Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Perang Gerilya Kita yang Nomer Satu?

Pagi ini di kelas Hukum Pidana Khusus saya mendapat informasi menarik tentang betapa hebatnya Indonesia “di masa lalu”. Seperti biasa, bahasan-bahasan mengenai local wisdom maupun fakta-fakta mengagumkan yang menjadi prestasi bangsa ini di era yang telah lampau selalu dapat menstimulus saya dengan berbagai inspirasi maupun optimisme akan masa yang akan datang, meskipun pada saat yang bersamaan juga membuat saya miris dengan keadaan di masa sekarang. Kali ini, kisah yang Ia tuturkan merefresh memori saya akan sejarah dan tokoh nusantara yang mewarnai dunia secara global hingga ke zaman modern ini.

Di sela-sela bahasan beliau mengenai Genosida, Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, dan Kejahatan Perang, dosen saya memberikan intermezzo. Alkisah, jagoannya pertempuran laut di dunia ini pasca WWII adalah Inggris dan Uni Soviet. Negara lain hampir tidak ada yang bisa memenangkan pertempuran jika berhadapan dengan mereka. Adapun jagoan pertempuran udara ialah Amerika Serikat dan Prancis. Jangan ditanya, Paman Sam memang memegang teknologi udara militer yang paling canggih di abad ini. Pesawat Siluman merupakan salah satu inovasi mereka yang dapat masuk ke area musuh tanpa terbaca radar. Yang terakhir inilah yang mengejutkan. Siapakah jagoan perang di darat? Jawabannya ialah Jerman dan Indonesia.

Jerman dengan teknologi tempur, strategi militer yang kuat, dan otot-otot pasukan bangsa Arya yang terlatih memang pantas berulang kali memenangi pertempuran darat di benua Eropa. Satu per satu daerah terbuka maupun kota takluk di hadapan bala tentara Hitler. Tapi, Indonesia? Benarkah negara yang sekarang ini tengah dilanda krisis sosial, korupsi yang mengakar di pemerintahannya, serta pesawat militer maupun komersil yang terus menerus jatuh layak menjadi jagoan pertempuran darat? Sekali lagi, kita bicara dalam konteks “masa lalu.”

Jerman, mempelajari banyak literatur kuno dari berbagai bangsa di Eropa demi menyempurnakan strategi perang mereka. Salah satu yang mereka perhatikan dengan seksama ialah dokumentasi perang kerajaan Belanda dengan golongan pemberontak pribumi di Dutch East Indies alias Hindia Belanda. Bagi bangsa Belanda, menjajah Indonesia selama 300 tahun lebih itu bukannya tanpa biaya. Bangsa timur yang barbar itu dalam pandangan mereka merupakan budak sekaligus musuh yang paling berbahaya. Ambil contoh De Java Orloog atau Perang Diponegoro yang terjadi selama 5 tahun (1825-1830). Perang tersebut menurut sumber Belanda menjadi perang termahal yang pernah dihadapi oleh pemerintah kolonial Eropa di wilayah jajahannya.

Perang mengambil tempat di seluruh daratan, di daerah kota maupun desa-desa yang jarang penduduknya. Belanda mengandalkan formasi pasukan ala Napoleon Bonaparte yang saat itu sedang ngetrend si Eropa. Ada barisan infanteri, kavaleri, dan artileri, pasukan dipecah menjadi 3 unit dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Perang tersebut berlangsung sengit dan sempat membuat pihak Belanda frustasi. Bayangkan saja, daerah yang telah mati-matian mereka taklukkan pada siang hari, di malam hari sudah berhasil direbut kembali oleh pasukan pribumi melalui aksi gerilya mereka. Masyarakat pribumi yang dipimpin oleh para senopati dengan pendidikan mereka yang tradisional mampu memanfaatkan medan pertempuran dan keadaan cuaca sehingga dapat berulang kali membuat kondisi tentara Belanda terpuruk, tidak hanya oleh serangan fisik namun juga oleh serangan hujan tropis maupun penyakit musiman.

