Categories
Featured Galigo Gallery Photos

“Bersama Serumpun”

Team Cultural Diplomacy LONTARA PROJECT dengan Pelajar Balai Kajian Melayu, Universiti Malaya
Categories
101 La Galigo Liputan

Lontara Project Goes to Malaysia #1

Team Lontara Project bersama Prof. Nurhayati di depan Dataran Merdeka, Kuala Lumpur

Jumat, 25 Mei 2012 tim Lontara Project menyambangi negeri Jiran Malaysia. Terdiri atas Muhammad Ahlul Amri Buana, Fitria Sudirman, Muhammad Ulil Ahsan dan Rahmat Dwi Putranto. Misi kali ini ialah mempromosikan Lontara Project di hadapan civitas akademika University of Malaya, Kuala Lumpur. Selama di Malaysia, tim Lontara Project dijamu oleh Prof. Nurhayati Rahman. Sosok yang satu ini pasti sudah tidak asing lagi di antara pengkaji La Galigo. Ya, beliau adalah satu-satunya wanita yang diakui sebagai penerjemah sekaligus pakar dalam pengkajian naskah-naskah La Galigo. Kami yang menyapanya dengan sebutan akrab “Bunda” selama 4 hari di Malaysia mendapatkan banyak sekali pengarahan-pengarahan berguna dari beliau.

Esok harinya, tepatnya Sabtu, 26 Mei 2012 tim Lontara Project menuju ke Selangor untuk mengunjungi bangunan-bangunan bersejarah. Kami ditemani oleh mahasiswa didikan Prof. Nurhayati di University of Malaya yang bernama Mohamed Zahamri Nizar. Pria yang aslinya berasal dari Perak ini kami sapa dengan sebutan Abang. Uniknya, ternyata Abang pun masih terhitung sebagai keturunan Bugis! Saat ini Abang sedang menempuh program Master dan meneliti tentang simbol-simbol dalam manuskrip-manuskrip maupun panji-panji kerajaan di Alam Melayu. Ketertarikannya terhadap budaya Bugis dan nusantara secara umum membuat kami jadi cepat akrab dengan pria pendiam dan baik hati ini. Kami diajak berpusing-pusing (baca: berkeliling) di Selangor dengan mobil pribadinya.

Pukul 09.30 waktu lokal, kami memulai misi kebudayaan ini dengan mengamati dan mempelajari jejak kebudayaan Bugis di Malaysia. Tempat pertama yang kami datangi adalah Mesjid Sultan Salahuddin Abdul Aziz Shah. Mesjid ini dikenal dengan nama Mesjid Biru. Mesjid ini dibangun atas perintah Sultan Selangor saat ditetapkannya Shah Alam sebagai Ibu Negara yang baru pada 14 Februari 1974. Menara yang dimiliki mesjid ini adalah yang tertinggi di Asia Tenggara bahkan di dunia dengan tinggi mencapai 460 kaki. Dengan diameter 170 kaki, kubahnya menobatkan Mesjid Biru sebagai mesjid dengan kubah terbesar di Asia Tenggara. Mesjid Biru memuat hingga 24.000 jamaah, permadaninya terbuat dari wol berkualitas tinggi, serta tulisan kaligrafi di mesjid ini dibuat oleh ahli kaligrafi terkenal dari Mesir; Syekh Abdol Moneim Mohamed Ali Sharkawi, dibantu kaligrafer Malaysia.

Bersama Abang Zamhari (paling kiri) di depan Masjid Sultan Shalahuddin, Shah Alam

Setelah melihat kemegahan Mesjid Biru, selanjutnya tim Lontara Project mengunjungi Galeri Diraja Sultan Abdul Aziz. Galeri ini berisi barang-barang pribadi milik Sultan Abdul Aziz, Sultan Selangor. Sayangnya, kami tidak diperkenankan mengambil gambar di dalam Galeri. Terdapat beberapa ruangan yang berisi benda-benda peninggalan serta beragam dokumentasi kegiatan Sultan Abdul Aziz. Benda koleksi yang paling menarik antara lain replika Mahkota Sultan dan permaisuri yang berhiaskan permata dan berlian yang sangat indah dan berkilau, nggak kebayang deh aslinya gimana. Pakaian dan aksesoris kebesaran serta hadiah yang pernah diterima Sultan Abdul Aziz juga dipajang di galeri tersebut.

