Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Lontara Project Goes to Selayar II – Pulau Warisan La Galigo

Selama ini banyak yang bilang kalau tokoh-tokoh semacam Sawerigading, Batara Guru maupun We Cudai hanyalah khayalan  yang hidup dalam mitos La Galigo. Adapula yang benar-benar yakin akan keberadaan mereka, bahkan sampai-sampai merunut silsilah mereka hingga ke nama-nama yang disebutkan barusan. Salah satu penentu apakah seseorang benar-benar pernah hidup di muka bumi ini ialah keberadaan makamnya. Nah, kali ini ada cerita menarik dari Pulau Selayar mengenai makam We Tenri Dio, putri Sawerigading. Wah, ketika daerah lain di nusantara tidak memiliki situs makam yang berhubungan dengan tokoh-tokoh dalam La Galigo, Selayar nun jauh di ujung selatan jazirah Sulawesi justru menyingkap probabilitas eksistensi salah satu karakter dari epos besar ini. Penasaran? Yuk, kita simak liputannya!

 

Flyer di atas merupakan hasil reportase Mahasiswa KKN-PPM UGM di Kepulauan Selayar Angkatan Pertama (2012) demi kepentingan promosi wisata dan pelestarian situs-situs sejarah.

Wahyu Putri Kartikasari, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada bagian Hukum Pidana. Saat ini tengah  berjuang merampungkan studinya. Gadis kelahiran Magelang yang memiliki hobi minum kopi, makan es krim dan jalan- jalan ini juga merupakan seorang pecinta pantai dan pecinta kucing.

Yoshua Rendra, mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada. Pemuda Bantul kelahiran 1991 ini pernah  menghabiskan masa kecilnya di Papua. Tidak banyak bicara, Yoshua senang jalan-jalan, makan dan nonton film.

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Lontara Project Goes to Selayar – Cerita Suku Bajo dari Takabonerate

Takabonerate tidak hanya menyimpan potensi wisata sebagai atoll terbesar ketiga di dunia. Kumpulan pulau dan karang yang menciptakan keindahan serta kekayaan alam di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan ini ternyata menjadi rumah bagi Suku Bajo yang telah meninggalkan gaya hidup nomaden. Simak reportase tim kami yang sempat mewawancarai dua orang sesepuh “Suku Bajo Daratan” ini.

Pagi itu sebelum berangkat menuju Pulau Rajuni Kecil dari penginapan kami di Pulau Tinabo, petugas Balai Taman Nasional Takabonerate memberitahu kami akan keberadaan komunitas Suku Bajo di sana. Saya belum pernah berteman atau bertatap muka langsung dengan anggota suku laut yang terkenal karena dapat bertahan hidup tanpa daratan ini. Semangat bahari Suku Bajo sudah terkenal ke seluruh dunia. Mereka tersebar di berbagai perairan nusantara; di Flores, Maumere, Gorontalo, Selat Malaka, laut Kalimantan Utara, Filipina Selatan, bahkan hingga ke perairan lepas dekat Australia dan benua Amerika. Khayalan saya tentang mereka ialah gambaran anak-anak kecil berambut kemerah-merahan yang tengah bermain di laut, serta perahu tradisional mereka yang menjadi rumah sekaligus tempat penyimpanan makanan. Akan tetapi, ketika akhirnya menginjakkan kaki di Pulau Rajuni Kecil, gambaran-gambaran itu sirna sekejap mata.

Pulau Rajuni Kecil terbagi atas dua wilayah yang dibedakan menurut etnis: kluster Bugis dan kluster Bajo. Sebuah masjid kecil yang cantik di tengah pulau tersebut menjadi tanda batas pembagian wilayah. Meskipun bernama Rajuni Kecil, pulau ini sejatinya berukuran lebih kecil daripada pulau lain di sebelahnya yang dikenal dengan nama Rajuni Besar. Nama Rajuni berasal dari kata dalam Bahasa Bajo yang berarti “rajanya”. Dahulu kala penduduk Bajo banyak tersebar di perairan Takabonerate yang luasnya hingga ke Laut Flores. Mereka telah memanfaatkan potensi alam di wilayah tersebut jauh sebelum tibanya suku-suku pendatang seperti Bugis, Selayar, Makassar, dan Buton. Setiap pelaut asing yang masuk ke wilayah suku Bajo selalu mencari dimana raja penguasa wilayah ini. Mereka terbiasa dengan konsep kerajaan di daratan, sehingga menganggap bahwa Suku Bajo pun memiliki sistem monarki yang sama dengan mereka. Penduduk Bajo yang ditanya mengenai keberadaan rajanya selalu mengarahkan pelaut-pelaut asing ke pulau tersebut. Akhirnya, kedua pulau yang saling bersebelahan ini pun tenar dengan julukan Rajuni.

