Categories
101 La Galigo Featured Liputan

OBRAK WHD 2021

Hai Sobat Lontara Project,

Jika dihitung-hitung, rasanya sudah hampir satu dekade Lontara Project dan kawan-kawan rutin merayakan World Heritage Day setiap tanggal 18 April. Sejak berkomunitas, bisa dikatakan bahwa memang perayaan WHD ini merupakan salah satu momen yang paling kami tunggu setiap tahunnya. Bagaimana tidak, WHD bagi Lontara Project merupakan ajang berbagi cerita. Banyak sekali kisah-kisah menarik mengenai warisan atau pusaka yang dibagi oleh para volunteer, partisipan, serta pengunjung (jika WHD berupa event yang digelar sebelum pandemi).

Nah, kali ini – sudah tahun kedua kita semua lebih banyak menghabiskan waktu beraktivitas di rumah. Meskipun demikian, semangat WHD tahun 2021 tidak menyurutkan kami untuk menginisiasi kembali perayaan hari Pusaka Dunia dengan mengadakan OBRAK (Obrolan Pusaka) secara daring. Inilah acara pertama Lontara Project sejak pandemi sekaligus menjadi penyemangat kita semua yang merindukan obrolan-obrolan ringan tentang warisan pusaka. Karena OBRAK 2021 ini dihadiri oleh beberapa belas orang saja, suasananya tak pelak menjadi lebih akrab dan rileks. Mirip lah obrolan di warung kopi yang menjadi kegiatan favorit sebelum new normal. Bedanya hanya kita semua harus ngopi di rumah masing-masing dulu.

Apa saja yang kami obrolkan pada OBRAK 2021 kemarin? Wah, banyak sekali dan tidak kalah seru dibandingkan OBRAK pada tahun-tahun sebelumnya loh. Bagi teman-teman yang berasal dari Sulawesi Selatan, seperti Louie, Kak Abdi, Anna, dan saya – cerita pusaka kami berkelindan seputar seluk-beluk tradisi mewariskan keris dan sarung pada setiap keluarga. Kak Abdi mengaminkan ini dengan mengulas lebih banyak ingatannya akan sarung: bagaimana neneknya yang merupakan seorang penenun sarung akan memenuhi permintaan jahitan sarung sesuai dengan peruntukan dan perhitungan nasab pelanggannya. Dari potongan-potongan kain sisa-sisa sarung orderan tadi, ia menjahitkan sebuah sarung istimewa. Sarung warisan neneknya inilah yang selalu menemani kak Abdi hingga sekarang, baik di kehidupan pribadi hingga hingar bingar pentas di seluruh dunia. 

Jika kami membahas soal sarung, perspektif yang keren juga diutarakan oleh Wibi melalui ceritanya tentang bagaimana sebuah benda pusaka itu dapat ditakar dari value berupa narasi yang disematkan orang-orang kepadanya. Sudut pandang tersebut lahir dari kejadian menarik yang dialaminya pada saat berkunjung ke pedalaman hutan Borneo dan bertemu dengan para penduduk asli. Melihat Wibi kebetulan sedang mengenakan seutas gelang kepang, masyarakat suku disana berpikir ia pasti semacam orang sakti dari Jawa dengan “ilmu” atau “kehebatan” tertentu. Sebab begitulah kepercayaan dan tradisi yang berjalan di sekitar mereka. 

Lain halnya dengan cerita Abay, seorang tipografer kelahiran Jakarta yang menelusuri jejak sejarah warisan keluarganya lewat seni mendesain huruf dan tulisan. Demikian pula dengan kisah Kak Nyimas Ulfa yang kebingungan mencari informasi mengenai benda-benda pusaka warisan keluarga di rumahnya seperti kain songket dan tombak. Ada cerita dari Tedhy yang konsisten menjalankan aktivitasnya membawa tarian Jawa tradisional sambil melakoni pekerjaan di kantor setiap hari. Sementara Diani bercerita tentang barang-barang beraneka ragam barang-barang peninggalan yang baru terkuak pada saat isi rumahnya dibongkar pada saat harus direnovasi. Bu Kathy dari Leiden bahkan menunjukkan sebuah selimut warisan sang nenek beserta pusaka keluarga yang berupa awetan seekor penyu!

