Categories
101 La Galigo Featured Galigoku

NBG 188 Sang Naskah Terpanjang Di Dunia

Awalnya, NBG 188 dikumpulkan oleh I Colliq Pujie Arung Pancana Toa, seorang raja perempuan dari tanah Bugis yang ditahan oleh Belanda. Atas permintaan B.F. Matthes, sang ratu mengumpulkan dan menyalin ulang episode-episode La Galigo. Hasilnya adalah  2212 halaman folio salinan naskah yang merupakan 1/3 dari seluruh naskah La Galigo yang oleh Matthes dibawa ke Belanda. Pada tahun 1987 dimulailah sebuah proyek untuk menerjemahkan dan menerbitkan NBG 188 ini.

Naskah NBG 188 yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden terdiri dari 12 jilid yang jumlah halamannya tersusun dalam 2851 lembar folio. Ukuran kedua belas jilid itu 21 x 34 sentimeter. Puisi kuno ini ditulis dengan alat tulis tradisional yang disebut dengan Kallang bertinta hitam dalam aksara Lontaraq dan bahasa bugis kuno. Kertas yang digunakan sebagai media tulis adalah kertas yang berasal dari Eropa. Dikarenakan panjangnya naskah yang harus disalin dan waktu yang cukup lama untuk prosesnya seiring pula penggunaan beberapa jenis kertas yang berbeda-beda baik dari segi kualitas dan kuantitas. Warna krem dan berat kertas yang tebal paling banyak digunakan namun pada bagian-bagian akhir penyalinan, kualitas kertas menurun dengan menggunakan kertas yang berwarna lebih tua dan berat kertas yang tipis sehingga membuat tinta kallang membayang bahkan telah tembus ke bagian belakang kertas tersebut. Colliq Pujie memindahkan isi La Galigo dengan rapi dan dengan tulisan yang jelas walaupun nantinya akan ditemukan beberapa kesalahan penulisan dalam beberapa bagian-bagian naskah. Kesalahan tersebut diperbaiki dengan memberikan tanda kurung siku untuk kata, huruf dan fragmen yang harusnya terdapat dalam puisi La Galigo.

Untuk memudahkan penyusunan, B.F. Matthes memberikan nomor halaman dengan pensil. Pada kebanyakan bagian pinggir naskah dan beberapa bagian kosong di atas kalimat terdapat catatan kecil yang di buat oleh Matthes . Catatan ini merupakan arti kata-kata tertentu dari fragmen puisi La Galigo dalam bahasa Belanda, Makassar dan Bugis kuno itu sendiri yang diterangkan oleh Colliq Pujie selama proses pengerjaannya. Ada juga beberapa kata yang hanya dijelaskan oleh Colliq Pujie namun oleh Matthes tidak dituliskan dalam bahasa Belanda karena kata tersebut merupakan simbol dari konsep kebudayaan Bugis. Contohnya kata : Siri’.

Penyimpanan naskah kuno Bugis La Galigo ini membutuhkan teknologi yang tinggi dengan ruang hampa udara yang bisa menjaga keawetan naskah yang telah berusia ratusan tahun. Untuk melihat langsung naskah kuno ini, silahkan mengunjungi Perpustakaan Leiden di Leiden, Belanda. Tentunya dengan membawa surat pengantar dan mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh pihak perpustakaan. Hal ini perlu diterapkan karena naskah ini adalah naskah asli satu-satunya, Colliq Pujie hanya menuliskan satu set saja dan itupun dibawa oleh Matthes. Adapun penyalinannya belum diterbitkan dan disebar luas kecuali dua jilid dari dua belas yang telah diterjemahkan oleh Alm. Muhammad Salim, dkk. Untuk mendapatkan informasi mengenai salinan ini silahkan menghubungi KITLV baik yang berada di Belanda maupun di Jakarta.

