Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Jejak La Galigo di Jerman

Sobat Lontara, selain di Indonesia dan Belanda, naskah-naskah Bugis kuna juga banyak tersimpan di negara Jerman. Berdasarkan hasil riset filologi yang diadakan oleh tim peneliti pernaskahan Nusantara pada tahun 2015, tercatat ada sekitar 45 naskah Bugis dan Makassar berbentuk kodeks di koleksi Staatsbibliothek zu Berlin. Di antara naskah-naskah tersebut, ternyata terdapat pula beberapa naskah La Galigo. Bagaimana kisahnya sehingga naskah-naskah tersebut berakhir di ibukota Jerman? Mari kita telusuri!

Kisah ini bermula dari seorang pria bernama Karl Schoemann. Ia lahir pada tahun 1806 di kota Trier, negara bagian Rheinland-Pfalz. Tidak banyak yang kita ketahui tentang masa muda Karl. Namun, jelas Karl adalah seorang yang terpelajar dan berdedikasi di bidang pendidikan. Karl hijrah ke Hindia Belanda pada tahun 1845 untuk memulai karirnya sebagai seorang tutor pribadi bagi anak-anak Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen. Selama di Hindia Belanda, Karl tinggal di kota Batavia dan Buitenzorg (Bogor) agar dapat berdekatan dengan keluarga sang gubernur jenderal. 

Mengapa Rochussen jauh-jauh mendatangkan Karl sebagai guru privat bagi anak-anaknya? Nah, background sang gubernur jenderal ini menarik untuk kita ketahui terlebih dahulu. Rochussen terbilang ‘tajir melintir’ untuk ukuran zaman itu. Sebelum ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, Rochussen pernah ditugaskan sebagai Menteri Keuangan Belanda pada tahun 1840-1843. Ketika menjabat di Hindia Belanda, ia mengerahkan ekspedisi militer ke berbagai pelosok tanah air (seperti Pulau Sulawesi, Bali, Sumatera dan Bangka). Ia juga pejabat tinggi yang meresmikan pembukaan tambang “Oranje Nassau”, tambang batu bara pertama di Hindia Belanda (daerah Pengaron, Kesultanan Banjar). Tambang tersebut menghasilkan kurang lebih 15.000-18.000 ton per tahun hingga 1859. Singkat kata, Gubernur Jenderal Rochussen adalah seseorang yang amat berkuasa baik sebelum, saat maupun setelah ia mengampu jabatan di Hindia Belanda.

Tidak heran jika kemudian ia memilih untuk mendidik anak-anaknya dengan seorang tutor terpelajar dari Jerman. Pada masa itu, Jerman adalah pemimpin dunia dalam bidang pendidikan bergengsi (der angesehenen Bildung). Sistem pendidikan Jerman dianggap paling sukses dan layak menjadi percontohan oleh negara-negara Eropa lainnya, termasuk bagi orang-orang Eropa yang tinggal di koloni. Salah seorang putra Rochuseen yang bernama Willem Frederik baru berusia 13 tahun ketika Karl Schoemann tiba di Buitenzorg sebagai tutor. Kelak, lewat prestasi dan koneksi ayahnya, Willem Frederik menjadi Menteri Urusan Luar Negeri Kerajaan Belanda (1881-1883). 

Di Batavia, Karl berkawan dengan sesama warga Jerman, Dr. R. H. Th. Friederich, seorang filolog dan arkeolog yang bekerja untuk Bataviaasch Genootschap van Künsten en Wetenschappen. Penelitian Friederich berfokus di kawasan Jawa dan Bali dari tahun 1844 hingga 1869. Salah satu karyanya adalah sebuah analisa terkait penemuan Prasasti Jambu di kawasan Bogor yang ditengarai sebagai peninggalan kerajaan Tarumanegara. Hubungannya yang dekat dengan Friederich membuat Karl tertarik terhadap sejarah dan kebudayaan Nusantara. Ssst… mungkin dulu Si Friderich sering curhat dan berdiskusi soal penelitiannya kepada Karl kali ya!

