CITA-CITA GELAP GULITA

ada satu jalan yang panjang hampir tak bercabang

tempatku berguru ilmu baru

tempatku melepas rindu dengan pesisir yang baru

mata adalah indera paling aktif saat aku mulai bersetubuh dengan atmosfirnya

 

aku datang sebagai teh kering siap seduh

aku bimbang mencari tempat menyatu

kemudian mereka datang membawa pemanis, air panas, dan cangkir-cangkir kegembiraan

separuh malam habis terlahap wajah-wajah yang perlahan melepas beban-bebanku

 

aku berani meletakkan kata baru di kamus bahasaku

untuk mereka

jika ada kata kata yang lebih tinggi diatas bijaksana

kuartikan sebagai hal langka

 

ada keluh tentang janji rupanya

janji tak pernah tumbuh subur kecuali jagungnya

janji tak pernah merekah kecuali bibir-bibir bidadarinya

janji tak pernah bersahabat kecuali mereka yang selalu berkerabat, sangat-sangat dekat

 

sudah sekian musim

mereka lelah dan memilih diam kembali

meneruskan imaji dalam kepala tentang keterbatasan menuju kesudahan

dan hidup normal dalam anggapan

 

airmata tidak betah bersemayam lama-lama; mendesak keluar agar ikut merasa

kepada nama-nama yang sepantasnya untuk mereka

sebuah tanah begitu hidup tak disadari betapa kaya

yang seharusnya membuka mata sambil melangkah kesana

 

adakah jalan mengairi hati-hati kering yang ditunjuk? di dalam ruang sejuk

atau paling tidak lembaplah matanya

 

 

Lemolemo, 28 Februari 2015

11074137_10205364733816754_1396445681_nAndi Muhammad Hikmatyar Ibrahim, dipanggil Tyar. Senang berwisata kuliner dan berpetualang sambil menulis. Telah jatuh cinta pada puisi serta prosa sejak duduk di bangku SMP dan mulai belajar secara otodidak. Penggemar hampir segala jenis musik. Penabuh drum dari salah satu band lokal Makassar. tyaribrahim.tumblr.com adalah halaman yang paling setia memeluk segala isi kepalanya

 

Indonesia di Perpustakaan Universiteit Leiden

Leiden adalah kota yang unik. Tidak saja karena ia termasuk salah satu kota pelopor kemerdekaan Belanda dari tangan Kerajaan Spanyol pada tahun 1574, namun juga karena Leiden adalah tuan rumah dari Universiteit Leiden, universitas pertama di negeri kincir angin. Leiden sebagaimana halnya Jogja di Indonesia, merupakan kota pelajar. Jika luasnya dibandingkan dengan Amsterdam maupun The Hague jelas kota ini jauh lebih kecil. Leiden bukanlah tujuan utama turisme maupun kegiatan bisnis internasional, akan tetapi yang bisa membuat Leiden berbangga hati ialah fakta bahwa di dalam rahimnya bersarang material-material langka terkait kenangan maupun kekinian dari era Hindia Belanda hingga Indonesia pasca merdeka.

Tim La Galigo Music Project didampingi Sirtjo Koolhof saat mengunjungi Perpustakaan Universiteit Leiden untuk melihat langsung NBG 188
Tim La Galigo Music Project didampingi Sirtjo Koolhof saat mengunjungi Perpustakaan Universiteit Leiden untuk melihat langsung NBG 188 pada bulan Desember 2013 lalu

Universiteitbibliotheek Leiden alias Perpustakaan Universiteit Leiden berlokasi di sekitar kanal Rapenburg, jantung kota Leiden. Perpustakaan ini tepat berseberangan dengan Leidse Fakulteit der Geesteswetenschappen alias Fakultas Humaniora dan juga gedung KITLV. Dipisahkan oleh sebuah kanal yang dialiri oleh Sungai Rijn, Perpustakaan Leiden berhadapan dengan tembok belakang KITLV yang dilukisi sebuah elong berbahasa Bugis dalam aksara Lontaraq. Perpustakaan Leiden telah lama didaulat sebagai perpustakaan dengan bahan-bahan tentang Indonesia terlengkap di dunia. Di tempat ini kita bahkan dapat menemukan buku-buku, majalah-majalah, koran-koran, dan naskah-naskah yang di Indonesia sendiri sudah tidak ada. Koleksi di perpustakaan ini terbagi menjadi dua, yaitu koleksi yang dapat diakses oleh publik dan bijzondere collecties atau koleksi khusus. Koleksi khusus terdiri atas manuskrip-manuskrip maupun dokumen-dokumen tua yang dijaga dengan ketat. Untuk dapat mengakses koleksi-koleksi ini, kita hanya boleh melihatnya di sebuah ruangan khusus yang disediakan oleh pihak perpustakaan karena tidak boleh membawa bendanya keluar dari gedung. Koleksi khusus Perpustakaan Leiden apabila ditotal bisa mencapai luas dua kali lapangan sepakbola lho, Sobat Lontara! Koleksi khusus ini terdiri atas beragam dokumen seperti catatan pribadi, foto-foto, arsip pemerintah, peta dan atlas, kitab-kitab kuno, surat-surat, dan lain sebagainya. Salah satu koleksi kebanggaan Perpustakaan Leiden yang saat ini sedang hangat diperbincangkan ialah fragmen Alquran tertua di dunia yang berasal dari tahun 650-715 Masehi.

Lokasi Eksebisi "Investigating Indonesia"
Lokasi Eksebisi “Investigating Indonesia”

Beberapa koleksi Perpustakaan Leiden lainnya yang menakjubkan dan berhubungan dengan Indonesia tentu saja ialah naskah La Galigo terpanjang di dunia, NBG 188, yang telah diakui oleh UNESCO pada tahun 2011 sebagai Memory of The World. Naskah tersebut menjadi kebanggaan perpustakaan ini. Naskah Babad Diponegoro yang asli dan, seperti halnya La Galigo, juga dianugerahi status sebagai Memory of The World pun juga bagian dari koleksi khusus. Naskah Negarakertagama yang berisi kisah kejayaan Kerajaan Majapahit awalnya disimpan di Perpustakaan Universiteit Leiden, namun pada tahun 1973 dalam rangka lawatannya ke tanah air, Ratu Juliana mengembalikan naskah tersebut kepada bangsa Indonesia. Nah, Perpustakaan Universiteit Leiden menjadi semakin kaya oleh koleksi tentang Indonesia sejak lembaga riset KITLV ditutup dan memberikan dokumen-dokumen  mereka (yang apabila dibentangkan panjangnya bisa mencapai 10 kilometer!) untuk dikelola oleh pihak Universiteit Leiden. Dengan demikian, Perpustakaan Universiteit Leiden boleh dibilang sebagai gudang harta bagi mereka yang memilih untuk belajar Indonesian Studies di negara-negara Barat.

Pamflet Pemilu di "Investigating Indonesia"
Pamflet Pemilu di “Investigating Indonesia”

Demi merayakan luarbiasanya koleksi tentang Indonesia, Perpustakaan Universiteit Leiden menggelar sebuah eksebisi berjudul “Investigating Indonesia” mulai tanggal 16 Oktober 2014 hingga 22 Januari 2015 (detail programnya bisa dilihat di sini). Di hall pintu masuk utama perpustakaan, sebuah ruangan khusus disediakan untuk memamerkan 7 buah hasil riset dari ahli-ahli Indonesia di Universiteit Leiden dan KITLV. Hasil-hasil riset ini amat menarik karena ditilik dari berbagai sudut pandang. Ada riset yang berhubungan dengan sosok perempuan muslim di Indonesia sejak zaman ratu-ratu Aceh hingga generasi majalah-majalah wanita. Ada yang membahas tentang tingkat keanekaragaman bahasa di Timor. Ada yang membahas perkembangan musik, utamanya dangdut. Bahkan ada yang membahas perihal implikasi sosial-legal proyek biofuel di daerah. Teman-teman yang penasaran dengan koleksi mereka dapat langsung ngecek ke website Universiteitbibliotheek Leiden atau ke KITLV. Di sana, ada banyak naskah yang sudah didigitalisasi serta koleksi foto-foto dari era kolonial yang dengan mudah dapat kita akses setelah mengikuti prosedur mereka.

