Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Lontara Project Goes to Selayar – Cerita Suku Bajo dari Takabonerate

Takabonerate tidak hanya menyimpan potensi wisata sebagai atoll terbesar ketiga di dunia. Kumpulan pulau dan karang yang menciptakan keindahan serta kekayaan alam di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan ini ternyata menjadi rumah bagi Suku Bajo yang telah meninggalkan gaya hidup nomaden. Simak reportase tim kami yang sempat mewawancarai dua orang sesepuh “Suku Bajo Daratan” ini.

Pagi itu sebelum berangkat menuju Pulau Rajuni Kecil dari penginapan kami di Pulau Tinabo, petugas Balai Taman Nasional Takabonerate memberitahu kami akan keberadaan komunitas Suku Bajo di sana. Saya belum pernah berteman atau bertatap muka langsung dengan anggota suku laut yang terkenal karena dapat bertahan hidup tanpa daratan ini. Semangat bahari Suku Bajo sudah terkenal ke seluruh dunia. Mereka tersebar di berbagai perairan nusantara; di Flores, Maumere, Gorontalo, Selat Malaka, laut Kalimantan Utara, Filipina Selatan, bahkan hingga ke perairan lepas dekat Australia dan benua Amerika. Khayalan saya tentang mereka ialah gambaran anak-anak kecil berambut kemerah-merahan yang tengah bermain di laut, serta perahu tradisional mereka yang menjadi rumah sekaligus tempat penyimpanan makanan. Akan tetapi, ketika akhirnya menginjakkan kaki di Pulau Rajuni Kecil, gambaran-gambaran itu sirna sekejap mata.

Pulau Rajuni Kecil terbagi atas dua wilayah yang dibedakan menurut etnis: kluster Bugis dan kluster Bajo. Sebuah masjid kecil yang cantik di tengah pulau tersebut menjadi tanda batas pembagian wilayah. Meskipun bernama Rajuni Kecil, pulau ini sejatinya berukuran lebih kecil daripada pulau lain di sebelahnya yang dikenal dengan nama Rajuni Besar. Nama Rajuni berasal dari kata dalam Bahasa Bajo yang berarti “rajanya”. Dahulu kala penduduk Bajo banyak tersebar di perairan Takabonerate yang luasnya hingga ke Laut Flores. Mereka telah memanfaatkan potensi alam di wilayah tersebut jauh sebelum tibanya suku-suku pendatang seperti Bugis, Selayar, Makassar, dan Buton. Setiap pelaut asing yang masuk ke wilayah suku Bajo selalu mencari dimana raja penguasa wilayah ini. Mereka terbiasa dengan konsep kerajaan di daratan, sehingga menganggap bahwa Suku Bajo pun memiliki sistem monarki yang sama dengan mereka. Penduduk Bajo yang ditanya mengenai keberadaan rajanya selalu mengarahkan pelaut-pelaut asing ke pulau tersebut. Akhirnya, kedua pulau yang saling bersebelahan ini pun tenar dengan julukan Rajuni.

Haji Darwis

Haji Darwis, narasumber kami menyebutkan bahwa gelar Opu yang terkenal di Luwu itu sebagai salah satu gelar pemimpin adat Bajo. Peninggalan dari “kerajaan” Bajo di Rajuni dapat ditelusuri melalui keberadaan sebuah bendera keramat bernama Pa’ula-Ula atau Ula-Ula. Bendera berbentuk seperti manusia (memiliki tangan, kaki dan kepala) terdiri atas warna hitam, merah, kuning. Ketika dinaikkan di atas tiang, Ula-Ula selalu diringi oleh bunyi-bunyian gendang tradisional. Konon hanya orang-orang Bajo yang memiliki darah bangsawan lah yang berhak untuk menyimpan dan mengibarkan Ula-Ula. Bendera ini pun biasanya dikibarkan hanya pada saat-saat tertentu seperti acara pernikahan. Konon jika Ula-Ula tidak dikibarkan maka keluarga pengantin akan mengalami kemalangan seperti kesurupan atau kematian. Bendera Ula-Ula ini ternyata juga dimiliki oleh beberapa Suku Bajo lain seperti yang terdapat di Kupang dan Semporna (Sabah, Malaysia). Di Semporna, Ula-Ula disebut dengan nama Sambulayang serta menjadi ikon daerah tersebut.

Menurut keterangan dari petugas Balai Taman Nasional Takabonerate, penduduk Pulau Rajuni Kecil di kluster Bugis kehidupannya jauh lebih mapan daripada penduduk di kluster Bajo. Kami pun menyadari hal tersebut dengan melihat-lihat kondisi perumahan di bagian selatan (kluster Bugis) yang rata-rata sudah terbuat dari batu dan tertata dengan baik, dibanding kondisi perumahan di bagian utara (kluster Bajo) yang rata-rata masih terbuat dari kayu dan masyarakatnya banyak yang tergolong miskin. Konon masyarakat Suku Bajo yang terbiasa hidup di lautan tidak dapat mengelola uang dengan baik. Ketika mendapat sedikit rejeki, mereka cenderung untuk berfoya-foya menghabiskannya saat itu juga. Di lain pihak, masyarakat Bugis yang memang telah mendarah daging ruh sebagai pengusaha mampu untuk menginvestasikan keuntungan yang mereka dapat sehingga hasilnya berkesinambungan. Pola pikir yang berbeda di antara kedua suku ini juga nampak dari penerimaan mereka terhadap modernitas. Ketika petugas Balai Taman Nasional membagikan bibit pohon sukun dan ketapang kepada penduduk pulau untuk penghijauan, masyarakat di kampung Bugis menerimanya dengan senang hati. Penduduk di desa utara sebaliknya; kepercayaan lokal Bajo menganggap pohon ketapang adalah pohon tempat roh-roh jahat bersarang. Alhasil, pohon ketapang yang sudah mulai tumbuh pun mereka tebangi.

