Di awal tahun 2021, La Salaga Project yang diprakarsai oleh Kathryn Wellen (sejarawan di KITLV Leiden dengan fokus riset Sulawesi Selatan) dan Louie Buana (founder Lontara Project) mendapatkan sokongan dari Atelier KITLV untuk menggarap sebuah program unik yang mengombinasikan riset akademis dengan kesenian.
Proyek ini bertujuan untuk mengangkat kembali legenda La Salaga, seorang pangeran keturunan campuran Mamuju (Sulawesi Barat) dan Badung (Bali), kepada hadirin dari generasi muda. Kisahnya dituturkan dalam salinan naskah lontar berbahasa Mandar yang ditemukan di Balanipa. Berdasarkan kisah di dalam naskah tersebut, La Salaga dibesarkan di pulau Sulawesi dan Bali serta tumbuh menjadi seorang prajurit nan perkasa dan berperang dengan gagah melawan bangsa Sasak di Lombok. Prestasi La Salaga membuatnya dikagumi oleh penguasa Gowa, ia bahkan diminta oleh tetua adat Mandar untuk menjadi Mara’dia (raja) di negeri Mamuju dan Pamboang (Sulawesi Barat). La Salaga juga dikenang sebagai salah satu penguasa Mandar yang masuk Islam di bawah arahan Syekh Zakariya Al-Maghribi dari Jawa.
Salah satu adegan dalam lukisan La Salaga bergaya Kamasan karya I Made Sesangka Puja Laksana.
Sebagai upaya untuk memperkenalkan kembali kisah tanpa visual yang terekam dalam naskah kuno ini, gaya lukis tradisional Bali yang dikenal dengan nama Wayang Kamasan sengaja dipilih. Sebagaimana pernikahan antaretnis ayah dan ibu La Salaga (Sulawesi dan Bali), karya lukis ini memadukan gaya seni khas suatu daerah untuk menceritakan kisah dari belahan Nusantara lainnya. Seorang pelukis asal Bali yaitu I Made Sesangka Puja Laksana secara khusus diminta untuk mengerjakan lukisan La Salaga tersebut.
Kathryn Wellen dan Louie Buana saat diundang untuk mempresentasikan La Salaga Project di Ubud Writers and Readers Festival 2021. Tampak pada layar pelukis I Made Sesangka Puja Laksana di Sanggar Seni Lukis “Wasundari”, tempatnya merampungkan lukisan La Salaga.
Selanjutnya, lukisan tersebut digunakan sebagai bahan ilustrasi untuk buku dongeng. Tujuan pengadaan buku dongeng ini adalah agar cerita La Salaga dapat disampaikan kembali kepada generasi muda, orang tua maupun pendidik. Dua orang ilustrator muda berbakat tanah air yakni Ghina Amalia Yuhanida dan Aditya Bayu Perdana ikut terlibat dalam proses penciptaan buku dongeng berjudul Legenda La Salaga ini. La Salaga Project juga menghadirkan dua buah film yang mengisahkan proses behind the scene lukisan La Salaga serta pembacaan cerita dongengnya. Kedua film ini digarap oleh Agit Primaswara, seorang videografer asal Yogyakarta. Lukisan La Salaga bergaya Kamasan kemudian diserahkan kepada Ridwan Alimuddin, aktifis literasi dan pegiat budaya Mandar di Perpustakaan Nusa Pustaka, Polewali Mandar.
Penyerahan lukisan La Salaga bergaya Kamasan serta buku dongeng “Legenda La Salaga” kepada Nusa Pustaka di Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Cuplikan tampilan dalam buku Legenda La Salaga yang menyadur lukisan Kamasan karya I Made Sesangka Puja Laksana.
