Categories
101 La Galigo Featured Heritage Camp I UPS! La Galigo Liputan

Generasi Baru Konservasi Kreatif Lahir di Heritage Camp 2013! Part I

Menyeleksi 35 orang dari 274 pendaftar jelas bukanlah hal yang mudah! Setelah selama sebulan lebih mencari-cari, akhirnya panitia Heritage Camp 2013 yang terdiri atas volunteer Lontara Project serta mahasiswa-mahasiswi UGM berhasil menemukan mereka. Agen-agen konservasi kreatif budaya yang mewakili empat klaster besar Nusantara: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara ini satu tekad dan percaya bahwa untuk melestarikan budaya di era globalisasi, kekreatifan dan jiwa muda amat dibutuhkan!

Day #1

Pagi-pagi benar panitia sudah harus standby di Ambarbinangun. Bus datang pukul 06.00, dengan segera saya sebagai fasilitator dan Fajar Priyambodo yang in charge di bidang perlengkapan dan transportasi berangkat menuju Stasiun Tugu. Meeting point yang telah disepakati oleh panitia adalah di tempat itu, maka mau tak mau seluruh peserta yang menghendaki untuk dijemput harus menunggu sejak pukul 07.00 hingga 09.00 di Stasiun Tugu. Meskipun belum sarapan, kami dipenuhi oleh semangat untuk bertemu dengan para peserta Heritage Camp 2013. Sebelumnya saya hanya memandangi foto-foto dan membaca aplikasi mereka seraya menduga-duga seperti apakah karakter mereka sebenarnya. Meskipun ada sedikit kesalahpahaman dengan salah seorang peserta terkait lokasi penjemputan (saya dan Fajar terpaksa harus jalan ke Jalan Malioboro dari tempat parkir bus di Jalan Pasar Kembang untuk menjemputnya) namun acara penjemputan berjalan lancar tanpa ada seorang pun yang tertinggal. Terima kasih pula atas tenaga bantuan yang diimpor jauh-jauh dari Bandung, saudara Setia Negara.

Pembukaan Heritage Camp 2013 di Ambarbinangun

Sesi pertama dimulai setelah sholat Jumat dan istirahat makan siang. Panitia ternyata memang tidak salah pilih, dengan cepat peserta-peserta tersebut sudah akrab satu sama lain, bahkan saling bercanda dengan panitia. Setelah Anggita Paramesti selaku project manager memberikan penjelasan mengenai acara-acara yang akan mereka lewati bersama selama 4 hari, ‘peri-peri Oprah’ alias julukan untuk panitia di bidang dana-usaha-publikasi yaitu Novia PermatasariDiah Sri Utari dan Zafira Sabrina muncul dan membagikan seminar kit kepada para peserta. Mereka dibantu pula oleh Gebyar Lintang dan Arin Purisamya selaku sekretaris dan bendahara Heritage Camp 2013.

Setelah dibriefing secara singkat, sekitar pukul 15.30 para peserta mendapatkan sesi lecturing pertama dari Bapak Daud Tanudirjo. Beliau merupakan dosen Arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Beliau merupakan salah seorang aktifis yang mendukung terciptanya Piagam Pusaka Indonesia. Pak Daud mengampu sesi “Klasifikasi Pusaka Indonesia” dan penjelasan beliau di hari pertama ini amat penting dalam memberikan pengertian kepada peserta Heritage Camp akan materi-materi yang akan mereka terima di hari-hari selanjutnya.

Teh Sinta dan rekannya sedang menjelaskan tentang aksara Sunda Kuno yang ternyata memiliki banyak kesamaan dengan aksara-aksara di Sumatera dan Sulawesi Selatan.

