I UPS! La Galigo: Speak

Speak La Galigo

Tak cinta, maka tak peduli..

Speak La Galigo bertujuan untuk menyuarakan La Galigo dalam bentuk kreatifitas yang kamu miliki. Apapun minat dan talenta kamu, selalu ada jalan untuk mengekspresikan La Galigo, entah dalam bentuk lisan maupun tertulis. Tidak hanya eksis, tapi Speak La Galigo juga bisa jadi ajang yang tepat buat kamu dalam menciptakan kreasi budaya.

Wah, bagus juga tuh idenya!

Kamu suka nyanyi? Suka motret? Suka nulis? Suka gambar? Suka narsis? Kenapa gak mulai kirimin karya kamu kepada kami, yang terpilih paling kreatif akan kami pajang di website ini, selain juga dipublikasikan melalui fb dan twitter. Tapi apapun yang kamu lakukan, pastikan berhubungan dengan tema Speak La Galigo. Misalnya, kamu doyan maen gitar, ga ada salahnya kamu ngearansemen ulang lagu tradisional (boleh dari daerah apa aja, tapi lebih tepat lagi kalau lagu Bugis/Makassar). Atau nih, kamu doyan nulis, bisa dong sumbangkan sebuah tulisan : artikel, puisi, dll, mengenai La Galigo. Boleh tentang pendapat kamu, ide kamu, atau yang lain.

Speak La Galigo

Harapan kami adalah terciptanya komunitas kreatif dalam mengaplikasikan kegiatan-kegiatan kampanye I UPS! La Galigo. Dengan tujuan yang sama, yakni menjaga warisan budaya, sekaligus mewujudkan Bhineka Tunggal Ika. Selama kamu peduli dengan Indonesia, kamu adalah anggota komunitas ini. Siapapun dan apapun profesi kamu. Kami yakin, anak muda Indonesia gak kalah kreatif kok, hanya saja, banyak sekali dari kita yang masih kurang mendapatkan apresiasi sehingga motivasi untuk berkarya gak sekuat awalnya. Sekarang, kenapa gak kita saling mendukung, selama itu ga bertentangan dengan nilai dasar dan identitas kita sebagai orang Indonesia.

Ayo, buktikan kemampuanmu!

I UPS! La Galigo: Preserve

I Preserve La Galigo

Tak sayang maka tak cinta…

Preserve La Galigo bertujuan untuk melestarikan dan mempopulerkan La Galigo dengan berbagai macam kegiatan. Setelah mengenal dan mengetahui informasi dasar mengenai La Galigo, maka saatnya kita beraksi: menyebarkan info tersebut kepada teman-teman, keluarga, maupun orang lain, dimana pun kita berada. Saatnya jadi duta La Galigo!

Antekamma carana? (Gimana caranya?)

Sebagai lanjutan dari I UNCOVER LA GALIGO, beberapa program telah direncanakan oleh Tim Lontara Project, seperti gerakan T-Shirt I Uncover La Galigo, pemesanan merchandise misalnya Pin, Cutting, dan Gantungan Kunci. Kemudian ada program donasi untuk membiayai kegiatan sosialisasi La Galigo. Karena proyek ini bersifat sukarela, sementara anggota tim sama sekali tidak mendapatkan keuntungan komersial dari website, maka kami membutuhkan bantuan kalian dalam bentuk donasi yang akan digunakan saat mengadakan kegiatan seminar atau diskusi, atau pengadaan merchandise untuk step terakhir kampanye ini, yakni I SPEAK LA GALIGO.

preserve La GaligoI PRESERVE LA GALIGO

Setelah T-Shirt dan merchandise sudah dapat dipesan, saatnya kalian menunjukkan bahwa tidak hanya tahu tentang La Galigo, tapi kalian memiliki konstribusi nyata dalam melestarikannya. Kenakan T-Shirt Trilogi I UPS! La Galigo, pamerin ke teman-teman kamu, supaya mereka penasaran dan tertarik melakukan hal serupa. Ketika mereka bertanya, tentu kalian sudah bisa menjawab, “Apa sih La Galigo itu?”. Kalau perlu, buatlah komunitas kecil-kecilan yang membahas seputar kebudayaan Indonesia, baik secara langsung, maupun melalui social media yang sedang hot-hotnya.. dan pastikan kalian masih ikut dalam I Speak La Galigo yang diadakan selanjutnya.

Atau mungkin kamu punya kritik dan usul yang lebih menarik? Beritahu kami lewat fb, twitter, email, atau komen aja disini!

