Categories
Featured Galigoku

Cerpen: Dan Mereka pun Terculik

Tergelitik oleh realita semakin jauhnya generasi muda dari budayanya sendiri, seorang Sobat Lontara bernama Hanif Juneidy merangkai kalimat menjadi cerita pendek ini. Anugerah Tuhan berupa 800 ragam budaya Indonesia, jika bukan generasi muda bangsa lalu siapa yang jaga? Selamat membaca!

Matahari masih malu-malu mengintai di ufuk timur sana ketika kulangkahkan kaki di jalanan ini. Sinar hangatnya menelusup dahan-dahan pohon mangga di kanan kiri jalan, kemudian jatuh membelai permukaan jalan yang dilapisi aspal.

Aku tersenyum menatap permukaan jalan yang kuinjak . Dulu jalan ini masih berupa tanah bercampur kerikil-kerikil kecil, beberapa tahun yang lalu. Aku merasai kedua telapak kakiku. Ah, rasanya baru kemarin telapak kaki telanjangku menjejak jalanan tanah. Telapak kaki ini masih ingat betul rasa lembut tanah dan cubitan-cubitan kerikil-kerikil kecil saat aku berlarian di jalanan ini, bertahun-tahun yang lalu. Kini tanah dan kerukil-kerikil itu tidak ada.

Aku terus menyusuri jalan. Sambil menghirup udara pagi pertama di tanah lahirku ini setelah beberapa tahun meninggalkannya. Ya, kemarin sore aku kembali menginjakkan kaki di desa tempatku lahir dan menghabiskan masa kecilku ini. Kembali dari tanah rantau di pulau seberang tempat menuntut ilmu.

Cukup lama aku meninggalkan desa kecil ini, dan sekarang keadaannya tidak sepenuhnya sama seperti dulu. Ketika aku meninggalkannya empat tahun yang lalu, belum ada toko-toko yang menjual aneka barang berdiri kokoh di beberapa titik di kanan kiri jalan. Waktu itu hanya ada beberapa warung sederhana dengan bangunan yang sederhana pula. Waktu itu, di pinggir jalanan ini tak ada tiang-tiang besi yang berdiri dengan angkuhnya. Dan sekarang, di sepanjang jalan beberapa tiang listrik telah dipasang untuk kebutuhan listrik yang merata bagi seluruh warga desa ini. Aku bersyukur di dalam hati, pembangunan infrastruktur desaku ini cukup baik.

Oh, aku hampir lupa. Aku menyusuri jalanan ini bukan tanpa tujuan. Selain untuk menyesap udara segar pagi aku juga ingin pergi ke suatu tempat. Tempat yang tak bisa aku datangi empat tahun terakhir ini. Tempat dimana aku menghabiskan hampir seperempat waktuku dalam sehari, beberapa tahun yang lalu. Ah, aku begitu merindukan tempat itu. Semoga tempat itu masih ada, semoga.

Aku membelok. Memasuki gang sempit yang diapit dua rumah. Tentu aku masih ingat siapa pemilik dua rumah ini. Pak Kordi dan Mbok Jannah. Aku masih ingat betul, Mbok Jannah selalu berteriak-teriak kesal begitu aku dan kawan-kawanku melewati gang ini sambil bersenda-gurau, tertawa dengan berisiknya dan menurut Mbok Jannah itu mengganggu tidur cucunya yang masih bayi. Tapi bukannya lantas diam, kami malah mengencangkan tawa kami sambil berlarian. Meninggalkan wajah kesal Mbok Jannah di jendela samping rumahnya.Dan kami tak pernah kapok melewati gang itu, meski harus mendengar ocehan Mbok Jannah. Aku tersenyum mengingat ulah usilku itu.

Aku terus berjalan hingga  tiba  di ujung gang. Aku berhenti, menarik nafas dan menghembuskannya pelan. Aku kembali melangkah dan mataku menatap lurus ke depan, penuh harap. Kurasakan tubuhku merinding. Rasa bahagia dan rindu menyeruak begitu menyadari tempat itu masih ada.

Ya, tempat itu. Sepetak lapangan tak terlalu luas yang berada di tengah desa ini. Mungkin bukan tempat yang istimewa bagi orang lain. Tapi bagiku dan teman-teman masa kecilku, tempat ini lebih istimewa dari taman mini indonesia indah di Jakarta sana. Tempat ini menyenangkan. Tempat kami melepas segala penat, menumpahkan gelak-tawa, tempat berbagi kesenagan dan kadang perseteruan-perseteruan kecil. Dulu tempat ini begitu istimewa bagi kami. Bahkan sampai sekarang aku masih menganggapnya istimewa. Karena tempat ini merekam begitu banyak kenangan.

