairungmu, nanti kita beriring jalan naik ke Boting Langiq, sebab kami pun mendapat panggilan (dari Datu Patotoé).”

Menjawab Sinaung Toja,

“Kur jiwamu, Paduka Anakanda. Aku tidak singgah makan siang di istanamu karena masih jauh nian Rualetté (istana Datu Patotoé), telah tiba pula hari yang ditetapkan oleh orang tuanmu.”)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 1, Leiden University Library

Undangan makan siang dari Balassa Riuq tersebut adalah sebuah gambaran adat-istiadat yang hingga hari ini masih berlaku di tengah masyarakat Bugis. Menjamu tamu adalah suatu keharusan, tindakan ini tidak hanya menunjukkan keramah-tamahan namun juga tingginya adab seseorang selaku tuan rumah kepada tetamu yang memasuki rumahnya. Sikap Balassa Riuq ini adalah manifestasi dari nilai sipakalebbiq (saling memuliakan) yang juga nampak dari pepatah Bugis “Macca duppa to polé, panguju to lao” (pandai dalam menerima tamu serta membekali ia yang bepergian).

Dalam perjalanan hingga ke langit lapis kesembilan tempat istana Rualetté berada, Sinaung Toja dan suaminya terus mendapatkan undangan makan siang dari keponakan-keponakan mereka, namun seluruhnya ditolak. Nantinya, setelah rombongan Toddang Toja tiba di Rualetté, barulah ia berkenan untuk makan bersama sang kakak, Datu Patotoé. Tindakan Sinaung Toja dalam menolak tawaran-tawaran jamuan dari keponakan-keponakannya itu sejatinya adalah bentuk penghormatan kepada kakaknya sebagai pihak yang mengundang. Ia tidak ingin mengecewakan Datu Patotoé, apabila jika ternyata kedatangannya jadi terlambat karena menerima seluruh ajakan makan siang dari Balassa Riuq bersaudara. Nampak bahwa undangan untuk makan bukan sekadar ajakan untuk mengisi perut semata, namun punya arti yang begitu mendalam terkait tata krama!

Makanan Dewata v. Makanan Manusia

Salah satu aspek menarik terkait kuliner di dalam cerita-cerita La Galigo adalah dibedakannya makanan ke dalam dua kategori, yaitu makanan yang khusus disajikan kepada dewata serta makanan yang dikonsumsi oleh manusia. Pembedaan dua jenis makanan ini berkaitan erat dengan kepercayaan leluhur di zaman dahulu bahwa kehidupan kita sehari-hari senantiasa tak terpisahkan dari ritual-ritual yang menghubungkan manusia dengan roh-roh nenek moyang. Di La Galigo, makanan yang dikonsumsi oleh para dewata di Boting Langiq kerap dijuluki pula dengan istilah ‘makanan orang Senrijawa yang tidak dipanggang di atas api.’ Senrijawa dalam konteks ini adalah istilah pars pro toto yang merujuk kepada seluruh kerajaan langit tempat para dewata bermukim. Nah, berbeda dengan makanan manusia yang harus diolah terlebih dahulu seperti dipanggang, maka makanan para dewata ini sudah tersaji dengan sempurna tanpa perlu diproses. Teknik memanggang makanan (ritunuang) menariknya adalah cara memasak paling awal yang manusia praktekkan di dalam epos ini.

Di Dunia Tengah, manusia pun juga memberikan sajian kepada para dewata sebagai bagian dari ritual. Umumnya, makanan dewata ini adalah makanan yang dapat dikonsumsi pula oleh manusia, namun pada saat ritual tengah berlangsung, makanan-makanan tersebut terlarang bagi mereka. Sebagai makanan yang dipersembahkan kepada dewata, tentu saja kualitas yang disajikan adalah yang terbaik. Daging kerbau menjadi pilihan utama yang kerap dipersembahkan dalam upacara-upacara adat maupun ritual-ritual untuk menyenangkan hati dewata. Disebutkan bahwa daging tédong camara (kerbau hitam dengan warna putih pada ubun-ubunnya) yang dipanggang adalah sajian terbaik untuk dipersembahkan kepada mereka. Tak heran jika kemudian ada banyak sekali adegan di epos La Galigo yang menampilkan bagaimana ratusan ekor kerbau jenis ini dikurbankan sebagai tanda melunasi nazar tertentu. Contohnya, saat Wé Nyiliq Timoq menderita di tengah persalinan melahirkan putra pertamanya, maka diadakan lah ritual doa memohon kemudahan kepada Datu Patotoé sekaligus pengurbanan kerbau-kerbau tersebut.

