Seorang warga Panakkukang yang sedang belajar hukum dan sejarah di Universiteit Leiden, Belanda. Sedari kecil sudah sering berpindah-pindah, dari Pulau Timor hingga Athens (Ohio, Amerika Serikat). Saat ini ia juga menjadi Guest Researcher di Royal Netherlands Institute of Southeast Asian & Carribean Studies (KITLV) Leiden. Punya hobi jalan-jalan, membaca buku dan karaoke.
Awalnya saya jengkel. Persiapan acara tidak seperti rencana sebelumnya.
Sabtu, 23 Juni 2012, pukul 19.30 WIB. Sudah lewat setengah jam dari jadwal seharusnya, andai semua tepat waktu seharusnya acara “Tudang Sipulung/Diskusi Budaya” ini sudah berlansung dari tadi. Terlebih semenit lalu, sang pembicara sudah berada di lokasi acara. Dialah Prof. Nurhayati Rahman, seorang filolog juga budayawan asal Sulawesi Selatan, yang saat ini mengabdikan ilmunya di Akademi Pengajian Melayu di University Malaya Kuala Lumpur, Malaysia. Sebagai orang yang turut mengundangnya sebagai pembicara, saya merasa dipermalukan saat ruangan seluas 135 meter persegi itu hanya terisi 5 orang peserta diskusi, itupun adalah para tuan rumah, pelaksana acara dan putri semata wayangnya Mutia Nurul Fariza.
30 menit kemudian tanda-tanda acara akan dimulai tampak, lega rasanya. Sebelum mengambil posisi tempat duduk yang pas, saya bertanya kepada panitia siapa moderator diskusi ini. Bukan jawaban yang saya dapatkan tapi tatapan gamang dari mereka yang disebut namanya saat itu, ada yang tidak siap, adapula yang belum datang. Inilah muasal rasa jengkel saya yang lainnya. Daripada mengulur waktu akhirnya saya pilih untuk mengambil alih tugas tersebut, memandu acara diskusi. Sebuah diskusi budaya yang secara rutin diselenggarakan oleh Forum Kajian Budaya Sulawesi Selatan-Sulawesi Barat yang kali ini bekerja sama dengan Keluarga Pelajar Mahasiswa Wajo Yogyakarta dan Lontara Project. Meski para peserta telat datang, tapi jumlah peserta malam itu memecahkan rekor peserta pada edisi-edisi diskusi sebelumya, jika sebelumnya hanya 20-40 peserta maka pada edisi ke-6 ini peserta mencapai 72 orang peserta.
Karena tanpa persiapan, maka di awal memandu diskusi saya terbata-bata, semua perbendaharaan kata saya tiba-tiba hilang, penggalan-penggalan kalimat puitis dan maknawi saya tiba-tiba raib. Tak mau terlihat dan berbuat lebih konyol lagi, kesempatan segera saya sodorkan ke Prof. Nurhayati Rahman untuk memberi pengantar diskusi yang bertema “Konsep Manusia dalam Naskah La Galigo” itu. Sayapun akhirnya beringsut, duduk mendekati Bunda, sapaan akrab kami untuk pembicara. Seorang dengan segudang prestasi akademik dan praktis yang selalu tampil bersahaja. Lebih memilih menginap di kamar Asrama Mahasiswa dibandingkan di kamar hotel. Seseorang yang bersahaja rela makan nasi dan lotek bungkus bersama kami, para anak-anaknya.
Duduk mendampingi seorang Bunda seperti malam itu adalah tantangan sendiri bagi saya, terlebih Bunda sangat bersemangat dalam membagi rerimbunan data, fakta, wacana dan gagasannya malam itu. Saya yang lebih muda tentu tak ingin kalah. Jika sebelumnya saya jengkel menjadi moderator dadakan maka perlahan saya menikmatinya, tentu setelah saya menyimak semua detail fakta yang disampaikan oleh salah satu Putri dari pembesar Pondok Pesantren DDI Mangkoso ini.
