Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Lontara Project Goes to The Netherlands Part I – Menyapa NBG 188 dan NBG 189

Rabu, 18 Desember 2013

Pagi itu Leiden dingin membeku. Angin musim dingin yang bertiup di belahan bumi utara menggigiti kulit-kulit kami. Tubuh tropis kami jelas tidak biasa disapa oleh iklim khas Eropa. Meskipun sudah jam 10 pagi, akan tetapi mentari seakan enggan untuk membuka kelopak matanya. Orang-orang berlalu-lalang mengenakan pakaian tebal, penutup kepala dan sarung tangan. Lihat, bahkan mereka yang lahir dan besar di tanah ini pun mengaku takluk pada alam. Di tengah kegelapan kami berjalan menuju gedung KITLV di jantung Universitas Leiden.

Rombongan Lontara Project yang beranggotakan 15 orang mendapatkan kesempatan berharga untuk bertandang ke Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) atau yang dalam Bahasa Inggris The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies. KITLV merupakan pusat penelitian Asia Tenggara dan daerah Karibia yang dibiayai oleh Kerajaan Belanda dan swasta yang berfokus pada sejarah, kebudayaan, kebahasaan, antropologi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Mengapa Asia Tenggara dan Karibia? Ya, sebab Indonesia yang mewakili Asia Tenggara dan Aruba yang mewakili Karibia dulunya merupakan “Hindia Timur” dan “Hindia Barat” yang berada di bawah kontrol pemerintahan kolonial Belanda. Kajian-kajian terkait kebudayaan dan sejarah di kedua wilayah tersebut berkembang pesat melalui KITLV yang telah berdiri sejak tahun 1851 di Leiden ini. Riset-riset yang dilakukan oleh KITLV amat dibutuhkan demi kepentingan kolonialisme saat itu, akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu maka fokus riset pun beralih ke tujuan akademis.

Meskipun terlambat sekitar 10 menit, di ruang konferensi KITLV kami disambut oleh Prof. Willem van der Molen (petinggi KITLV yang juga merupakan ahli dalam naskah Jawa kuno), Pak Nico van Horn (bagian kearsipan untuk koleksi khusus KITLV), serta bu Kathryn Wellen (sejarawan yang juga meneliti kebudayaan Bugis Wajo). Sambutan mereka bak coklat hangat di tengah gempuran udara dingin bagi kami. Mereka begitu terbuka, senang sekaligus penasaran ketika melihat kami: untuk apa sih 15 orang pemuda-pemudi dari Indonesia yang mengatasnamakan diri mereka Lontara Project ini terbang jauh-jauh ke negeri Belanda di musim dingin? Jawabannya datang dari keinginan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya dokumentasi serta arsip-arsip kuno yang telah berabad-abad tersimpan di Leiden melalui konteks kekinian. Lontara Project yang mengusung konservasi kreatif sebagai wahana untuk melestarikan budaya dengan memanfaatkan kreatifitas anak muda memandang sudah saatnya kekayaan sejarah bangsa yang tersimpan di KITLV untuk digaungkan, demi mengundang kepeduliaan generasi muda.

Setelah memaparkan tujuan serta harapan Lontara Project, kini giliran pihak KITLV yang angkat bicara. Diskusi dan pemaparan para ahli naskah di KITLV meningkatkan wawasan kami tentang pelestarian naskah dan kebudayaan. Mereka juga menjelaskan metode pelestarian naskah yang telah mereka lakukan dan kembangkan. Selama ini banyak yang berpikir untuk mengembalikan naskah-naskah kuno yang tersimpan di KITLV ke Indonesia, namun apakah ada yang bisa menjamin naskah tersebut dapat terawat dengan baik di Indonesia? Maka dari itu salah satu upaya KITLV untuk mempermudah akses masyarakat Indonesia terhadap manuskrip, audio, visual, maupun jurnal terkait penelitian budaya Indonesia yang tersimpan rapi di KITLV adalah digitalisasi dan pengembangan akses melalui website KITLV. Segala arsip terkait kebudayaan Indonesia yang tersimpan di KITLV dapat diakses melalui website www.kitlv.nl untuk mempermudah masyarakat melakukan penelitian dan mencari sumber-sumber arsip kuno terkait budaya Indonesia di KITLV, jadi tidak perlu jauh-jauh datang ke Belanda untuk melihat naskah aslinya langsung. Pak Nico paham betul arti penting La Galigo bagi kami, maka khusus untuk kunjungan tim Lontara Project sebuah dokumen berisi surat-surat B.F. Matthes yang berasal dari abad ke-19 pertama kalinya dikeluarkan dan ditunjukan ke hadapan kami. Pertemuan di KITLV pada hari pertama diakhiri dengan wawancara singkat dengan para petinggi KITLV tentang kesan dan pesan mereka kepada pemuda tentang pelestarian budaya nusantara khususnya.