Saatnya yang muda yang bergerak! Ayo pemuda Indonesia, bangun dan bangkitkan kejayaan budaya bangsa kita!

I UPS! La Galigo: Uncover

“Tak kenal, maka tak sayang.”

Uncover La Galigo bertujuan untuk memperkenalkan La Galigo ke masyarakat luas, khususnya pemuda Indonesia. Kalian pasti sudah sering mendengar berita tentang budaya lokal identitas bangsa yang dicaplok negara luar. Malu dong kalau orang asing lebih tahu budaya Indonesia ketimbang orang Indonesia sendiri.

Hari gini ga kenal La Galigo?

 Kalau kamu beralasan, “Susah ah, mo nyari infonya dimana?“, nah.. Lontara Project berusaha menjawab pertanyaan kamu. Di dalam website ini kami menyediakan info-info berguna seputar La Galigo yang perlu kamu tahu. Yang perlu kamu lakukan hanyalah klik dan membaca. Ajak teman-teman dan keluarga kamu sama-sama menambah wawasan budaya nusantara, karena sudah saatnya kamu tahu, jangan cuma protes ketika warisan dari nenek moyang kita sudah keburu diklaim oleh pihak lain.

Uncover La Galigo

Uncover La Galigo sendiri merupakan satu tahap dari trilogi kampanye I UPS! La Galigo yang berarti mengenal lebih jauh La Galigo sebelum pada akhirnya kamu ikut melestarikan dan menyuarakan La Galigo kepada orang lain. Tentu kamu harus tahu dulu, apa yang mau kamu jaga, bukan? Menjadi seorang duta budaya akan ikut menambah nilai plus kamu sebagai seorang pemuda di tengah era krisis identitas yang tengah melanda negeri ini.

Kalau penasaran dan tertarik, kamu bisa ikut segudang kegiatan yang dijadwalkan oleh tim Lontara Project dalam beberapa waktu kedepan. Cukup like page di Facebookfollow Twitter kami, atau klik langsung ke website ini, dan nantikan kabar terbaru dari Lontara Project.

Atau mungkin kamu punya kritik dan usul yang lebih menarik? beritahu kami lewat email atau komentar saja disini!

Tidak peduli kamu orang Sumatra atau Kalimantan, dari Jawa atau dari Irian, mari bersatu dan menjadi bangsa yang menghargai budayanya, jadilah remaja yang bertanggungjawab dan bangga sebagai manusia Indonesia!

 

I UPS! La Galigo

Adalah sebuah kampanye budaya yang dipelopori oleh Tim Lontara Project sebagai salah satu program yang bertujuan memperkenalkan (Uncover), melestarikan (Preserve), dan menyuarakan (Speak) La Galigo kepada masyarakat luas, khususnya para generasi muda Indonesia.

Dimulai pada 1 Januari 2012, kampanye ini bakalan resmi berjalan, mengajak kalian untuk mengenal lebih jauh, apa dan bagaimana La Galigo itu, dengan berbagai macam bentuk kegiatan, baik langsung maupun tidak langsung. Salah satu rencana kami adalah mengadakan seminar atau diskusi mengenai topik-topik yang berhubungan dengan La Galigo tentunya.

Tidak hanya itu, Tim Lontara Project sendiri sudah menyiapkan program lain yang akan dikemas lebih menarik dan interaktif. Karena menjaga warisan nusantara tidak melulu ketinggalan jaman. Kalian bisa ikut berpartisipasi, menyumbangkan ide-ide unik kalian atau ikut secara aktif dalam program Lontara Project!

Ayo, bergabung bersama kami dan tunjukkan kreatifitas kalian sebagai anak muda yang peduli akan budayanya!

Ilustrasi Sawerigading

“ciccing rakkileq ri abéona Palingéqé, mattali ulu wennang sokori.”

… cincin kilat di sebelah kiri milik Palingé, memakai tutup kepala benang bersulam. (Nurhayati Rahman, 2006:224)*

Sawerigading by Maharani Budi

Sawérigading adalah tokoh utama yang terdapat di dalam naskah meskipun bukan sebagai tokoh yang paling banyak berperan dalam mengisi alur dari awal hingga akhir. Tapi dialah awal segala penyebab terjadinya semua peristiwa dan kejadian, yang menyebabkan bergeraknya alur secara dinamis, sejak awal sampai akhir.