Dengan mempertimbangkan besarnya potensi kontribusi hasil-hasil karya La Salaga Project dalam menuturkan nilai-nilai keragaman dan kebhinnekaan Indonesia, Atelier KITLV membuka akses kepada publik untuk dapat menikmati karya-karya kami secara gratis. La Salaga Project mempersembahkan cara-cara inovatif untuk menceritakan kembali sejarah melalui beragam media kreatif. Kami berharap La Salaga Project dapat menginspirasi banyak orang, terutama akademisi dan seniman muda, untuk berkolaborasi di masa depan.
Buku dongeng “Legenda La Salaga” dapat anda baca dan download DI SINI secara gratis.
Film “The Journey of La Salaga” dapat anda tonton melalui link INI.
Film “Legenda La Salaga” dapat anda tonton melalui link INI.
Menyeleksi 35 orang dari 274 pendaftar jelas bukanlah hal yang mudah! Setelah selama sebulan lebih mencari-cari, akhirnya panitia Heritage Camp 2013 yang terdiri atas volunteer Lontara Project serta mahasiswa-mahasiswi UGM berhasil menemukan mereka. Agen-agen konservasi kreatif budaya yang mewakili empat klaster besar Nusantara: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara ini satu tekad dan percaya bahwa untuk melestarikan budaya di era globalisasi, kekreatifan dan jiwa muda amat dibutuhkan!
Day #1
Pagi-pagi benar panitia sudah harus standby di Ambarbinangun. Bus datang pukul 06.00, dengan segera saya sebagai fasilitator dan Fajar Priyambodo yang in charge di bidang perlengkapan dan transportasi berangkat menuju Stasiun Tugu. Meeting point yang telah disepakati oleh panitia adalah di tempat itu, maka mau tak mau seluruh peserta yang menghendaki untuk dijemput harus menunggu sejak pukul 07.00 hingga 09.00 di Stasiun Tugu. Meskipun belum sarapan, kami dipenuhi oleh semangat untuk bertemu dengan para peserta Heritage Camp 2013. Sebelumnya saya hanya memandangi foto-foto dan membaca aplikasi mereka seraya menduga-duga seperti apakah karakter mereka sebenarnya. Meskipun ada sedikit kesalahpahaman dengan salah seorang peserta terkait lokasi penjemputan (saya dan Fajar terpaksa harus jalan ke Jalan Malioboro dari tempat parkir bus di Jalan Pasar Kembang untuk menjemputnya) namun acara penjemputan berjalan lancar tanpa ada seorang pun yang tertinggal. Terima kasih pula atas tenaga bantuan yang diimpor jauh-jauh dari Bandung, saudara Setia Negara.
Pembukaan Heritage Camp 2013 di Ambarbinangun
Sesi pertama dimulai setelah sholat Jumat dan istirahat makan siang. Panitia ternyata memang tidak salah pilih, dengan cepat peserta-peserta tersebut sudah akrab satu sama lain, bahkan saling bercanda dengan panitia. Setelah Anggita Paramesti selaku project manager memberikan penjelasan mengenai acara-acara yang akan mereka lewati bersama selama 4 hari, ‘peri-peri Oprah’ alias julukan untuk panitia di bidang dana-usaha-publikasi yaitu Novia Permatasari, Diah Sri Utari dan Zafira Sabrina muncul dan membagikan seminar kit kepada para peserta. Mereka dibantu pula oleh Gebyar Lintang dan Arin Purisamya selaku sekretaris dan bendahara Heritage Camp 2013.
Setelah dibriefing secara singkat, sekitar pukul 15.30 para peserta mendapatkan sesi lecturing pertama dari Bapak Daud Tanudirjo. Beliau merupakan dosen Arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Beliau merupakan salah seorang aktifis yang mendukung terciptanya Piagam Pusaka Indonesia. Pak Daud mengampu sesi “Klasifikasi Pusaka Indonesia” dan penjelasan beliau di hari pertama ini amat penting dalam memberikan pengertian kepada peserta Heritage Camp akan materi-materi yang akan mereka terima di hari-hari selanjutnya.
Teh Sinta dan rekannya sedang menjelaskan tentang aksara Sunda Kuno yang ternyata memiliki banyak kesamaan dengan aksara-aksara di Sumatera dan Sulawesi Selatan.
