I UPS! La Galigo: Speak

Tak cinta, maka tak peduli.. Speak La Galigo bertujuan untuk menyuarakan La Galigo dalam bentuk kreatifitas yang kamu miliki. Apapun minat dan talenta kamu, selalu ada jalan untuk mengekspresikan La Galigo, entah dalam bentuk lisan maupun tertulis. Tidak hanya eksis, tapi Speak La Galigo juga bisa jadi ajang yang tepat buat kamu dalam menciptakan kreasi […]

I UPS! La Galigo: Preserve

Tak sayang maka tak cinta… Preserve La Galigo bertujuan untuk melestarikan dan mempopulerkan La Galigo dengan berbagai macam kegiatan. Setelah mengenal dan mengetahui informasi dasar mengenai La Galigo, maka saatnya kita beraksi: menyebarkan info tersebut kepada teman-teman, keluarga, maupun orang lain, dimana pun kita berada. Saatnya jadi duta La Galigo! Antekamma carana? (Gimana caranya?) Sebagai […]

I UPS! La Galigo

Adalah sebuah kampanye budaya yang dipelopori oleh Tim Lontara Project sebagai salah satu program yang bertujuan memperkenalkan (Uncover), melestarikan (Preserve), dan menyuarakan (Speak) La Galigo kepada masyarakat luas, khususnya para generasi muda Indonesia. Dimulai pada 1 Januari 2012, kampanye ini bakalan resmi berjalan, mengajak kalian untuk mengenal lebih jauh, apa dan bagaimana La Galigo itu, […]

Ilustrasi Sawerigading

“ciccing rakkileq ri abéona Palingéqé, mattali ulu wennang sokori.” … cincin kilat di sebelah kiri milik Palingé, memakai tutup kepala benang bersulam. (Nurhayati Rahman, 2006:224)* Sawérigading adalah tokoh utama yang terdapat di dalam naskah meskipun bukan sebagai tokoh yang paling banyak berperan dalam mengisi alur dari awal hingga akhir. Tapi dialah awal segala penyebab terjadinya […]

Ilustrasi La Pananrang

“… La Pangoriseng dan La Temmalureng, kemudian mengenakan pula pakaian kebesarannya, sarung sutera dengan sulaman bulan emas, yang di tepi bagian atasnya bersuji benang emas lima kati, dan tujuh kati bawahnya. Bajunya berasal dari negeri Timor. Gelang berurat keramat dari Boting Langiq melekat kokoh pada lengannya. Keris emas dari Rualetté yang terselip pada ikat pinggang […]

Ilustrasi La Massaguni

“Natijang ronnang La Massaguni, lé naittéq I bake manuqna, natappokangngi turung nrupanna Langiq Risompa, napasibollo miccu makkeda, “Somméng-somméngmu La Tenrinyiwiq, boréq-boréqmu Langiq Risompa, panyilikiaq gauq masomméng  tappaliwemmu, muasengngé béla watammu lé oroané.” Segera berdiri La Massaguni, memungut bangkai ayamnya, melemparkannya ke muka Langiq Risompa, lalu meludah sambil berkata, “Sombong benar engkau La Tenrinyiwiq, kurang ajar […]

Ilustrasi We Tenriabeng

“Kua mua ni, Wé Tenriabéng, lé palaguna, tépu mallino, akessingenna, ri tuju mata, sulo jajjareng, tapaq langkana, awajikenna, ri tuju mata”. “Bagaikan Wé Tenriabéng,bulan purnama yang menjelma, kecantikannya dipandang mata, menyuluhi beranda, menyinari istana, kecantikannya, dipandang mata ”. (Nurhayati Rahman, 2006:366)* We Tenriabeng oleh Maharani Budi Tokoh ini adalah saudara kembar Sawérigading. Seperti halnya dengan […]

Ilustrasi Remmang Ri Langiq

Adanna kua Remmang Ri Langiq, “Amaséang ngaq Muttia Simpéng, ati kalémping to Rualetté, muéréang ngaq bake tumaniq muressaqé kupoppangngeppeq kinninawa I soloq ri lino maponcoq a I sungeq datukku ri tengnga tasiq.” Demikian kata Remmang Ri Langiq, “Kasihanilan aku Muttia Simpéng (Wé Tenriabéng) bunga bilik Rualetté, berikanlah aku ampas sirihmu, yang kau gigit, kujadikan penguat […]