Categories
Featured Kolaborasi Lontara Project

CERGAM MUSEUM SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II – PALEMBANG

Sobat Lontara, sebagai anak sekolah, ingatan apa yang kamu miliki tentang kunjungan ke museum? Selain tentu saja gambaran mengenai kegiatan study tour bersama teman-teman dan guru, apakah kamu juga salah satu anak yang gemar menyimpan satu-dua brosur tentang museum tersebut?

Menuturkan cerita mengenai museum kepada anak-anak di bangku sekolah bukanlah hal yang mudah dilakukan. Selain harus konsisten membawakan data yang akurat berisi sejarah dan koleksi museum, narasi yang digunakan juga harus ringan serta menarik.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Kota Palembang, Sumatera Selatan.

Nah, demi mewujudkan sebuah karya yang edukatif dan menghibur bagi pengunjung museum usia muda, pengelola Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB2) di Palembang bekerjasama dengan Lontara Project dan Brguna Studio untuk membuat sebuah buku cerita bergambar (cergam). Cergam ini secara khusus dirancang untuk anak-anak usia sekolah yang tersebar di seluruh Palembang loh! Harapannya, cergam hasil kolaborasi ini dapat memberikan informasi mengenai lokasi dan koleksi Museum SMB2 dengan bahasa dan visual yang lebih mudah dicerna oleh para siswa-siswi tersebut.

Cergam berukuran kertas A5 ini digambar oleh ilustrator muda berbakat Gilang Pandu Ramadhan, didesain oleh Brguna Studio dan dinarasikan oleh Lontara Project. Proses pembuatannya memakan waktu kurang lebih 5 bulan karena dikerjakan di sela-sela aktifitas lainnya. Sebelumnya, tim penyusun cergam juga telah melakukan riset serta berdiskusi dengan pihak Museum SMB2 perihal materi-materi yang hendak dibawakan di dalam cergam.

Bagi teman-teman yang belum tahu, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II di kota Palembang berdiri di situs istana (keraton) Kuto Kecik atau Kuto Lamo dari masa kesultanan Palembang. Pemilihan lokasi yang berada di tepi Sungai Musi menandakan pentingnya peran kesultanan Palembang sebagai pusat perdagangan lada yang mencapai masa puncaknya di era Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (I) dan Sultan Mahmud Badaruddin II. Hingga hari ini dalam Bahasa Belanda terdapat istilah “peperduur” untuk menggambarkan suatu benda yang amat mahal, terinspirasi dari harga lada (peper) asal Nusantara. Nama Palembang juga diabadikan sebagai nama sebuah jalan (Palembangstraat) di daerah Amsterdam Oost serta beberapa kota lainnya di Belanda seperti Groningen, Nijmegen dan Enschede.

Ilustrasi tanaman lada, rajanya rempah-rempah, oleh Leonhart Fuchs (1542).

Saat terjadi konflik dengan Inggris pada tahun 1823, SMB II diasingkan ke Ternate sementara bangunan asli keraton Kuto Lamo dibumihanguskan. Sebuah bangunan baru selesai didirikan dengan arsitektur Eropa-Tropis pada tahun 1825 dan dikenal dengan nama Gedung Siput. Gedung inilah yang kemudian menjadi bangunan museum sekarang.

Selain koleksi-koleksi yang berada di dalam gedung utama Museum SMB2, terdapat pula koleksi benda bersejarah di halaman museum. Benda-benda tersebut seperti dua pasang arca ganesha dari era Sriwijaya yang ditemukan di situs Pagaralam, Jalan Mayor Ruslan (sekitar 500 meter dari situs Candi Angsoko) dan di dekat situs Suralangun, kab. Musi Rawas serta meriam kuno yang ditemukan oleh warga di kawasan Sungai Musi. Penemuan tersebut mengindikasikan bahwa Palembang telah menjadi pusat peradaban pada masa perkembangan agama Hindu-Buddha di Nusantara. 

