Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Peradaban yang Hilang di Sekitar Bumi Manakarra

Bumi Manakarra yang berarti Bumi Pusaka yang Sakti merupakan julukan yang dimiliki oleh Mamuju, sebuah daerah di Sulawesi Barat. Mamuju dulunya dikenal sebagai salah satu kerajaan yang masuk ke dalam persekutuan Mandar. Keunikan Mamuju sebagai tempat bertemunya kebudayaan pesisir “Pitu Baqbqana Binanga” dan kebudayaan pegunungan Toraja “Pitu Ulunna Salu” membentuk sejarah yang panjang. Masih banyak misteri yang belum terungkap dari daerah ini, salah satunya ialah mengenai jejak artefak peradaban Hindu-Buddah serta situs Austronesia yang konon merupakan yang tertua di Indonesia. Mari sama-sama kita tengok!

Arca Sampaga

Sebuah arca Buddha yang berasal dari abad ke-2 Masehi ditemukan di kecamatan Sampaga (Mamuju), Sulawesi Barat pada tahun 1921. Patung ini berwujud seorang Buddha yang mengenakan jubah selempang di pundak kiri (lekukan pada kainnya dibuat sedetail mungkin!). Secara ikonografi, langgam arca ini jelas menunjukkan gaya Amarawati dan sejatinya berasal dari India Selatan. Penemuan arca berbahan perunggu yang sejauh ini menjadi artefak Buddha tertua di Indonesia merupakan titik penting dalam mempelajari sejarah awal peradaban kita. Akan tetapi, ada satu pertanyaan yang mengganjal. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh arca kuno ini sehingga terdampar sedemekian jauh hingga ke jantung Pulau Sulawesi?

Sobat Lontara tentunya masih ingat bahwa “kerajaan berperadaban” tertua di Indonesia ialah kerajaan Kutai di Kalimantan Timur. Buktinya ialah ditemukannya tujuh buah Yupa (batu bertulis yang berfungsi sebagai tempat untuk mengikat hewan kurban). Yupa yang ditemukan di Muara Kaman, tepi Sungai Mahakam ini ditulis dengan huruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Nah dari gaya tulisan Pallawa inilah kemudian dapat disimpulkan bahwa Yupa tersebut berasal dari abad ke-5 Masehi, dan kemungkinan agama Hindu masuk melalui India Selatan. Aksara Pallawa merupakan aksara yang lazim digunakan di India Selatan.

Lho, tapi kok bisa sih arca Buddha di Sampaga justru berusia lebih tua daripada kerajaan tertua di Indonesia?

Yuk, kita tengok sebentar negeri India Selatan tempat arca Buddha Sempaga dan inspirasi awal peradaban Kutai berasal. Amarawati ialah sebuah daerah di India Selatan yang terkenal karena memiliki sekolah seni rupa. Amarawati menjadi pusat kebudayaan dan pemerintahan kerajaan Satavahana (Andhra) yang pengaruhnya menyebar ke Sri Langka sekitar tahun 230 SM hingga 220 M. Sekolah seni rupa ini telah menghasilkan banyak sekali patung-patung Hindu dan Buddha yang tersebar di berbagai penjuru Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Ketinggian cita rasa serta seni kriya yang dihasilkan oleh alumnus-alumnus Sekolah Seni Amarawati sejak abad ke-3 SM ini menghasilkan karya-karya yang secara umum memiliki ciri-ciri seperti pose nan rumit, figur tubuh yang dipahat dengan langsing dan elegan, serta detail lekukan yang mengagumkan. Karya-karya yang bersumber dari Amarawati juga sering menggambarkan Buddha dalam bentuk simbol (bukan sosok manusia) seperti melalui lambang purnakumbha, teratai, takhta yang kosong, serta Swastika. Ternyata selain di Sampaga, arca Buddha jenis Amarawati juga dapat kita temukan di dusun Sikendeng (kec. Pangale, Mamuju), Jember (Jawa Timur) dan di Bukit Siguntang (Sumatera Selatan) walau tetap saja arca Sampaga berusia lebih tua daripada yang lain.