Hari itu ditutup dengan sesi berjudul “Dokumentasi Manuskrip di Indonesia” oleh Sinta Ridwan. Sinta Ridwan yang datang jauh-jauh dari Jawa Barat ini merupakan penerima  anugerah Kick Andy Heroes 2012 oleh MetroTV atas usahanya untuk membangkitkan kembali pengajaran aksara Sunda Kuno kepada masyarakat umum di Bandung. Setelah menyampaikan materinya, teh Sinta lanjut memberikan workshop penulisan aksara Sunda Kuno. Amat menarik, setelah beberapa menit diterangkan metodenya, dalam waktu singkat para peserta camp langsung dapat memahami dan menuliskan nama mereka masing-masing dalam aksara tersebut. Setelah workshop selesai, teh Sinta kembali mengajak peserta camp untuk aktif mendiskusikan naskah kuno Budug Basu. Naskah kuno yang berasal dari Cirebon abad ke-19 ini sekarang berada di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Teh Sinta memberikan gambar contoh naskah dan meminta peserta camp untuk memberikan analisisnya masing-masing terhadap naskah tersebut. Sekali lagi, panitia memang tidak salah pilih dengan para peserta ini. Satu per satu hipotesa dicetuskan oleh masing-masing kelompok, ada yang mengomentari makna ilustrasi, jenis huruf yang dipakai, isi cerita, lingkungan yang dideskripsikan naskah, hingga ke hubungan romantisme antara Dewi Sri dan Budug Basu yang sehidup-semati. Malam itu para peserta dipenuhi oleh perasaan bangga akan warisan leluhur nusantara kepada mereka melalui pusaka dalam bentuk naskah kuno dan aksara.

 

Day #2

Pagi-pagi benar panitia dan peserta Heritage Camp dikejutkan oleh kehadiran Garin Nugroho. Siapa sih yang tak kenal maestro film Indonesia ini? Tangan dinginnya telah menghasilkan banyak karya-karya fenomenal yang sering menang diajang festival film internasional. Sebut saja “Opera Jawa”, “Daun di atas Bantal”, “The Mirror Never Lies”, dan yang baru-baru ini santer diperbincangkan; “Soegija”. Mas Garin yang ternyata lulusan sekolah hukum ini berbagi tentang ide-ide serta proses kreatif yang muncul dalam menuangkan kisah mengenai masyarakat dan budaya Indonesia lewat film. Mas Garin sempat mencetuskan bahwa budaya pop yang santer di Indonesia belakangan ini sifatnya hanya memikirkan “saat ini saja” sehingga tidak heran jika hidupnya tidak lama. Akan tetapi, film-film yang mengadopsi serta mengangkat nilai-nilai lama kebudayaan, umurnya justru akan panjang. Ia sengaja menciptakan film-film dengan isu-isu ‘heritage’ karena menurutnya manusia merupakan sistem nilai dari ‘heritage’ itu sendiri.

Sesi bersama Garin Nugorho

Sesi selanjutnya dibawakan oleh Djaduk Ferianto. Sejak tahun 1972 Mas Djaduk sering menggarap ilustrasi musik sinetron, jingle iklan, penata musik pementasan teater, hingga tampil bersama kelompoknya dalam pentas musik di berbagai negara. Sobat Lontara tentunya masih ingat dengan film Petualangan Sherina, bukan? Nah, Mas Djaduk inilah yang memerankan tokoh antagonis Kertarajasa. Mas Djaduk sedikit curcol kepada peserta Heritage Camp akan pengalamannya di masa lalu. Ia pernah dihujat habis-habisan oleh seniman senior karena KUA Etnika, grup musik yang ia dirikan, mencoba untuk berimprovisasi terhadap musik tradisional. Namun ternyata cobaan itu tidak menghentikan langkahnya. Menurutnya tidak ada yang salah dengan membawa musik tradisional ke dalam konteks kekinian. Sesi siang dibuka oleh Is Yuniarto dari Surabaya, komikus pemenang Lomba Komik Animonster 2006. Karyanya yang sekarang ini sedang booming ialah komik Garudayana yang mengambil tema pewayangan Jawa. Setelah menyampaikan materinya mengenai konservasi kreatif melalui komik, Mas Is mengajak peserta camp untuk membuat komiknya sendiri. Berbekal dengan spidol, kertas dan arahan dari Mas Is, dalam sekejap peserta Heritage Camp sudah dapat membuat komik empat panel dengan cerita-cerita yang lucu!