Menyelami budaya Indonesia tidak sampai di KITLV saja. Perjalanan tim Lontara Project berlanjut lebih dalam lagi. Naskah epik terpanjang di dunia, itulah yang akan dijelajahi oleh para pemuda yang dilanda gundah dan penasaran akan karya sastra fenomenal tersebut. Itulah La Galigo, terdiri dari 300.000 baris, disusun menjadi 12 jilid yang diakui UNESCO sebagai memory of the world. Naskah asli La Galigo kini tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden. Itulah selaman lebih dalam tim Lontara Project.

NBG 188 Volume I

Kunjungan tim Lontara Project ke Perpustakaan Universitas Leiden langsung disambut oleh Ibu Marie Odette, kepala arsip perpustakaan Universitas Leiden. Kami digiring menuju ke ruang pertemuan di lantai 3 gedung perpustakaan. Memasuki ruang tersebut, langsung terlihat buku-buku tentang La Galigo yang dijejer di atas meja. Tampak jelas buku tebal berwarna mencolok yang merupakan hasil terjemahan naskah La Galigo jilid I dan II hasil penelitian para tim ahli dan penerjemah La Galigo. Diawali dengan perkenalan Ibu Maria Odette dan pendahuluan dari Pak Sirtjo Koolhof, penyelaman dan pengamatan naskah asli La Galigo oleh tim Lontara Project dimulai di sini.

Saat itu Ibu Marie Odette membawa talenan besi beroda yang di atasnya ada beberapa tumpukan arsip tua. Terkesima kami dibuatnya karena ternyata itulah yang merupakan naskah fenomenal 12 jilid volume, epik terpanjang di dunia yang dimaksud. Sebelum digelar di hadapan kami, ibu Marie menjelaskan terebih dahulu kondisi naskah secara singkat. Saat sebelum naskah digelar di hadapan kami, Ibu Marie menaruh bantal dan menggunakan kaos tangan untuk mengambil naskah tersebut. Naskah diletakaan di atas bantal dan selanjutnya dipaparkan oleh Pak Sitjo Koolhof yang merupakan salah satu dari tim penerjemah naskah La Galigo. Sungguh mengagumkan cara mereka memperlakukan naskah kuno ini, memegangnya harus memakai kaos tangan dan meletakkannya pun harus di bantalan khusus. Hal tersebut merupakan kesan kekaguman pertama kami dalam menyapa NBG 188.

Pak Sirtjo dan 12 volume NBG 188

Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan kami saat NBG 188 dibuka. Naskah itu, yang usianya telah lebih dari satu abad dan selama ini menjadi sumber inspirasi kami dalam berkarya, dalam menafsirkannya sesuai kondisi dan kebutuhan anak muda di zaman ini, dibuka dengan penuh kehati-hatian oleh Pak Sirtjo. Bagaikan bayi yang diangkat dari selimutnya. Naskah salinan dari seorang bangsawan negeri Tanete yang diasingkan oleh Belanda dan terpaksa hidup miskin di Makassar, Retna Kencana Arung Pancana Toa Colliq Pujie. Kertasnya yang berwarna kecoklatan, tintanya yang tergores hitam pekat serta catatan-catatan dari pensil yang dibuat oleh B.F. Matthes, seorang penerjemah Alkitab yang mencetuskan ide awal untuk mengumpulkan naskah La Galigo membawa alam pikiran kami melayang ke masa lalu. Membayangkan kolaborasi kedua intelektual ini serta perjuangan mereka dalam mengumpulkan naskah-naskah La Galigo berbagai episode untuk disalin ulang, disusun dan diedit sehingga dapat menciptakan sebuah epos terpanjang di dunia.