Pada setiap jeda istirahat, setiap membuka sesi tanya jawab. Saya selipi dengan berbagai spontanitas yang mendukung paparan Bunda sebelumnya. Seperti pada sesi tanya jawab pertama, saya mencoba membacakan beberapa bait La Galigo (Massureq), karena sebelumnya Bunda sempat menyitir teks tersebut saat menceritakan tentang betapa humanisnya sosok To Palanroe (Dewata Bugis) dalam naskah tersebut. Pada sesi kedua, setelah Bunda mengurut nama-nama besar para sastrawan asal Sul-Sel maka saya berimprovisasi membacakan karya Ram Prapanca “Sukmaku di Tanah Makassar”, lalu disesi berikutnya saya tampilkan kehadapan peserta sebuah naskah tua karya B.F Matthes berupa Injil bertuliskan aksara dan berbahasa Bugis. Terakhir pada sesi penutup diskusi saya bacakan sebuah puisi dari Bunda sendiri, seperti berikut ini :
Oh malam, berikanlah aku
kesunyianmu yang sejuk
bukan kepekatanmu yang mengerikan
Oh siang, berikanlah aku
cahayamu yang menyilaukan
bukan panasmu yang menyobek kulitku
Dengan kesunyianmu
aku bisa menyorot seluruh nafas asamu
dengan cahayamu
aku dapat menemukan seluruh denyut sajakmu
Semoga upaya saya mengimbangi sang Professor dengan apa yang saya lakukan malam itu, tidaklah bernilai lancang. Makkarodda atau tennia tudangengna dalam bahasa Bugis. Tabe!
Buat panitia, terima kasih atas “paksaannya”, memaksaku jadi moderator. Terima kasih juga atas bette lame (ubi goreng) dan sarabbaq-nya.
Suryadin Laoddang, aktifis budaya asal Sulawesi Selatan yang telah lama bermukim di Yogyakarta ini meyakini budaya harus dibumikan tidak hanya lewat pementasan, ceritera, atau rekaman video, juga harus dibumikan dengan tulisan. Ia memilih untuk terus menulis hal-hal kecil tentang budaya Bugis. Saat ini Ia telah melakukan reinterpretasi terhadap lebih dari 100 elong-kelong (galigo) Bugis dan aktif sebagai narasumber kajian-kajian naskah La Galigo itu sendiri.
Budaya bagi saya adalah sesuatu yang terbilang rumit, pelik dan luas. Budaya mengandung banyak sekali unsur, mulai dari unsur geografis hingga unsur ideologis. Dimulai dari adanya budaya, agama dan bangsa, lahirlah sebuah negara atau suatu golongan. Budaya, biasa kita sebut juga dengan culture, di bawahnya ada subculture dan di atasnya ada mainstream. Semuanya berkesinambungan, lebih tepatnya saling tarik-menarik dan berkaitan. Apabila kita membahas salah satu substansi dari kata budaya tersebut, kita juga harus menarik benang-benang lain yang terkait dengan substansinya.
Budaya juga merupakan bagian dari keberagaman. Dalam suatu bangsa terdapat keanekaragaman budaya. Kita, masyarakat dengan raga manusia, sebagai bagian dari bangsa tersebut merupakan pemilik kebudayaan dan dituntut untuk mengenali, melindungi dan melestarikannya. Kita patut bersyukur berada di Tenggara, 30 derajat dari Timur, dimana macam-macam bentuk budaya masih terjaga utuh dan lestari. Budaya itu seni; seni itu indah; indah itu ketika damai terlaksana sebagaimana mestinya. Sekiranya ulasan di atas adalah sedikit gambaran tentang apa itu budaya dari sudut pandang saya.
Bendera Malaysia dan Indonesia. Sumber: www.sindonews.com
Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di bagian tenggara benua Asia, terkenal dengan kekayaannya akan budaya-budaya tradisional yang beberapa di antaranya masih bernuansa primitif, unik dan belum tersentuh modernisasi Barat. Dari Sabang sampai Merauke; ada suku Melayu yang memiliki bahasa yang halus nan indah, suku Bugis yang kaya akan keteladanan sastranya, sampai suku Samin dengan ideologinya yang tak tergoyahkan. Itu benar-benar mencerminkan bahwa Indonesia adalah bangsa yang kuat dari beragam bidang. Namun, dewasa ini kerap terjadi fenomena-fenoma yang menyebabkan apa yang saya sebut damai seperti di atas tadi, terusik. Lebih menyedihkannya lagi yang mengusik kedamaian tersebut adalah isu kebudayaan. Apalagi setelah mengetahui bahwa fenomena tersebut melibatkan negara tetangga kita yang memiliki cukup banyak kesamaan dengan Indonesia; ya, mereka tetangga kita sendiri, Malaysia.