Mas Is sedang sharing mengenai proses kreatif penciptaan karakter dalam komik Garudayana

Hari itu ditutup oleh sesi terakhir dari Bapak Suwarno Wisetrotomo. Pak Warno yang juga merupakan dosen di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta kali ini mendapat kepercayaan untuk membawakan materi tentang “Seni sebagai Alat Perekam Peradaban”. Sesi ini berlangsung dengan amat interaktif, peserta camp berulang kali mengajukan pertanyaan dan memberikan tanggapan atas pernyataan-pernyataan dari Pak Warno. Pak Warno yang juga merupakan pemimpin redaksi Jurnal SENI – Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni sejak 1992 menunjukkan beberapa slideshow terkait kekayaan seni rupa Indonesia. Pemaparan beliau bahwa lukisan yang tak berhuruf pun dapat menceritakan sejarah suatu bangsa membuat peserta camp dan bahkan panitia terpukau. Khazanah kekayaan budaya Indonesia yang tiada bandingnya di dunia ini seakan-akan meraung-raung untuk dikaji dan dipahami oleh generasi mudanya.

Eits… Meskipun di atas kertas acara hari itu telah selesai pagi para peserta camp, lantas tidak dengan serta-merta mereka kembali ke wisma untuk tidur. Panitia telah sepakat bahwa untuk “Malam Budaya” yang akan diadakan di hari terakhir, mereka diberi kepercayaan untuk mengurus jalannya acara tersebut dan penampilan seni dari mereka sendiri. Tantangan ini justru diterima dengan senang hati oleh peserta camp. Buktinya, durasi latihan yang awalnya hanya dijadwalkan hingga jam 22.00 malah mereka extend hingga pukul 23.30! Antusiasme peserta camp yang dipenuhi oleh ide kreatif inilah yang justru membuat panitia kewalahan. 

Hari pertama dan kedua selesai sesuai rencana. Bagaimanakah aksi para peserta camp di hari ketiga dan keempat? Bagaimana pula aksi fasilitator mereka yang terdiri atas Muhammad Ahlul Amri Buana, Maharani Budi, Primi Sudharmadi Putri, Waskito Jati dan Ulil Ahsan di hari ketiga dan keempat? Yang jelas, setiap hari di Heritage Camp 2013 selalu ada cerita unik dan kejutan!

Tunggu kisah mereka berikutnya ya 🙂

Categories
101 La Galigo Featured Galigoku Liputan

Menemukan Persembunyian Sang Elang Bondol

Satwa Indonesia terancam! Aduh aduh… Di negara dengan tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi seperti tanah air ini ternyata semakin banyak saja hewan-hewan endemik yang masuk ke dalam daftar binatang langka. Salah satunya adalah Elang Bondol. Mari simak petualangan kontributor kami Githa Anathasia dalam pencariannya menemukan persembunyian Elang Bondol…

Uhh, bau amis menyengat begitu kami memasuki kawasan Muara Angke Jakarta. Pagi itu, kami berencana mengunjungi salah satu pulau di Kep.Seribu yang bernama Pulau Kotok Besar, melalui penyeberangan dermaga Muara Angke. Rasa penasaran yang besar, membuat kami ingin mengunjungi pulau tersebut, berdasarkan info yang didapat bahwa di pulau tersebut terdapat tempat Konservasi Elang Bondol dan Elang Laut, yang keberadaanya di Indonesia khususnya sekitaran Jakarta sudah bisa dibilang hampir musnah.