Bapak Haji Suryadi atau yang dikenal oleh warga dengan sebutan Haji Suraq adalah seorang tokoh masyarakat Suku Bajo di Rajuni Kecil. Ketika kami temui di kediamannya di Kampung Bajo, beliau tengah mengerjakan sebuah joloroq (perahu kayu) bersama pemuda-pemuda desa. Beliau menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya yang sederhana. Sambil duduk santai di ruang tamunya, mulailah Haji Suraq bercerita tentang asal mula Suku Bajo di Pulau Rajuni Kecil.

Kasus Bajo di Pulau Rajuni tergolong unik; mengapa suku petualang yang dijuluki sebagai Gipsi Laut ini dapat menetap di daratan? Konon, mereka mulai menghuni daratan setelah salah seorang leluhur Haji Suraq yang bernama Mboq Tugas (lima generasi di atas beliau) menemukan sebuah bunging di lokasi Pulau Rajuni sekarang ini. Bunging tersebut makin lama menjadi semakin besar sehingga layak dijadikan sebagai tempat huni. Awalnya mereka hanya menjadikan bunging tersebut sebagai tempat singgah, namun semenjak abad ke-18 Suku Tobelo dari Halmahera Utara banyak berkeliaran di perairan Selayar. Suku Tobelo ini menjarah kapal-kapal dagang berbagai bangsa yang melintas di perairan Indonesia Timur. Kapal Sultan Ternate pun acap kali diganggu oleh rombongan bajak laut ini. Kehadiran Suku Tobelo yang meresahkan lalu lintas perdagangan internasional di nusantara membuat mereka amat ditakuti. Suku Bajo yang awalnya hidup damai menjadi target empuk Suku Tobelo untuk dirampok, bahkan dibunuh.

Terdorong oleh ketidaknyamanan berada di bawah bayang-bayang bajak laut, Mboq Tugas yang terkenal karena pernah menghabisi sekapal penuh orang Tobelo dengan berani memimpin kaumnya untuk bermukim di bunging yang ia temukan. Di atas bunging itulah mereka menanam kelapa dan mulai belajar bercocok tanam. Proses ini tentunya tidak gampang. Beberapa cerita yang beredar menyebutkan bagaimana suku ini tidak betah berada di daratan. Ada yang bilang mata mereka dapat melihat kondisi di bawah air jauh lebih terang ketimbang saat berada di darat. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka sering merasa pusing alias ‘mabok’ ketika terlalu lama di daratan, sebagaimana halnya orang darat pusing jika berada terlalu lama di atas laut.

Pada akhirnya masyarakat Bajo dapat beradaptasi dengan kehidupan di daratan dan menyemarakkan Pulau Rajuni dengan beragam aktifitas mereka. Kehidupan Suku Bajo tetap berorientasi dengan laut. Mereka menangkap bervariasi hewan laut untuk kemudian dijadikan konsumsi sendiri maupun di jual lagi. Hasil tangkapan ikan di Pulau Rajuni terkenal beragam, melimpah ruah dan murah. Pelaut dari Makassar, Selayar, hingga Nusa Tenggara Barat dan Timur banyak yang pasokan ikannya didatangkan dari Rajuni.

Berdasarkan dongeng yang selalu diceritakan oleh Mboq Juragang (nenek Haji Suraq) ketika ia masih kecil dulu, leluhur Suku Bajo berasal dari kampung BajoE yang berada di Lubo atau Luwu (sekarang daerah ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan). Konon di sana dulu terdapat sebatang pohon kayu raksasa yang dahannya dapat menyentuh awan-awan di langit. Di atas pohon kayu itulah jutaan burung mengerami telurnya. Suatu ketika, seorang pria sakti menebang pohon tersebut untuk dijadikan sebagai kapal. Bersamaan dengan runtuhnya pohon raksasa, jutaan telur yang berada di atasnya pun ikut pula berjatuhan. Cairan yang keluar dari jutaan telur-telur tersebut menciptakan banjir bandang yang menyebabkan warga BajoE terhanyut ke berbagai penjuru mata angin.

Mereka berkelana mengarungi samudera dan memutuskan untuk tinggal di atas perahu agar katastropi purba yang menyebabkan hancurnya kampung halaman mereka di darat itu tidak terulang lagi. Cerita mengenai asal mula Suku Bajo di atas mengingatkan saya akan episode Ritumpanna Welenrenge dalam epos La Galigo. Sebuah pohon raksasa di muka bumi yang terkenal dengan nama Welenrenge ditebang oleh Pangeran Sawerigading dari kerajaan Ale Luwu sebagai bahan pembuat perahunya untuk berlayar ke negri Cina. Suku Bajo di Pulau Rajuni Kecil tidak mengenal siapa itu Sawerigading atau apa itu La Galigo, namun mitos asal-mula mereka merujuk kepada sumber yang sama dengan suatu penggalan episode dalam karya sastra Bugis klasik.