Agar saya yang berintelegensi rendah ini tidak memperluas hingga kemana-mana pembahasan dalam opini saya, mari kita tengok sejenak daftar dari isu-isu kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia yang pernah terjadi sebelumnya :
Naskah kuno dari Riau, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Naskah kuno dari Sumatera Barat, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Naskah kuno dari Sulawesi Selatan, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Naskah kuno dari Sulawesi Tenggara, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Rendang (makanan) dari Sumatera Barat, Klaim oleh Warga Negara Malaysia.
Lagu Rasa Sayang Sayange dari Maluku, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Tari Reog Ponorogo dari Jawa Timur, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Lagu Soleram dari Riau, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Lagu Injit Injit Semut dari Kalimantan Barat, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Alat musik Gamelan dari Jawa, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Tari kuda lumping dari Jawa Timur, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Tari Piring dari Sumatera barat, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Lagu Kakak Tua dari Maluku, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Lagu Anak Kambing Saya dari Nusa Tenggara, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Motif Batik Karang dari Yogyakarta, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Badik Tumbuk Lada, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia.
Kain Ulos, Klaim tidak jelas dari oknum/pemerintah Malaysia.
Alat musik Angklung, Klaim sepihak dari pemerintah Malaysia.
Lagu Jali-Jali, Klaim sepihak dari pemerintah Malaysia.
Tari Pendet dari Bali, Klaim sepihak oleh pemerintah Malaysia
Sudah ada 20 isu mengenai pengklaiman kebudayaan milik atau asal Indonesia yang mencuat di permukaan. Semuanya merupakan KLAIM SEPIHAK OLEH PEMERINTAH MALAYSIA. Sekali lagi saya tekankan disini KLAIM SEPIHAK OLEH PEMERINTAH MALAYSIA. Ketika pertama kali mengetahu kalimat tersebut yang terbersit di benak saya, ini adalah bentuk klaim dari pemerintah. Terus terang saja saya tergolong orang yang tidak pernah mempercayai pemerintah, termasuk pemerintah di Indonesia. Ketika mendengar hal tersebut merupakan perbuatan dari pemerintah saya sudah tidak heran lagi, karena menurut saya pemerintah sejak awal terbentuknya suatu negara memang sudah busuk dan layak dibenci – sebagaimana suku Samin membenci pemerintah sejak zaman Hindia-Belanda-. Tetapi bukan hal itu yang ingin saya bahas dan opinikan disini.
Media, sebagai pemberita, menjadi salah satu aktor di balik isu pengganggu perdamaian ini. Beberapa hari ini isu kebudayaan antara Indonesia dan Malaysia mencuat kembali, kali beredar isu tentang pengklaiman tari Tor-tor dan Gondang Sambilan milik komunitas Mandailing di Sumatera Utara. Isu yang diedarkan oleh sejumlah media adalah tentang Pengklaiman Tari Tor-tor oleh Pemerintah Malaysia. Contoh konkritnya ialah pemberitaan yang dilakukan oleh Viva News (Indonesia) dengan judul ‘Giliran Tari Tor-tor Batak Diklaim oleh Malaysia’ (http://nasional.vivanews.com/news/read/326095-giliran-tari-tor-tor-batak-diklaim-malaysia). Di sana dituliskan “Malaysia kembali mengklaim hasil kebudayaan asli Indonesia menjadi miliknya” lalu “Namun kini, Malaysia dengan berani akan meregistrasi kebudayaan itu berdasarkan Bab 67 Undang-undang Peninggalan Nasional 2005” dan “Aksi ini memancing reaksi keras dari masyarakat Indonesia. Bahkan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat itu sempat marah atas klaim itu. Budayawan Malaysia juga menyesalkan klaim ini”.