Nah, teman-teman di Indonesia, daripada sibuk meratapi dan menyayangkan keberadaan naskah-naskah kuno di luar negeri (yang jelas-jelas dirawat dengan baik dengan biaya dan fasilitas yang memadai), mengapa kita tidak meneruskan tradisi baca tulis leluhur kita dulu? Mengapa kita tidak melestarikan serta menjaga tradisi-tradisi lisan maupun tulisan yang sekarang di kandangnya sendiri pun dilanda kepunahan? Apa yang kita tulis atau hasilkan hari ini juga di masa yang akan datang kelak menjadi harta karun bagi generasi-generasi berikutnya, bukan? Melihat antusiasme peneliti-peneliti di Leiden (baik yang berasal dari Indonesia maupun asing), kita bersyukur sekali karena naskah-naskah tersebut tidak sekedar disimpan, namun juga terus-menerus dikaji sehingga menghasilkan temuan-temuan baru yang memperkaya perspektif kebudayaan kita. Terus hasilkan karya demi bangsa dan tanah air kita tercinta!

Keluarga Baru LGMP

Selamat bergabung dalam La Galigo Music Project :)
Selamat bergabung dalam La Galigo Music Project 🙂

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikut nama-nama personil baru La Galigo Music Project :

1. Rezha Bayu Oktavian Arief (fisipol UGM)
2. Rera Tianingtyas (FBS UNY)
3. Aulia Jasmine Oktofani (vokasi sasing UGM)
4. Christine Inten Permaga Abu (vokasi mandarin UGM)
5. Bernard Nainggolan (Instipram)
6. David Sitompul (FH UGM)
7. Arya Dirga M. Noer (T.Sipil UMY)
8. Ariska Januar Aksan (Fisipol UMY)
9. Edwin A. Indriantoro (FEB UGM)

WE UPS! LA GALIGO!!!

Para Penggerak Zaman Kota Makassar

Kita sudah sering mendengar nama-nama tokoh-tokoh Sulawesi Selatan khususnya mereka yang tumbuh besar di kota Makassar. Nama-nama seperti Andi Pangeran Pettarani, Andi Mattalatta, Jendral Yusuf dan sebagainya. Setidak-tidaknya, pemuda Kota Daeng pasti pernah melihat patung-patung pahlawan yang terletak di Jalan Penghibur (di dekat Pantai Losari). Di sana ada tokoh-tokoh seperti Syekh Yusuf, Sultan Hasanuddin dan sebagainya. Kali ini saya akan menulis tentang beberapa tokohh yang mempunyai peran penting baik itu dalam pendirian universitas, pemerintahan, politik maupun beberapa sekolah di kota Makassar.

 
Dari tahun 1930 hingga tahun 1950 kota Makassar adalah sebuah kota penuh gairah yang dihuni oleh berbagai macam etnis seperti Bugis, Ambon, Minahasa, Minangkabau, Jawa, Tionghoa dan sebagainya. Berdasarkan data yang diperoleh dari sensus penduduk (pertama kali diadakan tahun 1930) kota Makassar memiliki jumlah penduduk sebanyak 83.144 (Burhaman Djunedding, Pesta Demokrasi di Daerah Bergolak: Politik Tingkat Lokal Dan Pemilihan Umum 1955Di Sulawesi Selatan. Yogjakarta, Tesis Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Sejarah Jurusan Ilmu-ilmu Humaniora Universitas Gadjah Mada, 2010, hlm. 63.) Dengan jumlah warga sebanyak itu, Makassar pastinya sangat membutuhkan banyak wadah untuk pendidikan, administrasi, dan lain sebagainya

Penduduk kota ini berasal dari berbagai daerah yang ada di Indonesia yang mempunyai semangat, keinginan untuk perkembangan kota Makassar.  Beberapa dari mereka ada yang diutus dari pemerintah pusat pada tahun 1950an sebagai pekerja, namun cinta terhadap kota Makassar lah yang membuat mereka kemudian menetap di kota ini. Mereka-mereka itulah yang mendirikan sekolah-sekolah dan universitas di Kota Makassar. Maka dari itu saya menulis tentang tokoh-tokoh tersebut. Mari simak satu per satu!

 
H. Sewang Daeng Muntu
sewang daeng muntuH. Sewang Daeng Muntu dilahirkan di Makassar pada tahun 1903. Kemudian pada tahun 1905 Belanda mengasingkan beliau bersama dengan orang tuanya ke Sumatra Utara. Masa kecilnya pun dihabiskan di daerah tersebut, termasuk pendidikannya. Dalam masa pendidikan itu pula beliau belajar agama Islam, tepatnya di Sekolah Melayu. Pada tahun 1926 setelah menamatkan sekolahnya, beliau kembali ke Sulawesi dan mulai berkecimpung dalam perkumpulan Muhammadiyah. Pada tahun 1038 beliau akhirnya berhasil menjadi konsultan P.B Muhammadiyah untuk Sulawesi. pada masa pendudukan Jepang, H. Sewang Daeng Muntu pernah menjadi salah satu anggota Sukai Gi In dan Minseibu Sanjo (Badan Penasehat Minseibu). Pada masa pemerintahan N.I.T, beliau juga terpilih dan berhasil menjadi anggota parlemen dalam Fraksi Progresif yang diketuai oleh A. Mononutu. Selanjutnya, ketika Partai Politik Islam Masjumi di Sulawesi terbentuk, beliau pun tampil sebagai pemuka yang aktif di Pimpinan Wilayah dan salah satu yang memperjuangan perguruan Islam atau Universitas Muslim Indonesia Makassar, awal berdirinya pada tahun 1953 hingga diresmikannya 1954. Dalam Sumber ( Kumpulan Klipping Koran, Tokoh-Tokoh Masjumi dalam Pemilihan Umum. Jakarta. Dewan Dakwah Islam Indonesia. hal. 7)

 

 

Nazaruddin Rahmat

nazruddinrahmat
Naziruddin Rahmat berasal dari Sumatra Barat. Kepindahannya ke Sulawesi merupakan bagian dari penugasan Departemen Agama. Beliau merupakan kepala Jabatan Penerangan agama Provinsi Sulawesi. Perhatiannya terhadap pendidikan Islam di Sulawesi, khususnya Makassar membuatnya berfikir untuk mendirikan sebuah Universitas berbasis Islam yaitu Universitas Muslim Indonesia. Beliau pula yang memperjuangkan berdirinya Universitas Muslim Indonesia. Naziruddin Rahmat menghadap ke Gubernur Sulawesi dan walikota Kota Makassar, hingga para bupati-bupati Gowa dan Bone pada tahun 1953 untuk menyampaikan tujuannya. (dalam sumber wawancara dengan Umar Syihab pada tanggal 14-Juni-2012.)

 
Sutan Muhammad Yusuf Samah

Sutan Muhammad Yusuf Samah berasal dari Sumatra Barat. Kedatangannya ke Sulawesi bersamaan dengan Naziruddin Rahmat dan menjabat sebagai pegawai Jabatan Penerangan agama Provinsi Sulawesi di bawah pimpinan Naziruddin Rahmat. Selama perjalanan karirnya di Sulawesi, beliau aktif dalam PSII dan membuatnya terpilih menjadi ketua DPR Kota Makassar pada tahun 1952. Dalam sumber (Sidang DPR Kota Besar Golongan Minoriteit Bentuk fraksi Kerakjatan”, Pedoman Rakyat, Rabu 14 Januari 1954, hal. 1.) Tahun 1954 tercatat bahwa beliau mulai aktif dalam Yayasan Universitas Muslim Indonesia dan merupakan salah satu tokoh yang menandatangani akte Yayasan Universitas Muslim Indonesia. Beliau juga merupakan pengurus Wakaf Yayasan Universitas Muslim Indonesia.

 
Muhammad Noor

mohnoorMuhammad Noor lahir di Bulukumba pada tanggal 14 April 1905. Beliau menamatkan pendidikannya di Sekolah Rakyat selama 6 tahun kemudian melanjutkannya di pesantren selama 3 tahun. Tahun 1919-1927 beliau bekerja di kantor Adatgemeenschap Gantarang. Kemudian tahun 1927-1930 bekerja di kantor Landrente Makassar sebagai Opnemer. Selain itu, beliau juga pernah menjadi guru pada standaardschool. Beliau adalah seorang mubaligh Islam dan aktivis organisasi Muhammadiyah di Sulawesi. Di masa pendudukan Jepang, organisasi ini dibekukan (1942-1944). Beliau beralih ke Kantor Dagang Mitsui Bussan Kaisha Tjabang Bulukumba dan dipercaya sebagai Kepala. Tahun 1946 pada bulan Februari, Muhammad Noor ditangkap dan dipenjarakan oleh NICA (Netherlands Indische Civil Administration) di Selayar, kemudian dipindahkan ke Makassar. Tahun 1948 beliau dibebaskan dan ikut dalam Pimpinan Partai Kedaulatan Rakyat (PKR) di Makassar. Setelah itu beliau mendirikan Partai Masyumi cabang Makassar pada tanggal 10 oktober 1949 dan menjabat sebagai ketua Umum Wilayah Masyumi Sulawesi. Tahun 1951 beliau bekerja di kantor Penerangan Agama Provinsi Sulawesi. Tahun 1952 terpilih menjadi anggota DPD dan tahun 1955 menjadi ketua DPR Kota Besar Makassar. Dalam Sumber (Kumpulan Klipping Koran, Tokoh-Tokoh Masjumi dalam Pemilihan Umum. Jakarta. Dewan Dakwah Islam Indonesia, hal. 38.)