“Jaji o mai céro datué, natuo ina, natuo anaq, lé nasiwakkang lempuq datué ri jajianna. Lé nanre mua lé déwataé tédong camara tebbanna keti mattanruq kati ri alakkéreng lé potto buneq. Tekkuassengngen esso madécéng tikkaq mawajiq, kupaléssoq i samaja tédong jawi tinio sungeq datunna datu anriku.”

(“Lahirlah engkau kemari darah bangsawan, biar hidup ibu, hidup anak, agar sepangkuan jualah datu dengan anaknya. Kiranya dewata menerima kerbau cemara bertanduk emas yang seketi banyaknya, becocokkan hidung gelang emas. Tak kupeduli siang ataupun matahari terbit, kusembahkan nazar kerbau pembela jiwa kehidupan Sri Paduka ratu adinda.”)

Lantas, apa yang dimakan oleh manusia? Nah, masih di episode “Mula Tau”, dikisahkan bahwa ketika Batara Guru dan istrinya, Wé Nyiliq Timoq, masih awam selaku penghuni baru di Dunia Tengah, mereka memperhatikan alam di sekeliling mereka untuk menemukan makanan. Di salah satu kesempatan, Wé Nyiliq Timoq melihat beberapa ekor burung tengah menikmati suatu buah dengan lahapnya.

Ngkiling makkeda Wé Nyiliq Timoq, “Aré ga sia mennang ri awa lé maridié? Malampéq-lampéq mua lamana, napoinanré lé manuq-manuq tesserupaé.” Mabbali ada Batara Guru, “Ia na ro, Anri, riaseng lé utti tasaq.”

(Berpaling sembari berkata Wé Nyiliq Timoq:

“Apa gerangan di bawah sana, yang berwarna kuning? Agak panjang daunnya, menjadi makanan aneka macam burung.”

Batara Guru menjawab:

“Itulah, Adinda, yang dikatakan pisang masak.”)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 1, Leiden University Library

Ketika mengetahui bahwa burung-burung tersebut tidak mati keracunan setelah mengonsumsi pisang, maka Wé Nyiliq Timoq pun meminta untuk diambilkan buah itu sebagai makanan pertamanya di Dunia Tengah. Kejadian serupa terjadi beberapa kali: setelah melakukan observasi terhadap apa saja yang dimakan oleh para binatang di hutan, Wé Nyiliq Timor dan suaminya berhasil mengumpulkan beragam jenis makanan alami seperti biji-bijian, buah-buahan dan juga sayur-sayuran. Demikian lah epos La Galigo merekam bagaimana leluhur kita pertama kali menikmati makanan, eating by learning. Di adegan lain dari episode ini, Datu Patotoé juga menganugerahi pasangan suami istri ini dengan pangan seperti wetteng (jewawut) dan bataq (jagung) yang diturunkan dari langit. Apabila jewawut adalah tanaman pangan asli yang tumbuh di Kepulauan Nusantara, maka menarik untuk dicatat bagaimana epos ini juga menyertakan jagung yang sejatinya berasal dari Benua Amerika dan dikenal di tanah air seiring dengan kedatangan bangsa Eropa di abad ke-16 sebagai salah satu sumber pangan Batara Guru! Hal ini mencerminkan lapisan penulisan La Galigo yang lebih kemudian, ketika jagung telah dikenal luas di Nusantara. Nantinya setelah kelahiran salah seorang putri Batara Guru yang bernama Sangiang Serri Wé Oddang Riuq, barulah umat manusia di Dunia Tengah juga mengenal padi sebagai makanan utama mereka.

Eating Manners ala La Galigo

Etiket atau tata cara makan yang baik juga telah dikenal sejak zaman La Galigo. Ada banyak adegan-adegan yang menggambarkan perjamuan di epos ini. Bagaimana urutan-urutan untuk menghidangkan makanan, cara menyantap sajian, hingga membersihkan tangan dan mulut, semuanya digambarkan dengan detail. Berikut ini cuplikannya:

lé tessitengnga siworengngé narisolongi, lé temmairung liseq rakkié naritodongi, nawekka pitu timpuq nasoroq Manurungngé mallaibini, Wé Datu Sengngeng massapo siseng, ripaccingiang ronnang parimeng tettincarinna, makkaci sumpang mpali timmomoq, ritanréréang méraq naota, ripaddampeng ni siworengngé, ripasoroq ni tolong rakkileq ajjellerenna, to ritaroé tuneq ri lino

(Belum habis separuh gelas minuman itu diisi lagi,

belum berkurang isi baki ditambah lagi.

