Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Fashion of Keraton Nusantara – Part I

Zaman sekarang, dunia fashion tanah air kebanyakan berkiblat ke Barat.  Sebelum booming K-Pop, Jepang dengan style Harajuku-nya juga sempat mewabahi generasi muda. Di tengah pertempuran ide dan kreatifitas untuk membuat diri terlihat indah hari ini, sayangnya fashion nusantara belum mendapatkan perhatian yang besar dari pemuda-pemudi bangsa (malah acapkali dilabeli “kampungan”). Padahal, fashion nenek moyang kita dulu bisa jadi inspirasi yang oke punya lho. Keluarga kerajaan di nusantara ini ternyata punya selera yang tinggi dalam mix and match budaya Timur dengan unsur-unsur estetika Barat, tentunya tanpa kehilangan filosofi di balik pakaian yang mereka kenakan. Penasaran seperti apa? Yuk kita lihat satu-satu!

I. Sri Ratu Tajul Alam Safiatuddin dari Kesultanan Aceh Darussalam

Ialah salah seorang wanita yang pernah memegang tampuk pemerintahan tertinggi di Bumi Nanggroe Aceh Darussalam. Sebagai anak perempuan Sultan Iskandar Muda, tidak heran jika bakat kepemimpinan mengalir di darah wanita yang menjadi patron ulama besar Abdurrauf Singkil. Untuk ukuran wanita pada zamannya pun, track record-nya lumayan mengagumkan: ia punya hobi menulis sajak dan cerita serta mendukung proyek pembangunan perpustakaan di istana. Sosoknya sebagai seorang perempuan yang tegas dan cinta ilmu pengetahuan jauh dari stigma masyarakat Eropa terhadap kaum Hawa pada masa itu. Satu hal lagi yang perlu disaluti dari sang ratu, Ia menjadi penguasa Aceh pertama yang mengizinkan biarawan Fransiskan dari Eropa untuk membangun gereja di wilayah kekuasaannya.

Berdasarkan ilustrasi karya Sayyid Dahlan Al-Habsyi di atas, busana yang ia kenakan jelas mencerminkan pengaruh Timur Tengah dengan adanya kain penutup kepala  serta gamis bermodel Turki. Warna emas dan hijau yang mencirikan keagungan serta agama Islam mendominasi pakaiannya. Aksesoris dari permata seperti kalung, anting-anting, dan hiasan kepala bercorak-ukir menandakan kemajuan peradaban Aceh masa itu. Ada fakta menarik terkait aksesoris emas yang beliau gunakan. Penggunaan emas sebagai perhiasan utama di istana Aceh Darussalam mencapai puncaknya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, dimana menurut laporan Augustin de Beaulieu dari Prancis setiap penari istana mengenakan 20 kg emas di badannya! Trend emas ini dibuktikan dengan koleksi benda-benda peninggalan Kesultanan Aceh di Museum Nasional Kopenhagen yang terdiri atas selendang dan celana berbenang emas, kain kepala, topi dan kalung, anting-anting dan ikat pinggang dari perak. Wow, beliau adalah seorang ratu nan pintar, baik hati, terbuka dan kaya raya!

II. Sampeyandalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana X dari Kasunanan Surakarta

Susuhunan Pakubuwono X – Kasunanan Surakarta (1893-1939)

Inilah raja terkaya dalam sejarah kerajaan Mataram (keraton Yoyakarta-Surakarta). Raja yang bergelar Sinuhun Wicaksana ini amat istimewa. Ia melakukan revolusi di bidang sosial dengan cara memberikan kredit untuk pembangunan rumah bagi warga kurang mampu. Setiap malam Jumat ia akan naik ke atas mobil Mercedes Benz 1905-nya (jangan lupa kalau ia juga raja pertama yang memiliki mobil pribadi di seluruh penjuru Jawa) dan membagi-bagikan uang kepada rakyat yang kurang mampu. Paku Buwono X mendapatkan bintang kehormatan dari Sri Maharaja Puteri Wilhelmina dari Belanda berupa Grutkreissi Ordhe Nederlanse Leyo dengan sebutan raja dalam bahasa Belanda Zijne Vorstelijke Hoogheid. Permaisurinya, Gusti Bandara Raden Ajeng Mur Sudarsinah merupakan putri Sultan Yogyakarta. Penikahan mereka menjadi sejarah karena setelah kerajaan Mataram pecah di tahun 1755 baru kali ini keraton Surakarta dan Yogyakarta kembali menjalin hubungan akrab.

