Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba

“Tebang Pohon, Banjir Melanda” Sebuah Ramalan dari La Galigo

Sobat Lontara, di penghujung 2025 dan awal 2026 ini, bangsa Indonesia tengah dilanda duka nan mendalam. Saudara-saudara kita yang berada di Aceh dan Sumatera Utara ditimpa musibah banjir bandang yang tidak hanya meluluhlantakkan pemukiman namun juga merenggut banyak korban jiwa. Di daerah-daerah lain seperti Jawa Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan serta Papua Pegunungan, bencana air bah dan longsor juga melanda. Tentunya, musibah-musibah ini tidak terjadi begitu saja. Selain kenyataan bahwa perubahan iklim menyebabkan anomali pada fenomena cuaca secara global, kerusakan hutan juga menjadi salah satu faktor penting yang memicu terjadinya bencana-bencana tersebut.

Nah, ternyata sudah sejak zaman dahulu kala, leluhur kita telah berpesan kepada manusia untuk senantiasa menjaga pohon, makhluk Tuhan yang diberi peran istimewa untuk menyimpan air sekaligus menjaga struktur tanah. Simak bagaimana La Galigo menarasikan sebab-akibat apabila pohon ditebang untuk kepentingan manusia semata berikut ini.

Tiga Semesta dalam epos La Galigo yang dihubungkan oleh pohon kosmik Wélenréng

Dalam epos La Galigo, terdapat sebuah episode berjudul Ritumpanna Wélenréngngé yang berarti ‘Penebangan Pohon Wélenréng. Episode tersebut boleh dikatakan sebagai salah satu babak yang penting. Di dalamnya diceritakan bagaimana Sawerigading, protagonis dalam cerita-cerita La Galigo, cintanya bertepuk sebelah tangan sehingga memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya di Luwu dan berlayar ke negeri Cina demi menemukan pujaan hati.

Sebelum berlayar ke negeri tersebut, Sawerigading harus terlebih dahulu membangun sebuah perahu yang layak digunakan melayari samudera nan luas. Berdasarkan petunjuk dari adik perempuan kembarnya, Wé Tenri Abéng yang juga adalah seorang bissu sakti, Sawerigading lalu pergi ke Mangkuttu (dalam tradisi lisan berlokasi di tepi Sungai Cerekang). Di daerah itulah, Wélenréngngé —sebatang pohon raksasa yang menjulang tinggi hingga ke Botting Langiq— berdiri kokoh. Lebarnya konon mencapai tiga ratus depa dan panjangnya sekitar tujuh ribu depa, atau sama dengan 11,9 kilometer. Jika dibandingkan dengan Puncak Everest yang hanya 8,8 kilometer, jelas Pohon Wélenréng bagaikan pilar kosmik yang menembus lapisan atmosfer bumi!

“Jika hanya perahu menghalang dikau berlayar ke Cina,

kutunjukkan padamu kakanda Lawé (julukan Sawerigading),

Pohon Wélenréng di Mangkuttu, tumbuh tegak pada gunung kemenyan

Di sana berdiam semua ular sawah, ular lassa, ular méréli, lipan besar, bersarang pada naungan Wélenréng.

Di situ pula berdiam setangkup langit, sepetala bumi, burung-burung beraneka ragam, datang bersarang pada dahan Wélenréng.” – Wé Tenri Abéng

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 373)

Disebabkan oleh ukurannya yang besar, Wélenréng menjadi habitat dari tak terhitung jumlahnya spesies makhluk hidup. Mulai dari hewan-hewan yang melata dan hidup pada akar-akarnya, beragam jenis rusa, babi, kera, hingga ribuan burung yang bersarang pada lebih dari lima ratus dahan besar yang masing-masing memiliki tujuh puluh cabang. Tidak hanya itu, pada Wélenréng bersarang pula makhluk-makhluk tak kasad mata dari jenis padengngeng, pérésola, dan toaleqboreng pulakali yang dikatakan telah beranak-pinak pada pohon tersebut. Tak ayal, Wélenréng menjadi pohon hayat tempat biota darat, udara dan gaib bergantung, sebuah infrastruktur hidup yang menjaga kelestarian lingkungan.