Muhammad Noor juga merupakan pejuang pendirian Universitas Muslim Indonesia Kota Makassar.

 

Andi Patiwiri

patiwiriAndi Patiwiri berasal dari Sidenreng Rappang, lahir pada tahun 1915. Ayahnya bernama A. La Inding, ibunya bernama Hj. A. Mattingara. Andi Patiwiri seorang saudagar di Kota Makassar. Aktif dalam organisasi NU bersama-sama dengan K.H Muhammad Ramly. Beliau juga merupakan seorang ulama Islam di Kota Makassar. Andi Patiwiri salah satu dari lima orang yang menghadap ke notaris Pendirian Universitas Muslim Indonesia dan mewakafkan beberapa bahan bangunan pada kampus satu UMI yang hari ini letaknya berhadapan dengan TVRI, di Jalan Kakatua. (sumber: wawancara bersama cucu Andi Patiwiri yakni Andi Kumala Djabir SE)

 

La ode Manarfa
laodemanarfa La Ode Manarfa lahir di Kulisusu pada tanggal 22 Maret 1916. Beliau anak dari Sri Sultan Buton ke-38, yakni La Ode Muh. Falihi Qaimuddin, dan Ibunya Wa Ode Aziza. Jenjang pendidikan beliau berawal dari bersekolah di HIS Bau-bau Pada tahun 1924. Ayah La Ode Manarfa mengirim beliau ke HIS Kota Makassar dan di Makassarlah beliau tamatkan studinya. Sesudah itu beliau melanjutkan pendidikannya ke Sekolah MULO di Kota Makassar tahun 1936-1938. Lalu sekolah di Batavia Centrum tahun tahun 1938-1940. Setamatnya dari Batavia Centrum, beliau bersekolah di Den Haag Belanda pada tahun 1948. Terakhir, tahun 1953 beliau bersekolah di Vereeniging Fakultaten Universitas Leiden. Beliau pernah menjadi pegawai diperbantukan pada kementrian dalam negeri di Jakarta tahun 1955. Di Tahun 1957-1959 menjabat sebagai Bupati Sulawesi Tenggara di Bau-Bau dan anggota Konstituante Bandung, dan tahun 1960: Pendidikan Militer Angkatan Darat kodam Hasanuddin Makassar. Pada tahun 1962 menjabat Seskoad Angkatan III Bandung, lalu tahun 1959-1964 kantor Gubernur Sulawesi di Makassar, dan 1964-1967 kantor Gubernur Sulawesi Tenggara di Kendari. Pernah menjadi Ketua DPRD Kendari di tahun 1967-1971.  Sebelum wafat, di tahun 1988-2002 beliau memegang jabatan selaku Rector Universitas Dayanu di Bau-Bau. (sumber: La Ode Muhammad Sjamsul Qamar, “Drs. H. L a Ode Manarfa yang satya kenal”. Manuskrip, Juni 1992)

Masih banyak lagi tokoh-tokoh yang berperan penting di Kota Makassar, tetapi semuanya butuh penelitian yang lebih dalam lagi. Yang ingin saya sampaikan melalui tulisan ini bahwa pada tahun 1950-an untuk mendirikan suatu universitas itu atau sekolah di kota Makassar, persaudaraan antaretnis berperan sangat erat. Meskipun berbeda partai dan organisasi mereka bisa menyatukan ide dan gagasan bersama. Sayangnya, hari ini perbedaan justru menjadi masalah di kota kita. Padahal sangat jelas bahwa di Makassar lah beragam etnis itu dulunya bisa bersatu untuk mendirikan universitas serta sekolah-sekolah.

 

1656126_1462202057349759_8595336833510087351_nAnna Asriani de Sausa, atau Anna Young Hwa, lulusan Ilmu Sejarah UNHAS 2013 yang fanatik dengan Mie Awa ini   merupakan pribadi yang heboh dan menggelegar. Kesukaannya terhadap sejarah, khususnya Sulawesi Selatan, membawanya bertemu langsung dengan para Sejarawan dan Budayawan yang tersebar di Indonesia. Anna bercita-cita untuk membangkitkan lagi kesadaran anak-anak muda akan kearifan lokal dengan bergabung menjadi Volunteer di Lontara Project. Di setiap kesempatan, Anna selalu bersemangat mengunjungi tempat-tempat baru, dan paling utama adalah mencicipi makanan khasnya. Kunjungi FBnya di : Anna Asriani De Sausa.

 

Tanahku Yang Kulupakan

Malam itu posisi saya berada di tengah sebuah diskusi santai mengenai Sulawesi Selatan, dimana semua peserta dalam forum itu bercerita tentang apa saja kebudayaan dan fenomena sosial di daerah masing-masing, dilihat dari sudut pandang sejarah maupun pandangan kekinian kami.

Dimulai dari Tanah Luwu sebagai kerajaan pertama yang menerima masuknya pengaruh Islam di Sulawesi. Selanjutnya ke Tanah Gowa, mengorek andil pertahanan kerajaan Gowa terhadap serangan pasukan Belanda pada saat itu, ditandai oleh keperkasaan Sultan Hasanuddin yang sampai sekarang bisa kita lihat dan rasakan keabadiannya melalui penyebutan nama Sang Raja baik dari bandara hingga kampus sebuah universitas terbesar di kota Makassar.

(Foto Wawan 2014, Pembuat perahu Phinisi , Tanah Lemo)
(Foto Wawan 2014, Pembuat perahu Phinisi , Tanah Lemo)

Cerita sempat terhenti ketika teman yang lain berusaha mengetahui tentang bagaimana andil Tanah Bugis yakni Bulukumba dalam hal sejarah perahu phinisi. Saat itu saya merasakan malu yang teramat sangat. Berbicara mengenai hal tersebut, saya yang asli dari Bulukumba hanya sebatas mengetahui bahwa daerah ini memiliki julukan Butta Panrita Lopi alias negerinya para pengrajin perahu. Bahkan anehnya teman dari Luwu justru lebih banyak tahu tentang sejarah kebudayaan perahu phinisi. Kejadian itu kemudian membuat saya terinspirasi untuk mencari dan mengorek rahasia perahu ini lebih dalam. Di dalam hati saya berkata bodohnya diri ini karena telah banyak melupakan sejarah atas tanahku berpijak.

Setelah beberapa usaha saya lakukan untuk mencari tahu tentang perahu phinisi baik melalui bacaan serta banyak bertanya kepada orang, termasuk salah satunya ialah pada saat saya melakukan perjalanan ala backpackers dari Gowa ke Bulukumba. Dari situ saya banyak tahu mengenai sejarah dan berusaha untuk mengaitkan dan membandingkannya satu sama lain. Pada saat akhirnya saya berhenti di Butta Panrita Lopi, dengan bermodalkan kemampuan berkomunikasi dan lebih banyak mendengarkan petuah adat lokal, saya menyerap informasi tentang phinisi di tanahku ini.

(Foto Wawan 2014 , Batas Bulukumba)
(Foto Wawan 2014 , Batas Bulukumba)

Tanahku terletak sekitar 129 km dari kota Makassar,  butuh waktu 3-4 jam untuk sampai ke sana. Berdasarkan kisah yang saya ketahui dari sejarah, tanah ini konon merupakan tempat bersandarnya bongkahan perahu Sawerigading yang dahulu hendak kembali ke Luwu. Perahu Sawerigading terpecah menjadi tiga, dan tiap-tiap bongkahan terjatuh di daerah Ara, Tana Lemo, dan Bira (semuanya masuk ke dalam wilayah kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan). Akan tetapi fokus pembuatan perahu yang dipraktekkan oleh masyarakat lokal berada di Tana Lemo. Sekitar sebulan yang lalu saya menyisir daerah tersebut karena rasa ingin tahu yang sangat kuat. Setelah mengumpulkan beragam referensi akhirnya saya mendapatkan sebuah tempat yakni Monte yang menurut cerita rakyat merupakan desa tertua, dibuktikan dengan adanya peninggalan sejarah berupa bom dan meriam peninggalan Belanda. Artefak-artefak ini menjadi ikon kebersamaan mereka karena mereka yakin barang tersebut yang nantinya menjadi bukti sejarah. Selain peninggalan Belanda, juga banyak terdapat kuburan tua dengan menhir tinggi, serta bekas benteng pertahanan kerajaan kuno. Di sini juga banyak terdapat gua, bahkan ada gua yang menjadi sumber mata air (menurut cerita lokal gua tersebut terhubung dengan laut dan merupakan tempat berlindungnya warga kerajaan dulunya).