Selama tinggal di Hindia Belanda, Karl banyak mengumpulkan salinan naskah-naskah dari berbagai daerah di tanah air. Naskah-naskah ini ada yang berbentuk kodeks, namun banyak pula yang masih berbahan lontar, kulit kayu, bambu dan bahkan logam. Tercatat, Karl mengoleksi lebih dari 350 naskah dalam Bahasa Kawi, Melayu, Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Bima dan Minangkabau. Jumlah ini tergolong amat besar untuk koleksi naskah Nusantara lho. Koneksinya dengan Friederich memudahkan Karl untuk membeli dan mendapatkan beragam naskah lokal tersebut. Tidak hanya itu, Friederich pun juga membantu membuat klasifikasi bahasa untuk naskah-naskah koleksi Schoemann. Nah, di antara naskah-naskah Bugis tersebut ternyata terdapat beberapa sureq La Galigo juga lho!

Pada tahun 1851, Gubernur Jenderal Rochessen telah menyelesaikan masa tugasnya di Hindia Belanda dan hendak kembali ke Eropa. Perkembangan tersebut kemudian membuat Karl memutuskan untuk pulang ke Jerman sambil membawa koleksi naskah-naskah Nusantaranya. Karl tinggal di kota kelahirannya, Trier, hingga ia meninggal dunia pada tahun 1877. Setelah ia wafat, koleksi naskah-naskah Nusantara miliknya dihibahkan kepada Königliche Bibliothek, perpustakaan kerajaan Prussia di Berlin yang telah berdiri sejak tahun 1661.

Selanjutnya, oleh pustakawan Königliche Bibliothek naskah-naskah Schoemann diberikan kode Schoem I-XIII untuk mempermudah proses penyusunan katalog dan pengarsipan. Pada tahun 1939, seorang filolog Belanda bernama R.A. Kern pernah menelusuri naskah-naskah Bugis dalam koleksi Schoemann. Kern sedang mengerjakan sebuah proyek ambisius untuk menyusun katalog dari naskah-naskah La Galigo yang pernah tercatat dan diketahui keberadaannya. Dalam penemuannya, ia berhasil membuat deskripsi dari 19 naskah La Galigo pada koleksi Königliche Bibliothek yang telah berganti nama menjadi Staatsbibliothek zu Berlin sejak tahun 1992 itu. Nah, berdasarkan temuan terbaru di tahun 2022 ini, ternyata jumlah naskah La Galigo di Staatsbibliothek zu Berlin ada 22 manuskrip! Wah, jumlah yang mencengangkan!

Koleksi Schoemann bagaikan kepingan puzzle yang melengkapi pengetahuan kita tentang epos La Galigo. Perlu dicatat bahwa keseluruhan naskah La Galigo di koleksi Schoemann tersebut merupakan salinan dari abad ke-19, didapatkan melalui pembelian ataupun sebagai pemberian. Meskipun tujuan awal dari pengoleksian naskah-naskah Nusantara oleh Karl Schoemann tidak terlepas dari semangat orientalisme bangsa Eropa di abad ke-19, dokumentasi serta pemeliharaan naskah-naskah tersebut terbukti penting bagi peradaban umat manusia di masa depan. 

Selama ini, narasi yang muncul di pemberitaan media cetak maupun daring sering mengasosiasikan La Galigo dengan kedua belas jilid NBG 188 di koleksi Perpustakaan Leiden University. Keberadaan naskah La Galigo di Berlin atau pelosok dunia lainnya kerap kali terlupakan. Amat disayangkan jika kekayaan budaya Indonesia warisan leluhur di perpustakaan-perpustakaan tersebut tidak dikaji dan diolah dengan baik. Pemerintah Indonesia dan Jerman perlu bekerjasama untuk menciptakan peluang-peluang bagi kalangan akademisi, seniman maupun industri kreatif dari tanah air agar dapat memanfaatkan arsip-arsip tersebut lewat beragam media. Sudah saatnya bagi kita untuk berpikir secara out of the box dan inovatif dalam hal pelestarian fisik serta konten yang terekam di dalam naskah kuno.