Sebelum pohon tersebut hendak ditebang, terlebih dahulu Batara Lattuq, ayah Sawerigading memerintahkan untuk diadakan sebuah ritual. Ratusan kerbau, ayam merah berparuh dan berkaki kuning, serta ayam remaja berparuh dan berkaki hitam dikucurkan darahnya untuk membasahi Pohon Wélenréng sebagai tanda permohonan izin. Ketika ritual yang dipimpin oleh 70 orang Puang Matowa atau kepala dari para bissu tersebut dilaksanakan, seluruh makhluk yang menjadikan Pohon Wélenréng sebagai pusat kehidupan mereka serentak bereaksi. Mereka keberatan apabila pohon tersebut harus ditebang.

“Terkejut semua penghuni Wélenréng,

Dimabuklah mereka bau manusia.

Tiada senang lagi perasaan anak dewata

yang berumah di puncak Wélenréng”

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 411)

Ternyata, proses penebangan pohon tersebut mengundang perlawanan dari alam. Langit tiba-tiba bergejolak, disertai dengan saling sambar-menyambarnya kilat dan guntur serta angin ribut, menimbulkan ketakutan di hati manusia. Melihat alamat tersebut, lantas Batara Lattuq segera bergabung dalam ritual dan berkata kepada Pohon Wélenréng:

“Kasihani daku La Puang,

Kau izinkan daku menebang Wélenréng

Kuakhiri ia di tempatnya tegak, arakara pohon béttao béttaweng

Kujadikan ia perahu tumpangan hambamu pergi berlayar

menemui jodoh segaharanya.”

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 415)

Permohonan Batara Lattuq ini lantas ditanggapi oleh para penghuni Pohon Wélenréng. Mereka mengutarakan kesedihan mereka dalam ratapan yang mendalam. La Galigo mengisahkan bagaimana hewan-hewan ini, salah satunya seperti burung punai, menjeritkan suara hati mereka yang terancam kehilangan rumah dalam ribuan kicau, saat kapak emas Sawerigading mulai diayunkan.

Menangis mereka (burung punai Apung) berkata, “Tidak terpikir olehku hai Arakara pohon béttao béttaweng,

Kau tinggalkan sungguh teluk ini,

Gunung kemenyan tempatmu tegak di Mangkuttu

Kasihan Wélenréng, ketika daku bersarang di dahanmu, tiada tertiup angin Barat, tiada terhembus bayu Timur, tiada tertimpa sinar matahari terbit

Biar datang puting beliung, tiada sampai pada sarangku, sentosa kulahirkan anakku, tiada mati percuma anakku.”

(Petikan dari Sureq Galigo episode Ritumpanna Wélenréng terjemahan Fachruddin Ambo Enre (1999), halaman 433)

Seluruh manusia yang hadir dalam penebangan pohon itu konon terkejut menyaksikan gemuruh ratap tangis beraneka ragam satwa yang berumah di Wélenréng. Mereka gemetaran, berdiri bulu romanya ketika suara-suara binatang-binatang itu terus berlangsung siang dan malam. Namun demikian, itu semua tidak menyurutkan tekad Sawerigading untuk menebang sang pohon. Dengan bantuan sepupunya yang bernama La Pangoriseng, menggunakan kapak emas yang diturunkan dari langit, Wélenréng dengan mudah ditebang bak batang pisang. Batangnya jatuh membelah dua gunung, lalu rebah ditelan bumi. Bersamaan dengan itu, jutaan makhluk yang bersarang pada Wélenréng kalang kabut, berhamburan ke sana-sini menyelamatkan diri. Tidak ada lagi pohon raksasa tempat mereka bergantung. Yang mereka bawa hanyalah kesedihan dan kenangan akan Wélenréng Yang Agung.

Episode tersebut lantas dilanjutkan dengan kisah bagaimana kapal Sawerigading, yang kemudian juga dinamai Wélenréng, dibuat dengan bantuan dari para dewa yang menghuni dasar bumi. Bersama Wélenréng dalam wujud barunya itulah Sawerigading lantas memulai petualangannya ke negeri Cina.

***

Dalam versi tulisnya, riwayat Pohon Wélenréng di epos La Galigo memang berakhir seperti demikian. Namun, La Galigo adalah epos yang memiliki keberagaman bentuk. Versi-versi lisannya yang masih hidup di tengah masyarakat di Pulau Sulawesi memberikan perspektif yang lebih kaya lagi akan narasi penebangan Wélenréng. Salah satunya adalah cerita dari komunitas Suku Bajo/Sama di Kepulauan Selayar yang penulis dengar langsung pada tahun 2012. Di sebuah pulau kecil bernama Rajuni, terdapat sebuah cerita tentang asal-muasal Suku Bajo yang ternyata berkaitan erat dengan episode Ritumpanna Wélenréngngé.