Hari itu ditutup dengan sesi berjudul “Dokumentasi Manuskrip di Indonesia” oleh Sinta Ridwan. Sinta Ridwan yang datang jauh-jauh dari Jawa Barat ini merupakan penerima anugerah Kick Andy Heroes 2012 oleh MetroTV atas usahanya untuk membangkitkan kembali pengajaran aksara Sunda Kuno kepada masyarakat umum di Bandung. Setelah menyampaikan materinya, teh Sinta lanjut memberikan workshop penulisan aksara Sunda Kuno. Amat menarik, setelah beberapa menit diterangkan metodenya, dalam waktu singkat para peserta camp langsung dapat memahami dan menuliskan nama mereka masing-masing dalam aksara tersebut. Setelah workshop selesai, teh Sinta kembali mengajak peserta camp untuk aktif mendiskusikan naskah kuno Budug Basu. Naskah kuno yang berasal dari Cirebon abad ke-19 ini sekarang berada di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Teh Sinta memberikan gambar contoh naskah dan meminta peserta camp untuk memberikan analisisnya masing-masing terhadap naskah tersebut. Sekali lagi, panitia memang tidak salah pilih dengan para peserta ini. Satu per satu hipotesa dicetuskan oleh masing-masing kelompok, ada yang mengomentari makna ilustrasi, jenis huruf yang dipakai, isi cerita, lingkungan yang dideskripsikan naskah, hingga ke hubungan romantisme antara Dewi Sri dan Budug Basu yang sehidup-semati. Malam itu para peserta dipenuhi oleh perasaan bangga akan warisan leluhur nusantara kepada mereka melalui pusaka dalam bentuk naskah kuno dan aksara.
Day #2
Pagi-pagi benar panitia dan peserta Heritage Camp dikejutkan oleh kehadiran Garin Nugroho. Siapa sih yang tak kenal maestro film Indonesia ini? Tangan dinginnya telah menghasilkan banyak karya-karya fenomenal yang sering menang diajang festival film internasional. Sebut saja “Opera Jawa”, “Daun di atas Bantal”, “The Mirror Never Lies”, dan yang baru-baru ini santer diperbincangkan; “Soegija”. Mas Garin yang ternyata lulusan sekolah hukum ini berbagi tentang ide-ide serta proses kreatif yang muncul dalam menuangkan kisah mengenai masyarakat dan budaya Indonesia lewat film. Mas Garin sempat mencetuskan bahwa budaya pop yang santer di Indonesia belakangan ini sifatnya hanya memikirkan “saat ini saja” sehingga tidak heran jika hidupnya tidak lama. Akan tetapi, film-film yang mengadopsi serta mengangkat nilai-nilai lama kebudayaan, umurnya justru akan panjang. Ia sengaja menciptakan film-film dengan isu-isu ‘heritage’ karena menurutnya manusia merupakan sistem nilai dari ‘heritage’ itu sendiri.
Sesi bersama Garin Nugorho
Sesi selanjutnya dibawakan oleh Djaduk Ferianto. Sejak tahun 1972 Mas Djaduk sering menggarap ilustrasi musik sinetron, jingle iklan, penata musik pementasan teater, hingga tampil bersama kelompoknya dalam pentas musik di berbagai negara. Sobat Lontara tentunya masih ingat dengan film Petualangan Sherina, bukan? Nah, Mas Djaduk inilah yang memerankan tokoh antagonis Kertarajasa. Mas Djaduk sedikit curcol kepada peserta Heritage Camp akan pengalamannya di masa lalu. Ia pernah dihujat habis-habisan oleh seniman senior karena KUA Etnika, grup musik yang ia dirikan, mencoba untuk berimprovisasi terhadap musik tradisional. Namun ternyata cobaan itu tidak menghentikan langkahnya. Menurutnya tidak ada yang salah dengan membawa musik tradisional ke dalam konteks kekinian. Sesi siang dibuka oleh Is Yuniarto dari Surabaya, komikus pemenang Lomba Komik Animonster 2006. Karyanya yang sekarang ini sedang booming ialah komik Garudayana yang mengambil tema pewayangan Jawa. Setelah menyampaikan materinya mengenai konservasi kreatif melalui komik, Mas Is mengajak peserta camp untuk membuat komiknya sendiri. Berbekal dengan spidol, kertas dan arahan dari Mas Is, dalam sekejap peserta Heritage Camp sudah dapat membuat komik empat panel dengan cerita-cerita yang lucu!