Aku berdiri di tengah lapangan. Mengedarkan pandangan. Tempat ini masih sama. Di sisi kanan sana masih berdiri kokoh beberapa pohon jati yang meneduhkan lapangan. Kemudian dua pohon jambu itu masih berada di tempatnya seperti dulu, di pojok lapangan. Mereka tampak lebih kokoh sekarang, dan sedang memamerkan kuncup bunga-bunganya, bakal calon buah jambu. Dulu aku yang paling semangat berburu buah jambu di pohon itu.

Aku menghela nafas lega. Syukurlah, aku masih bisa menemukan tempat ini. Tapi, sebentar… Ada yang aneh dengan tempat ini sekarang. Kuedarkan pandanganku sekali lagi, memastikan.

Sepi. Tempat ini begitu sepi. Hanya ada aku. Bagaimana bisa? Ini aneh.

Bentuk fisik tempat ini memang tak banyak berubah seperti yang terakhir kulihat empat tahun lalu. Tapi bagaimana bisa tempat ini sesepi ini? Aku masih ingat betul setiap pagi dan sore hari tempat ini tak pernah sepi dari bocah-bocah kecil sampai para remaja. Mereka, termasuk aku dan kawan-kawanku selalu bermain dan meramaikan tempat ini, dulu. DI ujung sana adalah tempat para bocah bermain gobak sodor, egrang, lompat tali. Di sisi pohon-pohon jati itu biasanya anak-anak bermain benteng atau petak umpet. Dan di sebelah sana adalah tempat para remaja desa ini bermain sepak bola.

Tapi sekarang? Semua sisi lapangan ini sepi. Tak ada anak-anak yang bermain gobak sodor, lompat tali , benteng, petak umpet. Tak ada para remaja yang bermain bola. Dan aku juga baru sadar pohon jambu yang biasa dijadikan arena memanjat pun kini sepi. Kemana mereka?  Oh, apalagi di hari minggu pagi. Hari libur sekolah. Tempat ini pasti ramai, dulu.

Ah, apakah aku salah menyangka hari? Apakah ini bukan hari minggu? Apakah anak-anak dan para remaja itu telah pergi ke sekolah sepagi ini? Aku membuka ponsel memastikan ini hari apa. Dan ternyata aku tak salah, ini memang hari minggu. Tapi kemana mereka?

Apakah tempat ini sudah tak menarik lagi bagi anak-anak dan remaja desaku ini? Atau ada sesuatu yang membuat mereka tidak bisa datang kesini hari ini? Entahlah, kebingunganku tak terjawab.

Ah, tempat ini begitu istimewa bagiku dan kawan-kawan masa kecilku. Kami begitu akrab dengan tempat ini. Dari kecil hingga kami menginjak bangku sekolah SD, SMP, dan SMA kami anak-anak desa selalu bermain bersama di tempat ini. Tempat ini menyatukan kami. Tempat ini yang memberikan ruang kebahagiaan pada masa kecil kami. Tempat ini yang mengajarkan bagaimana indahnya kebersamaan, bagaimana perbedaan tidak menghalangi kami untuk bermain dan tertawa bersama…

Ah, begitu banyak kisah yang bisa diceritakan di tempat ini. Bagiku, tempat ini istimewa, dulu, sekarang, dan selamnya. Dan seharusnya sekarang tempat ini juga istimewa bagi anak-anak dan remaja desaku ini.

Akhirnya aku memutuskan untuk pulang saja. Ada kekecewaan mengganjal dalam dada. Ketika hendak berangkat ke tempat ini tadi, aku membayangkan betapa serunya anak-anak serta remaja desa sedang berkumpul dan bermain di tempat ini. Seperti yang aku dan kawan-kawanku lakukan dulu. Aku ingin melihat suka-cita itu. Aku ingin bernostalgia. Tapi nyatanya tempat ini sepi.

Kulangkahkan kakiku meninggalkan tempat ini dengan lesu. Aku berniat kembali ke rumah. Tapi, setengah perjalanan lagi menuju rumah, aku berhenti dan berbalik arah. Tidak, aku tidak berniat kembali ke lapangan itu. Aku ingin ke tempat lain. Rumah Riana dan Robi. Rumah mereka tak jauh dari lapangan itu.