Haji Darwis

Haji Darwis, narasumber kami menyebutkan bahwa gelar Opu yang terkenal di Luwu itu sebagai salah satu gelar pemimpin adat Bajo. Peninggalan dari “kerajaan” Bajo di Rajuni dapat ditelusuri melalui keberadaan sebuah bendera keramat bernama Pa’ula-Ula atau Ula-Ula. Bendera berbentuk seperti manusia (memiliki tangan, kaki dan kepala) terdiri atas warna hitam, merah, kuning. Ketika dinaikkan di atas tiang, Ula-Ula selalu diringi oleh bunyi-bunyian gendang tradisional. Konon hanya orang-orang Bajo yang memiliki darah bangsawan lah yang berhak untuk menyimpan dan mengibarkan Ula-Ula. Bendera ini pun biasanya dikibarkan hanya pada saat-saat tertentu seperti acara pernikahan. Konon jika Ula-Ula tidak dikibarkan maka keluarga pengantin akan mengalami kemalangan seperti kesurupan atau kematian. Bendera Ula-Ula ini ternyata juga dimiliki oleh beberapa Suku Bajo lain seperti yang terdapat di Kupang dan Semporna (Sabah, Malaysia). Di Semporna, Ula-Ula disebut dengan nama Sambulayang serta menjadi ikon daerah tersebut.

Menurut keterangan dari petugas Balai Taman Nasional Takabonerate, penduduk Pulau Rajuni Kecil di kluster Bugis kehidupannya jauh lebih mapan daripada penduduk di kluster Bajo. Kami pun menyadari hal tersebut dengan melihat-lihat kondisi perumahan di bagian selatan (kluster Bugis) yang rata-rata sudah terbuat dari batu dan tertata dengan baik, dibanding kondisi perumahan di bagian utara (kluster Bajo) yang rata-rata masih terbuat dari kayu dan masyarakatnya banyak yang tergolong miskin. Konon masyarakat Suku Bajo yang terbiasa hidup di lautan tidak dapat mengelola uang dengan baik. Ketika mendapat sedikit rejeki, mereka cenderung untuk berfoya-foya menghabiskannya saat itu juga. Di lain pihak, masyarakat Bugis yang memang telah mendarah daging ruh sebagai pengusaha mampu untuk menginvestasikan keuntungan yang mereka dapat sehingga hasilnya berkesinambungan. Pola pikir yang berbeda di antara kedua suku ini juga nampak dari penerimaan mereka terhadap modernitas. Ketika petugas Balai Taman Nasional membagikan bibit pohon sukun dan ketapang kepada penduduk pulau untuk penghijauan, masyarakat di kampung Bugis menerimanya dengan senang hati. Penduduk di desa utara sebaliknya; kepercayaan lokal Bajo menganggap pohon ketapang adalah pohon tempat roh-roh jahat bersarang. Alhasil, pohon ketapang yang sudah mulai tumbuh pun mereka tebangi.

Bapak Haji Suryadi atau yang dikenal oleh warga dengan sebutan Haji Suraq adalah seorang tokoh masyarakat Suku Bajo di Rajuni Kecil. Ketika kami temui di kediamannya di Kampung Bajo, beliau tengah mengerjakan sebuah joloroq (perahu kayu) bersama pemuda-pemuda desa. Beliau menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya yang sederhana. Sambil duduk santai di ruang tamunya, mulailah Haji Suraq bercerita tentang asal mula Suku Bajo di Pulau Rajuni Kecil.