Sumber: TempoInterAktif
Dari berita yang beredar tersebut dapat diinterpretasikan bahwa ‘Pemerintah Malaysia atau Negara Malaysia seenak udelnya mengklaim tari Tor-tor sebagai warisan kebudayaan milik Malaysia, hal tersebut menyebabkan pemerintah Indonesia serta masyarakat Indonesia naik pitam dan menentang keras apa yang sudah diperbuat oleh Pemerintah Malaysia atau Negara Malaysia’. Ada beberapa kata yang perlu kita garis bawahi dari interpretasi dan berita tersebut yaitu, ‘Klaim’, ‘Pemerintah’, ‘Rakyat’ dan ‘Registrasi’. Pemberitaan dari situs dengan skala kepercayaan cukup besar di Indonesia tersebut apabila diterima dengan mentah-mentah dapat menjadi pengusik kedamaian antara Indonesia dan Malaysia. Karena menurut saya pemberitaan yang beredar tersebut kurang bulat atau kurang obyektif. Dari postingan tersebut tidak disebutkan secara detail siapa pihak dari Malaysia yang mengklaim tari Tor-tor. Seolah-olah subyek yang melakukan klaim terhadap tarian tersebut adalah keseluruhan manusia yang ada di Malaysia, atau bisa diartikan sebagai pemerintah dan rakyatnya.
Lalu disebutkan bahwa Presiden Indonesia marah akan hal tersebut. Memang jelas disebutkan nama Presiden Indonesia namun dalam penulisan kata rakyat, tidak disebutkan secara jelas juga rakyat yang mana yang meman bereaksi negatif atas apa yang dilakukan Malaysia terhadap tarian tersebut. Kemudian, terdapat kontradiksi dalam pemakaian kata-kata. Seperti yang disebutkan pada judul berita tersebut ada kata ‘Klaim’ namun dari substansi berita ditemukam kata ‘Registrasi’. Klaim dan registrasi sungguh merupakan dua kata yang amat berbeda. Apabila memang yang dilakukan oleh Malaysia adalah klaim atas suatu warisan kebudayaan, lantas kenapa Malaysia hanya melakukan registrasi atau pendaftaran atau dalam bahasa Inggris disebut sebagai listing saja? Apabila memang Malaysia mengklaim tarian tersebut dan Indonesia merasa sebagai pemilik asli dari tarian itu seharusnya sudah terjadi perang yang amat dahsyat di wilayah paling tenggara di Asia ini. Bila kita lihat dari sumber lain seperti Bernama.com (Malaysia) yang mengutip perkataan dari Menteri Informasi, Komunikasi, dan Kebudayaan Malaysia Datuk Seri Dr Rais Yatim bahwa tarian tersebut akan didaftarkan dibawah Section 67 UU tentang warisan budaya nasional tahun 2005. Disebutkan di sana bahwa tarian tersebut hanya didaftarkan, bukan diakui sebagai milik atau berasal dari, sebagaimana interpretasi dari kata Klaim itu sendiri.
Hal yang saya soroti dari kedua sumber ini adalah terdapat banyak pengaburan fakta secara besar-besaran dari peristiwa sebenarnya dalam pemberitaan yang dilakukan oleh Viva News. Sebelum memublikasian berita, sudah sepatutnya pihak yang memberitakan hal ini mengetahui keseluruhan fakta peristiwa tersebut, sehingga tidak kemudian memunculkan perseteruan antara pihak yang merasa benar dan pihak yang disalahkan dalam beritanya. Seharusnya pembaca yang menjadi obyek sasaran dari media pemberita tersebut dapat menganalisa kebenaran dari peristiwa yang terjadi dan tidak langsung mempercayai berita yang diberitakan oleh media pemberita begitu saja. Hal itu dapat menyebabkan perseteruan dan terusiknya perdamaian antara kedua negara tersebut akan terus berkelanjutan. Media seyogyanya bisa menjadi tempat mencari fakta dan segala bentuk pengetahuan secara utuh. Bukan sebagai penyebar propaganda yang secara terang-terangan melakukan provokasi dengan mengaitkan beberapa pihak dalam suatu peristiwa dan merubah peristiwa tersebut menjadi konflik. Media seharusnya bisa menjaga keharmonisan hubungan antar umat dalam pengungkapan kebenaran tersebut.