Riana dan Robi, dua bersaudara. Mereka anak dari adik bungsu ibuku. Terakhir bertemu, mereka berusia delapan dan enam tahun. Dan aku ingat betul mereka berdua termasuk dari sekian bocah-bocah yang selalu bermain di lapangan itu. Ya, Riana paling gemar bermain petak umpet dan lompat tali. Sedangkan Robi, dia paling semangat ketika menyelinap dan membuat rusuh permaianan sepak bolaku dan kawan-kawanku.

Riana dan Robi pasti tahu sesuatu. Mereka pasti tahu mengapa pagi ini lapangan itu begitu sepi. Aku sampai di depan rumah mereka. Setelah mengucap salam dan mengetuk pintu, aku langsung membuka pintu dan masuk. Aku menuju ruang tengah.

“Wah, mas Edho? Mas Edho pulang kampung. Jadi bener apa yang ibu bilang tadi,” ucap Riana setengah berteriak. Gadis itu kemudian beranjak dari kursinya dan menyalamiku.

“Iya. Kemarin sore nyampe rumah. Eh mana paman sama bibi?” Aku bertanya sambil duduk di sofa.

“Ayah sama Ibu pergi kerumah Nenek pagi-pagi tadi,” jawab Riana. Gadis itu kini kembali ke tempat duduknya tadi. Kemudian mengambil sebuah netbook dan memangkunya. “Oia, si Robi juga ada di rumah kok. Dia ada di kamar. Robiiii… Ada mas Edho nih. Dia udah pulang dari Sumatra loooh!” Riana berteriak memanggil adiknya.

“Wah, Mas Edho…! Oleh-olehnya dong mas. Hehehe…” Robi keluar kamar menujuku sambil cengengesan.

“Wah, kau sudah besar Robi. Sayang sekali aku tadi kesini ga bawa sesuatu. Tapi di rumah ada oleh-oleh buat kalian berdua kok.” Aku mengacak-acak rambut Robi.

“Asiiik!” Robi berteriak senang dan duduk di sebelahku.

“Eh, hari minggu gini kok kalian di rumah aja? Nggak maen ke luar?” aku mulai mencari keterangan.

“Ah, males Mas. Mending di rumah aja. Berpetualang di dunia maya, seru!” jawab Riana masih sambil memangku netbook-nya. Kedua matanya tak lepas dari layar netbook itu.

Keningku berkerut. Aku coba melongok ke arah layar netbook Riana. Ah, kukira dia sedang mengerjakan tugas sekolah, ternyata dia sedang asyik dengan situs-situs online shop.

“Iya, Mas. Daripada capek-capek maen di luar mending di rumah aja. Maen game, nonton video, internetan. Asik lah pokoknya. Hehe.” Robi menambahkan sambil cengengesan.

Lidahku kelu. Entah apa yang harus kukatakan kepada mereka.

“Oh ya Mas, aku ke kamar dulu ya. Mau maen game online lagi. Mas, mau ikut?” Robi menawarkan sambil beranjak dari sofa. Aku hanya menggeleng dan dia langsung meluncur ke kamarnya.

“Ehm, Riana… Aku pulang dulu ya. Ntar salam ke paman dan bibi.” Aku pamit pulang. Rasanya campur aduk dan aku tak bisa berkata lebih dari ini.

Riana menoleh. “Kok cepet Mas? Nggak sarapan atau minum dulu?”

Aku menggeleng.

Keluar dari rumah Riana, bukannya pulang ke rumah, langkah kakiku malah membawaku menuju lapangan itu lagi. Antara rumah Riana dan lapangan itu hanya terpisah beberapa rumah saja.

Kuedarkan pandanganku ke arah rumah-rumah di sepanjang jalan menuju lapangan. Kupelankan langkahku. Pandangan mataku masuk menyelinap ke dalam rumah-rumah itu melalui jendela atau pintu yang terbuka. Kuamati.

Dari celah jendela atau pintu yang terbuka bisa kulihat dua atau tiga anak-anak dan remaja sedang asik melakukan sesuatu. Mereka duduk menghadap sesuatu, saling diam seperti sibuk sendiri-sendiri. Sesekali terdengar teriakan mereka. Terkadang teriakan kemenangan dan juga teriakan kekecewaan. Kemudian hening lagi, mereka sibuk sendiri-sendiri lagi.

