Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Mencari Referensi tentang La Galigo

Sejak berdiri pada akhir tahun 2011 lalu, Lontara Project telah banyak sekali menerima pertanyaan yang sama dari para pembaca setia maupun dari orang-orang yang sekedar penasaran dengan La Galigo. Setelah La Galigo diakui oleh UNESCO sebagai Memory of The World, dalam sekejap berbondong-bondong pemuda Indonesia bertanya-tanya akan nasib karya sastra ini. Liputan-liputan di televisi, tulisan-tulisan di koran hingga postingan-postingan di blog dan media sosial beramai-ramai membahas tentang La Galigo sebagai harta karun kesusastraan Indonesia yang hilang. Nah persoalannya kemudian: seberapa akurat kah informasi-informasi yang beredar di luar sana, utamanya yang berada di dunia maya?

 
Kesulitan untuk mendapatkan informasi yang aktual dan terpercaya mengenai La Galigo dirasakan bahkan oleh para pendiri dan anggota Lontara Project. Mengapa? Ini disebabkan oleh keterbatasan sumber ilmiah yang dapat dipakai sebagai rujukan. Ambil contoh, buku. Sebagai media keilmuan yang paling mudah dan murah untuk diakses, di toko buku-toko buku besar tanah air, kita tidak dapat menemukan buku yang membahas mengenai La Galigo. Belakangan ini di Gramedia muncul dua jilid novel berjudul I La Galigo yang sebenarnya hanya menyingkat dan mengubah epos tersebut ke bentuk dan bahasa yang ngepop. Meskipun cukup menghibur, masyarakat luas tetaplah membutuhkan sumber-sumber ilmiah sebagai rujukan utama untuk meresapi keadiluhungan serta keistimewaan epos asli Nusantara ini.

 
Pada kesempatan ini, tim kami akan membocorkan referensi berupa buku, artikel, maupun makalah ilmiah yang kami jadikan sebagai sumber informasi berharga. Sebenarnya ada banyak peneliti asing maupun dalam negeri yang mengkaji La Galigo, namun kami hanya akan membatasinya kepada beberapa orang tokoh saja yang karyanya paling sering kami gunakan selama tiga tahun belakangan.

 
Sumber Referensi Buku
Untuk buku, ada empat serangkai tulisan buah karya ibunda Profesor Nurhayati Rahman yang boleh dikatakan merupakan tempat penggalian pertama serta tempat penyocokan akhir kami tentang segala hal yang berhubungan dengan La Galigo. Gaya tulisan beliau yang mengalir dan analisa yang tajam membuat keempat buku tersebut sebagai masterpiece terbaik tentang La Galigo yang ditulis oleh seorang putri Bugis sendiri. Keempat buku tersebut ialah:

 
Kearifan Lingkungan Hidup Manusia Bugis Berdasarkan Naskah Meong Mpaloe, terbitan La Galigo Press tahun 2009.
Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa (1812-1876) Intelektual Penggerak Zaman, terbitan La Galigo Press tahun 2008.
Cinta, Laut, dan Kekuasaan dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawerigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik), terbitan La Galigo Press tahun 2006.
La Galigo Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, terbitan Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin, 2003.

 

Khusus untuk buku yang terakhir, Profesor Nurhayati Rahman bertindak sebagai sebagai editor bersama dengan Anil Hukma dan Idwar Anwar. Buku yang menurut kami merupakan sumber tunggal terlengkap mengenai La Galigo tersebut adalah kumpulan artikel ilmiah yang ditulis oleh berbagai macam akademisi untuk seminar internasional La Galigo yang pernah diadakan di Kab. Barru, Sulawesi Selatan tahun 2003. Di dalamnya ada artikel menarik mengenai bentuk kapal serta rute pelayaran Batara Lattuq menuju negeri Tompoq Tikkaq berdasarkan naskah La Galigo oleh Horst Liebner (seorang peneliti maritim asal Jerman yang juga mengkaji kapal-kapal karam VOC di perairan Indonesia serta perahu sandeq); hubungan antara bissu dan pewarisan tradisi La Galigo oleh Halilintar Latief; identifikasi tokoh Sawerigading oleh Prof. Mattulada; keterkaitan antara Sawerigading dengan tokoh-tokoh di cerita rakyat-cerita rakyat lain oleh James Danandjaja; dan masih banyak lagi.