 

Referensi:
Wawancara langsung dengan Alm. Muhammad Salim pada tahun 2010.
Salim, Muhammad & Fachruddin Ambo Enre. (1995). La Galigo menurut naskah NBG 188 yang disusun oleh Arung Pancana Toa (Jilid I). Jakarta: Djambatan-KITLV.
Salim, Muhammad & Fachruddin Ambo Enre. (2000). La Galigo menurut naskah NBG 188 yang disusun oleh Arung Pancana Toa (Jilid II). Makassar: Lephas.
Kern, Rudolph. A. (1989). I La Galigo: Cerita Bugis Kuno, diterjemahkan dari Bahasa Belanda: Catalogus I (Catalogus van de Boegineesche, tot den I La Galigo-cyclus behoorende handschriften der Leidsch Universiteitsbibliotheek, alsmede van die in andere europeesche bibliotheken) & Catalogus II (Catalogus van de Boegineesche, tot den I La Galigo-cyclus behoorende handschriften van Jajasan Kebudajaan Sulawesi Selatan dan Tenggara te Makassar) oleh La Side dan M. D. Sagimun. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Nur Azmah Musa, dara kelahiran Maros yang juga alumni Heritage Camp 2013 oleh Lontara Project ini punya kepeduliaan yang besar terhadap budaya. Meskipun menuntut ilmu di Universitas Komputer Indonesia, Azmah aktif di kegiatan yang berhubungan dengan budaya seperti penelitiannya mengenai naskah La Galigo dan keaktifannya di Indonesian Heritage Trust (BBPI). Saat ini Azmah berdomisili di Jakarta.
Categories
Featured Galigoku

Inspirasi dari “Docplomat” Asal Bugis

Mereka (GAM) melihat ayahnya dibunuh, kakaknya ditangkap, adiknya hilang, tetntu saja mereka sakit hati. Itulah yang membuat orang bergabung dengan GAM, dan inilah yang harus dibenahi

Awal tahun 2007, seperti biasa, kala penat menyerang menjelang ujian akhir nasional, perpustakaan di sekolahku, MAN Insan Cendekia menjadi tempat favorit yang selalu kutuju. Ketika hendak menuju sofa empuk kosong yang biasanya menjadi rebutan, mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah buku tebal tergeletak di salah satu ujung rak di sudut ruangan. Tidak strategis posisinya, tapi wujudnya yang mantab, hard cover warna hitam,seperti ada magnet di dalam buku itu yang menarikku. Kutinggalkan koran yang sedianya kubaca, berjalan melintasi ruangan berlapis karpet biru, kuraih buku itu.

dr. Farid Husain. Sumber: http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2011/11/111107_tokohoktoberfaridhusain.shtml

To See The Unseen, Di Balik Damai Di Aceh”. Judul yang sangat mengundang, batinku. Buku ini seolah meningkatkan daya magnetiknya ketika kutemukan bahwa tokoh utama yang bercerita dalam biografi kisah nyata diplomasi ini adalah seorang dokter, bahkan seorang spesialis bedah-digestive, yakni dr. Farid Husain, seorang dokter senior putra Bugis asli. Pada bagian awal untaian kisah pengalaman nyata ini, aku mendapati bahwa buku ini menjanjikan jawaban atas kegelisahanku yang memuncak dalam memilih jurusan kuliah kelak. Beberapa saat lagi ujian seleksi masuk UGM dilaksanakan. Kampus Insan Cendekia sendiri akan menjadi salah satu tuan rumah ujian untuk wilayah Banten, Lampung dan Sumatera Selatan. Perang batinku masih antara Pendidikan Kedokteran, menjadi dokter sebagaimana wasiat almarhum Bapak, atau  Hubungan Internasional passion utamaku kala itu agar bisa menjadi diplomat kelak. Sejak detik kubuka buku itu aku sudah lupa kembali duduk di sofa tadi, kubaca lembar demi lembar buku itu, sambil tetap berdiri.

Juni 2003, sebulan sejak penetapan Darurat Militer di Aceh oleh pemerintah pusat, berkat kedekatannya dengan seniornya yakni Jusuf Kalla yang menjabat Menkokesra saat itu dan juga berasal dari Sulawesi Selatan, Farid Husain diminta oleh Jusuf Kalla untuk memelihara hubungan baik dan komunikasi dengan para pimpinan GAM di Aceh, juga di luar Indonesia, dalam rangka menginisiasi perdamaian antara GAM dan Pemerintah RI. Jusuf Kalla yakin, konflik di Aceh dapat diselesaikan dengan satu hasil bulat, damai, sebagaimana inisiatifnya yang berhasil di Ambon dan Poso yang juga diamanahkan pada tangan dingin Farid Husain.