Sejarawan Barat yakin bahwa besarnya pengaruh India Selatan dalam bidang keagamaan, bahasa, seni, dan bahkan pemerintahan di Asia Tenggara disebabkan karena Kerajaan Satavahana pernah menjajah wilayah ini dan menancapkan pengaruhnya dengan kuat. Meskipun sejarawan Indonesia sendiri menolak pendapat tersebut karena tidak ada bukti penjajahan India terhadap nusantara, Kerajaan Satavahana memang memberikan pengaruh besar terhadap dunia Asia Tenggara (Negeri Bawah Angin). Koin-koin pada periode ini menggambarkan bentuk-bentuk perahu yang menandakan bahwa hubungan internasional dengan bangsa-bangsa yang jauh di timur pun secara aktif telah dilakukan oleh mereka. Satavahana pun diakui sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar di Anak Benua.

Dusun Sikendeng tempat ditemukannya patung perunggu Buddha dari sekolah seni Amarawati, sebagaimana Sampaga, juga terletak di pesisir pantai Sulawesi Barat. Pesisir ini tepat berseberangan dengan lokasi yang dipercaya sebagai Kerajaan Kutai kuno. Apakah pernah ada hubungan yang terjalin antara kerajaan Kutai dan Bumi Manakarra? Kemungkinan besar iya. Tahukah Sobat Lontara bahwa raja Kutai yang keempat bernama Sultan Mandarsyah? Sebuah lagu tradisional Mandar berjudul Tengga-Tengga Lopi juga menceritakan hubungan dekat antara pelaut-pelaut dari Tanah Sulawesi ini dengan penduduk lokal Kutai. Selat Makassar yang memisahkan kedua daratan tersebut seakan-akan bukanlah penghalang.

Kemunculan Kutai sebagai sebuah kerajaan tidak terlepas dari lokasinya yang istimewa. Kutai telah menjalankan perdagangan asing dengan bangsa-bangsa lain di sekitarnya, bahkan hingga ke India dan Cina. Permintaan akan emas dari tempat-tempat jauh seperti kemaharajaan India dan kekaisaran Cina membuat kekayaan emas yang dikandung oleh kerajaan ini dicari-cari. Prasasti yupa menyebutkan bahwa Raja Mulawarman yang murah hati telah menyedekahkan 20.000 ekor sapi kepada golongan Brahmana sebagai kurban upacara keagamaan di tempat suci Waprakeswara. Nah, menurut informasi yang penulis dapat dari Melayu Online, konon sapi-sapi tersebut didatangkan dari luar Kerajaan Kutai karena daerah di sekitar Kutai kebetulan tidak menghasilkan hewan jenis ini. Apakah mungkin asalnya dari Bumi Manakarra? Yang jelas, sampai hari ini pun di daerah sekitar situ kita masih dapat menemukan penduduk Pitu Ulunna Salu yang menganggap kerbau sebagai hewan yang penting dalam ritual adat mereka. Di daerah tersebut kerbau merupakan hewan terbaik yang digunakan sebagai persembahan kepada dewata. Lagi pula, dalam agama Hindu yang dianut oleh kerajaan Kutai, sapi merupakan binatang yang suci, sehingga untuk dibunuh pun tidak boleh. Apakah yang dimaksud Yupa hewan kurban tersebut adalah kerbau? Hmmm… Sekali lagi, tidak ada yang benar-benar pasti!

Christian Pelras di dalam bukunya Manusia Bugis pernah menyebutkan bahwa konon nenek moyang masyarakat Sulawesi Selatan berasal dari Kalimantan. Lontar-lontar kuno serta cerita-cerita lisan masyarakat Mandar menyebutkan bahwa nenek moyang mereka berasal dari Ulu Sa’dang atau suatu daerah di hulu Sungai Sa’dang. Cerita ini pun berkembang di kalangan masyarakat Toraja. Jika kisah ini benar, menurut Pelras, nenek moyang masyarakat sekitar (Suku Bugis-Makassar-Mandar-Toraja) berlayar memasuki Sungai Sa’dang dari Kalimantan dan kemudian menyebar ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan dan Barat.