Haji Suraq juga menceritakan kisah mengenai seorang gadis Bajo yang pada saat banjir bandang tersebut bersembunyi dengan cara masuk ke dalam sebilah bambu. Setelah selama beberapa lama terombang-ambing di lautan, ia terhanyut hingga ke negeri Gowa. Di sana ia ditemukan oleh masyarakat lalu dipersembahkan ke hadapan Sombayya ri Gowa. Sang raja yang jatuh cinta pada pandangan pertama lalu menikahi gadis Bajo itu. Hingga kini cerita yang mengindikasikan Sultan Hasanuddin dan raja-raja Gowa lainnya adalah keturunan dari seorang gadis Bajo ini masih terus tersimpan di dalam memori mereka.

Sayangnya, kearifan lokal masyarakat Bajo semakin tergerus dengan diperkenalkannya model pemerintahan pedesaan. Awalnya saya tidak mengerti, mengapa keberadaan sistem pemerintahan strukrural seperti kepala desa, kepala dusun serta perangkat-perangkatnya itu bisa mengacaukan tradisi yang telah dipraktekkan oleh Suku Bajo selama berabad-abad ini. Menurut Haji Darwis, dulu Suku Bajo menangkap ikan dengan cara yang amat ramah lingkungan, terhindar dari keserakahan. Mereka memiliki aturan main yang didasari pada musim, lingkungan, dan makhluk hidup lainnya. Pada musim kemarau hanya jenis ikan tertentu yang mereka tangkap, demikian pula pada musim hujan. Mereka menunggu saat-saat ketika jumlah ikan sedang naik untuk menangkapnya, memastikan agar daur hidup biota laut ini terus terjaga.

Demikian pula saat berbagi hasil, badan-badan adat seperti punggawa laut yang mengumpulkan hasil laut dari setiap nelayan dan menjualkannya kepada pedagang-pedagang asing. Sistem pemerintahan sederhana orang-orang perahu ini memungkinkan terjadinya aktifitas politik yang ramah lingkungan. Punggawa-punggawa laut membawahi beberapa urusan seperti bagaimana cara menangkap ikan di laut, pembagian hasil, serta. Ada sanksi-sanksi adat yang dikenakan kepada orang-orang Bajo yang melanggar peraturan tersebut. Peraturan-peraturan desa serta penunjukan orang-orang yang tidak memahami interaksi antara orang Bajo dan laut mengakibatkan kematian tradisi serta mengancam kelestarian karang. Pemerintah di pusat yang jauh di sana membuat peraturan-peraturan pengolahan sumber daya alam yang tidak sesuai dengan kondisi di daerah. Suku Bajo tidak dilibatkan dalam pembuatan peraturan tersebut sehingga tidak heran jika kemudian kearifan lokal mereka pun hilang. Padahal berdasarkan suatu penelitian, dimana Suku Bajo bermukim, di situ terdapat kekayaan laut terbaik. Mereka tahu bagaimana cara memperlakukan sekaligus merawat laut dengan penuh kesadaran.

Kini, masyarakat Suku Bajo hidup dengan damai di Pulau Rajuni Kecil bersama tetangga Bugis mereka. Anak-anak Bajo sudah tidak lagi menghabiskan masa hidupnya di atas perahu, namun jiwa dan semangat kelautan masih tersimpan di dalam DNA mereka. Bendera Pa’ula-Ula yang dikibarkan pada setiap upacara adat seakan menjadi pengingat masa lalu akan kehidupan mereka sebagai kembara di tengah luasnya lautan nusantara.

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Itu Bissu, Bukan Waria!

Beberapa bulan lalu, tim kami sempat mengikuti kajian mengenai bissu di asrama mahasiswa Sulawesi Selatan, Yogyakarta. Isu menarik yang mengundang banyak tanya ini dibawakan oleh kakanda Zainal, dosen Universitas Haluleo yang tengah melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada. Nah, pada kesempatan kali ini kami akan bercerita sedikit mengenai bissu dan kondisi mereka yang terancam punah di kampung halamannya sendiri.

 

Bissu dalam ritual Maggiriq. Sumber: Pameran Keris Bugis Bentara Budaya Kompas 2012.

            Kemarin (01/09/2012) komunitas bissu di Segeri, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan diselimuti kabut duka. Upe Puang Lolo, biasa dipanggil Puang Upe tertidur damai menghadap Dewata SeuwwaE alias Tuhan Yang Maha Esa. Sosok yang menjalani laku sebagai pendeta kepercayaan Bugis kuno sejak umur 14 tahun ini tidak meninggalkan apa-apa.  Hanya benda-benda pusaka yang ia jaga dan ke-12 orang bissu yang tersisa di Segeri lah warisan yang tidak ia bawa pergi. Kematiannya amat mendadak. Padahal, baru bulan lalu Puang Upe berangkat ke Yogyakarta. Saat itu, tarian bissunya yang mistis sejenak berhasil memindahkan kemistisan tanah Sulawesi ke pusar budaya Jawa.