Dalam lukisan ini Ia mengenakan jas hitam atau yang biasa disebut beskap berhiaskan banyak sekali lencana kehormatan. Warna beskap yang hitam menandakan bahwa busana ini tergolong sanes padinetenan atau pakaian yang hanya dikenakan pada upacara adat saja. Sunan Pakubuwono mengenakan kemeja sepinggang serta jarik yang dikencangkan oleh ikat pinggang. Beliau juga mengenakan sepatu atau sloop, yang dari namanya saja sudah jelas berasal dari pengaruh Belanda. Beliau mengenakan kuluk (topi/kopiah kebesaran) yang biasanya juga dikenakan oleh pengantin laki-laki Jawa. Sang istri tampil lebih tradisional dengan baju lengan panjang berbahan velvet atau beludru dengan hiasan benang emas yang hanya boleh dikenakan oleh kaum bangsawan. Jarik dan rambut disanggul. Aksesoris yang ia kenakan ialah tiga susun bros (penanda bahwa beliau merupakan seorang permaisuri), kalung emas, anting-anting, lencana kehormatan, cincin (di kelingking, jari manis dan telunjuk), dan gelang (di kedua pergelangan tangan). Baik raja maupun ratu sama-sama memegang sehelai sapu tangan dengan kunci yang tergantung di bawahnya. Kunci tersebut merupakan kunci ruang pusaka kerajaan.

III. I Gusti Ketut Jelantik dari Kerajaan Buleleng

I Gusti Ketut Jelantik – Patih Raja Buleleng, Bali (1849)

Patih muda yan terkenal gigih menentang penjajahan Belanda ini sejatinya berasal dari Karangasem. Ia terkenal karena kekerasan hatinya dalam mempertahankan martabat kerajaan dan menolak tunduk pada Belanda. Beliau menyerukan puputan alias perang hingga titik darah penghabisan kepada seluruh warga Buleleng. Meskipun terpaksa mundur hingga ke Gunung Batur, Kintamani dan gugur di sana, nama Gusti Ketut Jelantik tetap hidup sebagai penyemangat warga Bali dalam menentang kekuasaan Belanda di Pulau Dewata. 

I Gusti Jelantik nampak begitu gagah pada foto yang diambil di Batavia tersebut. Pakaian yang dikenakan oleh beliau terdiri atas kemeja berkerah dan jas (?) lengan panjang bermotif, kain yang diikat setinggi ulu hati serta celana panjang corak Bali. Beliau juga mengenakan kain sebagai penutup kepala. Perhiasan yang dipakai hanyalah cincin pada jari kelingking dan telunjuk. Pengaruh Barat hampir tidak terlihat, pakaian Gusti Jelantik dapat digolongkan nyaris 100%  busana Bali asli. Berbeda dengan kraton Jawa, di Bali tidak ada motif-motif pakaian yang dikhususkan untuk bangsawan semata. Akan tetapi rakyat biasa tetap tidak diperbolehkan untuk mengenakan kain tenun yang berhiaskan benang emas dan perak atau prada (ragam hias goresan cat emas). Selain hiasan prada, tenunan songket juga menjadi penanda pakaian bangsawan kelas atas. Ciri khas kain Bali yang biasanya berwarna-warni sayangnya tidak dapat kita nikmati dengan jelas pada foto hitam-putih I Gusti Jelantik.