Nah, jika memang dulunya ada sebuah peradaban tua di Bumi Manakarra, lalu kemana gerangan hilangnya? Prof. Darmawan Mashud Rahman, seorang budayawan Mandar yang tenar berpendapat begini:

Hilangnya jejak kerajaan tua tersebut mungkin disebabkan oleh migrasi penduduk dengan melalui dua arus, yang pertama menyusur pantai dan sebagian dengan jalan darat dan kemudian sampai ke Tana Toraja. Dibuktikan dengan upacara dan pola-pola hiasan serta kepercayaan yang masih terlihat di daerah Toraja. Untuk mencarai hubungan lebih jauh dan keinginan untuk berkembang, maka mereka berpindah lagi, kemudian menuju tepi pantai, yakni ke daerah Luwu. Di sana kemudian mereka menetap dan mengembangkan serta menumbuhkan kerajaan yang kemudian menyebar luas ke seluruh penjuru Sulawesi Selatan. Hal ini diperkuat oleh adanya beberapa kesamaan-kesamaan di dalam adat istiadat. Upacara-upacara, tarian dan geraknya, serta penyebutan kepala-kelapa kampung, misalnya Tomakaka dan Ma’dika, kesamaan dialek bahasa antara orang-orang Mandar, Toraja dan Luwu.

Serat Dewabuda

Berdasarkan temuan arkeologis, kerajaan tertua di Indonesia selain berada di Kutai juga berada di Jawa Barat. Tarumanegara, sebuah kerajaan bercorak Hindu yang keberadaannya dilaporkan oleh seorang pendeta dari negeri Tiongkok bernama Fa Xian di tahun 414 ini juga meninggalkan banyak prasasti dalam Bahasa Sansekerta dan beraksara Pallawa. Kira-kira ada hubungannya tidak ya, kerajaan Kutai dan Tarumanegara yang sama-sama didaulat sebagai peradaban tersepuh di nusantara ini? Jawabannya datang dari naskah berbahasa Jawa Kuno dari abad ke-17 yang berjudul Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara koleksi kesultanan Cirebon.

Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara menyebutkan bahwa pada tahun 52 Saka (130 M) seorang raja bernama Dewawarman yang berkuasa atas negeri Jawa bahagian barat bertakhta. Putranya yang bernama Aswawarman tanpa suatu alasan yang jelas pergi ke Bakulapura (Kalimantan Timur) dan diambil menjadi menantu oleh penghulu suku pribumi di situ, Kundungga. Sementara itu, anak perempuan Dewawarman di Jawa menikah dengan seorang maharesi dari negeri India bernama Rajadhirajaguru, yang kemudian mendirikan kerajaan Tarumanegara. Cucu Dewawarman yang bernama Purnawarman dikenang sebagai raja Tarumanegara teragung karena banyak meninggalkan bukti berupa prasasti. Apakah kisah yang diceritakan berabad-abad setelah kejadian aslinya ini terjadi otentik? Sampai sekarang naskah Pustaka Rajya-Rajya i Bhumi Nusantara masih didebatkan keabsahannya.

            Pada tahun 1988, Ayatrohaedi, seorang sejarawan besar dalam kebudayaan Sunda menerjemahkan sebuah naskah kuno bernama Serat Dewabuda. Serat Dewabuda ini selesai ditulis pada tahun 1357 Saka atau 1435 Masehi. Bahasanya ialah Bahasa Jawa Kuno, lokasi penulisannya disebutkan pada suatu tempat di antara Gunung Cupu, Gunung Rantay, dan Bukit Talagacandana. Serat Dewabuda ini berisi ajaran-ajaran agama Hindu-Buddha dengan campuran kepercayaan Sunda lokal yang ditulis oleh seseorang bernama Resi Siddhayogiswara. Salah satu unsur kepercayaan Sunda lokal yang dibahas di dalamnya ialah paparan akan konsep Sanghyang Taya atau Tuhan Yang Maha Esa nan jauh di atas dunia para dewa. Isi naskah ini sejak awal hingga akhir terus-menerus memperbincangkan upaya manusia agar dapat bersatu dengan Sang Pencipta. Naskah ini menurut Agus Ari Munandar bahkan banyak beredar di kalangan masyarakat jelata karena isinya yang membumi.

