Categories
101 La Galigo Featured Galigoku

HUSIN BIN ISMAIL: Cendekiawan Melayu-Bugis yang Terlupakan

Husin bin Ismail, nama yang jarang terdengar di kalangan dunia sastra Melayu. Tapi, tahukah Sobat Lontara, sastrawan klasik keturunan Bugis ini merupakan penyalin sekaligus pengarang naskah Melayu yang paling produktif di jamannya. Simak penuturan Prof. Nurhayati Rahman yang mencoba untuk menguak kisah maestro yang terlupakan ini…

Istana Sultan Malaka, Malaysia. Sumber: Wikipedia

Penyebaran etnis Melayu ke seluruh wilayah Nusantara terjadi karena dua faktor, pertama melalui perdagangan. Mereka berlayar dan mendatangi daerah-daerah pantai dan bandar-bandar niaga yang besar untuk berdagang. Dari daerah-daerah tersebut mereka juga membeli berbagai hasil bumi dan dibawa ke kampung halamannya. Kedua, melalui penyebaran agama Islam. Orang Melayu terkenal sebagai pemeluk agama Islam yang pertama di Nusantara. Mereka sangat kuat dan taat dalam menjalankan syariat agama. Suku bangsa ini pulalah yang telah melahirkan ulama-ulama besar yang kemudian menyebar ke pelosok-pelosok Nusantara untuk berdakwah dan menyebarkan Islam. Melalui kontak itulah mereka berhasil meng-Islamkan daerah-daerah tujuan mereka, termasuk meng-Islamkan kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan.

Puncak imigrasi terbesar orang Melayu terjadi saat runtuhnya kerajaan Malaka pada tahun 1511 yang ditandai oleh pendudukan Portugis di Malaka. Lalu pada tahun 1605 Malaka diblokade oleh Belanda yang menyebabkan banyak orang Melayu merantau ke pelosok Nusantara termasuk ke Sulawesi Selatan. Mula-mula mereka berimigrasi secara besar-besaran ke pelosok Nusantara lalu menetap dan membangun komunitas Melayu di rantau. Saat itulah terjadi kontak budaya secara intens antara orang Melayu dengan penduduk setempat.

Istana Tamalate Gowa, Sulawesi Selatan

Dalam catatan resmi kerajaan Gowa/Tallo, kronik Gowa menyebutkan bahwa orang-orang Melayu yang pertama datang ke Sulawesi Selatan adalah Nakhoda Bonang , yang datang pada tahun 1525 di bandar niaga Kerajaan Gowa. Mereka diberi tempat yang khusus oleh raja Gowa. Sejak saat itu, orang-orang Melayu mendapat kedudukan yang cukup istimewa dalam struktur Kerajaan Gowa. Berbagai jabatan yang berkaitan dengan urusan perniagaan dan urusan sekretariat kerajaan diurus oleh orang Melayu. Sejak saat itu pula, gelar-gelar seperti syahbandar, nakhoda (dalam Bugis dan Makassar disebut pabeang)  melengkapi kosa kata orang-orang Bugis dan Makassar.

Hubungan itu semakin intens setelah kedatangan tiga ulama besar dari negeri Melayu,  yaitu: Datok Ri Bandang (Abdul Makmur Khatib Tunggal), Datok Patimang (Sulaiman Khatib Sulung), dan Datok Di Tiro (Abdul Jawab Khatib Bungsu). Pada tanggal 22 September 1605 ketiga ulama ini berhasil mengislamkan dua kerajaan terbesar di Indonesia Timur itu, yaitu Raja Gowa I Mangerangi Daeng Manrabbiah dan Raja Tallo I Mallingkaang Daeng Mannyonri. Hari itu merupakan momen awal bagi ditetapkannya agama Islam sebagai agama resmi kerajaan Gowa dan Tallo yang selanjutnya menyebar ke berbagai kerajaan-kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan sampai di Indonesia Timur.

Ketika Belanda datang maka peranan orang Melayu semakin signifikan di tanah Bugis/Makassar. Ia menjadi perantara Belanda dengan raja-raja di Makassar berkat kepiawaiannya dalam bahasa, sastra dan kebudayaan Melayu, yang ketika itu menjadi lingua franca di Nusantara. Berbagai jabatan dalam struktur kerajaan Gowa/Tallo pun dipegang oleh orang Melayu termasuk jabatan sekertaris kerajaan.