Mari bergerak dari segala penjuru!

Referensi

Titik Pudjiastuti, Katalog Naskah Indonesia Koleksi Staatsbibliotheek zu Berlin dalam Hakikat Ilmu Pengetahuan Budaya, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2018.

Barend ter Haar, Ritual and Mythology of the Chinese Triads: Creating an Identity, Leiden: Brill, 2021.

Muhlis Hadrawi, Basiah, Gusnawaty Taqdir, Sastra Klasik Bugis La Padoma: Tinjauan Kodikoligis dan Ciri Naratif Tekshttps://adoc.pub/sastra-klasik-bugis-la-padoma-tinjauan-kodikoligis-dan-ciri-.html

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Anak Kampung Makassar Era Hindia Belanda

Salah satu kontributor tulisan di web Lontara Project berandai-andai bagaimana rasanya jika ia hidup di daerah perkampungan tepi Makassar era Hindia Belanda. Mahasiswa sejarah ini berusaha menangkap atmosfer kehidupan di kala itu melalui cerita singkatnya. Mari simak tuturan kisah-kisah nostalgia yang mengalir dari imajinasi Arianto ini!

Aku bingung harus mulai dari mana untuk menceritakan kisah kehidupanku yang sudah berlalu puluhan tahun silam. Kepalaku sudah sulit untuk mengingat kembali beberapa kejadian penting di Kota Makassar, karena faktor usia yang semakin bertambah tua. Hanya sebagian kecil yang aku mampu ceritakan tentang kisah kehidupanku, sebagai warga perkampungan yang hidup di masa Pemerintahan Hindia-Belanda. Aku tidak tahu dengan jelas sejak kapan bangsa kulit putih mulai berdatangan dan tinggal di Kota Makassar. Kami, anak penduduk perkampungan tidak tahu apa itu “kota”, yang kami tahu hanyalah tempat tinggal kami. Orang-orang tua menyebut tempat dimana kami tinggal dengan nama “kampong”.

Jalanan Kota Makassar zaman Hindia Belanda. Sumber: Koleksi KITLV

Kerap kali ku bertanya kepada orang-orang tua kami, apa itu kota? Orang tua kami sulit untuk menjelaskan seperti apa itu kota, bahkan mereka baru pertama kali mendengar yang namanya “kota”. Orang tua kami mulai mengenal nama “kota” sejak kedatangan orang-orang kulit putih dan pada saat itu orang-orang asing ini mulai menyebut Makassar sebagai Kota Makassar. Nama ini sungguh sangat asing bagi kami yang tinggal di perkampungan. Pengetahuan kami terhadap dunia luar sangat terbatas bahkan bisa dibilang sama sekali tidak ada, karena orang tua kami selalu mendidik untuk selalu menghormati adat-istiadat kami sebagai orang-orang Makassar.

Selain harus menjaga adat-istiadat Makassar, orang tua kami juga sering melarang kami bergaul dengan bangsa kulit putih. Entah apa alasan orang tua kami melarang hal tersebut. Pada malam hari, para penduduk kampung memilih untuk tinggal di rumah masing-masing. Kami berdiam diri di dalam rumah yang sederhana ini, menikmati angin malam yang menembus dinding rumah kami yang terbuat dari anyaman bambu. Banyak pula rumah-rumah peduduk yang terletak di antara pepohonan, dipagari oleh bambu yang mengelilingi rumah mereka.