Tahun lalu, 28 Juni 2011 dunia juga diguncang oleh wafatnya Puang Saidi, matoa alias pemimpin komunitas bissu Segeri. Puang Saidi yang selama hidupnya aktif dalam berbagai kegiatan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi lokal, banyak dijadikan sebagai obyek penelitian oleh para akademisi, baik di dalam maupun di luar negri. Ia pun juga sering diburu oleh wartawan pencari berita agar foto dan ulasan kata-katanya dapat terpajang di berbagai koran dan majalah.

Partisipasi Puang Saidi dalam pertunjukan Teater I La Galigo besutan Robert Wilson membuatnya menjadi bissu pertama yang pernah keliling dunia dan menggemakan bait-bait Sureq Galigo. Untuk membaca bait-bait dalam naskah tersebut, Puang Saidi mesti belajar terlebih dahulu kepada almarhum Drs. Muhammad Salim. Orang yang memiliki kemampuan dalam mendendangkan La Galigo dihadapan publik disebut passureq, dan profesi ini bukanlah hal yang ditekuni oleh bissu meskipun mereka memahami fungsi dan makna La Galigo. Inilah yang kadang disalahpahami oleh masyarakat awam; bissu = passureq. Film dokumenter yang menangkap kehidupan sehari-hari Puang Saidi seperti The Last Bissu (2004) karya Rhoda Gauer maupun liputan khusus tentang dirinya sudah pernah ditayangkan oleh National Geographic, stasiun-stasiun TV nasional, hingga program internasional seperti Andrew Zimmern’s Bizzare World. Pembawaan Puang Saidi yang memang ramah dan terbuka membuatnya cepat dekat dan percaya dengan orang-orang baru.

Ketiadaan Puang Saidi berimbas dengan diangkatnya Puang Upe sebagai pengganti. Ketika Puang Saidi masih hidup, Puang Upe sudah ditunjuk untuk memangku jabatan puang lolo, alias wakil dari pada sang bissu utama. Ia diharapkan agar kelak dapat menjadi pengganti Puang Saidi. Akan tetapi hingga kematiannya kemarin, Puang Upe belum pernah dilantik sebagai puang matoa. Saat  dikuburkan ba’da dhuhur pada hari yang sama, Ia masih berstatus sebagai puang lolo. Siapakah yang akan menjadi pemimpin komunitas bissu di Segeri? Hingga saat ini pun pertanyaan itu juga masih menimbulkan kegelisahan di kalangan mereka sendiri.

Almarhum Puang Saidi. Sumber: Sharyn Graham

Bissu, konon berasal dari kata biksu. Pendapat terkenal yang dilontarkan oleh almarhum Fachruddin Ambo Enre ini menciptakan persepsi bahwa agama Buddha pernah masuk ke Sulawesi purba dan mendapatkan tempat yang cukup signifikan. Akan tetapi, jejak-jejak Hindu-Buddha di Sulawesi Selatan ternyata tidak kuat menancap sebagaimana jejak kedua agama ini di kebudayaan Jawa maupun Bali. Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa bissu berasal dari kata mabessi yang berarti suci. Bissu pada dasarnya merupakan pendeta agama Bugis pra-Islam yang bertugas untuk menjaga pusaka-pusaka kerajaan serta menjadi penghubung interdimensional antara manusia dan Tuhan. Selaku pendeta, Ia bertugas untuk memimpin beragam ritual adat seperti mangota dan mappanre liseq. Karena dianggap mampu  berkomunikasi dengan dunia para dewa, mereka juga dikenal memiliki kekuatan gaib untuk menyembuhkan penyakit, ilmu kekebalan tubuh, menjadi pawang hujan, maupun sebagai penjaga puteri-puteri raja pada jaman kerajaan dulu. Fungsinya yang terakhir ini mirip dengan kasim atau penjaga harem di dalam kebudayaan Cina.

Keunikan bissu terletak pada jenis kelaminnya. Ketika agama-agama di dunia menonjolkan sifat patriarkhi dengan menunjuk imam-imam mereka dari golongan pria, bissu adalah sebuah perkecualian. Secara sederhana, penampilan bissu terlihat mirip waria atau banci. Khazanah Barat melabeli perbuatan individu semacam ini sebagai seorang transvestite atau transgender, namun pada hakikatnya definisi-definisi tersebut bahkan sama sekali tidak mendekati pengertian filosofis bissu yang sebenarnya. Jenis kelamin bissu adalah sebuah kenetralan yang tidak dapat diterima logika zaman sekarang. Orang Bugis kuno menganggap bahwa dengan bertingkah laku menyimpang seperti itu, seseorang akan terjauh dari hasrat seksualnya, baik terhadap lawan maupun sesama jenis. Mereka akan selalu dalam keadaan suci untuk berkomunikasi dengan dewata karena terhindar dari hasrat duniawi.