***

Sementara itu penyebaran orang Bugis di Nusantara – termasuk ke Semenanjung Malaya – juga telah berlangsung cukup lama bahkan ratusan tahun yang lampau. Hal ini dibuktikan oleh banyaknya penyebutan Melayu di dalam naskah La Galigo, karya Bugis terpanjang di dunia yang oleh para ahli telah menempatkannya sebagai karya sastra Bugis Purba yang telah ada jauh sebelum Islam datang di Sulawesi Selatan. La Galigo oleh para ahli diperkirakan telah ditulis sejak abad ke-7-14 M, itu berarti hubungan orang Bugis dan Melayu telah berlangsung sepanjang abad tersebut.

Tema-tema utama dalam La Galigo, adalah pelayaran, perantauan, perniagaan, dan kekuasaan di laut. Ternyata tema-tema itu telah baku dalam kebudayaan Bugis yang memang sejak zaman dulu dikenal sebagai bangsa pelaut dan perantau. Mereka membangun pemukiman-pemukiman baru di rantau dan membentuk komunitas-komunitas orang Bugis di perantauannya, termasuk di dalamnya Opu Daeng Parani bersaudara di negeri Melayu.

Puncak imigrasi orang Bugis-Makassar terbesar terjadi ketika penandatanganan Perjanjian Bongaya pada tahun 1667 yang merupakan bukti kekalahan diplomatis, politis, dan kekuasaan  orang Makassar terhadap Belanda. Ketidakpuasan terjadi di kalangan para elit politik yang menyebabkan mereka melakukan  eksodus besar-besaran ke Nusantara, termasuk Daeng Mangalle sepupu Sultan Hasanuddin yang sangat kecewa dan melakukan eksodus ke Ayuthia pada abad ke-18.

Dari dua uraian di atas – kedatangan orang Melayu di tanah Bugis dan kedatangan orang Bugis-Makassar di tanah Melayu –  menyebabkan terjadinya pertemuan dua budaya besar yang berassimilasi dan berakulturasi sekaligus memunculkan ras yang berdarah Bugis-Makassar dan Melayu.

Tampilnya orang Melayu-Bugis ini memberikan warna dan peta baru dalam percaturan politik, budaya, dan intelektual yang unik di Nusantara. Menurut Mukhlis Paeni, percampuran darah Bugis yang dikenal sebagai cendekia dan pemberani serta darah Melayu yang dikenal sebagi seniman dan intelektual, menyebabkan tampilnya ras baru yang merupakan percampuran Bugis-Melayu dengan ciri utamanya: memiliki intelektual yang tinggi dan pemberani.

Di bidang seni dan kepengarangan misalnya, di Barat Nusantara kita akan bertemu  Raja Ali Haji dengan karya-karyanya yang spektakuler seperti gubahan Gurindam Dua Belas, Tuhfat Al-Nafis, dan menyusun Kamus dan Tata Bahasa Melayu. Di Timur Nusantara, kita akan bertemu Retna Kencana Colliq Pujie, aristokrat Bugis yang berketurunan Melayu. Ia yang menyalin, menyusun, dan mengedit 12 jilid naskah La Galigo yang ada di Perpustakaan Leiden Belanda, yang kemudian ditetapkan sebagai karya sastra terpanjang di dunia dan ditetapkan di UNESCO sebagai “Memory of the World”. Ia pulalah yang mengarang beberapa buku sejarah dan kebudayaan seperti La Toa, Sejarah Tanete, dan menerjemahkan berbagai karya sastra Melayu ke dalam bahasa Bugis, yang keseluruhan karyanya ini tersebar di berbagai perpustakaan dan muzium di dunia.

***

Dalam tulisan ini, saya coba memperkenalkan salah seorang cendekia Melayu-Bugis dari Singapore, yang sebagian sumber data tulisan di bawah ini diambil dari hasil penelitian DR. Roger Tol, yang diberinya judul:”Pengembaraan Sawerigading ke Washington DC: Memperkenalkan Husin bin Ismail Seorang Bugis Terpelajar di Singapore, 2003 dalam buku Menelusuri Jejak Warisan sastra Dunia, Makassar:Pusat Studi La galigo Universitas Hasanuddin). .