(Foto Abdul 2014 Rumah warga Monte dan meriam peninggalan sejarah)
(Foto Abdul 2014 Rumah warga Monte dan meriam peninggalan sejarah)

Para pembuat perahu dulunya terlahir di daerah ini, tetapi karena akses jalan yang sulit dan terkendala efisiensi waktu akhirnya banyak pandai-pandai tersebut hijrah dari Monte ke Tana Lemo, walau masih dalam lingkup kelurahan yang sama. Bibir Pantai yang terbentang asri dan keindahan hutan yang masih terjaga ini bisa dibuktikan dengan banyaknya hewan yang kadang melintas seperti kera atau monyet. Akan tetapi daerah ini masih kurang perhatian dari pemerintah setempat yakni dengan banyaknya sampah yang berserakan. Entah alasan apa tempat ini bukan menjadi fokus kelestarian pemerintah padahal potensi yang dimiliki di sini sangat besar. Ini bisa dilihat dari sudut pandang tiga dimensi: yakni cerita sejarah yang kuat dibuktikan oleh banyaknya peninggalan, keasrian alamnya yang masih kental, serta masyarakatnya yang masih memegang teguh kebersamaan dan kekompakan. Sungguh ini menjadi dilema bagi pemerintah setempat yang mempunyai otoritas untuk mengembangkan daerah tersebut. Tetapi apa daya semua tinggal kenangan, di kala semua orang sudah tidak acuh terhadap daerahnya sendiri.

(Foto Meriska 2014, Bibir Pantai Tanah Lemo Kampung Monte)
(Foto Meriska 2014, Bibir Pantai Tanah Lemo Kampung Monte)

Bagi saya, ketika  kita berada pada suatu zaman, saat itu pula kita sedang membuat sejarah. Segala sesuatu yang terjadi sekarang itu sejatinya merupakan setitik cerita untuk masa yang akan datang.  Semuanya adalah permainan waktu.

10344206_551960288250108_6711199767837856226_o Kurniawan alias Wawan, putra asli Bulukumba, Sulawesi Selatan. Pernah menikmati masa kecilnya di kabupaten Tana Toraja. Wawan yang saat ini kuliah Teknologi Informatika punya hobi fotografi. Bersama dengan Try Juandha ia mendirikan komunitas bernama Warani yang punya tujuan untuk mendokumentasikan keunikan kekayaan alam Indonesia. Yang ingin kenal lebih lanjut dengan Wawan, bisa kunjungi facebooknya di Chapoendu.

Sepupu Sawerigading dari Filipina

Agen kita, Louie Buana menemukan banyaknya bukti yang mengindikasikan kedekatan hubungan masa lalu antara Sulawesi dengan negara asal penyanyi pop Christian Bautista ini. Filipina ternyata menyimpan sejarah persahabatan dengan Indonesia yang terentang sejak zaman La Galigo (pra-14 Masehi) hingga ke era Kesultanan Makassar.

Selama ini, ketika berbincang mengenai negara jiran acapkali pikiran kita langsung tertuju kepada Malaysia, Singapura maupun Brunei Darussalam saja. Negara-negara tetangga tersebut, karena adanya keterikatan ekonomi yang cukup kuat, juga karena sejarah masa lalu yang saling kait-mengait dengan Indonesia membuat kita merasa akrab dan hangat dengan mereka. Prof Emeritus Dato` Dr Moh Yusoff bin Haji Hasyim, President Kolej Teknologi Islam Antarbangsa Melaka pernah berkata bahwa dari segi silsilah, kesembilan sultan yang memerintah di Malaysia berasal dari komunitas Melayu-Bugis, Melayu-Johor dan Melayu-Minangkabau. Kata “Melayu” bahkan telah sejak lama disebut-sebut dalam naskah La Galigo yang merupakan karya sastra sekaligus ensiklopedia masa lalu manusia Bugis sebelum kedatangan agama Islam di abad XVII. Di dalam salah satu episode La Galigo yang berjudul Mula Jajareng We Cimpau Nariabbeyang I La Galigo ri We Cudai, terdapat istilah Dangkang Malaju dan Dangkang Patani yang berarti pedagang dari negeri Minangkabau atau Melayu yang membawa bermacam-macam jenis barang.

Namun, tahukah Sobat Lontara bahwa ternyata Filipina yang jarang sekali terlintas di benak kita sebagai negara tetangga di masa lalu memiliki peran yang signifikan, bahkan menjadi bagian dari sejarah tanah air? Sebenarnya sudah sejak era kerajaan Sriwijaya dan Mataram Kuno terbina hubungan langsung antara Indonesia dan Filipina. Tidak hanya dengan Sumatera dan Jawa, salah satu hubungan antara Filipina dan Indonesia yang paling intens juga terungkap di Pulau Sulawesi. Sulawesi Utara yang letaknya tepat berada di selatan Mindanao dan di sebelah rantai Kepulauan Sulu jelas sudah tidak asing lagi dalam interaksinya dengan negeri jiran yang satu itu. Pada kesempatan kali ini, penulis akan memaparkan keterkaitan antara jazirah Sulawesi bahagian selatan dengan Filipina.

Tausug, Taugiq dan Orang Bajo
Di “Provinsi” Wilayah Otonomi Muslim Mindanao, tepatnya di Sulu terdapat sebuah daerah yang bernama Luuk. Nama ini sekilas mengingatkan kita akan Luwu yang berada di Sulawesi Selatan, sebuah kerajaan kuno yang menjadi sentra kisah La Galigo. Tidak hanya itu, penduduk lokal Sulu bahkan menyebut diri mereka dengan nama Tausug alias orang-orang Sug. Nah, sekali lagi, hal ini mengingatkan kita dengan Suku Bugis di Sulawesi Selatan. Orang-orang Bugis menyebut diri mereka sendiri sebagai Tau Ugiq atau Taugiq, julukan yang konon diambil dari nama La Sattumpugiq, Datu ri Cina ayah mertua Sawerigading (tokoh utama dalam epos La Galigo). Selain nama yang mirip, baik orang-orang Tausug maupun Taugiq sama-sama memiliki reputasi sebagai penjelajah samudera dan bajak laut yang disegani di Nusantara.

Alkisah, orang-orang Tausug ini telah menjalankan perdagangan mutiara hingga ke Jambi dan Laut Cina Selatan sejak zaman dulu kala. Menurut beberapa catatan, orang-orang Bajau Laut juga telah hadir di Pulau Taguima (Pulau Basilan) dan bekerjasama dengan Orang Taguimaha sebagai penyelam mutiara. Orang-orang Bajo terkenal memiliki hubungan yang amat dekat dengan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan, sebagaimana tercantum dalam naskah La Galigo dan lontaraq (kronik sejarah) kerajaan Gowa. Bahkan konon salah satu Karaeng Gowa dikabarkan pernah menikah dengan seorang gadis Bajo sehingga di garis keturunan raja-raja Makassar pun juga terdapat darah Bajo. Menurut almarhum Prof. Mattulada, masyarakat di Sulu banyak pula yang bergelar Opu (gelar kebangsawanan Bugis yang berasal dari Luwu) dan mengakui nenek moyangnya berasal dari Sung. Sung ini diperkirakan ialah Ussuq, tempat kerajaan pertama Bugis dinasti Sawerigading. Salah satu di antara tokoh Filipina dengan gelar ini adalah Opu Mastura, seorang pejabat setingkat Menteri yang menjabat di era 1980-an.

Pusaka Gowa Asal Filipina
Perdagangan mutiara menyebabkan orang-orang Tausug melebarkan sayap mereka untuk menaklukkan Pulau Panay, Manila dan Luzon, Cebu (kata asalnya Sug Bu), Butuan, Kalamianes, Visaya (naungan Sriwijaya) hingga Mindanao. Pada tahun 1368 Tausug pernah menyerang Raja Brunei yang bernama Awang Alak Betatar karena telah mencuri dua biji mutiara Sulu. Tumbuhnya Sulu sebagai sebuah kekuatan politik kemudian mengundang pula perhatian dari orang-orang Bugis untuk berlayar ke sana.