Salah satu hal yang dapat kita lakukan jika ingin mencari kebenaran dan menghindar dari pembutaan fakta yang dilakukan oleh media terkait isu Pengklaiman tari Tor-tor dan Gondang Sambilan adalah seperti melakukan kunjungan langsung ke Malaysia untuk mengkaji beberapa paham mengenai asal-usul kebudayaan tersebut. Sebagai sampel adalah kunjungan yang dilakukan oleh beberapa kawan dari La Galigo for Nusantara dalam proyek “Lontara Project Goes to Malaysia” . Dalam proyek tersebut mereka mengkampanyekan fakta bahwa Indonesia dan Malaysia terletak dalam satu Nusantara dan Satu bangsa, yaitu bangsa Melayu. Dari temuan tersebut terdapat beberapa fakta lagi yang dibuktikan yaitu bagaimana kebudayaan tersebut lahir di Indonesia, dan bagaimana kebudayaan tersebut bisa mengalami persebaran hingga bisa ditampilkan di negara lain; bahwa penduduk asli dari tempat asal kebudayaan itu lahir adalah para perantau yang berpindah tempat tinggal namun tetap ingin kebudayaan mereka lestari di tempat tinggal mereka yang baru itu. Satu fakta lagi yang ditemukan dalam kunjungan tersebut ialah hampir 80% artefak yang berada di museum kecil milik Akademi Pengkajian Melayu University of Malaya adalah artefak yang dapat ditemukan di Indonesia juga. Yang dapat disimpulkan dari fakta-fakta di atas adalah jika ada kesamaan kebudayaan atau benda-benda warisan kebudayaan seyogyanya dipandang dengan wajar, karena Indonesia dan Malaysia berada dalam satu rumpun Melayu yang memiliki kemiripan dan dinamis.
Kesimpulan dari opini dan analisa saya dari fakta-fakta yang ada: Indonesia dan Malaysia adalah satu, satu rumpun Melayu. Isu kebudayaan yang memang sensitif dan pemberitaannya terkadang dilebih-lebihkan ini seharusnya tidak bisa menjadi perusak perdamaian antar bangsa. Masing-masing bangsa, Indonesia dan Malaysia, dengan mengetahui bahwa mereka berada dalam satu rumpun yang sama seharusnya menjadi bisa menjaga kestabilan hubungan mereka yang semula baik-baik saja. Bahkan budaya-budaya yang diributkan tersebut lahir jauh sebelum batas wilayah dan negara ada. Tidak seharusnya budaya diperebutkan dan menjadi penyebab rusaknya keharmonisan hubungan antar bangsa. Karena Indonesia dan Malaysia memang diciptakan berdekatan, bertetangga dan dalam memiliki banyak similiarities dalam satu rumpun Melayu tersebut.
Semoga budaya bisa tetap menjalankan fungsinya yaitu sebagai Penjaga Ketentraman dalam Berbangsa. Semoga damai tercipta karena kebudayaan dan keanekaragaman ini adalah anugerah yang tidak bisa kita temukan di belahan dunia lainya. Salam!
Hilman Fathoni, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada angkatan 2010. Bungsu dari dua bersaudara ini kini menjabat sebagai Ketua Divisi Penelitian dan Pengembangan di Badan Pers dan Penerbitan Mahasiswa MAHKAMAH. Ketertarikannya terhadap gejala sosial dan filsafat membuat penyuka musik aliran keras dan film-film “hitam-putih” ini sering menampilkan ide-ide yang eksentrik. Kenali Hilman lebih jauh dengan mengunjungi blognya di http://jokerjester-jesterjoker.blogspot.com/
Mereka (GAM) melihat ayahnya dibunuh, kakaknya ditangkap, adiknya hilang, tetntu saja mereka sakit hati. Itulah yang membuat orang bergabung dengan GAM, dan inilah yang harus dibenahi
Awal tahun 2007, seperti biasa, kala penat menyerang menjelang ujian akhir nasional, perpustakaan di sekolahku, MAN Insan Cendekia menjadi tempat favorit yang selalu kutuju. Ketika hendak menuju sofa empuk kosong yang biasanya menjadi rebutan, mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah buku tebal tergeletak di salah satu ujung rak di sudut ruangan. Tidak strategis posisinya, tapi wujudnya yang mantab, hard cover warna hitam,seperti ada magnet di dalam buku itu yang menarikku. Kutinggalkan koran yang sedianya kubaca, berjalan melintasi ruangan berlapis karpet biru, kuraih buku itu.