Benda menarik lain di museum ini adalah hadiah dari Inggris berupa mangkuk perak besar berukirkan ucapan dari Ratu Elizabeth II terhadap Sultan Abdul Aziz. Pengaruh Inggris di Malaysia (Selangor) tidak dapat dipungkiri. Kolonialisasi di tanah Melayu zaman dahulu membawa dampak perubahan politik, ekonomi, sosial dan budaya, khususnya Selangor. Foto-foto Sultan Abdul Aziz saat berada di Armada Angkatan Laut, pelantikan putranya menjadi penerus sebagai Sultan Selangor, dan lukisan-lukisan lainnya banyak terpajang di setiap dinding ruangan.

Galeri Diraja Sultan Shalahuddin bin Abdul Aziz

Yang tak kalah menarik, terkait dengan misi kami yaitu mengamati jejak Bugis di Selangor ini, ialah peninggalan Sultan Abdul Aziz berupa senjata dan pakaian khas Bugisnya. Di suatu sudut ruangan di lantai 2 Galeri ini terdapat sebuah lemari yang memajang pakaian khas Bugis yang biasa dipakai Sultan Abdul Aziz. Pakaian tersebut berwarna hijau tua dan bermotif belah ketupat (sulappaq eppaq) dengan garis berwarna emas. Pakaian ini dibuat dengan teknik cap Bugis. Cara pengecapannya yaitu dengan membuat campuran bahan cap di suatu wadah dan diberi serbuk emas asli, kemudian menggunakan alat cap khusus yang telah bermotif, dicelup lalu dicapkan ke pakaian tersebut. Saat ini sudah tidak ada lagi ahli pembuat pakaian khususnya ahli cara cap tersebut. Pernah dicoba melalui sistem komputerisasi dan cara canggih lainnya namun tidak berhasil dan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan oleh ahlinya.

Selain pakaian, hal-hal yang berbau Bugis dalam kehidupan Sultan Abdul Aziz sejak menjadi Sultan Selangor adalah senjata. Sultan Abdul Aziz memiliki beragam koleksi senjata khususnya keris sebagai simbol kekuatan. Keris Bugis yang dimilikinya tidak luput dari pengamatan kami. Pamor yang khas seperti urat yang menjulur dari pangkal hingga ujung keris, bentuknya yang lurus (tepinya yang tidak tampak bergelombang) dibanding keris lainnya merupakan salah satu senjata Bugis yang dimiliki oleh Sultan Abdul Aziz. Adanya pakaian dan senjata khas Bugis menandakan bahwa Sultan Selangor memang memiliki darah Bugis. Klaim ini diabsahkan pula oleh silsilah keluarganya yang terpajang di dinding galeri.

Beranjak dari Galeri Diraja Sultan Abdul Aziz, kami dibawa oleh abang untuk makan siang di suatu tempat. Namun, di tengah perjalanan kami mampir ke sebuah daerah yang rindang, asri dan jalan yang sepi serta berbukit. Tampak sebuah bangunan megah dari kejauhan. Kami mulai mendekat dan ternyata bangunan megah itu adalah Istana Alam Shah. Takjub kami melihat kubah berwarna emas, model bangunan megah serta pekarangan yang sangat luas tertata rapi. Dari jauh juga tampak helikopter yang sedang parkir di pekarangan istana itu. Kami mulai mendekat mengambil gambar sembari menikmati kemegahannya. Istana Alam Shah merupakan istana Sultan Selangor. Sayangnya kami tidak dapat masuk ke istana dan hanya melihatnya dari depan. Depan pintu gerbang Istana terpajang meriam dan tempat jaga prajurit. Tampak juga lambang Negeri Selangor di dinding depan Istana.

