Rabu, 18 Desember 2013

Pagi itu Leiden dingin membeku. Angin musim dingin yang bertiup di belahan bumi utara menggigiti kulit-kulit kami. Tubuh tropis kami jelas tidak biasa disapa oleh iklim khas Eropa. Meskipun sudah jam 10 pagi, akan tetapi mentari seakan enggan untuk membuka kelopak matanya. Orang-orang berlalu-lalang mengenakan pakaian tebal, penutup kepala dan sarung tangan. Lihat, bahkan mereka yang lahir dan besar di tanah ini pun mengaku takluk pada alam. Di tengah kegelapan kami berjalan menuju gedung KITLV di jantung Universitas Leiden.

Rombongan Lontara Project yang beranggotakan 15 orang mendapatkan kesempatan berharga untuk bertandang ke Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) atau yang dalam Bahasa Inggris The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies. KITLV merupakan pusat penelitian Asia Tenggara dan daerah Karibia yang dibiayai oleh Kerajaan Belanda dan swasta yang berfokus pada sejarah, kebudayaan, kebahasaan, antropologi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Mengapa Asia Tenggara dan Karibia? Ya, sebab Indonesia yang mewakili Asia Tenggara dan Aruba yang mewakili Karibia dulunya merupakan “Hindia Timur” dan “Hindia Barat” yang berada di bawah kontrol pemerintahan kolonial Belanda. Kajian-kajian terkait kebudayaan dan sejarah di kedua wilayah tersebut berkembang pesat melalui KITLV yang telah berdiri sejak tahun 1851 di Leiden ini. Riset-riset yang dilakukan oleh KITLV amat dibutuhkan demi kepentingan kolonialisme saat itu, akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu maka fokus riset pun beralih ke tujuan akademis.

Meskipun terlambat sekitar 10 menit, di ruang konferensi KITLV kami disambut oleh Prof. Willem van der Molen (petinggi KITLV yang juga merupakan ahli dalam naskah Jawa kuno), Pak Nico van Horn (bagian kearsipan untuk koleksi khusus KITLV), serta bu Kathryn Wellen (sejarawan yang juga meneliti kebudayaan Bugis Wajo). Sambutan mereka bak coklat hangat di tengah gempuran udara dingin bagi kami. Mereka begitu terbuka, senang sekaligus penasaran ketika melihat kami: untuk apa sih 15 orang pemuda-pemudi dari Indonesia yang mengatasnamakan diri mereka Lontara Project ini terbang jauh-jauh ke negeri Belanda di musim dingin? Jawabannya datang dari keinginan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya dokumentasi serta arsip-arsip kuno yang telah berabad-abad tersimpan di Leiden melalui konteks kekinian. Lontara Project yang mengusung konservasi kreatif sebagai wahana untuk melestarikan budaya dengan memanfaatkan kreatifitas anak muda memandang sudah saatnya kekayaan sejarah bangsa yang tersimpan di KITLV untuk digaungkan, demi mengundang kepeduliaan generasi muda.

Setelah memaparkan tujuan serta harapan Lontara Project, kini giliran pihak KITLV yang angkat bicara. Diskusi dan pemaparan para ahli naskah di KITLV meningkatkan wawasan kami tentang pelestarian naskah dan kebudayaan. Mereka juga menjelaskan metode pelestarian naskah yang telah mereka lakukan dan kembangkan. Selama ini banyak yang berpikir untuk mengembalikan naskah-naskah kuno yang tersimpan di KITLV ke Indonesia, namun apakah ada yang bisa menjamin naskah tersebut dapat terawat dengan baik di Indonesia? Maka dari itu salah satu upaya KITLV untuk mempermudah akses masyarakat Indonesia terhadap manuskrip, audio, visual, maupun jurnal terkait penelitian budaya Indonesia yang tersimpan rapi di KITLV adalah digitalisasi dan pengembangan akses melalui website KITLV. Segala arsip terkait kebudayaan Indonesia yang tersimpan di KITLV dapat diakses melalui website www.kitlv.nl untuk mempermudah masyarakat melakukan penelitian dan mencari sumber-sumber arsip kuno terkait budaya Indonesia di KITLV, jadi tidak perlu jauh-jauh datang ke Belanda untuk melihat naskah aslinya langsung. Pak Nico paham betul arti penting La Galigo bagi kami, maka khusus untuk kunjungan tim Lontara Project sebuah dokumen berisi surat-surat B.F. Matthes yang berasal dari abad ke-19 pertama kalinya dikeluarkan dan ditunjukan ke hadapan kami. Pertemuan di KITLV pada hari pertama diakhiri dengan wawancara singkat dengan para petinggi KITLV tentang kesan dan pesan mereka kepada pemuda tentang pelestarian budaya nusantara khususnya.

