Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Tamasya Teluk Bayur: Destinasi Wisata Jejak Kota Kolonial di Kabupaten Berau

Penulis: Anna Asriani Muchlis

Sobat Lontara, pernahkah kamu mendengar lagu “Teluk Bayur” yang dipopulerkan oleh Ernie Djohan pada tahun 1967? Meskipun lagu ini berkisah tentang pelabuhan Teluk Bayur yang berada di kota Padang, Sumatera Barat, ternyata di pelosok Kalimantan Timur nama yang sama juga eksis sebagai sebuah kecamatan di daerah Kabupaten Berau. Nama Teluk Bayur bak mantra yang mengantarkan kita kembali ke era kolonial dan cikal-bakal pertambangan batubara di tanah air. Lewat tulisan ini, Anna berkisah akan napak tilasnya mengikuti Treasure Hunt Stenkolen Teluk Bayur 2024, menelusuri lembaran-lembaran kertas kusam dan bangunan-bangunan tua melacak jejak sejarah Teluk Bayur di Bumi Kalimantan.

Berau pada masa lalu adalah sebuah kawasan kolonial yang terorganisasi. Pada abad ke-20, kawasan ini telah dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern. Kerlap-kerlip lampu menghiasi gedung-gedung, bioskop ramai dengan beragam pertunjukan, dan pesta dansa menjadi hiburan mengasyikkan bagi pejabat-pejabat kolonial. Nuansa Eropa amat kental di sini, bahkan keberadaan Pelabuhan Teluk Bayur membuat Berau tampak seperti replika kecil Kota Amsterdam di Belanda.

Apa gerangan yang mendorong Belanda membangun kota modern nan jauh dari pusat pemerintahannya di Batavia? Jawabannya terletak pada lokasinya yang strategis serta potensi tambang batu baranya yang melimpah. Pertambangan di Teluk Bayur pertama kali dibuka melalui perjanjian antara Pemerintah Hindia Belanda dan Kerajaan Gunung Tabur. Sejak saat itu, Belanda mulai mendirikan kantor administrasi serta menyediakan fasilitas pendukung industri pertambangan.

Di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda, Berau berstatus sebagai wilayah Onderafdeeling yang berada di bawah Afdeeling (kabupaten) dan dipimpin oleh seorang pejabat Belanda yang disebut Controleur (setara dengan patih). Melalui Surat Keputusan Gubernur Jenderal Belanda tanggal 13 April 1900 No. 2 yang ditandatangani oleh Algemeene SecretarieC.B. Nederburgh, Tanjung Redeb ditetapkan sebagai ibu kota Onderafdeeling Berau (Aji Rahmatsyah, 2018).

Ketika Teluk Bayur berkembang menjadi pusat industri pertambangan, wilayah ini kian ramai didatangi pendatang dari berbagai daerah. Pelabuhan Teluk Bayur menjadi sentra perdagangan sekaligus penghubung antara Berau dan dunia luar. Sepanjang abad ke-20, Berau dihuni oleh beragam suku bangsa, seperti masyarakat Banjar, Bugis, Tionghoa, Eropa, Jawa, dan etnis lainnya. Keberagaman penduduk serta aktivitas pertambangan ini mencerminkan identitas Teluk Bayur sebagai kawasan yang multikultural. Jejak-jejak kemajuan masa lalu tersebut kini masih bisa dijumpai melalui peninggalan bersejarah yang tersisa.

Foto Gedung Steenkollen Matschappij Prapatan NV (SMP).  Koleksi Pribadi 2026.

Warisan Sejarah yang Hampir Terlupakan

Seiring bergulirnya roda zaman, sejarah kejayaan Teluk Bayur kian terlupakan dan kadang hanya dianggap sebagai cerita usang. Padahal, bangunan-bangunan bersejarah dari era Hindia Belanda yang masih tegak berdiri merupakan saksi bisu perjalanan zaman. Beruntung, ada inisiatif dari komunitas lokal untuk menelusuri kembali tempat-tempat bersejarah ini demi memahami dinamika perjalanan Berau sebagai bagian dari sejarah bangsa.

Pada 7 September 2024, saya mengikuti kegiatan Treasure Hunt Steenkolen 2024 yang diselenggarakan oleh Lembaga Kursus dan Pelatihan RH Beauty melalui dukungan Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XIV Kaltimtara. Napak tilas dimulai dari gedung bekas kantor perusahaan NV Steenkolen Maatschappij Parapattan (SMP) yang beroperasi sejak 1912 hingga 1954. Setelah masa jayanya berakhir, gedung ini beberapa kali beralih fungsi, salah satunya menjadi kantor camat. Dilihat dari luar, gedung berbentuk U ini memiliki dua sisi ruang dengan tiang dan jendela tambahan di atas atap. Saat diperhatikan, tampak beberapa bagian telah mengalami renovasi, seperti penambahan pagar besi dan pembaruan lantai.