Naskah NBG 188 terdiri atas 12 volume, ditulis di atas kertas. Pada naskah-naskah awal, kita dapat melihat banyak coretan yang dibuat oleh Matthes, menandakan bahwa Ia menggunakan naskah tersebut untuk belajar Bahasa Bugis dan menyusun kosakata Bahasa La Galigo. Di naskah-naskah volume akhir, terutama di naskah keduabelas, tidak ada sama sekali bekas coretan dari Matthes, menandakan bahwa mungkin ia belum sempat mengkaji naskah ini. Jelaslah sudah bahwa naskah-naskah ini masih butuh untuk lebih dieksplorasi lagi! Selain melihat NBG 188 kami juga ditunjukkan NBG 189, naskah La Galigo terpendek di dunia yang juga merupakan sebuah teks keramat. Mengapa disebut teks keramat? Sebab naskah ini dimulai dengan sebuah frase “penangkal musibah” dalam Bahasa Bugis serta dibubuhi darah ayam di keempat sudutnya. NBG 189 berisi silsilah Sawerigading yang dimulai dari Datu PatotoE, dewa tertinggi penguasa Boting Langiq dalam pantheon Bugis kuno. Sebenarnya perasaan kami bercampur antara gembira dan sedih siang itu. Gembira karena dapat bertemu dengan pakar-pakar kelas dunia. Gembira karena dapat melihat langsung NBG 188 dan NBG 189. Akan tetapi kesedihan tiba-tiba menyeruak masuk. Kesedihan karena tidak adanya perhatian dari pemerintah untuk menginisiasi proyek penerjemahan naskah monumental ini. Dulu, proyek penerjemahan dua volume pertama La Galigo dibiayai oleh pihak Belanda. Padahal untuk biaya penerjemahan naskah ini, hanya dibutuhkan dana sebesar 3,000 Euro. Bukan jumlah yang besar dibandingkan dengan dana yang dikorupsi oleh pejabat-pejabat di tanah air. Kesedihan lain muncul karena di tanah air sendiri tidak ada perhatian dari generasi mudanya. Tradisi massureq sudah diujung tanduk, seiring dengan semakin tuanya para pelantun La Galigo ini di daerah. 

Siang hari itu kami tutup dengan pesan dari Pak Sirtjo: La Galigo ini adalah sebuah warisan bagi generasi masa kini dari masa lalu. Untuk dapat membuat La Galigo ini dapat bertahan menghadapi arus perkembangan zaman, maka jangan ragu untuk menginterpretasikannya sesuai kapasitas kita sebagai pemuda. Melestarikan nilai-nilai lama bukan berarti harus terjebak dalam paradigma kekunoan yang membuat kita tak akan pernah maju. Sebagaimana yang dulu pernah dipesankan oleh ibunda Profesor Nurhayati Rahman kepada kami “janganlah menjadi katak dalam tempurung”. Lihat lah dunia ini, jelajahi, dan kembangkanlah diri namun tetap berpijak pada akar tradisi.

Seakan belum habis surprise yang Lontara Project temukan di negeri Belanda, terakhir saat kami berjalan menuju keluar gedung KITLV, di tepi sungai yang membelah kampus Universitas Leiden terpampang sebuah bilboard besar yang ditulis dalam aksara lontaraq berbahasa Bugis. Elong yang diukir di gedung KITLV tersebut seakan mewakili perasaan kami yang jauh dari kampung halaman namun tetap senantiasa menggenggam teguh akar tradisi.

Tulisan lontaraq di depan gedung KITLV Leiden

                “Polena pelele winru, tenreq kutuju mata, padana sulisa.”