Lalu, apa hubungan antara semua ini dengan Bumi Manakarra? Pada salah satu bagiannya, Sang Siddhayogiswara menyebutkan bahwa ajarannya selain beredar di kalangan Tatar Sunda juga disebarluaskan hingga ke negara-negara lain seperti Keling, Cina, Prasola, Meta, Tanjungpura, Melayu, Kedah, Byalapura, Markaman, Hulumando, Buwun, Gurun dan Bandan. Nama Hulumando di sini kemudian mengundang tanya penulis; daerah manakah yang disebut dengan nama Hulumando ini? Apakah ada kaitannya dengan nama daerah Ulumanda di daerah Malunda, Majene yang berbatasan dengan Bumi Manakarra?

Secara bahasa penduduk Ulumanda dapat digolongkan sebagai bagian dari Pitu Ulunna Salu. Secara genetis, ternyata sub-suku Mandar ini berhubungan darah dekat dengan orang-orang Bungku di Sulawesi Tengah. Mereka tinggal di daerah pesisir dan juga pegunungan sehingga fokus matapencaharian mereka adalah menjadi nelayan atau petani. Daerah mereka kaya dengan mineral, pasir, kayu eboni dan kayu rotan. Menurut A. Syaiful Sinrang dalam buku “Mengenal Mandar Sekilas Lintas”, Ulumanda adalah sebuah daerah sepuh di Mamuju yang konon memiliki peranan penting pada asal mula penamaan “Mandar”. Ulumanda dulunya merupakan sebuah desa kecil di Malunda yang termasuk ke dalam wilayah kerajaan Sendana. Di Ulumanda terdapat sebuah gunung bernama Pebulahangan. Gunung Pebulahangan konon akan bercahaya apabila ditimpa sinar bulan atau sinar matahari, akibat pantulan cahaya dari batu-batu gunung yang berwarna kuning kehitam-hitaman. Dari situlah nama “Mandar” yang juga dapat diartikan “terang” berasal.

Ngomong-ngomong soal batu nih, di daerah Ujung Rangas, sekitar 4 km dari kota Majene sendiri pernah ditemukan batu dengan bekas telapak kaki. Konon menurut kepercayaan warga sekitar bekas telapak kaki tersebut merupakan peninggalan Sawerigading saat akan naik ke atas langit. Nah, beberapa peninggalan sejarah Tarumanegara juga ada yang berhubungan dengan batu-telapak kaki. Prasasti Ciaruteun, Cidanghyang dan Pasir Awi berterakan jejak telapak kaki baginda Purnawarman dari abad ke-4 M. Apakah tradisi membuat telapak kaki di atas batu yang ditemukan di daerah Sunda dan Mandar ini menandakan sisa peradaban tua yang saling terhubung satu sama lain, terlebih lagi dengan adanya penyebutan nama Hulumando pada Serat Dewabuda?

Kedengarannya maksa ya. Tetapi ada dua fakta unik yang memang menunjukkan kemiripan antara Sunda dan Mandar. Pertama: alat musik calong. Calong yang di Mandar terbuat dari buah kelapa dan bambu ternyata juga ditemukan di daerah Jawa Barat dengan nama calung. Calung Sunda terbuat dari awi wulung (bambu hitam) dan awi temen (bambu putih) serta dipercaya sebagai protoripe dari alat musik angklung yang tersohor itu. Kedua: Siti KDI. Meskipun pada kompetisi dangdut nasional di salah satu televisi swasta beberapa tahun yang lalu ia menjadi perwakilan Bandung, sebenarnya Siti berasal dari Mandar. Yah, jika Ulumanda tidak cukup kuat untuk menjadi saksi hubungan antara bekas kerajaan Tarumanegara dengan Bumi Manakarra, maka prestasi yang diraih atas keindahan suara Siti KDI dapat menjadi saksi sejarah hubungan antara kedua daerah tersebut 🙂

PS: Agak susah rupanya menemukan gambar patung Buddha dari Sikendeng, Mamuju ini di internet. Sayang sekali padahal untuk peninggalan sejarah tertua dan sepenting itu tidak banyak sobat-sobat Lontara yang mengetahuinya!