“To See The Unseen, Di Balik Damai Di Aceh”. Judul yang sangat mengundang, batinku. Buku ini seolah meningkatkan daya magnetiknya ketika kutemukan bahwa tokoh utama yang bercerita dalam biografi kisah nyata diplomasi ini adalah seorang dokter, bahkan seorang spesialis bedah-digestive, yakni dr. Farid Husain, seorang dokter senior putra Bugis asli. Pada bagian awal untaian kisah pengalaman nyata ini, aku mendapati bahwa buku ini menjanjikan jawaban atas kegelisahanku yang memuncak dalam memilih jurusan kuliah kelak. Beberapa saat lagi ujian seleksi masuk UGM dilaksanakan. Kampus Insan Cendekia sendiri akan menjadi salah satu tuan rumah ujian untuk wilayah Banten, Lampung dan Sumatera Selatan. Perang batinku masih antara Pendidikan Kedokteran, menjadi dokter sebagaimana wasiat almarhum Bapak, atau Hubungan Internasional passion utamaku kala itu agar bisa menjadi diplomat kelak. Sejak detik kubuka buku itu aku sudah lupa kembali duduk di sofa tadi, kubaca lembar demi lembar buku itu, sambil tetap berdiri.
Juni 2003, sebulan sejak penetapan Darurat Militer di Aceh oleh pemerintah pusat, berkat kedekatannya dengan seniornya yakni Jusuf Kalla yang menjabat Menkokesra saat itu dan juga berasal dari Sulawesi Selatan, Farid Husain diminta oleh Jusuf Kalla untuk memelihara hubungan baik dan komunikasi dengan para pimpinan GAM di Aceh, juga di luar Indonesia, dalam rangka menginisiasi perdamaian antara GAM dan Pemerintah RI. Jusuf Kalla yakin, konflik di Aceh dapat diselesaikan dengan satu hasil bulat, damai, sebagaimana inisiatifnya yang berhasil di Ambon dan Poso yang juga diamanahkan pada tangan dingin Farid Husain.
Babak selanjutnya, Farid Husain mengatur dan menjalankan berbagai strategi dengan tujuan akhir perdamaian antara GAM dan pemerintah Republik Indonesia. Berbagai jalur diplomasi di balik layar ia lakukan. Farid Husain bahkan berhasil mendapatkan dukungan dari Crisis ManagementInitiative dan Mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari yang telah berpuluh tahun berpengalaman dalam perdamaian konflik melalui kontaknya di Finlandia, Juha Christensen yang dikenalnya dua puluh tahun lalu saat Juha meneliti bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan. Dalam periode yang bersamaan, tidak hanya di Jakarta dan Aceh, Farid Husain juga melakukan berbagai pertemuan hingga ke Singapura, Belanda, dan Swedia demi menemui berbagai elemen hingga pimpinan GAM. Dengan beragam tempat pertemuan mulai dari lobby hotel,restoran, hingga belantara hutan.
Pengalaman Farid Husain sebagai dokter selama hampir seperempat abad menunjang upaya diplomasi dan treatmentyang diberikannya kepada pihak GAM. Umumnya dokter yang hendak mendiagnosa, pertemuan dan pemeriksaan pasien adalah hal yang dapat dikatakan mutlak selain didukung hasil pemeriksaan lain. Untuk mendekati dan meresapi aspirasi masyarakat Aceh dan mendekati pasukan GAM yang merupakan ‘pasien’nya di lapangan, tidak jarang Farid Husain harus berhadapan langsung dengan pucuk senjata. Namun kepiawaiannya dalam berkomunikasi dan pendekatan personal justru membuatnya dapat diterima oleh para aktivis GAM di lapangan bahkan dianggap seperti saudara. Kelak pendekatan personal, prinsip yang juga diterapkannya dalam menghadapai pasien, inilah yang menurut Farid Husain merupakan kunci keberhasilan upaya perdamaian antara Pemerintah RI dan GAM ini.