Konon, bissu telah dimatikan hasrat seksualnya dengan jalan ditotok pada beberapa bagian tubuh. Cara konvensional ini sekedar untuk memastikan bahwa sang bissu tidak akan melanggar sumpahnya dan berhasrat kepada sesama jenis. Bissu kini berjumlah amat sedikit dan jarang ditemui di daerah-daerah Bugis. Hari ini yang banyak ditemukan di Sulawesi Selatan ialah golongan calabai atau laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan. Golongan yang dikategorikan sebagai homoseksual ini mengambil tempat di tengah masyarakat sebagai penghibur. Mereka juga perlahan memasuki dunia ekonomi dengan menjadi indoq botting atau perias pengantin dan membuka toko. Konon calabai memiliki kemampuan untuk membuat pengantin menjadi cantik. Kategori calabai inilah yang sesuai dengan definisi waria yang dianut oleh masyarakat luas. Bissu yang tidak dapat digolongkan sebagai orowane (pria), makunrai (wanita), calabai, maupun calalai (perempuan yang bertingkah seperti laki-laki) menjadi jenis kelamin kelima dalam kebudayaan Bugis.

Bissu bukanlah identitas individu, melainkan identitas kelompok. Tanpa komunitasnya, seorang bissu tak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga Ia pun tak layak mengusung gelar tersebut. Seringnya bissu disalahpahami sebagai wadam menandakan bahwa masyarakat menilai fenomena ini hanya dari perspektif fisik. Bissu bukanlah penanda gender, namun perjalanan spiritual. Istilah kebahasaan seringkali menjebak pola pikir masyarakat dalam mendeskripsikan sosok bissu. Fakta bahwa bissu pun dapat berasal dari kalangan perempuan dan dapat menikah serta mempunyai anak pun tidak tersorot ke permukaan. Padahal epos besar La Galigo dengan gamblang mengisahkan bagaimana We Tenri Abeng adik Sawerigading sebenarnya adalah seorang bissu. Demikian pula halnya dengan putri kedua Sawerigading yang bernama We Tenri Dio. We Tenri Dio yang seorang bissu ini menikah dengan Lalaki Sigayya dan memerintah sebagai ratu di Pulau Selayar.

Kini, bissu banyak terdapat di komunitas Segeri. Itupun jumlah mereka semakin hari semakin menipis. Ketika mereka diburu-buru untuk dibunuh era operasi pemurnian Islam di bawah komando Kahar Muzakkar, bissu-bissu dari kerajaan Bone, Soppeng, Wajo, Luwu dan lainnya ini banyak yang melarikan diri ke Pangkep.  Elit-elit lokal Pangkep saat itu menerima mereka dengan tangan terbuka. Kondisi budaya di Pangkep yang merupakan daerah peralihan antara suku Makassar dan Bugis membuat elit-elit lokal bersedia mengambil bissu sebagai penguat identitas mereka di tengah kerajaan-kerajaan lain di Sulawesi Selatan.

Bissu tinggal imajinasi yang tersisa dari masa lalu, karena seiring dengan hilangnya kerajaan-kerajaan yang mengultuskannya maka hilang pulalah mereka. Simbol-simbol bissu tadi mengendap di balik bayang-bayang waria yang dengan rendah disematkan oleh masyarakatnya sendiri. Akankah bissu menghilang selamanya dari peredaran budaya nusantara? Jawabannya ada di tangan generasi muda bangsa.

 

Referensi:
–          Nurhayati Rahman, Kearifan Lingkungan Hidup Manusia Bugis Berdasarkan Naskah Meong Mpaloe, La Galigo Press.
–          PUANG UPE’, BISSU PENJAGA RAKKEANG KUNING http://www.insist.or.id/id/node/322.
–          Bissu, Pendeta Agama Bugis Kuno yang Kian Terpinggirkan http://nationalgeographic.co.id/berita/2012/07/bissu-pendeta-agama-bugis-kuno-yang-kian-terpinggirkan.
–          Bissu Segeri Meninggal Dunia di Pangkep http://www.tribunnews.com/2012/09/01/bissu-segeri-meninggal-dunia-di-pangkep.

 

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Perbandingan Mitos Todipanurung di Mandar dan Kisah Tomanurung Batara Guru dalam La Galigo

Mandar ialah suatu kesatuan etnis yang berada di Sulawesi Barat. Dulunya, sebelum terjadi pemekaran wilayah, Mandar bersama dengan etnis Bugis, Makassar, dan Toraja mewarnai keberagaman di Sulawesi Selatan. Meskipun secara politis Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan diberi sekat, secara historis dan kultural Mandar tetap terikat dengan “sepupu-sepupu” serumpunnya di Sulawesi Selatan. Istilah Mandar merupakan ikatan persatuan antara tujuh kerajaan di pesisir (Pitu Ba’ba’na Binanga) dan tujuh kerajaan di gunung (Pitu Ulunna Salu). Secara etnis Pitu Ulunna Salu atau yang biasa dikenal sebagai Kondosapata tergolong ke dalam grup Toraja (Mamasa dan sebagian Mamuju), sedangkan di Pitu Ba’ba’na Binanga sendiri terdapat ragam dialek serta bahasa yang berlainan. Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, “Sipamandar” (menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.  

Lontara Pattodioloang Mandar

Berbeda dengan sepupu-sepupunya seperti Bugis-Makassar dan Toraja, informasi seputar kebudayaan Mandar di internet maupun lewat buku-buku amatlah terbatas. Saya sendiri yang berdarah setengah Mandar dan seumur-umur hidup di perantauan mengetahui Mandar hanya dari cerita-cerita singkat ayah saya saja. Menyedihkannya, kosakata Bahasa Inggris dan Spanyol saya  jauh lebih kaya daripada pemahaman akan Bahasa Mandar. Yang melekat di kepala saya tentang Mandar ialah jejeran pohon kelapa di kebun keluarga di Polewali, bau peappi, perahu Sandeq, dan ilmu hitam.