Haliastur Indus atau Brahminy Kite nama spesies ini. Memiliki ukuran sedang (45 cm), berwarna putih dan coklat pirang. Elang bondol yang remaja berkarakter seluruh tubuh kecoklatan dengan coretan pada dada. Warna berubah putih keabu-abuan pada tahun kedua, dan mencapai bulu dewasa sepenuhnya pada tahun ketiga.Ujung ekor bundar.Iris coklat, paruh dan sera abu-abu kehijauan, kaki dan tungkai kuning suram.
Ketika dewasa,karakter tubuhnya adalah,kepala, leher, dada putih. Sayap, punggung, ekor, dan perut coklat terang. Kontras dengan bulu primer yang hitam. Makanannya hampir semua binatang, hidup atau mati.Di perairan, makanannya berupa kepiting, dan di daratan memakan anak ayam, seranggan dan mamalia kecil. Memiliki sarang berukuran besar, yang terbuat dari ranting pada puncak pohon. Warna telurnya putih, sedikit berbintik merah, jumlah 2-3 butir.Perkembang biakan pada bulan Januari-Agustus, dan Mei-Juli.
Sekitar tahun 1989, elang bondol dan Salak Condet dijadikan sebagai maskot kota Jakarta. Hal itu bisa dilihat di kawasan Cempaka Putih. Di sana terdapat sebuah patung tegak berdiri, yakni patung “burung bondol membawa salak condet”. Kalau di India, dianggap sebagai representasi kontemporer Garuda, burung suci dari Wisnu.

Bahkan ada sebuah fabel yang berjudul Pulau Bougenville menceritakan seorang ibu yang meninggalkan anaknya di bawah pohon pisang sambil berkebun, dan si bayi melayang ke langit sambil menangis dan berubah menjadi Kaa’nang, yaitu elang bondol, dan kalungnya berubah menjadi bulu burung

Akhirnya jam 6.30 kapal kami berangkat dari Dermaga Muara Angke menuju Dermaga Pulau Kelapa. 3 Jam berlalu, sampailah kami di Pulau Kelapa. Kami dijemput oleh guide kami, menuju Pulau Kotok yang berjarak sekitar 15-20 menit.
Sampailah kami di Pulau Kotok Besar yang bila dilihat dari luar seperti hutan, tetapi di sisi lain pulau tersebut terdapat resort yang cukup mewah bagi para honeymooners atau mereka yg ingin menginap dengan cara yang berbeda.

Dua ekor elang bondol beraksi depan kamera

Memasuki pulau ini , kami disambut dengan bunyi nyaring hewan yang ternyata selama ini kami pertanyakan keberadaanya, yakni Burung Elang Bondol. Mereka berada dalam kandang yang terbuat dari jaring jaring besar. Didalam kandang itu terdapat sebuah bak besar untuk hewan hewan tersebut minum. Tetapi hey, kenapa ada yang pincang ya trus kok bulunya ada yang hilang..?.
Akhirnya pertanyaan itu terjawab, menurut penuturan Mas Fauzi volunteer yang bekerja untuk JALAN ternyata burung burung malang ini adalah hasil sitaan mereka dari para pembeli ilegal.

Di Pulau Kotok Besar ini, burung burung tersebut di rawat dan akhirnya dikembalikan ke alam liar. Sebelum dilepaskan, ada proses adaptasi dan recovery terlebih dahulu.
Banyak sekali Elang Bondol disini, dan kondisinya memprihatinkan. Ada yang jarinya patah, sayap terbangnya patah, bahkan ada yang pincang. Dan itu bukan karena mereka berburu mangsa, tetapi karena manusia tidak bertanggung jawab yang membeli mereka yang berharap dengan memperlakukan mereka seperti itu, mereka tidak bisa terbang lagi. Ih .. jahatnya manusia.

Diluar dari Pulau Kotok terdapat jaring besar yang langsung menghubungkan Elang dengan laut, ternyata tempat itu berfungsi untuk tempat adaptasi sebelum akhirnya dilepas liarkan.