Mas Is sedang sharing mengenai proses kreatif penciptaan karakter dalam komik Garudayana
Hari itu ditutup oleh sesi terakhir dari Bapak Suwarno Wisetrotomo. Pak Warno yang juga merupakan dosen di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta kali ini mendapat kepercayaan untuk membawakan materi tentang “Seni sebagai Alat Perekam Peradaban”. Sesi ini berlangsung dengan amat interaktif, peserta camp berulang kali mengajukan pertanyaan dan memberikan tanggapan atas pernyataan-pernyataan dari Pak Warno. Pak Warno yang juga merupakan pemimpin redaksi Jurnal SENI – Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni sejak 1992 menunjukkan beberapa slideshow terkait kekayaan seni rupa Indonesia. Pemaparan beliau bahwa lukisan yang tak berhuruf pun dapat menceritakan sejarah suatu bangsa membuat peserta camp dan bahkan panitia terpukau. Khazanah kekayaan budaya Indonesia yang tiada bandingnya di dunia ini seakan-akan meraung-raung untuk dikaji dan dipahami oleh generasi mudanya.
Eits… Meskipun di atas kertas acara hari itu telah selesai pagi para peserta camp, lantas tidak dengan serta-merta mereka kembali ke wisma untuk tidur. Panitia telah sepakat bahwa untuk “Malam Budaya” yang akan diadakan di hari terakhir, mereka diberi kepercayaan untuk mengurus jalannya acara tersebut dan penampilan seni dari mereka sendiri. Tantangan ini justru diterima dengan senang hati oleh peserta camp. Buktinya, durasi latihan yang awalnya hanya dijadwalkan hingga jam 22.00 malah mereka extend hingga pukul 23.30! Antusiasme peserta camp yang dipenuhi oleh ide kreatif inilah yang justru membuat panitia kewalahan.
Hari pertama dan kedua selesai sesuai rencana. Bagaimanakah aksi para peserta camp di hari ketiga dan keempat? Bagaimana pula aksi fasilitator mereka yang terdiri atas Muhammad Ahlul Amri Buana, Maharani Budi, Primi SudharmadiPutri, Waskito Jati dan Ulil Ahsan di hari ketiga dan keempat? Yang jelas, setiap hari di Heritage Camp 2013 selalu ada cerita unik dan kejutan!
Rinchi Andika Marry (Ilmu Sejarah Universitas Indonesia 2010)
Dari beberapa kota kabupaten di Kalimantan Tengah, Sampit merupakan kota penting yang sudah lebih maju dibanding daerah-daerah lainnya di Kalimantan Tengah. Sebagai kota yang berpenduduk relatif sedikit, Sampit memperlihatkan beberapa keunggulan, diantaranya adalah sebagai kota kabupaten yang memiliki pelabuhan air dan bandar udara sendiri. Sampit terus memperlihatkan kemajuan sejak awal berdirinya hingga sekarang. Nama Sampit sendiri, berdasarkan beberapa sumber online, diambil dari bahasa Cina, yaitu Sam artinya tiga dan It artinya satu, jadi sam-it artinya tiga satu. Mengapa tiga satu? Karena sesuai dengan jumlah orang Tiongkok yang datang ke Sampit dan melakukan perdagangan dengan suku setempat. Tidak diketahui pasti siapa yang kemudian mencetuskan kata Sampit. Sumber lain lagi membantah bahwa nama Sampit berasal dari bahasa Cina, bahwa ada seorang yang bernama Sampit yang berasal dari Kalimantan Selatan yang kemudian datang ke Sampit dan membangun Sampit.