Babak selanjutnya, Farid Husain mengatur dan menjalankan berbagai strategi dengan tujuan akhir perdamaian antara GAM dan pemerintah Republik Indonesia. Berbagai jalur diplomasi di balik layar ia lakukan. Farid Husain bahkan berhasil mendapatkan dukungan dari Crisis ManagementInitiative dan Mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari yang telah berpuluh tahun berpengalaman dalam perdamaian konflik melalui kontaknya di Finlandia, Juha Christensen yang dikenalnya dua puluh tahun lalu saat Juha meneliti bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan. Dalam periode yang bersamaan, tidak hanya di Jakarta dan Aceh, Farid Husain juga melakukan berbagai pertemuan hingga ke Singapura, Belanda, dan Swedia demi menemui berbagai elemen hingga pimpinan GAM. Dengan beragam tempat pertemuan mulai dari lobby hotel,restoran, hingga belantara hutan.

Pengalaman Farid Husain sebagai dokter selama hampir seperempat abad menunjang upaya diplomasi dan treatmentyang diberikannya kepada pihak GAM. Umumnya dokter yang hendak mendiagnosa, pertemuan dan pemeriksaan pasien adalah hal yang dapat dikatakan mutlak selain didukung hasil pemeriksaan lain. Untuk mendekati dan meresapi aspirasi masyarakat Aceh dan mendekati pasukan GAM yang merupakan ‘pasien’nya di lapangan, tidak jarang Farid Husain harus berhadapan langsung dengan pucuk senjata. Namun kepiawaiannya dalam berkomunikasi dan pendekatan personal justru membuatnya dapat diterima oleh para aktivis GAM di lapangan bahkan dianggap seperti saudara. Kelak pendekatan personal, prinsip yang juga diterapkannya dalam menghadapai pasien, inilah yang menurut Farid Husain merupakan kunci keberhasilan upaya perdamaian antara Pemerintah RI dan GAM ini.

Seperti halnya pasien yang datang karena menderita suatu penyakit, perlawanan GAM tumbuh dari rasa sakit hati.

“Mereka (GAM) melihat ayahnya dibunuh, kakaknya ditangkap, adiknya hilang, tetntu saja mereka sakit hati. Itulah yang membuat orang bergabung dengan GAM, dan inilah yang harus dibenahi,” urai Farid Husain. Seperti yang diterapkannya kala berhadapan dengan pasien, Farid Husain aktif mendengarkan keluhan bahkan makian dari pihak GAM terhadap pemerintah RI. Mengutip pernyataannya,

“Itulah (prinsip) yang saya lakukan dalam menjalin kontak dengan orang-orang GAM. Saya coba menampung keluhan mereka sampai kemudian mereka merasa lega. Saat itulah saya masuk ke alam mereka dan menyelami perasaan mereka,”

Tidak hanya mendengarkan, Farid Husain juga menunjukkan empatinya sebagaimana ia menghadapi pasiennya. “Dok, saya pusing dan mual kenapa ya, Dok.”  Farid akan menujukkan empati dengan berkata,“Oh, saya juga sering pusing-pusing begitu,” Semua upaya itu dilakukannya agar para para petinggi GAM mau maju ke meja perundingan damai.

Upayanya yang luar biasa dalam melakukan pendekatan untuk meyakinkan para petinggi GAM dibahasakan oleh Jusuf Kalla dalam buku biografi itu, dalam perspektif manajemen dan bisnis.

“Jadi tugasnya (Farid), kalau dari sudut saya sebagai bekas pengusaha adalah menawarkan, menjual, dan melaksanakan kegiatan purnajual.Kalau dari sisi Dr Farid sebagaimana dokter ahli bedah, mulai dengan memeriksa, mengambil tindakan, dan recovery.Tugas itu selalu dilaksanakan dengan tulus, bertanggung jawab dan dengan gembira. Karena itu selalu saja dia dapat menemukan jalan yang kita tidak lihat, “

Akhirnya pada 15 Agustus 2005, ditandatanganilah MoU antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia setelah melalui lima ronde perundingan sejak 28 Januari 2005. Satu hal menarik dalam perundingan adalah dari lima delegasi Indonesia yang kesemuanya berasal dari luar Jawa, demi menjaga netralitas, tiga delegasi berasal dari Sulawesi Selatan. Selain Farid Husain, ada Menkumham saat itu Hamid Awaluddin, yang juga berasal dari Sulawesi Selatan. Dominannya juru runding asal Aceh dan Makassar dalam babak-babak perundingan sempat memunculkan gurauan bahwa perundingan ini antara GAM dengan GAM, Gerakan Aceh Merdeka dan Gerombolan Anak Makassar.