(Saya sudah kemana-mana di dunia ini, namun belum mataku temukan keindahan yang serupa indahnya dengan kebijaksanaan di negeri ini)

Ditulis oleh Muhammad Ahlul Amri Buana dan Muhammad Ulil Ahsan

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Senrijawa dan Ale Luwu

Di sepanjang epos La Galigo, dalam berbagai episodenya, Senrijawa dikenal sebagai tempat keturunan langit (tomanurung) memerintah. Berulang kali Senrijawa disebut memiliki berbagai macam perkakas indah yang jauh lebih maju dari kerajaan lain di muka bumi, benda-benda yang berasal dari kerajaan ini menjadi perkakas pelengkap upacara-upacara adat. Hal ini mengundang pertanyaan; sebenarnya apa dan dimanakah letak Senrijawa ini?

Ayat-ayat dalam epos La Galigo ada yang menyiratkan bahwa Senrijawa merupakan kerajaan langit yang diperintah oleh dewata. Ia berada di dimensi yang sama dengan istana Sao Kuta Pareppaqe, kediaman Datu PatotoE (Sang Penguasa Nasib) di Boting Langiq atau kahyangan. Penduduk Senrijawa bukanlah manusia biasa, mereka merupakan mahluk halus yang dapat merasuk ke dalam tubuh manusia. Episode Ritumpanna Welenrengnge mengabadikan salah satu contoh peristiwa trans ini;

“…anak raja nan dirasuk orang Senrijawa

Memerlukan adat kehiyangan,

Dilengkapi adat bissunya.

Kuheran jua melihatnya,

Orang Ruallette agaknya

Turun ke bumi di ruang mahligaimu

Orang Senrijawa datang menjelma

Di tepi peterana nan kemilau,

Dilengkapi adat bissu dari Ruallette

Dipalukan gendang irama gembira dari Senrijawa”

Orang Senrijawa yang bertubuh halus ini memiliki adat-istiadat yang mulia sehingga mesti disambut dengan kelengkapan adat yang sesuai. Akan tetapi, di episode lain digambarkan bahwa Senrijawa merupakan salah satu kerajaan besar di muka bumi yang dikuasai oleh keturunan Manurung. La Mappanyompa, seorang anak angkat Sawerigading, menjadi pemimpin di sana. Berikut cuplikan dari episode Sawerigading dan I La Galigo ke Senrijawa yang diterjemahkan oleh almarhum Muhammad Salim (dikutip dari blog beliau: http://lontarakpappasang.blogspot.com/2010/02/ringkasan-isi-surek-galigo-sawerigading.html), menggambarkan bahwa Senrijawa terletak “di bawah”;

“Setiba Wé Tenridio di Boting Langi, dia mendengar dari bawah bunyi gendang besar, gendang upacara Wé Tenribali saudara La Mappanyompa, yang sedang mengadakan upacara di Senrijawa.

Wé Tenridio meminta kepada suaminya agar dapat diturunkan sebentar ke Senrijawa untuk menyaksikan upacara sepupunya itu, tanpa dapat dilihat oleh orang lain.

Setibanya di Senrijawa, dia melihat menyaksikan ada tiga ratus orang anakarung yang memegang peralatan bissu dan menyaksikan juga kecantikan Wé Tenribali saudara La Mappanyompa.

To Sompa Riwu meminta kepada Wé Tenridio agar dapat menampakan dirinya supaya dapat dilihat dan dijemput kedatangannya oleh Wé Tenribali.”

Dilarik ke-16 dan ke-17 dikisahkan bahwa Sawerigading dan putranya I La Galigo pergi menuju hajatan besar tersebut dengan menggunakan kapal.

“Puluhan ribu pendamping Sawérigading, La Galigo dan anak datu tujuh-puluh beriringan di tengah laut, saling bersorakan menuju ke Senrijawa menghadiri upacara saudara La Mappanyompa. La Mappanyompa adalah anak angkat Sawérigading.
Dalam pelayarannya ke Senrijawa mereka singgah di suatu pulau dan memerintahkan supaya Ladunrung Séreng, komandan burung beserta kelompoknya pergi mencari mangga manis yang ada di pulau itu. Hanya sebuah mangga saja yang didapat.”