Berbeda dengan pengarang dan cendekia Melayu lainnya, Husin bin Ismail adalah tokoh unik yang senyap dari gegap gempita pemberitaan. Namanya  hampir-hampir tidak dikenal padahal ia adalah salah satu pengarang terbaik, penyalin produktif, sekaligus penerjemah naskah-naskah terkemuka di dalam dunia Melayu.

Karya-karyanya tersebar di berbagai perpustakaan di dunia, seperti di Library of Congress dan Harvard University Amerika,  di London, serta Belanda dan Roger Tol memperkirakan juga pasti terdapat salinan tangan Husin bin Ismail di Perpustakaan Nasional Jakarta koleksi H.von de Wall, karena Husin bin Ismail pernah berteman dengannya. Karena itu, menurut Roger Tol:

“Husin Bin Ismail adalah penyalin naskah Melayu yang paling produktif di seluruh dunia ditinjau dari sejumlah naskah yang masih selamat (2003:65) bukan saja dari segi kuantitas, tapi dari segi kualitas dan teknik penyalinan, beliau adalah seorang yang unik yang mengungguli kebanyakan penyalin lainnya (2003:66).

Meskipun begitu, beliau hampir-hampir tidak dikenal di dalam dunia Melayu, namanya tenggelam oleh popularitas Abdullah bin Abd.Kadir Munsyi teman sejawatnya , yang diketahui tempat dan  tanggal lahirnya, karya-karyanya, dan meninggalnya. Husin bin Ismail sama sekali tidak ada informasi tentang kehidupannya yang misterius, satu-satunya yang dapat dijadikan informasi adalah: 1) informasi ilmuan asing seperti dari Alfred North, Charles Wilkes, dan 2) dari karya-karyanya.

Pada tahun 1838-1848 Amerika melakukan ekspedisi besar-besaran di wilayah Pasifik dan Antartika yang disebutnya United States Exporing Expedition. Ekspedisi  ini dipimpin oleh Charles Wilkes, makanya ekspedisi ini lebih popular disebut Wilkes Expedition. Dalam waktu 2 tahun Wilkes menerbitkan ekspedisi resminya dalam 5 jilid besar yang diberinya judul: Narrative of the United States Exploring Expedition, During the Years 1838, 1839, 1840, 1841, 1842. Yang menarik dari ekspedisi ini adalah ketika tiba di Singapore pada bulan februari 1842 yang disambut oleh Alfred North seorang pendeta Amerika yang bertugas di Singapore. Dalam laporan itu antara lain Wilkes mengatakan:

“Dari Tuan North kami peroleh sejumlah naskah Melayu dan Bugis yang amat langka. Konon pada zaman sekarang tidak terdapat koleksi naskah yang lebih besar, terutama sejak koleksi naskah Sir Stamford  Raffles telah hilang. Beberapa naskah ditulis dengan indah sekali” (dalam Tol 2003:62).

Ada dua informasi yang sangat penting dalam kutipan di atas, yakni selain mengumpulkan sejumlah  koleksi naskah Melayu yang banyak juga terdapat koleksi naskah Bugis.

Library of Congress - Washington DC

Ternyata naskah-naskah tersebut dibuat dan disalin  oleh dua kolega Alfred North, yakni: 1) Abdullah bin Abd.kadir Munsyi dan 2) Husin Bin Ismail. Keduanya bekerja di Mission Press of Singapore yang dipimpin oleh Alfred North  pada tahun 1838-1843 dan keduanya bertugas untuk menyalin naskah, membantu di bidang cetak buku litograf, dan yang paling penting keduanya mengajar pula orang Inggeris dan Amerika. Abdullah mengajar bahasa Melayu dan Husin mengajar bahasa Bugis. Ia kemudian meminta bantuan kedua orang ini untuk menyalin beberapa naskah, yang kemudian ia  persembahkan kepada ketua ekspedisi di Singapore pada bulan Februari tahun 1842. Paket itu kemudian tersimpan di dua tempat, yaitu: 1) Library of Congres dan 2) Harvard University Library.

 

Dari 15 naskah Melayu di Washington, tujuh naskah disalin oleh Abdullah sendiri, selebihnya oleh Husin bin Ismail. Dua naskah Hikayat Abdullah disalin oleh Husin bin Ismail, yang satu tersimpan di Washington dan satunya lagi tersimpan di Cambridge.