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Ketradisionalan Dalam Aksara Tradisional

Sejarawan sepakat bahwa peradaban besar di dunia ini lahir ditandai dengan penemuan sebuah sistem tulisan. Sistem tulisan itu sendiri beragam bentuknya, ada yang menggunakan satu lambang untuk mewakili tiap bunyi (fonetik) hingga yang bersifat silabis, dimana satu huruf melambangkan dua bunyi, jadi satu huruf terdiri dari dua lambang bunyi,  contohnya seperti huruf lontaraq, Jepang dan Korea. Sistem tulisan tersebut muncul sesuai dengan karakter, pengalaman dan kebutuhan bangsa yang menciptakannya.

Dewasa ini, aksara latin yang berasal dari peradaban Romawi Kuno merupakan sistem tulisan yang dipakai paling luas di dunia. Aksara ini menyebar di Eropa seiring dengan meluasnya pengaruh Kekaisaran Romawi Suci saat itu. Aksara latin juga merupakan aksara yang digunakan untuk menulis kitab suci Injil bagi penganut Kristiani. Kolonialisasi yang dilakukan oleh bangsa-bangsa Eropa ke daratan Asia, Afrika dan Amerika turut pula membawa sistem tulisan latin sehingga kemudian diadopsi sebagai sistem tulisan yang paling universal.

Setelah aksara latin, aksara Arab menduduki peringkat kedua dalam hal penyebaran. Aksara Arab tersebar ke berbagai penjuru benua sesuai dengan alur penyebaran agama Islam yang mewajibkan pengikutnya untuk memahami Kitab Alquran dalam bahasa aslinya. Setelah aksara Arab, aksara Cina menduduki peringkat ketiga. Aksara Cina ini selama berabad-abad digunakan untuk mendokumentasikan khazanah kebudayaan mereka dalam beragam naskah kuno. Seni kaligrafi yang lahir pertama kali dari aksara Cina juga membuatnya populer dan banyak digemari oleh berbagai bangsa di dunia. Di Anak Benua India juga sejak ratusan tahun yang lalu telah berkembang aksara Pallawa yang kemudian menginspirasi kelahiran berbagai macam aksara tradisional di Nusantara. Konon, menurut teh Sinta Ridwan pada tesis S3-nya (beliau adalah seorang filolog muda serta pendiri komunitas Aksakun (Aksara Sunda Kuno)) yang terjadi sebenarnya adalah leluhur kita menciptakan aksara tersebut atas inspirasi mereka sendiri, baru kemudian mendapat pengaruh dari unsur-unsur asing. Pendapatnya di atas menampik anggapan bahwa bangsa-bangsa di Nusantara adalah bangsa yang inferior karena bahkan untuk mencipta aksara saja harus mengambilnya dari India.

Naskah La Galigo dengan ilustrasi yang terdapat di Leiden, Belanda

Salah satu aksara tradisional yang hingga saat ini masih bestari di Nusantara ialah aksara lontaraq. Aksara lontaraq ini oleh Bapak Fachruddin Ambo Enre diperkirakan telah muncul sejak abad ke-14 Masehi. Dinamakan lontaraq karena awalnya aksara ini dituliskan di atas daun-daun lontar yang bentuknya menggulung panjang seperti pita kaset. Lontaraq yang berasal dari peradaban Bugis-Makassar juga bersinonim dengan istilah untuk menyebut naskah ataupun sejarah atas suatu kerajaan. Aksara lontaraq Bugis-Makassar menginspirasi terciptanya Lota Ende, sebuah sistem tulis tradisional sahabat-sahabat kita di Nusa Tenggara Barat.