Menyelami budaya Indonesia tidak sampai di KITLV saja. Perjalanan tim Lontara Project berlanjut lebih dalam lagi. Naskah epik terpanjang di dunia, itulah yang akan dijelajahi oleh para pemuda yang dilanda gundah dan penasaran akan karya sastra fenomenal tersebut. Itulah La Galigo, terdiri dari 300.000 baris, disusun menjadi 12 jilid yang diakui UNESCO sebagai memory of the world. Naskah asli La Galigo kini tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden. Itulah selaman lebih dalam tim Lontara Project.

NBG 188 Volume I
NBG 188 Volume I

Kunjungan tim Lontara Project ke Perpustakaan Universitas Leiden langsung disambut oleh Ibu Marie Odette, kepala arsip perpustakaan Universitas Leiden. Kami digiring menuju ke ruang pertemuan di lantai 3 gedung perpustakaan. Memasuki ruang tersebut, langsung terlihat buku-buku tentang La Galigo yang dijejer di atas meja. Tampak jelas buku tebal berwarna mencolok yang merupakan hasil terjemahan naskah La Galigo jilid I dan II hasil penelitian para tim ahli dan penerjemah La Galigo. Diawali dengan perkenalan Ibu Maria Odette dan pendahuluan dari Pak Sirtjo Koolhof, penyelaman dan pengamatan naskah asli La Galigo oleh tim Lontara Project dimulai di sini.

Saat itu Ibu Marie Odette membawa talenan besi beroda yang di atasnya ada beberapa tumpukan arsip tua. Terkesima kami dibuatnya karena ternyata itulah yang merupakan naskah fenomenal 12 jilid volume, epik terpanjang di dunia yang dimaksud. Sebelum digelar di hadapan kami, ibu Marie menjelaskan terebih dahulu kondisi naskah secara singkat. Saat sebelum naskah digelar di hadapan kami, Ibu Marie menaruh bantal dan menggunakan kaos tangan untuk mengambil naskah tersebut. Naskah diletakaan di atas bantal dan selanjutnya dipaparkan oleh Pak Sitjo Koolhof yang merupakan salah satu dari tim penerjemah naskah La Galigo. Sungguh mengagumkan cara mereka memperlakukan naskah kuno ini, memegangnya harus memakai kaos tangan dan meletakkannya pun harus di bantalan khusus. Hal tersebut merupakan kesan kekaguman pertama kami dalam menyapa NBG 188.

Pak Sirtjo dan 12 volume NBG 188
Pak Sirtjo dan 12 volume NBG 188

Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan kami saat NBG 188 dibuka. Naskah itu, yang usianya telah lebih dari satu abad dan selama ini menjadi sumber inspirasi kami dalam berkarya, dalam menafsirkannya sesuai kondisi dan kebutuhan anak muda di zaman ini, dibuka dengan penuh kehati-hatian oleh Pak Sirtjo. Bagaikan bayi yang diangkat dari selimutnya. Naskah salinan dari seorang bangsawan negeri Tanete yang diasingkan oleh Belanda dan terpaksa hidup miskin di Makassar, Retna Kencana Arung Pancana Toa Colliq Pujie. Kertasnya yang berwarna kecoklatan, tintanya yang tergores hitam pekat serta catatan-catatan dari pensil yang dibuat oleh B.F. Matthes, seorang penerjemah Alkitab yang mencetuskan ide awal untuk mengumpulkan naskah La Galigo membawa alam pikiran kami melayang ke masa lalu. Membayangkan kolaborasi kedua intelektual ini serta perjuangan mereka dalam mengumpulkan naskah-naskah La Galigo berbagai episode untuk disalin ulang, disusun dan diedit sehingga dapat menciptakan sebuah epos terpanjang di dunia.