Orang-orang Bugis ini disebut kaum Baklaya dalam Bahasa Tausug. Hubungan baik terbina di antara kedua bangsa, salah satu buktinya ialah melalui perkawinan antara Sultan Badaruddin I dari Sulu dengan seorang wanita Bugis asal Soppeng. Konon, pakaian perang atau baju zirah milik Raja Bugis asal Wajo, Sulawesi Selatan yaitu La Salewangeng To Tenriruwa (1715–1736) tersimpan di Filipina. Baju perang kuno ini dapat teman-teman lihat di National Museum Of The Philippines, Rizal Park Avenue Manila, Filipina. Alkisah, setelah membantu Sultan Kudarat melawan invasi penjajah Spanyol tahun 1728, La Salewangeng To Tenriruwa kemudian menikah dengan seorang putri bernama Dayang Maharleka Sari dan kemudian menetap di Cagayan De Oro, di sebuah istana yang sekarang telah menjadi Balai Polisi Republik Filipina. source

Kebangkitan Makassar sebagai sebuah kerajaan maritim yang kekuasaanya meliputi sebagian besar kawasan Indonesia Timur pada abad ke-17 bersamaan pula dengan berseminya kekuatan Kesultanan Sulu. Di kala itu, Kesultanan Sulu dan Makassar memiliki reputasi sebagai pusat perdagangan budak terbesar di Nusantara hingga tahun 1800. Hubungan dekat antara kedua kerajaan ini ditandai oleh kehadiran sebuah benda pusaka yang perannya amat vital bagi status raja yang akan dilantik. Kerajaan Gowa (yang disebut dengan Makassar sejatinya adalah kombinasi antara dua kerajaan kembar yaitu Gowa dan Tallo) memiliki kalompoang (regalia) yang salah satunya berupa sebuah kalung emas bernama Kolara atau Rante Manila. Menurut situs web resmi Warisan Budaya Indonesia, Rante Manila adalah kalung pemberian dari kerajaan Sulu pada abad ke XVI di masa pemerintahan Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manguntung Tumappa’risi Kalonna, sekitar tahun 1510-1546.

Rante Manila, Pusaka Kerajaan Gowa. Sumber: http://sejarah.kompasiana.com/2012/06/11/setelah-sriwijaya-dan-majapahit-ada-kerajaan-gowa-469993.html
Rante Manila, Pusaka Kerajaan Gowa saat akan dimandikan di upacara Accera Kalompoang. Sumber: http://sejarah.kompasiana.com/2012/06/11/setelah-sriwijaya-dan-majapahit-ada-kerajaan-gowa-469993.html

Benda dengan berat 270 gram ini merupakan benda pusaka kerajaan Gowa yang terpelihara dengan baik dan senantiasa dijunjung tinggi sebagai perlambang kejayaan kerajaan Gowa di masa lampau. Benda ini juga selalu diikut sertakan dalam upacara membersihkan regalia yang biasa disebut dengan nama accera kalompoang. Bentuk Kolara telah menjadi inspirasi para pengrajin tradisional Makassar untuk meniru bentuk dan fungsi benda tersebut, sebagai perhiasaan yang digunakan pengantin tradisional Makassar. Kehadiran Kolara sebagai salah satu kalompoang kerajaan Gowa sebenarnya menurut penulis pribadi tergolong unik. Perhiasan ini dihormati sedemikian rupa, seperti halnya penghormatan terhadap Mahkota Salokoa yang konon diturunkan dari langit oleh Dewi Tumanurunga ri Tamalate dan Pedang Sudanga milik Karaeng Bayo yang konon berasal dari dasar samudera.
Profesor Mattulada pernah menulis artikel menarik terkait fenomena kalompoang Gowa yang berasal dari Filipina ini untuk kepentingan acara Second Workshop on Malay Sultanates and Malay Culture di Makassar pada tahun 1978. Artikel tersebut berjudul The Significance of Kalompoang in The Existence of The Bugis-Makassar Sultanates. Pada salah satu bagian artikel tersebut beliau menulis bahwa ada beberapa macam tipe dan fungsi kalompoang, salah satunya:

The kalompoang was considered as symbol of strength, unity and friendship. They are flags, creese, sword, spear, shield and other war equipments; ornaments like ring, bracelets, necklace etc; and clothes like dress, songkok, sarong and so on.
This kalompoang shows the friendship between one country and the others.
In Gowa, the kalompoang collection shows the relation of friendship between the kingdom of Gowa and foreign countries, for example The Philippines with its rante manilaya (manila-chain), the British kingdom with its written golden plate, and different kingdoms in Indonesia like the Javanese and some others.

 

Filipina dalam La Galigo
Kurang afdhol rasanya jika kita tidak membongkar keterkaitan antara Filipina dan Indonesia dalam La Galigo. Lho, memangnya ada? Yup, sekurang-kurangnya ada dua nama tempat berlokasi di Filipina yang digambarkan memiliki hubungan dengan Sawerigading, Sang Putra Mahkota dari Kerajaan Luwu.

Dalam penjelajahan Sawerigading berlayar menuju ke negeri Cina untuk melamar Putri We Cudai, ia harus berhadapan dengan tujuh perompak ganas yang berasal dari Mancapaiq (Majapahit), Wulio (Buton), Jawa ri Aja (Jawa bahagian barat), Jawa ri Lauq (Jawa bahagian timur), Malaka, dan Apung. Setelah itu, ia melanjutkan pelayaran hingga kemudian bertemu dengan Tejjoq Risompa, pamannya yang menjadi penguasa negeri teluk besar Wewang Nriwuq di Selat Makassar. Menyusuri Selat Makassar, perahu Sawerigading terus naik mencari arah menuju Cina hingga kemudian bertemu dengan To Palinrungi I La Pewajo, Datuna Pao (penguasa negeri bernama Pao). I La Pewajo yang terhitung masih sepupu dua kali Sawerigading ini menyambutnya dengan ramah di tengah laut dan menunjukkannya arah ke negeri Cina.

Pada episode Pelayaran Sawerigading ke Negeri Maloku, diceritakan pula tentang sebuah negeri bernama Matasoloq yang dilewati Sawerigading dalam rangka menuju Maluku. Sawerigading tidak singgah di sana, namun ia melihat di bandar Matasoloq saat itu ramai oleh pedagang yang datang dari Patani dan Dammaq (Demak?). Di episode yang sama letak Matasoloq, Mallatunrung, Marasangi dan Maloku digambarkan saling berdekatan. Almarhum Fachruddin Ambo Enre di dalam disertasinya yang terkenal yaitu pembahasan naskah La Galigo episode Ritumpanna Welenrengnge meyakini bahwa Matasoloq (kadang-kadang juga sering ditulis ‘Soloq’ saja) yang dimaksud di sini ialah Sulu sedangkan Pao adalah Davao di Filipina Selatan. Adapun yang disebut Mallatunrung ialah Sulawesi Utara dan Marasangi ialah Sangir.

Filipina, ternyata tidak seasing yang kita kira. Tidak hanya mereka dahulu telah menjalin persahabatan yang diagungkan oleh pendahulu-pendahulu bangsa, namun bahkan diakui pula sebagai bahagian dari sebuah keluarga besar rumpun Nusantara. Indonesia dan Filipina yang sama-sama berupa negara kepulauan menyimpan banyak kemiripan yang menakjubkan, baik dari segi bahasa maupun keanekaragaman budaya. Sawerigading telah menegaskan makna kekeluargaan yang dimiliki oleh kedua bangsa dan bahkan dengan penuh kehangatan memanggil I La Pewajo dari Davao dengan seruan “kaka”, yang dituakan, sejak ratusan tahun yang lalu.

Taro aq ri tu ri nawa-nawa kaka Pewajo/ kupaccokong ri paricitta/ sompa makkeda I La Pewajo/ keruq jiwamu To Marajae/ cabbeng sumangeq to ri Langiqmu/ na i o kenneng ri tu maeloq/ le ri patudang ri nawa-nawa/ nasekkoqe pajung mpulaweng/ nalaleng iaq ga le temmaeloq/ le patudakko ri nawa-nawa
Berkata Sawerigading: “Simpanlah aku di hatimu kakak Pewajo/ biar mekar hati sanubariku”/ menyembah sembari berkata I La Pewajo/ “Kur semangat jiwamu wahai orang besar/ kemarilah semangat langitmu/ engkau sendiri yang menginginkan/ kusimpan dalam hati/ yang dinaungi payung emas/ apakah pantas jika saya tak mau/ menyimpanmu di dalam hatiku?”