Nah, jika Senrijawa dapat dijangkau oleh pelayaran di samudera dengan kapal Sawerigading berarti lokasinya terletak di suatu titik di kepulauan Nusantara kita. Menurut Christian Pelras di dalam buku Manusia Bugis, Senrijawa yang disebut di dalam naskah La Galigo sebenarnya merujuk kepada Sriwijaya, sebuah negara adidaya pada masa itu yang rajanya diagungkan dan dituakan seakan-akan sebagai keturunan surgawi. Pendapat bahwa Senrijawa sebenarnya merupakan perubahan bentuk atas nama “Sriwijaya” dalam lidah Bugis kuno diamini oleh Prof. Fachruddin Ambo Enre di dalam buku Ritumpanna Welenrengnge serta Prof. Nurhayati Rahman dalam karyanya tentang episode “Sompeqna Sawerigading Lao ri Cina”. Sriwijaya memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dan bersahabat dengan Ale Luwu sehingga kedua kerajaan tersebut disebutkan tidak pernah terlibat konflik bahkan saling dukung-mendukung dan memuliakan pihak yang satu dengan pihak lainnya.

Patung Perunggu Peninggalan Sriwijaya di Chaiya, Thailand. Sumber: www.thailandsworld.com/

Menurut sejarawan JJ Rizal, kerajaan Sriwijaya selain terkenal sebagai pusat ekonomi (karena menguasai Selat Malaka sebagai “tenggorokan” perdagangan dunia yaitu dari Cina hingga India dan Arabia), kedatuan tersebut juga terkenal sebagai pusat agama Buddha dan pusat ilmu hukum. Prasasti-prasasti yang berasal dari masa kerajaannya banyak yang membahas mengenai aturan-aturan, struktur pemerintahaan serta ketentuan hukum. Sriwijaya dalam menancapkan kukunya terfokus pada kawasan pesisir pantai dan kawasan sungai besar yang dapat dijangkau armada perahu angkatan lautnya di wilayah Nusantara. Jalur perdagangan maritim Sriwijaya sudah sejak masa pembangunan Borobudur terbentang dari pedalaman Nusantara hingga ke Afrika lho. Jalur ini dikenal juga dengan sebutan “Cinnamon Route” alias Rute Kayumanis. Saking besarnya pengaruh Sriwijaya ini, bahkan diduga penduduk yang berasal dari Sriwijaya telah mengkoloni dan membangun populasi di pulau Madagaskar yang terletak 3300 mil atau 8000 kilometer di sebelah barat di seberang Samudra Hindia. Baru-baru ini penelitian DNA berhasil membuktikan bahwa penduduk Madagaskar memiliki kesamaan DNA dengan orang-orang di daerah Kalimantan (Dayak Ma’anyan) dan Sumatera.

Hubungan akrab yang terjalin antara Senrijawa dan Ale Luwu sekali lagi membuktikan bahwa pada zaman dahulu pun kekerabatan antardaerah telah berlangsung dengan penuh rasa persahabatan dan kedamaian. Indahnya perbedaan dalam kesatuan!

 

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Di Balik Bintang Budaya Parama Dharma…

Hari itu, Selasa 13 Agustus 2013. H. Andi Muhammad Rum, seorang ahli waris keluarga Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa berdiri di aula utama istana negara. Dirinya diterbangkan jauh-jauh dari bumi Sulawesi Selatan untuk menerima sebuah anugerah. Anugerah yang ditujukan kepada almarhum sang nenenda, penyalin naskah terpanjang di dunia, epos La Galigo yang saat ini beristirahat tenang di Leiden, Belanda. Melalui Keppres Nomor 57/TK/2013 ada 28 tokoh yang dianugerahi tanda kebesaran oleh negara pada hari itu. Dua di antaranya, penerima Bintang Budaya Parama Dharma ialah Colliq Pujie dan Hamzah Fansuri, penyair Islam nan mashyur dari Tanah Rencong.

Ada sebuah kegelisahan di balik penganugerahan ini. Di tengah segala kebahagiaan dan kesyukuran karena jasa Sang Ratu Tanete yang dulunya pernah diboikot oleh Belanda dan hidup di pengasingan layaknya “kandang” ini, tersirat cerita ketimpangan. Timpang? Beliau yang turut berjuang memompa semangat perjuangan rakyat Tanete untuk melawan Belanda pada tahun 1855 serta aktif dalam melestarikan budaya tulis nenek moyangnya ini belumlah mendapatkan penghargaan dengan selayaknya. Beliau yang tidak hanya melakukan perjuangan intelektual namun juga secara fisik dalam menghadapi pemerintah kolonial sudah sepantasnya diluhurkan dengan gelaran Pahlawan Nasional, sebagaimana yang saat ini tersemat pada diri Cut Nyak Dien sang Syuhada Perang Aceh serta R.A. Kartini.