Aksara lontaraq tidak mengenal tanda virama (huruf mati), sesuai dengan karakter bahasa Bugis. Memang bentuk bahasanya bersifat silabis, sehingga jika orang Bugis menyebut nama “Ahlul”, dia akan mengatakan “Ahelule”, Nur menjadi “Nureq”, “Ahmad” menjadi “Hemmaq” jadi tidak bisa dipaksa menjadi fonetis karena ini merupakan keunikan dari aksara Bugis itu sendiri. Memang bagi sebagian kalangan amatlah sulit dalam membaca dan menerjemahkan makna dari aksara ini, akan tetapi di situlah letak seni serta dituntutnya kehati-hatian seseorang di dalam menafsirkan naskah-naskah kuno. Selain itu, kekurangan ini ternyata justru menjadi kekayaan tersendiri bagi Suku Bugis karena menstimulus lahirnya tradisi sastra serupa elong maliung bettuana. Elong maliung bettuana yang berarti ‘lagu dengan arti dalam’ merupakan sebuah tradisi sastra dimana pendengar menerka cara baca yang benar dari suatu puisi tidak bermakna untuk menyingkap pesan dari puisi tersebut. Contoh penggunaan elong maliung bettuana seperti ini:

Gellang riwatang majjekko,

anre-anrena to Menre’e,

bali ulunna bale-e.

(Artinya: Tembaga melengkung di ujung (kail=meng), makanan orang Mandar (pisang=loka), kebalikan dari kepala ikan (ekor=iko). Melokaq iko, aku cinta kamu.)

Tuh, keren ya? Akan tetapi, di saat bangsa-bangsa asing yang memiliki aksara tradisional di Asia seperti Korea dan Jepang getol mengangkat identitas bangsanya sebagai bagian dari budaya dunia, eh di Indonesia justru terjadi kebalikannya. Sudah banyak pemuda Indonesia yang tidak memahami lagi bagaimana caranya menulis dan membaca aksara tradisional. Selain itu, dihapusnya mata pelajaran Bahasa Daerah oleh pemerintah semakin membuat generasi baru jauh dari aksara leluhur mereka. Beragam cara diupayakan untuk membuat aksara tradisional dapat menyesuaikan diri dengan trend zaman seperti menciptakan huruf-huruf yang mewakili bunyi-bunyi mati seperti yang terdapat di dalam aksara latin.

Belakangan ini di Jawa Barat dan Sulawesi Selatan marak gerakan yang berusaha untuk memodifikasi aksara tradisional sehingga dapat mewakili bunyi-bunyi yang tidak terdapat dalam aksara mereka. Padahal, di Korea sana aksara Hanggeul yang tidak mengenal bunyi “r”, “d”, dan “g” dapat bertahan menghadapi globalisasi. Korea bersikukuh bertahan dengan aksara Hanggeul beserta segala keterbatasannya, bahkan memaksa budaya asing untuk tunduk dengan identitas mereka.

Bagi orang Korea, dunia tidak akan runtuh meskipun seseorang yang bernama “Reza” ditulis dengan “Leja” dalam aksara Hanggeul.

Keunikan aksara Henggeul adalah harga mati yang tidak dapat dilepaskan, apalagi untuk tunduk oleh paksaan internasional.  Ketidaksempurnaan bukanlah alasan bagi mereka untuk berhenti bangga atau mengganti warisan adiluhung nenek moyang tersebut.

Ada banyak cara lho yang dapat kita gunakan untuk melestarikan aksara tradisional tanpa harus menghilangkan warna khasnya. Kaligrafi, contohnya. Pembuatan grafiti, permainan komputer hingga motif kain yang mengambil corak aksara tradisional seperti yang saat ini sudah dilakukan terhadap aksara Hancaraka di Jawa adalah beberapa motivasi untuk usaha kreatif lainnya. Teman-teman, biarkanlah budaya kita menjadi tuan di negaranya sendiri 🙂

Referensi:

-“Ritumpanna Welenrengnge” oleh Fachruddin Ambo Enre, Yayasan Obor.