 

Sumber:
All About Money: Maritime Trade in Makassar and West Java, Around 1775, Gerrit Knaap, http://end-of-empires-south-east-asia.wikispaces.com/file/view/All+about+Money-+Maritime+Trade+in+Makassar+and+West+Java,+around+1775.pdf 
Ayam Jantan Tana Daeng, Nasaruddin Daeng Koro, Ajuara: 2005
Cinta, Laut dan Kekuasaan dalam Epos La Galigo, Nurhayati Rahman, La Galigo Press: 2006
Kesultanan Sulu, http://www.tausug-global.blogspot.com/
Raja-Raja di Malaysia Berdarah Bugis, Antara News, http://www.antaranews.com/berita/67980/raja-raja-di-malaysia-berdarah-bugis
Ritumpanna Welenrengnge, Fachruddin Ambo Enre, Yayasan Obor Indonesia: 1999

Anak Kampung Makassar Era Hindia Belanda

Salah satu kontributor tulisan di web Lontara Project berandai-andai bagaimana rasanya jika ia hidup di daerah perkampungan tepi Makassar era Hindia Belanda. Mahasiswa sejarah ini berusaha menangkap atmosfer kehidupan di kala itu melalui cerita singkatnya. Mari simak tuturan kisah-kisah nostalgia yang mengalir dari imajinasi Arianto ini!

Aku bingung harus mulai dari mana untuk menceritakan kisah kehidupanku yang sudah berlalu puluhan tahun silam. Kepalaku sudah sulit untuk mengingat kembali beberapa kejadian penting di Kota Makassar, karena faktor usia yang semakin bertambah tua. Hanya sebagian kecil yang aku mampu ceritakan tentang kisah kehidupanku, sebagai warga perkampungan yang hidup di masa Pemerintahan Hindia-Belanda. Aku tidak tahu dengan jelas sejak kapan bangsa kulit putih mulai berdatangan dan tinggal di Kota Makassar. Kami, anak penduduk perkampungan tidak tahu apa itu “kota”, yang kami tahu hanyalah tempat tinggal kami. Orang-orang tua menyebut tempat dimana kami tinggal dengan nama “kampong”.

Jalanan Kota Makassar zaman Hindia Belanda
Jalanan Kota Makassar zaman Hindia Belanda. Sumber: Koleksi KITLV

Kerap kali ku bertanya kepada orang-orang tua kami, apa itu kota? Orang tua kami sulit untuk menjelaskan seperti apa itu kota, bahkan mereka baru pertama kali mendengar yang namanya “kota”. Orang tua kami mulai mengenal nama “kota” sejak kedatangan orang-orang kulit putih dan pada saat itu orang-orang asing ini mulai menyebut Makassar sebagai Kota Makassar. Nama ini sungguh sangat asing bagi kami yang tinggal di perkampungan. Pengetahuan kami terhadap dunia luar sangat terbatas bahkan bisa dibilang sama sekali tidak ada, karena orang tua kami selalu mendidik untuk selalu menghormati adat-istiadat kami sebagai orang-orang Makassar.

Selain harus menjaga adat-istiadat Makassar, orang tua kami juga sering melarang kami bergaul dengan bangsa kulit putih. Entah apa alasan orang tua kami melarang hal tersebut. Pada malam hari, para penduduk kampung memilih untuk tinggal di rumah masing-masing. Kami berdiam diri di dalam rumah yang sederhana ini, menikmati angin malam yang menembus dinding rumah kami yang terbuat dari anyaman bambu. Banyak pula rumah-rumah peduduk yang terletak di antara pepohonan, dipagari oleh bambu yang mengelilingi rumah mereka.

Melewati malam yang panjang, di dalam rumah penduduk kampung hanya ada pelita minyak yang menjadi alat penerangan. Jauh di sebelah selatan perkampungan penduduk, sorotan cahaya terlihat di antara rumpun-rumpun bambu. Kami menikmati kerlap-kerlip sorotan cahaya lampu itu di sela-sela dinding rumah. Cahaya lampu tersebut berasal dari sekitar benteng di antara rumah-rumah penduduk  Eropa. Sebelum kami tertidur para orang tua kami biasanya akan bercerita tentang orang-orang kulit putih yang tinggal di sekitar benteng. Mereka adalah orang-orang yang kejam. Mereka berperang melawan orang-orang Makassar dan kemudian merebut istana-istana penguasa kerajaan bapak-bapak kami.

Sungai Tello, Makassar
Sungai Tello, Makassar. Sumber: Koleksi KITLV

Kisah-kisah peperangan antara orang-orang Makassar dengan bangsa kulit putih sering kali diperdengarkan di perkampungan melalui alunan musik tradisional orang-orang Makassar yang disebut sinrilik. Ketika alunan musik ini memecah kebisuan malam, orang-orang tua mulai duduk melingkar menikmati untaian nadanya, tenggelam dalam pengisahan akan peperangan beberapa abad yang lalu. Tidak sedikit dari orang-orang tua yang larut dalam pengisahan ini, seakan-akan mereka hadir di masa lalu itu, di tengah-tengah medan peperangan. Raut muka mereka menunjukkan kesedihan dan dendam lama mulai terbakar di dada mereka. Seolah-olah kabut peperangan mulai menyelimuti perkampungan kami dan mungkin inilah alasan orang tua kami melarang bergaul dengan orang-orang kulit waktu itu.

Roda waktu terus berjalan dari tahun ke tahun, wajah Makassar meninggalkan masa lalunya dari masa kerajaan ke masa modern. Bangsa  Eropa kini mulai membangun berbagai gedung yang mengagumkan bagi kami penduduk kampung. Jalan-jalan yang berada di sekitar benteng Rotterdam mulai diperbaiki, deretan bangunan rumah-rumah orang-orang Eropa berderet-deret rapi berwarna putih di antara pepohonan. Susunan rumah mereka sangat rapi berjejer dari arah barat Kota Makassar sampai ke sebelah timur kota. Tempat orang-orang Eropa ini dikenal dengan Kampung Belanda.

Kehidupan kami dengan orang-orang ini sangat jauh berbeda, mereka dapat mengubah segalanya dan menciptakan peradaban baru di Makassar. Meskipun leluhur kami mengutuk orang-orang asing ini atas kekejaman peperangan pada waktu itu, akan tetapi kami sebagai generasi yang terlahir di zaman ini penuh kekaguman atas apa yang mereka ciptakan. Dari kejauhan kami terus memandangi bangunan-bangunan yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada pohon-pohan yang tumbuh di sekitar perkampungan penduduk. Pertanyaan-pertanyaan sering muncul di kepala kami, salah satunya: bagaimana cara orang-orang ini dapat membangun gedung-gedung setinggi itu?

Gedung Pengadilan Belanda di Kota Makassar
Gedung Pengadilan Belanda di Kota Makassar. Sumber: Koleksi KITLV

Di perkampungan kami tidak  ada satupun di antara orang-orang tua yang mampu melakukan hal tersebut. Kehidupan penduduk kampung hanya berputar di situ-situ saja. Gubuk-gubuk yang reyot di antara pohon-pohon kelapa dipagari bambu. Jalan-jalan yang menghubungkan dengan rumah penduduk lainnya bertebaran debu, terkadang berlumpur di saat musim hujan. Kami sebagai warga kampung tidak menyadari akan pentingnya kebersihan, anak-anak kecil tanpa busana dibiarkan bermain-main ke sana-sini di sekitar halaman rumah.

Di akhir abad ke-19 Kota Makassar berkembang dengan pesat dan sudah dilengkapi berbagai fasiltas kota. Alat transportasi seperti mobil mulai didatangkan dari Eropa sana. Kapal-kapal dagang terus berdatangan dari segala penjuru di pelabuhan Juliana Cade dan Wilhelmina Cade (sekarang Pelabuhan Soekarno-Hatta). Di sepanjang garis pantai berdiri deretan kios-kios saudagar Arab. Perkembangan Kota Makassar yang pesat menembus sekat kehidupan di perkampungan, warga kampung pun mulai bergaul dengan orang-orang Eropa. Sekolah-sekolah untuk penduduk kampung didirikan, yang dikenal dengan nama “Sekolah Rakyat”, anak-anak kecil pun mulai diajar bahasa Indo. Pengetahuan kami mulai terbuka dan bahkan sebagian dari penduduk kampung mulai mengenal budaya orang-orang Eropa. Tidak segan-segan sebagian orang-orang mulai mengikuti cara berpakain orang-orang Eropa tersebut.