Tiba saatnya makan siang. Kami beranjak dari Istana Alam Shah menuju tempat makan yang katanya murah. Dalam perjalanan ke sana terlihat papan penunjuk jalan yang bertuliskan Kampong Jawa. Tak sabar kami menyambangi tempat itu. Abng Zahamri memang tahu apa yang kami inginkan. Abang membawa kami makan siang di sebuah warung makan sederhana di daerah Klang, tepatnya Kampong Jawa. Letaknya di depan taman kanak-kanak dan di seberang jalan Madrasah terkenal di daerah Selangor. Setibanya di sana, kami langsung menuju ke meja makan dan mengambil makanan yang diinginkan. Tersedia berbagai lauk pauk yang menggugah selera. Satu hal yang membuat kai terkesan adalah harganya yang sangat murah. Rahmat Si Tukang Makan terheran-heran, memakan lauk yang bergitu banyak dan bervariasi, setelah disuguhi bill, ternyata harganya sangat murah. Setiap orang dikenakan biaya rata-rata 3-4 RM. Itu setara dengan Rp 12.000,-. Tidak sebanding dengan makanan yang kami santap ditambah minumannya. Makanan yang jika di Indonesia kalkulasinya bisa mencapai rata-rata Rp 20.000,- per orangnya. Setelah selesai makan, Rahmat berbicara dengan salah satu pekerja di sana yang ternyata berasal dari Indonesia, tepatnya Jawa Timur. Sungguh makan siang yang berkesan dan menyenangkan mulai dari nama tempat, makanan, hingga orang satu negara yang ditemui.

Kampung Jawa di Selangor

Setelah mengisi kampung tengah (baca: perut), kami memutuskan untuk shalat dzuhur sebelum mengunjungi museum berikutnya. Abang Zahamri membawa kami di sebuah mesjid bernama Mesjid Sultan Sulaiman. Mesjid ini memiliki bentuk bangunan yang unik, dibangun pada tahun 1932. Pernah dijadikan sebagai mesjid negara dimana saat khutbah Jumat di Mesjid ini selalu disiarkan di televisi. Setelah dibangun Mesjid Biru, identitas mesjid negara dialihkan ke Mesjid Biru. Mesjid Sultan Sulaiman merupakan mesjid Diraja Klang. Menurut Informasi Abang Zahamri, Mesjid Diraja berarti mesjid yang sering ditempati oleh raja untuk beribadah sedangkan mesjid yang digunakan oleh masyarakat lainnya disebut Mesjid Jami. Seusai shalat berjamaah, saat itu mesjid sedang ramai oleh acara akad nikah, kami mengamati sebentar jalannya acara dan langsung menuju keluar mesjid. Di sisi barat mesji terdapat makam Diraja Klang dan istri-istri serta keluarganya. Kemegahan makam tampak dari depan. Kebersihan di dalam makam dirawat baik-baik serta aturan. Satu hal yang dilarang keras dilakukan oleh peziarah di sana adalah, membawa sesajen dan menyembah atau meminta sesuatu di makam. Jika hal itu dilakukan, hukuman berat akan diberikan bagi pelakunya.

                 “Di Selat Malaka, di ujung Sumatera, dua hati kita kan bersatu”. Lagu yang hits tahun 90an ini terus terngiang saat mengunjungi pesisir Selat Malaka di daerah Selatan. Siapa yang tidak kenal dengan Selat Malaka. Jalur dan pusat perdagangan yang tersohor di suluruh dunia. Namun saat ini hanya menyisakan puing-puing ketenarannya. Setibanya di pinggiran pantai Malaka, kami disambut dengan jajanan khas pantai Malaka.

Kami berjalan di pesisir pantai berbatu itu. Terlintas imagi tentang keadaan di masa lampau saat ramainya laut ini dipenuhi pedagang-pedagang dan pelaut dari berbagai pelosok dunia seperti cina, Arab, India, Portugis, Belanda, Inggris, dan lain-lain. Sebelum meninggalkan tempat itu, sejenak Ulil dan Ahlul berkeliling di pasar kecil di pesisir dan mengamati hasil-hasil laut yang ada. Hasil-hasil laut dan buah yang dijajakan mengingatkan pada hasil bumi dan makanan yang sering disantap di daerah Bugis. Ada otti onynyi’-onynyi’ yang merupakan sebutan pisang kecil berwarna kuning terang sering disantap oleh masyarakat Bugis sehabis makan. Peppi’ (Bahasa Bugis) atau yang yang berupa udang-udang kecil biasanya sebagai cocolan mangga muda sebagai cemilan di masyarakat Bugis. Ikan asin, kerang dan lain-lain sebagai hasil laut daerah tersebut juga digelar di pasar itu. Di pesisir pantai Malaka itu memang dikenal sebagai salah satu kampung yang banyak orang Bugis bermukim. Hal itu sifatnya wajar mengingat orang Bugis memiliki jiwa maritim yang kuat.