IV. Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa MatinroE ri TucaE dari Kerajaan Tanete

Retna Kencana Colliq Pujie – Arung Pancana Toa (1812-1876)

Sosok perempuan inspiratif yang telah menyusun naskah La Galigo terpanjang di dunia ini adalah seorang sejarawan, budayawan dan novelis pada zamannya. Tidak hanya sampai di situ, kejeniusan beliau juga nampak dengan terciptanya aksara Bilang-Bilang yang idenya diambil dari bentuk aksara Lontaraq dan Arab. Wanita keturunan Johor-Bugis ini terkenal gigih dalam menghadapi Belanda yang bercokol di negeri Tanete (Kab. Barru, Sulawesi Selatan). Meskipun diasingkan selama bertahun-tahun dan tidak mendapatkan perlakuan selayaknya seorang ratu, Colliq Pujie tetap bertahan dengan prinsipnya untuk tidak tunduk pada penjajahan Belanda.

Pada foto di atas, beliau mengenakan baju model Melayu lengan panjang dengan motif geometris. Baju ini tergolong unik, coba saja perhatikan sambungan diagonal yang melintang dari pundak sebelah kiri beliau hingga perut sebelah kanan. Aksesoris yang ia gunakan antara lain dua cincin emas pada jari telunjuk dan jari manis, kalung, serta semacam sisir kecil yang disisipkan di rambut bagian atas serta sapu tangan. Nah, rambutnya mengkilap di foto ini hampir bisa dipastikan diolesi oleh minyak kelapa, tradisi yang hingga saat ini pun masih hidup di kalangan orang tua Bugis. Sarung yang beliau kenakan merupakan sarung dengan motif flora (pengaruh Melayu-Cina?), sayangnya keindahan sarung tersebut tidak kelihatan karena warnanya hitam-putih. Yang paling membuat penulis terkesima ialah sepatu bergaya India (Jutti) yang beliau gunakan! Sepatu dengan ujung melengkung ke atas seperti itu menandakan bahwa beliau tergolong up to date dengan dunia fashion pada zamannya.  Dikutip dari situs The Bata Shoes Museum:

In Northern India, the curled toe and open back is a common feature of footwear, as is the beautiful, intricate metallic embroidery, which today is still executed completely by hand.

Konon sepatu tipe Jutti atau Mojari ini pertama diciptakan pada masa Dinasti Mughal di India Utara, tepatnya di sekitar wilayah Punjab dan Rajasthan sekarang. Hanya kalangan orang kaya dan bangsawan yang dapat memakai sepatu berbentuk unik dengan motif-motifnya yang cantik ini karena biaya pembuatanya yang lumayan mahal. Sepatu tipe seperti ini digandrungi Barat ketika Eropa terserang oleh demam “Gila India” sekitar abad ke-17. Wah, ternyata Colliq Pujie tidak hanya seorang jenius secara intelektual, referensi fashion beliau pada masa itu pun telah berkelas internasional!

 

Berlanjut ke Fashion Keraton Nusantara – Part II

Referensi Gambar: 

http://sejarah.kompasiana.com/2010/06/22/sultanah-safiatuddin-memimpin-berapa-lama-174008.html
http://www.bridgemanartondemand.com/image/646807/-pakubuwono-x
http://devry.wordpress.com/2010/10/27/a7789ef88d599b8df86bbee632b2994d/
http://www.balifornian.com/blog/2012/7/30/our-family-and-balis-royal-family-of-karangasem.html
http://indonesiaproud.wordpress.com/2011/12/22/colliq-pujie-perempuan-bugis-intelektual-yang-diakui-dunia/
http://sergapntt.wordpress.com/category/manggarai/

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Indonesia: Pusat Wisata Megalitikum Dunia

Zaman Megalitikum

Ketika berbincang perkara monumen bersejarah, apa yang kira-kira terlintas di pikiranmu? Candi Borobudur, Tugu Yogyakarta, Patung Jenderal Sudirman atau benteng-benteng zaman Belanda? Pernah terlintas nggak sih keinginan untuk mengunjungi monumen-monumen dari batu-batu besar yang berasal dari zaman Megalitikum?

