Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Lontara Project Goes to The Netherlands Part I – Menyapa NBG 188 dan NBG 189

Rabu, 18 Desember 2013

Pagi itu Leiden dingin membeku. Angin musim dingin yang bertiup di belahan bumi utara menggigiti kulit-kulit kami. Tubuh tropis kami jelas tidak biasa disapa oleh iklim khas Eropa. Meskipun sudah jam 10 pagi, akan tetapi mentari seakan enggan untuk membuka kelopak matanya. Orang-orang berlalu-lalang mengenakan pakaian tebal, penutup kepala dan sarung tangan. Lihat, bahkan mereka yang lahir dan besar di tanah ini pun mengaku takluk pada alam. Di tengah kegelapan kami berjalan menuju gedung KITLV di jantung Universitas Leiden.

Rombongan Lontara Project yang beranggotakan 15 orang mendapatkan kesempatan berharga untuk bertandang ke Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) atau yang dalam Bahasa Inggris The Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies. KITLV merupakan pusat penelitian Asia Tenggara dan daerah Karibia yang dibiayai oleh Kerajaan Belanda dan swasta yang berfokus pada sejarah, kebudayaan, kebahasaan, antropologi, dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Mengapa Asia Tenggara dan Karibia? Ya, sebab Indonesia yang mewakili Asia Tenggara dan Aruba yang mewakili Karibia dulunya merupakan “Hindia Timur” dan “Hindia Barat” yang berada di bawah kontrol pemerintahan kolonial Belanda. Kajian-kajian terkait kebudayaan dan sejarah di kedua wilayah tersebut berkembang pesat melalui KITLV yang telah berdiri sejak tahun 1851 di Leiden ini. Riset-riset yang dilakukan oleh KITLV amat dibutuhkan demi kepentingan kolonialisme saat itu, akan tetapi seiring dengan perjalanan waktu maka fokus riset pun beralih ke tujuan akademis.

Meskipun terlambat sekitar 10 menit, di ruang konferensi KITLV kami disambut oleh Prof. Willem van der Molen (petinggi KITLV yang juga merupakan ahli dalam naskah Jawa kuno), Pak Nico van Horn (bagian kearsipan untuk koleksi khusus KITLV), serta bu Kathryn Wellen (sejarawan yang juga meneliti kebudayaan Bugis Wajo). Sambutan mereka bak coklat hangat di tengah gempuran udara dingin bagi kami. Mereka begitu terbuka, senang sekaligus penasaran ketika melihat kami: untuk apa sih 15 orang pemuda-pemudi dari Indonesia yang mengatasnamakan diri mereka Lontara Project ini terbang jauh-jauh ke negeri Belanda di musim dingin? Jawabannya datang dari keinginan untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya dokumentasi serta arsip-arsip kuno yang telah berabad-abad tersimpan di Leiden melalui konteks kekinian. Lontara Project yang mengusung konservasi kreatif sebagai wahana untuk melestarikan budaya dengan memanfaatkan kreatifitas anak muda memandang sudah saatnya kekayaan sejarah bangsa yang tersimpan di KITLV untuk digaungkan, demi mengundang kepeduliaan generasi muda.

