Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Indonesia: Pusat Wisata Megalitikum Dunia

Zaman Megalitikum

Ketika berbincang perkara monumen bersejarah, apa yang kira-kira terlintas di pikiranmu? Candi Borobudur, Tugu Yogyakarta, Patung Jenderal Sudirman atau benteng-benteng zaman Belanda? Pernah terlintas nggak sih keinginan untuk mengunjungi monumen-monumen dari batu-batu besar yang berasal dari zaman Megalitikum?

Selama ini masih banyak yang tidak menaruh perhatian terhadap tinggalan-tinggalan leluhur nusantara dari zaman purba. Dibandingkan candi-candi atau gedung-gedung masa kolonial, obyek wisata bertajuk kebudayaan pra-sejarah masih kurang dipromosikan. Batu-batu besar seperti menhir, meja batu, sarkofagus, dan punden berundak-undak kurang menarik untuk dikunjungi karena bagi sebagian besar masyarakat kita dipandang sebagai tinggalan sejarah yang tidak beradab dan jauh dari teknologi. Malah kadang-kadang tercipta kesan yang seram dan angker ketika berbicara tentang artefak-artefak zaman Megalitikum ini. 

Menhir dengan ukiran di Mahat, Sumatera Barat. Sumber: http://www.whatsnextnaomi.com/2008/08/searching-for-menhirs-in-mahat.html

Era Megalitikum ialah suatu periode waktu dalam sejarah Indonesia dimana masyarakat purba membangun struktur atau monumen dari batu-batu besar (megalit). Batu-batu tersebut memiliki fungsi dan artinya masing-masing. Kebanyakan batu-batu besar tersebut digunakan untuk menghormati arwah nenek moyang ataupun sebagai tempat untuk menaruh sesaji. Nah, Era Megalitikum ini sendiri sejatinya terbagi dua. Yang pertama ialah Era Megalith Tua, dimana sekitar tahun 2500-1500 SM suku-suku Melayu Tua (Proto Melayu) membangun menhir, punden berundak-undak serta arca-arca tetap. Era Megalith Muda terjadi sekitar tahun 1000-100 SM ditandai oleh kedatangan bangsa Melayu Muda (Deutro Melayu) yang mendirikan peti kubur batu (sarkofagus), dolmen, dan arca-arca dinamis. Apa istimewanya sih batu-batu ini? Zaman Megalitikum merupakan suatu periode yang di kalangan sejarawan dianggap sebagai titik balik kreatifitas manusia untuk mulai membuat monumen atas kejadian-kejadian dalam kehidupan mereka. Gampangnya, zaman Megalitikum ini adalah saat dimana nenek moyang kita dulu mulai memahami filosofi atau makna atas berbagai fenomena kehidupan, yang kemudian oleh mereka disimbolkan melalui batu-batu tersebut. Kalau zaman sekarang kita biasanya memajang foto kakek-nenek kita di pigura, kira-kira yang dilakukan oleh orang-orang zaman Megalitikum ini ialah mendirikan menhir atau batu-batu besar demi mengenang orang tua-orang tua mereka dulu.

Menhir

Ada banyak sekali suku-suku pedalaman di nusantara yang tidak tersentuh oleh pengaruh budaya “Negeri-Negeri Atas Angin” seperti India, Cina maupun Arab. Suku-suku ini dengan setia terus merawat peninggalan Megalitikum serta menjadikan benda-benda tersebut sebagai bagian dari kehidupan religio-magis mereka. Nah, salah satu artefak primadona dari zaman Megalitikum ialah menhir. Menhir berasal dari dua kata dalam Bahasa Keltik, yaitu men (batu) dan hir (panjang). Batu tegak yang tertancap di atas tanah seperti tugu peringatan ini menurut para ahli berfungsi untuk memuja atau menghormati roh nenek moyang. Di Indonesia, menhir banyak ditemukan di Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah dan Kalimantan. Bentuk dan ukuran menhir pun bermacam-macam, tidak mengenal pakem tertentu. Di Sumatera Barat bahkan ada menhir yang bagian dasarnya berhiaskan ukiran berbentuk ornamen bunga dan seorang gadis yang tengah menari. Konon jika bapak pemilik tanah tempat menhir itu ditemukan tidak iseng untuk menggali bahagian dasarnya, kita tidak akan pernah tahu bahwa menhir tersebut  ternyata menyimpan ukir-ukiran misterius yang sangat indah!