Usai membaca biografi Farid Husain yang melibatkan emosi sekaligus intelektual, seolah Tuhan mempertegas apa yang beberapa hari lalu ibuku nasehatkan “sekolah dokter dulu, kalau sudah jadi dokter mau belajar apa aja boleh (bisa)”. Inilah yang menuntunku akhirnya memilih pendidikan kedokteran. Keputusan yang sesuai dengan wasiat almarhum Bapak, dengan harapan kelak dapat menemukan jalan seperti Farid Husain mengawinkan ilmu, prinsip, dan pengalaman di dunia kedokteran dalam dunia diplomasi dan hubungan internasional.

Bagiku, bukan suatu kebetulan Tuhan mengarahkan mataku pada siang itu ke buku yang jumlahnya hanya satu eksemplar di perpustakaan Insan Cendekia itu. Enam tahun sejak aku menyelesaikan buku itu, Tuhan telah menunjukkan bahwa keputusanku kuliah di kedokteran justru mengantarkan ku menyalurkan passion-ku di dunia diplomasi dan hubungan internasional dengan menganugerahkan berbagai karunia yang kusebut “perkawinan” antara pendidikan kedokteran dengan dunia diplomasi dan hubungan internasional. Bahwa dunia kedokteran dapat ‘dikawinkan’ dengan dunia diplomasi dan hubungan internasional yang kuistilahkan sebagai ‘docplomacy’

Tahun 2010, dengan niat mengamalkan ilmu kesehatan yang kudapat, bersama kawan-kawan di FK UGM kami berhasil menjalin kerjasama dengan produsen ponsel dari Finlandia, negara asal Martti Ahtisaari, untuk menyebarkan informasi gaya hidup sehat melalui pembuatan konten kesehatan untuk pengguna di seluruh Indonesia. Tahun 2010, setelah bermodal “Diplomasi Bir” untuk mendapat stipend biaya perjalanan, aku mendapat penghargaan presentasi poster public health terbaik di CharitéUniversitätsmedizin Berlin, Jerman. Di tahun yang sama, dalam rangka partisipasi KBRI Praha pada Festival Budaya kota Plzen, aku diberi kesempatan menampilkan Tari Truno di hadapan masyarakat setempat kala mengikuti program internship mahasiswa kedokteran di Palacky University Hospital di Ceko.

Fadjar dan istri, Mutia di Belgia. Menuntut ilmu sembari terus menyebarkan budaya Indonesia.

Tahun 2011, harapanku memiliki pengalaman di dunia kesehatan internasional dijawab dengan kesempatan yang sangat langka, kerja magang di kantor pusat WHO Jenewa. Tahun 2011 dan 2012, berkat beasiswa kesehatan masyarakat dari Erasmus Mundus yang memberangkatkanku ke Belgia, bersama istriku dan kawan-kawan Indonesia di Belgia kami mendapat kesempatan menampilkan tari Saman di berbagai acara sosial, resepsi diplomatik, hingga promosi pariwisata tahunan di Belgia. Di Belgia pula aku mendapat kesempatan langka menjalani internship di salah satu WHO Collaboration Center dalam bidang epidemiologi bencana di Université catholique de Louvain tempatku belajar. Di tahun ini juga kami berhasil mengulang kerjasama dengan produsen ponsel asal negara tuan rumah perundingan perdamaian GAM dan RI tadi tadi. Bisa jadi ini pertanda Tuhan bagiku akan semangat keyakinan yang kudapat usai membaca biografi Farid Husain. Kedokteran dapat dikawinkan dengan diplomasi dan hubungan internasional.

Kini Farid Husain yang menduduki jabatan Direktur Jenderal Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan dipercaya menjadi utusan khusus (special invoice) Presiden untuk menggagas dialog damai Jakarta-Papua dengan tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dan telah berjumpa dengan Panglima TPN Papua Barat, Brigadir Jenderal Richard H. Joweni. Melalui Farid Husain, BrigJen Richard Jowenitelah mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyatakan bahwa TPN mau berunding untuk segera mengakhiri konflik. Meski berpendidikan dokter spesialis dan menajabat posisi di kementerian kesehatan kontribusi putra Bugis ini dalam diplomasi berbagai perdamaian konflik di Indonesia tak pernah surut.

Aku? Aku bersyukur di semester terakhir perkuliahanku di FK UGM Dokter Farid Husain sempat hadir sebagai pemberi kuliah pakar, aku sampaikan kekagumanku akan karyanya dan terimakasihku akan peran biografinya yang menginspirasiku untuk mendaftar ke FK UGM saat itu. Lewat berbagai media aku masih terus mengikuti sepak terjangnya, menjadikannya inspirator sekaligus “mentor” jarak jauh, sambil terus belajar agar suatu saat aku dapat berbuat karya yang setidaknya sama nyatanya dengan karyanya. Sebagai seorang ‘docplomat’.