Setelah memaparkan tujuan serta harapan Lontara Project, kini giliran pihak KITLV yang angkat bicara. Diskusi dan pemaparan para ahli naskah di KITLV meningkatkan wawasan kami tentang pelestarian naskah dan kebudayaan. Mereka juga menjelaskan metode pelestarian naskah yang telah mereka lakukan dan kembangkan. Selama ini banyak yang berpikir untuk mengembalikan naskah-naskah kuno yang tersimpan di KITLV ke Indonesia, namun apakah ada yang bisa menjamin naskah tersebut dapat terawat dengan baik di Indonesia? Maka dari itu salah satu upaya KITLV untuk mempermudah akses masyarakat Indonesia terhadap manuskrip, audio, visual, maupun jurnal terkait penelitian budaya Indonesia yang tersimpan rapi di KITLV adalah digitalisasi dan pengembangan akses melalui website KITLV. Segala arsip terkait kebudayaan Indonesia yang tersimpan di KITLV dapat diakses melalui website www.kitlv.nl untuk mempermudah masyarakat melakukan penelitian dan mencari sumber-sumber arsip kuno terkait budaya Indonesia di KITLV, jadi tidak perlu jauh-jauh datang ke Belanda untuk melihat naskah aslinya langsung. Pak Nico paham betul arti penting La Galigo bagi kami, maka khusus untuk kunjungan tim Lontara Project sebuah dokumen berisi surat-surat B.F. Matthes yang berasal dari abad ke-19 pertama kalinya dikeluarkan dan ditunjukan ke hadapan kami. Pertemuan di KITLV pada hari pertama diakhiri dengan wawancara singkat dengan para petinggi KITLV tentang kesan dan pesan mereka kepada pemuda tentang pelestarian budaya nusantara khususnya.

Menyelami budaya Indonesia tidak sampai di KITLV saja. Perjalanan tim Lontara Project berlanjut lebih dalam lagi. Naskah epik terpanjang di dunia, itulah yang akan dijelajahi oleh para pemuda yang dilanda gundah dan penasaran akan karya sastra fenomenal tersebut. Itulah La Galigo, terdiri dari 300.000 baris, disusun menjadi 12 jilid yang diakui UNESCO sebagai memory of the world. Naskah asli La Galigo kini tersimpan rapi di Perpustakaan Universitas Leiden. Itulah selaman lebih dalam tim Lontara Project.

NBG 188 Volume I

Kunjungan tim Lontara Project ke Perpustakaan Universitas Leiden langsung disambut oleh Ibu Marie Odette, kepala arsip perpustakaan Universitas Leiden. Kami digiring menuju ke ruang pertemuan di lantai 3 gedung perpustakaan. Memasuki ruang tersebut, langsung terlihat buku-buku tentang La Galigo yang dijejer di atas meja. Tampak jelas buku tebal berwarna mencolok yang merupakan hasil terjemahan naskah La Galigo jilid I dan II hasil penelitian para tim ahli dan penerjemah La Galigo. Diawali dengan perkenalan Ibu Maria Odette dan pendahuluan dari Pak Sirtjo Koolhof, penyelaman dan pengamatan naskah asli La Galigo oleh tim Lontara Project dimulai di sini.

Saat itu Ibu Marie Odette membawa talenan besi beroda yang di atasnya ada beberapa tumpukan arsip tua. Terkesima kami dibuatnya karena ternyata itulah yang merupakan naskah fenomenal 12 jilid volume, epik terpanjang di dunia yang dimaksud. Sebelum digelar di hadapan kami, ibu Marie menjelaskan terebih dahulu kondisi naskah secara singkat. Saat sebelum naskah digelar di hadapan kami, Ibu Marie menaruh bantal dan menggunakan kaos tangan untuk mengambil naskah tersebut. Naskah diletakaan di atas bantal dan selanjutnya dipaparkan oleh Pak Sitjo Koolhof yang merupakan salah satu dari tim penerjemah naskah La Galigo. Sungguh mengagumkan cara mereka memperlakukan naskah kuno ini, memegangnya harus memakai kaos tangan dan meletakkannya pun harus di bantalan khusus. Hal tersebut merupakan kesan kekaguman pertama kami dalam menyapa NBG 188.