Selama ini masih banyak yang tidak menaruh perhatian terhadap tinggalan-tinggalan leluhur nusantara dari zaman purba. Dibandingkan candi-candi atau gedung-gedung masa kolonial, obyek wisata bertajuk kebudayaan pra-sejarah masih kurang dipromosikan. Batu-batu besar seperti menhir, meja batu, sarkofagus, dan punden berundak-undak kurang menarik untuk dikunjungi karena bagi sebagian besar masyarakat kita dipandang sebagai tinggalan sejarah yang tidak beradab dan jauh dari teknologi. Malah kadang-kadang tercipta kesan yang seram dan angker ketika berbicara tentang artefak-artefak zaman Megalitikum ini. 

Menhir dengan ukiran di Mahat, Sumatera Barat. Sumber: http://www.whatsnextnaomi.com/2008/08/searching-for-menhirs-in-mahat.html

Era Megalitikum ialah suatu periode waktu dalam sejarah Indonesia dimana masyarakat purba membangun struktur atau monumen dari batu-batu besar (megalit). Batu-batu tersebut memiliki fungsi dan artinya masing-masing. Kebanyakan batu-batu besar tersebut digunakan untuk menghormati arwah nenek moyang ataupun sebagai tempat untuk menaruh sesaji. Nah, Era Megalitikum ini sendiri sejatinya terbagi dua. Yang pertama ialah Era Megalith Tua, dimana sekitar tahun 2500-1500 SM suku-suku Melayu Tua (Proto Melayu) membangun menhir, punden berundak-undak serta arca-arca tetap. Era Megalith Muda terjadi sekitar tahun 1000-100 SM ditandai oleh kedatangan bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu) yang mendirikan peti kubur batu (sarkofagus), dolmen, dan arca-arca dinamis. Apa istimewanya sih batu-batu ini? Zaman Megalitikum merupakan suatu periode yang di kalangan sejarawan dianggap sebagai titik balik kreatifitas manusia untuk mulai membuat monumen atas kejadian-kejadian dalam kehidupan mereka. Gampangnya, zaman Megalitikum ini adalah saat dimana nenek moyang kita dulu mulai memahami filosofi atau makna atas berbagai fenomena kehidupan, yang kemudian oleh mereka disimbolkan melalui batu-batu tersebut. Kalau zaman sekarang kita biasanya memajang foto kakek-nenek kita di pigura, kira-kira yang dilakukan oleh orang-orang zaman Megalitikum ini ialah mendirikan menhir atau batu-batu besar demi mengenang orang tua-orang tua mereka dulu.

Menhir

Ada banyak sekali suku-suku pedalaman di nusantara yang tidak tersentuh oleh pengaruh budaya “Negeri-Negeri Atas Angin” seperti India, Cina maupun Arab. Suku-suku ini dengan setia terus merawat peninggalan Megalitikum serta menjadikan benda-benda tersebut sebagai bagian dari kehidupan religio-magis mereka. Nah, salah satu artefak primadona dari zaman Megalitikum ialah menhir. Menhir berasal dari dua kata dalam Bahasa Keltik, yaitu men (batu) dan hir (panjang). Batu tegak yang tertancap di atas tanah seperti tugu peringatan ini menurut para ahli berfungsi untuk memuja atau menghormati roh nenek moyang. Di Indonesia, menhir banyak ditemukan di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Bentuk dan ukuran menhir pun bermacam-macam, tidak mengenal pakem tertentu. Di Sumatera Barat bahkan ada menhir yang bagian dasarnya berhiaskan ukiran berbentuk ornamen bunga dan seorang gadis yang tengah menari. Konon jika bapak pemilik tanah tempat menhir itu ditemukan tidak iseng untuk menggali bahagian dasarnya, kita tidak akan pernah tahu bahwa menhir tersebut  ternyata menyimpan ukir-ukiran misterius yang sangat indah!

Situs Gunung Padang.