Melewati malam yang panjang, di dalam rumah penduduk kampung hanya ada pelita minyak yang menjadi alat penerangan. Jauh di sebelah selatan perkampungan penduduk, sorotan cahaya terlihat di antara rumpun-rumpun bambu. Kami menikmati kerlap-kerlip sorotan cahaya lampu itu di sela-sela dinding rumah. Cahaya lampu tersebut berasal dari sekitar benteng di antara rumah-rumah penduduk  Eropa. Sebelum kami tertidur para orang tua kami biasanya akan bercerita tentang orang-orang kulit putih yang tinggal di sekitar benteng. Mereka adalah orang-orang yang kejam. Mereka berperang melawan orang-orang Makassar dan kemudian merebut istana-istana penguasa kerajaan bapak-bapak kami.

Sungai Tello, Makassar. Sumber: Koleksi KITLV

Kisah-kisah peperangan antara orang-orang Makassar dengan bangsa kulit putih sering kali diperdengarkan di perkampungan melalui alunan musik tradisional orang-orang Makassar yang disebut sinrilik. Ketika alunan musik ini memecah kebisuan malam, orang-orang tua mulai duduk melingkar menikmati untaian nadanya, tenggelam dalam pengisahan akan peperangan beberapa abad yang lalu. Tidak sedikit dari orang-orang tua yang larut dalam pengisahan ini, seakan-akan mereka hadir di masa lalu itu, di tengah-tengah medan peperangan. Raut muka mereka menunjukkan kesedihan dan dendam lama mulai terbakar di dada mereka. Seolah-olah kabut peperangan mulai menyelimuti perkampungan kami dan mungkin inilah alasan orang tua kami melarang bergaul dengan orang-orang kulit waktu itu.

Roda waktu terus berjalan dari tahun ke tahun, wajah Makassar meninggalkan masa lalunya dari masa kerajaan ke masa modern. Bangsa  Eropa kini mulai membangun berbagai gedung yang mengagumkan bagi kami penduduk kampung. Jalan-jalan yang berada di sekitar benteng Rotterdam mulai diperbaiki, deretan bangunan rumah-rumah orang-orang Eropa berderet-deret rapi berwarna putih di antara pepohonan. Susunan rumah mereka sangat rapi berjejer dari arah barat Kota Makassar sampai ke sebelah timur kota. Tempat orang-orang Eropa ini dikenal dengan Kampung Belanda.

Kehidupan kami dengan orang-orang ini sangat jauh berbeda, mereka dapat mengubah segalanya dan menciptakan peradaban baru di Makassar. Meskipun leluhur kami mengutuk orang-orang asing ini atas kekejaman peperangan pada waktu itu, akan tetapi kami sebagai generasi yang terlahir di zaman ini penuh kekaguman atas apa yang mereka ciptakan. Dari kejauhan kami terus memandangi bangunan-bangunan yang tinggi, bahkan lebih tinggi dari pada pohon-pohan yang tumbuh di sekitar perkampungan penduduk. Pertanyaan-pertanyaan sering muncul di kepala kami, salah satunya: bagaimana cara orang-orang ini dapat membangun gedung-gedung setinggi itu?

Gedung Pengadilan Belanda di Kota Makassar. Sumber: Koleksi KITLV

Di perkampungan kami tidak  ada satupun di antara orang-orang tua yang mampu melakukan hal tersebut. Kehidupan penduduk kampung hanya berputar di situ-situ saja. Gubuk-gubuk yang reyot di antara pohon-pohon kelapa dipagari bambu. Jalan-jalan yang menghubungkan dengan rumah penduduk lainnya bertebaran debu, terkadang berlumpur di saat musim hujan. Kami sebagai warga kampung tidak menyadari akan pentingnya kebersihan, anak-anak kecil tanpa busana dibiarkan bermain-main ke sana-sini di sekitar halaman rumah.