Pak Ade dari Bandung yang ikut bergabung berbagi kisah pula tentang alat-alat produksi keramik yang dimiliki oleh keluarganya dari sebuah pabrik lawas. Eits, jangan salah. Alat cetak keramik ini bukan sembarang cetakan, namun memiliki nilai sejarah penting. Keramik-keramik dari pabrik yang berlokasi di Bandung tersebut merupakan salah satu komoditas ekspor Indonesia pada era Pak Soekarno loh! 

Cerita lalu bergulir semakin seru dengan tuturan dari Rizka asal Jawa Timur tentang kaitan antara Reog Ponorogo dan Iklan Sirup Marjan. Loh, ada apa?

Sederhana tapi Bermakna

Menurut Rizka, iklan Sirup Marjan bertemakan “Singabarong & Kelana” yang bisa ditonton melalui platform Youtube saat ini sudah tidak sesuai dengan cerita rakyat Ponorogo yang sebenarnya. Sosok Singabarong pada iklan Sirup Marjan yang diangkat sebagai jagoan justru bertolak belakang dengan kisah yang ia dengarkan dari orang tuanya di rumah seusai menonton pertunjukan Reog Ponorogo. 

Sebelum menutup sesi karena keterbatasan waktu (Ya ampun, kami mengobrol kurang lebih dua jam lamanya!), ada beberapa kesimpulan yang menarik untuk kami bagi: Pertama, kami sepakat bahwa “pusaka” itu tidak mesti berupa artefak seperti guci logam bersepuh emas atau pedang raksasa berukir naga air dari abad ke-15. Pusaka berkaitan erat dengan narasi dari setiap warisan tangible maupun tradisi yang bersifat intangible, yang tidak boleh luput untuk disampaikan kepada generasi penerus pusaka tersebut. Ia tidak terbatas oleh bentuk, ia dapat berupa nyanyian pengantar tidur maupun nama belakang keluarga. 

Yang kedua, kami membayangkan kira-kira pusaka apa yang dapat diwariskan generasi saat ini kepada generasi di masa depan kelak? Narasi seperti apa yang ingin kita sampaikan kepada mereka yang hidup setelah masa sekarang? Sementara waktu terus bergulir, hanya cerita-cerita tentang masa lalu yang dapat dirayakan sebagai penyambung zaman. 

Jadi, apakah kalian sudah menyiapkan sebuah pusaka untuk diwariskan kepada anak-anak dan cucu kalian nanti?

Selamat Hari Pusaka Dunia!

Categories
101 La Galigo Featured Heritage Camp I UPS! La Galigo Liputan

Generasi Baru Konservasi Kreatif Lahir di Heritage Camp 2013! Part I

Menyeleksi 35 orang dari 274 pendaftar jelas bukanlah hal yang mudah! Setelah selama sebulan lebih mencari-cari, akhirnya panitia Heritage Camp 2013 yang terdiri atas volunteer Lontara Project serta mahasiswa-mahasiswi UGM berhasil menemukan mereka. Agen-agen konservasi kreatif budaya yang mewakili empat klaster besar Nusantara: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara ini satu tekad dan percaya bahwa untuk melestarikan budaya di era globalisasi, kekreatifan dan jiwa muda amat dibutuhkan!

Day #1

Pagi-pagi benar panitia sudah harus standby di Ambarbinangun. Bus datang pukul 06.00, dengan segera saya sebagai fasilitator dan Fajar Priyambodo yang in charge di bidang perlengkapan dan transportasi berangkat menuju Stasiun Tugu. Meeting point yang telah disepakati oleh panitia adalah di tempat itu, maka mau tak mau seluruh peserta yang menghendaki untuk dijemput harus menunggu sejak pukul 07.00 hingga 09.00 di Stasiun Tugu. Meskipun belum sarapan, kami dipenuhi oleh semangat untuk bertemu dengan para peserta Heritage Camp 2013. Sebelumnya saya hanya memandangi foto-foto dan membaca aplikasi mereka seraya menduga-duga seperti apakah karakter mereka sebenarnya. Meskipun ada sedikit kesalahpahaman dengan salah seorang peserta terkait lokasi penjemputan (saya dan Fajar terpaksa harus jalan ke Jalan Malioboro dari tempat parkir bus di Jalan Pasar Kembang untuk menjemputnya) namun acara penjemputan berjalan lancar tanpa ada seorang pun yang tertinggal. Terima kasih pula atas tenaga bantuan yang diimpor jauh-jauh dari Bandung, saudara Setia Negara.