Hanya tujuh kali menyuap Manurungngé suami istri sudah berhenti,

begitu pun Wé Datu Sengngeng bersepupu sekali.

Jari tangan mereka dibersihkan kembali,

lalu berkumur-kumur, disuguhi sirih lalu menyirih.

Gelas-gelas telah dikembalikan,

dibereskan pula bakul kemilau tempat makanan

orang yang dijadikan tunas di bumi)

Naskah La Galigo NBG 188 Jilid 3, Leiden University Library

Dari potongan bait di atas, nampak bahwa dalam menghidangkan santapan penting sekali bagi tuan rumah untuk memastikan gelas dan piring tamu yang ia jamu tidaklah kosong. Menambahkan minuman dan makanan sebelum habis adalah kewajiban. Tradisi ini masih berlaku di kalangan masyarakat Bugis abad ke-21 lho, dimana pada umumnya tamu diharapkan oleh tuan rumah untuk terus menambah makananannya! Hal ini menandakan kemurahan hati si penjamu sekaligus gestur sipakalebbiq untuk memuliakan tamunya.

Uniknya, La Galigo juga menyebutkan bahwa cara makan yang baik adalah dengan membagi porsinya menjadi tujuh suapan. Sepintas, kelihatannya sedikit banget ya makannya. Namun, di balik itu, ternyata ada pesan yang lebih mendalam. Tujuh suapan menyimbolkan kontrol seseorang untuk tidak makan secara berlebihan. Dengan jumlah suapan yang terkendali, mengunyah pun jadi lebih baik. Tidak hanya hidangan dapat dinikmati dengan lebih tenang, mengunyah lebih lama memberi waktu bagi otak untuk menerima sinyal kenyang, serta mengurangi risiko perut kembung, mual, dan asam lambung naik. Tubuh juga jadi lebih mudah menyerap nutrisi dari makanan yang sudah halus. Secara filosofis, angka tujuh dalam kebudayaan Bugis juga dianggap natujuangngi dalléq yang berarti mencapai rezeki. Dengan demikian, tujuh suapan adalah perlambang dari pemenuhan kebaikan pada diri seseorang dengan takaran yang cukup.

Setelah selesai makan, maka sang tamu akan disajikan mangkuk kecil berisi air untuk membersihkan tangannya. Ya, pada masa itu, belum dikenal alat makan seperti sendok dan garpu sehingga untuk menyuapkan makanan ke mulut harus menggunakan tangan. Setelah membersihkan jari-jemari, maka sang tamu akan berkumur-kumur terlebih dahulu, menghilangkan sisa-sisa makanan yang menempel di gigi. Sang tamu lalu disuguhkan daun sirih yang kemudian dikunyah untuk menghilangkan bau mulut serta mencegah gigi berlubang. Di zaman ketika tidak ada sikat dan pasta gigi, menyirih adalah tradisi adat yang, selain fungsi sosialnya, ternyata juga punya fungsi menjaga kesehatan mulut. Betapa mengagumkannya tradisi perjamuan dalam epos ini, detail higienitas juga diperhatikan!

Jejak Kuliner Diaspora Sulawesi Selatan

Gambar perahu Palari asal Sulawesi Selatan pada uang Dollar Singapura

Kembali ke cerita soal diaspora, tahu kah kamu bahwa seiring dengan bermigrasinya masyarakat Bugis-Makassar-Mandar ke Semenanjung Melayu, berlayar pula sebagian resep kuliner dari tanah Sulawesi bersama mereka? Fenomena tersebut bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari dinamika sosial: makanan adalah identitas yang menjadi pengikat komunitas dimanapun mereka berada. Maka, jangan heran jika kawan-kawan keturunan Bugis di Malaysia ataupun Singapura juga menganggap makanan-makanan khas Sulawesi Selatan sebagai warisan kebudayaan mereka.