Sedang apa mereka? Kuhentikan langkahku. Kuamati lebih cermat. Terlihat mereka masing-masing duduk menghadap sebuah layar, terpampang gambar gerak warna-warni di layar itu. Ah, aku  sadar. Mereka sedang asyik bermain game, ada juga yang sedang menjelajah berbagai situs hiburan.

Aku menghela nafas dan melanjutkan langkah. Ya, mereka anak-anak dan para remaja itu sedang asyik bermain di rumah masing-masing. Bermain dengan layar ajaib di depan mereka. Entah sudah sejauh mana mereka telah tersedot ke dalam dunia ‘asing’ itu.

Langkah kakiku sudah membawa diriku di lapangan itu lagi. Kemudian aku berjalan menuju pojok lapangan, tempat dua pohon jambu. Aku duduk bersandar pada salah satu pohon. Perasaanku campur aduk.

Kuhela sebuah nafas berat. Mataku menatap lekat-lekat ke depan. Dari posisi ini aku bisa melihat setiap sisi lapangan. Setiap sisi lapangan yang selalu penuh dengan keceriaan anak-anak dan remaja desa ini. Setiap sisi lapangan yang selalu dipenuhi canda tawa  menggema. Itu dulu. Dan kenyataannya, kini hanya sepi lah yang sudi menemani lapangan ini.

Ah, andai lapangan ini bisa berbicara, pasti kini ia sedang menangis. Meratapi anak-anak dan remaja desa ini yang telah diculik. Terculik oleh dunia ‘asing’ itu. (*)

 

Hanif Juneidi Ady Putra, putra asli Mojokerto, Jawa Timur yang tengah menghadapi tantangan hidup sebagai mahasiswa rantau di kota Yogyakarta. Aktifis PMII UGM ini adalah pecinta sastra yang tak pernah bosan membaca buku. Penggenggam moto “menyukai perbedaan & keberagaman. Karena perbedaan adalah berkat dari Tuhan”, ini mengagumi Gus Dur hingga J.K. Rowling sebagai inspirasinya.

Categories
Featured Galigoku

Budaya dan Media sebagai Penjaga Ketentraman dalam Berbangsa

Budaya bagi saya adalah sesuatu yang terbilang rumit, pelik dan luas. Budaya mengandung banyak sekali unsur, mulai dari unsur geografis hingga unsur ideologis. Dimulai dari adanya budaya, agama dan bangsa, lahirlah sebuah negara atau suatu golongan. Budaya, biasa kita sebut juga dengan culture, di bawahnya ada subculture dan di atasnya ada mainstream. Semuanya berkesinambungan, lebih tepatnya saling tarik-menarik dan berkaitan. Apabila kita membahas salah satu substansi dari kata budaya tersebut, kita juga harus menarik benang-benang lain yang terkait dengan substansinya.

Budaya juga merupakan bagian dari keberagaman. Dalam suatu bangsa terdapat keanekaragaman budaya. Kita, masyarakat dengan raga manusia, sebagai bagian dari bangsa tersebut merupakan pemilik kebudayaan dan dituntut untuk mengenali, melindungi dan melestarikannya. Kita patut bersyukur berada di Tenggara, 30 derajat dari Timur, dimana macam-macam bentuk budaya masih terjaga utuh dan lestari. Budaya itu seni; seni itu indah; indah itu ketika damai terlaksana sebagaimana mestinya. Sekiranya ulasan di atas adalah sedikit gambaran tentang apa itu budaya dari sudut pandang saya.

Bendera Malaysia dan Indonesia. Sumber: www.sindonews.com

Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di bagian tenggara benua Asia, terkenal dengan kekayaannya akan budaya-budaya tradisional yang beberapa di antaranya masih bernuansa primitif, unik dan belum tersentuh modernisasi Barat. Dari Sabang sampai Merauke; ada suku Melayu yang memiliki bahasa yang halus nan indah, suku Bugis yang  kaya akan keteladanan sastranya, sampai suku Samin dengan ideologinya yang tak tergoyahkan. Itu benar-benar mencerminkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat dari beragam bidang. Namun, dewasa ini kerap terjadi fenomena-fenoma yang menyebabkan apa yang saya sebut damai seperti di atas tadi, terusik. Lebih menyedihkannya lagi yang mengusik kedamaian tersebut adalah isu kebudayaan.  Apalagi setelah mengetahui bahwa fenomena tersebut melibatkan negara tetangga kita yang memiliki cukup banyak kesamaan dengan Indonesia; ya, mereka tetangga kita sendiri, Malaysia.