Menurut versi lisan ini, seiring dengan rebahnya Pohon Wélenréng, jutaan sarang burung yang di dalamnya menyimpan tak terhitung jumlah butir telur unggas turut pula berjatuhan. Butiran-butiran telur tersebut kemudian pecah dan cairan albumen di dalamnya bersatu-padu tumpah-ruah membentuk banjir dahsyat yang menggenangi kawasan negeri Lubo (istilah orang Bajo untuk Tana Luwu).

Dalam sekejap mata, penduduk negeri Lubo diterjang oleh banjir albumen ini, sehingga mengakibatkan banyak di antara mereka yang tinggal di daratan terseret oleh arus hingga ke Teluk Boné. Dari situ, mereka kemudian berusaha untuk berenang atau berpegangan pada potongan-potongan kayu, mengapung-apung hingga kemudian terdampar di kawasan Kepulauan Selayar hingga Wakatobi. Mereka lah yang kemudian dipercaya sebagai cikal-bakal leluhur masyarakat Bajo hari ini. Keinginan Sawerigading untuk membuat perahu demi pelayarannya menuju ke negeri Cina ironisnya justru menyebabkan sekelompok masyarakat dari negeri asalnya, Lubo, menjadi pengembara bahari.

***

Apabila kita mencermati kedua versi La Galigo di atas, maka terdapat benang merah yang dapat ditarik. Pertama, melalui versi tulis La Galigo episode Ritumpanna Wélenréngngé, leluhur kita di Sulawesi Selatan telah berpesan bahwa pohon sejatinya adalah sumber kehidupan. Penggambaran beragam jenis spesies yang menghuni Wélenréng menunjukkan peran sentral pohon dalam sebuah ekosistem. Rusaknya satu batang pohon saja dapat menimbulkan efek masif bagi lingkungan hidup di sekitarnya, apa tah lagi jika menggunduli hutan. Versi tulis La Galigo memang tidak secara eksplisit dan lantang melawan eksploitasi alam yang dilakukan oleh Sawerigading untuk melaksanakan hajatnya, namun lewat deskripsi yang panjang serta mendetail berisi ratapan hewan-hewan serta makhluk gaib penghuni Wélenréng kita mendapatkan perspektif penutur cerita bahwa sejatinya segala unsur dalam lingkungan hidup saling terhubung satu sama lain. Kerusakan yang ditimbulkan dari penebangan Wélenrengé dapat dikategorikan sebagai suatu kiamat ekologis, sebab dampaknya menyebabkan tak terhitung spesies makhluk hidup kehilangan habitat hidupnya. Pada versi lisan Bajo, bencana ini bahkan menyebabkan banjir bandang yang menggusur masyarakat penghuni Lubo dari tempat hidup aslinya.

Pada akhirnya, cerita-cerita seperti ini tentunya bukanlah dongeng semata, melainkan suatu rekaman akan sebuah peristiwa atau pola di masa lalu yang membekas di dalam narasi lisan. Lewat cerita-cerita ini, para leluhur di Sulawesi Selatan memberikan pesan bahwa pohon memiliki peran vital sebagai jangkar yang mengikat erat kesatuan ekosistem, sehingga kelestariannya krusial dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya itu, satu pesan nyata dari cerita ini adalah ramalan akan terjadinya banjir ataupun katastrofi besar lainnya apabila pohon-pohon dieksploitasi demi kepentingan manusia tanpa mempertimbangkan alam sekitarnya.

Hari ini, Sulawesi Selatan terus dibayang-bayangi oleh hantu bernama deforestasi. Pembukaan lahan dengan alasan pembangunan, pertambangan ataupun perkebunan memaksa pohon-pohon lokal untuk ditebangi dan tanah untuk dikeruk. Tiap tahun, bencana banjir juga kian sering terjadi, tidak hanya di perkotaan namun juga di pedesaan. Alam yang berubah sebenarnya telah mengirimkan pesan kepada kita. Demikian pula para leluhur lewat kisah-kisah yang direkam oleh La Galigo. Seperti halnya ketika Pohon Wélenréng hendak ditebang, makhluk-makhkluk yang tinggal bersama kita di dalam ekosistem penuh krisis ini juga telah menjerit-jerit meminta manusia untuk menghentikan kerakusannya. Namun, sejauh apa kita mau mendengarkan teguran-teguran tersebut?