Suatu hari di bulan April yang kadang basah kadang cerah, saya menikmati liburan semester dengan pulang ke Makassar dan mengunjungi Museum La Galigo di Fort Rotterdam pasca renovasi. Setelah puas berkeliling, saya dan adik Rafika Ramli memutuskan untuk iseng ke perpustakaan di pojok belakang benteng ini. Perpustakaannya bagus, sayang kurang terawat dan koleksi bukunya pun tidak begitu banyak. Ada meja tua Belanda yang masih kuat serta buku-buku sejarah dan budaya yang tergolong langka di sana.  Rak-rak bukunya di tata mengelilingi ruangan. Mata saya yang sedari tadi menelusuri judul-judul buku di rak tua nan berdebu itu seketika membelalak ketika membaca “LONTARA PATTODILOANG DI MANDAR”.

Terus terang, buat saya sebagai seorang pecinta budaya dan pendalam La Galigo, hal-hal yang berbau lontar itu fascinating. Apalagi ini lontar yang berasal dari Mandar, daerah dimana ekspresi budayanya kurang terekspos di panggung nasional. Setelah memutuskan untuk memfoto-kopi naskahnya, saya pun pulang. Salinan naskah tersebut ditransliterasi dan diterjemahkan oleh Drs. M. T. Azis Syah pada masa almarhum Prof. DR. H. A. Amiruddin masih menjabat sebagai gubernur. Naskah asli lontaraq ini ditemukan pertama kali pada tahun 1982 dalam keadaan menyedihkan karena kumal dan robek-robek sehingga banyak bagiannya yang hilang. Bentuknya bergulung, dan apabila dibentangkan panjangnya bisa sampai 30 meter! Almarhum Drs. Muhammad Salim (penerjemah dua naskah pertama La Galigo di Leiden) merupakan tokoh penting yang memiliki andil dalam menyelamatkan naskah ini. Beliau membantu memperbaiki dan mengopi naskahnya sedemikian rupa sehingga bentuknya yang tadi memanjang dapat menjadi lembaran dan diberi nomer halaman.

Lontaraq ini kemudian dilengkapi bagian-bagiannya yang hilang oleh Bapak Muhammad Salim dengan menggunakan lontaraq-lontaraq sejenis yang diolah dari kepingan lontar yang juga mulai hancur. Wah, tragis sekali ya kondisi harta karun budaya di negara kita. Dengan sabar dan telaten Bapak Muhammad Salim menyusun kembali lontaraq ini sehingga dapat dibaca (meskipun pada beberapa bagian terdapat sobekan-sobekan yang hilang dan sudah tidak dapat ditolong lagi). Usia naskah ini telah berumur lebih dari 200 tahun. Ditulis pada abad ke-18 Masehi, sebagaimana tertera dalam halaman 71 naskah: ri 26 Nopember 1800, ri 15 September 1801 dan seterusnya. Bahan tulisannya berasal dari naskah lontaraq dan tradisi lisan yang berumur jauh lebih tua lagi. Naskah ini berbahasa Mandar Pantai dan Pegunungan kuno dengan campuran Bahasa Bugis dan Makassar. Satu hal yang membuat saya terkagum-kagum dengan naskah ini ialah ditemukannya berlembar-lembar halaman berisi ilustrasi yang –bagi saya– untuk ukuran zaman itu tergolong rapi, cantik, dan luarbiasa unik! Ilustrasi-ilustrasi ini tidak hanya terletak di pinggiran atau sela-sela naskah, namun menghiasi kertas dengan penuh. Ilustrasi-ilustrasinya berhubungan dengan cerita yang dituliskan di halaman sebelum atau sesudahnya.

Ruang Perpustakaan Benteng Fort Rotterdam, Makassar

Mitos Todipanurung di Mandar

Ketika membaca foto-kopi naskah ini, khususnya pada bagian asal-muasal penghuni Mandar Pesisir dan Kondosapata, saya menemukan banyak hal menarik yang mengingatkan saya akan epos besar La Galigo. Di Passaleng Ma’duaE (Pasal Dua), dikisahkan tentang Tomanurung (lontar ini menggunakan terminologi “Todipanurung”, namun dalam terjemahan istilah yang dipakai Bapak Azis ialah Tomanurung) atau orang yang turun dari langit di daerah hulu Sungai Saddang yang menjadi nenek moyang mereka. Tomanurung ini ada dua orang; To Kombong di Bura yang berjenis kelamin laki-laki dan To Bisse di Tallang yang berjenis kelamin perempuan. Mereka menikah dan kemudian melahirkan seorang putra bernama To Banua Pong (“Orang Kampung Tua”). To Banua Pong bermukim di Rattebulawang atau Rantebulahan lalu menikah dengan sepupu sekalinya (?) dan menurunkan lima orang anak.