Anak kecil pribumi di upacara penyambutan Gubernur Jenderal de Graeff
Anak kecil pribumi di upacara penyambutan Gubernur Jenderal de Graeff. Sumber: Koleksi KITLV

Cerita kehidupan kami sebagai warga kampung adalah kesan bagiku, yang pernah hidup di fajar kemunculan peradaban Eropa yang mutakhir. Seingatku, Kota Makassar di masa Pemerintah Hindia-Belanda adalah kota terindah yang pernah berdiri kokoh di kawasan timur Nusantara. Fantasi Kota Makassar di masa lalu tidak kalah canggih dengan wajah Kota Makassar pada hari ini. Orang-orang Eropa dari berbagai belahan dunia kagum atas pernak-pernik Kota Makassar yang dilengkapi berbagai fasiltas yang didatangkan langsung dari Negeri Belanda. Mereka bahkan  memberikan julukan kepada Kota Makassar sebagai Kota Paris yang berdiri dikawasan timur Hindia-Belanda. Lalu, anakku, bagaimana dengan Kota Makassar-mu pada hari ini?

arianto Arianto, alumni program studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Makassar angkatan 2014. Punya kegemaran membaca. Bisa dijumpai lewat akun facebooknya Antho Imagined.

Datu Museng, Riwayatmu Kini…

Banyak hal menarik yang bisa dituliskan tentang Kota Makassar, dengan melihat dan mengamati hal yang kecil dan sederhana atau yang mungkin sebagian orang belum mengetahuinya. Kali ini saya akan membahas tentang Datu Museng dulu dan Datu Museng sekarang. Ada yang melekat dan tak bisa terpisahkan dari sosok ini. Nama Datu Museng terkenal melalui kesenian tradisional sinrilik. Sinrilik yang merupakan musik tradisional Sulawesi Selatan ialah sebuah tradisi lisan Makassar yang cukup digemari. Sinrilik adalah genre narasi populer orang Makassar yang biasanya berirama dengan satu tekanan bunyi untuk lima atau enam suku kata, yang di antarai dengan satu tekanan bunyi untuk delapan suku kata. Tema Sinrilik biasanya merujuk pada kejadian-kejadian yang berlangsung dimasa “Kompeni”, nama populer VOC. (Thomas Gibson “Narasi Islam Dan Otoritas Di Asia Tenggara”).

 
Merunut pada kisah-kisah yang disajikan dalam sinrilik, Datu Museng dikenal dimasa mudanya dengan nama Baso Mallarangang. Datu Museng adalah pelayan setia Datu Taliwang Sultan Sumbawa yang menjabat pada tahun 1761-1766. Datu Museng ialah seorang pribadi yang taat pada agamanya, pemurah dalam berderma kepada orang miskin, mengasihi orang malang serta berpaling dari larangan dan menghindari keburukan. (Thomas Gibson “Narasi Islam Dan Otoritas Di Asia Tenggara”). Sinrilik Datu Museng ketika pertama kali mendapat perhatian orang Eropa pada tahun 1850-an. Ketika itu para misionaris Belanda mencatat dua versi berbeda sinrilik ini. Matthes mengumpulkan sejumlah besar naskah lokal yang tertulis dalam aksara lontara. Ia juga menyewa penulis lokal untuk mencatat beragam sastra lisan, khususnya sajak-sajak pendek, kelong, dan epik-epiknya. Sajak-sajak, kelong dan epik-epik tersebut memberikan gambaran atas tradisi di Sulawesi Selatan.

 
Muncul pertanyaan: mengapa Matthes tertarik untuk mencatat sinrilik Datu Museng? Matthes tiba di Makassar pada tanggal 20 Desember 1848. Ia adalah Sekertaris Lembaga Alkitab Belanda. Pada bulan Oktober 1847 oleh Lembaga Alkitab Belanda ia bersedia diutus ke Sulawesi Selatan untuk mempelajari dan mendalami bahasa-bahasa Sulawesi Selatan dan kemudian menyalin alkitab ke dalam bahasa-bahasa Sulawesi Selatan. (Hidup dan Kehidupan B.F. MATTHES Di Sulawesi Selatan oleh: Van Ben Bri). Berawal dari ditugaskannya Matthes, Gubernur Van Clootwijk kemudian memerintahkannya untuk melakukan penyusunan kompilasi risalah hukum setempat agar dapat  digunakan oleh para pengawai VOC yang bertugas di daerah-daerah jauh. Saking cintanya ia terhadap Sulawesi Selatan. sampai-sampai Mathes pun balik ke Sulawesi Selatan serta ingin menjabat sebagai Direktur Sekolah Pendidikan Guru di Makassar.

 
Suatu hari di bulan Agustus 2014 saya bertemu dengan teman seperjuangan ketika kuliah di Ilmus Sejarah Unhas, namanya Arianto. Ada banyak hal yang kami diskusikan, salah satunya tentang beberapa tokoh-tokoh di Sulawesi Selatan dan Datu Museng. Dalam diskusi tersebut Arianto mengatakan bahwa “Dalam perdebatan masalah historiografi Indonesia, sebagian besar sejarawan lebih cenderung melihat sebuah peristiwa sejarah dengan konsep “Indonesisentris”. Pandangan ini lebih menenkankan kepada bahwa sejarah Indonesia seakan-akan adalah produk murni, dimana orang-orang Indonesia adalah pencipta sejarahnya sendiri. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa sejarah Indonesia tidak lahir dengan sendirinya tetapi banyak pengaruh dari luar yang mendorong munculnya kesadaran nasionalisme. Yang lebih fatal lagi, tulisan-tulisan sejarah yang selalu disodorkan hari ini banyak yang hanya membahas peristiwa-peristiwa besar.  Para sejarawan lebih cenderung mengangkat realitas sejarah bukan hasil dari sebuah  perdebatan akademisi. Tetapi mereka lebih meluangkan waktunya menulis sejarah hanya semata-mata hasil dari sebuah proyek. Pada akhirnya produk-produk sejarah sama-sekali tidak menghasilkan sebuah kesadaran sangat penting, malah yang tercipta hanya karya sejarah yang sifatnya dapat dijadikan sebagai legitimasi untuk mengguatkan para penguasa.”

 
Ada kesedihan tersendiri bagi penulis ketika melihat dan membaca beberapa buku baik itu sejarah kota Makassar dan tokoh atau pejuang Sulawesi Selatan. Contoh misalnya buku Profil Raja dan Pejuang Sulawesi Selatan yang diterbitkan di tahun 2004, tak sedikitpun terdapat nama Datu Museng dalam tulisan tersebut. Terkadang banyak penulis atau sejarawan baru menulis jika terdapat sebuah proyek dari pemerintah sehingga seringkali mengakibatkan terjadinya pembodohan publik. Pada tanggal 14 Agustus 2014 saya bertanya ke salah satu daeng becak yang tengah berkumpul di depan kantor kelurahan tempat dimana Datu Museng dimakamkan. Pak dimana Makam Datu Museng? Tanya saya. Salah seorang tukang becak itu kemudian menjelaskan ada lorong kecil sebelah kanan di situ ada kuburan, itulah kuburan Datu Museng. Dari tempat saya bertanya, tidak jauh berjalan kaki saya langsung mendapatkan makam tersebut.

Makam Datu Museng dari Kejauhan
Makam Datu Museng dari Kejauhan

Dari arah utara jalan Somba Opu di Kota Makassar sekitar 20 meter terdapat Jalan Mochtar Lubis. Tak jauh dari jalan tersebut sekitar 5 meter, terdapat Makam Datu Museng yang terletak di jalan Datu Museng. Ketika kita bepergian ke jalan Datu Museng yang terlintas dalam pikiran adalah pusat kuliner kota Makassar atau Sop Ubi Datu Museng, atau Mie Titi Datu Museng dan lainnya. Padahal Makam Datu Museng sendiri terdapat di lingkungan jalan tersebut. Berdekatan dengan gerbang selamat datang di Pusat Kuliner Kota Makassar tak jauh dari sana, di antara warung asongan dan warung nasi kuning Losari nampak sebuah kamar kecil dengan tembok berwarna oranye yang sudah pudar, dipagari dengan pagar besi berwarna hijau, serta sebuah genteng yang berwarna hijau. Terdapat papan nama kecil pas di depan pintu yang betuliskan “Makam Datu Museng” dengan warna emas berdasar papan berwarna merah. Kondisi makam Datu Museng sangatlah menyedihkan. Ketika saya berkunjung, debu yang menempel di lantai dan dinding makam sangatlah tebal, selain itu sampah berserakan di depan pagar makam Datu Museng. Terdapat beberapa kantong plastik hitam dan sampah-sampah lainnya. Lebih parahnya lagi limbah dari rumah makan yang berdekatan dengan Makan Datu Museng mengalir di beberapa bagian pagar tersebut.