Referensi:

Fachruddin Ambo Enre, Ritumpanna Wélenrénngé: Sebuah Episoda Sastra Bugis Klasik La Galigo (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1999).

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Pelayaran Persahabatan Sawerigading ke Negeri-Negeri Timur Part-I

Satu lagi keunikan yang dimiliki oleh La Galigo selain dikenal sebagai naskah sastra terpanjang di dunia adalah karakter ke-Austronesian yang amat kental di dalamnya. Pokoknya beda banget deh dengan cerita pewayangan yang sebenarnya diadopsi dari wiracarita bangsa India; Mahabharata dan Ramayana. Dari La Galigo kita bisa belajar  bagaimana kehidupan nenek moyang kita dahulu serta memandang bangsa lain dari perspektif mereka sendiri. Salah satu episode La Galigo bercerita tentang pelayaran putra mahkota Kerajaan Luwuq yang bernama Sawerigading ke negeri-negeri paman dan kerabatnya di Indonesia Timur. Indonesia Timur yang bahkan bagi sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri tidak pernah dikunjungi dan terlanjur dilabeli sebagai area konflik yang terbelakang kali ini akan menunjukkan kebesarannya lewat epos La Galigo.

Kerajaan Sama dan Maloku berdasarkan La Galigo

Letak kerajaan Manurung Ale Luwuq di Pulau Sulawesi yang berada tepat di tengah Nusantara memberikan orang-orangnya akses serta peluang yang besar ke berbagai daerah baik di sebelah Barat maupun Timur untaian kepulauan ini. Bagi orang-orang yang hidup di kerajaan Ale Luwuq pada masa itu, lautan bukanlah pemisah. Lautan justru dilihat sebagai tempat mencari penghidupan, mulai dari mereka yang berprofesi seperti pedagang, nelayan dan bahkan raja. Lautan juga merupakan jembatan penghubung yang menyatukan kepingan pulau-pulau di Nusantara agar dapat saling berinteraksi serta memenuhi kebutuhan masyarakatnya yang berbeda-beda. Nah, selain hubungan komersil, antarkerajaan-kerajaan tersebut kemudian membentuk hubungan politik melalui persekutuan-persekutuan. Demi menegaskan kesatuan di antara mereka, tidak jarang banyak dilakukan pernikahan antardaerah. Putri dari kerajaan X misalnya, dinikahkan dengan raja dari kerajaan Y. Apabila mereka dikaruniai lebih dari satu orang anak, salah satunya akan dikirim sebagai pangeran muda di kerajaan X sedangkan yang lainnya tetap tinggal sebagai putra mahkota di kerajaan Y.

La Galigo menyiratkan adanya hubungan persaudaraan yang terjalin di antara kerajaan-kerajaan di Nusantara sebelah timur. Alkisah, Sawerigading merasa jenuh tinggal di kerajaannya saja. Ia ingin membentangkan layar mengarungi samudera melihat berbagai daerah serta mengunjungi negeri paman-pamannya. Saat itu di istana Ale Luwuq terdapat ungkapan “Orang yang paling cerdiknya Luwuq tidak sama dengan orang paling dungunya di Sama. Orang yang belum menyaksikan orang Sama berpakaian dan belum mendengarkan orang Maloku berbicara, maka keberadaanya di dunia ini tidak diakui”.

Di mana kah letak negeri Sama dan Maloku yang menjadi standar kecerdikan, fashion dan kemahiran dalam bertutur-kata ini?

Kalau menurut Prof. Fachruddin Ambo Enre di dalam buku “Ritumpanna Welenrenge” sih kata Sama/Samang merujuk kepada nama lain untuk Maluku, tempat asal sejenis pakaian tari. Adapun Maloku ialah ucapan Bugis untuk Maluku. Nah, masih menurut naskah La Galigo nih, letak negeri Sama lamanya sekitar lima malam pelayaran dari negeri Matasolok (Sulu, Filipina Selatan). Negeri Sama berada di sebelah timur, sedangkan Maloku berada di bahagian baratnya.