Kelima anak To Banua Pong ini antara lain; I Landoq Beluaq sebagai anak perempuan sulung, I Laso Keppang, I Landoq Guttuq, Usuqsabambang, dan I Paqdorang. I Landoq Beluaq secara harfiah berarti “Si Rambut Panjang”. Ia dikisahkan menikah dengan seorang bangsawan dari daerah Bone yang menelusuri sehelai rambutnya yang lepas di sungai ketika mandi. Mirip dengan dongeng Rapunzel si Putri Berambut Panjang dari Jerman, ya. Hanya saja di versi ini I Landoq Beluaq tidak dikurung oleh seorang ibu tiri yang jahat, Ia justru dibebaskan untuk menikah dengan sang pangeran lalu pergi menuju ke selatan, menjadi leluhur bangsa Makassar. Anak kedua, I Laso Keppang, berangkat ke Belawa di Luwu. I Landoq Guttuq anak perempuan lainnya pergi ke Ulu Saddang. Usuqsabambang bermukim di Karonnangan, dan yang terakhir Paqdroang tinggal di Bittuang.

Paqdorang memperisterikan seorang wanita bernama Rattebiang. Dari pasangan ini lahir empat bersaudara: I Tasudidi, Sibannangang yang menjadi leluhur orang Mamasa, anak ketiga tidak diketahui namanya namun menjadi leluhur orang Masuppu, dan anak keempat bernama I Pongkapadang yang tinggal di Gunung Mambuliling. Pongkapadang menikah dengan seorang wanita dari Sanrabone (Gowa) di Buttu Bulu. Dahulu laut hanya sampai di situ, sehingga di situlah perahu Pongkapadang berlabuh. Dalam versi Kondosapata, Pongkapadang mengembara hingga tiba di pesisir pantai Ulu Manda’, Mamuju yg kemudian menjadi wilayah kekuasaannya. Di tepi laut Ia menemukan seorang wanita asal Bugis Makassar. Wanita itu Ia angkat sebagai isteri dan Ia beri nama Torije’ne’ (Bahasa Makassar: to=manusia, ri=dari, je’ne’=air). Torije’ne’ ini kemungkinan besar adalah wanita yang dalam versi Lontara Pattodioloang disebut sebagai I Sanrabone. Dari hasil perkawinannya dengan Torije’ne’, Pongkapadang mendapat tujuh orang anak dan sebelas orang cucu, sehingga timbul ungkapan dalam Bahasa Kondosapata; Dadi Tau Pitu, Tau Sapulo Mesa. Sosok Pongkapadang inilah yang kemudian dianggap sebagai leluhur bangsa-bangsa di Sulawesi Barat, Tengah dan Selatan.

Putri-Putri Bangsawan Mandar dalam pakaian Tari Pattuduq. Sumber: Wikipedia

Todipanurung di Mandar dan Tomanurung di Bugis

Kisah di dalam Lontar Pattodioloang Mandar maupun epos besar La Galigo sama-sama berawal dari tradisi lisan yang telah ratusan tahun berkembang sebelum dituliskan. Entah, kisah mana yang terlebih dahulu muncul di tengah masyarakat. Meskipun keduanya tampak berbeda, terdapat kesamaan-kesamaan unsur yang berkembang sesuai dengan karakter kebudayaan masing-masing. Kedua kisah mengenai asal mula manusia di bumi diawali oleh kemunculan manusia-manusia supranatural dari atas langit atau dari bawah bumi (lautan).

Karakter Todipanurung yang merintis kehidupan umat manusia dalam kebudayaan Mandar ialah To Kombong Di Wura dan To Bisse di Tallang. To Kombong di Wura secara harfiah berarti “manusia yang muncul meniti buih” sedangkan To Bisse di Tallang “manusia yang keluar dari bambu”. Dari namanya, kedua karakter ini identik dengan tokoh Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, Tomanurung dan Totompoq dalam La Galigo. Batara Guru diturunkan dari langit melalui sebilah bambu betung, sehingga kelak cucunya dinamai Sawe ri Gading (lahir dari bambu). We Nyiliq Timoq yang dimunculkan dari dalam samudera memiliki julukan To TompoE ri Busa Empong alias orang yang dimunculkan dari buih-buih lautan. Perbedaan antara kedua mitos ini terletak pada jenis kelamin karakternya. Apabila di dalam La Galigo tokoh laki-laki ialah Ia yang menetas dari bambu betung, maka di dalam versi Lontara Pattodioloang Ia justru seorang perempuan. Demikian pula ketika di dalam La Galigo tokoh yang keluar dari samudera dengan meniti buih ialah seorang perempuan, di versi Lontara Pattodioloang Ia justru berjenis kelamin laki-laki. Perlu dicatat, pada sumber naskah sejarah Mandar lainnya seperti Lontaraq Pattappingan karakter To Kombong di Wura ialah seorang laki-laki dan To Bisse di Tallang ialah seorang perempuan. Demikian pula dalam versi silsilah Mandar oleh Andi Syaiful Sinrang.

Sebagian sumber sejarah Mandar, sebagaimana yang disarikan oleh Drs. Anwar Sewang, konon menyebut sosok Pongkapadang yang dianggap sebagai leluhur orang Mandar dan Kondosapata itu bersaudara dengan Sawerigading dan We Tenri Abeng. Sureq Galigo tidak menyebutkan nama Pongkapadang sebagai saudara keduanya sepanjang cerita, akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa saudara yang dimaksud di sini bisa berarti putra Batara Lattuq dari perempuan lain selain permaisurinya, We Datu Sengngeng. Bisa jadi Pongkapadang disebut dengan nama lain sesuai karakter penamaan Bugis. Melalui trah “manusia yang menetas dari bambu betung” dan “manusia yang muncul dari busa-busa di lautan” inilah generasi maddara-takku menyemarakkan bumi dengan peradaban dan sistem-sistem nilai.