Kayu nisan dan Kondisi Makam Datu Museng dari dalam
Kayu nisan dan Kondisi Makam Datu Museng dari dalam

Ketika Masuk ke dalam Makam Datu Museng saya melihat sebuah tempat dupa dan terdapat sebuah kotak amal yang berwarna hijau. Di atas Makam Datu Museng juga terdapat kelambu yang berwarna putih dan besinya berwarna hijau dengan empat tiang berdiri tegak di setiap sudut makam Datu Museng. Terdapat pula karpet plastik yang berwarna hijau. Bau khas dedaunan pandan amat menusuk hidung. Melihat kondisinya yang seperti ini, tak bisa penulis membedakan yang mana batu nisan Datu Museng dan kekasihnya, Maipa anak dari kesultanan Sumbawa. Batu Nisan Datu Museng dan Maipa hanya ditandai dengaan kayu berwarna hitam dan tak adapun tanda nama yang tertulis dalam kayu tersebut.

Nisan Datu Museng
Nisan Datu Museng

Bahwasanya di Jalan Datu Museng tersebut terdapat makam tak terawat Datu Museng, tokoh yang menginspirasi bagi para seniman dan tetua-tetua Suku Makassar lewat alunan sinrilik sungguh amat mengiris hati. Padahal kota Makassar bisa mengangkat kisah percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati sebagai identitas kota yang menonjolkan kebudayaan lokal, jika benar-benar jargon “Makassar Kota Dunia” ingin diwujudkan. Kisah cinta keduanya yang abadi bisa mendatangkan wisatawan baik dalam negeri maupun luar negeri untuk mengunjungi ke Kota Makassar. Seharusnya pemerintah Kota Makassar (dan tentunya juga masyarakat sekitar) lebih mnemperhatikan situs peninggalan sejarah termasuk makam-makam yang lainnya. Kalau bukan kita, lantas siapa lagi yang harus peduli terhadap kota ini?

 

1656126_1462202057349759_8595336833510087351_n Anna Asriani de Sausa, atau Anna Young Hwa, lulusan Ilmu Sejarah UNHAS 2013 yang fanatik dengan Mie Awa ini   merupakan pribadi yang heboh dan menggelegar. Kesukaannya terhadap sejarah, khususnya Sulawesi Selatan, membawanya bertemu langsung dengan para Sejarawan dan Budayawan yang tersebar di Indonesia. Anna bercita-cita untuk membangkitkan lagi kesadaran anak-anak muda akan kearifan lokal dengan bergabung menjadi Volunteer di Lontara Project. Di setiap kesempatan, Anna selalu bersemangat mengunjungi tempat-tempat baru, dan paling utama adalah mencicipi makanan khasnya. Kunjungi FBnya di : Anna Asriani De Sausa.

Ssst… Hanya Ada Boontjes di Belanda!

Rekan kita Louie Buana yang sedang belajar di negeri Belanda punya cerita seru tentang sejenis kacang-kacangan yang merubah dunia. Penasaran? Yuk simak kisahnya!

Selama beberapa bulan pertama di Leiden, saya dan teman-teman penerima beasiswa Encompass dari Leiden University diwajibkan untuk mengikuti kelas Bahasa Belanda. Setiap hari (kecuali hari rabu dan weekend) kami berkuliah di gedung Lipsius Faculty of Humanities yang letaknya tepat berada di sebelah KITLV dan di seberang Leiden University Library yang menyimpan NBG 188. Saya pribadi merasa senang sekali rasanya bisa berada sedekat ini dengan naskah La Galigo terpanjang di dunia! Pun kami tak kalah senang karena diajar oleh Renate Overbeek, seorang docent yang pintar dan amat baik hati.

Belajar Bahasa Belanda ternyata susah-susah gampang. Susah karena background Bahasa Inggris yang kami miliki acap kali menjadi tantangan tersendiri. Kami terus-terusan menggunakan mindset Bahasa Inggris ketika belajar Bahasa Belanda, padahal bahasa yang disebut kedua ini punya aturan struktur kalimat dan gramatika yang berbeda dengan yang disebut pertama. Teman-teman kami yang berasal dari Anak Benua India bahkan lebih kewalahan lagi. Alam bawah sadar mereka yang terbiasa mengenal huruf ‘e’ dengan bunyi ‘i’ membuat mereka berulang kali melafalkan ‘nee‘ (Bahasa Belanda untuk kata ‘tidak’) sebagai ‘ni’.

Nah, Bahasa Belanda tergolong gampang karena banyaknya kemiripan kosakata yang diserap atau dibaginya dengan Bahasa Indonesia. Hubungan selama 350 tahun yang tak selamanya membahagiakan di antara kedua bangsa ini menciptakan jaringan bahasa yang cukup luas. Hal tersebut muncul sebagai jawaban untuk saling melengkapi kebutuhan zaman akan nama-nama benda atau sifat yang tak dimiliki oleh masing-masing. Ambil contoh kata keramiek dan tegels. Lalu ada cursus, hallo, kantine, koffie, bezoek, foto, korting, donker, oom, tante, opa, oma, trakteer, idee dan glas yang diadopsi sedemikian rupa ke dalam bahasa kita. Orang-orang Belanda sendiri juga mengambil banyak kosakata dari Bahasa Indonesia. Kebanyakan di antaranya berhubungan dengan makanan yang tidak mereka miliki. Ambil contoh, ada kata: kroepoek, sambal, nasi, pisang, bami, tempeh dan sate.

Di antara sekian banyak kata-kata tersebut, ada satu yang menarik perhatian saya. Kata tersebut ialah: boontjes alias buncis. Apakah buncis berasal dari Bahasa Belanda boontjes, atau justri boontjes-lah yang berasal dari Bahasa Indonesia? Hmmm… Kali ini, sepertinya buncis memang berasal dari boontjes.  Lho, kok bisa?

Kacang buncis (Phaseolus vulgaris) aslinya berasal dari daerah sekitar Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan Amerika Tengah. Bersama jagung, buncis adalah tumbuhan yang tidak dikenal oleh umat manusia sebelum era eksplorasi Columbus ke Dunia Baru. Bangsa Eropa yang mengolonialisasi Benua Amerika lalu menyebarkan tanaman buncis ini ke berbagai penjuru bumi. Zaman dahulu kala, selain dijadikan sebagai bahan makanan, buncis juga digunakan sebagai media untuk meramal lho! Ilmu ramal dengan menggunakan buncis ini disebut dengan nama favomancy. Wah, keren ya buncis bisa dipakai untuk menentukan nasib seseorang! Tidak hanya itu, kacang buncis juga ternyata bertanggungjawab atas meningkatnya populasi umat manusia serta pemicu terjadinya Revolusi Industri!

Some researchers have suggested that the introduction of beans has driven dramatic population growths in many parts of the world. In fact, beans may have driven the industrial revolution as much as the increasing use of fossil fuels. As a cheap and abundant food resource, beans provided the impoverished workers with enough nutrients and energy to get through the long, grueling work days.

Canned beans appeared on the scene in the late 19th century, and provide a cheap and easy food. The original canned beans were the Boston Baked Beans, but now many different recipes have been adapted for canning purposes. A sub-culture devoted to the preparation of beans and unique bean recipes has arisen, and beans are an important part of pop culture as well.

(Source: American Indian Health and Diet Project)

220px-Haricots_-_Plantes_potagères_Vilmorin-Andrieux_et_Cie
Gambar kacang buncis di buku Les plantes potagères, katalog Vilmorin-Andrieux et Cie, 1891

Hari ini, Indonesia merupakan negara produsen buncis kedua terbesar di dunia, hanya setelah Cina. Meskipun demikian, kenyataan bahwa sejatinya buncis lebih duluan dikenal oleh Belanda tak terelakkan. Yang jelas, di Belanda hanya ada boontjes karena tak ada buncis! Seru ya, dari buncis kita bisa belajar sejarah akan banyak hal. Mari, terus menuntut ilmu!