 

Sumber:

Buku “To See The Unseen”
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3624
http://arsip.gatra.com/2005-07-20/artikel.php?id=86475
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3624
http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/peace/laureates/2008/ahtisaari-photo.html
http://www.acehfeature.org/index.php/site/detailartikel/616/Meretas-Jalan-ke-Helsinki
http://westpapua-arki.blogspot.be/2012/02/surat-tpnopm-kepada-presiden-ri.html
http://www.depkes.go.id

 

Mochammad Fadjar Wibowo, alumni pertukaran pelajar AFS ke Belanda yang pernah magang di World Health Organization, PBB pada tahun 2011. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Umum UGM, sosok murah senyum yang gemar berbisnis kecil-kecilan ini menikah dan langsung melanjutkan pendidikannya di Universite Catholique de Louvain, Belgia. Amat mengidolakan B.J. Habibie, pria yang doyan kebab dan jago menari ini sekarang tengah bekerja sebagai intern di Center for Research Epidemotology of Disasters, Belgia.

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

“Pucuk yang Terpuji” Penyelamat La Galigo dari Negri Tanete

La Galigo mungkin sudah punah termakan zaman, jika tidak ada wanita  ini yang menyalinnya.

Colliq Pujie, Penyalin ke-12 jlid naskah La Galigo yang kini berada di Leiden. (Sumber: La Galigo Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia, 2003)

Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa Matinroe ri Tucae. Namanya amat khas Bugis (dan sulit dibaca, hehe). Retna Kencana Colliq Pujie (‘Pucuk yang terpuji’) ialah nama kecil yang menjadi panggilannya, sedangkan Arung Pancana Toa ‘Raja Pancana Tua’ adalah sebuah gelar. Matinroe ri Tucae  ‘yang tidur di Tucae’ merupakan nama anumerta yang disematkan oleh orang-orang setelah Ia “ditidurkan” oleh Yang Maha Esa.

Colliq Pujie adalah wanita bangsawan berdarah Bugis-Melayu. Ketika banyak perempuan (bahkan dari kalangan aristokrat) lain di Indonesia yang tidak mendapatkan akses ke pendidikan, Colliq Pujie tumbuh menjadi seorang cendekiawati yang penuh kreatifitas. Ia cerdas dan dikaruniai dengan banyak kemampuan. Bahasa dan sastra Bugis merupakan keahliannya. Ia mengerti bahasa La Galigo yang pada zamannya pun sudah tidak dituturkan lagi. Dalam urusan kerajaan, dia diberi amanat tulis-menulis surat resmi untuk ayahnya, La Rumpang, raja di Tanete. Aktifitas kerajaan lebih banyak dikontrol oleh Colliq Pujie sebab ayahnya hampir tidak pernah tinggal di istana karena diintimidasi oleh Belanda. Sampai-sampai Ia digelari Datu Tanete karena memainkan peranan utama di kerajaan. Wow, hebat ya!

Penikahannya dengan La Tanampareq (To Apatorang Arung Ujung) menganugerahinya tiga orang anak, satu laki-laki dan dua perempuan. Anaknya yang laki-laki bernama  La Makkawaru, dan yang perempuan bernama Siti Aisyah  We Tenriolle dan I Gading. Pada tahun 1852, suaminya meninggal dunia. Ia menetap di Tanete bersama ayahnya.

Pertemuannya dengan Matthes diawali dengan keinginan Matthes untuk mempelajari bahasa Bugis yang menurutnya lebih susah dari bahasa Makassar. Tahun 1852, Matthes yang tinggal di Makassar mengunjungi daerah-daerah Bugis, seperti Maros, Pangkajene, dan Tanete. Di Tanete dia berkenalan dengan Colliq Pujie. Tidak banyak yang mereka bicarakan pada pertemuan pertama tersebut. Matthes pun kembali ke Makassar.