Pak Sirtjo dan 12 volume NBG 188

Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan perasaan kami saat NBG 188 dibuka. Naskah itu, yang usianya telah lebih dari satu abad dan selama ini menjadi sumber inspirasi kami dalam berkarya, dalam menafsirkannya sesuai kondisi dan kebutuhan anak muda di zaman ini, dibuka dengan penuh kehati-hatian oleh Pak Sirtjo. Bagaikan bayi yang diangkat dari selimutnya. Naskah salinan dari seorang bangsawan negeri Tanete yang diasingkan oleh Belanda dan terpaksa hidup miskin di Makassar, Retna Kencana Arung Pancana Toa Colliq Pujie. Kertasnya yang berwarna kecoklatan, tintanya yang tergores hitam pekat serta catatan-catatan dari pensil yang dibuat oleh B.F. Matthes, seorang penerjemah Alkitab yang mencetuskan ide awal untuk mengumpulkan naskah La Galigo membawa alam pikiran kami melayang ke masa lalu. Membayangkan kolaborasi kedua intelektual ini serta perjuangan mereka dalam mengumpulkan naskah-naskah La Galigo berbagai episode untuk disalin ulang, disusun dan diedit sehingga dapat menciptakan sebuah epos terpanjang di dunia.

Naskah NBG 188 terdiri atas 12 volume, ditulis di atas kertas. Pada naskah-naskah awal, kita dapat melihat banyak coretan yang dibuat oleh Matthes, menandakan bahwa Ia menggunakan naskah tersebut untuk belajar Bahasa Bugis dan menyusun kosakata Bahasa La Galigo. Di naskah-naskah volume akhir, terutama di naskah keduabelas, tidak ada sama sekali bekas coretan dari Matthes, menandakan bahwa mungkin ia belum sempat mengkaji naskah ini. Jelaslah sudah bahwa naskah-naskah ini masih butuh untuk lebih dieksplorasi lagi! Selain melihat NBG 188 kami juga ditunjukkan NBG 189, naskah La Galigo terpendek di dunia yang juga merupakan sebuah teks keramat. Mengapa disebut teks keramat? Sebab naskah ini dimulai dengan sebuah frase “penangkal musibah” dalam Bahasa Bugis serta dibubuhi darah ayam di keempat sudutnya. NBG 189 berisi silsilah Sawerigading yang dimulai dari Datu PatotoE, dewa tertinggi penguasa Boting Langiq dalam pantheon Bugis kuno. Sebenarnya perasaan kami bercampur antara gembira dan sedih siang itu. Gembira karena dapat bertemu dengan pakar-pakar kelas dunia. Gembira karena dapat melihat langsung NBG 188 dan NBG 189. Akan tetapi kesedihan tiba-tiba menyeruak masuk. Kesedihan karena tidak adanya perhatian dari pemerintah untuk menginisiasi proyek penerjemahan naskah monumental ini. Dulu, proyek penerjemahan dua volume pertama La Galigo dibiayai oleh pihak Belanda. Padahal untuk biaya penerjemahan naskah ini, hanya dibutuhkan dana sebesar 3,000 Euro. Bukan jumlah yang besar dibandingkan dengan dana yang dikorupsi oleh pejabat-pejabat di tanah air. Kesedihan lain muncul karena di tanah air sendiri tidak ada perhatian dari generasi mudanya. Tradisi massureq sudah diujung tanduk, seiring dengan semakin tuanya para pelantun La Galigo ini di daerah. 

Siang hari itu kami tutup dengan pesan dari Pak Sirtjo: La Galigo ini adalah sebuah warisan bagi generasi masa kini dari masa lalu. Untuk dapat membuat La Galigo ini dapat bertahan menghadapi arus perkembangan zaman, maka jangan ragu untuk menginterpretasikannya sesuai kapasitas kita sebagai pemuda. Melestarikan nilai-nilai lama bukan berarti harus terjebak dalam paradigma kekunoan yang membuat kita tak akan pernah maju. Sebagaimana yang dulu pernah dipesankan oleh ibunda Profesor Nurhayati Rahman kepada kami “janganlah menjadi katak dalam tempurung”. Lihat lah dunia ini, jelajahi, dan kembangkanlah diri namun tetap berpijak pada akar tradisi.