Di akhir abad ke-19 Kota Makassar berkembang dengan pesat dan sudah dilengkapi berbagai fasiltas kota. Alat transportasi seperti mobil mulai didatangkan dari Eropa sana. Kapal-kapal dagang terus berdatangan dari segala penjuru di pelabuhan Juliana Cade dan Wilhelmina Cade (sekarang Pelabuhan Soekarno-Hatta). Di sepanjang garis pantai berdiri deretan kios-kios saudagar Arab. Perkembangan Kota Makassar yang pesat menembus sekat kehidupan di perkampungan, warga kampung pun mulai bergaul dengan orang-orang Eropa. Sekolah-sekolah untuk penduduk kampung didirikan, yang dikenal dengan nama “Sekolah Rakyat”, anak-anak kecil pun mulai diajar bahasa Indo. Pengetahuan kami mulai terbuka dan bahkan sebagian dari penduduk kampung mulai mengenal budaya orang-orang Eropa. Tidak segan-segan sebagian orang-orang mulai mengikuti cara berpakain orang-orang Eropa tersebut.

Anak kecil pribumi di upacara penyambutan Gubernur Jenderal de Graeff. Sumber: Koleksi KITLV

Cerita kehidupan kami sebagai warga kampung adalah kesan bagiku, yang pernah hidup di fajar kemunculan peradaban Eropa yang mutakhir. Seingatku, Kota Makassar di masa Pemerintah Hindia-Belanda adalah kota terindah yang pernah berdiri kokoh di kawasan timur Nusantara. Fantasi Kota Makassar di masa lalu tidak kalah canggih dengan wajah Kota Makassar pada hari ini. Orang-orang Eropa dari berbagai belahan dunia kagum atas pernak-pernik Kota Makassar yang dilengkapi berbagai fasiltas yang didatangkan langsung dari Negeri Belanda. Mereka bahkan  memberikan julukan kepada Kota Makassar sebagai Kota Paris yang berdiri dikawasan timur Hindia-Belanda. Lalu, anakku, bagaimana dengan Kota Makassar-mu pada hari ini?

 Arianto, alumni program studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Makassar angkatan 2014. Punya kegemaran membaca. Bisa dijumpai lewat akun facebooknya Antho Imagined.

Categories
Featured Galigoku

Inspirasi dari “Docplomat” Asal Bugis

Mereka (GAM) melihat ayahnya dibunuh, kakaknya ditangkap, adiknya hilang, tetntu saja mereka sakit hati. Itulah yang membuat orang bergabung dengan GAM, dan inilah yang harus dibenahi

Awal tahun 2007, seperti biasa, kala penat menyerang menjelang ujian akhir nasional, perpustakaan di sekolahku, MAN Insan Cendekia menjadi tempat favorit yang selalu kutuju. Ketika hendak menuju sofa empuk kosong yang biasanya menjadi rebutan, mataku tiba-tiba tertuju pada sebuah buku tebal tergeletak di salah satu ujung rak di sudut ruangan. Tidak strategis posisinya, tapi wujudnya yang mantab, hard cover warna hitam,seperti ada magnet di dalam buku itu yang menarikku. Kutinggalkan koran yang sedianya kubaca, berjalan melintasi ruangan berlapis karpet biru, kuraih buku itu.

To See The Unseen, Di Balik Damai Di Aceh”. Judul yang sangat mengundang, batinku. Buku ini seolah meningkatkan daya magnetiknya ketika kutemukan bahwa tokoh utama yang bercerita dalam biografi kisah nyata diplomasi ini adalah seorang dokter, bahkan seorang spesialis bedah-digestive, yakni dr. Farid Husain, seorang dokter senior putra Bugis asli. Pada bagian awal untaian kisah pengalaman nyata ini, aku mendapati bahwa buku ini menjanjikan jawaban atas kegelisahanku yang memuncak dalam memilih jurusan kuliah kelak. Beberapa saat lagi ujian seleksi masuk UGM dilaksanakan. Kampus Insan Cendekia sendiri akan menjadi salah satu tuan rumah ujian untuk wilayah Banten, Lampung dan Sumatera Selatan. Perang batinku masih antara Pendidikan Kedokteran, menjadi dokter sebagaimana wasiat almarhum Bapak, atau  Hubungan Internasional passion utamaku kala itu agar bisa menjadi diplomat kelak. Sejak detik kubuka buku itu aku sudah lupa kembali duduk di sofa tadi, kubaca lembar demi lembar buku itu, sambil tetap berdiri.