Pada kolopon naskah yang di Washington terdapat  tulisan di bagian terakhir naskah yang berbunyi: Al-Fakir Husin Bin Ismail dan juga terdapat catatan lepas Alfred North yang berbunyi:

“This copy is taken the autograph by Husin, a Bugis, who writes a good Malay hand.

“”Salinan ini diambil langsung dari naskah otograf oleh Husin, seorang Bugis, yang mahir menulis huruf Melayu” (Tol: 2003 64).

Dalam ilmu filologi pada  penyusunan silsilah sebuah naskah: otograf itu bermakna tulisan asli dari pengarang, arketif adalah salinan langsung dari tulisan  pengarang, sedangkan hiparketif salinan dari salinan yang biasanya merupakan penyimpan naskah tertua. Kalau benar demikian maka dipastikan Hikayat Abdullah bukan saja disalin oleh Husin Bin Ismail tapi kemungkinan besar ia pula turut mengarang naskah tersebut. Karena itu Roger Tol menyatakan kekecewaannya (2003:65):

“Yang agak mengecewakan adalah bahwa Husin satu kali pun tidak disebut di dalam Hikayat Abdullah, karangan rekannya di Mission Press, Abdullah Bin Abdul kadir Munsyi”

Di dalam naskah koleksi Library of Congress terdapat 10 naskah dengan tulisan Bugis dan bahasa Bugis. Ke-10 naskah tersebut ditulis oleh Husin karena tulisannya sama dan  dibuktikan melalui kolopon naskah serta catatan dari North sebagai berikut:

1)      Jilid VIII terdapat tulisan: Guru La using punna okiq e artinya: Guru Husin yang punya tulisan.

2)      Jilid IX yang mengandung empat terjemahan dari bahasa Melayu, tiap terjemahan berakhir dengan sebuah kolofon yang menyebutkan Husin sebagai penerjemah: Guru La Useng punnae okiq e sureq Malaju ripakkedadai I sureq Ogiq artinya: penulisan terjemahan ini dari bahasa melayu ke dalam bahasa Bugis oleh Guru Husin.

3)      Dalam beberapa naskah terdapat catatan dari North yang menyebutkan bahwa naskah tersebut: disalin oleh Husin seorang Bugis terpelajar di Singapore (jilid VII, VIII, IX, X).

4)      Empat naskah Melayu di Inggeris (lihat Ricklefs dan Voorhoeve 1977:119,161-2) Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Indera Putera menyebutkan penyalinnya: Enci’ Husin Bin Ismail, dan Enci’ Husin di Tanah Merah.

5)      Di dalam perpustakaan SOAS di London  terdapat Syair Harith Fadilah dan Hikayat Syahi Mardan yang menyebutkan keduanya disalin oleh Al-Husin bin Ismail orang Bugis To Belawa.

***

Beberapa informasi dari luar teks (Wilkes dan Alfred North) serta informasi dari dalam teks (kolofon) dapat dijadikan rujukan untuk merekonstruksi garis besar tentang kehidupan dan karya Husin bin Ismail. Husin adalah orang Melayu yang berketurunan Bugis dari Belawa, Wajoq (Sekarang kabupaten Wajo, 4 jam perjalanan dari Makassar). Husin tinggal dan menetap di Tanah Merah, Singapore.

Beliau seorang guru (Guru La Huseng). Dalam budaya Bugis, seorang guru adalah cerdik pandai yang bukan saja mengajar secara formal di sekolah-sekolah tapi juga menjadi tempat bertanya orang kepadanya tentang segala hal baik yang berkaitan dengan ilmu dunia maupun ilmu akhirat.

Kepandaiannya itu  diakui oleh North, seorang bangsa asing yang punya standar tertentu untuk menetapkan seseorang sebagai  terpelajar. Dalam berbagai catatannya ia menyebut Husin sebagai “Bugis terpelajar”. Dalam dunia akademik terdapat standar akademik dan  hierarkhi untuk menyebut kadar  ketinggian ilmu seseorang dengan penyebutan yang berbeda. Seorang professor biasanya dalam ujian terbuka untuk disertasi dipanggil  “yang amat terpelajar” dan untuk Doktor dipanggil dengan sapaan “terpelajar”. Adanya pengakuan dari orang asing ini dengan menyebutnya sebagai orang Bugis terpelajar membuktikan akan kadar intelektual yang dimiliki oleh Husin bin Ismail yang tinggi. Itu pula sebabnya sehingga beliau bersama koleganya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dipercaya mengajar orang asing. Abdullah mengajar bahasa Melayu dan Husin mengajar bahasa Bugis.