Ia merupakan sosok pribadi Bugis yang mempunyai watak yang berdimensi ganda, yakni cinta dan dendam, benci dan sayang, tegar dan cengeng, lembut dan kasar, halus dan keras. Sejauh mana sifat dan karakter tersebut mengejawantah dalam diri pribadinya, bergantung dari rangsangan-rangsangan yang diterimanya dari luar. Ia tidak mengenal kompromi, hanya ada dua pilihan hitam dan putih.

Secara fisik, Sawérigading tidak terlalu banyak digambarkan dan disinggung oleh pengarang (Nurhayati Rahman), kecuali sebagai seorang tokoh yang besar, sebagai tanda kebesarannya ia selalu menggunakan pakaian kebesaran raja yang semua terbuat dari emas, berupa payung kebesaran yang terbuat dari emas, cincin emas yang semuanya turun dari langit dibawa oleh leluhurnya; di pinggangnya selalu melekat keris emas sebagai simbol keberanian dan kejantanan.

Ekspresi kejantanan itu mendapatkan spirit dari empat sifat yang melekat dalam diri pribadinya, yakni 1) Getteng (teguh pendirian), 2) Warani (berani), 3) Lempuq (jujur), dan 4) Macca (pintar).

*Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.

Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.

PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!

Ilustrasi La Pananrang

“… La Pangoriseng dan La Temmalureng, kemudian mengenakan pula pakaian kebesarannya, sarung sutera dengan sulaman bulan emas, yang di tepi bagian atasnya bersuji benang emas lima kati, dan tujuh kati bawahnya. Bajunya berasal dari negeri Timor. Gelang berurat keramat dari Boting Langiq melekat kokoh pada lengannya. Keris emas dari Rualetté yang terselip pada ikat pinggang kain sutera dari Uluwongeng, menambah keperkasaan kedua orang kepercayaan Batara Lattuq itu. (Idwar Anwar, 2004:110)*

La Pananrang by Maharani Budi

Seperti halnya La Pangoriseng dan La Temmalureng merupakan orang kepercayaan Batara Lattuq, La Pananrang juga merupakan sosok paling dekat dengan Sawérigading.

La Pananrang adalah pengawal yang paling dekat dengan Sawérigading dan masih sepupu sekali dengannya. Seperti halnya dengan Sawérigading di dalam diri La Pananrang, juga mengalir darah dewa, meskipun tidak seasli dan semurni dengan Sawérigading. Namun, akibat dari keturunan dewa juga berimplikasi pada tindakannya. Ia merupakan sosok manusia yang disamping memiliki sifat kedewaan juga memiliki sifat kemanusiaan. Sifat kedewaannya antara lain : mampu menghidupkan orang mati. Sementara sifat kemanusiaannya sangat halus dan lembut, arif dan bijaksana.

Sebagai penasehat, fungsinya khusus mendampingi raja saat raja sedang menghadapi persoalan sulit dan akan mengambil keputusan. Disini ia hadir penuh kearifan untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan yang baik dan benar. Dalam menghadapi musuh, ia pulalah yang selalu tampil ke depan untuk bernegosiasi dengan musuh, pengetahuannya sangat luas dan mendalam, dan nasehat-nasehatnya sangat filosofis.

Salah satu sifatnya yang menonjol adalah lemah-lembut, bertutur kata halus, dan selalu memusyawarahkan segala sesuatu keputusan yang akan diambil.**

*Anwar, Idwar. 2004. La Galigo (Episode Mutiara Tompoq Tikkaq). Makassar: Jarahnitra.

**Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.

Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.

PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!

Ilustrasi La Massaguni

“Natijang ronnang La Massaguni, lé naittéq I bake manuqna, natappokangngi turung nrupanna Langiq Risompa, napasibollo miccu makkeda, “Somméng-somméngmu La Tenrinyiwiq, boréq-boréqmu Langiq Risompa, panyilikiaq gauq masomméng  tappaliwemmu, muasengngé béla watammu lé oroané.”

Segera berdiri La Massaguni, memungut bangkai ayamnya, melemparkannya ke muka Langiq Risompa, lalu meludah sambil berkata, “Sombong benar engkau La Tenrinyiwiq, kurang ajar benar engkau Langiq Risompa, mempertontonkan aku perbuatan sombong yang keterlaluan, apa kau mengira, (bahwa) hanya dirimu yang laki-laki”. (Nurhayati Rahman, 2006:362)*

La Massaguni by Maharani Budi

 Tokoh ini mempunyai karakter yang beroposisi dengan La Pananrang. Kalau La Pananrang adalah tokoh yang berhati lembut, halus, dan bijaksana, maka La Massaguni adalah sebaliknya; ia adalah tokoh yang keras, tegas, dan emosional, tidak kenal kompromi, dan tidak banyak bicara, ia lebih banyak bertindak.