Juni 2003, sebulan sejak penetapan Darurat Militer di Aceh oleh pemerintah pusat, berkat kedekatannya dengan seniornya yakni Jusuf Kalla yang menjabat Menkokesra saat itu dan juga berasal dari Sulawesi Selatan, Farid Husain diminta oleh Jusuf Kalla untuk memelihara hubungan baik dan komunikasi dengan para pimpinan GAM di Aceh, juga di luar Indonesia, dalam rangka menginisiasi perdamaian antara GAM dan Pemerintah RI. Jusuf Kalla yakin, konflik di Aceh dapat diselesaikan dengan satu hasil bulat, damai, sebagaimana inisiatifnya yang berhasil di Ambon dan Poso yang juga diamanahkan pada tangan dingin Farid Husain.

Babak selanjutnya, Farid Husain mengatur dan menjalankan berbagai strategi dengan tujuan akhir perdamaian antara GAM dan pemerintah Republik Indonesia. Berbagai jalur diplomasi di balik layar ia lakukan. Farid Husain bahkan berhasil mendapatkan dukungan dari Crisis ManagementInitiative dan Mantan Presiden Finlandia Martti Ahtisaari yang telah berpuluh tahun berpengalaman dalam perdamaian konflik melalui kontaknya di Finlandia, Juha Christensen yang dikenalnya dua puluh tahun lalu saat Juha meneliti bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Selatan. Dalam periode yang bersamaan, tidak hanya di Jakarta dan Aceh, Farid Husain juga melakukan berbagai pertemuan hingga ke Singapura, Belanda, dan Swedia demi menemui berbagai elemen hingga pimpinan GAM. Dengan beragam tempat pertemuan mulai dari lobby hotel,restoran, hingga belantara hutan.

Pengalaman Farid Husain sebagai dokter selama hampir seperempat abad menunjang upaya diplomasi dan treatmentyang diberikannya kepada pihak GAM. Umumnya dokter yang hendak mendiagnosa, pertemuan dan pemeriksaan pasien adalah hal yang dapat dikatakan mutlak selain didukung hasil pemeriksaan lain. Untuk mendekati dan meresapi aspirasi masyarakat Aceh dan mendekati pasukan GAM yang merupakan ‘pasien’nya di lapangan, tidak jarang Farid Husain harus berhadapan langsung dengan pucuk senjata. Namun kepiawaiannya dalam berkomunikasi dan pendekatan personal justru membuatnya dapat diterima oleh para aktivis GAM di lapangan bahkan dianggap seperti saudara. Kelak pendekatan personal, prinsip yang juga diterapkannya dalam menghadapai pasien, inilah yang menurut Farid Husain merupakan kunci keberhasilan upaya perdamaian antara Pemerintah RI dan GAM ini.

Seperti halnya pasien yang datang karena menderita suatu penyakit, perlawanan GAM tumbuh dari rasa sakit hati.

“Mereka (GAM) melihat ayahnya dibunuh, kakaknya ditangkap, adiknya hilang, tetntu saja mereka sakit hati. Itulah yang membuat orang bergabung dengan GAM, dan inilah yang harus dibenahi,” urai Farid Husain. Seperti yang diterapkannya kala berhadapan dengan pasien, Farid Husain aktif mendengarkan keluhan bahkan makian dari pihak GAM terhadap pemerintah RI. Mengutip pernyataannya,

“Itulah (prinsip) yang saya lakukan dalam menjalin kontak dengan orang-orang GAM. Saya coba menampung keluhan mereka sampai kemudian mereka merasa lega. Saat itulah saya masuk ke alam mereka dan menyelami perasaan mereka,”

Tidak hanya mendengarkan, Farid Husain juga menunjukkan empatinya sebagaimana ia menghadapi pasiennya. “Dok, saya pusing dan mual kenapa ya, Dok.”  Farid akan menujukkan empati dengan berkata,“Oh, saya juga sering pusing-pusing begitu,” Semua upaya itu dilakukannya agar para para petinggi GAM mau maju ke meja perundingan damai.

