Categories
Featured Galigo Gallery Ilustrasi Karakter

Free La Galigo Wallpaper

New Year Gift from La Galigo: a free wallpaper!

Save & Set it as your wallpaper

Selamat tahun baru 2012! Tanpa watermark, semoga kalian suka ^^

*Klik gambarnya untuk original size

Categories
Ilustrasi Karakter

Ilustrasi We Tenriabeng

“Kua mua ni, Wé Tenriabéng, lé palaguna, tépu mallino, akessingenna, ri tuju mata, sulo jajjareng, tapaq langkana, awajikenna, ri tuju mata”.

“Bagaikan Wé Tenriabéng,bulan purnama yang menjelma, kecantikannya dipandang mata, menyuluhi beranda, menyinari istana, kecantikannya, dipandang mata ”. (Nurhayati Rahman, 2006:366)*

We Tenriabeng oleh Maharani Budi

Tokoh ini adalah saudara kembar Sawérigading. Seperti halnya dengan tokoh-tokoh yang lain, ia juga merupakan keturunan dewa yang menjelma di bumi. Bahkan ia kawin dengan Remmang Ri Langiq, sepupunya yang bermukim di langit. Ia kemudian pindah mengikuti suaminya berdiam di Boting Langiq (kerajaan langit).

Ia digambarkan sebagai tokoh yang sempurna, kecantikannya tiada cela, seimbang tinggi dan besarnya, kulitnya mengkilat putih kekuningan, dan rambutnya panjang tergerai. Begitu cantiknya hingga saudara kembarnya Sawérigading jatuh cinta kepadanya. Dari sinilah awal terjadinya kecelakaan tersebut yang berujung pada pembuangan Sawérigading ke tanah Cina.

Disamping keindahan fisik yang dimiliki oleh Wé Tenriabéng, ia juga memiliki sifat-sifat kewanitaan yang sejalan dengan keindahan tubuhnya; lembut dan arif. Hal ini terlihat saat Sawérigading frustasi menghadapi penolakan cintanya, dengan lemah lembut ia menasehati Sawérigading untuk pergi ke Cina sebab disana ada sepupunya yang mirip dengannya yakni Wé Cudai puteri raja Cina.

Namun di lain waktu ia juga menampilkan sosok pribadi wanita yang bebas mengekspresikan kata hatinya, setia, dan teguh pada janjinya, keras, semua yang menjadi kemauannya tak boleh dibantah.

*Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.

Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.

PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!

Categories
Ilustrasi Karakter

Ilustrasi Remmang Ri Langiq

Adanna kua Remmang Ri Langiq, “Amaséang ngaq Muttia Simpéng, ati kalémping to Rualetté, muéréang ngaq bake tumaniq muressaqé kupoppangngeppeq kinninawa I soloq ri lino maponcoq a I sungeq datukku ri tengnga tasiq.”

Demikian kata Remmang Ri Langiq, “Kasihanilan aku Muttia Simpéng (Wé Tenriabéng) bunga bilik Rualetté, berikanlah aku ampas sirihmu, yang kau gigit, kujadikan penguat jiwa turun ke dunia. Siapa tahu ajalku pendek di tengah laut.” (Nurhayati Rahman, 2006:229)*

Remmang Ri Langiq by Maharani Budi

Suami Wé Tenriabéng adalah Remmang Ri Langiq, yang dalam teks digambarkan sebagai dewa dari langit. Meskipun demikian ia masih sepupu sekali dengan Wé Tenriabéng.

Karakter tokoh ini tidak terlalu banyak disebutkan kecuali sebagai seorang lelaki yang sangat mencintai istrinya. Sebagai perwujudan rasa cinta itu adalah dengan memenuhi segala permintaan istrinya. Ketika ia menikahi Wé Tenriabéng, pemberian mas kawinnya sangatlah banyak, bukan saja harta tapi juga bissu dan dayang-dayang yang tak terbilang banyaknya. Begitu cintanya ia kepada istrinya, maka saat akan turun ke bumi untuk membantu Sawérigading yang kewalahan menghadapi La Tenrinyiwiq, salah satu musuh yang diperangi Sawérigading di tengah laut, ia meminta ampas sirih Wé Tenriabéng yang ada di mulutnya untuk dijadikan penguat jiwa turun ke dunia.

*Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.

Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.

PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!