Seakan belum habis surprise yang Lontara Project temukan di negeri Belanda, terakhir saat kami berjalan menuju keluar gedung KITLV, di tepi sungai yang membelah kampus Universitas Leiden terpampang sebuah bilboard besar yang ditulis dalam aksara lontaraq berbahasa Bugis. Elong yang diukir di gedung KITLV tersebut seakan mewakili perasaan kami yang jauh dari kampung halaman namun tetap senantiasa menggenggam teguh akar tradisi.

Tulisan lontaraq di depan gedung KITLV Leiden

                “Polena pelele winru, tenreq kutuju mata, padana sulisa.”

(Saya sudah kemana-mana di dunia ini, namun belum mataku temukan keindahan yang serupa indahnya dengan kebijaksanaan di negeri ini)

Ditulis oleh Muhammad Ahlul Amri Buana dan Muhammad Ulil Ahsan

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Perang Gerilya Kita yang Nomer Satu?

Pagi ini di kelas Hukum Pidana Khusus saya mendapat informasi menarik tentang betapa hebatnya Indonesia “di masa lalu”. Seperti biasa, bahasan-bahasan mengenai local wisdom maupun fakta-fakta mengagumkan yang menjadi prestasi bangsa ini di era yang telah lampau selalu dapat menstimulus saya dengan berbagai inspirasi maupun optimisme akan masa yang akan datang, meskipun pada saat yang bersamaan juga membuat saya miris dengan keadaan di masa sekarang. Kali ini, kisah yang Ia tuturkan merefresh memori saya akan sejarah dan tokoh nusantara yang mewarnai dunia secara global hingga ke zaman modern ini.

Di sela-sela bahasan beliau mengenai Genosida, Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, dan Kejahatan Perang, dosen saya memberikan intermezzo. Alkisah, jagoannya pertempuran laut di dunia ini pasca WWII adalah Inggris dan Uni Soviet. Negara lain hampir tidak ada yang bisa memenangkan pertempuran jika berhadapan dengan mereka. Adapun jagoan pertempuran udara ialah Amerika Serikat dan Prancis. Jangan ditanya, Paman Sam memang memegang teknologi udara militer yang paling canggih di abad ini. Pesawat Siluman merupakan salah satu inovasi mereka yang dapat masuk ke area musuh tanpa terbaca radar. Yang terakhir inilah yang mengejutkan. Siapakah jagoan perang di darat? Jawabannya ialah Jerman dan Indonesia.

Jerman dengan teknologi tempur, strategi militer yang kuat, dan otot-otot pasukan bangsa Arya yang terlatih memang pantas berulang kali memenangi pertempuran darat di benua Eropa. Satu per satu daerah terbuka maupun kota takluk di hadapan bala tentara Hitler. Tapi, Indonesia? Benarkah negara yang sekarang ini tengah dilanda krisis sosial, korupsi yang mengakar di pemerintahannya, serta pesawat militer maupun komersil yang terus menerus jatuh layak menjadi jagoan pertempuran darat? Sekali lagi, kita bicara dalam konteks “masa lalu.”

Jerman, mempelajari banyak literatur kuno dari berbagai bangsa di Eropa demi menyempurnakan strategi perang mereka. Salah satu yang mereka perhatikan dengan seksama ialah dokumentasi perang kerajaan Belanda dengan golongan pemberontak pribumi di Dutch East Indies alias Hindia Belanda. Bagi bangsa Belanda, menjajah Indonesia selama 300 tahun lebih itu bukannya tanpa biaya. Bangsa timur yang barbar itu dalam pandangan mereka merupakan budak sekaligus musuh yang paling berbahaya. Ambil contoh De Java Orloog atau Perang Diponegoro yang terjadi selama 5 tahun (1825-1830). Perang tersebut menurut sumber Belanda menjadi perang termahal yang pernah dihadapi oleh pemerintah kolonial Eropa di wilayah jajahannya.