Di negeri Johor, Malaysia, hingga hari ini kita masih dapat menemukan makanan Bugis seperti buras. Buras atau burasak yang berbahan dasar beras dan santan itu menjadi makanan khas masyarakat Johor keturunan Bugis tiap hari raya Idul Fitri dan Idul Adha. Menurut keterangan dari situs Gerbang Informasi Seni dan Budaya Malaysia, burasak telah menjadi makanan pokok orang Bugis yang menetap di Semenanjung Melayu sejak abad ke-16, diperkenalkan dari Kepulauan Sulawesi di Indonesia. Hidangan ini adalah sajian yang disukai para pedagang Bugis selama pelayaran karena dapat disimpan untuk waktu yang lama. Secara tradisional, di Johor burasak disajikan bersama hidangan seperti asam pedas ikan parang serta ayam masak likku.

Selain itu, beragam makanan ringan seperti kue-kue dari tradisi Bugis juga tersebar luas di Malaysia dan Singapura. Di negeri Selangor, salah satu warisan kuliner Sulawesi Selatan yang masih dapat ditemukan hari ini ialah Kuih Bugis Mandi. Kue ini biasanya disajikan pada perayaan-perayaan seperti kenduri, melambangkan semangat kebersamaan.

Di Singapura, resep-resep makanan seperti Toppa’ Lada dan Coto Makassar juga menjadi warisan kuliner setempat. Meskipun tidak seterkenal makanan Jawa ataupun Minang, namun di keluarga-keluarga Melayu keturunan Bugis, resep-resep tersebut dijaga dan diturunkan dari generasi ke generasi.

Makanan sesungguhnya bukan sekadar soal rasa, melainkan jejak ingatan yang ikut berlayar bersama manusia. Ia membawa serta adat, nilai, dan cara memuliakan sesama: sebuah bahasa kultural yang melintasi batas geografis tanpa kehilangan maknanya. Apa yang hari ini dibicarakan dalam forum diaspora di Leiden pada akhirnya merefleksikan sesuatu yang telah lama hidup dalam La Galigo: bahwa melalui makanan, hubungan sosial dirajut, identitas dipertahankan, dan dunia—baik Dunia Atas, Dunia Tengah, maupun Dunia Bawah—dihubungkan dalam satu jaringan makna yang berkesinambungan.

Referensi:

Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa, La Galigo Menurut Naskah NBG 188 jilid 1 (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017).

Rétna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa, La Galigo Menurut Naskah NBG 188 jilid 3 (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2017).

Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba

Hikayat Aceh, Ratu Keturunan Bugis dan UNESCO Memory of the World

Sobat Lontara, pada tanggal 18 Mei 2023, UNESCO menganugerahi karya sastra Hikayat Aceh yang tersimpan di koleksi Leiden University Library dan Perpustakaan Nasional Indonesia sebagai “Memory of the World”. Hikayat Aceh berisikan kisah mengenai kehidupan dan gambaran adat-istiadat di istana Aceh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Ternyata ada hubungan istimewa antara karya sastra adiluhung ini dengan para perantau Bugis asal Sulawesi Selatan. Kira-kira seperti apa kaitannya, mari kita simak ceritanya berikut ini!

Sultan Iskandar Muda yang dikenal pula dengan nama Johan Pahlawan Meukuta Alam (1607-1636) adalah seorang penguasa yang mengantarkan Kesultanan Aceh menuju masa kejayaannya di abad ke-17. Terlahir sebagai putra dari pasangan Mansyur Syah dan Putri Raja Indra Bangsa, Iskandar Muda merupakan keturunan dari Dinasti Meukuta Alam, wangsa pendiri Kesultanan Aceh. Sultan Iskandar Muda mashyur karena prestasi militernya. Seorang admiral asal Perancis bernama Beaulieu pernah mencatat kedahsyatan pasukan Sultan Iskandar Muda yang tidak hanya terdiri dari prajurit infantri dan gajah-gajah perang, namun juga armada kapal yang berpusat di tiga titik: Aceh, Daya dan Pidie. Sang sultan melakukan serangkaian ekspedisi untuk menaklukkan kerajaan-kerajaan di sekitar Selat Malaka seperti Deli, Johor, Pahang, Kedah dan bahkan hingga ke Pulau Nias. Tercatat, kekuatan armada laut Sultan Iskandar Muda juga pernah mengalahkan armada kapal Portugis dalam sebuah pertempuran di dekat Baning.