Kasus Bajo di Pulau Rajuni tergolong unik; mengapa suku petualang yang dijuluki sebagai Gipsi Laut ini dapat menetap di daratan? Konon, mereka mulai menghuni daratan setelah salah seorang leluhur Haji Suraq yang bernama Mboq Tugas (lima generasi di atas beliau) menemukan sebuah bunging di lokasi Pulau Rajuni sekarang ini. Bunging tersebut makin lama menjadi semakin besar sehingga layak dijadikan sebagai tempat huni. Awalnya mereka hanya menjadikan bunging tersebut sebagai tempat singgah, namun semenjak abad ke-18 Suku Tobelo dari Halmahera Utara banyak berkeliaran di perairan Selayar. Suku Tobelo ini menjarah kapal-kapal dagang berbagai bangsa yang melintas di perairan Indonesia Timur. Kapal Sultan Ternate pun acap kali diganggu oleh rombongan bajak laut ini. Kehadiran Suku Tobelo yang meresahkan lalu lintas perdagangan internasional di nusantara membuat mereka amat ditakuti. Suku Bajo yang awalnya hidup damai menjadi target empuk Suku Tobelo untuk dirampok, bahkan dibunuh.

Terdorong oleh ketidaknyamanan berada di bawah bayang-bayang bajak laut, Mboq Tugas yang terkenal karena pernah menghabisi sekapal penuh orang Tobelo dengan berani memimpin kaumnya untuk bermukim di bunging yang ia temukan. Di atas bunging itulah mereka menanam kelapa dan mulai belajar bercocok tanam. Proses ini tentunya tidak gampang. Beberapa cerita yang beredar menyebutkan bagaimana suku ini tidak betah berada di daratan. Ada yang bilang mata mereka dapat melihat kondisi di bawah air jauh lebih terang ketimbang saat berada di darat. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka sering merasa pusing alias ‘mabok’ ketika terlalu lama di daratan, sebagaimana halnya orang darat pusing jika berada terlalu lama di atas laut.

Pada akhirnya masyarakat Bajo dapat beradaptasi dengan kehidupan di daratan dan menyemarakkan Pulau Rajuni dengan beragam aktifitas mereka. Kehidupan Suku Bajo tetap berorientasi dengan laut. Mereka menangkap bervariasi hewan laut untuk kemudian dijadikan konsumsi sendiri maupun di jual lagi. Hasil tangkapan ikan di Pulau Rajuni terkenal beragam, melimpah ruah dan murah. Pelaut dari Makassar, Selayar, hingga Nusa Tenggara Barat dan Timur banyak yang pasokan ikannya didatangkan dari Rajuni.

Berdasarkan dongeng yang selalu diceritakan oleh Mboq Juragang (nenek Haji Suraq) ketika ia masih kecil dulu, leluhur Suku Bajo berasal dari kampung BajoE yang berada di Lubo atau Luwu (sekarang daerah ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan). Konon di sana dulu terdapat sebatang pohon kayu raksasa yang dahannya dapat menyentuh awan-awan di langit. Di atas pohon kayu itulah jutaan burung mengerami telurnya. Suatu ketika, seorang pria sakti menebang pohon tersebut untuk dijadikan sebagai kapal. Bersamaan dengan runtuhnya pohon raksasa, jutaan telur yang berada di atasnya pun ikut pula berjatuhan. Cairan yang keluar dari jutaan telur-telur tersebut menciptakan banjir bandang yang menyebabkan warga BajoE terhanyut ke berbagai penjuru mata angin.

Mereka berkelana mengarungi samudera dan memutuskan untuk tinggal di atas perahu agar katastropi purba yang menyebabkan hancurnya kampung halaman mereka di darat itu tidak terulang lagi. Cerita mengenai asal mula Suku Bajo di atas mengingatkan saya akan episode Ritumpanna Welenrenge dalam epos La Galigo. Sebuah pohon raksasa di muka bumi yang terkenal dengan nama Welenrenge ditebang oleh Pangeran Sawerigading dari kerajaan Ale Luwu sebagai bahan pembuat perahunya untuk berlayar ke negri Cina. Suku Bajo di Pulau Rajuni Kecil tidak mengenal siapa itu Sawerigading atau apa itu La Galigo, namun mitos asal-mula mereka merujuk kepada sumber yang sama dengan suatu penggalan episode dalam karya sastra Bugis klasik.

Haji Suraq juga menceritakan kisah mengenai seorang gadis Bajo yang pada saat banjir bandang tersebut bersembunyi dengan cara masuk ke dalam sebilah bambu. Setelah selama beberapa lama terombang-ambing di lautan, ia terhanyut hingga ke negeri Gowa. Di sana ia ditemukan oleh masyarakat lalu dipersembahkan ke hadapan Sombayya ri Gowa. Sang raja yang jatuh cinta pada pandangan pertama lalu menikahi gadis Bajo itu. Hingga kini cerita yang mengindikasikan Sultan Hasanuddin dan raja-raja Gowa lainnya adalah keturunan dari seorang gadis Bajo ini masih terus tersimpan di dalam memori mereka.