Perang mengambil tempat di seluruh daratan, di daerah kota maupun desa-desa yang jarang penduduknya. Belanda mengandalkan formasi pasukan ala Napoleon Bonaparte yang saat itu sedang ngetrend si Eropa. Ada barisan infanteri, kavaleri, dan artileri, pasukan dipecah menjadi 3 unit dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Perang tersebut berlangsung sengit dan sempat membuat pihak Belanda frustasi. Bayangkan saja, daerah yang telah mati-matian mereka taklukkan pada siang hari, di malam hari sudah berhasil direbut kembali oleh pasukan pribumi melalui aksi gerilya mereka. Masyarakat pribumi yang dipimpin oleh para senopati dengan pendidikan mereka yang tradisional mampu memanfaatkan medan pertempuran dan keadaan cuaca sehingga dapat berulang kali membuat kondisi tentara Belanda terpuruk, tidak hanya oleh serangan fisik namun juga oleh serangan hujan tropis maupun penyakit musiman.

Kondisi pertempuran menjadi benar-benar mengerikan ketika untuk pertama kalinya di pulau kecil seperti Jawa, Belanda menurunkan 23.000 orang personil. Inilah perang pertama yang dicatat dalam sejarah sebagai perang modern, karena menggunakan segala taktik kemiliteran yang kita ketahui di masa sekarang ini. Usaha-usaha seperti perang terbuka maupun serangan gerilya hingga telik sandi dilakukan dalam perang ini, menjadi cikal bakal unsur-unsur perang modern. Dunia menyaksikan bahwa setelah ribuan penduduk sipil meninggal dan ribuan tentara Belanda tewas di medan laga, akhirnya Pangeran Diponegoro dapat ditaklukkan. Namun sejak hari itu, dunia melihat nusantara dengan perspektif yang berbeda. Nusantara menjadi daerah yang ditakuti karena kegigihan rakyat pribumi serta kemahiran mereka menjalankan serangan darat yang diam-diam, cepat, dan mematikan.

Tidak hanya di Jawa, namun perang yang terjadi di daerah Indonesia Timur seperti Makassar pun membuat Belanda kecut. Sebuah catatan mengenai peristiwa yang terjadi pada tanggal 8 Agustus 1668 menjadi rekaman pahit Belanda ketika berhadapan dengan Kerajaan Gowa. Ketika itu, pasukan Belanda memasuki pelabuhan dan mendekati daerah Somba Opu yang terletak di pinggir pantai. Masyarakat yang tinggal di sekitar situ pun berteriak-teriak siap menyambut kedatangan para penjajah. Mereka menantang dengan gagah berani, sehingga membuat pasukan Belanda yang membawa mesiu dan senjata api gentar menyaksikan semangat pribumi Makassar. Catatan tersebut kemudian bercerita bahwa pertempuran berlangsung amat dahsyat dan mengerikan, bahkan konon “als crijgers van hoogen ouderdom mischien in Europa selve niet dickwiljs gehoort hebben”  (prajurit-prajurit yang sudah lanjut usianya di Eropa sekalipun tidak pernah mendengarkannya).

Cornelis Speelman yang saat itu menjabat sebagai panglima tinggi Belanda pun mengakui bahwa perlawanan tersebut merupakan yang paling hebat yang pernah Ia temui selama menjalankan misi di nusantara. Saking mengerikannya pertempuran tersebut, sampai-sampai pihak Belanda memberikan salutation kepada pemimpin kerajaan Gowa saat itu, Sultan Hasanuddin, dengan gelar“Haantje van het Oosten” alias Si Ayam Jantan dari Timur. Menurut Nasarudin Koro, seorang mantan diplomat sekaligus penulis buku sejarah Makassar, salah satu pendukung kuatnya barisan Makassar saat itu adalah keberadaan para putra Wajo yang jago bertempur di laut, pasukan Melayu, serta putra-putra Mandar yang punya reputasi sebagai penembak meriam nan jitu. Pada masa itu memang kerajaan Gowa bersekutu dengan kerajaan Wajo dan federasi Mandar di utara. Salah satu penembak meriam yang disegani Belanda dari Mandar ialah Daenna Dollah. Kehebatan Daenna Dollah membuat Ia juga dipanggil oleh Sultan Ternate untuk menghadapi Belanda. Saking terkenalnya, tentara Belanda sambil berdecak kagum berkata: “Hij is een goed kanonneer”.