Selat Malaka yang berperan penting dalam sejarah peradaban nusantara

Setelah terpapar angin laut di pesisir pantai Selat Malaka, saatnya tim Lontara Project beranjak menuju ke tempat yang lebih tinggi, tepatnya Bukit Malawati. Perjalanan ke Bukit Malawati memakan waktu sekitar 45 menit dengan mobil. Bukit ini menyimpan memori perjuangan Kesultanan Selangor di Melayu. Tiba di kaki Bukit Malawati, kami berjalan menuju halte kereta. Untuk menuju puncak bukitnya, lebih nyaman jika menggunakan kereta wisata sambil berkeliling melihat rindang dan indahnya setiap sisi bukit Malawati. Untuk naik kereta menuju puncak bukit dikenakan biaya tiket sebesar 4 RM per orang. Pengunjung tempat ini lumayan ramai berasal dari lokal maupun mancanegara.

Sesampainya di atas bukit, kami disambut oleh sekumpulan kera dan senjata meriam yang berjejer rapi di tepi bukit. Dari puncak bukit Malawati ini tampak dengan jelas hamparan Selat Malaka yang indah. Dari bukit inilah prajurit mengawasi kapal-kapal yang berlayar memasuki wilayah Selangor melalui Selat Malaka di masa lampau. Wisata Bukit Malawati ini menyajikan museum Sejarah Daerah Kuala Selangor. Museum ini berisi cerita dan beberapa peninggalan sejarah berdirinya Selangor. Satu hal yang membuat kami tertarik menelusuri lebih dalam dari Museum ini adalah komponen sejarahnya sangat lekat dengan Bugis. Mulai dari sejarah masuknya Bugis di Sealangor, senjata dan pakaian perang khas Bugis, kerajinan tangan dan silsilah raja Selangor yang berasal dari Bugis terpampang besar di dalam. Sungguh membuat kami merasa haru mengunjungi museum ini. Cerita tentang Museum ini akan dikupas dalam satu bahasan khusus tentang Bugis di Selangor pada kesempatan yang lain.

Setelah naik Bukit Malawati, selanjutnya Tim Lontara Project turun bukit. Menuju ke tempat wisata penghujung hari pertama. Tempat yang kami kunjungi ini sangat unik. Nama tempat wisatanya adalah Pelancongan Kelap-kelip, terletak di Kampong Kuantan. Kami tiba di tempat ini sekitar pukul 5 sore waktu Malaysia. Artinya kami harus menunggu sekitar 2 jam lagi agar bisa menikmati wisata Kelap-kelip ini. Wisata ini Cuma bisa dinikmati di malam hari karena inti dari wisata ini adalah menikmati indahnya kelap-kelip (nama hewan sejenis kunang-kunang tapi agak kecil) yang melimpah di pepohonan sepanjang sungai Kuantan. Dalam wisata ini, kami menaiki sampan ditemani oleh pengayuh sampan. Kelap-kelip hewan yang memenuhi pepohonan sepanjang sungai Kuantan bagaikan kelap-kelip bintang saat memenuhi langit di malam hari. Sungguh pemandangan yang indah, kegembiraan bertambah di atas sampan saat Si Pengayuh membawa sampan menuju ke pepohonan dan kami meletakkan hewan kelap-kelip itu di telapak tangan. Perjalanan menikmati kelap kelip di atas sampan tak terasa sudah 20 menit. Perjalanan singkat nan indah itu mampu membayar kegundahan kami menunggu selama 2 jam untuk menikmati wisata ini.

Wisata “Kelip-Kelip” di Kampung Kuantan

Akhirnya kami beranjak dari Kampong Kuantan menuju ke rumah untuk melepas lelah seharian melancong di Selangor. Perjalanan di hari pertama ini sungguh sangat berkesan. Lelah dibayar dengan hal-hal yang menarik. Khasanah pengetahuan kami sedikit bertambah tentang apa yang kami kunjungi. Tak hanya saat mengamati hal-hal baru di museum, tapi saat berdiskusi di perjalanan mengunjungi setiap tempat adalah momen yang menjadi bagian penting memperoleh informasi dan pengetahuan terkait misi dari tim Lontara Project. Berkat bantuan dari Abang Zahamri di hari pertama, kami bisa menikmati perjalanan pengetahuan tentang negeri ini. Kesan hari pertama sangat indah dan menyenangkan. Seindah cinta di selat Malaka, seharu kasih kepada Shah Alam dan Semegah paras Mesjid Biru.