Sayangnya, kearifan lokal masyarakat Bajo semakin tergerus dengan diperkenalkannya model pemerintahan pedesaan. Awalnya saya tidak mengerti, mengapa keberadaan sistem pemerintahan strukrural seperti kepala desa, kepala dusun serta perangkat-perangkatnya itu bisa mengacaukan tradisi yang telah dipraktekkan oleh Suku Bajo selama berabad-abad ini. Menurut Haji Darwis, dulu Suku Bajo menangkap ikan dengan cara yang amat ramah lingkungan, terhindar dari keserakahan. Mereka memiliki aturan main yang didasari pada musim, lingkungan, dan makhluk hidup lainnya. Pada musim kemarau hanya jenis ikan tertentu yang mereka tangkap, demikian pula pada musim hujan. Mereka menunggu saat-saat ketika jumlah ikan sedang naik untuk menangkapnya, memastikan agar daur hidup biota laut ini terus terjaga.

Demikian pula saat berbagi hasil, badan-badan adat seperti punggawa laut yang mengumpulkan hasil laut dari setiap nelayan dan menjualkannya kepada pedagang-pedagang asing. Sistem pemerintahan sederhana orang-orang perahu ini memungkinkan terjadinya aktifitas politik yang ramah lingkungan. Punggawa-punggawa laut membawahi beberapa urusan seperti bagaimana cara menangkap ikan di laut, pembagian hasil, serta. Ada sanksi-sanksi adat yang dikenakan kepada orang-orang Bajo yang melanggar peraturan tersebut. Peraturan-peraturan desa serta penunjukan orang-orang yang tidak memahami interaksi antara orang Bajo dan laut mengakibatkan kematian tradisi serta mengancam kelestarian karang. Pemerintah di pusat yang jauh di sana membuat peraturan-peraturan pengolahan sumber daya alam yang tidak sesuai dengan kondisi di daerah. Suku Bajo tidak dilibatkan dalam pembuatan peraturan tersebut sehingga tidak heran jika kemudian kearifan lokal mereka pun hilang. Padahal berdasarkan suatu penelitian, dimana Suku Bajo bermukim, di situ terdapat kekayaan laut terbaik. Mereka tahu bagaimana cara memperlakukan sekaligus merawat laut dengan penuh kesadaran.

Kini, masyarakat Suku Bajo hidup dengan damai di Pulau Rajuni Kecil bersama tetangga Bugis mereka. Anak-anak Bajo sudah tidak lagi menghabiskan masa hidupnya di atas perahu, namun jiwa dan semangat kelautan masih tersimpan di dalam DNA mereka. Bendera Pa’ula-Ula yang dikibarkan pada setiap upacara adat seakan menjadi pengingat masa lalu akan kehidupan mereka sebagai kembara di tengah luasnya lautan nusantara.

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Mencari Cina untuk We Cudai – Part II

 Setelah pada tulisan sebelumnya team kami menyoroti kemungkinan lokasi Ale Cina = Tiongkok berdasarkan Riwayat Kelantan dan arah pelayaran Sawerigading, di tulisan kali ini kami akan memaparkan bukti-bukti lainnya. Stereotype kebangsaan, mitos lokal, serta peninggalan sejarah di Selayar ternyata menyajikan bukti-bukti mengejutkan terkait lokasi negri Cina.

  • Stereotype We Cudai Terhadap Sawerigading

“Tuanku, aku tak menyembunyikan perasaanku, aku tak ingin menjadi milik orang Luwu, seketiduran dengan orang Bajo dan satu sarung dengan orang yang bukan senegeriku: I Mettang, I Menrokoli dari negeri Selayar itu. Orang yang dipenuhi badannya bulu dan kumisnya panjang yang dapat membakar seluruh badannya, apabila berkata-kata ucapannya terputus-putus, tak jelas apa yang diucapkannya, tak terdengar apa yang dibicarakannya, tak teratur makannya, tak ditenun sarung dan pakaiannya, tak terlihat asap apinya, tak disaksikan tanah tempat kelahirannya, makanan di kampungnya hanyalah ular.” (Naskah X halaman 39)