Selain di Makassar, pertempuran habis-habisan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar dan Cut Nyak Dien juga mengilhami pasukan Jerman saat Perang Dunia II. Taktik bumi hangus yang Jerman lakukan sebenarnya  mereka tiru dari catatan Belanda ketika berhadapan dengan rakyat Aceh ini. Saat itu Belanda menganggap rakyat Aceh sebagai momok, mereka ketakutan dengan kekuatan armada laut Aceh yang mereka sebut sebagai “bajak laut nan beringas.” Semangat tempur rakyat Aceh dalam perang habis-habisan membela bangsa dan agama ini terekam abadi dalam nyanyian pengantar tidur berjudul “Dodaidi” yang iramanya mendayu-dayu namun liriknya begitu tajam.

Terakhir, dosen saya menutup ceritanya dengan kutipan dari pidato salah satu petinggi militer Amerika Serikat untuk Perang Vietnam:

“apabila yang kita hadapi di Vietnam adalah para pasukan guerilla Indonesia, maka nasib kita tidak akan sebaik sebagaimana yang kita alami pada hari ini.” Nama Abdul Haris Nasution pun Ia sebutkan sebagai seorang pria asal Republik Indonesia yang telah memberikan sumbangsih bagi dunia pertempuran militer di darat. Buku Jendral Nasution yang berjudul Fundamentals of Guerilla Warfare (terbit tahun 1965 di New York) would become one of the most studied books on guerrilla warfare along with Mao Zedong’s works on the same subject matter (Emmet McElhatton: 2008).

Tidak hanya mengulas hingga menciptakan metode perang gerilya, beliau juga bahkan membuat ‘anti-virus’ atau tangkisan bagi pihak yang menghadapi perang gerilya. Ia menjadi seorang ahli strategi perang dari Indonesia serta peletak dasar atas perang gerilya.

Itu cerita dulu, kawan-kawan, dan prestasi dari bapak-bapak kita yang telah meninggal. Terlepas dari benar tidaknya cerita beliau, fakta punya versinya sendiri. Yang jadi soalan sekarang, masih sanggupkah kita meneruskan jejak mereka dan menomorsatu-kan kembali Indonesia di mata dunia?

Categories
101 La Galigo Featured Galigoku

NBG 188 Sang Naskah Terpanjang Di Dunia

Awalnya, NBG 188 dikumpulkan oleh I Colliq Pujie Arung Pancana Toa, seorang raja perempuan dari tanah Bugis yang ditahan oleh Belanda. Atas permintaan B.F. Matthes, sang ratu mengumpulkan dan menyalin ulang episode-episode La Galigo. Hasilnya adalah  2212 halaman folio salinan naskah yang merupakan 1/3 dari seluruh naskah La Galigo yang oleh Matthes dibawa ke Belanda. Pada tahun 1987 dimulailah sebuah proyek untuk menerjemahkan dan menerbitkan NBG 188 ini.

Naskah NBG 188 yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden terdiri dari 12 jilid yang jumlah halamannya tersusun dalam 2851 lembar folio. Ukuran kedua belas jilid itu 21 x 34 sentimeter. Puisi kuno ini ditulis dengan alat tulis tradisional yang disebut dengan Kallang bertinta hitam dalam aksara Lontaraq dan bahasa bugis kuno. Kertas yang digunakan sebagai media tulis adalah kertas yang berasal dari Eropa. Dikarenakan panjangnya naskah yang harus disalin dan waktu yang cukup lama untuk prosesnya seiring pula penggunaan beberapa jenis kertas yang berbeda-beda baik dari segi kualitas dan kuantitas. Warna krem dan berat kertas yang tebal paling banyak digunakan namun pada bagian-bagian akhir penyalinan, kualitas kertas menurun dengan menggunakan kertas yang berwarna lebih tua dan berat kertas yang tipis sehingga membuat tinta kallang membayang bahkan telah tembus ke bagian belakang kertas tersebut. Colliq Pujie memindahkan isi La Galigo dengan rapi dan dengan tulisan yang jelas walaupun nantinya akan ditemukan beberapa kesalahan penulisan dalam beberapa bagian-bagian naskah. Kesalahan tersebut diperbaiki dengan memberikan tanda kurung siku untuk kata, huruf dan fragmen yang harusnya terdapat dalam puisi La Galigo.