Kondisi pertempuran menjadi benar-benar mengerikan ketika untuk pertama kalinya di pulau kecil seperti Jawa, Belanda menurunkan 23.000 orang personil. Inilah perang pertama yang dicatat dalam sejarah sebagai perang modern, karena menggunakan segala taktik kemiliteran yang kita ketahui di masa sekarang ini. Usaha-usaha seperti perang terbuka maupun serangan gerilya hingga telik sandi dilakukan dalam perang ini, menjadi cikal bakal unsur-unsur perang modern. Dunia menyaksikan bahwa setelah ribuan penduduk sipil meninggal dan ribuan tentara Belanda tewas di medan laga, akhirnya Pangeran Diponegoro dapat ditaklukkan. Namun sejak hari itu, dunia melihat nusantara dengan perspektif yang berbeda. Nusantara menjadi daerah yang ditakuti karena kegigihan rakyat pribumi serta kemahiran mereka menjalankan serangan darat yang diam-diam, cepat, dan mematikan.

Tidak hanya di Jawa, namun perang yang terjadi di daerah Indonesia Timur seperti Makassar pun membuat Belanda kecut. Sebuah catatan mengenai peristiwa yang terjadi pada tanggal 8 Agustus 1668 menjadi rekaman pahit Belanda ketika berhadapan dengan Kerajaan Gowa. Ketika itu, pasukan Belanda memasuki pelabuhan dan mendekati daerah Somba Opu yang terletak di pinggir pantai. Masyarakat yang tinggal di sekitar situ pun berteriak-teriak siap menyambut kedatangan para penjajah. Mereka menantang dengan gagah berani, sehingga membuat pasukan Belanda yang membawa mesiu dan senjata api gentar menyaksikan semangat pribumi Makassar. Catatan tersebut kemudian bercerita bahwa pertempuran berlangsung amat dahsyat dan mengerikan, bahkan konon “als crijgers van hoogen ouderdom mischien in Europa selve niet dickwiljs gehoort hebben”  (prajurit-prajurit yang sudah lanjut usianya di Eropa sekalipun tidak pernah mendengarkannya).

Cornelis Speelman yang saat itu menjabat sebagai panglima tinggi Belanda pun mengakui bahwa perlawanan tersebut merupakan yang paling hebat yang pernah Ia temui selama menjalankan misi di nusantara. Saking mengerikannya pertempuran tersebut, sampai-sampai pihak Belanda memberikan salutation kepada pemimpin kerajaan Gowa saat itu, Sultan Hasanuddin, dengan gelar“Haantje van het Oosten” alias Si Ayam Jantan dari Timur. Menurut Nasarudin Koro, seorang mantan diplomat sekaligus penulis buku sejarah Makassar, salah satu pendukung kuatnya barisan Makassar saat itu adalah keberadaan para putra Wajo yang jago bertempur di laut, pasukan Melayu, serta putra-putra Mandar yang punya reputasi sebagai penembak meriam nan jitu. Pada masa itu memang kerajaan Gowa bersekutu dengan kerajaan Wajo dan federasi Mandar di utara. Salah satu penembak meriam yang disegani Belanda dari Mandar ialah Daenna Dollah. Kehebatan Daenna Dollah membuat Ia juga dipanggil oleh Sultan Ternate untuk menghadapi Belanda. Saking terkenalnya, tentara Belanda sambil berdecak kagum berkata: “Hij is een goed kanonneer”.

Selain di Makassar, pertempuran habis-habisan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar dan Cut Nyak Dien juga mengilhami pasukan Jerman saat Perang Dunia II. Taktik bumi hangus yang Jerman lakukan sebenarnya  mereka tiru dari catatan Belanda ketika berhadapan dengan rakyat Aceh ini. Saat itu Belanda menganggap rakyat Aceh sebagai momok, mereka ketakutan dengan kekuatan armada laut Aceh yang mereka sebut sebagai “bajak laut nan beringas.” Semangat tempur rakyat Aceh dalam perang habis-habisan membela bangsa dan agama ini terekam abadi dalam nyanyian pengantar tidur berjudul “Dodaidi” yang iramanya mendayu-dayu namun liriknya begitu tajam.

Terakhir, dosen saya menutup ceritanya dengan kutipan dari pidato salah satu petinggi militer Amerika Serikat untuk Perang Vietnam:

“apabila yang kita hadapi di Vietnam adalah para pasukan guerilla Indonesia, maka nasib kita tidak akan sebaik sebagaimana yang kita alami pada hari ini.” Nama Abdul Haris Nasution pun Ia sebutkan sebagai seorang pria asal Republik Indonesia yang telah memberikan sumbangsih bagi dunia pertempuran militer di darat. Buku Jendral Nasution yang berjudul Fundamentals of Guerilla Warfare (terbit tahun 1965 di New York) would become one of the most studied books on guerrilla warfare along with Mao Zedong’s works on the same subject matter (Emmet McElhatton: 2008).