Upayanya yang luar biasa dalam melakukan pendekatan untuk meyakinkan para petinggi GAM dibahasakan oleh Jusuf Kalla dalam buku biografi itu, dalam perspektif manajemen dan bisnis.

“Jadi tugasnya (Farid), kalau dari sudut saya sebagai bekas pengusaha adalah menawarkan, menjual, dan melaksanakan kegiatan purnajual.Kalau dari sisi Dr Farid sebagaimana dokter ahli bedah, mulai dengan memeriksa, mengambil tindakan, dan recovery.Tugas itu selalu dilaksanakan dengan tulus, bertanggung jawab dan dengan gembira. Karena itu selalu saja dia dapat menemukan jalan yang kita tidak lihat, “

Akhirnya pada 15 Agustus 2005, ditandatanganilah MoU antara GAM dan Pemerintah Republik Indonesia setelah melalui lima ronde perundingan sejak 28 Januari 2005. Satu hal menarik dalam perundingan adalah dari lima delegasi Indonesia yang kesemuanya berasal dari luar Jawa, demi menjaga netralitas, tiga delegasi berasal dari Sulawesi Selatan. Selain Farid Husain, ada Menkumham saat itu Hamid Awaluddin, yang juga berasal dari Sulawesi Selatan. Dominannya juru runding asal Aceh dan Makassar dalam babak-babak perundingan sempat memunculkan gurauan bahwa perundingan ini antara GAM dengan GAM, Gerakan Aceh Merdeka dan Gerombolan Anak Makassar.

Usai membaca biografi Farid Husain yang melibatkan emosi sekaligus intelektual, seolah Tuhan mempertegas apa yang beberapa hari lalu ibuku nasehatkan “sekolah dokter dulu, kalau sudah jadi dokter mau belajar apa aja boleh (bisa)”. Inilah yang menuntunku akhirnya memilih pendidikan kedokteran. Keputusan yang sesuai dengan wasiat almarhum Bapak, dengan harapan kelak dapat menemukan jalan seperti Farid Husain mengawinkan ilmu, prinsip, dan pengalaman di dunia kedokteran dalam dunia diplomasi dan hubungan internasional.

Bagiku, bukan suatu kebetulan Tuhan mengarahkan mataku pada siang itu ke buku yang jumlahnya hanya satu eksemplar di perpustakaan Insan Cendekia itu. Enam tahun sejak aku menyelesaikan buku itu, Tuhan telah menunjukkan bahwa keputusanku kuliah di kedokteran justru mengantarkan ku menyalurkan passion-ku di dunia diplomasi dan hubungan internasional dengan menganugerahkan berbagai karunia yang kusebut “perkawinan” antara pendidikan kedokteran dengan dunia diplomasi dan hubungan internasional. Bahwa dunia kedokteran dapat ‘dikawinkan’ dengan dunia diplomasi dan hubungan internasional yang kuistilahkan sebagai ‘docplomacy’

Tahun 2010, dengan niat mengamalkan ilmu kesehatan yang kudapat, bersama kawan-kawan di FK UGM kami berhasil menjalin kerjasama dengan produsen ponsel dari Finlandia, negara asal Martti Ahtisaari, untuk menyebarkan informasi gaya hidup sehat melalui pembuatan konten kesehatan untuk pengguna di seluruh Indonesia. Tahun 2010, setelah bermodal “Diplomasi Bir” untuk mendapat stipend biaya perjalanan, aku mendapat penghargaan presentasi poster public health terbaik di CharitéUniversitätsmedizin Berlin, Jerman. Di tahun yang sama, dalam rangka partisipasi KBRI Praha pada Festival Budaya kota Plzen, aku diberi kesempatan menampilkan Tari Truno di hadapan masyarakat setempat kala mengikuti program internship mahasiswa kedokteran di Palacky University Hospital di Ceko.