Lukisan Arung Palakka di Museum La Galigo, Benteng Rotterdam

Di samping sebagai guru, baik dalam pengertian sebagai “guru tradisional orang Bugis” maupun dalam pengertian “guru” dan “terpelajar” bagi orang Barat, ia pun dipercaya untuk menyalin dan menulis naskah-naskah Melayu dan Bugis. Tulisan itu kini bertaburan di berbagai perpustakaan terkemuka di dunia yang menjadi rujukan dan referensi utama bagi berbagai ilmuan dalam menulis dan merekonstruksi sejarah di Asia Tenggara, khsusnya Indonesia, Malaysia, dan Singapore.

Selain sebagai penyalin, Husin juga seorang penerjemah. Penerjemah di sini dapat dimaknai penerjemahan dua arah, yakni penerjemahan dari naskah Melayu ke bahasa dan tulisan Bugis atau sebaliknya penerjemahan naskah dan bahasa Bugis ke dalam bahasa Melayu..

Di samping sebagai penulis, penyalin, dan penerjemah ia juga mengabdikan hidupnya untuk kepentingan publikasi di Mission Press Singapore bersama koleganya Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Cukup lama ia bekerja di sini, yakni sepuluh tahun (1834-1843). Tak terhitung betapa banyak buku tentang karya-karya kebudayaan Melayu dan Bugis yang telah dicetak dan disebarkan di seluruh dunia dalam kurun waktu sepuluh tahun mereka bekerja.

Meskipun demikian, nasib Husin bin ismail tidaklah seberuntung dengan kawannya Abdullah bin Abd.Kadir Munsyi, yang sangat terkenal, tersanjung, dan dipuja di dunia. Demikian pula, nasib guru Husin tenggelam oleh kemilau dan kebesaran penulis seangkatannya yang berdarah Melayu-Bugis  yakni Raja Ali Haji. Banyak ilmuan dunia yang mengatakan keheranannya, padahal baik dari segi kuantitas maupun dari segi kualitas tulisannya mengungguli penulis-penulis Melayu lainnya.

Guru Husin telah menyelamatkan begitu banyak karya-karya besar Melayu dan yang tak kalah pentingnya juga menyelamatkan karya-karya sastra Bugis penting termasuk sekaliber La Galigo. Lima jilid episode La Galigo yang merupakan salinan tangannya di Library of Congress, yang ditulis di Tanah Merah, Singapore sampai sekarang tidak banyak yang tahu dan belum pernah diteliti, ditranskripsi dan diterjemahkan. Orang-orang terpaku dengan La Galigo dengan orang Bugis yang ada di Sulawesi Selatan, tak sedikit pun pernah terlintas dalam benak mereka bahwa Husin yang hidup pada abad ke-19, seangkatan dengan Colliq Pujie (penyalin La Galigo yang terkenal yang salinannya sekarang ada di Belanda), adalah keturunan Bugis di tanah Melayu yang turut andil dalam menyelamatkan warisan dunia tersebut.

Karena itu, di sinilah keunikan Guru Husin, melampaui Raja Ali haji dan Abdullah, karena ia bukan saja ahli tentang bahasa dan kebudayaan Melayu tapi juga ahli tentang bahasa Bugis, menguasai konvensi penulisan huruf Bugis dan faham tentang budaya Bugis. Tulisan-tulisannya yang tersebar di berbagai belahan dunia adalah saksi bisu tentang kebesaran nama Husin bin Ismail.

“Jika kita membandingkan riwayat Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi dan Husin bin Ismail, ternyata nasib kedua rekan dan penyalin naskah ini sangat berbeda. Sudah pada masa hidupnya Abdullah menjadi seseorang yang termasyuhur yang tanggal kelahiran dan kematiannya diketahui, sedangkan Husin menjadi seorang yang kehidupannya tetap semacam misteri. Tanggal lahir dan wafatnya tidak diketahui. Hanya buah tangan Husin yang masih ada sebagai wakil suatu pengabdian  pada sastra dan bahasa Melayu dan Bugis yang tak tertandingi”.(Tol:2003:67).