Kepulauan Maluku

Ternyata negeri Maluku tidak hanya terkenal dengan rempah-rempahnya saja, akan tetapi pada suatu zaman di masa lalu daerah ini terkenal pula dengan kebudayaannya yang sudah maju. La Galigo merekam keindahan peradaban Maluku ini dengan pujian yang sangat baik, sampai-sampai Sawerigading sang putra mahkota kerajaan Ale Luwuq yang punya reputasi oke di Sulawesi penasaran dengan daerah ini. Tarian Se’re Maloku yang sering dibawakan oleh I La Galigo pada beberapa perayaan juga menandakan bahwa budaya mereka amat digemari pada masa itu, kira-kira miriplah dengan gaung budaya K-Pop sekarang ini.

Tari Lenso dari Maluku. Sumber: www.melayuonline.com

Selain karena kemajuan peradabannya, salah satu alasan mengapa Sawerigading ingin berkunjung ke Sama dan Maloku ialah karena hubungan kekeluargaan. Disebutkan bahwa penguasa negeri Maloku yang bernama La Maddaremeng alias Toappamadeng ialah kakak sepupu dari Sawerigading. La Maddaremeng ini juga merupakan suami dari We Tabacina Ida Mutia, ratu negeri Sama. Dengan kata lain, pada saat itu dua kerajaan besar di Maluku telah bersatu melalui ikatan perkawinan serta memiliki kekerabatan darah dengan kerajaan Ale Luwuq di Sulawesi.

Nah, ternyata Sobat Lontara, hubungan persahabatan dengan Maluku  ini diteruskan oleh generasi raja-raja di Sulawesi Selatan berikutnya. Menurut almarhum Prof. Mattulada dalam buku “Menelusuri Jejak Kehadiran Makassar dalam Sejarah”, Sultan Malikussaid raja Gowa yang ke-15 prihatin ketika Belanda menduduki tanah Maluku. Ia merasa mempunyai kewajiban untuk membantu perlawanan rakyat Maluku melepaskan diri dari cengkraman Belanda. Ketika pada tahun 1652 tiba seorang kimelaha (raja bawahan Sultan Ternate) bernama Majira dari Seram untuk mencari suaka di Makassar, ia disambut baik oleh sang sultan. Sultan Malikussaid bahkan memberikan kimelaha Majira 30 buah kapal perang lengkap dengan persenjataannya untuk kembali ke Seram dan merebut daerah kekuasaannya yang jatuh ke tangan Belanda. Ulah Sultan Malikussaid ini menimbulkan kegeraman Gubernur Jenderal Maetsuycker. Ia mengirim surat yang isinya mengancam kerajaan Makassar untuk tidak membantu kerajaan Ternate. Akan tetapi Sultan Malikussaid malah menjawab bahwa ia tetap ingin memelihara dan melanjutkan perdamaian serta persahabatan dengan orang-orang di Seram dan Ambon. Sejak saat itulah meletus peperangan berturut-turut antara Belanda dan Makassar hingga puncaknya saat terjadi Perang Makassar. Wuih, pokoknya demi persahabatan dengan Maluku, bro, Sultan Malikussaid rela menentang Belanda!

Penasaran dengan hubungan antara Sawerigading dengan raja-raja lainnya di belahan Nusantara Timur? Stay tuned terus aja di website kami 😉

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Lontara Project Goes to Selayar – Cerita Suku Bajo dari Takabonerate

Takabonerate tidak hanya menyimpan potensi wisata sebagai atoll terbesar ketiga di dunia. Kumpulan pulau dan karang yang menciptakan keindahan serta kekayaan alam di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan ini ternyata menjadi rumah bagi Suku Bajo yang telah meninggalkan gaya hidup nomaden. Simak reportase tim kami yang sempat mewawancarai dua orang sesepuh “Suku Bajo Daratan” ini.

Pagi itu sebelum berangkat menuju Pulau Rajuni Kecil dari penginapan kami di Pulau Tinabo, petugas Balai Taman Nasional Takabonerate memberitahu kami akan keberadaan komunitas Suku Bajo di sana. Saya belum pernah berteman atau bertatap muka langsung dengan anggota suku laut yang terkenal karena dapat bertahan hidup tanpa daratan ini. Semangat bahari Suku Bajo sudah terkenal ke seluruh dunia. Mereka tersebar di berbagai perairan nusantara; di Flores, Maumere, Gorontalo, Selat Malaka, laut Kalimantan Utara, Filipina Selatan, bahkan hingga ke perairan lepas dekat Australia dan benua Amerika. Khayalan saya tentang mereka ialah gambaran anak-anak kecil berambut kemerah-merahan yang tengah bermain di laut, serta perahu tradisional mereka yang menjadi rumah sekaligus tempat penyimpanan makanan. Akan tetapi, ketika akhirnya menginjakkan kaki di Pulau Rajuni Kecil, gambaran-gambaran itu sirna sekejap mata.