La Massaguni dalam naskah lebih populer dengan panggilan To Ampé Manuq yang secara harfiah berarti To : orang, Ampé : sifat, dan Manuq : ayam, jadi To Ampéq Manuq adalah orang yang mempunyai karakter seperti ayam.

Ayam adalah simbol kejantanan, bila diadu ia pantang menyerah, karenanya ayam selalu menjadi teman raja, ke mana saja raja pergi maka ayam jago yang menjadi simbol kejantanan seorang raja dalam pesta penyabungan ayam, selalu menemaninya.

Demikianlah gambaran tentang keadaan To Ampéq Manuq, fungsinya dalam mendampingi Sawérigading adalah sebagai panglima angkatan perang. Tugas yang menantang kekuatan fisik dan keberanian itu sejalan dengan karakter yang dimilikinya. Ia bak ayam jago bila berlaga di medan perang, menyeruduk kesana kemari tanpa memperhitungkan keselamatannya. Bahkan kadang-kadang ia bertindak sangat gegabah tanpa memusyawarahkan dengan La Pananrang.

Meskipun La Massaguni keras dan emosional, tapi ia juga menyimpan sifat-sifat kelembutan terutama bila ia menghadapi wanita; yang menonjol adalah sifat romantisnya. Seperti diketahui bahwa saat Sawerigading menolak La Tenrilennareng (janda La Tenrinyiwiq) untuk menjadi istrinya, maka La Massaguni yang menyodorkan diri untuk mempersuntingnya.

Perkawinan pun berlangsung dengan meriah di atas perahu, di tengah-tengah duka yang melanda sang permaisuri yang baru saja ditinggal mati oleh suaminya La Tenrinyiwiq, dan justru yang menjadi suaminya adalah orang yang membunuh suaminya. Sepanjang pesta perkawinan iti, tak henti-hentinya La Tenrilennareng menangis, meratapi nasibnya, membuat perasaan La Massaguni tak menentu.

Ia memangku istrinya sembari membelai rambutnya yang panjang dan tergerai dan menghibur hatinya dengan kata-kata lembut. Semua itu merupakan gambaran yang lembut dan romantis dari diri sang juara.*

*Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.

Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.

PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!

Ilustrasi We Tenriabeng

“Kua mua ni, Wé Tenriabéng, lé palaguna, tépu mallino, akessingenna, ri tuju mata, sulo jajjareng, tapaq langkana, awajikenna, ri tuju mata”.

“Bagaikan Wé Tenriabéng,bulan purnama yang menjelma, kecantikannya dipandang mata, menyuluhi beranda, menyinari istana, kecantikannya, dipandang mata ”. (Nurhayati Rahman, 2006:366)*

We Tenriabeng oleh Maharani Budi

Tokoh ini adalah saudara kembar Sawérigading. Seperti halnya dengan tokoh-tokoh yang lain, ia juga merupakan keturunan dewa yang menjelma di bumi. Bahkan ia kawin dengan Remmang Ri Langiq, sepupunya yang bermukim di langit. Ia kemudian pindah mengikuti suaminya berdiam di Boting Langiq (kerajaan langit).

Ia digambarkan sebagai tokoh yang sempurna, kecantikannya tiada cela, seimbang tinggi dan besarnya, kulitnya mengkilat putih kekuningan, dan rambutnya panjang tergerai. Begitu cantiknya hingga saudara kembarnya Sawérigading jatuh cinta kepadanya. Dari sinilah awal terjadinya kecelakaan tersebut yang berujung pada pembuangan Sawérigading ke tanah Cina.

Disamping keindahan fisik yang dimiliki oleh Wé Tenriabéng, ia juga memiliki sifat-sifat kewanitaan yang sejalan dengan keindahan tubuhnya; lembut dan arif. Hal ini terlihat saat Sawérigading frustasi menghadapi penolakan cintanya, dengan lemah lembut ia menasehati Sawérigading untuk pergi ke Cina sebab disana ada sepupunya yang mirip dengannya yakni Wé Cudai puteri raja Cina.

Namun di lain waktu ia juga menampilkan sosok pribadi wanita yang bebas mengekspresikan kata hatinya, setia, dan teguh pada janjinya, keras, semua yang menjadi kemauannya tak boleh dibantah.

*Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.

Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.

PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!