Pembukaan Heritage Camp 2013 di Ambarbinangun

Sesi pertama dimulai setelah sholat Jumat dan istirahat makan siang. Panitia ternyata memang tidak salah pilih, dengan cepat peserta-peserta tersebut sudah akrab satu sama lain, bahkan saling bercanda dengan panitia. Setelah Anggita Paramesti selaku project manager memberikan penjelasan mengenai acara-acara yang akan mereka lewati bersama selama 4 hari, ‘peri-peri Oprah’ alias julukan untuk panitia di bidang dana-usaha-publikasi yaitu Novia PermatasariDiah Sri Utari dan Zafira Sabrina muncul dan membagikan seminar kit kepada para peserta. Mereka dibantu pula oleh Gebyar Lintang dan Arin Purisamya selaku sekretaris dan bendahara Heritage Camp 2013.

Setelah dibriefing secara singkat, sekitar pukul 15.30 para peserta mendapatkan sesi lecturing pertama dari Bapak Daud Tanudirjo. Beliau merupakan dosen Arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Beliau merupakan salah seorang aktifis yang mendukung terciptanya Piagam Pusaka Indonesia. Pak Daud mengampu sesi “Klasifikasi Pusaka Indonesia” dan penjelasan beliau di hari pertama ini amat penting dalam memberikan pengertian kepada peserta Heritage Camp akan materi-materi yang akan mereka terima di hari-hari selanjutnya.

Teh Sinta dan rekannya sedang menjelaskan tentang aksara Sunda Kuno yang ternyata memiliki banyak kesamaan dengan aksara-aksara di Sumatera dan Sulawesi Selatan.

Hari itu ditutup dengan sesi berjudul “Dokumentasi Manuskrip di Indonesia” oleh Sinta Ridwan. Sinta Ridwan yang datang jauh-jauh dari Jawa Barat ini merupakan penerima  anugerah Kick Andy Heroes 2012 oleh MetroTV atas usahanya untuk membangkitkan kembali pengajaran aksara Sunda Kuno kepada masyarakat umum di Bandung. Setelah menyampaikan materinya, teh Sinta lanjut memberikan workshop penulisan aksara Sunda Kuno. Amat menarik, setelah beberapa menit diterangkan metodenya, dalam waktu singkat para peserta camp langsung dapat memahami dan menuliskan nama mereka masing-masing dalam aksara tersebut. Setelah workshop selesai, teh Sinta kembali mengajak peserta camp untuk aktif mendiskusikan naskah kuno Budug Basu. Naskah kuno yang berasal dari Cirebon abad ke-19 ini sekarang berada di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Teh Sinta memberikan gambar contoh naskah dan meminta peserta camp untuk memberikan analisisnya masing-masing terhadap naskah tersebut. Sekali lagi, panitia memang tidak salah pilih dengan para peserta ini. Satu per satu hipotesa dicetuskan oleh masing-masing kelompok, ada yang mengomentari makna ilustrasi, jenis huruf yang dipakai, isi cerita, lingkungan yang dideskripsikan naskah, hingga ke hubungan romantisme antara Dewi Sri dan Budug Basu yang sehidup-semati. Malam itu para peserta dipenuhi oleh perasaan bangga akan warisan leluhur nusantara kepada mereka melalui pusaka dalam bentuk naskah kuno dan aksara.

 

Day #2

Pagi-pagi benar panitia dan peserta Heritage Camp dikejutkan oleh kehadiran Garin Nugroho. Siapa sih yang tak kenal maestro film Indonesia ini? Tangan dinginnya telah menghasilkan banyak karya-karya fenomenal yang sering menang diajang festival film internasional. Sebut saja “Opera Jawa”, “Daun di atas Bantal”, “The Mirror Never Lies”, dan yang baru-baru ini santer diperbincangkan; “Soegija”. Mas Garin yang ternyata lulusan sekolah hukum ini berbagi tentang ide-ide serta proses kreatif yang muncul dalam menuangkan kisah mengenai masyarakat dan budaya Indonesia lewat film. Mas Garin sempat mencetuskan bahwa budaya pop yang santer di Indonesia belakangan ini sifatnya hanya memikirkan “saat ini saja” sehingga tidak heran jika hidupnya tidak lama. Akan tetapi, film-film yang mengadopsi serta mengangkat nilai-nilai lama kebudayaan, umurnya justru akan panjang. Ia sengaja menciptakan film-film dengan isu-isu ‘heritage’ karena menurutnya manusia merupakan sistem nilai dari ‘heritage’ itu sendiri.