Selama hampir dua 2 abad meninggalnya, tak pernah terdengar sedikit pun suara-suara nyaring yang menyapanya, khususnya dari kalangan dunia Melayu. The inspiring men itu telah menghembuskan nafasnya di tanah Melayu yang tempatnya antah berantah, tulang-belulangnya telah termakan tanah tapi karyanya tetap menjadi saksi bisu tentang kebesarannya.

 

Kuala Lumpur, 30 Desember 2011

 

 

 Prof.DR. Nurhayati Rahman, Senior Research Fellow Akademi pengajian Melayu UM. Pakar La Galigo keturunan Bone-Soppeng ini telah banyak menulis buku, mengadakan penelitian, serta mempromosikan budaya Sulawesi Selatan di Indonesia dan dunia internasional. Setelah menyelesaikan gelar S1 di Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin, beliau melanjutkan pendidikan di Program Pascasarjana UNPAD hingga mendapat predikat program Cumlaude dari Pascasarjana Universitas Indonesia.  Tahun 1999 beliau dipercaya sebagai editor penerbitan terjemahan naskah La Galigo jilid II di Leiden. 

Categories
Featured Galigoku

“Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai”

Kru lontara dalam pakaian daerah

Berawal dari ide-ide besar yang dimiliki oleh remaja-remaja liar Makassar di perantauan, proyek ini lahir. Tidak muluk-muluk, yang diinginkan keempat remaja ini hanya ambisi untuk membuat dunia sekali lagi menoleh kepada Sulawesi Selatan, tempat yang dapat kami sebut sebagai “rumah”. Tanah yang dulu pernah menjadi sarang pengarung samudera yang menguasai lautan nusantara. Orang-orang yang disegani sebagai keturunan para pelaut ulung serta penerus budaya petualang Austronesia.

Aksi yang kami lakukan ini bukanlah suatu bentuk chauvinisme gaya baru. Bukan pula bentuk kesombongan “Sulawesi-sentris” berbalut busana modern. Apa yang kami lakukan ini adalah suatu bentuk tuntutan, sebuah somasi kepada nusantara atas ketidakpedulian generasi muda masa kini terhadap harta karun yang tersembunyi di pelosok daerah-daerahnya. Budaya Nasional yang kita saksikan di TV adalah sebuah budaya yang telah dibentuk sedemikian rupa sehingga kita kehilangan identitas pribadi.

Mengutip perkataan Amri Pitoyo (seorang sarjana HI UI sekaligus senior di AFS Bina Antarbudaya); “Indonesia yang kamu bawa ini bukanlah wayang, keindahan Bali, atau batik yang kamu pakai”. Ya, Indonesia yang terdiri dari 17.000 lebih pulau dan 520 lebih suku bangsa ini terlalu sempit jika hanya dimaknai dengan rupa-rupa budaya yang sudah terkenal saja sebagai identitas nasional. Seakan tertidur panjang selama 1.000 tahun, kita lupa bahwa nenek moyang kita yang hobi bercerita itu telah mewariskan sebuah tradisi lisan (yang lalu ditulis ke dalam 12 naskah oleh penginjil Belanda) tentang asal-muasal alam semesta dan mula kehidupan manusia. Mitos yang murni, bebas dari pengaruh signifikan unsur-unsur asing. Nanti, baru ketika seorang Amerika bernama Robert Wilson memaksa untuk meniupkan ruh cerita La Galigo ke atas pentas di mancanegara, kita kalang kabut berbangga hati.

Kota Makassar yang kami cintai punya sebuah motto yang indah, “Sekali Layar Terkembang Pantang Biduk Surut Ke Pantai”. Kami, yang minum air dari tanah para pelaut ulung memegang janji suci, Toddopuli, seperti itu. Layar sudah terkembang, samudera luas yang penuh bahaya dan godaan telah menanti. Misi kami untuk mempromosikan La Galigo (khususnya) dan budaya Sulawesi Selatan (Makassar, Bugis, Mandar, Toraja) kepada generasi muda di Indonesia tidak akan surut ke pantai sebelum pelayaran ini selesai. Karena niat kami suci, karena tekad kami kuat, semoga Karaeng Allah Ta’ala mempermudah serta memegang kami dengan tangan kanan-Nya. Amin!