Tak hanya Elang Bondol yang ada disini, ada Oneng sang Elang Laut Perut Putih yang cantik dengan warna bulu sayapnya keabuan.
Haliaeetus leucogaster, nama latin spesies ini. Dengan tubuh sebesar (70 cm). Elang yang saya lihat berukuran dewasa dengan warna kepala, leher, bagian bawah putih serta sayap, punggung, dan ekor abu-abu. Elang ini hobi bertengger di pohon pinggir perairan atau daerah karang. Menurut Fauzi, bila burung ini menangkap ikan di permukaan laut dengan tukikan tajam, tubuhnya hampir tidak basah. Sarangnya terbuat dari dahan dan ranting berlapis daun pada pohon tinggi. Dengan telur berwarna putih, dan berkembang biak di bulan Mei dan Juni. Sayangnya, Oneng sudah tidak bisa lagi terbang seperti semula karena sayapnya sudah patah.

Melihat kondisi spesies ini yang menjadi maskot Ibukota dari Indonesia, sungguh disesalkan. Butuh kepedulian kita untuk tetap melestarikannya, jangan sampai punah. Selain karena proses perkembang biakannya yang lambat, hewan ini juga rentan menjadi incaran para kolektor memiliki daya tarik yang menawan, dan memiliki harga jual yang tinggi. Siapa yang tidak tergiur?

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika kita mengunjungi lokasi Konservasi atau rehabilitasi satwa.

Jangan datang terlalu ramai; bila jumlah kunjungan kita terlalu banyak, hewan yang ada di lokasi tersebut akan panik, selain membahayakan mereka, juga membahayakan diri kita sendiri
Jangan sekali kali memberi makan mereka dengan makanan yang kita bawa. Animal feeding itu memiliki impact yang tidak baik bagi satwa yang berada di daerah Konservasi/rehabilitasi. Gak mau kan, begitu kita tinggalkan lokasi tersebut hewan hewan itu mencari-cari makanan yang kita bawa, bukan makanan asli mereka lagi.
Dont touch anything. Kuman paling gampang menular melalui sentuhan tangan.
Use your mask, kalau misalnya kita memang sedang flu supaya tidak tertular ke mereka, begitupun sebaliknya.
Pahami, Catat, dan Bagikan. Pahami mengenai hewan tersebut, Catat hal penting yang nantinya bisa kita Bagikan ke orang lain.
Bantu teman teman volunteer, dengan turut menjaga kebersihan lokasi konservasi dan mengumpulkan donasi untuk kebutuhan pemeliharaan hewan hewan tersebut.
Yang terpenting, jangan membeli satwa langka / dilindungi dari para penjual. Tingkat kepunahan akan tinggi saat konsumen banyak yang membelinya.

Sudah seharusnya kita bangga akan hewan asli negara kita sendiri, jangan sampai menyesal ketikan hewan hewan tersebut sudah punah, atau saat diakui oleh negara lain. Di saat hewan hewan itu ada di negara kita, sebesar apa kontribusi kita untuk mereka?

 

Githa Anathasia, seorang ecotourism consultant, penikmat pasar tradisional, volunteer kegiatan sosial dan lingkungan. Predikat itu berada di perempuan ini, plus salah satu penghargaan yang baru saja ia terima sebagai salah satu Creative Tourism Ambassador dari salah satu Media Marketing terkemuika di Indonesia. Kenali Indonesia dan budayanya melalui sisi masyarakat lokal dan potensi kelompok usaha diwilayah tersebut.

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Fashion of Keraton Nusantara Part – II

Lanjutan dari Fashion of Keraton Nusantara Part – I

Apa jadinya ketika putri-putri yang hidup dalam dongeng dan cerita rakyat tiba-tiba muncul ke dunia nyata dan berlenggak-lenggok di atas catwalk bak supermodel? Bagaimana jika Roro Ireng dari era pewarangan, Roro Jonggrang dari zaman Mataram Hindu bertemu dengan Nyi Blorong dan Nyi Roro Kidul dari era kerajaan Jawa Pertengahan? Itulah yang terjadi di Jogja Fashion Week 2010. Kreatifitas berpadu selera seni yang tinggi telah berhasil menghidupkan kembali putri-putri dari negeri dongeng ini kehadapan kita semua! Penasaran? Yuk, simak ceritanya berikut ini!