Sampit sendiri merupakan ibu kota kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Luas wilayahnya hanya 16.796 km2 dengan jumlah penduduk 429.931 jiwa. Selain suku asli, yaitu suku Dayak, banyak juga para pendatang yang berasal dari Pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan Selatan, dan orang-orang Tiongkok yang kemudian membaur dengan masyarakat setempat sehingga terjalin harmonisasi antara masing-masing suku serta membentuk karakteristik masyarakat Sampit itu sendiri. Untuk orang-orang Tiongkok sendiri telah ada semenjak ratusan tahun lalu pada era perdagangan Nusantara. Di jalan-jalan kota Sampit tidak ditemukan jembatan flyover maupun jalan tol, hal ini terkait dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak dan jarang terjadi macet sehingga tidak diperlukan adanya jalan tol maupun jembatan flyover. Dari luas wilayah yang ada, sebagian besar masih berupa hutan belantara. Jika musim kemarau tiba, seringkali terjadi pembakaran hutan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang kemudian menghasilkan kabut asap yang tebal dan mengganggu pernafasan. Tidak jauh berbeda dengan kondisi ibukota, pada siang hari terasa sangat panas dan menyengat namun pada malam hari (mulai pukul 7 malam keatas) sangat berbanding terbalik, dingin yang cukup menusuk tulang.
Sampit. Sumber: Wikipedia.
Aktivitas masyarakatnya lebih banyak dilakukan di siang hari daripada malam hari. Malam hari jalanan cenderung sepi karena warganya banyak yang tinggal di dalam rumah kecuali jika ada keperluan tertentu atau untuk keperluan hiburan, biasanya pusat-pusat kota menjadi ramai dikunjungi warga. Bahasa sehari-hari yang digunakan oleh masyarakatnya adalah bahasa Banjar (bahasa yang dipakai di Kalimantan Selatan) dengan aksen khas Sampit yang sedikit berbeda dengan bahasa Banjar yang digunakan di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, selain itu Bahasa Dayak Sampit dan Dayak Ngaju (Dayak Hulu). Suku asli setempat, yakni suku Dayak telah membaur dengan suku-suku lainnya yang ada karena suku Dayak di Sampit cenderung lebih bisa bersahabat dan membuka diri dengan suku lainnya sehingga dapat tejalin harmonisasi yang baik.
Pada suku-suku Dayak pedalaman yang menganut kepercayaan Hindu Kaharingan, tradisi masih dipegang teguh terutama pada acara-acara tertentu seperti perkawinan, kematian, pengangkatan kepala suku, maupun acara adat lainnya. Namun di Sampit, suku Dayak yang ada sudah mulai meninggalkan tradisi nenek moyang mereka, meskipun dalam beberapa aktivitas masih tetap melekat. Hal ini dikarenakan suku Dayak di Sampit telah memeluk agama baru selain kepercayaan nenek moyang mereka. Agama mayoritas suku Dayak di Sampit adalah agama Islam, kemudian sisanya adalah Kristen Protestan dan Hindu Kaharingan. Meskipun demikian, perbedaan agama ini tidak lantas menjadikan suku Dayak merasa terpisah-pisah, rasa persaudaran sesama suku Dayak mereka masih kuat.
Bagi masyarakat luar kota Sampit, non suku Dayak khususnya, yang belum pernah mengunjungi kota Sampit mungkin akan berpikiran bahwa suku Dayak merupakan suku yang kejam dan tidak bersahabat. Namun akan berbeda rasanya jika sudah berkunjung ke kota Sampit. Masyarakatnya cenderung bisa menerima pendatang. Tidak sulit untuk bisa berbaur dengan suku Dayak, terutama suku Dayak yang ada di Sampit karena dalam aktivitas sehari-hari suku Dayak tidak rasis. Suku Dayak Sampit juga bisa berbahasa Indonesia dengan baik sehingga untuk berkomunikasi pun tidak sulit.