Kuru’ sumange’!

Yogyakarta, 23 September 2011

Categories
101 La Galigo Old Stuff Good Stuff

Review Buku “Ritumpanna Welenrennge” F. Ambo Enre

Jarang sekali ada anak muda abad 21 yang tertarik untuk membaca buku ini. Hmm… Melihat judul dan ketebalan halamannya aja udah bikin males. Apalagi bahasannya yang terkesan jadul, jelas bukan topik ringan yang bisa dijadikan bacaan sebelum tidur atau sembari nungguin bus di halte. Apa sih yang membuat buku ini menarik untuk dibaca?

Melestarikan kebudayaan Indonesia merupakan salah satu tujuan dari buku ini. Tidak heran, sebab hingga sekarang masih sangat sedikit buku yang membahas kisah I La Galigo, padahal karya sastra tersebut merupakan kisah asli leluhur bangsa Indonesia (murni tanpa unsur-unsur India, Cina, Eropa, atau Arab). Hebatnya lagi, epik ini sudah diakui sebagai epos terpanjang di dunia lho!

Buku Ritumpanna Walanrengge

Judul Buku      : Ritumpanna Welenrennge: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik Galigo 
Penulis             : Fachruddin Ambo Enre
Penerbit           : Yayasan Obor Indonesia
Cetakan           : I
Tahun Terbit    : 1999
Halaman           : iv + 706 halaman

Terdiri dari lima buah bab, buku yang ditulis berdasarkan disertasi Fachruddin Ambo Enre ini berusaha menelaah salah satu episode dalam La Galigo yang berjudul Ritumpanna Welenrennge. Episode ini merupakan salah satu cuplikan cerita yang paling luas dikenal di kalangan masyarakat Bugis umum, masyarakat tempat asal-muasal epos La Galigo.

Episode Ritumpanna Welenrennge (RW) atau “pohon Welenrennge yang ditebang” menceritakan tentang keinginan kuat Sawerigading untuk membuktikan keberadan adik kembarnya -We Tenriabeng- setelah mendengar keberadaan mengenai sang adik dari Pallawagauq, sepupunya yang menjadi raja di Tompo Tikkaq. Setelah berhasil mengetahui kebenaran cerita tersebut dan bertemu langsung dengan We Tenriabeng, Sawerigading jatuh cinta (uh oh!). Namun, berhubung karena mereka bersaudara, pernikahan tidak bisa dilangsungkan. We Tenriabeng pun menyuruh sang kakak untuk berlayar ke negri Cina menemui seorang putri yang kecantikannya mirip dengan dirinya. Untuk berangkat menemui putri Cina bernama We Cudai tersebut, Sawerigading bersama pengawalnya menebang pohon Welenrennge sebagai bahan pembuatan perahu.

Pada bab pendahuluan dari buku ini, diterangkan mengenai karya terdahulu yang sempat membahas dan usaha pengumpulan naskah I La Galigo. Adalah Th. S. Raffles yang dianggap memperkenalkan kisah ini kepada dunia luar melalui bukunya The History of Java yang diterbitkan pada tahun 1817. Selang setengah abad kemudian, barulah B.F. Matthes yang memulai pengumpulan dan penyalinan naskah I La Galigo dengan bantuan Colliq Pujie. Matthes berhasil mengumpulkan 26 buku yang kemudian diserahkannya ke Nederlandsche Bijbelgenootschap (NBG).

Usaha pengumpulan naskah juga dilakukan oleh Schoemann yang berhasil mengoleksi 19 buku yang kesemuanya merupakan naskah salinan. Semua buku tersebut kemudian dibeli oleh Perpustakaan Negra Prusia di Berlin. Usaha pengumpulan naskah yang paling luas bisa dikatakan diperoleh Rijksuniversiteits Bibliotheek (RUB) di Leiden, Belanda pada tahun 1920 melalui bantuan Prof. Dr. J.C.G Jonker. Dia berhasil mengumpulkan 67 buku tulis dan sebuah naskah lontar. Tujuh buah diantaranya adalah naskah asli dan sisanya berupa salinan. Naskah-naskah tersebut dikumpulkan selama masa jabatannya sebagai taal ambtenaar di Makassar antara tahun 1886-1896. Penelaahan isi I La Galigo dari segi sistem pelapisan masyarakat yang berlaku di kalangan masyarakat Bugis pertama kali diusahakan oleh H.J. Friedericy. Barulah selang puluhan tahun kemudian, Mattulada (Sejarawan asli dari Sulawesi Selatan) juga menelaah isi La Galigo sebagai sumber informasi sejarah perkembangan ketatanegaraan di kalangan orang Bugis.