-“Suara-Suara Dalam Lokalitas” oleh Nurhayati Rahman, La Galigo Press.

Categories
101 La Galigo Featured Galigoku Heritage Camp

Cikal Bakal Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu

Pernah dengar tentang Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu? Mendengar nama ini untuk pertama kalinya mungkin akan membuat kita langsung teringat akan salah satu suku di Kalimantan yang beragama Hindu dan/atau Buddha. Lalu, apa hubungannya dengan Indramayu? Yuk, mari menelusuri tulisan Muhamad Handar untuk mengetahui jawabannya.

Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu merupakan sebuah komunitas. Orang luar sering menyebutnya dengan istilah “Dayak Losarang” atau “Dayak Indramayu”. Namun, sebelum membahas komunitas ini lebih lanjut. Ada baiknya kita menilik pengertian dan serba-serbi komunitas terlebih dahulu.

Konsep komunitas telah mulai memainkan peranan penting dalam penulisan sejarah pada beberapa tahun terakhir.[1] Studi tentang komunitas telah menjadi bagian antropologi dan sosiologi sejak pertengahan abad ini.

Akhir-akhir ini, para sosiologiwan dan antropologiwan mulai memandang kota sebagai kumpulan komunitas atau “kampung-kampung kota”. Antropologiwan Victor Turner, yang mengembangkan gagasan Durkheim tentang pentingnya acara-acara ‘pesta buih kreatif’ bagi pembaharuan sosial, menciptakan istilah ‘communitas’ untuk menyebut solidaritas sosial yang spontan dan tidak terstruktur (contoh-contohnya meliputi kaum Franciskan awal hingga kaum hippies). Solidaritas tentu saja bersifat sementara karena suatu kelompok informal sering bubar secara perlahan-lahan atau melebur ke dalam institusi formal. Walaupun begitu, komunitas dapat hidup kembali sewaktu-waktu di dalam institusi, berkat ritual dan acara-acara lain atas apa yang dinamakan ‘pembentukan komunitas secara simbolik’.

Ritual Adat Suku Dayak Losarang, Indramayu. (Sumber: http://danielmsy.com/dayak-losarang-indramayu/)

Menurut Benedict Anderson, misalnya faktor penting dalam penciptaan ‘komunitas yang dibayangkan’ ini adalah mundurnya agama dan tumbuhnya bahasa lokal (yang didorong oleh ‘kapitalisme cetak’. Bagi Ernest Gellner, faktor terpentingnya adalah tumbuhnya masyarakat industri, yang menciptakan keseragaman budaya yang ‘di permukaan muncul dalam bentuk nasionalisme’. (Burke, Peter. 2003: 84)

Komunitas merupakan istilah “masyarakat” yang dipakai untuk menyebut dua wujud kesatuan manusia yang menekan kepada aspek lokasi hidup dan wilayah, konsep “kelompok” yang menekan kepada aspek organisasi dan pimpinan dari suatu kesatuan manusia. Ada tiga wujud kesatuan manusia yang tidak dapat disebut “masyarakat”, karena memang tidak memenuhi ketiga unsur yang merupakan syarat dari konsep “masyarakat”, yaitu “kerumunan”, “kategori sosial”, dan “golongan sosial”. Sedangkan “perkumpulan” lazimnya juga tidak disebut demikian juga walaupun memenuhi syarat tersebut.

Nah, kembali pada Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu. Mereka dapat digolongkan sebagai salah satu contoh komunitas masyarakat karena memenuhi syarat-syarat tersebut. Komunitas tersebut tepatnya bermukim di Kampung Segandu. Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.[2] “Suku Dayak Indramayu” mulai mencuat ke permukaan sejak pernyataan mereka untuk menjadi golput (golongan putih) pada Pemilu tahun 2004 yang diungkap beberapa media massa, antara lain Harian Umum Pikiran Rakyat (Bandung) dan Radar Cirebon.