Situs Gunung Padang.

Masih ingat bagaimana media sempat dihebohkan dengan isu mengenai “piramida” yang konon masih tersembunyi di balik Gunung Padang? Nah, sejatinya situs tersebut telah sejak tahun 1914 diidentifikasi sebagai situs Megalitik. Situs yang unik karena terdiri atas serakan batu-batu besar serta punden berundak ini menurut penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Sitongkir dulunya merupakan tempat domisili leluhur nusantara yang suka bermain musik. Beberapa batu ternyata mengeluarkan bunyi yang berbeda-beda ketika dipukul.  Pada kelompok batu-batu tertentu, bahkan ketinggian frekuensinya membentuk notasi yang mirip dengan standar notasi musik Barat!  Temuan-temuan menhir di Indonesia menjadi semakin menarik ketika teman-teman mencari tahu lebih dalam lagi.

Beberapa waktu yang lalu di daerah Purbalingga pernah ditemukan dua menhir yang terbujur dengan simetris ke arah Utara-Selatan dan Timur-Barat. Menhir ini ditengarai sebagai temuan menhir terbesar di Indonesia. Di Sumatera Barat, Nagari Mahat Kabupaten Lima Puluah Koto dijuluki sebagai “Negeri Seribu Menhir” karena jumlah menhir yang ditemukan di daerah ini mencapai lebih dari 500 buah!  Ada pula Kampung Bena di Flores yang dikenal dengan sebutan “Kampung Megalitikum”. Masyarakat di Kampung Bena selain mewarisi banyak menhir dan peninggalan nenek moyang Megalitikum juga masih hidup dengan amat sederhana, sehingga atmosfer “purba” yang didapatkan ketika berkunjung ke sana pun terasa amat kental. Seakan tak ingin kalah, situs Batu Tumonga di Toraja pun menyimpan pesona menhir yang misterius. Pemandangan alam yang indah serta cuacanya yang sejak (karena terletak di atas gunung) membuat teman-teman tidak akan menyesal mengunjungi tempat ini. Di Batu Tumonga teman-teman bisa menyaksikan sekitar 56 menhir (dalam Bahasa Toraja disebut Batu Simbuang) yang ditemukan dalam keadaan melingkar dengan empat batang pohon di tengahnya.

Kampung Bena, Bajawa, Flores. Sumber: http://www.k-travel.info/2012/02/23/bena-kemegahan-warisan-budaya-zaman-batu-di-flores/kampung-bena-di-bajawa-flores-ntt-1/
Situs Menhir di Batu Tumonga

Melihat contoh-contoh di atas, seharusnya Indonesia dapat menjadi pusat wisata Megalitikum terbesar di dunia lho! Sayangnya wisata budaya dengan tema “Megalitikum” belum terlalu populer bahkan di kalangan turis domestik sekalipun. Padahal, konsep wisatanya bisa dikemas tidak sekedar untuk melihat-lihat benda-benda peninggalan pra-sejarah, namun juga dapat menginspirasi pengunjung agar dapat mengungkap misteri yang masih terselubung di dalamnya. Dijamin nggak bakal rugi kok, tempat wisata seperti ini justru akan membawa kita untuk merasakan bagaimana sih rasanya hidup dengan kondisi zaman seperti itu. Siapa bilang periode pra-sejarah itu nggak seru? The Flintstones aja hidup di zaman itu kok! 🙂

Pesan Bung Karno dulu:

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”

Referensi dan Sumber Gambar:
http://epri-wismark.blogspot.com/
http://sambelpedas.wordpress.com/galeri/galeri-megalitikum/
http://www.sulsel.go.id/wisata/Kabupaten%20Tana%20Toraja
http://www.limapuluhkota.go.id/index.php?mod=objek_wisata&act=show&id=40

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Surviving Folklores

It was a cloudy December 12, 2011. Earlier in the morning, I planned to go to an exhibition related to indigenous oral tradition. Although that day wasn’t the best monday leisure of mine, I still decided to attend the event considering the rareness of its topic.  So, amidst class traffic and capricious rain, I went to Alphabeta Journal’s Spoken Belief: Audio-Visual Interpretation. It was one of my very inspiring afternoon.