Tahun 2011, harapanku memiliki pengalaman di dunia kesehatan internasional dijawab dengan kesempatan yang sangat langka, kerja magang di kantor pusat WHO Jenewa. Tahun 2011 dan 2012, berkat beasiswa kesehatan masyarakat dari Erasmus Mundus yang memberangkatkanku ke Belgia, bersama istriku dan kawan-kawan Indonesia di Belgia kami mendapat kesempatan menampilkan tari Saman di berbagai acara sosial, resepsi diplomatik, hingga promosi pariwisata tahunan di Belgia. Di Belgia pula aku mendapat kesempatan langka menjalani internship di salah satu WHO Collaboration Center dalam bidang epidemiologi bencana di Université catholique de Louvain tempatku belajar. Di tahun ini juga kami berhasil mengulang kerjasama dengan produsen ponsel asal negara tuan rumah perundingan perdamaian GAM dan RI tadi tadi. Bisa jadi ini pertanda Tuhan bagiku akan semangat keyakinan yang kudapat usai membaca biografi Farid Husain. Kedokteran dapat dikawinkan dengan diplomasi dan hubungan internasional.

Kini Farid Husain yang menduduki jabatan Direktur Jenderal Pelayanan Medik Kementerian Kesehatan dipercaya menjadi utusan khusus (special invoice) Presiden untuk menggagas dialog damai Jakarta-Papua dengan tentara Pembebasan Nasional Papua Barat dan telah berjumpa dengan Panglima TPN Papua Barat, Brigadir Jenderal Richard H. Joweni. Melalui Farid Husain, BrigJen Richard Jowenitelah mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyatakan bahwa TPN mau berunding untuk segera mengakhiri konflik. Meski berpendidikan dokter spesialis dan menajabat posisi di kementerian kesehatan kontribusi putra Bugis ini dalam diplomasi berbagai perdamaian konflik di Indonesia tak pernah surut.

Aku? Aku bersyukur di semester terakhir perkuliahanku di FK UGM Dokter Farid Husain sempat hadir sebagai pemberi kuliah pakar, aku sampaikan kekagumanku akan karyanya dan terimakasihku akan peran biografinya yang menginspirasiku untuk mendaftar ke FK UGM saat itu. Lewat berbagai media aku masih terus mengikuti sepak terjangnya, menjadikannya inspirator sekaligus “mentor” jarak jauh, sambil terus belajar agar suatu saat aku dapat berbuat karya yang setidaknya sama nyatanya dengan karyanya. Sebagai seorang ‘docplomat’.

 

Sumber:

Buku “To See The Unseen”
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3624
http://arsip.gatra.com/2005-07-20/artikel.php?id=86475
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=3624
http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/peace/laureates/2008/ahtisaari-photo.html
http://www.acehfeature.org/index.php/site/detailartikel/616/Meretas-Jalan-ke-Helsinki
http://westpapua-arki.blogspot.be/2012/02/surat-tpnopm-kepada-presiden-ri.html
http://www.depkes.go.id

 

Mochammad Fadjar Wibowo, alumni pertukaran pelajar AFS ke Belanda yang pernah magang di World Health Organization, PBB pada tahun 2011. Setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Umum UGM, sosok murah senyum yang gemar berbisnis kecil-kecilan ini menikah dan langsung melanjutkan pendidikannya di Universite Catholique de Louvain, Belgia. Amat mengidolakan B.J. Habibie, pria yang doyan kebab dan jago menari ini sekarang tengah bekerja sebagai intern di Center for Research Epidemotology of Disasters, Belgia.