Secuplik cerita mengenai keanekaragaman koleksi di Museum SMB2 menunjukkan betapa berartinya keberadaan museum dan koleksinya bagi masyarakat di Sumatera Selatan. Lewat cergam ini, para pengunjung usia muda juga dapat menelusuri trivia-trivia menarik mengenai sejarah Palembang dari zaman Sriwijaya hingga era kolonial. Sebagai catatan, cergam ini hanya dicetak terbatas oleh Museum SMB2 Palembang. Bagi teman-teman yang berminat untuk mengakses cergam ini harus menghubungi langsung pengelola museum terkait. Main ke Museum SMB2 berbonus cergam, membuat petualangan di museum jadi semakin seru!

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

OBRAK WHD 2021

Hai Sobat Lontara Project,

Jika dihitung-hitung, rasanya sudah hampir satu dekade Lontara Project dan kawan-kawan rutin merayakan World Heritage Day setiap tanggal 18 April. Sejak berkomunitas, bisa dikatakan bahwa memang perayaan WHD ini merupakan salah satu momen yang paling kami tunggu setiap tahunnya. Bagaimana tidak, WHD bagi Lontara Project merupakan ajang berbagi cerita. Banyak sekali kisah-kisah menarik mengenai warisan atau pusaka yang dibagi oleh para volunteer, partisipan, serta pengunjung (jika WHD berupa event yang digelar sebelum pandemi).

Nah, kali ini – sudah tahun kedua kita semua lebih banyak menghabiskan waktu beraktivitas di rumah. Meskipun demikian, semangat WHD tahun 2021 tidak menyurutkan kami untuk menginisiasi kembali perayaan hari Pusaka Dunia dengan mengadakan OBRAK (Obrolan Pusaka) secara daring. Inilah acara pertama Lontara Project sejak pandemi sekaligus menjadi penyemangat kita semua yang merindukan obrolan-obrolan ringan tentang warisan pusaka. Karena OBRAK 2021 ini dihadiri oleh beberapa belas orang saja, suasananya tak pelak menjadi lebih akrab dan rileks. Mirip lah obrolan di warung kopi yang menjadi kegiatan favorit sebelum new normal. Bedanya hanya kita semua harus ngopi di rumah masing-masing dulu.

Apa saja yang kami obrolkan pada OBRAK 2021 kemarin? Wah, banyak sekali dan tidak kalah seru dibandingkan OBRAK pada tahun-tahun sebelumnya loh. Bagi teman-teman yang berasal dari Sulawesi Selatan, seperti Louie, Kak Abdi, Anna, dan saya – cerita pusaka kami berkelindan seputar seluk-beluk tradisi mewariskan keris dan sarung pada setiap keluarga. Kak Abdi mengaminkan ini dengan mengulas lebih banyak ingatannya akan sarung: bagaimana neneknya yang merupakan seorang penenun sarung akan memenuhi permintaan jahitan sarung sesuai dengan peruntukan dan perhitungan nasab pelanggannya. Dari potongan-potongan kain sisa-sisa sarung orderan tadi, ia menjahitkan sebuah sarung istimewa. Sarung warisan neneknya inilah yang selalu menemani kak Abdi hingga sekarang, baik di kehidupan pribadi hingga hingar bingar pentas di seluruh dunia. 

Jika kami membahas soal sarung, perspektif yang keren juga diutarakan oleh Wibi melalui ceritanya tentang bagaimana sebuah benda pusaka itu dapat ditakar dari value berupa narasi yang disematkan orang-orang kepadanya. Sudut pandang tersebut lahir dari kejadian menarik yang dialaminya pada saat berkunjung ke pedalaman hutan Borneo dan bertemu dengan para penduduk asli. Melihat Wibi kebetulan sedang mengenakan seutas gelang kepang, masyarakat suku disana berpikir ia pasti semacam orang sakti dari Jawa dengan “ilmu” atau “kehebatan” tertentu. Sebab begitulah kepercayaan dan tradisi yang berjalan di sekitar mereka. 