Tidak hanya mengulas hingga menciptakan metode perang gerilya, beliau juga bahkan membuat ‘anti-virus’ atau tangkisan bagi pihak yang menghadapi perang gerilya. Ia menjadi seorang ahli strategi perang dari Indonesia serta peletak dasar atas perang gerilya.

Itu cerita dulu, kawan-kawan, dan prestasi dari bapak-bapak kita yang telah meninggal. Terlepas dari benar tidaknya cerita beliau, fakta punya versinya sendiri. Yang jadi soalan sekarang, masih sanggupkah kita meneruskan jejak mereka dan menomorsatu-kan kembali Indonesia di mata dunia?

Categories
101 La Galigo Featured Galigoku Liputan

Batik Lasem, Akulturasi Tionghoa dan Jawa

Lasem adalah sebuah kecamatan yang terletak di Pantai Utara Pulau Jawa, lebih tepatnya di Kabupaten Rembang. Kota ini dikenal dengan sebutan “Little Tiongkok”. Hal ini dapat dilihat dari bangunan bangunan tua yang berada di daerah ini. Detail-detail pada bangunan-bangunan tersebut didominasi oleh arsitektur  Cina. Selain di kenal dengan nama Little Tiongkok, Lasem ini juga di kenal dengan batiknya.

Batik lasem terkenal karena keunikan motif dan coraknya. Pada batik Lasem ini kamu dapat menyaksikan akulturasi antara kebudayaan Jawa dan Cina. Menurut sejarah, batik pertama kali dikenal di Lasem melalui seorang anak buah kapal Laksamana Cheng Ho yang bernama Bi Nang Un dengan isteri yang bernama Ibu Na Li Ni. Mereka datang ke Lasem  pada tahun 1400-an. Keduanya menetap di daerah Jolotundo. Bi Nang Un adalah seorang ahli bertukang, terutama dalam membuat  kerajinan dari tembaga dan ukiran. Sedangkan istrinya, ibu Na Li Ni, menularkan seni penulisan di atas kain menjadi seni tulis batik. Dahulunya seni lukis batik ini sudah ada di Jawa, jauh sebelum kedatangan kedua tokoh tersebut, namun karena sifatnya yang tidak komersil maka batik belum terlalu dikenal.

Batik di Lasem mulai kedengaran gaungnya setelah kedatangan saudagar minuman keras dari Tiongkok pada tahun 1600-an, Pengusaha dari Tiongkok ini adalah seorang ahli gambar dan ahli kaligrafi, dialah  yang memberikan gambar-gambar motif China ke dalam batik Lasem.

Batik Lasem merupakan batik pesisir. Hal ini dikarenakan secara geografis  letaknya berada di pesisir. Pada zaman dahulu. kota yang berada di  pesisir Utara Pulau Jawa adalah kota kota pelabuhan yang besar. Di kota kota pelabuhan ini, akulturasi antara masyarakat pribumi dan para pedagang yang berasal dari negara-negara asing dengan mudahnya  terjadi. Berhubung pedagang dari Cina yang mendominasi kehidupan komersil di Lasem, maka pengaruh  budaya Cina dengan mudah bisa kita temui di batik Lasem ini. Hal ini bisa dilihat dari motif motif yang ada pada batik Lasem tersebut seperti: motif bambu, bunga  seruni, bunga teratai, motif kelelawar (bien fu), Naga dan Burung Pheonix (Burung Hon)  adalah beberapa dari sekian banyak motif batik yang ada.

Karena motif Tionghoa inilah maka batik Lasem berbeda dengan batik Forstenlanden. Fostenlanden ini adalah batik dengan  motif kerajaan. Seperti batik yang berasal dari Solo, Yogyakarta ,Banyumas, dan Wonogiri. Motif batik ini bersifat geometris. Pada zaman Belanda, Lasem merupakan lima besar daerah penghasil batik. Lima besar itu antara lain Solo, Yogya, Pekalongan, Banyumas, dan Lasem. Bahkan pada zaman dahulu, batik dari Lasem ini merambah beberapa daerah di Indonesia, seperti Manado, Sumatera bahkan sampai ke Malaysia, Singapura, Brunei dan Suriname. Kepopuleran batik Lasem di Suriname ini dibawa oleh orang-orang Jawa yang bekerja untuk Belanda.