Naskah NBG 188 terdiri atas 12 volume, ditulis di atas kertas. Pada naskah-naskah awal, kita dapat melihat banyak coretan yang dibuat oleh Matthes, menandakan bahwa Ia menggunakan naskah tersebut untuk belajar Bahasa Bugis dan menyusun kosakata Bahasa La Galigo. Di naskah-naskah volume akhir, terutama di naskah keduabelas, tidak ada sama sekali bekas coretan dari Matthes, menandakan bahwa mungkin ia belum sempat mengkaji naskah ini. Jelaslah sudah bahwa naskah-naskah ini masih butuh untuk lebih dieksplorasi lagi! Selain melihat NBG 188 kami juga ditunjukkan NBG 189, naskah La Galigo terpendek di dunia yang juga merupakan sebuah teks keramat. Mengapa disebut teks keramat? Sebab naskah ini dimulai dengan sebuah frase “penangkal musibah” dalam Bahasa Bugis serta dibubuhi darah ayam di keempat sudutnya. NBG 189 berisi silsilah Sawerigading yang dimulai dari Datu PatotoE, dewa tertinggi penguasa Boting Langiq dalam pantheon Bugis kuno. Sebenarnya perasaan kami bercampur antara gembira dan sedih siang itu. Gembira karena dapat bertemu dengan pakar-pakar kelas dunia. Gembira karena dapat melihat langsung NBG 188 dan NBG 189. Akan tetapi kesedihan tiba-tiba menyeruak masuk. Kesedihan karena tidak adanya perhatian dari pemerintah untuk menginisiasi proyek penerjemahan naskah monumental ini. Dulu, proyek penerjemahan dua volume pertama La Galigo dibiayai oleh pihak Belanda. Padahal untuk biaya penerjemahan naskah ini, hanya dibutuhkan dana sebesar 3,000 Euro. Bukan jumlah yang besar dibandingkan dengan dana yang dikorupsi oleh pejabat-pejabat di tanah air. Kesedihan lain muncul karena di tanah air sendiri tidak ada perhatian dari generasi mudanya. Tradisi massureq sudah diujung tanduk, seiring dengan semakin tuanya para pelantun La Galigo ini di daerah. 

Siang hari itu kami tutup dengan pesan dari Pak Sirtjo: La Galigo ini adalah sebuah warisan bagi generasi masa kini dari masa lalu. Untuk dapat membuat La Galigo ini dapat bertahan menghadapi arus perkembangan zaman, maka jangan ragu untuk menginterpretasikannya sesuai kapasitas kita sebagai pemuda. Melestarikan nilai-nilai lama bukan berarti harus terjebak dalam paradigma kekunoan yang membuat kita tak akan pernah maju. Sebagaimana yang dulu pernah dipesankan oleh ibunda Profesor Nurhayati Rahman kepada kami “janganlah menjadi katak dalam tempurung”. Lihat lah dunia ini, jelajahi, dan kembangkanlah diri namun tetap berpijak pada akar tradisi.

Seakan belum habis surprise yang Lontara Project temukan di negeri Belanda, terakhir saat kami berjalan menuju keluar gedung KITLV, di tepi sungai yang membelah kampus Universitas Leiden terpampang sebuah bilboard besar yang ditulis dalam aksara lontaraq berbahasa Bugis. Elong yang diukir di gedung KITLV tersebut seakan mewakili perasaan kami yang jauh dari kampung halaman namun tetap senantiasa menggenggam teguh akar tradisi.

Tulisan lontaraq di depan gedung KITLV Leiden
Tulisan lontaraq di depan gedung KITLV Leiden

                “Polena pelele winru, tenreq kutuju mata, padana sulisa.”

(Saya sudah kemana-mana di dunia ini, namun belum mataku temukan keindahan yang serupa indahnya dengan kebijaksanaan di negeri ini)

Ditulis oleh Muhammad Ahlul Amri Buana dan Muhammad Ulil Ahsan

Published by Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama setahun di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Penulis novel "The Extraordinary Cases of Detective Buran" ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku, dan karaoke. Find out more about him personal blog.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *