Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba

Passompeq Sulawesi Selatan di Timor Leste, Amerika Serikat, dan Singapura (Part 1)

Pelaut-pelaut Sulawesi Selatan ternyata tidak hanya jago merambah nusantara! Kemampuan lintas-budaya mereka bukan hanya mitos, melainkan sudah teruji sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Baca pengalaman penulis yang menyaksikan langsung jejak para pasompeq ini di tiga negara…

Patung Bunda Maria (Nossa Senhora de Fatima) di Pante Macassar. Sumber: Wikipedia

Negara yang dulunya merupakan provinsi ke-27 Republik Indonesia ini tidak familiar sebagai destinasi turisme internasional. Padahal, ada banyak hal menarik lho dari Timor Leste. Teman-teman tidak perlu jauh-jauh pergi ke Brazil untuk mandi sinar matahari di Rio de Janeiro atau menziarahi patung raksasa Yesus. Pantai pasir putih yang indah dan patung Christo Rei di Timor Leste tidak kalah cantiknya, bahkan cuma dua jam saja via pesawat dari wilayah NKRI. Eksotisme budaya dan Bahasa Tetun yang banyak dipengaruhi oleh unsur Portugis pun selintas mengingatkan kita akan Pidgin atau Bahasa Inggris campuran yang banyak digunakan penduduk keturunan Afrika (mullato) di Kepulauan Karibia dan Jamaica. Bagi penulis yang lahir dan menghabiskan enam tahun pertama dalam kehidupannya di Timor Leste, yang paling menarik ialah keberadaan daerah bernama Pante Macassar di pesisir sebelah barat negara ini.

Saudara-saudara penulis di depan kantor gubernur Dili, Timor-Timur (1995)

Pante Macassar terletak di distrik Ambeno. Lokasinya tidak begitu jauh dari Dili, ibukota Timor Leste. Daerahnya tergolong subur untuk pertanian dibanding wilayah lain di Timor-Timur yang kering. Namanya pasti mengundang tanda tanya; kok bisa sih sebuah pulau nan jauh di timur nusantara mencatut nama daerah di Sulawesi Selatan? Rupanya pendatang dari Makassar sudah akrab dengan pesisir Timor sebagai jalur transit mereka menuju Marege. Marege adalah julukan orang Makassar untuk Australia Utara yang merupakan pusat perburuan teripang. Laut Timor menjadi gerbang mereka menuju perairan Marege. Para pemburu teripang dari Makassar ini kemudian membangun pemukiman-pemukiman sementara di pesisir pulau, menunggu angin dan musim yang cocok untuk menangkap hewan laut itu.

Kehadiran mereka sudah tercatat sejak zaman Portugis berkuasa atas Timor –Makassar memiliki hubungan yang jauh lebih akrab dengan pedagang Portugis ketimbang terhadap orang-orang Belanda– dan terus berlanjut hingga proses integrasi Timor-Timur ke dalam Republik Indonesia (1976-1999). Di periode kedua, kebanyakan para pendatang dari Sulawesi Selatan (suku Makassar, Bugis, dan Mandar) bekerja sebagai pegawai negri maupun pedagang.

Para pendatang ini sejak abad ke-17 telah berasimilasi dengan penduduk lokal. Beberapa kata dalam Bahasa Tetun dapat dijadikan bukti linguistik akan simbiosis para pasompeq (perantau) Sulawesi Selatan dengan masyarakat lokal di Bumi Lorosae. Ambil contoh, lipaq dalam Bahasa Tetun yang berarti sarung konon diambil dari Bahasa Bugis. Pisang Raja yang manis rasanya disebut dengan nama Pisang Mandar, bisa jadi karena dulu komoditas ini banyak diperdagangkan oleh para pelaut Mandar. Tidak hanya itu, secara kultural orang Timor dan orang Makassar pun terikat. Sebuah cerita rakyat lokal menyebutkan bahwa Pulau Timor muncul dari seekor buaya dan manusia pertama yang meninggalinya ialah seorang pemuda dari Makassar.

Alkisah, zaman dahulu Makassar mengalami kekeringan yang luarbiasa selama bertahun-tahun. Bencana alam ini diikuti pula oleh bencana sosial, dimana norma-norma adat mulai dilanggar oleh masyarakatnya sendiri. Suatu ketika, seorang pemuda di tengah perjalanannya mengambil air ke sungai yang nyaris kering melihat seekor buaya kecil tergelepar. Dengan penuh rasa kasihan, pemuda Makassar itu pelan-pelan mengangkat buaya malang tersebut menuju sungai.

Sebagai balas jasa atas kebaikan hati pemuda itu, sang buaya berjanji untuk mengantarnya ke sebuah tempat baru yang lebih baik untuk keturunannya. Sang pemuda Makassar setuju, Ia lalu naik ke atas buaya dan diantar menuju laut.

Di tengah-tengah lautan, sang buaya mendadak merubah dirinya sendiri menjadi sebuah pulau besar. Seorang gadis muncul dari dalam pulau tersebut, dan atas petunjuk gaib sang pemuda Makassar lalu menikahinya. Tempat si pemuda tadi pertama kali mendarat disebut dengan nama Pante Macassar. Pemuda tersebut dipercaya sebagai leluhur orang Timor. Hingga hari ini, masyarakat Timor juga masih menghormati buaya dan memanggil binatang tersebut dengan sebutan “abo feto” alias nenek. Pengultusan terhadap buaya ini mungkin memiliki hubungan dengan kebudayaan serupa di Sulawesi Selatan. Epos La Galigo sebagai tradisi lisan dan tulis tertua masyarakat Bugis mengisahkan, apabila para penghuni dunia bawah (Buriq Liu) hendak menampakkan diri ke dunia tengah (Alelino) mereka akan mengenakan larukkodo-nya (topeng gaib untuk penyamaran) dan mengambil bentuk sebagai buaya. Buaya disebut sebagai Punnae Wae alias pemilik air yang berkuasa atas sungai, ombak dan gelombang di lautan. Buaya dihormati sebagai penjaga alam dan penyeimbang kehidupan antara lingkungan dan manusia.

Peta Pante Macassar. Sumber: Wikipedia

Sekarang, Pante Macassar tidak ramai dihuni orang. Perantau dari Sulawesi Selatan pun mungkin sudah tak ada lagi. Penggunaan listrik di wilayah tersebut dibatasi hanya 5 jam setiap malamnya, plus tidak ada siaran televisi maupun bank. Meski demikian, jejak para pasompeq Sulawesi Selatan tetap abadi bersama namanya. Mungkin suatu hari nanti Sulawesi Selatan dan Timor Leste dapat menciptakan kerjasama “twin beach” antara Losari dan Pante Macassar seperti proyek twin city yang sedang marak. Sejarah dan budaya terbukti dapat melintasi batas-batas geografi politik yang diciptakan oleh manusia. Jika dulu nenek moyang kita menorehkan harmonisasi lewat budaya, kenapa kita tidak?

Categories
Featured Kareba-Kareba

Invitation: Pelatihan masyarakat Advokasi Warisan Budaya (Yogyakarta, 2012)

Bagi teman-teman yang peduli dengan budaya… Yuk manfaatkan waktu liburan kalian dengan ikut pelatihan ini! Silakan check postingan berikut bagi yang berminat 🙂 Dua pendaftar pertama melalui Lontara Project bakal free-charge lho!

MADYA merupakan singkatan dari Masyarakat Advokasi Warisan Budaya, didirikan pada tanggal 9 Januari 2009 di Yogyakarta, oleh para generasi muda yang prihatin dengan perlakuan diskriminatif bangsa ini terhadap warisan budaya bangsanya sendiri. Berawal dari aktifitas pengrusakan situs Trowulan oleh oknum-oknum yang bernaung dalam Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, dengan dalih penyelamatan situs dan membangun Museum Pusat Informasi Majapahit (PIM). Ditambah bahwa persoalan-persoalan pengrusakan, pencurian, penghancuran situs, termasuk Harta Karun Bawah Laut, bukanlah merupakan kasus yang pertama kali terjadi. Tetapi kejadian ini telah berlangsung sejak lama dan terjadi di berbagai penjuru tanah air Indonesia tanpa ada keseriusan dan komitmen untuk menanganinya. Bahkan, karya budaya yang nyata-nyata merupakan hasil karya dari nenek moyang, yang secara geografis hidup di bumi Indonesia ini, diklaim milik negara lain, dibiarkan begitu saja. Keprihatinan-keprihatinan inilah yang kemudian menguatkan tekad untuk dibentuk sebuah wadah sebagai wahana mengkonsolidasikan diri untuk kegiatan-kegiatan advokasi terhadap warisan budaya.

Disadari bahwa dunia advokasi dalam upaya penyelamatan dan pelestarian warisan budaya merupakan hal yang baru. Untuk itulah dibutuhkan satu langkah strategis dan nyata mewujudkan hal tersebut melalui upaya pengembangan kapasitas dimulai dengan kegiatan PELATIHAN ADVOKASI WARISAN BUDAYA.

Diharapkan, dengan adanya pelatihan ini, peserta dapat memahami advokasi dan teknik atau strategi kerjanya serta manfaatnya bagi kebijakan maupun penyadaran publik.

Adapun kegiatan akan dilangsungkan pada:
Hari : Jumat – Sabtu
Tanggal: 10 – 11 Februari 2012
Tempat: Wism Yakes Kaliurang – Yogyakarta
TERBUKA UNTUK UMUM

Pendaftaran dapat dilakukan melalui
Sekretariat MADYA:
Jl. Adisucipto, Ambarrukmo RT.07 RW.03 No. 377 (Kampung di depan Ambarrukmo Plasa), Catur Tunggal, Depok, Sleman – D.I. Yogyakarta 55281

atau email:
madyaindonesia@yahoo.com; advokasiwarisanbudaya@gmail.com dan di cc ke: ika.junita.kartikasari@gmail.com

Pendaftaran paling lambat tanggal 7 Februari 2012.
dengan biaya sebesar: Rp. 100.000,- (Seratus ribu rupiah)

Bagi yang tidak dapat membayar full, Panitia menyediakan Subsidi dalam 3 Kategori yaitu:
1. Membayar 75 % atau Rp 75.000,-
2. Membayar 50 % atau Rp 50.000,-
3. Membayar 30 % atau Rp 30.000,-
Peluang subsidi dapat diakses dengan mengirimkan permohonan mendapatkan subsidi atau keringanan biaya termasuk besaran yang diharapkan. Keputusan diterima atau tidaknya akan disampaikan oleh panitia melalui email berdasarkan pertimbangan yang rasional.

Fasilitas:
1. Makan dan Snack
2. Materi Pelatihan
3. Penginapan
4. Sertifikat

Jadwal Acara:
1. Perkenalan dan Membangun Komitmen Bersama Peserta
2. Pengertian Advokasi
3. Langkah dan Strategi Advokasi
4. Peraturan dan Kebijakan Pelestarian Warisan Budaya
5. Studi Kasus
6. Praktek Simulasi Advokasi Warisan Budaya
7. Sharing Permasalahan
8. Evaluasi dan Penutup

PS: TERBATAS HANYA UNTUK 25 ORANG
Demikian informasi yang dapat kami sampaikan. ditunggu kehadirannya.
Terimakasih.

Salam Budaya

Categories
101 La Galigo Featured Kareba-Kareba

La Galigo, Now and Then

There are so many things that could happen as the time goes by, and changes can’t be avoided. As an ancient manuscript, La Galigo has experienced a lot of different things through ages. Then and now, what happened to La Galigo?

Then

  • Hundreds of years ago, many Buginese people considered La Galigo as a sacred literature. The manuscripts were even wrapped in a clean piece of white cloth and placed in an appropriate place. Putting it on the floor or in a dirty room is a big NO. People at that time highly respected it. They would burn incense before holding or reading it.
  • Lines from the manuscripts were read and sung in many traditional occasions such as wedding. The wedding couple would feel really blessed when it was sung in their wedding. If it is compared to a nowadays wedding, the lines sung would be those songs sung in a reception to present a solemn atmosphere.
  • La Galigo was believed as a bad luck repellent. People would read it when they move to a new house. In Buginese tradition, there is a traditional ceremony held when a family enters a new house. The purpose is to avoid bad luck so the family will have a good time living in it.
  • When a person was sick, La Galigo was read with a hope that he would recover soon. This is probably due to the story of La Galigo that tells about a character named Opunna Luwuq who had a kind of shade which if it is spread to the whole country, diseases would disappear.
  • Not to mention, La Galigo also contains a lot of knowledge essential to royal family that it was used as a reference before a traditional ceremony was held. The royal family would search for information regarding the preparations and make sure that they were doing it in a right way. La Galigo contains a story about kingdoms and provides detail explanations about certain traditional ceremonies conducted by the royal family as the story developed.
  • Apart from its serious functions in Buginese community, La Galigo was also an entertainment for them. When people are sad, they would read or sing it.

 

La Galigo Theatre in Italy by Robert Wilson. Source: Bali Purnati

Now

  • Buginese people almost completely forget about La Galigo. So sad it is. The whole nation probably completely does not know or even never have heard about it. La Galigo manuscripts are now kept in Makassar, Jakarta, and Leiden. Leiden Univeristy Library, Netherlands, owns the most complete collection. Manuscripts are placed in a special place with a certain temperature to keep them from decaying. It is such an irony, though. Its own homeland does not even have its complete manuscripts.
  • UNESCO has acknowledged La Galigo as Memory of the World under the name of Indonesia and The Netherlands in 2011. It was because the effort of Dr. Mukhlis PaEni from Indonesia and Dr. Roger Tol from The Netherlands who nominate La Galigo to be registered as Memory of The World in 2008. Three years has been passed, and finally La Galigo is in the list.
  • La Galigo has been adapted into theatrical performance by Robert Wilson, an American director and playwright. He has been interested in experimental and innovative cultural works since he began working. On his cold hands, La Galigo has become such an inspiration and performed in international stage since 2004. World admit it as one of the best theatrical performances. Its world premiere took place in Singapore, and received a round of applause. After performing in Asia, Europe, Australia, and the United States, La Galigo was finally shown in Fort Rotterdam, Makassar, for three consecutive days, April 22-24 2011.

Despite to what happened then and now to La Galigo, it is still remain the same. It is still the world hidden cultural treasure that is long for discovery and preservation.