Bangunan bersejarah lain yang lokasinya tak jauh dari gedung SMP adalah Museum Batu Bara, yang dulunya merupakan gedung Kamar Bola. Berada di atas bukit dekat bantaran Sungai Segah—tepatnya di dekat SDN 003 Teluk Bayur—gedung ini dahulu digunakan sebagai tempat hiburan untuk bermain biliar, bermusik, dan berdansa. Namun saat kami berkunjung, gedung tersebut belum dapat diakses layaknya museum umum; pintu-pintunya terkunci rapat dan suasananya sunyi.

Perjalanan berlanjut ke titik berikutnya. Di antara hunian penduduk, berdiri sebuah bangunan tinggi bernama Gedung Serbaguna Teluk Bayur, yang dulunya merupakan gedung bioskop (Steenkolen Maatschappij). Di bagian depan gedung masih terlihat sisa lokasi penjualan tiket, tangga, dan palang antrean. Meski pintunya terkunci rapat, dari luar kami dapat mengamati bahwa bangunan tua ini masih relatif terawat dan berdiri kokoh.

Dari gedung bioskop, kami berjalan kaki menuju Museum Siraja. Bangunan berwarna kuning ini berlokasi di antara Jalan Kampung Cina dan Jalan Bioskop, melewati gang yang tidak jauh dari jalan utama. Bangunan ini memiliki banyak ruangan, dan salah satunya kami gunakan untuk berdiskusi bersama pihak pengelola.

Di dalam Museum Siraja tersimpan berbagai benda pusaka koleksi pribadi Bapak Aji Rahmatsyah yang kini dikelola oleh putranya. Terdapat foto-foto lama Teluk Bayur, bagan silsilah Kerajaan Berau dan Kerajaan Gunung Tabur, koleksi keramik, tempat sirih (penginangan), tempat dupa, vas bunga, patung Ratu Wilhelmina, uang kuno, gelang, mahkota, hingga kotak perhiasan.

Bapak Wahyu, perwakilan pengelola museum, memberikan gambaran umum mengenai sejarah pertambangan batu bara di Teluk Bayur serta keberadaan jalur kereta api yang kini hanya menyisakan rel tua. Menurut keterangannya, para pekerja pembangunan rel kereta api didatangkan oleh Belanda dari Pulau Jawa, begitu pula dengan material besi bajanya. Pak Wahyu juga menceritakan bahwa sebelum kedatangan Belanda, di Berau sudah terbentuk pemukiman seperti Kampung Cina, Kampung Bugis, dan Kampung Melayu. Hal ini membuktikan bahwa aktivitas perdagangan antarkerajaan di Nusantara telah berlangsung sejak lama. Selain itu, beliau menjelaskan bahwa raja-raja Berau menggunakan gelar “Aji” (seperti Raja Aji Raden Suryanata Kesuma yang memerintah pada 1377–1401), yang dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno berkaitan dengan makna penghormatan atau kepemimpinan.

Menghidupkan Kembali Pesona Teluk Bayur lewat Heritage Tourism

Penelusuran jejak Treasure Hunt Stenkolen di Teluk Bayur akhirnya menegaskan satu hal: Berau tidak hanya kaya akan pesona alam, tetapi juga menyimpan harta karun sejarah yang sangat berharga. Teluk Bayur yang dahulu pernah menjadi pusat kejayaan industri pertambangan batu bara dan miniature kota kolonial bergaya Eropa, kini berada di persimpangan zaman—antara memori yang terlupakan dan potensi yang menanti untuk dihidupkan kembali.

Bangunan-bangunan tua yang masih berdiri kokoh melintasi lintas era ini bukan sekadar benda mati, melainkan saksi bisu dinamika sosial, budaya, dan multikulturalisme Berau di masa lalu. Mengembangkan kawasan Kota Tua Teluk Bayur sebagai strategi destinasi pariwisata sejarah bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah kebutuhan strategis bagi Kabupaten Berau.

Melalui pendekatan pariwisata berbasis edukasi dan pelestarian warisan (heritage tourism), generasi muda tidak hanya diajak bernostalgia, melainkan juga belajar memahami akar sejarah bangsanya. Pada akhirnya, menjaga dan mengemas kembali keindahan serta keunikan Kota Tua Teluk Bayur adalah cara terbaik agar nama “Teluk Bayur” di tanah Berau tidak sekadar menjadi kenangan usang yang perlahan tergerus zaman, melainkan tetap menggema sebagai ikon kebanggaan Kalimantan Timur.