Agar saya yang berintelegensi rendah ini  tidak memperluas hingga kemana-mana pembahasan dalam opini saya, mari kita tengok sejenak daftar dari isu-isu kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia yang pernah terjadi sebelumnya :

  1. Naskah kuno dari Riau, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  2. Naskah kuno dari Sumatera Barat, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  3. Naskah kuno dari Sulawesi Selatan, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  4. Naskah kuno dari Sulawesi Tenggara, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  5. Rendang (makanan) dari Sumatera Barat, Klaim oleh Warga Negara Malaysia.
  6. Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  7. Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  8. Lagu Soleram dari Riau, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  9. Lagu Injit Injit Semut dari Kalimantan Barat, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  10. Alat musik Gamelan dari Jawa, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  11. Tari kuda lumping dari Jawa Timur, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  12. Tari Piring dari Sumatera barat, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  13. Lagu Kakak Tua dari Maluku, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  14. Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  15. Motif Batik Karang dari Yogyakarta, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  16. Badik Tumbuk Lada, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
  17. Kain Ulos, Klaim tidak jelas dari oknum/pemerintah Malaysia.
  18. Alat musik Angklung, Klaim sepihak dari pemerintah Malaysia.
  19. Lagu Jali-Jali, Klaim sepihak dari pemerintah Malaysia.
  20. Tari Pendet dari Bali, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia

sumber : http://maxxalkahfi.blogspot.com/2011/11/pengklaiman-budaya-indonesia-oleh.html

Sudah ada 20 isu mengenai pengklaiman kebudayaan milik atau asal Indonesia yang mencuat di permukaan. Semuanya merupakan KLAIM SEPIHAK OLEH PEMERINTAH MALAYSIA. Sekali lagi saya tekankan disini KLAIM SEPIHAK OLEH PEMERINTAH MALAYSIA. Ketika pertama kali mengetahu kalimat tersebut yang terbersit di benak saya, ini adalah bentuk klaim dari pemerintah. Terus terang saja saya tergolong orang yang tidak pernah mempercayai pemerintah, termasuk pemerintah di Indonesia. Ketika mendengar hal tersebut merupakan perbuatan dari pemerintah saya sudah tidak heran lagi, karena menurut saya pemerintah sejak awal terbentuknya suatu negara memang sudah busuk dan layak dibenci – sebagaimana suku Samin membenci pemerintah sejak zaman Hindia-Belanda-. Tetapi bukan hal itu yang ingin saya bahas dan opinikan disini.

Media, sebagai pemberita, menjadi salah satu aktor di balik isu pengganggu perdamaian ini. Beberapa hari ini isu kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia  mencuat kembali, kali beredar isu tentang pengklaiman tari Tor-tor dan Gondang Sambilan milik komunitas Mandailing di Sumatera Utara. Isu yang diedarkan oleh sejumlah media adalah tentang Pengklaiman Tari Tor-tor oleh Pemerintah Malaysia. Contoh konkritnya ialah pemberitaan yang dilakukan oleh Viva News (Indonesia) dengan judul ‘Giliran Tari Tor-tor Batak Diklaim oleh Malaysia’ (http://nasional.vivanews.com/news/read/326095-giliran-tari-tor-tor-batak-diklaim-malaysia). Di sana dituliskan “Malaysia kembali mengklaim hasil kebudayaan asli Indonesia menjadi miliknya” lalu “Namun kini, Malaysia dengan berani akan meregistrasi kebudayaan itu berdasarkan Bab 67 Undang-undang Peninggalan Nasional 2005” dan “Aksi ini memancing reaksi keras dari masyarakat Indonesia. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu sempat marah atas klaim itu. Budayawan Malaysia juga menyesalkan klaim ini”.

Sumber: TempoInterAktif

Dari berita yang beredar tersebut dapat  diinterpretasikan bahwa ‘Pemerintah Malaysia atau Negara Malaysia seenak udelnya mengklaim tari Tor-tor sebagai warisan kebudayaan milik Malaysia, hal tersebut menyebabkan pemerintah Indonesia serta masyarakat Indonesia naik pitam dan menentang keras  apa yang sudah diperbuat oleh Pemerintah Malaysia atau Negara Malaysia’. Ada beberapa kata yang perlu kita garis bawahi dari interpretasi dan berita tersebut yaitu, ‘Klaim’, ‘Pemerintah’, ‘Rakyat’ dan ‘Registrasi’. Pemberitaan dari situs dengan skala kepercayaan cukup besar di Indonesia tersebut apabila diterima dengan mentah-mentah dapat menjadi pengusik kedamaian antara Indonesia dan Malaysia. Karena menurut saya pemberitaan yang beredar tersebut kurang bulat atau kurang obyektif. Dari postingan tersebut tidak disebutkan secara detail siapa pihak dari Malaysia yang mengklaim tari Tor-tor. Seolah-olah subyek yang melakukan klaim terhadap tarian tersebut adalah keseluruhan manusia yang ada di Malaysia, atau bisa diartikan sebagai pemerintah dan rakyatnya.

