Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode VI – “Ujian”

Bab VII bagian 1: Ujian

Satu tahun pun berlalu, dan gua semakin giat berlatih bersama Mas Ka. Kadang saat gua berlatih, Mas Ka mengajak gua untuk ikut dengan beliau untuk melatih kelompok latihan diluar latihan privat kami. Tidak jarang juga gua berlatih bersama beberapa orang yang dilatih secara privat oleh Mas Ka.

Pada satu kesempatan, gua bertanya ke Mas Ka saat istirahat latihan:

“Mas,  murid Mas Ka ada berapa sih?”

Mas Ka langsung menjawab: “Put, aku jujur lho enggak suka kalau dianggap ‘guru’ silat gitu. Terus ditanya ‘muridnya berapa’. Kalau kamu perhatiin, aku kan enggak pernah bilang sama kamu kalau kamu belajar sama aku, aku selalu bilang kamu untuk ‘latihan’ atau ‘latihan bareng’ kan…”

Gua terdiam, “Benar juga ya, Mas Ka selalu bilang untuk ‘latihan’ atau ‘ini temen latihan bareng aku’” di dalam benak gua terpikir begitu. Mas Ka pun melanjutkan:

“…Mungkin ada beberapa orang yang senang dipanggil guru, dan itu wajar. Ingat lho Put, nanti kalau ada saatnya kamu belajar silat lain, kamu mungkin enggak bakal bisa se-santai ini sama siapapun nanti yang ngajar kamu. Kamu kan adek aku, aku malah senang kalau kamu bisa santai, bisa ketawa, bisa cerita semua sama aku. Itu makannya aku enggak terlalu suka dipanggil ‘guru’, soalnya kesannya ada batasan antara aku dan kamu. Kalau misalnya aku bilang ‘teman latihan’ atau ‘latihan bareng’, kan enak, sharing ilmunya itu dua arah. Kamu belajar dari aku, aku juga belajar dari kamu.”

Gua terdiam lagi. Yang Mas Ka coba sampaikan disini adalah prinsip berbagi ilmu, jika ilmu tidak diturunkan atau dibagi, percuma juga untuk disimpan. Apa manfaatnya kalau ilmu itu hanya disimpan seorang saja? Manfaatnya tidak akan terasa.

Prinsip ini gua temukan di banyak perguruan silat kedepannya. Para pewaris ilmu ini dalam segala aspek adalah orang-orang pencinta dan pelestari budaya, dan mereka pun mencari orang-orang yang mereka pandang sesuai dan memiliki kecintaan yang sama dalam melestarikan budaya bersilat ini. Mungkin teman-teman yang membaca bertanya: “kenapa harus dipandang sesuai? Ada anak muda zaman sekarang ini mau belajar silat saja sudah bagus.”

Saat gua mulai menuliskan cerita ini, sudah 12 tahun gua bersilat, dan jujur saja, seiring berjalannya waktu, Silat itu bukan hanya olahraga yang berat untuk fisik. Semakin dipelajari, Silat itu berubah menjadi suatu tanggung jawab,  suatu panduan, suatu pegangan dalam kehidupan. Orang-orang yang dianggap para guru silat sebagai pewaris yang ‘pantas’ atau ‘sesuai’ ini adalah orang-orang yang menjalani prinsip-prinsip Pencak Silat dalam kehidupan mereka, mulai dari tindak, tutur, dan tata mereka.

Tiba – tiba Mas Ka memecah renungan di benak gua dengan satu kalimat yang membuat gua… Amsyong: “Oh iya Put, kamu minggu depan ujian ya. Hyeh hyeh.”

Minggu depan pun datang, dan gua deg-degan bukan main. Begitu gua masuk rumah Mas Ka, nampak ada beberapa teman-teman latihan lainnya. Mereka terlihat sedang melakukan peregangan, berlatih langkah, dan saling mengoreksi gerak satu dan yang lainnya.

Gua menghampiri salah satu dari mereka dan bertanya, “Mas Ka mana mas?”

“Belum keluar Put, kamu siap-siap saja dulu. Gerak badan, pemanasan.”

Tak lama, Mas Ka pun keluar dari rumahnya, dan ikut seorang kawan seperguruan. Mas Ka seperti biasa tampak berseri-seri, tetapi ada yang lain dari sorot matanya. Kawan seperguruan kami, nampak letih lesu kelelahan.

Gua bingung, dan gua segera menghampiri Mas Ka

“Mas, ini ujian kita mesti apa?” kerisauan gua terdengar jelas

“Udah Put, gampang, nanti kamu masuk ikutin aja disuruh apa.” Mas Ka tersenyum kecil.

Memasuki ruangan keluarga Mas Ka, terduduklah sesosok laki-laki yang gua asumsi berusia sekitar 40 tahun. Dengan baju kaos oblong yang gombrong, kopyah putih, dan… celana hitam yang sangat khas: celana silat.