 

Muhammad Ulil Ahsan Arif, Ketua Perhimpunan Mahasiswa Peduli Pangan Indonesia (HMPPI). Pemuda asal Sengkang ini punya cita-cita yang mulia untuk melestarikan budaya sekaligus mengkampanyekan semangat kesadaran atas isu-isu ketahanan pangan nasional. Dirinya yang masih duduk di semester enam Universitas Mercu Buana Yogyakarta ini amat multitalenta; Ia dapat memainkan beragam alat musik daerah mulai dari kitoka, suling, hingga puik-puik. Kenali Ulil lebih lanjut dengan mengunjungi blog pribadinya di http://ulilahsan.wordpress.com/

Categories
101 La Galigo Liputan

Keris Bugis, Menginspirasi Keragaman Nusantara

Sekitar jam 10 pagi, saya dan Fitria menyelinap keluar dari Wisma Handayani di Jalan RS Fatmawati Jakarta Selatan untuk mencari taksi ke arah Jakarta Pusat. Sejak kemarin kami menginap di wisma tersebut guna membantu proses seleksi tahunan pertukaran pelajar ke Amerika Serikat di bawah program Youth Exchange and Study (disingkat YES). Suatu kehormatan bagi kami berdua yang terhitung alumni YES untuk dapat sedikit bantu-bantu demi keberlanjutan program ini. Nah, kebetulan di tengah-tengah waktu kosong Seleksi YES ada pameran Keris Bugis dan Serumpunnya sekaligus launching buku “Senjata Pusaka Bugis” di Bentara Budaya Kompas. Keris Bugis? Hmm… Produk kebudayaan yang jarang diekspos media. Kesempatan lowong yang cuma sebentar itu jelas tidak akan saya sia-siakan untuk menggali dan mendapatkan informasi lebih dalam lagi.

Sesampainya di Bentara Budaya, kami bertemu dengan Diku, salah seorang rekan yang masih berstatus sebagai mahasiswi di FISIPOL Universitas Indonesia. Dia juga berasal dari Makassar (meskipun berdarah murni Jawa) semangat ke-Sulawesi Selatan-an Diku tak ada bandingannya. Kami berkeliling di sayap kanan galeri Bentara Budaya yang ternyata digunakan sebagai tempat kolektor-kolektor keris nusantara memamerkan atau menjual koleksi keris mereka. Kami mendapatkan banyak informasi berharga tentang dunia perkerisan dari pengalaman orang-orang yang berkecimpung langsung di dalamnya. Salah satu info menarik yang kami dapatkan adalah metode awam untuk membedakan pamor yang terbuat dari besi meteor (bintang jatuh) dan pamor yang terbuat dari besi biasa. Keris yang pamornya berasal dari batu meteor umumnya memiliki corak-corak khas, corak alami yang tidak dapat dibuat oleh manusia. Keris dengan pamor dari besi meteor dipercaya lebih kuat dan memiliki daya magis. Selain itu, kami juga diajari bagaimana cara mengeluarkan keris yang benar, membedakan jenis keris Jawa dengan keris dari daerah lainnya, menentukan periodesasi keris berdasarkan ornamennya (dengan memperhatikan unsur Hindu-Buddha atau Islam yang terpatri di hulu keris), dan memaknai hiasan warangka (sarung keris) yang ternyata disesuaikan dengan karakter pemiliknya.

Berdasarkan wawancara singkat yang kami lakukan dengan para kolektor, keris-keris tersebut kebanyakan mereka dapat sebagai warisan (turun-temurun), pemberian, melalui jual-beli, hingga tukar-menukar. Harga keris yang mereka jual berkisar antara satu juta hingga milyaran rupiah. Masing-masing keris memiliki ceritanya sendiri; ada yang berharga karena bahan pembuatannya dan ada pula yang begitu mahal karena kesejarahan yang tersimpan bersamanya. Kalangan kolektor keris sendiri terbagi menjadi dua golongan: para pribadi penikmat estetika dan nilai historis keris secara rasional, dan mereka yang mengultuskan keris karena mempercayai nilai-nilai mistis di dalamnya. Kedua golongan sama-sama menghormati budaya adiluhung warisan leluhur bangsa kita ini dengan caranya masing-masing.