RORO IRENG

Sobat Lontara tentunya kenal dengan tokoh dalam pewayangan Purwa yang bernama Wara Sumbadra kan? Istri Arjuna, Sang Panengah Pandawa ini konon kecantikannya merupakan setengah dari kecantikan kaum Hawa itu sendiri! Saking cantiknya, tak heran ia menjadi rebutan banyak ksatria dan bangsa raksasa, seperti Burisrawa. Konon, sebelum menjadi luarbiasa cantik, Sumbadra terlahir dengan kulit hitam legam dan rambut ikal. Ia sering diejek dengan sebutan Roro Ireng alias “The Black Lady“. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, Roro Ireng tumbuh menjadi wanita yang cantik, anggun dan elegan. Kesantunan, kelemah-lembutan serta kesetiaannya lah yang membuat lelaki playboy setaraf Arjuna jatuh cinta!

Kali ini Roro Ireng tampil dengan busana hitam nan megah. Gaunnya yang luarbiasa besar itu (harus diangkat oleh dua orang setiap kali dia berjalan!) dibuat bergelombang-gelombang kecil, selintas mengingatkan kita akan “wedhus gembel” gunung Merapi. Meskipun di wajahnya banyak diberi hiasan kehitam-hitaman (face painting) seperti jelaga akan tetapi kesan elegan serta menawan tidak jauh darinya. Kulit modelnya yang sawo matang pun menambah keeksotisan sosok yang ia bawakan ini. Siapa bilang item itu kurang menarik? Kalau kata Malcolm X dulu sih black is beautiful!

NYI RORO KIDUL

Nyi Roro Kidul adalah sosok perempuan yang paling misterius dalam dunia gaib tanah air. Ia ditakuti sekaligus dicintai oleh masyarakat yang tinggal di pesisir selatan Pulau Jawa. Konon dulunya ia adalah seorang wanita yang gemar bertapa dan mendapatkan kesaktian luarbiasa. Ia tidak ingin menikah dengan pangeran-pangeran yang melamarnya, maka demi menghindari keramaian dunia, ia memutuskan untuk pergi ke pantai selatan dan bertapa di sana. Di pesisir itulah ia menjadi penguasa segala jenis lelembut dan makhluk-makhluk halus lainnya.

Nyi Roro Kidul berperan penting dalam suksesi kepemimpinan di Tanah Jawa. Tanpa restu darinya, niscaya Panembahan Senopati (pendiri kerajaan Mataram yang berarti merupakan kakek moyang dari bangsawan-bangsawan Yogya dan Solo pada hari ini) tidak akan dapat mendirikan kerajaannya sendiri. Bantuan oleh makhluk gaib sebagai restu atas kedaulatan seorang raja banyak ditemukan di dalam mitos-mitos Jawa klasik.

Di pagelaran fashion ini, Nyi Roro Kidul tampil dengan busana Jawa tradisional yang dimodifikasi. Tentu saja, warnanya hijau. Konon menurut mitos masyarakat yang tinggal di pesisir selatan, warna hijau merupakan warna milik sang ratu. Hijau ini kadang-kadang dihubung-hubungkan pula dengan warna ular gadung  (ular berwarna hijau yang merupakan salah satu endemik Pulau Jawa), warna zamrud lautan, dan bahkan hingga warna pakaian Retno Dumilah, istri Panembahan Senopati yang konon membuat cemburu sang penguasa laut selatan. Hiasan rambutnya selintas mengingatkan kita akan hiasan rambut yang biasa dipakai oleh penari-penari Bali dalam Tari Pendet. Kalung bros bersusun tiga yang ia kenakan di dada biasanya dipakai juga oleh permaisuri-permaisuri dari keraton Yogya dan Solo sebagai lambang ketinggian derajat mereka. Cantik ya!