Masih ingat bagaimana media sempat dihebohkan dengan isu mengenai “piramida” yang konon masih tersembunyi di balik Gunung Padang? Nah, sejatinya situs tersebut telah sejak tahun 1914 diidentifikasi sebagai situs Megalitik. Situs yang unik karena terdiri atas serakan batu-batu besar serta punden berundak ini menurut penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Sitongkir dulunya merupakan tempat domisili leluhur nusantara yang suka bermain musik. Beberapa batu ternyata mengeluarkan bunyi yang berbeda-beda ketika dipukul.  Pada kelompok batu-batu tertentu, bahkan ketinggian frekuensinya membentuk notasi yang mirip dengan standar notasi musik Barat!  Temuan-temuan menhir di Indonesia menjadi semakin menarik ketika teman-teman mencari tahu lebih dalam lagi.

Beberapa waktu yang lalu di daerah Purbalingga pernah ditemukan dua menhir yang terbujur dengan simetris ke arah Utara-Selatan dan Timur-Barat. Menhir ini ditengarai sebagai temuan menhir terbesar di Indonesia. Di Sumatera Barat, Nagari Mahat Kabupaten Lima Puluah Koto dijuluki sebagai “Negeri Seribu Menhir” karena jumlah menhir yang ditemukan di daerah ini mencapai lebih dari 500 buah!  Ada pula Kampung Bena di Flores yang dikenal dengan sebutan “Kampung Megalitikum”. Masyarakat di Kampung Bena selain mewarisi banyak menhir dan peninggalan nenek moyang Megalitikum juga masih hidup dengan amat sederhana, sehingga atmosfer “purba” yang didapatkan ketika berkunjung ke sana pun terasa amat kental. Seakan tak ingin kalah, situs Batu Tumonga di Toraja pun menyimpan pesona menhir yang misterius. Pemandangan alam yang indah serta cuacanya yang sejak (karena terletak di atas gunung) membuat teman-teman tidak akan menyesal mengunjungi tempat ini. Di Batu Tumonga teman-teman bisa menyaksikan sekitar 56 menhir (dalam Bahasa Toraja disebut Batu Simbuang) yang ditemukan dalam keadaan melingkar dengan empat batang pohon di tengahnya.

Kampung Bena, Bajawa, Flores. Sumber: http://www.k-travel.info/2012/02/23/bena-kemegahan-warisan-budaya-zaman-batu-di-flores/kampung-bena-di-bajawa-flores-ntt-1/
Situs Menhir di Batu Tumonga

Melihat contoh-contoh di atas, seharusnya Indonesia dapat menjadi pusat wisata Megalitikum terbesar di dunia lho! Sayangnya wisata budaya dengan tema “Megalitikum” belum terlalu populer bahkan di kalangan turis domestik sekalipun. Padahal, konsep wisatanya bisa dikemas tidak sekedar untuk melihat-lihat benda-benda peninggalan pra-sejarah, namun juga dapat menginspirasi pengunjung agar dapat mengungkap misteri yang masih terselubung di dalamnya. Dijamin nggak bakal rugi kok, tempat wisata seperti ini justru akan membawa kita untuk merasakan bagaimana sih rasanya hidup dengan kondisi zaman seperti itu. Siapa bilang periode pra-sejarah itu nggak seru? The Flintstones aja hidup di zaman itu kok! 🙂

Pesan Bung Karno dulu:

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”

Referensi dan Sumber Gambar:
http://epri-wismark.blogspot.com/
http://sambelpedas.wordpress.com/galeri/galeri-megalitikum/
http://www.sulsel.go.id/wisata/Kabupaten%20Tana%20Toraja
http://www.limapuluhkota.go.id/index.php?mod=objek_wisata&act=show&id=40

Categories
Featured Galigoku

Hidup Dari dan Untuk Budaya

Kemarin, setelah sekian lama tinggal di Bandung, dalam  suatu kesempatan yang sangat random dalam hidup, akhirnya saya berhasil juga mengunjungi dua tempat yang sudah sangat sejak lama ingin saya kunjungi  namun belum pernah kesampaian : Museum Geologi dan Saung Aklung Udjo.