Telaah naskah merupakan inti dari bab II buku ini. Penulis menggunakan tujuh naskah salinan episode RW berbeda. Sebuah naskah yang didapatnya dari Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara (YKSST) di Ujung Pandang, lima dari perpustakaan universitas (RUB) di Leiden, dan satu lagi langsung dari anggota masyarakat Sulawesi Selatan sebagai pelengkap. Penulis juga menceritakan kesulitannya dalam menelaah naskah-naskah tersebut, antara lain: perbedaan dan persamaan pada episode yang sama, penanda batas awal dan batas akhir masing-masing adegan dalam episode tersebut, serta pencarian naskah lain yang menjelaskan sebab dan akibat dari adegan-adegan yang terjadi dalam episode RW. Penulisan lontarak dan penggunaan kata-kata dalam ketujuh naskah yang sudah berumur ratusan tahun ini juga ikut ditelaah sebab dapat memberikan informasi mengenai kapan dan dimana kira-kira naskah tersebut dibuat ataupun disalin. Wuih, ribet ya!

Jika telaah naskah menjadi inti dalam bab II, telaah struktur kini menjadi perhatian utama dalam bab III. Mengapa RW dikategorikan sebagai sureq dan bukannya lontaraq? Dari sifatnya, sureq itu mengindikasikan sastra, sedangkan lontaraq mengindikasikan pustaka. Sureq dibaca sambil berlagu, sedangkan lontaraq tidak. Dari segi indikasi dalamnya, sureq berisikan cerita, sedangkan lontaraq menurut Cense adalah naskah tulis tangan yang biasanya berisi silsilah, catatan harian, atau kumpulan berbagai catatan, terutama yang menyangkut sejarah. Unsur yang memegang peranan penting dalam I La Galigo adalah ceritanya sebab jenisnya adalah puisi cerita yang memiliki rangkaian peristiwa kronologis yang memiliki akhir. Episode RW, misalnya, hanya merupakan sepotong episode, namun memiliki awal dan akhir sendiri. Setiap episode dalam I La Galigo sepertinya mengangkat tema yang berbeda-beda, meskipun ada juga yang memiliki tema yang sama. Mengenai latar, epidose RW kebanyakan berlatar tempat atau negeri. Tempat berpusat di istana Luwuq dan Wareq, Mangkuttu sebagai tempat pohon Welenrenng tumbuh, dan pelabuhan Luwuq sebagai pintu gerbang kerajaan tersebut. Negeri menjadi latar dari para pengawal yang diminta untuk menemani Sawerigading ke Cina, dan negeri yang rajanya diundang untuk menghadiri acara di Wareq. Mengenai bahasa dan periodus, I La Galigo banyak menggunakan kata yang tidak dipakai lagi dalam bahasa Bugis sekarang, seperti daramose = bantal seroja dan sinrangeng = usungan.

Selesai membahas telaah struktur, buku ini berlanjut ke bab IV yang merupakan bab kesimpulan. Di sini, penulis menyimpulkan uraian dan penjelasan yang telah dibahas dari bab I hingga bab III. Fachruddin Ambo Enre cukup bagus dalam menyusun bab ini sebab kesimpulannya dijabarkan melalui poin-poin yang memang menjadi intisari dari tiap babnya sehingga dapat dengan mudah dimengerti. Buku ini ditutup dengan bab V yang merupakan edisi naskah dan terjemahan dari episode RW.

Tertarik untuk membaca buku ini? Bukan merupakan topik sehari-hari yang menarik bagi kalangan anak muda memang, tapi dengan membacanya kita dapat semakin bangga akan kekayaan tradisi tulisan leluhur bangsa yang diwariskan kepada kita hingga hari ini.