“Dengarlah kataku, We Tenriesang! Jika engkau yang menginginkan orang Luwu itu, maka engkau sajalah yang kawin dengan Mettang dan Menrokoli itu. apabila rumah tanggamu telah baik maka tinggalkanlah suamimu itu. Kelak apabila perkawinanmu telah baik maka pilihlah malam tertentu untuk pindah ke tempat orang Wangkang itu. Apabila harta bendanya yang kau inginkan maka janganlah aku ini yang engkau susahkan.” (Naskah X halaman 75)

Apa yang Anda bayangkan ketika membaca dialog berisi penolakan We Cudai terhadap lamaran Sawerigading di atas? We Cudai yang belum pernah bertemu langsung dengan Sawerigading termakan oleh desas-desus dari dayang-dayangnya tentang perawakan orang-orang Luwu. Tidak hanya itu, We Cudai juga menyebut suku bangsa Bajo dan Selayar yang berasal dari daratan Sulawesi secara derogatif, serta menegaskan status mereka sebagai orang Wangkang (perahu). Jika benar Ale Cina terletak di Sulawesi Selatan, bagaimana mungkin penghuni Ale Cina memiliki gambaran yang kabur serta memandang rendah bangsa sesamanya?

Figurin gadis pemusik dari era Dinasti Tang. Sumber: http://english.cri.cn/6566/2009/04/03/1301s471106.htm

Terlepas dari penggalan kisah yang memaparkan bagaimana Settia Bonga –dengan penuh kekesalan karena dikalahkan Sawerigading– memerintahkan nelayan-nelayan di sekitar Ale Cina untuk menyebarkan desas-desus negatif mengenai Pangeran Luwu ini, teks La Galigo menyajikan fakta bahwa kedua negri yang terpisahkan oleh samudera raya sebenarnya tidak saling kenal satu sama lain. Lazimnya, stereotype kesukuan yang sifatnya negatif melekat kepada orang-orang asing dari daerah yang tidak diketahui. Hal ini akan menjadi masuk akal ketika Ale Cina berlokasi jauh dari Ale Luwu, dan kedua daerah tersebut terdiri atas penduduk dengan kebangsaan yang berbeda. Dialog di atas wajar dilontarkan oleh seorang putri raja jika kerajaan Annam kita anggap sebagai Ale Cina. Karena telah ratusan tahun berada di bawah kekuasaan Dinasti Tang yang berperadaban maju, masyarakat Annam memandang rendah orang-orang berperahu dari kepulauan Melayu.

Asumsi belaka kah dugaan stereotype penduduk Annam kepada bangsa Luwu? Ada bukti sejarah menarik mengenai cara pandang penduduk Cina pada zaman Dinasti Tang terhadap orang-orang kepulauan nusantara. Berikut ini kutipan dari buku Ancient China karangan Edward Schafer, terbit tahun 1970 oleh penerbit Time Inc., Belanda;

“The few Chinese traders who braved these remote waters in foreign ships became accustomed to the black and malicious (as they thought) faces of the Indonesians.” (Beberapa pedagang Cina yang cukup berani untuk melayari perairan terpencil ini dengan menggunakan perahu-perahu asing menjadi terbiasa terhadap (dalam bayangan mereka) orang-orang hitam dan barbar dari Indonesia).

“The dark-skinned, wavy-haired men of Cambodia and Malaya were called “ghosts”, “goblins”, and “demons” in some Tang books.” (Orang berkulit hitam dan berambut ikal dari Kamboja dan Malaya dijuluki “hantu”, “siluman”, dan “setan” di dalam beberapa buku zaman Dinasti Tang).

Secara gamblang buku ini menyajikan fakta mengenai kehidupan masyarakat Cina dan jajahannya di abad ke-8 Masehi. Uraian di dalam buku Schaffer amat sesuai dengan ejekan We Cudai yang dialognya diabadikan dalam naskah La Galigo. Bagi seorang bangsawan seperti We Cudai memiliki stereotype buruk terhadap pendatang dari kepulauan nusantara amatlah masuk akal, karena pada zamannya seperti itulah masyarakat memandang mereka.