 

La Galigo Press yang didirikan oleh Profesor Nurhayati merupakan salah satu usaha beliau untuk membumikan kajian La Galigo bagi khalayak umum. Sayangnya, buku-buku beliau tidak beredar secara nasional. Bagi yang ingin mengoleksi buku-buku tersebut, dapat langsung menghubungi La Galigo Press di Jl. Perintis Kemerdekaan KM 10 Makassar (0411-585920, 588220) atau lewat email ke: galigo_2011@yahoo.com.

 
Buku berikutnya yang tak kalah penting jika berbincang masalah La Galigo ialah karya Prof. Fachruddin Ambo Enre berjudul Ritumpanna Welenrenge Sebuah Episoda Naskah Bugis Klasik Galigo terbitan Yayasan Obor Indonesia. Buku yang terbit tahun 1999 ini adalah hasil kerjasama antara Ecole francaise d’Extreme-Orient dan Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Sebelumnya kami juga sudah pernah mereview karya tersebut di web ini. Di lengkapi oleh peta-peta yang mengilustrasikan geografi Dunia Tengah berdasarkan naskah-naskah kuno, isi buku ini cukup lengkap dan terbilang yang paling kaya dengan informasi tentang La Galigo pada masanya. Buku ini masih beredar di kalangan umum, dimana kami pernah menemukan beberapa eksemplarnya yang tersisa di toko buku Toga Mas Gejayan, Yogyakarta.
Kekuasaan Raja, Syeikh dan Ambtenaar Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300-2000 karya Thomas Gibson dari University of Rochester, Inggris merupakan sebuah simbiosa yang unik antara La Galigo dan kajian antropologi. Buku ini dipublikasikan dalam versi Bahasa Indonesia oleh Penerbit Ininnawa tahun 2009. Meskipun tidak membahas La Galigo dari segi filologi seperti kedua karya penulis lainnya di atas, Thomas Gibson memfokuskan penelitiannya akan hubungan antara La Galigo dengan pusat kebudayaan maritim lainnya di Nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit. Ia juga membahas filosofi mendalam akan peran perempuan dan laki-laki, hubungan antara dunia laut dan pedalaman serta tradisi lisan La Galigo di kalangan pelaut-pelaut Bira, Sulawesi Selatan.

 
Selain itu, ada dua orang penulis lagi yang tidak mungkin luput namanya jika teman-teman ingin menyelami La Galigo lebih dalam. Ia lah almarhum Drs. Muhammad Salim, seorang penerjemah lontaraq yang amat besar jasanya mengalihbahasakan dua jilid naskah La Galigo yang tersimpan di Leiden (NBG 188) ke dalam Bahasa Indonesia. I La Galigo: menurut naskah NBG 188 Jilid 1 dan 2 terbitan Djambatan adalah buku wajib bagi teman-teman yang penasaran akan isi epos besar ini. Manusia Bugis karangan Christian Pelras La Massarassa Daeng Palippu adalah karya wajib lainnya. Di sini informasi mengenai La Galigo dipapar secara rinci, mulai dari perannya sebagai sebuah karya suci masyarakat Bugis pre-Islam, sebagai sebuah karya sastra serta sebagai sumber kajian sejarah. Peneliti berkebangsaan Perancis yang baru saja meninggal dunia pekan lalu ini menganggap La Galigo sebagai sebuah karya yang amat mengesankan, baik dari segi isi maupun panjangnya. Manusia Bugis yang diterjemahkan oleh Nurhady Sirimorok ini diterbitkan Penerbit Nalar (bekerja sama dengan Ecole francaise d’Extreme-Orient) pada tahun 2006.

 
Sayangnya, baik buku terjemahan naskah NBG 188 maupun Manusia Bugis kini sudah tidak dicetak lagi sehingga amat susah untuk mendapatkannya di pasaran. Apabila teman-teman memang berniat untuk mencari, pasar buku bekas Soping di Yogyakarta adalah salah satu tempat yang layak dicoba untuk menemukan karya-karya ini. Jikapun tidak menemukannya di sana, perpustakaan wilayah Sulawesi Selatan serta perpustakaan Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Universitas Hasanuddin memiliki beberapa eksemplar karya ini.