Seorang Colliq Pujie wafat dalam keterasingan. Ia meninggal setelah 10 tahun diasingkan ke Makassar, yang jaraknya saat itu cukup jauh dari tempat asalnya di Kabupaten Barru sekarang. Beliau menciptakan aksara Bilang-Bilang yang merupakan sebuah alat komunikasi rahasia untuk menyampaikan pesan-pesan yang membakar semangat rakyat Tanete dalam gerilya mereka melawan Belanda. Tidak hanya itu, beliau juga mengarang lontar-lontar sejarah kerajaan Tanete yang penting sebagai dokumentasi masa lampau.

Sebenarnya sudah sejak tahun 2004 sudah dilakukan banyak usaha oleh budayawan Sulawesi Selatan untuk mengangkat nama beliau sebagai seorang Pahlawan Nasional. Pada tahun 2009 pernah diadakan seminar sehari yang disponsori oleh Kabupaten Barru dan Divisi Humaniora Universitas Hasanuddin yang bertajuk “Pengusulan Pahlawan Nasional Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa”. Pernyataan ini juga disetujui oleh sejarawan Univeristas Hasanuddin, Edward Poelinggomang yang dalam diskusi “Colliq Pujie Pejuang Arsip dan Bedah Buku” oleh Badan Arsip Sulawesi Selatan pada tahun 2010 menyebutkan bahwa karya-karya beliau telah menjadi bahan seminar internasional di Leiden. Sayangnya, usaha-usaha tersebut ditolak oleh pemerintah pusat. Beberapa alasannya pun cukup konyol: karena beliau pernah bekerja sama dengan pihak asing yaitu misionaris B.F. Matthes dalam menyalin ulang naskah La Galigo (!). Lalu, bagaimana halnya dengan R.A. Kartini yang bersurat-suratan dengan Nyonya Abendanon seorang Belanda yang juga sahabat karibnya?

Hingga hari ini, belum ada kepastian apakah Colliq Pujie dapat diakui jasa-jasanya sebagai seorang Pahlawan Nasional. Tidak ada seorang sosok pahlawan pun di persada bumi pertiwi ini yang atas jasanya mampu membuat sebuah mahakarya asli bangsa Indonesia seperti La Galigo diakui sebagai warisan dunia (Memory of The World UNESCO). Demikian pula, tidak ada sosok wanita pra-kemerdekaan yang mampu berjuang baik secara fisik maupun intelektual sekeras perjuangan wanita yang di akhir hayatnya ini meninggal dengan kondisi ekonomi yang memiriskan hati.

Mungkin pemerintah Indonesia tidak akan pernah dapat mengapresiasi jasa seorang Colliq Pujie dengan layak, secara formal. Ini menjadi tanggung jawab generasi Indonesia untuk menghormati beliau dengan mengenang jasa-jasa besarnya yang telah mengharumkan tanah air.  Pada generasi penerus inilah kelak perbuatan beliau akan terus dihayati serta menjadi amal jariah yang tak kunjung putus, pengingat bahwa jasa-jasa di kehidupan ini pasti akan dibalas sekecil apapun itu di hari akhirat. Sesuai ujaran Hamzah Fansuri dalam lirik-lirik syair mistiknya:

Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal diammu

Terima kasih, Colliq Pujie. Bagi kami dirimu adalah pahlawan bangsa.

 

 

Referensi:
http://www.presidenri.go.id/index.php/fokus/2013/08/13/9299.html
http://metronews.fajar.co.id/read/102471/61/iklan/index.php
http://sudewi2000.wordpress.com/2009/07/26/colliq-pujie-perempuan-cerdas-unik-dan-perkasa-dari-bugis/
http://www.daengrusle.net/lebih-tangguh-dari-kartini/