Seperti halnya pasien yang datang karena menderita suatu penyakit, perlawanan GAM tumbuh dari rasa sakit hati.
“Mereka (GAM) melihat ayahnya dibunuh, kakaknya ditangkap, adiknya hilang, tetntu saja mereka sakit hati. Itulah yang membuat orang bergabung dengan GAM, dan inilah yang harus dibenahi,” urai Farid Husain. Seperti yang diterapkannya kala berhadapan dengan pasien, Farid Husain aktif mendengarkan keluhan bahkan makian dari pihak GAM terhadap pemerintah RI. Mengutip pernyataannya,
“Itulah (prinsip) yang saya lakukan dalam menjalin kontak dengan orang-orang GAM. Saya coba menampung keluhan mereka sampai kemudian mereka merasa lega. Saat itulah saya masuk ke alam mereka dan menyelami perasaan mereka,”
Tidak hanya mendengarkan, Farid Husain juga menunjukkan empatinya sebagaimana ia menghadapi pasiennya. “Dok, saya pusing dan mual kenapa ya, Dok.” Farid akan menujukkan empati dengan berkata,“Oh, saya juga sering pusing-pusing begitu,” Semua upaya itu dilakukannya agar para para petinggi GAM mau maju ke meja perundingan damai.
Upayanya yang luar biasa dalam melakukan pendekatan untuk meyakinkan para petinggi GAM dibahasakan oleh Jusuf Kalla dalam buku biografi itu, dalam perspektif manajemen dan bisnis.
“Jadi tugasnya (Farid), kalau dari sudut saya sebagai bekas pengusaha adalah menawarkan, menjual, dan melaksanakan kegiatan purnajual.Kalau dari sisi Dr Farid sebagaimana dokter ahli bedah, mulai dengan memeriksa, mengambil tindakan, dan recovery.Tugas itu selalu dilaksanakan dengan tulus, bertanggung jawab dan dengan gembira. Karena itu selalu saja dia dapat menemukan jalan yang kita tidak lihat, “
Akhirnya pada 15 Agustus 2005, ditandatanganilah MoU antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia setelah melalui lima ronde perundingan sejak 28 Januari 2005. Satu hal menarik dalam perundingan adalah dari lima delegasi Indonesia yang kesemuanya berasal dari luar Jawa, demi menjaga netralitas, tiga delegasi berasal dari Sulawesi Selatan. Selain Farid Husain, ada Menkumham saat itu Hamid Awaluddin, yang juga berasal dari Sulawesi Selatan. Dominannya juru runding asal Aceh dan Makassar dalam babak-babak perundingan sempat memunculkan gurauan bahwa perundingan ini antara GAM dengan GAM, Gerakan Aceh Merdeka dan Gerombolan Anak Makassar.
Usai membaca biografi Farid Husain yang melibatkan emosi sekaligus intelektual, seolah Tuhan mempertegas apa yang beberapa hari lalu ibuku nasehatkan “sekolah dokter dulu, kalau sudah jadi dokter mau belajar apa aja boleh (bisa)”. Inilah yang menuntunku akhirnya memilih pendidikan kedokteran. Keputusan yang sesuai dengan wasiat almarhum Bapak, dengan harapan kelak dapat menemukan jalan seperti Farid Husain mengawinkan ilmu, prinsip, dan pengalaman di dunia kedokteran dalam dunia diplomasi dan hubungan internasional.
Bagiku, bukan suatu kebetulan Tuhan mengarahkan mataku pada siang itu ke buku yang jumlahnya hanya satu eksemplar di perpustakaan Insan Cendekia itu. Enam tahun sejak aku menyelesaikan buku itu, Tuhan telah menunjukkan bahwa keputusanku kuliah di kedokteran justru mengantarkan ku menyalurkan passion-ku di dunia diplomasi dan hubungan internasional dengan menganugerahkan berbagai karunia yang kusebut “perkawinan” antara pendidikan kedokteran dengan dunia diplomasi dan hubungan internasional. Bahwa dunia kedokteran dapat ‘dikawinkan’ dengan dunia diplomasi dan hubungan internasional yang kuistilahkan sebagai ‘docplomacy’
Tahun 2010, dengan niat mengamalkan ilmu kesehatan yang kudapat, bersama kawan-kawan di FK UGM kami berhasil menjalin kerjasama dengan produsen ponsel dari Finlandia, negara asal Martti Ahtisaari, untuk menyebarkan informasi gaya hidup sehat melalui pembuatan konten kesehatan untuk pengguna di seluruh Indonesia. Tahun 2010, setelah bermodal “Diplomasi Bir” untuk mendapat stipend biaya perjalanan, aku mendapat penghargaan presentasi poster public health terbaik di CharitéUniversitätsmedizin Berlin, Jerman. Di tahun yang sama, dalam rangka partisipasi KBRI Praha pada Festival Budaya kota Plzen, aku diberi kesempatan menampilkan Tari Truno di hadapan masyarakat setempat kala mengikuti program internship mahasiswa kedokteran di Palacky University Hospital di Ceko.
Tahun 2011, harapanku memiliki pengalaman di dunia kesehatan internasional dijawab dengan kesempatan yang sangat langka, kerja magang di kantor pusat WHO Jenewa. Tahun 2011 dan 2012, berkat beasiswa kesehatan masyarakat dari Erasmus Mundus yang memberangkatkanku ke Belgia, bersama istriku dan kawan-kawan Indonesia di Belgia kami mendapat kesempatan menampilkan tari Saman di berbagai acara sosial, resepsi diplomatik, hingga promosi pariwisata tahunan di Belgia. Di Belgia pula aku mendapat kesempatan langka menjalani internship di salah satu WHO Collaboration Center dalam bidang epidemiologi bencana di Université catholique de Louvain tempatku belajar. Di tahun ini juga kami berhasil mengulang kerjasama dengan produsen ponsel asal negara tuan rumah perundingan perdamaian GAM dan RI tadi tadi. Bisa jadi ini pertanda Tuhan bagiku akan semangat keyakinan yang kudapat usai membaca biografi Farid Husain. Kedokteran dapat dikawinkan dengan diplomasi dan hubungan internasional.
Kini Farid Husain yang menduduki jabatan Direktur Jenderal Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan dipercaya menjadi utusan khusus (special invoice) Presiden untuk menggagas dialog damai Jakarta-Papua dengan tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dan telah berjumpa dengan Panglima TPN Papua Barat, Brigadir Jenderal Richard H. Joweni. Melalui Farid Husain, BrigJen Richard Jowenitelah mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyatakan bahwa TPN mau berunding untuk segera mengakhiri konflik. Meski berpendidikan dokter spesialis dan menajabat posisi di kementerian kesehatan kontribusi putra Bugis ini dalam diplomasi berbagai perdamaian konflik di Indonesia tak pernah surut.
Aku? Aku bersyukur di semester terakhir perkuliahanku di FK UGM Dokter Farid Husain sempat hadir sebagai pemberi kuliah pakar, aku sampaikan kekagumanku akan karyanya dan terimakasihku akan peran biografinya yang menginspirasiku untuk mendaftar ke FK UGM saat itu. Lewat berbagai media aku masih terus mengikuti sepak terjangnya, menjadikannya inspirator sekaligus “mentor” jarak jauh, sambil terus belajar agar suatu saat aku dapat berbuat karya yang setidaknya sama nyatanya dengan karyanya. Sebagai seorang ‘docplomat’.
Mochammad Fadjar Wibowo, alumni pertukaran pelajar AFS ke Belanda yang pernah magang di World Health Organization, PBB pada tahun 2011. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Umum UGM, sosok murah senyum yang gemar berbisnis kecil-kecilan ini menikah dan langsung melanjutkan pendidikannya di Universite Catholique de Louvain, Belgia. Amat mengidolakan B.J. Habibie, pria yang doyan kebab dan jago menari ini sekarang tengah bekerja sebagai intern di Center for Research Epidemotology of Disasters, Belgia.