Lalu disebutkan bahwa Presiden Indonesia  marah akan hal tersebut. Memang jelas disebutkan nama Presiden Indonesia namun dalam penulisan kata rakyat, tidak disebutkan secara jelas juga rakyat yang mana yang meman bereaksi negatif atas apa yang dilakukan Malaysia terhadap tarian tersebut. Kemudian, terdapat kontradiksi dalam pemakaian kata-kata. Seperti yang disebutkan pada judul berita tersebut ada kata ‘Klaim’ namun dari substansi berita ditemukam kata ‘Registrasi’. Klaim dan registrasi  sungguh merupakan dua kata yang amat berbeda. Apabila memang yang dilakukan oleh Malaysia adalah klaim atas suatu warisan kebudayaan, lantas kenapa Malaysia hanya melakukan registrasi atau pendaftaran atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai listing saja? Apabila memang Malaysia mengklaim tarian tersebut dan Indonesia merasa sebagai pemilik asli dari tarian itu seharusnya sudah terjadi perang yang amat dahsyat di wilayah paling tenggara di Asia ini. Bila kita lihat dari sumber lain seperti Bernama.com (Malaysia) yang mengutip perkataan dari Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia Datuk Seri Dr Rais Yatim bahwa tarian tersebut akan didaftarkan dibawah Section 67 UU tentang warisan budaya nasional tahun 2005. Disebutkan di sana bahwa tarian tersebut hanya didaftarkan, bukan diakui sebagai milik atau berasal dari, sebagaimana interpretasi dari kata Klaim itu sendiri. 

Hal yang saya soroti dari kedua sumber ini adalah terdapat banyak pengaburan fakta secara besar-besaran dari peristiwa sebenarnya dalam pemberitaan yang dilakukan oleh Viva News. Sebelum memublikasian berita, sudah sepatutnya pihak yang memberitakan hal ini mengetahui keseluruhan fakta peristiwa tersebut, sehingga tidak kemudian memunculkan perseteruan antara pihak yang merasa benar dan pihak yang disalahkan dalam beritanya. Seharusnya pembaca yang menjadi obyek sasaran dari media pemberita tersebut dapat menganalisa kebenaran dari peristiwa yang terjadi dan tidak langsung mempercayai berita yang diberitakan oleh media pemberita begitu saja. Hal itu dapat menyebabkan perseteruan dan terusiknya perdamaian antara kedua negara tersebut akan terus berkelanjutan. Media seyogyanya bisa menjadi tempat mencari fakta dan segala bentuk pengetahuan secara utuh. Bukan sebagai penyebar propaganda yang secara terang-terangan melakukan provokasi dengan mengaitkan beberapa pihak dalam suatu peristiwa dan merubah peristiwa tersebut menjadi konflik. Media seharusnya bisa menjaga keharmonisan hubungan antar umat dalam pengungkapan kebenaran tersebut.

Salah satu hal yang dapat kita lakukan jika ingin mencari kebenaran dan menghindar dari pembutaan fakta yang dilakukan oleh media terkait isu Pengklaiman tari Tor-tor dan Gondang Sambilan adalah seperti melakukan kunjungan langsung ke Malaysia untuk mengkaji beberapa paham mengenai asal-usul kebudayaan tersebut. Sebagai sampel adalah kunjungan yang dilakukan oleh beberapa kawan dari La Galigo for Nusantara dalam proyek “Lontara Project Goes to Malaysia” . Dalam proyek tersebut mereka mengkampanyekan fakta bahwa Indonesia dan Malaysia terletak dalam satu Nusantara dan Satu bangsa, yaitu bangsa Melayu. Dari temuan tersebut terdapat beberapa fakta lagi yang dibuktikan yaitu bagaimana kebudayaan tersebut lahir di Indonesia, dan bagaimana kebudayaan tersebut bisa mengalami persebaran hingga bisa ditampilkan di negara lain; bahwa penduduk asli dari tempat asal kebudayaan itu lahir adalah para perantau yang berpindah tempat tinggal namun tetap ingin kebudayaan mereka lestari di tempat tinggal mereka yang baru itu. Satu fakta lagi yang ditemukan dalam kunjungan tersebut ialah hampir 80% artefak yang berada di museum kecil milik Akademi Pengkajian Melayu University of Malaya adalah artefak yang dapat ditemukan di Indonesia juga. Yang dapat disimpulkan dari fakta-fakta di atas adalah jika ada kesamaan kebudayaan atau benda-benda warisan kebudayaan seyogyanya dipandang dengan wajar, karena Indonesia dan Malaysia berada dalam satu rumpun Melayu yang memiliki kemiripan dan dinamis.