Lain halnya dengan cerita Abay, seorang tipografer kelahiran Jakarta yang menelusuri jejak sejarah warisan keluarganya lewat seni mendesain huruf dan tulisan. Demikian pula dengan kisah Kak Nyimas Ulfa yang kebingungan mencari informasi mengenai benda-benda pusaka warisan keluarga di rumahnya seperti kain songket dan tombak. Ada cerita dari Tedhy yang konsisten menjalankan aktivitasnya membawa tarian Jawa tradisional sambil melakoni pekerjaan di kantor setiap hari. Sementara Diani bercerita tentang barang-barang beraneka ragam barang-barang peninggalan yang baru terkuak pada saat isi rumahnya dibongkar pada saat harus direnovasi. Bu Kathy dari Leiden bahkan menunjukkan sebuah selimut warisan sang nenek beserta pusaka keluarga yang berupa awetan seekor penyu!

Pak Ade dari Bandung yang ikut bergabung berbagi kisah pula tentang alat-alat produksi keramik yang dimiliki oleh keluarganya dari sebuah pabrik lawas. Eits, jangan salah. Alat cetak keramik ini bukan sembarang cetakan, namun memiliki nilai sejarah penting. Keramik-keramik dari pabrik yang berlokasi di Bandung tersebut merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia pada era Pak Soekarno loh! 

Cerita lalu bergulir semakin seru dengan tuturan dari Rizka asal Jawa Timur tentang kaitan antara Reog Ponorogo dan Iklan Sirup Marjan. Loh, ada apa?

Sederhana tapi Bermakna

Menurut Rizka, iklan Sirup Marjan bertemakan “Singabarong & Kelana” yang bisa ditonton melalui platform Youtube saat ini sudah tidak sesuai dengan cerita rakyat Ponorogo yang sebenarnya. Sosok Singabarong pada iklan Sirup Marjan yang diangkat sebagai jagoan justru bertolak belakang dengan kisah yang ia dengarkan dari orang tuanya di rumah seusai menonton pertunjukan Reog Ponorogo. 

Sebelum menutup sesi karena keterbatasan waktu (Ya ampun, kami mengobrol kurang lebih dua jam lamanya!), ada beberapa kesimpulan yang menarik untuk kami bagi: Pertama, kami sepakat bahwa “pusaka” itu tidak mesti berupa artefak seperti guci logam bersepuh emas atau pedang raksasa berukir naga air dari abad ke-15. Pusaka berkaitan erat dengan narasi dari setiap warisan tangible maupun tradisi yang bersifat intangible, yang tidak boleh luput untuk disampaikan kepada generasi penerus pusaka tersebut. Ia tidak terbatas oleh bentuk, ia dapat berupa nyanyian pengantar tidur maupun nama belakang keluarga. 

Yang kedua, kami membayangkan kira-kira pusaka apa yang dapat diwariskan generasi saat ini kepada generasi di masa depan kelak? Narasi seperti apa yang ingin kita sampaikan kepada mereka yang hidup setelah masa sekarang? Sementara waktu terus bergulir, hanya cerita-cerita tentang masa lalu yang dapat dirayakan sebagai penyambung zaman. 

Jadi, apakah kalian sudah menyiapkan sebuah pusaka untuk diwariskan kepada anak-anak dan cucu kalian nanti?

Selamat Hari Pusaka Dunia!

Categories
Featured Liputan

Heritage Conservation: Australia

Sekali lagi, Melbourne dianugerahi predikat sebagai Ranking 1 “The Most Livable City in the World”. Dan belakangan saya ketahui dinobatkan sebagai City of Literature oleh UNESCO pada tahun 2014.