Sumber Referensi Internet
Generasi muda hari ini yang serba instan, seringkali tidak sabaran dalam mengakses informasi. Teknologi internet dalam hal ini bagaikan pedang bermata dua bagi keakuratan informasi yang mereka peroleh. Berikut adalah hasil penelusuran kami mengenai sumber-sumber online yang dapat dipertanggungjawabkan isinya. Tulisan-tulisan mengenai La Galigo ini berasal dari ilmuwan-ilmuwan dunia yang nama dan gelarnya telah malang-melintang di jagad penelitian akademis selama bertahun-tahun. Kami sajikan nama peneliti yang bersangkutan berikut link tulisan-tulisan mereka.

 
Sirtjo Koolhof: kumpulan tulisan ilmiah yang amat bagus mengenai La Galigo, mulai dari segi sastra, sejarah hingga filosofi yang terkandung di dalamnya. Sirtjo Koolhof adalah salah seorang peneliti berkebangsaan Belanda yang turut berandil besar di dalam penerjemahan dua volume NBG 188 yang tersimpan di Leiden University Library. Link
Muhammad Salim: terjemahan dari salah satu episode La Galigo berjudul Pelayaran Sawerigading ke Senrijawa. Link
A.Zainal Abidin: salah satu peneliti senior naskah-naskah lontaraq dan La Galigo, seorang Guru Besar Universitas Hasanuddin yang juga pakar di bidang hukum. Artikelnya ini diterbitkan oleh Cornell University, Amerika Serikat. Link
David Bullbeack: kajian arkeologi di daerah Luwu yang merujuk pada tradisi La Galigo oleh profesor dari Australian National University (ANU). Link

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Lontara Project Goes to The Netherlands Part III – Berziarah ke Makam Matthes

Sabtu, 21 Desember 2013

Agenda tim Lontara Project pada hari kelima adalah berziarah ke makam Benjamin Franklin Matthes di Den Haag. Hari itu pukul 11.00 pagi tim Lontara Project ditemani dengan Prof. Sirtjo Koolhof, ibu Betty Litamahuputty (peneliti berdarah Belanda-Mamasa-Jawa-Maluku), dan Sunarti Tutu (seorang warga Indonesia asal Maros yang telah menetap di Belanda) menziarahi sebuah pemakaman bernama Oud Eik en Duinen.

Rombongan Lontara Project di hadapan makam Matthes

Kala itu hujan gerimis turun membasahi bumi. Langit Den Haag kelabu, seakan tahu bahwa hari ini kami akan menghaturkan sebuket kembang di pusara salah seorang putra terbaiknya. Matthes merupakan seorang ahli bahasa penerjemah kitab Injil dari Belanda. Dalam mengemban tugasnya di Sulawesi Selatan, Matthes memerlukan bantuan orang lain untuk menerjemahan Injil yang berbahasa Latin ke Bahasa Bugis. Ditemuinya seorang Colliq Pujie, negarawan wanita asal Bugis yang intelek dan terasing di Makassar akibat pemberontakannya terhadap kolonialisme Belanda. Berawal dari situlah B. F. Matthes dan Colliq Pujie memprakarsai dan memulai sebuah proyek besar: penyalinan naskah La Galigo yang tersebar luas di berbagai wilayah di Sulawesi Selatan selama sekitar 20 tahun. Atas ide Matthes dan kerjasamanya dengan Arung Pancana Toa Retna Kencana Colliq Pujie itulah lahir naskah epik tulis terpanjang di dunia yang diakui UNESCO dan tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Makam Matthes, putri beserta saudarinya

Makam B. F. Matthes di Den Haag terletak di kompleks pemakaman tua. Di dalamnya juga terdapat beberapa makam penyair dan orang-orang Indo (campuran Belanda-Indonesia) yang tersohor pada zaman Hindia Belanda. Sekedar informasi, Den Haag dulu dikenal dengan nama julukan “Janda Hindia Timur”. Den Haag menjadi tempat bermukim pejabat-pejabat Belanda yang dulu pernah ditempatkan di Hindia Timur serta menjadi tempat suaka bagi banyak warga keturunan Indo pasca merdekanya Hindia Timur. Den Haag selalu punya ikatan yang erat dengan kepulauan Nusantara di seberang samudera sana. Ziarah ini mengingatkan kita kepada kematian serta mengingatkan kita tentang nilai perjuangan orang-orang yang dinikmati hasil karyanya saat ini. Melalui kegiatan ziarah ini diharapkan tim Lontara Project dan pemuda umumnya dapat meningkatkan optimismenya dalam melestarikan budaya nusantara.