Kesimpulan dari opini dan analisa saya dari fakta-fakta yang ada:  Indonesia dan Malaysia adalah satu, satu rumpun Melayu. Isu kebudayaan yang memang sensitif dan pemberitaannya terkadang dilebih-lebihkan ini seharusnya tidak bisa menjadi perusak perdamaian antar bangsa. Masing-masing bangsa, Indonesia dan Malaysia, dengan mengetahui bahwa mereka berada dalam satu rumpun yang sama seharusnya menjadi bisa menjaga kestabilan hubungan mereka yang semula baik-baik saja. Bahkan budaya-budaya yang diributkan tersebut lahir jauh sebelum batas wilayah dan negara ada. Tidak seharusnya budaya diperebutkan dan menjadi penyebab rusaknya keharmonisan hubungan antar bangsa. Karena Indonesia dan Malaysia memang diciptakan berdekatan, bertetangga dan dalam memiliki banyak similiarities dalam satu rumpun Melayu tersebut.

Semoga budaya bisa tetap menjalankan fungsinya yaitu sebagai Penjaga Ketentraman dalam Berbangsa.  Semoga damai tercipta karena kebudayaan dan keanekaragaman ini adalah anugerah yang tidak bisa kita temukan di belahan dunia lainya. Salam!

 

Hilman Fathoni, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada angkatan 2010. Bungsu dari dua bersaudara ini kini menjabat sebagai Ketua Divisi Penelitian dan Pengembangan di Badan Pers dan Penerbitan Mahasiswa MAHKAMAH. Ketertarikannya terhadap gejala sosial dan filsafat membuat penyuka musik aliran keras dan film-film “hitam-putih” ini sering menampilkan ide-ide yang eksentrik. Kenali Hilman lebih jauh dengan mengunjungi blognya di http://jokerjester-jesterjoker.blogspot.com/

Categories
Featured Galigoku

Sarjana = Civilized = Orang yang Berbudaya

Volunteer Lontara Project, Anggita Paramesti, ingin sedikit berbagi perspektifnya terhadap Jakarta selama mengikuti program US Indonesia Partnership Program for Study Abroad Capacity (USIPP). Jakarta yang dikenal sebagai metropolis, kota “kejam” tempat mengadu nasib ini ternyata menyimpan ruang-ruang budaya yang menanti untuk dikunjungi, dihayati, dan dijaga oleh generasi muda Indonesia.

I never liked Jakarta. I see it as a mean place, where the wealth disparity between people is so wide, and the rich doesn’t care to the poor. The national parliament is located here, so I always see Jakarta as the place where corruption is centered. I hate the hectic life, wake up at 4 am and get home at 11 pm JUST because you are trapped in a crazy traffic. It is a scary place because crimes are all around. That was why it was very hard for me to believe the presentation today at the Jakarta Local Government office.

Pak Sukesti Martono, the Deputy Governor told us how Jakarta is a harmonious place where people from different background can melt together in peace, how the economic development of Jakarta is even bigger than the economic development of the country as a whole, how Governor Fauzi Bowo is close to the people. I didn’t believe that. I kept comparing this presentation with Jokowi’s presentation about Solo (I interpreted for him when he talked in front of Citibankers, talked about his leadership experience in Solo). Jokowi is just real. He didn’t fill his slide with the normative principles, how things should happen. Instead, he gave the examples, how things already are. When the audiences asked him about his plan or idea, he didn’t come up with abstract things like, “Yeah, we should have dialogue in order to respect each other.” But he went like, “What I did was… because… and the result was…” And he didn’t need to put his picture on banners all around the city to make people acknowledge him. He is already in people’s heart and mind because he really does the people favors. I don’t want to sound like campaigning for DKI Jakarta Governor Candidates here. I mean, I do not even live here (Thank God). But yeah, I started to think that I’m being unfair here.