ritual bissu maggiri’

Setelah puas melihat-lihat dan berbincang-bincang dengan para kolektor keris, kami pun masuk ke galeri utama, tempat pameran Keris Bugis yang sebenarnya diselenggarakan. Sebuah miniatur perahu pinisi dipamerkan di dekat pintu masuk. Jantung kami berdesir, bangga sekaligus kagum menyaksikan tulisan Pinisi Nusantara pada miniatur milik Kompas yang digarap megah itu. Gantungan ornamen berwarna keemasan yang biasanya muncul pada pernikahan etnis Bugis-Makassar digantung menghiasi tembok ruang pameran. Alunan musik khas Sulawesi Selatan yang diputar lirih mengalun-ngalun merdu, mengantar imajinasi para pengunjung berlayar ke provinsi penghasil coklat terbesar di Indonesia itu. Beberapa foto berukuran poster yang mengambarkan pamor-pamor khas suku Bugis dipajang di berbagai penjuru ruangan.

Selama ini keris identik dengan senjata tradisional Jawa yang bertuah. Keris berbeda dengan pedang, dari ukurannya saja keris jauh lebih kecil. Keris juga memiliki luk (lekukan-lekukan berjumlah tertentu) yang menjadi identifier senjata ini. Alangkah mengejutkannya ketika stereotipe “budaya keris = budaya Jawa” itu patah melalui pameran ini. Berpuluh-puluh keris Bugis, alameng, dan badik berjejer rapi di dalam kotak-kotak kac. Kami disambut oleh sebuah poster besar yang menggambarkan bissu (pendeta transgender Bugis kuno) di tengah prosesi maggiri’Maggiri’ merupakan ritual ketika bissu dipercaya sedang mengalami kontak dengan arwah leluhur atau Dewata di kahyangan. Pada saat seperti itu para bissu tidak sadarkan diri dan tubuh mereka menjadi kebal terhadap senjata tajam. Meskipun mereka menusuk-nusuk diri dengan gajang (keris) tidak ada setetes darah pun yang menetes atau segaris kulit pun yang tersobek!

Berdasarkan pengamatan kami selama berkeliling, kebanyakan keris yang dipamerkan merupakan koleksi-koleksi dari orang perorangan atau dari Polo Bessi Club. Polo Bessi Club merupakan sebuah klub pecinta Keris Bugis yang banyak melakukan diskusi mengenai sejarah maupun perkembangan senjata berseni ini. Ada beberapa perbedaan fisik antara Keris Bugis dan Keris Jawa yang kami catat. Pertama, dari jenis warangkanya. Keris Jawa memiliki model warangka sendiri, sedangkan warangka Keris Bugis mirip dengan warangka Keris Melayu. Keris Melayu dan Sumbawa banyak dipengaruhi oleh unsur Bugis dikarenakan kuatnya budaya yang dibawa oleh para pedagang asal Sulawesi Selatan ke wilayah-wilayah tersebut pada abad ke-18. Kami bahkan sempat bertemu dengan beberapa orang pria asal Malaysia yang sengaja datang jauh-jauh hanya untuk melihat-lihat pameran ini. Kedua, pada bagian hulu Keris Bugis, garis pangkalnya sedikit miring. Ini berbeda dengan hulu Keris Jawa yang pada umumnya bergaris pangkal lurus. Ketiga, gandik atau pegangan pada keris Bugis jauh lebih bengkok daripada keris Jawa. Gandik keris Bugis hampir membentuk huruf “L”. Perbedaan yang terakhir, Keris Bugis memiliki beberapa pamor-pamor khusus yang tidak terdapat pada keris-keris Jawa.

Perbedaan Keris Bugis dan Keris Jawa

Pada dasarnya Keris Bugis dan Keris Jawa amatlah mirip. Hanya saja pada beberapa keris Bugis,luk-nya tidak begitu kentara (malah ada gajang yang bentuknya lurus, hampir mirip badik). Beda lagi dengan alameng. Alameng Luwu terkenal sebagai senjata yang secara fisik mirip pedang panjang berwarna hitam. Sepintas ada kesan seram ketika melihat bentuknya yang lurus, tajam, dan berkilat-kilat itu. Sedangkan untuk badik (di Luwu disebut dengan nama kawali), senjata yang satu ini masih populer di kalangan masyarakat Sulawesi Selatan. Bentuk pegangan badik mempunyai ciri tersendiri, demikian pula dengan alur besinya yang berpangkal ramping (Makassar: bilah), “menggendut” di tengah (battang), lalu kembali meruncing di ujungnya (cappaq). Di daerah-daerah tertentu  ketiga senjata tersebut terkadang berbeda dari bentuk umumnya. Hal ini disebabkan karena adanya proses interaksi yang menimbulkan akulturasi dan asimilasi kebudayaan Sulawesi Selatan dengan kebudayaan suku bangsa lain di nusantara selama berabad-abad.