Selain membangun kekuatan militer Aceh, Sultan Iskandar Muda juga melakukan banyak pembaharuan di bidang hukum dan tatanegara. Tercatat, pada masa pemerintahannya disusun sebuah teks berjudul Adat Meukuta Alam atau dikenal pula dengan nama Adat Qanun. Beberapa ketentuan yang diatur oleh Adat Meukuta Alam antara lain seperti peraturan mengenai struktur kerajaan, Balai Furdah atau pusat perdagangan dalam dan luar negeri, penggunaan cap stempel kerajaan, dan lain sebagainya. Di bawah panduan ulama besar Syamsuddin as-Sumatrani dari Pasai, kebudayaan Aceh yang bercorak adat-istiadat lokal dan Islam berkembang pesat. Sultan Iskandar Muda juga membina hubungan diplomatik dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, bahkan hingga ke benua Eropa lho. Naskah Lontaraq Bilang atau catatan raja-raja Gowa menyebutkan bahwa Sang Meukuta Alam memiliki hubungan persahabatan yang erat dengan I Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumamenang ri Gaukanna. Pada tahun 1615, Sultan Iskandar Muda pernah mengirim sepucuk surat panjang nan indah untuk King James I of England. Surat tersebut saat ini masih tersimpan di Bodleian Library di Oxford.

Sepeninggal Sultan Iskandar Muda, takhta kerajaan diwariskan ke menantunya yang bernama Iskandar Thani dari Pahang. Iskandar Thani tidak lama memerintah, ia kemudian digantikan oleh istrinya yang merupakan putri sulung Sultan Iskandar Muda, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah Johan Berdaulat Zillu’llahi fi’l-’Alam (1641-1675). Selama memerintah, Ratu Safiatuddin melakukan beberapa perubahan penting. Salah satunya seperti mendaur ulang koin-koin emas Aceh yang dikenal dengan nama deureuham dari era-era sebelumnya dengan cara dilebur menjadi deureuham baru. Selain itu ia juga memerintahkan mufti kerajaan yaitu Abdurrauf as-Singkily (Tengku Syiah Kuala) untuk menyusun sebuah kitab pedoman bagi para qadhi (hakim) di wilayah kerajaan berjudul Mir’atul Thullab.

Pada masa pemerintahannya, kesusastraan Aceh berkembang dengan pesat. Tidak hanya dikenal sebagai seorang ratu yang gemar akan sajak dan menulis cerita, ia juga menjadi penyokong bagi para sastrawan dan kalangan terpelajar untuk menciptakan kitab-kitab yang jejaknya masih dapat kita saksikan hari ini. Salah satu karya sastra yang ia patroni penulisannya adalah Hikayat Aceh.

Naskah Or. 1954 Hikayat Aceh yang tersimpan di Perpustakaan Leiden University, Belanda. Sumber: Leiden University Library

Hikayat Aceh adalah suatu naskah berbahasa Melayu yang ditulis dengan huruf Arab (Jawi) dan bercerita mengenai kehidupan serta memuat puji-pujian terhadap Sultan Iskandar Muda, ayah Ratu Safiatuddin. Teks ini juga memuat hubungan Aceh dengan bangsa-bangsa lain seperti Portugis, Turki dan Cina. Tidak hanya itu, Hikayat Aceh menampilkan pengaruh Persia yang cukup menonjol, membuat karya sastra ini sangat kosmopolitan. Hikayat Aceh menjadi sumber penting bagi siapa pun yang tertarik dengan Islam, hubungan internasional dan sejarah Aceh. Meskipun penulisnya sendiri tidak diketahui jati dirinya, namun dipercaya bahwa Ratu Safiatuddin adalah sosok yang memainkan peran besar dalam penulisan hikayat tersebut. Saat ini terdapat tiga salinan Hikayat Aceh. Dua di antaranya tersimpan di koleksi Leiden University Library di Belanda, sedangkan satu salinan lagi tersimpan di Perpustakaan Nasional Indonesia di Jakarta. Dengan hanya tiga naskah yang masih ada, Hikayat Aceh tergolong sebagai karya sastra yang sangat langka.