 Tulisan Lontara Project tentang B.F. Matthes juga dapat dibaca di –> “Bule-Bule yang Kepincut La Galigo: B.F. Matthes”

 

 Muhammad Ulil Ahsan Arif, mantan Ketua Perhimpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia (HMPPI). Pemuda asal Sengkang ini punya cita-cita yang mulia untuk melestarikan budaya sekaligus mengkampanyekan semangat kesadaran atas isu-isu ketahanan pangan nasional. Dirinya yang lulusan Universitas Mercu Buana Yogyakarta ini amat multitalenta; Ia dapat memainkan beragam alat musik daerah mulai dari kitoka, suling, hingga puik-puik. Kenali Ulil lebih lanjut dengan mengunjungi blog pribadinya di http://ulilahsan.wordpress.com/

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Lontara Project Goes to The Netherlands Part I – Menyapa NBG 188 dan NBG 189

Rabu, 18 Desember 2013

Pagi itu Leiden dingin membeku. Angin musim dingin yang bertiup di belahan bumi utara menggigiti kulit-kulit kami. Tubuh tropis kami jelas tidak biasa disapa oleh iklim khas Eropa. Meskipun sudah jam 10 pagi, akan tetapi mentari seakan enggan untuk membuka kelopak matanya. Orang-orang berlalu-lalang mengenakan pakaian tebal, penutup kepala dan sarung tangan. Lihat, bahkan mereka yang lahir dan besar di tanah ini pun mengaku takluk pada alam. Di tengah kegelapan kami berjalan menuju gedung KITLV di jantung Universitas Leiden.

Rombongan Lontara Project yang beranggotakan 15 orang mendapatkan kesempatan berharga untuk bertandang ke Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) atau yang dalam Bahasa Inggris The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies. KITLV merupakan pusat penelitian Asia Tenggara dan daerah Karibia yang dibiayai oleh Kerajaan Belanda dan swasta yang berfokus pada sejarah, kebudayaan, kebahasaan, antropologi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Mengapa Asia Tenggara dan Karibia? Ya, sebab Indonesia yang mewakili Asia Tenggara dan Aruba yang mewakili Karibia dulunya merupakan “Hindia Timur” dan “Hindia Barat” yang berada di bawah kontrol pemerintahan kolonial Belanda. Kajian-kajian terkait kebudayaan dan sejarah di kedua wilayah tersebut berkembang pesat melalui KITLV yang telah berdiri sejak tahun 1851 di Leiden ini. Riset-riset yang dilakukan oleh KITLV amat dibutuhkan demi kepentingan kolonialisme saat itu, akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu maka fokus riset pun beralih ke tujuan akademis.

Meskipun terlambat sekitar 10 menit, di ruang konferensi KITLV kami disambut oleh Prof. Willem van der Molen (petinggi KITLV yang juga merupakan ahli dalam naskah Jawa kuno), Pak Nico van Horn (bagian kearsipan untuk koleksi khusus KITLV), serta bu Kathryn Wellen (sejarawan yang juga meneliti kebudayaan Bugis Wajo). Sambutan mereka bak coklat hangat di tengah gempuran udara dingin bagi kami. Mereka begitu terbuka, senang sekaligus penasaran ketika melihat kami: untuk apa sih 15 orang pemuda-pemudi dari Indonesia yang mengatasnamakan diri mereka Lontara Project ini terbang jauh-jauh ke negeri Belanda di musim dingin? Jawabannya datang dari keinginan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya dokumentasi serta arsip-arsip kuno yang telah berabad-abad tersimpan di Leiden melalui konteks kekinian. Lontara Project yang mengusung konservasi kreatif sebagai wahana untuk melestarikan budaya dengan memanfaatkan kreatifitas anak muda memandang sudah saatnya kekayaan sejarah bangsa yang tersimpan di KITLV untuk digaungkan, demi mengundang kepeduliaan generasi muda.