Gita di Museum Gajah, Jakarta

Jakarta is a lot bigger than Jogja and Solo, and it has more complex situation compare to both cities. Like any other big cities, the gap between rich and poor tends to be more obvious, crimes are more often, and so on. So I asked Pak Junaidi, the Head of UI international office, who is very cool, to get the perspective from a person who live in Jakarta. And yes he admitted that many problems remain unsolved, like traffic jam, but compare to the situation couple years ago, Jakarta nowadays is actually not so bad. I nodded, and promised to myself that I will try my best to see the different side of this city.

So we stopped by to the National Museum or Museum Gajah (which is pretty much my favorite museum beside Ullen Sentalu. I love the golden room the most because it reminds me on how rich Indonesia is), and when we walked around the block where the museum is located, I feel like Jakarta is kind of pretty. The buildings are well taken care of, as well as the plants and flowers, at least it looks good and prestigious as a capital city. After a quick, like real quick, tour in the museum, we went right away to the Constitution Court. I am so excited because the head of the court is one of my favorite figures which is Mahfud M.D. We met with Pak Harjono (read: Pak Haryono), one of the 9 judges in Constitution court. Constitution Court (MK) was established in 1999, as a result of constitution amendment. At that time, post reformation era, Indonesian politics was unstable and there was a demand from the society to uphold the constitution. MK judges consist of 8 male and 1 female (I saw the picture of this lady, I like her, she looks fierce). Since its establishment, MK never had a scandal like any other parts of government (you-know-what).

Mahkamah Konstitusi

Pak Harjono explained that this situation was because 2 factors. The 1st one: in 1999, the political parties and government were not strong enough to give pressure or influence toward MK. So MK can grew independently, in a shaped attitude. And the 2nd, because all the judges were scholars from university! This second point reminded me to our conversation with Pak Junaidi during the lunch. We talked about the system: how to change the system. The most effective way, if not the only way, to change the rotten system is to get into the system and replace it with the new one.

Our concern is whether or not when the idealist people get into the system, they will still uphold their idealism instead of being blown away. To avoid this, Pak Jun said, we need to get into the system together with other people who have the same vision, so the replacement have to be done massively. But how is this possible? And Pak Jun said, that is the job of the university. To create sarjana, sarjana isn’t only mean a scholar. But according to Sanskrit, the word also means a civilized person, orang yang berbudaya. By being civilized doesn’t only mean that you have to be smart, or knowledgeable about cultures, but you also have to have a good manner, and do good deeds.

When these sarjana created by universities get into the system, they will be able to make the change. Pak Harjono and MK prove this hypothesis. I now feel like I have so much optimism for being a university student. From MK, we head to the Old Batavia. We had Pak Jun’s student, Mas Kartum Setiawan, as our tour guide. He works at Museum Mandiri (the biggest bank in Indonesia) and a member of Komunitas Jelajah Budaya or the Cultural Journey Community. He took us through Glodok Market which sells rabbits, candies and electronic things. Through pecinan or China Town in which we found market (that sells lamp, candles, frogs to Chinese herbs medicines), Confucian klenteng, and a church in a shape of klenteng. The church guard is a man from Panggang, Gunung Kidul. His English is fluent because he teaches English in an elementary school. He showed us around the church, told us the story that the church used to be a house of a rich family. Until they finally sold the house to priests.

We then continued the walk to Museum Mandiri, and the old city hall. I’ve seen more in Jakarta today than I thought I can found; the complexity, commitment, and the beautiful places. Guess I’ll start to like it a little.

 

Depok, June 7 2012

 

Anggita Paramesti, mahasiswi FISIPOL UGM yang pernah mengikuti program pertukaran pelajar AFS-YES ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Pada tahun 2011 Ia berangkat ke Mindanao, Filipina Selatan untuk mengikuti Silsilah Summer Course on Moslem-Christian Dialogue  bersama komunitas lokal Zamboanga. Ketertarikannya pada isu-isu global seperti dialog antaragama, hak-hak minoritas, feminisme dan budaya membuat anak kedua dari dua bersaudara ini kritis terhadap kondisi di sekitarnya. Saat ini Gita bekerja sebagai Interpreter dan guru Bahasa Indonesia untuk pelajar asing di Realia Language and Cultural Center, Yogyakarta.