Nah, tahukah kamu bahwa Ratu Safiatuddin merupakan keturunan seorang diaspora Bugis? Ya, beliau adalah buah hati Sultan Iskandar Muda dengan Putroe Tsani atau Puteri Suni, anak perempuan Teungku di Bugéh Reubee Daeng Mansur, seorang ulama asal Sulawesi Selatan yang bermukim di Pidie. Menurut Hamka, Daeng Mansur adalah seorang bangsawan Bugis yang merantau ke Aceh untuk menuntut ilmu agama. Di sana, ia menjadi seorang ulama kerajaan yang digelari Syekh Abdullah al-Malikul Amin. Sultan Iskandar Muda yang saat itu masih remaja pernah berguru kepada Daeng Mansur. Setelah dewasa, ia kemudian menikahi putri sang guru. Makam ibunda Ratu Safiatuddin sampai saat ini pun masih dapat dikunjungi di daerah Gampong Reuntoh, Pidie. Sayangnya, kondisi makam tersebut sudah tidak lagi terawat dengan baik.

Orang-orang Bugis, utamanya yang berasal dari daerah Wajo, diduga telah berlayar ke tanah Kluet (Kabupaten Aceh Selatan) sejak abad ke-17 dan 18. Mereka melalui muara Sungai Asahan masuk ke Gampong Pasie Kuala Asahan. Jejak keberadaan pendatang Bugis ini dapat dilihat dari penamaan ‘Gampong Suak Bugeh’ di Aceh Selatan. Sejarah mencatat bahwa seorang Bugis bernama dokter Farid Husain pernah pula berkontribusi dalam menjembatani dialog perdamaian antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan pemerintah Indonesia di tahun 2005 (Baca kisahnya di artikel kami: Inspirasi dari “Docplomat” Asal Bugis).

Hubungan kekerabatan antara Aceh dan Bugis dalam diri Ratu Safiatuddin merupakan cerminan persatuan dan persaudaraan lintas etnis yang menarik untuk dikaji. Melalui jaringan-jaringan perdagangan, diplomasi dan intelektual, perbedaan bahasa maupun sukubangsa tidak menjadi persoalan utama. Hiruk-pikuk isu-isu SARA yang belakangan ini marak di tanah air seakan-akan melupakan narasi-narasi kebhinnekaan yang telah terjalin jauh sebelum Republik Indonesia berdiri. Justru lewat seorang Sultanah yang berdarah campuran Aceh-Bugis lahir sebuah karya sastra yang hari ini diakui mancanegara sebagai ‘Ingatan Dunia’.

Referensi:

R. Michael Feener, Patrick Daly, Anthony Reid, Mapping the Acehnese Past (2011).

Ahmad Ubaidillah, Ekonomi Islam Nusantara (2023).

Su Fang Ng, Alexander the Great from Britain to Southeast Asia: Peripheral Empires in the Global Renaissance (2019).

Universiteit Leiden, UNESCO Recognizes Manuscripts First Voyage Around the Globe and Hikayat Aceh as World Heritage (2023).

Sher Banu Khan, Sovereign Women in a Muslim Kingdom: The Sultanahs of Aceh, 1641−1699 (2017).

Syahrizal Abbas, Hakim Perempuan dalam Mir’atuth Thullab Karya Shaykh Abdurrauf As-Singkily (2018).

Sudirman, Deureuham Aceh: Mata Uang Tertua di Nusantara (2018).

Hamka, Sejarah Umat Islam: Pra-Kenabian hingga Islam di Nusantara (2020).

Firdaus, Putroe Tsani di sudut Gampong Reuntoh, https://sinarpidie.co/news/putroe-tsani-di-sudut-gampong-reuntoh/index.html

Marzuki, Jejak Suku Bugis di Tanah Kluet, https://aceh.tribunnews.com/2012/10/28/jejak-suku-bugis-di-tanah-kluet.

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Fashion Show Sulawesi Selatan di Belanda

Meskipun telah lama berhijrah ke negeri Belanda, Adella Ranggong masih tak dapat melupakan Sulawesi Selatan sebagai kampung halamannya yang tercinta. Itulah sebabnya ketika kota Goes yang terletak di Provinsi Zuid Holland, Belanda memutuskan untuk mengangkat tema “Aziejaar” alias Tahun Asia, Tante Adella pun tak segan-segan mengajukan proposal kepada pemerintah kota ini. Usahanya tersebut berbuah manis. Pada tanggal 23 September 2017 lalu, bersama dengan rombongan Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan cabang Belanda, mimpi Tante Adella akhirnya terwujud. Beragam corak baju daerah Bugis, Makassar, Mandar dan Toraja yang dikenakan oleh model-model (terudiri atas warga asli Sulawesi Selatan yang bermukim di Belanda maupun warga Belanda sendiri) tersebut hilir-mudik di atas catwalk membuat publik Goes terkesima. Simak wawancara Louie Buana dengan Tante Adella terkait dengan event tersebut.