Anna Asriani Muchlis – Seorang guru dan praktisi sejarah yang senang akan bangunan-bangunan bersejarah (Heritage). Punya hobi jalan-jalan, nonton filem dan kulineran. Saat ini berdomisili di Berau-Makassar. Prinsip hidupnya adalah “Menjadi manusia yang berguna.”

Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Jejak La Galigo di Jerman

Sobat Lontara, selain di Indonesia dan Belanda, naskah-naskah Bugis kuna juga banyak tersimpan di negara Jerman. Berdasarkan hasil riset filologi yang diadakan oleh tim peneliti pernaskahan Nusantara pada tahun 2015, tercatat ada sekitar 45 naskah Bugis dan Makassar berbentuk kodeks di koleksi Staatsbibliothek zu Berlin. Di antara naskah-naskah tersebut, ternyata terdapat pula beberapa naskah La Galigo. Bagaimana kisahnya sehingga naskah-naskah tersebut berakhir di ibukota Jerman? Mari kita telusuri!

Kisah ini bermula dari seorang pria bernama Karl Schoemann. Ia lahir pada tahun 1806 di kota Trier, negara bagian Rheinland-Pfalz. Tidak banyak yang kita ketahui tentang masa muda Karl. Namun, jelas Karl adalah seorang yang terpelajar dan berdedikasi di bidang pendidikan. Karl hijrah ke Hindia Belanda pada tahun 1845 untuk memulai karirnya sebagai seorang tutor pribadi bagi anak-anak Gubernur Jenderal Jan Jacob Rochussen. Selama di Hindia Belanda, Karl tinggal di kota Batavia dan Buitenzorg (Bogor) agar dapat berdekatan dengan keluarga sang gubernur jenderal. 

Mengapa Rochussen jauh-jauh mendatangkan Karl sebagai guru privat bagi anak-anaknya? Nah, background sang gubernur jenderal ini menarik untuk kita ketahui terlebih dahulu. Rochussen terbilang ‘tajir melintir’ untuk ukuran zaman itu. Sebelum ditunjuk sebagai Gubernur Jenderal, Rochussen pernah ditugaskan sebagai Menteri Keuangan Belanda pada tahun 1840-1843. Ketika menjabat di Hindia Belanda, ia mengerahkan ekspedisi militer ke berbagai pelosok tanah air (seperti Pulau Sulawesi, Bali, Sumatera dan Bangka). Ia juga pejabat tinggi yang meresmikan pembukaan tambang “Oranje Nassau”, tambang batu bara pertama di Hindia Belanda (daerah Pengaron, Kesultanan Banjar). Tambang tersebut menghasilkan kurang lebih 15.000-18.000 ton per tahun hingga 1859. Singkat kata, Gubernur Jenderal Rochussen adalah seseorang yang amat berkuasa baik sebelum, saat maupun setelah ia mengampu jabatan di Hindia Belanda.

Tidak heran jika kemudian ia memilih untuk mendidik anak-anaknya dengan seorang tutor terpelajar dari Jerman. Pada masa itu, Jerman adalah pemimpin dunia dalam bidang pendidikan bergengsi (der angesehenen Bildung). Sistem pendidikan Jerman dianggap paling sukses dan layak menjadi percontohan oleh negara-negara Eropa lainnya, termasuk bagi orang-orang Eropa yang tinggal di koloni. Salah seorang putra Rochuseen yang bernama Willem Frederik baru berusia 13 tahun ketika Karl Schoemann tiba di Buitenzorg sebagai tutor. Kelak, lewat prestasi dan koneksi ayahnya, Willem Frederik menjadi Menteri Urusan Luar Negeri Kerajaan Belanda (1881-1883). 

Di Batavia, Karl berkawan dengan sesama warga Jerman, Dr. R. H. Th. Friederich, seorang filolog dan arkeolog yang bekerja untuk Bataviaasch Genootschap van Künsten en Wetenschappen. Penelitian Friederich berfokus di kawasan Jawa dan Bali dari tahun 1844 hingga 1869. Salah satu karyanya adalah sebuah analisa terkait penemuan Prasasti Jambu di kawasan Bogor yang ditengarai sebagai peninggalan kerajaan Tarumanegara. Hubungannya yang dekat dengan Friederich membuat Karl tertarik terhadap sejarah dan kebudayaan Nusantara. Ssst… mungkin dulu Si Friderich sering curhat dan berdiskusi soal penelitiannya kepada Karl kali ya!