Pulau Rajuni Kecil terbagi atas dua wilayah yang dibedakan menurut etnis: kluster Bugis dan kluster Bajo. Sebuah masjid kecil yang cantik di tengah pulau tersebut menjadi tanda batas pembagian wilayah. Meskipun bernama Rajuni Kecil, pulau ini sejatinya berukuran lebih kecil daripada pulau lain di sebelahnya yang dikenal dengan nama Rajuni Besar. Nama Rajuni berasal dari kata dalam Bahasa Bajo yang berarti “rajanya”. Dahulu kala penduduk Bajo banyak tersebar di perairan Takabonerate yang luasnya hingga ke Laut Flores. Mereka telah memanfaatkan potensi alam di wilayah tersebut jauh sebelum tibanya suku-suku pendatang seperti Bugis, Selayar, Makassar, dan Buton. Setiap pelaut asing yang masuk ke wilayah suku Bajo selalu mencari dimana raja penguasa wilayah ini. Mereka terbiasa dengan konsep kerajaan di daratan, sehingga menganggap bahwa Suku Bajo pun memiliki sistem monarki yang sama dengan mereka. Penduduk Bajo yang ditanya mengenai keberadaan rajanya selalu mengarahkan pelaut-pelaut asing ke pulau tersebut. Akhirnya, kedua pulau yang saling bersebelahan ini pun tenar dengan julukan Rajuni.

Haji Darwis

Haji Darwis, narasumber kami menyebutkan bahwa gelar Opu yang terkenal di Luwu itu sebagai salah satu gelar pemimpin adat Bajo. Peninggalan dari “kerajaan” Bajo di Rajuni dapat ditelusuri melalui keberadaan sebuah bendera keramat bernama Pa’ula-Ula atau Ula-Ula. Bendera berbentuk seperti manusia (memiliki tangan, kaki dan kepala) terdiri atas warna hitam, merah, kuning. Ketika dinaikkan di atas tiang, Ula-Ula selalu diringi oleh bunyi-bunyian gendang tradisional. Konon hanya orang-orang Bajo yang memiliki darah bangsawan lah yang berhak untuk menyimpan dan mengibarkan Ula-Ula. Bendera ini pun biasanya dikibarkan hanya pada saat-saat tertentu seperti acara pernikahan. Konon jika Ula-Ula tidak dikibarkan maka keluarga pengantin akan mengalami kemalangan seperti kesurupan atau kematian. Bendera Ula-Ula ini ternyata juga dimiliki oleh beberapa Suku Bajo lain seperti yang terdapat di Kupang dan Semporna (Sabah, Malaysia). Di Semporna, Ula-Ula disebut dengan nama Sambulayang serta menjadi ikon daerah tersebut.

Menurut keterangan dari petugas Balai Taman Nasional Takabonerate, penduduk Pulau Rajuni Kecil di kluster Bugis kehidupannya jauh lebih mapan daripada penduduk di kluster Bajo. Kami pun menyadari hal tersebut dengan melihat-lihat kondisi perumahan di bagian selatan (kluster Bugis) yang rata-rata sudah terbuat dari batu dan tertata dengan baik, dibanding kondisi perumahan di bagian utara (kluster Bajo) yang rata-rata masih terbuat dari kayu dan masyarakatnya banyak yang tergolong miskin. Konon masyarakat Suku Bajo yang terbiasa hidup di lautan tidak dapat mengelola uang dengan baik. Ketika mendapat sedikit rejeki, mereka cenderung untuk berfoya-foya menghabiskannya saat itu juga. Di lain pihak, masyarakat Bugis yang memang telah mendarah daging ruh sebagai pengusaha mampu untuk menginvestasikan keuntungan yang mereka dapat sehingga hasilnya berkesinambungan. Pola pikir yang berbeda di antara kedua suku ini juga nampak dari penerimaan mereka terhadap modernitas. Ketika petugas Balai Taman Nasional membagikan bibit pohon sukun dan ketapang kepada penduduk pulau untuk penghijauan, masyarakat di kampung Bugis menerimanya dengan senang hati. Penduduk di desa utara sebaliknya; kepercayaan lokal Bajo menganggap pohon ketapang adalah pohon tempat roh-roh jahat bersarang. Alhasil, pohon ketapang yang sudah mulai tumbuh pun mereka tebangi.