  • Kondisi Budaya Annam dan Mitos “Tomanurung”

Hingga hari ini, seorang bangsawan atau raja di Sulawesi Selatan harus dapat merunut silsilah leluhur mereka ke tokoh-tokoh yang namanya termaktub dalam epos La Galigo atau kepada sosok manusia gaib yang disebut sebagai Tomanurung. Siapakah Tomanurung ini? Tidak ada yang tahu pasti, karena kemunculan mereka pun tiba-tiba. Yang jelas para Tomanurung ini muncul beruntun pada berbagai wilayah di Sulawesi Selatan di abad ke-15 Masehi. Mereka dianggap sebagai keturunan dewa yang mewujudkan diri di bumi untuk membangun peradaban manusia. Wah, mirip dengan hipotesis ilmuwan Barat yang mengatakan bahwa manusia dipandu oleh alien atau makhluk asing dari langit untuk membangun peradaban ya!

Ragam hias kuno yang menunjukkan bentuk peralihan dari buaya menjadi naga pada fragmen tanah liat di Bac Ninh, Vietnam. Sumber: http://vnexplore.net/index.php?news=33/

Batara Guru, sebagai keturunan dewa sekaligus manusia pertama di muka bumi memiliki nama asli La Togeq Langiq, yang terjemahannya berarti “Sang Putra Langit”. Sebagai putra sulung dari pasangan Datu PatotoE dan Datu Palingeq, Ia yang paling bijaksana sekaligus paling mumpuni kesaktiannya. Para penguasa Annam juga memiliki gelar serupa. Mereka mengadopsi abisheka kaisar-kaisar Cina kuno yang menganggap diri mereka keturunan dewa. Raja-raja Annam menggelari diri mereka sebagai “Tianzi” alias Son of Heaven. Dengan kata lain, raja-raja Annam di Indocina mempercayai bahwa diri mereka pun keturunan Tomanurung, atau orang-orang langit. Hal ini tidak terlepas dari kepercayaan lokal mereka mengenai asal-muasal bangsa Yuwana.

Alkisah, samudera yang luas membentang di bumi ini dikuasai oleh ras naga. Seorang raja naga yang bernama Lac Long Quan memunculkan dirinya ke atas daratan dan jatuh cinta dengan seorang wanita (bidadari) yang turun dari kerajaan langit, Au Co. Pernikahan Lac Long Quan dan Au Co ini menghasilkan 100 orang putra, dimana 50 di antaranya berkuasa di pegunungan sedangkan 50 sisanya berkuasa atas lautan. Putra tertua mereka menjadi raja pertama di tanah Annam yang terletak di delta Sungai Merah sekarang ini.

Ilustrasi Loc Long Quan, Au Co, dan putra mereka Raja Hung. Sumber: http://holiday.yeudoi.net/2010/11/gio-to-hung-vuong-103-am-lich.html

Mitos Annam di atas mengandung unsur-unsur yang sama dengan riwayat asal mula manusia di Sulawesi Selatan. Batara Guru yang berasal dari langit turun ke bumi dan menikah dengan We Nyiliq Timoq yang berasal dari Peretiwi. Dewa-dewa penghuni Peretiwi ketika akan muncul ke permukaan bumi biasanya mengambil penyamaran (larukodo) dalam bentuk buaya. Buaya sebagai penguasa air juga dikenal pada mitos-mitos kuno Annam, hanya saja ketika pengaruh Cina masuk, sosok buaya digantikan oleh naga. Dari keturunan Batara Guru & We Nyiliq Timoq lahirlah raja-raja yang memerintah di atas dunia (bahkan hingga Senrijawa dan Maccapaiq).

  • Mitos Nekara Kembar dan Kebudayaan Dongson

Di Selayar, terdapat sebuah nekara raksasa yang memiliki hiasan kodok serta diukir dengan ornamen-ornamen berbentuk gajah, burung, pohon sirih, dan ikan. Gong yang terbuat dari logam ini dipercaya sebagai nekara terbesar sekaligus tertua di dunia. Ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang petani pada tahun 1686, sejak saat itulah nekara ini dijadikan sebagai arayang atau pusaka kerajaan Bontobangun. Legenda lokal mempercayai bahwa nekara tersebut dibawa oleh Sawerigading ke Selayar. Nekara tersebut juga diyakini memiliki pasangan di negri Cina, “istri”-nya, yaitu nekara Ngoc Lu di Hanoi, Vietnam.