Selain pencampuran motif  dari Cina, di Lasem ini terdapat motif khas lainnya yaitu motif Latoan dan Batu Pecah/Kricak. Latoan merupakan tanaman khas yang banyak terdapat di sekitar pantai yang dapat dimakan sebagai urap. Karena banyak terdapat  di Lasem maka motif ini digunakan sebagai motif batik. Selain  latoan, terdapat motif batu pecah, motif ini memiliki nilai sejarah. Pada zaman dahulu, pada saat Gubernur Jenderal Daendels membuat jalan dari Anyer sampai dengan Panurukan sepanjang 1000 km, para Bupati diminta menyerahkan para pemuda sebagai pekerja paksa mereka.  Mereka berfungsi sebagai tenaga kerja pemecah batu.  Pada  zaman tersebut penyakit epidemik seperti malaria dan infulensa mewabah menyerang Rembang. Banyak korban berjatuhan di Rembang dan Lasem. Dampak peristiwa tersebut adalah kesedihan mendalam bagi masyarakat Lasem. Kesedihan ini lalu dicitrakan dalam bentuk motif batu pecah. Keindahan motif ini membuat daerah lain menirunya juga.

Warna khas dari batik Lasem ini adalah  warna merah darah (getih pitik) ayam, hijau botol bir dan warna biru tua. Selain itu, batik Lasem juga dikenal dengan sebutan “Batik Tiga Negeri.” Sebutan ini didapatkan dari  proses pewarnaan batik. Terdapat tiga kali proses pewarnaan dalam pembuatan Batik Lasem ini.

Proses- proses itu diawali oleh pewarnaan  merah, lalu dimasukkan klorotan agar lilin nya hilang, dicampur dengan  tanah, lalu dimasukkan ke dalam pewarna  biru dan yang terakhir adalah warna  coklat. Semua proses tersebut dilakukan dalam satu rumah. Secara istilah, Batik Tiga Negeri itu, warna merahnya dari Lasem, biru dari Pekalongan dan Coklat (soga) berasal dari Solo.

Selain motif-motif tradisional di Lasem, sekarang berkambang motif baru pada batik Lasem. Motif ini dikembangkan oleh sesepuh masyarakat Tionghoa yang bernama Sigit Wicaksono yang  memiliki nama China  Nyo Tjen Hian . Beliau  seorang pengusaha Batik yang  bermerek Batik Sekar Kencana. Beliau sekarang berumur 84 tahun.

Beliau mengembangkan  motif  baru yang menggunakan huruf Tionghoa. Proses penciptaan motif ini adalah  pada saat malam tahun baru China. Dalam perenungannya, beliau mendapatkan semacam ilham untuk  membuat motif yang baru dalam batik. Akhir dari proses perenungan ini lahirlah motif baru. Motif ini berupa kata-kata mutiara dalam aksara  Cina, filosofi yang  terkandung di dalam motif ini adalah empat penjuru samudera semuanya adalah sama; bakti anak terhadap orang tua murid kepada guru, dan rakyat kepada pemerintah. Agar bisa bergabung  dengan filosofi Jawa,  beliau menuliskan motif ini ke dalam sebuah batik yang bermotifkan Sekar Jagat. Sekar jagat itu sendiri artinya adalah Bunga Dunia.

Selain itu beliau juga menciptakan motif dengan tulisan Tinghoa Hek Sia Ping An Wang Se Ruk I yang artinya “seisi rumah sentosa segala macam usaha seusai dengan apa yang dikehendaki”. Masih  ada beberapa motif batik bertuliskan filosofi Tionghoa lain yang beliau ciptakan. Awalnya beliau ragu dengan motif ini. Apakah bisa di terima di masyarakat apa tidak. Namun, pada saat pameran batik di Rembang, sambutan yang sangat meriahlah yang beliau dapatkan. Sekarang batik ini laku keras.

Batik Lasem dapat dikatakan sebagai bukti akulturasi antara masyarakat Cina dan Pribumi. Proses ini sudah berlangsung ratusan tahun dan karena akulturasi nya ini lah maka batik Lasem dikatakan batik yang unik.