pamor langka pada bilah keris

Iwan Sumantri, seorang arkeolog Universitas Hasanuddin yang menulis buku berjudul “Kedatuan Luwu” mengungkap sebuah fakta yang mencengangkan perihal Keris Bugis. Luwu ternyata sudah dikenal sejak zaman Majapahit. Terbukti dari penyebutan nama “kota Luwu” dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca (Pupuh 14/4). Terlepas dari kontroversi mengenai keabsahan kekaisaran Majapahit dalam memancangkan kedaulatannya di bumi Sulawesi, Luwu dikenal sebagai pemasok besi pamor berkualitas tinggi ke Tanah Jawa. Seorang tokoh bernama Mpu Luwuk tercatat dalam sejarah Majapahit sebagai pembuat keris terbaik di seantero Wilwatikta. Berdasarkan penelitian, daerah di sekitar Danau Matano, kabupaten Luwu mengandung bijih besi dan nikel dengan jumlah yang sangat besar.

Di sekitar lokasi danau tersebut kini banyak ditemukan titik-titik bekas pembakaran dan peleburan besi yang menyisakan tanah-tanah gosong. Kala itu, bahan baku besi yang mengandung nikel di bawa ke Ussu (ibukota Kedatuan Luwu) untuk kemudian diolah menjadi berbagai macam peralatan. Salah satunya yang paling terkenal dan menjadi komoditas perdagangan utama orang Luwu dengan Majapahit adalah keris. Menurut cerita, keris-keris yang berpamor besi dari Luwu ini memiliki ketajaman yang luarbiasa. Lambang Daerah Luwu hingga hari ini pun masih menyertakan sebilah keris yang dipercaya oleh penduduk sebagai Keris Bungawari. Keris Bungawari merupakan arayang atau benda pusaka yang turun dari langit untuk raja-raja Luwu. Sayangnya, sekarang keris tersebut telah hilang. Menurut cerita yang beredar, keris tersebut diambil oleh kompeni dan dibawa ke negri Belanda.

Bagaimana kaitan senjata keris dengan La Galigo? Sureq Galigo menceritakan episode kelahiran Sawerigading dan saudari kembarnya We Tanri Abeng dari rahim We Datu Sengngeng dengan amat menakjubkan. Setelah tujuh hari lamanya We Datu Sengngeng mengejan rahim untuk mengeluarkan kedua bayi kembar itu, Sawerigading muncul dengan berpakaian perang lengkap dan bermahkota. Sawerigading terlahir sambil membawa sebilah keris emas pusaka dari Datu PatotoE, Sang Penguasa Langit. Keris emas tersebut merupakan simbol legitimasi atas darah Tomanurung yang Ia warisi dari Batara Guru. Penggunaan keris sebagai senjata juga tergambar di berbagai adegan pertempuran La Galigo. Istilah Bessi to Ussu yang disebut berulang kali dalam teks kuno tersebut turut menjadi saksi atas kemashyuran lokasi geografis pembuatannya.

Keris Bugis memiliki tempat tersendiri di khazanah kebudayaan bangsa Indonesia. Senjata ini berevolusi bersama dengan perkembangan zaman. Senjata ini juga mempengaruhi perkembangan alat tempur sejenis di Jawa, Malaysia, Thailand Selatan, Riau, Bali dan Sumbawa. Keris Bugis yang menyimpan makna historis dan filosofis ini adalah warisan yang perlu digali lebih dalam lagi. Sebagai sebuah adikarya masyarakat Bugis, keris-keris tersebut memberikan sumbangsih yang memperkaya keragaman persenjataan di nusantara kuna. Sebagai sebuah artefak, keris-keris Bugis di pameran itu telah sukses menjayakan kembali masa lampau di tengah bisingnya kehidupan kota Jakarta.