Aksi dua model cilik di Aziejaar kota Goes. Sumber: goesisgoes.nl

Louie: “Tante, bisa cerita bagaimana awalnya sehingga kok kota Goes memilih untuk mengadakan acara fashion show dengan melibatkan komunitas Sulsel di Belanda?”

Tante Adella: Tahun ini tema kota Goes adalah Asia. Ini melibatkan banyak negara-negara di Asia. Pemkot di sini tahun lalu sudah meminta warganya kalau ingin memberikan ide buat event-event yg bertemakan Azie. Bulan April lalu saya sudah pernah libatkan kelompok penari Kombongan Toraja untuk acara Goes Culture. Saya lihat orang di sini kurang kenal dengan daerah kita apalagi kultur kita (Sulawesi Selatan). Makanya saya pikir ini kesempatan bagus buat memperkenalkannya. Kombongan Toraja tampil pada bulan Agustus di Goes. Pemkot Goes saat it sangat senang dan takjub melihat keunikan daerah kita. Mereka kemudian meminta kepada saya seandainya perwakilan dari Sulsel sanggup mengisi acara mode show yg akan mereka adakan di bulan September. Ini kesempatan yang saya tentunya tidak mau lewatkan begitu saja. Kesempatan untuk mempromosikan daerah Sulsel buat memperlihatkan keindahan warna warni pakaian adat kita. Makanya saya langsung semangat dan menjanjikan kalo sanggup buat fashion show yang keren buat Goes.”

Louie: “Lalu untuk persiapan acaranya bagaimana, Tante? Siapa-siapa saja yang terlibat?”

Tante Adella: Persiapannya yach.. Saya sendiri yang mondar mandir rapat dengan pemkot Goes .. Tanya sama mereka secara detail panggung berapa meter panjang lebarnya, waktu berapa menit yang dialokasikan, berapa kali model kami harus tampil, kemudian mencari model dan lagunya juga. Koleksi pakaian saya pinjam dari KKSS, dengan bantuan dari Herlina dan Sunarti. Visagist (make up artist) yang membantu saya waktu itu ada Herlina, Lisda, Andi Wally (orang sulsel yang tinggal di Goes), serta Rana dan Nesri dari Kombongan Toraja. Mereka juga membantu memakaikan baju para modelku yg org Belanda. “

Pakaian Adat Toraja. Sumber: goesigoes.nl

Louie: “Nah, konsep fashion shownya sendiri seperti apa?

Tante Adella: “Konsepnya sebenarnya berasal dari Pemkot Goes. Saya sekedar mengikuti prosedur mereka sebagai bahagian dari acara Aziejaar.”

Pakaian Adat Pengantin Bugis-Makassar. Sumber: goesisgoes.nl

Louie: “Pertanyaan terakhir, Tante. Bagaimana reaksi dari masyarakat Goes sendiri atas diadakannya fashion show ini?”

Tante Adella: “Responds masyarakat Goes sangat Antusias. Mereka kagum melihat keindahan baju-baju kita. Mereka baru mengetahui kalau Sulawesi Selatan itu juga bagian dari indonesia. Selama ini mereka hanya kenal pakaian batik, Pulau Jawa dan Bali. Lagu yang saya pakai dalam mode show ini saya mixing sendiri dari kiriman teman di Makassar. Lagu-lagunya dari De La Galigo Syndicate Jazz pimpinan Andi Mangara (Radio Mercurius). Sengaja pakai lagu ini karena enak didengar serta cukup international dengan sentuhan etnik. I am so proud to represent my fatherland here, in my second homeland. Pemkot Goes sangat puas karena shownya indah sekali dan I contribute something new to Goes.”

Bagi teman-teman yang penasaran dengan keindahan pakaian Sulawei Selatan yang diperagakan di Goes Mode Show, silakan mengunjungi websitenya di sini.