Bapak Haji Suryadi atau yang dikenal oleh warga dengan sebutan Haji Suraq adalah seorang tokoh masyarakat Suku Bajo di Rajuni Kecil. Ketika kami temui di kediamannya di Kampung Bajo, beliau tengah mengerjakan sebuah joloroq (perahu kayu) bersama pemuda-pemuda desa. Beliau menyambut kami dengan ramah dan mempersilakan kami masuk ke dalam rumahnya yang sederhana. Sambil duduk santai di ruang tamunya, mulailah Haji Suraq bercerita tentang asal mula Suku Bajo di Pulau Rajuni Kecil.

Kasus Bajo di Pulau Rajuni tergolong unik; mengapa suku petualang yang dijuluki sebagai Gipsi Laut ini dapat menetap di daratan? Konon, mereka mulai menghuni daratan setelah salah seorang leluhur Haji Suraq yang bernama Mboq Tugas (lima generasi di atas beliau) menemukan sebuah bunging di lokasi Pulau Rajuni sekarang ini. Bunging tersebut makin lama menjadi semakin besar sehingga layak dijadikan sebagai tempat huni. Awalnya mereka hanya menjadikan bunging tersebut sebagai tempat singgah, namun semenjak abad ke-18 Suku Tobelo dari Halmahera Utara banyak berkeliaran di perairan Selayar. Suku Tobelo ini menjarah kapal-kapal dagang berbagai bangsa yang melintas di perairan Indonesia Timur. Kapal Sultan Ternate pun acap kali diganggu oleh rombongan bajak laut ini. Kehadiran Suku Tobelo yang meresahkan lalu lintas perdagangan internasional di nusantara membuat mereka amat ditakuti. Suku Bajo yang awalnya hidup damai menjadi target empuk Suku Tobelo untuk dirampok, bahkan dibunuh.

Terdorong oleh ketidaknyamanan berada di bawah bayang-bayang bajak laut, Mboq Tugas yang terkenal karena pernah menghabisi sekapal penuh orang Tobelo dengan berani memimpin kaumnya untuk bermukim di bunging yang ia temukan. Di atas bunging itulah mereka menanam kelapa dan mulai belajar bercocok tanam. Proses ini tentunya tidak gampang. Beberapa cerita yang beredar menyebutkan bagaimana suku ini tidak betah berada di daratan. Ada yang bilang mata mereka dapat melihat kondisi di bawah air jauh lebih terang ketimbang saat berada di darat. Ada juga yang mengatakan bahwa mereka sering merasa pusing alias ‘mabok’ ketika terlalu lama di daratan, sebagaimana halnya orang darat pusing jika berada terlalu lama di atas laut.

Pada akhirnya masyarakat Bajo dapat beradaptasi dengan kehidupan di daratan dan menyemarakkan Pulau Rajuni dengan beragam aktifitas mereka. Kehidupan Suku Bajo tetap berorientasi dengan laut. Mereka menangkap bervariasi hewan laut untuk kemudian dijadikan konsumsi sendiri maupun di jual lagi. Hasil tangkapan ikan di Pulau Rajuni terkenal beragam, melimpah ruah dan murah. Pelaut dari Makassar, Selayar, hingga Nusa Tenggara Barat dan Timur banyak yang pasokan ikannya didatangkan dari Rajuni.

Berdasarkan dongeng yang selalu diceritakan oleh Mboq Juragang (nenek Haji Suraq) ketika ia masih kecil dulu, leluhur Suku Bajo berasal dari kampung BajoE yang berada di Lubo atau Luwu (sekarang daerah ini masuk ke dalam wilayah Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan). Konon di sana dulu terdapat sebatang pohon kayu raksasa yang dahannya dapat menyentuh awan-awan di langit. Di atas pohon kayu itulah jutaan burung mengerami telurnya. Suatu ketika, seorang pria sakti menebang pohon tersebut untuk dijadikan sebagai kapal. Bersamaan dengan runtuhnya pohon raksasa, jutaan telur yang berada di atasnya pun ikut pula berjatuhan. Cairan yang keluar dari jutaan telur-telur tersebut menciptakan banjir bandang yang menyebabkan warga BajoE terhanyut ke berbagai penjuru mata angin.