Untuk memudahkan penyusunan, B.F. Matthes memberikan nomor halaman dengan pensil. Pada kebanyakan bagian pinggir naskah dan beberapa bagian kosong di atas kalimat terdapat catatan kecil yang di buat oleh Matthes . Catatan ini merupakan arti kata-kata tertentu dari fragmen puisi La Galigo dalam bahasa Belanda, Makassar dan Bugis kuno itu sendiri yang diterangkan oleh Colliq Pujie selama proses pengerjaannya. Ada juga beberapa kata yang hanya dijelaskan oleh Colliq Pujie namun oleh Matthes tidak dituliskan dalam bahasa Belanda karena kata tersebut merupakan simbol dari konsep kebudayaan Bugis. Contohnya kata : Siri’.

Penyimpanan naskah kuno Bugis La Galigo ini membutuhkan teknologi yang tinggi dengan ruang hampa udara yang bisa menjaga keawetan naskah yang telah berusia ratusan tahun. Untuk melihat langsung naskah kuno ini, silahkan mengunjungi Perpustakaan Leiden di Leiden, Belanda. Tentunya dengan membawa surat pengantar dan mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh pihak perpustakaan. Hal ini perlu diterapkan karena naskah ini adalah naskah asli satu-satunya, Colliq Pujie hanya menuliskan satu set saja dan itupun dibawa oleh Matthes. Adapun penyalinannya belum diterbitkan dan disebar luas kecuali dua jilid dari dua belas yang telah diterjemahkan oleh Alm. Muhammad Salim, dkk. Untuk mendapatkan informasi mengenai salinan ini silahkan menghubungi KITLV baik yang berada di Belanda maupun di Jakarta.

 

Referensi:
Wawancara langsung dengan Alm. Muhammad Salim pada tahun 2010.
Salim, Muhammad & Fachruddin Ambo Enre. (1995). La Galigo menurut naskah NBG 188 yang disusun oleh Arung Pancana Toa (Jilid I). Jakarta: Djambatan-KITLV.
Salim, Muhammad & Fachruddin Ambo Enre. (2000). La Galigo menurut naskah NBG 188 yang disusun oleh Arung Pancana Toa (Jilid II). Makassar: Lephas.
Kern, Rudolph. A. (1989). I La Galigo: Cerita Bugis Kuno, diterjemahkan dari Bahasa Belanda: Catalogus I (Catalogus van de Boegineesche, tot den I La Galigo-cyclus behoorende handschriften der Leidsch Universiteitsbibliotheek, alsmede van die in andere europeesche bibliotheken) & Catalogus II (Catalogus van de Boegineesche, tot den I La Galigo-cyclus behoorende handschriften van Jajasan Kebudajaan Sulawesi Selatan dan Tenggara te Makassar) oleh La Side dan M. D. Sagimun. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Nur Azmah Musa, dara kelahiran Maros yang juga alumni Heritage Camp 2013 oleh Lontara Project ini punya kepeduliaan yang besar terhadap budaya. Meskipun menuntut ilmu di Universitas Komputer Indonesia, Azmah aktif di kegiatan yang berhubungan dengan budaya seperti penelitiannya mengenai naskah La Galigo dan keaktifannya di Indonesian Heritage Trust (BBPI). Saat ini Azmah berdomisili di Jakarta.