Hal yang menarik dari mitos Todipanurung ialah; pasca masa-masa chaotic yang dikenal dengan periode sianre bale tauwwe, bermunculan banyak Tomanurung di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Ada Mata Si LompoE di Bone, Putri Tammalate dan Karaeng Bajo di Gowa, Guru ri Selleng di Enrekang, dan lain sebagainya. Akan tetapi, di daerah Mandar sepanjang sejarahnya hanya ada Tomanurung yang mengikat seluruh etnis di Pitu Ba’ba’na Binanga dan Pitu Ulunna Salu; To Kombong di Wura dan To Bisse di Tallang. Tomanurung ini mampir ke muka bumi hanya untuk memulai kehidupan dan membuka jalan menuju peradaban. Sisanya, keturunan mereka yang dibekali leadership dan kemampuan luar biasa lah yang menjadi pemimpin (tomakaka, maraqdia) di tengah masyarakat. Contohnya seperti Pongkapadang, To Lombeng Susu, Maraqdia Todilaling, Tomepayung, dan lain sebagainya.

Siti KDI dalam balutan Baju Pokkoq, busana khas Mandar

Sebenarnya ada sosok Tomanurung lain dalam kebudayaan Mandar, seperti Putri Tonisesse di Tingalor. Akan tetapi, Ia tidak dapat digolongkan ke dalam kategori Tomanurung yang sengaja turun untuk membina umat manusia. Tonisesse di Tingalor merupakan putri seorang dewa yang jatuh terpeleset dari tangga langit ketika tengah berlatih menari untuk upacara kahyangan. Ia terjatuh ke bumi dan turun menuju lautan, namun diselamatkan oleh seekor ikan hiu besar (Bahasa Mandar: Tingalor) dengan cara ditelan. Seorang nelayan di daerah Pamboang berhasil menangkap ikan hiu tersebut dan mendengar ada suara perempuan yang sedang bernyanyi dari dalam perut ikan.

Ketika dibelah, Ia menemukan sang putri yang sedang duduk dalam pakaian kahyangan lengkap. Hingga saat ini bangsawan di Pamboang masih menyimpan bakkar (anting-anting) dan kuku-kuku hias yang berasal dari sang putri sebagai pusaka. Sang putri di bawa kepada raja Pamboang lalu dinikahkan dengan putra mahkota. Pernikahan tersebut dikaruniai seorang putra. Sebagai seorang penghuni kahyangan, Tonisesse di Tingalor memiliki pantangan untuk bernyanyi dihadapan manusia biasa. Suatu hari Ia tengah bernyanyi untuk bayinya, sang suami datang dan meminta sang putri bernyanyi pula untuk dirinya. Meskipun telah ditolak, sang suami tetap memaksa. Dengan berat hati, Tonisesse di Tingalor lalu bernyanyi dari dalam sarung yang ujung-ujungnya terikat karena takut akan dijemput pulang ke Boting Langiq. Ternyata benar, setelah Ia mulai bernyanyi untuk suaminya, celah kecil di atap rumah mereka membuka dan tiba-tiba Tonisesse di Tingalor melayang ke angkasa. Dengan penuh tangis Ia terbang kembali ke kahyangan. Gerakan Tonisesse di Tingalor ketika terbang kembali ke kahyangan itulah yang menjadi asal mula Tari Pattuduq Mandar.

Kesamaan budaya antara Mandar, Bugis, Makassar, dan Toraja memang amat menarik untuk dikaji. Tidak hanya dari segi mitos, namun juga dari bahasa, pakaian, motif-motif lokal, serta adat-istiadat. Perbedaan yang ada antara keempat etnis serumpun ini janganlah dijadikan sebagai penghalang untuk saling mengerti, menghargai, dan belajar. Keunikan budaya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dapat menjadi aset besar demi kemajuan Indonesia di masa mendatang. Saya bangga sebagai seorang putra daerah dengan campuran darah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, bahkan Jawa dan Melayu. Karena dengan mengakui, menjaga serta mengkaji semuanya tanpa membeda-bedakan, saya dapat menjadi orang Indonesia sesungguhnya.

Malilu sipakaingaq, raqbaq sipatokkong, tuppang sipakalewa, manus siparappe (lupa sama mengingatkan, runtuh sama membangunkan, tenggelam sama mengapungkan, hanyut sama mendaratkan)!

 

Referensi:
Andi Syaiful Sinrang, 1980, Mengenal Mandar Sekilas Lintas, Penerbit Tipalayo Polemaju.
Drs. M. T. Azis Syah, 1993, Lontarak Pattodioloang di Mandar Jilid I, Taruna Remaja, Ujung Pandang.
Muhammad Ridwan Alimuddin, http://www.radar-sulbar.com/feature/lombeng-susu-dan-banua-batang/, diakses pada tanggal 3 Juli 2012.
http://mamasa-online.blogspot.com/
http://mustarimula.blogspot.com/2010/10/entografi-budaya-masyarakat-mandar.html
http://putra-mandar.web.id/artikel/sejarah-lahirnya-kondosapata-3.html