Pertunjukan Wayang Golek

Walau kesannya katrok, saya tidak peduli. Bagaimana pun, saya cukup berbahagia mengunjungi Museum ketimbang bersenang-senang di Pusat Perbelanjaan. Cuman, mungkin karena terlalu banyak orang, saya jadi kurang menikmati, selain karena tugas utama saya adalah untuk mendokumentasikan kegiatan. Tetapi saat kami tiba di Angklung Udjo, semuanya berubah. Ditemani sebatang es lilin, awalnya saya hanya melihat-lihat suvenir yang tersedia di shop sebelum kami memasuki area panggung utama. Banyak yang unik-unik, tapi harganya agak mahal *bagi orang-orang yang pernah merasakan shopping experience di Jogja. Ternyata para mahasiswa asing yang kami temani juga seiya-sekata.

Setelah dibagikan sebuah kalung angklung kecil sebagai tanda telah membeli tiket masuk dan sebuah brosur mini yang bisa digunakan untuk mengambil konsumsi sebelum pertunjukan dimulai, kami duduk di sebuah tribun sederhana yang disusun membentuk huruf U mengitari panggung. Dibuka oleh dua orang MC cantik, kami disuguhi instrumen-instrumen ringan dari alat musik tradisional Sunda seperti gamelan, gong dan lain sebagainya. Saya membayangkan ada tempat seperti ini di setiap daerah di Indonesia. Sumatera hingga Papua, bukankah negara kita begitu kaya akan budaya? Saya jadi iri, kenapa Makassar tidak memiliki arena pertunjukan tradisional seperti ini.

Singkat kata, hingga beberapa jam kedepan, indera kami dimanjakan oleh kemampuan para pengisi acara yang atraktif dan memiliki segudang skill. Dari yang paling ingusan, yang usianya masih 2 tahun, hingga yang sudah dewasa. Kami tertawa melihat aksi para seniman-seniman cilik ini. Walau masih kecil mereka tak bisa dipandang sebelah mata.

Setelah tiga pertunjukan, muncul sosok yang saya nanti-nantikan. Kang Daeng Udjo. Perawakannya kecil, tapi saya rasa karakternya dan namanya telah memenuhi harapan para penonton. Siapa yang tak kenal, penerus Kang Udjo, maestro Angklung yang telah mengangkat alat musik khas Sunda ini mendunia. Daeng Udjo pun telah menggemakan nyaring bambu itu di Amerika, melahirkan rekornya sendiri dalam memimpin sekitar 5000 orang agar bermain angklung secara massal. Tahun depan, katanya, akan bermain di Cina, memecahkan lagi rekor untuk kedua kalinya. Subahanallah.

Saya kini tahu, bagaimana orang-orang hebat ini dikenal : Habiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata, Butet Manurung, Daeng Udjo. Bukan penampilan fisik yang mereka bawa, tapi sesuatu yang maha penting yang terbentuk di kepala mereka. Tekad seteguh gunung, mimpi setinggi langit di angkasa. Caranya pun berbeda-beda, namun masing-masing dari mereka telah menggoreskan sejarah, khususnya bagi bangsa Indonesia. Kita bangga memiliki mereka, tapi bukan berarti garis itu putus hanya sampai di sekedar bangga saja. Harus ada tunas-tunas sejarah baru, baik dalam bidang budaya, kemanusiaan, agama, seni kreatif, apapun itu!

Kang Daeng Udjo

Sekali lagi saya iri, sekaligus senang. Agak sesak, kapan anak muda Indonesia memenuhi bangku penonton di panggung pertunjukkan budaya yang apik seperti ini. Seperti Saung Angklung Udjo dan orang-orang yang bergelut di dalamnya. Daeng Udjo dan para puteranya yang semangat melestarikan kearifan lokal dalam seni bermusik. Minggu depan giliran Jerman negeri yang akan mereka sambangi.

Hidup dari dan untuk budaya. Kuru sumangeq!