The Iconic Flinders Station di Swanston Street

Kok bisa? Terlepas dari kontroversi dari masyarakat Melbourne sendiri, sebagai pelajar internasional yang telah berdomisili disini selama kurang lebih tiga semester, saya tidak punya banyak hak untuk mengkritik. Tugas utama sih ya pasti belajar, tapi seperti biasa – merantau itu menjanjikan lebih banyak pengalaman. Lebih dari yang bisa kita peroleh di ruang kelas tentunya. Dalam beberapa misi dan minat yang berhubungan dengan tourism & heritage, di Melbourne ini saya belajar banyak mengenai konservasi budaya. Sejujurnya, seringkali menyebabkan kecil hati dan ironis berkepanjangan. Untuk urusan penanganan situs-situs budaya dan sejarah, kota Melbourne sendiri perlu diacungi empat jempol.

Secara historis, tidak banyak variasi yang bisa ditawarkan oleh pemerintah Australia kepada wisatawan mancanegara. Australia cukup terkenal dengan kondisi geografinya yang unik meskipun bisa dibilang terlalu kering bagi orang-orang yang terbiasa hidup di wilayah tropis. Bagian utara yang berseberangan dengan Indonesia dan tengah benua menawarkan tur-tur gurun untuk mengeksplor lebih banyak kebudayaan asli Aborigin atau jenis-jenis fauna liar dan buas; mulai dari jenis kadal, hingga buaya air asin. Sementara bagian selatan Australia lebih cocok bagi mereka yang ingin merasakan empat musim secara berkala. Sangat jelas kelihatan, pemerintah Australia memeras otak untuk mempromosikan negaranya sebagai alternatif utama liburan bagi siapa saja – dan berhasil.

Tidak seperti kota-kota lain di Australia, hampir semua mahasiswa Indonesia berpendapat bahwa walaupun cuacanya terlampau labil, namun dari segi tata kota dan transportasi publik, Melbourne-lah yang paling nyaman untuk dihuni. Untuk mahasiswa beasiswa yang perhitungan seperti kami, Melbourne adalah surga jalan-jalan. Disini sebagian besar Museum, perpustakaan, galeri nasional, dan taman dapat dikunjungi secara gratis. Ya, Gratis! Entah berapa miliar anggaran daerah yang berani digelontorkan untuk biaya perawatan spot-spot heritage seperti itu. Tapi yang jelas, tanpa program konservasi heritage dan festival, mungkin Melbourne tidak akan pernah seramai sekarang. Kota ini tidak pernah sepi dari ratusan program entertainment tiga bulan sekali. Bahkan di saat-saat tertentu, kami merayakan momen dimana gedung-gedung bersejarah dibuka untuk pengunjung umum seperti pada Australian Day dan Australian Open Day.

Perpustakaan Gedung Parlemen

Ketjeh!

Kebanyakan gedung bersejarah di kota Melbourne masih difungsikan seperti biasa. Meski beberapa telah diambil alih oleh perusahaan-perusahaan komersil seperti pusat perbelanjaan, tapi disini pemerintah Kota Melbourne membuktikan bahwa mereka mengawasi ketat masalah pemeliharaan dan hak milik dari gedung-gedung tersebut. Tentu saja, disini pemerintah dan warganya sama-sama berkomitmen untuk mengembangkan kota. Tidak hanya secara sepihak loh ya. Pemerintah senantiasa mengedukasi masyarakat Melbourne mengenai value dari bangunan bersejarah. Tanpa eksplorasi budaya dan sejarah yang cukup kontroversi itu Australia hanyalah negara biasa yang bergantung pada hasil alam yang juga tidak seberapa banyak. Ketika persediaan emas sudah habis, orang-orang Australia telah mengamankan kota dengan cara mengadakan hiburan komersil maupun non-komersil bagi para wisatawan. Apalagi dengan diakuinya universitas-universitas Australia sebagai institusi pendidikan kelas dunia, membuat seolah gelombang pengunjung yang datang dan pergi di Melbourne (mahasiswa, papa mamanya mahasiswa, dan teman-teman sekampungnya mahasiswa) tidak pernah berhenti. Setiap hari berasa libur. Singkat kata mah, bikinlah orang-orang betah tinggal di Melbourne!

 

bersambung…