Setelah memaparkan tujuan serta harapan Lontara Project, kini giliran pihak KITLV yang angkat bicara. Diskusi dan pemaparan para ahli naskah di KITLV meningkatkan wawasan kami tentang pelestarian naskah dan kebudayaan. Mereka juga menjelaskan metode pelestarian naskah yang telah mereka lakukan dan kembangkan. Selama ini banyak yang berpikir untuk mengembalikan naskah-naskah kuno yang tersimpan di KITLV ke Indonesia, namun apakah ada yang bisa menjamin naskah tersebut dapat terawat dengan baik di Indonesia? Maka dari itu salah satu upaya KITLV untuk mempermudah akses masyarakat Indonesia terhadap manuskrip, audio, visual, maupun jurnal terkait penelitian budaya Indonesia yang tersimpan rapi di KITLV adalah digitalisasi dan pengembangan akses melalui website KITLV. Segala arsip terkait kebudayaan Indonesia yang tersimpan di KITLV dapat diakses melalui website www.kitlv.nl untuk mempermudah masyarakat melakukan penelitian dan mencari sumber-sumber arsip kuno terkait budaya Indonesia di KITLV, jadi tidak perlu jauh-jauh datang ke Belanda untuk melihat naskah aslinya langsung. Pak Nico paham betul arti penting La Galigo bagi kami, maka khusus untuk kunjungan tim Lontara Project sebuah dokumen berisi surat-surat B.F. Matthes yang berasal dari abad ke-19 pertama kalinya dikeluarkan dan ditunjukan ke hadapan kami. Pertemuan di KITLV pada hari pertama diakhiri dengan wawancara singkat dengan para petinggi KITLV tentang kesan dan pesan mereka kepada pemuda tentang pelestarian budaya nusantara khususnya.

Menyelami budaya Indonesia tidak sampai di KITLV saja. Perjalanan tim Lontara Project berlanjut lebih dalam lagi. Naskah epik terpanjang di dunia, itulah yang akan dijelajahi oleh para pemuda yang dilanda gundah dan penasaran akan karya sastra fenomenal tersebut. Itulah La Galigo, terdiri dari 300.000 baris, disusun menjadi 12 jilid yang diakui UNESCO sebagai memory of the world. Naskah asli La Galigo kini tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden. Itulah selaman lebih dalam tim Lontara Project.

NBG 188 Volume I

Kunjungan tim Lontara Project ke Perpustakaan Universitas Leiden langsung disambut oleh Ibu Marie Odette, kepala arsip perpustakaan Universitas Leiden. Kami digiring menuju ke ruang pertemuan di lantai 3 gedung perpustakaan. Memasuki ruang tersebut, langsung terlihat buku-buku tentang La Galigo yang dijejer di atas meja. Tampak jelas buku tebal berwarna mencolok yang merupakan hasil terjemahan naskah La Galigo jilid I dan II hasil penelitian para tim ahli dan penerjemah La Galigo. Diawali dengan perkenalan Ibu Maria Odette dan pendahuluan dari Pak Sirtjo Koolhof, penyelaman dan pengamatan naskah asli La Galigo oleh tim Lontara Project dimulai di sini.

Saat itu Ibu Marie Odette membawa talenan besi beroda yang di atasnya ada beberapa tumpukan arsip tua. Terkesima kami dibuatnya karena ternyata itulah yang merupakan naskah fenomenal 12 jilid volume, epik terpanjang di dunia yang dimaksud. Sebelum digelar di hadapan kami, ibu Marie menjelaskan terebih dahulu kondisi naskah secara singkat. Saat sebelum naskah digelar di hadapan kami, Ibu Marie menaruh bantal dan menggunakan kaos tangan untuk mengambil naskah tersebut. Naskah diletakaan di atas bantal dan selanjutnya dipaparkan oleh Pak Sitjo Koolhof yang merupakan salah satu dari tim penerjemah naskah La Galigo. Sungguh mengagumkan cara mereka memperlakukan naskah kuno ini, memegangnya harus memakai kaos tangan dan meletakkannya pun harus di bantalan khusus. Hal tersebut merupakan kesan kekaguman pertama kami dalam menyapa NBG 188.

Pak Sirtjo dan 12 volume NBG 188

Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan kami saat NBG 188 dibuka. Naskah itu, yang usianya telah lebih dari satu abad dan selama ini menjadi sumber inspirasi kami dalam berkarya, dalam menafsirkannya sesuai kondisi dan kebutuhan anak muda di zaman ini, dibuka dengan penuh kehati-hatian oleh Pak Sirtjo. Bagaikan bayi yang diangkat dari selimutnya. Naskah salinan dari seorang bangsawan negeri Tanete yang diasingkan oleh Belanda dan terpaksa hidup miskin di Makassar, Retna Kencana Arung Pancana Toa Colliq Pujie. Kertasnya yang berwarna kecoklatan, tintanya yang tergores hitam pekat serta catatan-catatan dari pensil yang dibuat oleh B.F. Matthes, seorang penerjemah Alkitab yang mencetuskan ide awal untuk mengumpulkan naskah La Galigo membawa alam pikiran kami melayang ke masa lalu. Membayangkan kolaborasi kedua intelektual ini serta perjuangan mereka dalam mengumpulkan naskah-naskah La Galigo berbagai episode untuk disalin ulang, disusun dan diedit sehingga dapat menciptakan sebuah epos terpanjang di dunia.