Nekara Selayar. Sumber: Wikipedia

Nekara dengan karakteristik yang ada di Pulau Selayar tersebut digolongkan sebagai model Heger I. Persebaran nekara di Indonesia mengikuti jalur perdagangan laut yang ditempuh sebelum tahun Masehi, mulai dari Tanah Melayu hingga ke Papua. Nekara-nekara tersebut dipercaya dibuat antara tahun 500 sampai 100 SM di Vietnam Utara atau Cina Selatan. Pembuatan nekara berkembang pesat seiring dengan kebangkitan Kebudayaan Dongson di delta Sungai Merah (Annam kuno) sekitar tahun 1000 SM hingga 1 SM. Masyarakat Dongson tergolong sebagai bangsa Austronesia yang hidup melalui pertanian dan peternakan. Mereka juga terkenal sebagai pelaut ulung yang mengarungi Laut Cina Selatan. Kemahiran masyarakat Dongson dalam mengolah perunggu nampak dari beranekaragamnya perkakas mereka yang terbuat dari logam.

Apabila kita mengaitkan mitos lokal mengenai nekara Sawerigading dengan bukti-bukti sejarah kebudayaan Dongson, maka anggapan bahwa Ale Cina terletak di Indocina menjadi semakin kuat. Hubungan melalui laut antara Luwu dan Annam dengan Selayar sebagai pulau transit menjelaskan kehadiran nekara raksasa buatan Vietnam di sana. Bukankah pelaut-pelaut tangguh Sawerigading yang mendayung Welenrenge berasal dari Selayar dan Waniaga (Bira)? Jika Ale Cina terletak di Pammana, lantas bagaimana relevansi kesejarahan nekara Sawerigading yang jelas-jelas dibuat di Dongson itu?

Nekara Ngoc Lu, Vietnam. Sumber: Wikipedia

Selain dugaan di atas, ada pula usaha untuk mengaitkan gong nekara Selayar dengan Genderang Manurung yang disebut-sebut di dalam teks La Galigo. Genderang Manurung atau Genderang Emas (Genrang Mpulaweng) ini diturunkan oleh Dewata dari langit, kemudian diangkut ke dalam kapal Sawerigading. Genderang Manurung ditabuh sebagai tanda peringatan, metode komunikasi, maupun untuk keperluan upacara adat. Nekara yang dikait-kaitkan dengan Sawerigading merupakan satu-satunya bentuk alat musik pukul yang sesuai dengan gambaran mengenai Genderang Manurung ini. Nekara ini juga dianggap sakral, dipercaya memiliki kekuatan magis sehingga identik dengan peran Genderang Manurung anugerah dari langit.

Setelah membaca penjelasan-penjelasan dari team kami, apakah Sobat Lontara sudah dapat menyimpulkan dimana letak negri Cina-nya Putri We Cudai? Untuk masing-masing teori, tidak ada yang 100% betul-betul yakin. Apakah benar area di sekitar Danau Tempe merupakan lokasi yang dituju oleh Sang Pangeran Luwu? Atau negri Annam yang subur dan berbukit-bukit di Indocina sana? Kepingan puzzle terakhir untuk melengkapi jawaban-jawaban di atas belum dapat ditemukan hingga saat ini.

Kisah-kisah yang tertuang dalam La Galigo pun banyak yang menganggapnya sebagai dongeng semata, tidak usah dibuktikan kesejarahannya karena tidak pernah benar-benar terjadi. Anakroniksme muncul ketika kita membicarakan lokasi daerah-daerah yang disebut di dalam teksnya. Demikian pula terhadap perkiraan kurun waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang dikisahkan. Namun, epos besar ini menyimpan gambaran akan cara pandang leluhur kita terhadap kehidupan. Mereka memiliki cara sendiri dalam memandang dunia. Dengan membaca, menelaah, serta melestarikan La Galigo, kita telah menghidupkan kembali warisan dari nenek moyang yang jaraknya terpisah ribuan tahun. Entah benar pernah terjadi atau tidak, sejarah dan kisah-kisah masa lalu adalah pembelajaran berharga untuk mereka yang hidup di masa depan.

 

Referensi:
Ancient China, Edward Schafer. Time Inc. Nederland. 1970.
Cinta, Laut dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo, Nurhayati Rahman.La Galigo Press. 2006.
La Galigo, Dul Abdul Rahman. Diva Press. 2012.
La Galigo ( Episode Mutiara Tompoq Tikkaq), Idwar Anwar. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan dan Tenggara. 2004.
La Galigo Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin. 2003.
Manusia Bugis, Christian Pelras. Penerbit Nalar. 2006.