 

Bayu Amde Winata, pria kelahiran Pekanbaru, Riau ini sekarang berdomisili di Yogyakarta. Kegemaran menulisnya tersalurkan dengan menjadi kontributor di Majalah Digital infobackpacker.com dan Lontara Project. Ingin kenal lebih jauh dengan Bayu? Ia dapat dihubungi via email di winatabayu@ymail.com

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Fashion of Keraton Nusantara Part – II

Lanjutan dari Fashion of Keraton Nusantara Part – I

Apa jadinya ketika putri-putri yang hidup dalam dongeng dan cerita rakyat tiba-tiba muncul ke dunia nyata dan berlenggak-lenggok di atas catwalk bak supermodel? Bagaimana jika Roro Ireng dari era pewarangan, Roro Jonggrang dari zaman Mataram Hindu bertemu dengan Nyi Blorong dan Nyi Roro Kidul dari era kerajaan Jawa Pertengahan? Itulah yang terjadi di Jogja Fashion Week 2010. Kreatifitas berpadu selera seni yang tinggi telah berhasil menghidupkan kembali putri-putri dari negeri dongeng ini kehadapan kita semua! Penasaran? Yuk, simak ceritanya berikut ini!

RORO IRENG

Sobat Lontara tentunya kenal dengan tokoh dalam pewayangan Purwa yang bernama Wara Sumbadra kan? Istri Arjuna, Sang Panengah Pandawa ini konon kecantikannya merupakan setengah dari kecantikan kaum Hawa itu sendiri! Saking cantiknya, tak heran ia menjadi rebutan banyak ksatria dan bangsa raksasa, seperti Burisrawa. Konon, sebelum menjadi luarbiasa cantik, Sumbadra terlahir dengan kulit hitam legam dan rambut ikal. Ia sering diejek dengan sebutan Roro Ireng alias “The Black Lady“. Akan tetapi seiring dengan berjalannya waktu, Roro Ireng tumbuh menjadi wanita yang cantik, anggun dan elegan. Kesantunan, kelemah-lembutan serta kesetiaannya lah yang membuat lelaki playboy setaraf Arjuna jatuh cinta!

Kali ini Roro Ireng tampil dengan busana hitam nan megah. Gaunnya yang luarbiasa besar itu (harus diangkat oleh dua orang setiap kali dia berjalan!) dibuat bergelombang-gelombang kecil, selintas mengingatkan kita akan “wedhus gembel” gunung Merapi. Meskipun di wajahnya banyak diberi hiasan kehitam-hitaman (face painting) seperti jelaga akan tetapi kesan elegan serta menawan tidak jauh darinya. Kulit modelnya yang sawo matang pun menambah keeksotisan sosok yang ia bawakan ini. Siapa bilang item itu kurang menarik? Kalau kata Malcolm X dulu sih black is beautiful!

NYI RORO KIDUL

Nyi Roro Kidul adalah sosok perempuan yang paling misterius dalam dunia gaib tanah air. Ia ditakuti sekaligus dicintai oleh masyarakat yang tinggal di pesisir selatan Pulau Jawa. Konon dulunya ia adalah seorang wanita yang gemar bertapa dan mendapatkan kesaktian luarbiasa. Ia tidak ingin menikah dengan pangeran-pangeran yang melamarnya, maka demi menghindari keramaian dunia, ia memutuskan untuk pergi ke pantai selatan dan bertapa di sana. Di pesisir itulah ia menjadi penguasa segala jenis lelembut dan makhluk-makhluk halus lainnya.

Nyi Roro Kidul berperan penting dalam suksesi kepemimpinan di Tanah Jawa. Tanpa restu darinya, niscaya Panembahan Senopati (pendiri kerajaan Mataram yang berarti merupakan kakek moyang dari bangsawan-bangsawan Yogya dan Solo pada hari ini) tidak akan dapat mendirikan kerajaannya sendiri. Bantuan oleh makhluk gaib sebagai restu atas kedaulatan seorang raja banyak ditemukan di dalam mitos-mitos Jawa klasik.