 

NYI BLORONG

Dalam kepercayaan Jawa, Nyi Blorong adalah seorang panglima bangsa lelembut yang berkuasa di Pantai Selatan. Nyi Blorong digambarkan berwujud seperti seorang perempuan cantik namun tubuh bagian bawahnya (dari pinggang hingga kaki) menyerupai ekor ular. Di kalangan pencari pesugihan, Nyi Blorong menjadi idola bagi kaum Adam. Konon setiap penyembahnya akan diberikan emas yang berasal dari sisik-sisik tubuhnya pasca mereka bercinta. Hiii… Ngeri juga ya! Nyi Blorong biasa mewujudkan diri dalam bentuk seorang wanita yang mengenakan perhiasan dan kebaya bersulam emas. Kecantikan Nyi Blorong akan semakin bertambah seiring dengan sempurnanya cahaya bulan purnama.

Sang desainer memilih warna emas kecoklatan sebagai perwujudan dari Nyi Blorong yang diperankan oleh gadis remaja untuk event ini. Mungkinkah inspirasinya datang dari warna sisik ular emas? Hmmm… bisa jadi. Pada rambut model yang disasak terdapat hiasan kepala berbentuk ular kobra bermata merah yang di atasnya terpancang dua batang dupa. Dua sayapnya (yang mungkin terinspirasi dari kepala kobra) terbuka lebar, memamerkan keanggunan. Di bagian belakang Sobat Lontara dapat menyaksikan ekor buatan yang terbuat dari kapuk dengan motif batik yang seakan-akan membentuk sisik ular. Pokoknya totalitas banget deh sang desainer!  Yang jelas Nyi Blorong yang satu ini jauh sekali dari kesan horor karena ia terus-menerus menabur senyum pada para penonton!

 

RORO JONGGRANG

Dikutuk menjadi batu tidak dapat menghentikan langkah putri dari kerajaan Ratu Boko ini untuk mengikuti Jogja Fashion Week! Yup, inilah dia Roro Jonggrang, sang putri cantik yang dikutuk menjadi batu pelengkap candi keseribu oleh Pangerang Bandung Bondowoso. Konon patung Dewi Durga yang berada di Candi Prambanan hari ini merupakan perwujudan dari sang putri yang dengan licik menolak lamaran sang pangeran dengan jalan membunyikan alu dan lesung demi mengusir makhluk-makhluk halus yang membantu pembangunan candi pada malam hari.

Roro Jonggrang tampil dengan hiasan rambut berwarna oranye yang luarbiasa tinggi! Kuku-kukunya yang panjang selintas mengingatkan kita akan hiasan kuku pada penari Lampung. Kulit modelnya dibuat hitam kusan, dengan beberapa aksen putih sehingga menimbulkan kesan seakan-akan dirinya terbuat dari batu. Pakaian yang ia kenakan terinspirasi dari desain pakaian Batari Durga, pakaian zaman Mataram Hindu (abad ke-8 Masehi). Nah, sang desainer berimprovisasi dengan menyematkan hiasan berbentuk seperti payung terkembang di punggung Roro Jonggrang. Hiasan tersebut kelihatannya menyimbolkan sayap, karena pola batik yang digunakan bercorak Mega Mendung atau awan-awanan. Kreatif!

 

Itulah tadi empat putri dalam dongeng-dongeng Jawa klasik yang dihidupkan kembali oleh kreatifitas desainer-desainer lokal Daerah  Istimewa Yogyakarta. Inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari cerita rakyat untuk anak-anak sekalipun! Apakah Sobat Lontara dari daerah lain mungkin termotivasi untuk melakukan hal yang sama? Melestarikan budaya itu amat menyenangkan lho!