Kota Sampit terhubung dengan daerah-daerah lainnya di Kabupaten Kotawaringin Timur. Untuk mencapainya bisa dilalui dengan menggunakan transportasi darat maupun air. Warga Sampit rata-rata memiliki kendaraan pribadi sendiri. Tidak mengherankan jika kebanyakan warga Sampit memiliki motor sendiri karena bisa dikatakan tanpa motor sulit untuk melakukan aktivitas. Selain itu, transportasi air yang menghubungkan kota Sampit dengan daerah lainnya dengan menyeberangi sungai, dikenal dengan sebutan kelotok, yaitu perahu air yang memiliki mesin. Orang Sampit, khususnya suku asli sudah biasa jika berkendaraan/ bepergian dengan menggunakan kelotok untuk mencapai daerah –daerah lainnya. Rata-rata suku asli Sampit pandai berenang karena sehari-hari sudah akrab dengan kehidupan sungai. Sungai Mentaya merupakan sungai yang ada di Sampit. Di sungai Mentaya inilah biasanya kapal-kapal besar dengan tujuan Pulau Jawa dan kelotok melintas.
Sekilas mengenai kerusuhan Sampit tahun 2001
Pada waktu kerusuhan di Sampit meletus awal tahun 2001, usia saya 11 tahun dan sedang duduk di bangku kelas 6 SD. Saya dan keluarga baru sekitar dua tahun tinggal di Sampit. Sebelumnya saya dan keluarga saya tinggal di sebuah kecamatan kecil tidak begitu jauh dari kota Sampit. Saya masih ingat saat kerusuhan terjadi, keadaannya sangat mencekam dan memprihatinkan. Pada waktu itu, sekolah-sekolah harus berhenti sejenak dari kegiatan belajar mengajarnya hingga kerusuhan mereda. Banyak rumah orang Madura yang ditinggalkan pemiliknya di bom dan dijarah oleh penduduk sekitar. Pemiliknya tidak pernah lagi kembali hingga kerusuhan telah mereda. Selain itu, di depan rumah tiap penduduk harus menuliskan nama suku masing-masing dan mengikuti kode sesuai dengan siapa yang sedang berkuasa saat itu. Sempat suku Madura yang berukuasa selama seminggu. Suku Dayak yang ada di Sampit sempat kalah dan mundur ke pedalaman dan memanggil para sesepuh suku Dayak. Saat Madura yang berkuasa, sempat tersiar kabar Sampit ingin dijadikan daerah Sampang ke dua dan akan diadakan pemutihan. Namun hal itu tidak sampai terjadi karena setelah satu minggu, suku Dayak yang ada di pedalaman kembali dengan jumlah massal yang lebih banyak dan menggunakan kemampuan mistik mereka dalam menumbangkan orang-orang Madura.
Saya dan keluarga tinggal di sebuah kompleks perumahan yang baru saja dibuka dan letaknya berada di tengah hutan. Kebanyakan orang masih belum cukup mengenal kompleks tempat saya tinggal karena letaknya yang agak sulit dijangkau bagi orang yang belum benar-benar menjelajahi kota Sampit. Selama berlangsungnya kerusuhan, saya dan keluarga hanya berdiam diri di rumah. Kami juga harus mengirit bahan makanan jika tidak ingin kelaparan . Mencari bahan makanan ke pusat kota Sampit berarti mengorbankan nyawa, karena bisa saja kepala melayang. Saya sudah terbiasa mendengar suara tangisan ibu-ibu yang meratapi terjadinya kerusuhan setiap harinya. Setiap hari kita benar-benar harus waspada menghadapi ancaman kedatangan orang Dayak yang datang melakukan penyisiran ke rumah-rumah untuk menghabisi nyawa orang-orang Madura.