Selama tinggal di Hindia Belanda, Karl banyak mengumpulkan salinan naskah-naskah dari berbagai daerah di tanah air. Naskah-naskah ini ada yang berbentuk kodeks, namun banyak pula yang masih berbahan lontar, kulit kayu, bambu dan bahkan logam. Tercatat, Karl mengoleksi lebih dari 350 naskah dalam Bahasa Kawi, Melayu, Sunda, Jawa, Bali, Bugis, Makassar, Bima dan Minangkabau. Jumlah ini tergolong amat besar untuk koleksi naskah Nusantara lho. Koneksinya dengan Friederich memudahkan Karl untuk membeli dan mendapatkan beragam naskah lokal tersebut. Tidak hanya itu, Friederich pun juga membantu membuat klasifikasi bahasa untuk naskah-naskah koleksi Schoemann. Nah, di antara naskah-naskah Bugis tersebut ternyata terdapat beberapa sureq La Galigo juga lho!

Pada tahun 1851, Gubernur Jenderal Rochessen telah menyelesaikan masa tugasnya di Hindia Belanda dan hendak kembali ke Eropa. Perkembangan tersebut kemudian membuat Karl memutuskan untuk pulang ke Jerman sambil membawa koleksi naskah-naskah Nusantaranya. Karl tinggal di kota kelahirannya, Trier, hingga ia meninggal dunia pada tahun 1877. Setelah ia wafat, koleksi naskah-naskah Nusantara miliknya dihibahkan kepada Königliche Bibliothek, perpustakaan kerajaan Prussia di Berlin yang telah berdiri sejak tahun 1661.

Selanjutnya, oleh pustakawan Königliche Bibliothek naskah-naskah Schoemann diberikan kode Schoem I-XIII untuk mempermudah proses penyusunan katalog dan pengarsipan. Pada tahun 1939, seorang filolog Belanda bernama R.A. Kern pernah menelusuri naskah-naskah Bugis dalam koleksi Schoemann. Kern sedang mengerjakan sebuah proyek ambisius untuk menyusun katalog dari naskah-naskah La Galigo yang pernah tercatat dan diketahui keberadaannya. Dalam penemuannya, ia berhasil membuat deskripsi dari 19 naskah La Galigo pada koleksi Königliche Bibliothek yang telah berganti nama menjadi Staatsbibliothek zu Berlin sejak tahun 1992 itu. Nah, berdasarkan temuan terbaru di tahun 2022 ini, ternyata jumlah naskah La Galigo di Staatsbibliothek zu Berlin ada 22 manuskrip! Wah, jumlah yang mencengangkan!

Koleksi Schoemann bagaikan kepingan puzzle yang melengkapi pengetahuan kita tentang epos La Galigo. Perlu dicatat bahwa keseluruhan naskah La Galigo di koleksi Schoemann tersebut merupakan salinan dari abad ke-19, didapatkan melalui pembelian ataupun sebagai pemberian. Meskipun tujuan awal dari pengoleksian naskah-naskah Nusantara oleh Karl Schoemann tidak terlepas dari semangat orientalisme bangsa Eropa di abad ke-19, dokumentasi serta pemeliharaan naskah-naskah tersebut terbukti penting bagi peradaban umat manusia di masa depan. 

Selama ini, narasi yang muncul di pemberitaan media cetak maupun daring sering mengasosiasikan La Galigo dengan kedua belas jilid NBG 188 di koleksi Perpustakaan Leiden University. Keberadaan naskah La Galigo di Berlin atau pelosok dunia lainnya kerap kali terlupakan. Amat disayangkan jika kekayaan budaya Indonesia warisan leluhur di perpustakaan-perpustakaan tersebut tidak dikaji dan diolah dengan baik. Pemerintah Indonesia dan Jerman perlu bekerjasama untuk menciptakan peluang-peluang bagi kalangan akademisi, seniman maupun industri kreatif dari tanah air agar dapat memanfaatkan arsip-arsip tersebut lewat beragam media. Sudah saatnya bagi kita untuk berpikir secara out of the box dan inovatif dalam hal pelestarian fisik serta konten yang terekam di dalam naskah kuno.

Mari bergerak dari segala penjuru!

Referensi

Titik Pudjiastuti, Katalog Naskah Indonesia Koleksi Staatsbibliotheek zu Berlin dalam Hakikat Ilmu Pengetahuan Budaya, Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2018.

Barend ter Haar, Ritual and Mythology of the Chinese Triads: Creating an Identity, Leiden: Brill, 2021.

Muhlis Hadrawi, Basiah, Gusnawaty Taqdir, Sastra Klasik Bugis La Padoma: Tinjauan Kodikoligis dan Ciri Naratif Teks, https://adoc.pub/sastra-klasik-bugis-la-padoma-tinjauan-kodikoligis-dan-ciri-.html