The exhibition was held at LIR Space which is located on Bachiro area, Yogyakarta. My first impression was “what an unique venue!”. LIR Space maybe hasn’t enjoyed that much publication or customers, since they just started to roll the dice this July. But the atmosphere is so familiar and unique. They uses 3 in 1 (bookstore-boutique-cafe) concept and surrounding it with Butterbeer from Harry Potter; Homemade Ginger Ale and Picnic Sandwich of Enid Blyton’s classic; Pippi Long Stocking’s Pancake; and Afternoon Tea Set that come straight out of Alice in Wonderland story on their menu’s lists. All of sudden, I found myself on childhood backyard again.

Spoken Belief: Audio-Visual Interpretation is an appreciation toward tales and folklores in Indonesia, by Alphabeta Journal. The exhibition was divided into two chapters: the first is visual exhibition through drawings and paintings, and the second is the audio interpretation. Eight young artists were participated on the visual interpretation. Their wildest imagination let go their skills to sweep the canvas, telling the chosen folklores. You can see how these talented artists defined their own version of some well-known fairytales, such as Lutung Kasarung, The Prince and Mosquito, Slugs and Deer, and many more. However, the folklores are not merely picturesque in an easy way; most of the paintings are strikingly sophisticated and abstract. You will enjoy them as combination of fetterless craft and deep philosophical thoughts. On Sunday, December 18 the audio interpretation began. Stop Lichten, a local band brought their musical performance to tell the visitors about childhood fairytales using modern tones. The exhibition was opened from December 12 until 24, 2011.

The Author (left). And his friend (right).

Although I didn’t find any La Galigo interpretation being showed on both visual and audio exhibition, I found a South Celebes folklore from Bone, Putri Tadampalik and the Bull. It is a very famous story, taken from Pau-Pau Rikadong or the collection of advices and proverbs of The Bugis. The story goes long before Islamic belief infiltrate The Kingdom of Luwu. An exquisite yet so generous princess called Her Grace Tadampalik is the daughter of Datu Luwu (the king). One day, out of nowhere she suffered of inexplicable skin diseases (maja’ uli) which turned her face ugly and her body smelly. The councils of Luwu asked the Datu to expell her from the kingdom, in hope that the skin diseases would not infect the king’s subjects. Brokenhearted by the decision, the Datu of Luwu himself then commanded Her Grace Tadampalik to broad on a small bamboo raft with several lady-in-waiting. She followed the river stream, and finally landed on a jungle.

She decided to live there with her attendants and spent most of her time praying to Dewata with great patient. One day, when she was alone on the yard, a big albino bull came and licked her skin. The bull’s saliva magically cured the disease. After healed Princess Tadampalik, the bull suddenly disappeared. Her Grace was very grateful, but she remained to stay in that remote place rather than come back to Luwu. The story continues with the visit of prince from The Kingdom of Bone and his hunting team near Tadampalik’s abode. Shortly told, the prince met Tadampalik, he found out that she was actually the daughter of King Luwu, married her, and then ruled the Kingdom of Bone together.

Visual Interpretation of Princess Tadampalik and The Bull

Folklores were told by parents to their children orally, from generation to generation. Saving folklores or traditional values through modern package like this exhibition is very important. Many kids nowadays are more familiar with Disney Characters or Japanese Anime rather than their ancestors-made stories. Internet, smartphone, and games also contributes on causing the lackness of interest toward old tales. Alphabeta Journal has proven that as youngsters we could still enjoy globalization and beautiful folklores from our fathers side by side. This Spoken Belief: Audio-Visual Interpretation is an homage to oral tradition, and a jar of creativity for youth thru music and art. Let’s be inspired! Let’s spread this spirit!