Di pagelaran fashion ini, Nyi Roro Kidul tampil dengan busana Jawa tradisional yang dimodifikasi. Tentu saja, warnanya hijau. Konon menurut mitos masyarakat yang tinggal di pesisir selatan, warna hijau merupakan warna milik sang ratu. Hijau ini kadang-kadang dihubung-hubungkan pula dengan warna ular gadung  (ular berwarna hijau yang merupakan salah satu endemik Pulau Jawa), warna zamrud lautan, dan bahkan hingga warna pakaian Retno Dumilah, istri Panembahan Senopati yang konon membuat cemburu sang penguasa laut selatan. Hiasan rambutnya selintas mengingatkan kita akan hiasan rambut yang biasa dipakai oleh penari-penari Bali dalam Tari Pendet. Kalung bros bersusun tiga yang ia kenakan di dada biasanya dipakai juga oleh permaisuri-permaisuri dari keraton Yogya dan Solo sebagai lambang ketinggian derajat mereka. Cantik ya!

 

NYI BLORONG

Dalam kepercayaan Jawa, Nyi Blorong adalah seorang panglima bangsa lelembut yang berkuasa di Pantai Selatan. Nyi Blorong digambarkan berwujud seperti seorang perempuan cantik namun tubuh bagian bawahnya (dari pinggang hingga kaki) menyerupai ekor ular. Di kalangan pencari pesugihan, Nyi Blorong menjadi idola bagi kaum Adam. Konon setiap penyembahnya akan diberikan emas yang berasal dari sisik-sisik tubuhnya pasca mereka bercinta. Hiii… Ngeri juga ya! Nyi Blorong biasa mewujudkan diri dalam bentuk seorang wanita yang mengenakan perhiasan dan kebaya bersulam emas. Kecantikan Nyi Blorong akan semakin bertambah seiring dengan sempurnanya cahaya bulan purnama.

Sang desainer memilih warna emas kecoklatan sebagai perwujudan dari Nyi Blorong yang diperankan oleh gadis remaja untuk event ini. Mungkinkah inspirasinya datang dari warna sisik ular emas? Hmmm… bisa jadi. Pada rambut model yang disasak terdapat hiasan kepala berbentuk ular kobra bermata merah yang di atasnya terpancang dua batang dupa. Dua sayapnya (yang mungkin terinspirasi dari kepala kobra) terbuka lebar, memamerkan keanggunan. Di bagian belakang Sobat Lontara dapat menyaksikan ekor buatan yang terbuat dari kapuk dengan motif batik yang seakan-akan membentuk sisik ular. Pokoknya totalitas banget deh sang desainer!  Yang jelas Nyi Blorong yang satu ini jauh sekali dari kesan horor karena ia terus-menerus menabur senyum pada para penonton!

 

RORO JONGGRANG

Dikutuk menjadi batu tidak dapat menghentikan langkah putri dari kerajaan Ratu Boko ini untuk mengikuti Jogja Fashion Week! Yup, inilah dia Roro Jonggrang, sang putri cantik yang dikutuk menjadi batu pelengkap candi keseribu oleh Pangerang Bandung Bondowoso. Konon patung Dewi Durga yang berada di Candi Prambanan hari ini merupakan perwujudan dari sang putri yang dengan licik menolak lamaran sang pangeran dengan jalan membunyikan alu dan lesung demi mengusir makhluk-makhluk halus yang membantu pembangunan candi pada malam hari.

Roro Jonggrang tampil dengan hiasan rambut berwarna oranye yang luarbiasa tinggi! Kuku-kukunya yang panjang selintas mengingatkan kita akan hiasan kuku pada penari Lampung. Kulit modelnya dibuat hitam kusan, dengan beberapa aksen putih sehingga menimbulkan kesan seakan-akan dirinya terbuat dari batu. Pakaian yang ia kenakan terinspirasi dari desain pakaian Batari Durga, pakaian zaman Mataram Hindu (abad ke-8 Masehi). Nah, sang desainer berimprovisasi dengan menyematkan hiasan berbentuk seperti payung terkembang di punggung Roro Jonggrang. Hiasan tersebut kelihatannya menyimbolkan sayap, karena pola batik yang digunakan bercorak Mega Mendung atau awan-awanan. Kreatif!

 

Itulah tadi empat putri dalam dongeng-dongeng Jawa klasik yang dihidupkan kembali oleh kreatifitas desainer-desainer lokal Daerah  Istimewa Yogyakarta. Inspirasi bisa datang dari mana saja, bahkan dari cerita rakyat untuk anak-anak sekalipun! Apakah Sobat Lontara dari daerah lain mungkin termotivasi untuk melakukan hal yang sama? Melestarikan budaya itu amat menyenangkan lho!