Asal usul penamaan Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu :

  • Kata “suku”, artinya kaki, yang mengandung makna bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya masing-masing.
  • Kata “dayak” berasal dari kata “ayak” atau “ngayak”  yang artinya memilih atau menyaring. Makna kata dayak disini adalah menyaring, memilih mana yang baik dan yang salah.
  • Kata “hindu” artinya kandungan atau rahim. Filosofinya adalah bahwa setiap manusia diklahirkan dari kandungan Sang Ibu (perempuan).
  • Kata “budha” berasal dari kata “wuda” yang artinya telanjang. Makna filosofisnya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang.
  • Kata “bumi segandu” yaitu, “bumi” mengandung makna wujud, “segandu” mengandung makna sekujur badan. Gabungan kedua kata tersebut “bumi segandu” mempunyai makna filosofis yaitu kekuatan hidup.
  • Kata “Indramayu” mengandung kata pengertian, “In memiliki kata “inti, ‘Darma artinya orangtua dan kata “Ayu” artinya perempuan. Makna filosofis yaitu bahwa ibu merupakan sumber hidup karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan.

    Suku Dayak Losarang (Sumber: http://fujiprastowo.files.wordpress.com/2012/03/dayak-losarang.jpg)

Jadi, penyebutan kata “suku” pada komunitas tersebut bukan dalam konteks terminologi suku bangsa (etnik) dalam pengertian antropologis, melainkan penyebutan istilah yang diambil dari kata-kata dalam bahasa daerah (Jawa). Demikian pula, dengan kata “dayak” bukan dalam pengertian suku bangsa (etnik) Dayak yang berada di daerah Kalimantan, kendati pun dari sisi performan ada kesamaan yakni mereka (kaum laki-laki) sama-sama tidak mengenakan baju serta mengenakan aksesoris berupa kalung dan gelang (tangan dan kaki).

Kesimpulan yang bisa diambil mengenai komunitas Suku Dayak Indramayu, yaitu :

  1. Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu merupakan sebuah komunitas independen yang tidak mengikatkan diri pada salah satu agama, organisasi, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maupun partai politik tertentu serta organisasi kemasyarakatan.
  2. Warga komunitas ini meyakini ajaran yang diajarkan oleh pimpinan mereka, Takmat Diningrat, yang disebut dengan ajaran ‘Sajarah Alam Ngaji Rasa’. Inti dari ajaran ini mencari kebenaran melalui penyatuan diri dengan alam, pemulian terhadap lingkungan alam, pengabdian kepada keluarga, berperilaku jujur dan sabar.
  3. Istilah “Suku Dayak” yang mereka gunakan sebagai identitas kelompok ini bukanlah ‘suku’ dalam etnik (suku bangsa), melainkan sebuah istilah dalam bahasa Indramayu. Demikian pula kata ‘Dayak’ bukan dalam arti suku bangsa Dayak, melainkan pula diambil dari bahasa Indramayu yang artinya memilih/menyaring.
  4. Pemimpin kelompok ini telah mengalami banyak kekecewaan hidup yang menimbulkan sikap apatis terhadap aturan-aturan formal pemerintah maupun hak-hak sipil mereka. Sikap ini kemudian diikuti oleh para pengikutnya. Selain itu, komunitas tersebut lebih mengarah pada suatu aliran kepercayaan, ketimbang kelompok suku bangsa sebagaimana mereka mengidentifikasikan dirinya ‘Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu’. Kesatuan dan kebersamaan mereka lebih didasari oleh keyakinan bersama akan kebenaran ajaran yang diberikan oleh pemimpin mereka kepada warganya.

 


[1]  Burke, Peter. 2003. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hal. 81


[2]  Hasil temuan wawancara bersama Nurul Hidayat (berasal dari Indramayu) dari Jurusan Sosiologi Progam Studi Pendidikan Sosiologi Tahun 2008, tertanggal 22 Desember 2011.

 

Muhamad Handar merupakan salah satu alumni Heritage Camp 2013.  Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan program studi Ilmu Sosial dan Politik. Pria yang hobi menulis ini punya tiga kata kunci untuk menggambarkan dirinya: inovatif, kreatif dan cerdas. Kenal lebih jauh dengan Handar lewat blognya http://handarsmart.blogspot.com/.