Mereka berkelana mengarungi samudera dan memutuskan untuk tinggal di atas perahu agar katastropi purba yang menyebabkan hancurnya kampung halaman mereka di darat itu tidak terulang lagi. Cerita mengenai asal mula Suku Bajo di atas mengingatkan saya akan episode Ritumpanna Welenrenge dalam epos La Galigo. Sebuah pohon raksasa di muka bumi yang terkenal dengan nama Welenrenge ditebang oleh Pangeran Sawerigading dari kerajaan Ale Luwu sebagai bahan pembuat perahunya untuk berlayar ke negri Cina. Suku Bajo di Pulau Rajuni Kecil tidak mengenal siapa itu Sawerigading atau apa itu La Galigo, namun mitos asal-mula mereka merujuk kepada sumber yang sama dengan suatu penggalan episode dalam karya sastra Bugis klasik.

Haji Suraq juga menceritakan kisah mengenai seorang gadis Bajo yang pada saat banjir bandang tersebut bersembunyi dengan cara masuk ke dalam sebilah bambu. Setelah selama beberapa lama terombang-ambing di lautan, ia terhanyut hingga ke negeri Gowa. Di sana ia ditemukan oleh masyarakat lalu dipersembahkan ke hadapan Sombayya ri Gowa. Sang raja yang jatuh cinta pada pandangan pertama lalu menikahi gadis Bajo itu. Hingga kini cerita yang mengindikasikan Sultan Hasanuddin dan raja-raja Gowa lainnya adalah keturunan dari seorang gadis Bajo ini masih terus tersimpan di dalam memori mereka.

Sayangnya, kearifan lokal masyarakat Bajo semakin tergerus dengan diperkenalkannya model pemerintahan pedesaan. Awalnya saya tidak mengerti, mengapa keberadaan sistem pemerintahan strukrural seperti kepala desa, kepala dusun serta perangkat-perangkatnya itu bisa mengacaukan tradisi yang telah dipraktekkan oleh Suku Bajo selama berabad-abad ini. Menurut Haji Darwis, dulu Suku Bajo menangkap ikan dengan cara yang amat ramah lingkungan, terhindar dari keserakahan. Mereka memiliki aturan main yang didasari pada musim, lingkungan, dan makhluk hidup lainnya. Pada musim kemarau hanya jenis ikan tertentu yang mereka tangkap, demikian pula pada musim hujan. Mereka menunggu saat-saat ketika jumlah ikan sedang naik untuk menangkapnya, memastikan agar daur hidup biota laut ini terus terjaga.

Demikian pula saat berbagi hasil, badan-badan adat seperti punggawa laut yang mengumpulkan hasil laut dari setiap nelayan dan menjualkannya kepada pedagang-pedagang asing. Sistem pemerintahan sederhana orang-orang perahu ini memungkinkan terjadinya aktifitas politik yang ramah lingkungan. Punggawa-punggawa laut membawahi beberapa urusan seperti bagaimana cara menangkap ikan di laut, pembagian hasil, serta. Ada sanksi-sanksi adat yang dikenakan kepada orang-orang Bajo yang melanggar peraturan tersebut. Peraturan-peraturan desa serta penunjukan orang-orang yang tidak memahami interaksi antara orang Bajo dan laut mengakibatkan kematian tradisi serta mengancam kelestarian karang. Pemerintah di pusat yang jauh di sana membuat peraturan-peraturan pengolahan sumber daya alam yang tidak sesuai dengan kondisi di daerah. Suku Bajo tidak dilibatkan dalam pembuatan peraturan tersebut sehingga tidak heran jika kemudian kearifan lokal mereka pun hilang. Padahal berdasarkan suatu penelitian, dimana Suku Bajo bermukim, di situ terdapat kekayaan laut terbaik. Mereka tahu bagaimana cara memperlakukan sekaligus merawat laut dengan penuh kesadaran.

Kini, masyarakat Suku Bajo hidup dengan damai di Pulau Rajuni Kecil bersama tetangga Bugis mereka. Anak-anak Bajo sudah tidak lagi menghabiskan masa hidupnya di atas perahu, namun jiwa dan semangat kelautan masih tersimpan di dalam DNA mereka. Bendera Pa’ula-Ula yang dikibarkan pada setiap upacara adat seakan menjadi pengingat masa lalu akan kehidupan mereka sebagai kembara di tengah luasnya lautan nusantara.