Naskah NBG 188 terdiri atas 12 volume, ditulis di atas kertas. Pada naskah-naskah awal, kita dapat melihat banyak coretan yang dibuat oleh Matthes, menandakan bahwa Ia menggunakan naskah tersebut untuk belajar Bahasa Bugis dan menyusun kosakata Bahasa La Galigo. Di naskah-naskah volume akhir, terutama di naskah keduabelas, tidak ada sama sekali bekas coretan dari Matthes, menandakan bahwa mungkin ia belum sempat mengkaji naskah ini. Jelaslah sudah bahwa naskah-naskah ini masih butuh untuk lebih dieksplorasi lagi! Selain melihat NBG 188 kami juga ditunjukkan NBG 189, naskah La Galigo terpendek di dunia yang juga merupakan sebuah teks keramat. Mengapa disebut teks keramat? Sebab naskah ini dimulai dengan sebuah frase “penangkal musibah” dalam Bahasa Bugis serta dibubuhi darah ayam di keempat sudutnya. NBG 189 berisi silsilah Sawerigading yang dimulai dari Datu PatotoE, dewa tertinggi penguasa Boting Langiq dalam pantheon Bugis kuno. Sebenarnya perasaan kami bercampur antara gembira dan sedih siang itu. Gembira karena dapat bertemu dengan pakar-pakar kelas dunia. Gembira karena dapat melihat langsung NBG 188 dan NBG 189. Akan tetapi kesedihan tiba-tiba menyeruak masuk. Kesedihan karena tidak adanya perhatian dari pemerintah untuk menginisiasi proyek penerjemahan naskah monumental ini. Dulu, proyek penerjemahan dua volume pertama La Galigo dibiayai oleh pihak Belanda. Padahal untuk biaya penerjemahan naskah ini, hanya dibutuhkan dana sebesar 3,000 Euro. Bukan jumlah yang besar dibandingkan dengan dana yang dikorupsi oleh pejabat-pejabat di tanah air. Kesedihan lain muncul karena di tanah air sendiri tidak ada perhatian dari generasi mudanya. Tradisi massureq sudah diujung tanduk, seiring dengan semakin tuanya para pelantun La Galigo ini di daerah. 

Siang hari itu kami tutup dengan pesan dari Pak Sirtjo: La Galigo ini adalah sebuah warisan bagi generasi masa kini dari masa lalu. Untuk dapat membuat La Galigo ini dapat bertahan menghadapi arus perkembangan zaman, maka jangan ragu untuk menginterpretasikannya sesuai kapasitas kita sebagai pemuda. Melestarikan nilai-nilai lama bukan berarti harus terjebak dalam paradigma kekunoan yang membuat kita tak akan pernah maju. Sebagaimana yang dulu pernah dipesankan oleh ibunda Profesor Nurhayati Rahman kepada kami “janganlah menjadi katak dalam tempurung”. Lihat lah dunia ini, jelajahi, dan kembangkanlah diri namun tetap berpijak pada akar tradisi.

Seakan belum habis surprise yang Lontara Project temukan di negeri Belanda, terakhir saat kami berjalan menuju keluar gedung KITLV, di tepi sungai yang membelah kampus Universitas Leiden terpampang sebuah bilboard besar yang ditulis dalam aksara lontaraq berbahasa Bugis. Elong yang diukir di gedung KITLV tersebut seakan mewakili perasaan kami yang jauh dari kampung halaman namun tetap senantiasa menggenggam teguh akar tradisi.

Tulisan lontaraq di depan gedung KITLV Leiden

                “Polena pelele winru, tenreq kutuju mata, padana sulisa.”

(Saya sudah kemana-mana di dunia ini, namun belum mataku temukan keindahan yang serupa indahnya dengan kebijaksanaan di negeri ini)

Ditulis oleh Muhammad Ahlul Amri Buana dan Muhammad Ulil Ahsan