Tahun 1855, La Rumpang, ayah Colliq Pujie, meninggal dunia. Dia digantikan oleh We Tenriolle, putri Colliq Pujie, yang kemudian dilantik sebagai Datu Tanete. Pewarisan tahta kepada putri Colliq Pujie adalah permintaan pribadi La Rumpang sebab dia tidak ingin tahtanya jatuh kepada La Makkawaru, putra Colliq Pujie, yang memiliki tingkah laku yang buruk. Selang dua tahun, terjadi pertengkaran antara Datu Tanete dan anggota keluarganya, termasuk ibunya. Hal ini terjadi karena ternyata putri Colliq Pujie tersebut bekerja sama dengan Belanda. Colliq Pujie yang notabene merupakan penentang kuat kekuasaan Belanda sangat marah dan melakukan perlawanan. Khawatir akan pengaruh dan kharisma Colliq Pujie yang begitu kuat, Belanda akhirnya mengucilkannya ke Makassar dengan uang tunjangan seadanya.

Naskah Bergambar Sureq Galigo Kolekasi Andi Makkarate. (Sumber: La Galigo Menelusui Jejak Warisan Dunia, 2003)

Sejak saat itu, Colliq Pujie menetap di Makassar hingga pada tahun 1859 dia diizinkan kembali ke Tanete atas permintaan putrinya. Selama di Makassar itulah dia membantu Matthes dalam menyalin naskah La Galigo. Matthes berhasil mengumpulkan cukup banyak naskah La Galigo dari hasil perjalanannya ke berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Beberapa ada yang dipinjamnya, beberapa ada yang diberikan sukarela, dan beberapa ada yang disalinnya sendiri karena empunya tidak ingin meminjamkan atau memberikan. Colliq Pujie pun turut membantu dengan pengetahuannya tentang bahasa dan sastra Bugis.

Kerja sama antara Colliq Pujie dan Matthes berlangsung selama 20 tahun. Ya, 20 tahun! Kebayang kan betapa banyak dan panjangnya naskah La Galigo yang harus disalin Colliq Pujie ke atas kertas. Bahkan sebenarnya, diperkirakan itu baru 1/3 dari keseluruhan naskah La Galigo. Banyak naskah La Galigo yang tidak sempat disalin ke atas kertas karena hilang ataupun rusak.

Tidak hanya Matthes yang dibantu oleh Colliq Pujie, dia juga membantu Ida Pfeiffer dan A. Lighvoed. Ida Pfeiffer adalah seorang etnolog dari Austria yang mengadakan penelitian di Sulawesi Selatan pada tahun 1853, sedangkan A. Lighvoed adalah seoarang peneliti asing yang ingin menyusun catatan peristiwa sejarah di Sulawesi Selatan pada tahun 1870.

Colliq Pujie meninggal pada tanggal 11 November 1876. Selain naskah La Galigo yang disalinnya, Colliq Pujie juga menghasilkan berbagai macam karya sastra. Tahun 1852, dia menulis “Sejarah Kerajaan Tanete” atau dalam bahasa Bugis disebut “Lontaraqna Tanete”. Naskah ini kemudian dicetak dan diterbitkan oleh G.K.Niemen dengan judul Geschiedenis van Tanette. Kemudian dia juga menulis Sureq Baweng, suatu syair yang terkenal di kalangan masyarakat Bugis dan pernah diterbitkan oleh Matthes. Colliq Pujie juga menulis beberapa elong (sejenis pantun Bugis) dan tulisan tentang kebudayaan dan upacara Bugis. Karya-karya Colliq Pujie kini tersimpan di beberapa museum dan perpustakaan di Leiden, Belanda, serta di Yayasan Matthes Makassar.

Colliq Pujie memang tidak begitu dikenal di luar daerah Sulawesi Selatan (bahkan mungkin banyak lho teman-teman lokal kita di Sulsel yang tidak mengetahui sosoknya!). Belajar dari pengalaman hidup dan semangatnya untuk terus berkreasi, Colliq Pujie bisa dijadikan role-model untuk gadis-gadis jaman sekarang. Pada zamannya dulu novel belum dikenal, apalagi buku yang ditulis oleh perempuan, namun Ia sudah dapat menciptakan karya-karya sastra yang bermutu tinggi. Keterbatasannya di pengasingan justru membuatnya terus semangat berkarya. Colliq Pujie adalah pesan bagi generasi muda perempuan Indonesia untuk menjadi mandiri, bersahaja, dan smart!

 

Referensi

I La Galigo: Menurut Naskah NBG 188 yang Disusun oleh Arung Pancana Toa Jilid I. Jakarta: Penerbit Djambatan 1995.

Transkripsi dan Terjemahan: Muhammad Salim, Fachruddin AE dengan bantuan Nurhayati Rahman

Redaksi: Sirtjo Koolhof, Roger Tol