Selama kerusuhan saya tidak pernah pergi kemanapun selain di sekitar rumah. Pada saat itu ibu saya juga sedang mengandung lima bulan adik saya yang terakhir. Saya ingin sekolah lagi, ingin bisa makan enak tanpa dibatasi, tapi tentu saja itu tidak bisa dilakukan karena kerusuhan masih berlangsung dan bahan makanan susah didapat. Menurut cerita yang saya dengar waktu itu, di pusat kota sudah banyak orang Madura yang dibantai dan kepalanya dibiarkan menggeletak begitu saja. Bahkan yang paling mengerikan tidak terbayangkan oleh saya, otak-otak orang Madura di masuk bersama dengan mie rebus. Saya tidak tahu cerita itu benar atau tidak karena saya tidak pernah melihat secara langsung, saya hanya mendengar cerita itu dari orang-orang di sekitar saya. Saya juga tidak pernah melihat pembantaian orang Madura secara langsung atau melihat kepala orang Madura berserakan, hanya beberapa tetangga saya yang pernah melihatnya.
Mengkritisi terjadinya kerusuhan, saya tidak tahu pasti pangkal penyebab terjadinya kerusuhan. Yang jelas, sebelum meletus kerusuhan awal tahun 2001, pernah juga ada isu-isu pemicu kerusuhan tahun-tahun sebelumnya namun tidak pernah sampai meledak seperti yang terjadi pada awal tahun 2001 itu. Saya rasa karena pada Orde Baru hal-hal yang berbau SARA tidak diperbolehkan atau cepat bisa diredam sehingga tidak sampai terjadi kerusuhan besar. Selain itu pula, antara suku Dayak dan Madura maupun suku lainnya sebelum kerusuhan terjadi masih hidup berdampingan dengan rukun dan toleransi. Setahu saya, orang Dayak sangat welcome dengan pendatang. Apalagi suku Dayak dan suku Madura pun telah hidup berdampingan sekian tahun tanpa ada konflik besar yang tidak bisa diatasi dengan damai. Jika tidak karena adanya provokasi oleh golongan tertentu, kerusuhan yang banyak menelan korban jiwa dan kerugian material dan immaterial ini tidak akan terjadi.
Kerusuhan yang terjadi berlangsung tidak begitu lama, hanya dalam hitungan bulan. Kerusuhan antara kedua suku ini akhirnya bisa diselesaikan dengan cara damai setelah melihat jumlah korban jiwa dan kekacauan disana-sini yang terjadi. Banyak pihak-pihak yang tidak bersalah turut menjadi korban sehingga jalan damai pun menjadi alternatif. Terlalu kecil bagi saya memahami kondisi politis pada masa itu, tapi yang saya tahu kerusuhan akhirnya selesai damai. Orang-orang Madura yang berhasil mengungsi keluar Sampit dan terikat kontrak dengan pemerintah setempat atau memiliki keterikatan dengan kota Sampit akhirnya dipulangkan kembali ke Sampit. Cara damai yang ditempuh kedua belah pihak ini merupakan alternatif yang baik agar tercipta toleransi antar suku. Hingga saat ini, orang-orang Madura masih di temukan di Sampit dan sekitarnya. Harapan saya semoga kerusuhan sosial tahun 2001 tidak pernah terjadi lagi dan masyarakatnya bisa hidup rukun, damai, dan tidak mudah terprovokasi.
Rinchi Andika Marry, mahasiswi Ilmu Sejarah Universitas Indonesia ini memiliki nama panggilan yang beragam. Di keluarga ibu di panggil Iin, di keluarga bapak dipanggi Enchik, teman-teman kampus Rinchi. Suka mempelajari bahasa asing terutama Bahasa Inggris, Bahasa Korea, dan Bahasa Mandarin. Punya hobby nulis cerita pendek dan novel. Berharap suatu hari tulisan2nya bisa dimuat di majalah dan novelnya dipublish. Selalu berimajinasi dimanapun berada.