Sesi bersama Garin Nugorho

Sesi selanjutnya dibawakan oleh Djaduk Ferianto. Sejak tahun 1972 Mas Djaduk sering menggarap ilustrasi musik sinetron, jingle iklan, penata musik pementasan teater, hingga tampil bersama kelompoknya dalam pentas musik di berbagai negara. Sobat Lontara tentunya masih ingat dengan film Petualangan Sherina, bukan? Nah, Mas Djaduk inilah yang memerankan tokoh antagonis Kertarajasa. Mas Djaduk sedikit curcol kepada peserta Heritage Camp akan pengalamannya di masa lalu. Ia pernah dihujat habis-habisan oleh seniman senior karena KUA Etnika, grup musik yang ia dirikan, mencoba untuk berimprovisasi terhadap musik tradisional. Namun ternyata cobaan itu tidak menghentikan langkahnya. Menurutnya tidak ada yang salah dengan membawa musik tradisional ke dalam konteks kekinian. Sesi siang dibuka oleh Is Yuniarto dari Surabaya, komikus pemenang Lomba Komik Animonster 2006. Karyanya yang sekarang ini sedang booming ialah komik Garudayana yang mengambil tema pewayangan Jawa. Setelah menyampaikan materinya mengenai konservasi kreatif melalui komik, Mas Is mengajak peserta camp untuk membuat komiknya sendiri. Berbekal dengan spidol, kertas dan arahan dari Mas Is, dalam sekejap peserta Heritage Camp sudah dapat membuat komik empat panel dengan cerita-cerita yang lucu!

Mas Is sedang sharing mengenai proses kreatif penciptaan karakter dalam komik Garudayana

Hari itu ditutup oleh sesi terakhir dari Bapak Suwarno Wisetrotomo. Pak Warno yang juga merupakan dosen di Fakultas Seni Rupa ISI Yogyakarta kali ini mendapat kepercayaan untuk membawakan materi tentang “Seni sebagai Alat Perekam Peradaban”. Sesi ini berlangsung dengan amat interaktif, peserta camp berulang kali mengajukan pertanyaan dan memberikan tanggapan atas pernyataan-pernyataan dari Pak Warno. Pak Warno yang juga merupakan pemimpin redaksi Jurnal SENI – Jurnal Pengetahuan dan Penciptaan Seni sejak 1992 menunjukkan beberapa slideshow terkait kekayaan seni rupa Indonesia. Pemaparan beliau bahwa lukisan yang tak berhuruf pun dapat menceritakan sejarah suatu bangsa membuat peserta camp dan bahkan panitia terpukau. Khazanah kekayaan budaya Indonesia yang tiada bandingnya di dunia ini seakan-akan meraung-raung untuk dikaji dan dipahami oleh generasi mudanya.

Eits… Meskipun di atas kertas acara hari itu telah selesai pagi para peserta camp, lantas tidak dengan serta-merta mereka kembali ke wisma untuk tidur. Panitia telah sepakat bahwa untuk “Malam Budaya” yang akan diadakan di hari terakhir, mereka diberi kepercayaan untuk mengurus jalannya acara tersebut dan penampilan seni dari mereka sendiri. Tantangan ini justru diterima dengan senang hati oleh peserta camp. Buktinya, durasi latihan yang awalnya hanya dijadwalkan hingga jam 22.00 malah mereka extend hingga pukul 23.30! Antusiasme peserta camp yang dipenuhi oleh ide kreatif inilah yang justru membuat panitia kewalahan. 

Hari pertama dan kedua selesai sesuai rencana. Bagaimanakah aksi para peserta camp di hari ketiga dan keempat? Bagaimana pula aksi fasilitator mereka yang terdiri atas Muhammad Ahlul Amri Buana, Maharani Budi, Primi Sudharmadi Putri, Waskito Jati dan Ulil Ahsan di hari ketiga dan keempat? Yang jelas, setiap hari di Heritage Camp 2013 selalu ada cerita unik dan kejutan!

Tunggu kisah mereka berikutnya ya 🙂