Mas Ka tiba-tiba memecah ketegangan benak gua dengan memperkenalkan sosok laki-laki itu: “Put, kamu salaman dulu yuk sama guru aku.”

Gua merasa semakin deg-degan. Bapak ini adalah GURUnya Mas ka.

 

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

 

La Galigo, The Lord of The Rings-nya Indonesia

Demam film-film kolosal-fantasy sekelas The Lord of The Rings trilogi ternyata belum usai. Setelah sukses dengan tiga film sebelumnya,  sutradara Peter Jackson tidak kekeringan ide. Ia segera mengambil buku karangan J.R. Tolkien lainnya –The Hobbit– untuk digarap. Desember lalu, dunia dihebohkan sekali lagi oleh para Tolkien-mania dengan kemunculan Bilbo Baggins dalam petualangan besarnya menolong bangsa kurcaci merebut kembali kampung halaman dari tangan si naga jahat. Petualangan Bilbo Baggins inilah yang konon melatari lahirnya epik besar Frodo Baggins, sang keponakan dalam The Lord of The Rings Series.

Sebagai orang Indonesia kita seharusnya bangga lho karena jauh sebelum Tolkien kepikiran untuk membuat kisah kolosal macam The Silmarillion-The Hobbit-The Lord of The Rings, nenek moyang kita udah duluan menciptakan epos besar macam La Galigo yang ceritanya nggak kalah fantastis. Efek-efek luarbiasa seperti mahluk-mahluk gaib, senjata-senjata hebat, petualangan menempuh bentang alam yang berbahaya, serta jalinan konflik yang saling menghubungkan antara karakter satu dengan yang lainnya pun terdapat dalam epos La Galigo. Nggak percaya? Mari simak tiga persamaan antara kisah fantasi terbaik sepanjang masa The Lord of The Rings dengan La Galigo, epos adiluhung leluhur bangsa yang telah hidup selama ratusan tahun berikut ini!

Middle Earth v. Alelino/Alekawa

Kosmologi The Lord of The Rings (LOTR) mengenal dunia tempat hidup bangsa manusia ini sebagai Middle Earth alias Dunia Tengah. Meskipun pada trilogi bukunya tidak pernah disebut-sebut bagaimanakah struktur alam semesta di dalam benak Tolkien, akan tetapi berdasarkan buku The Silmarillion (yang memuat kisah penciptaan Dunia Tengah) kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dunia LOTR sejatinya terdiri atas tiga tingkatan: Dunia Iluvatar (Sang Pencipta) yang berada jauh di luar batas-batas yang diketahui oleh bangsa elf dan manusia, Middle Earth, serta Underworld alias Dunia Bawah. Dunia Tengah selain dihuni oleh bangsa manusia juga dihuni oleh kaum elf (keturunan peri yang turun dari langit), kurcaci, hobbit (manusia kerdil), naga, dan banyak mahluk hidup fantasi lainnya. Bentang alam Dunia Tengah yang kita ketahui dari LOTR bentuknya amat sangat mirip dengan daratan Eropa hari ini. Yang demikian itu disebabkan karena Tolkien sendiri yang mengatakan bahwa Dunia Tengah adalah Eropa, meskipun Ia tidak mengikuti keseluruhan fitur-fitur Eropa modern (seperti menghilangkan bentuk Inggris dari Lautan Atlantik). Gondor kurang lebih terletak di Italia modern sekarang ini sedangkan Hobbiton, kota asal Bilbo dan Frodo Baggins, berada di dekat Oxford.

Peta Middle Earth. Sumber: www.iwallscreen.com

Bagaimana halnya dengan La Galigo? Sepanjang episode-episodenya yang menegangkan, kita diberi insight bahwa orang Bugis kuno menganut konsep tiga lapis dunia dalam kosmologinya. Dunia menurut La Galigo terdiri atas tiga lapisan yaitu Boting Langiq, Ale Kawaq/Ale Lino, dan Buri Liu/Perettiwi. Boting Langiq dan Perettiwi menjadi tempat kediaman para dewa sedangkan Ale Lino alias Dunia Tengah menjadi tempat manusia beraktifitas. Segala keadaan yang terjadi di Dunia Tengah dikontrol oleh Boting Langiq dan Buri Liu, itulah sebabnya manusia yang hidup di Dunia Tengah harus tunduk dan patuh pada tatanan yang ditentukan oleh keduanya. Jika LOTR mengambil latar di Benua Eropa, maka La Galigo sesuai dengan kondisi geografis lahirnya cerita ini mengambil latar di Kepulauan Nusantara. Jangan heran jika kebanyakan latar La Galigo berada di laut, karena memang kontur Nusantara tertutup oleh perairan luas yang menghubungkan antara satu daerah dengan daerah lainnya. Nama-nama kerajaan yang dikunjungi Sawerigading bukanlah negeri antah-berantah yang ada dalam khayalan, namun kerajaan-kerajaan seperti Maloku, Siwa, Wolio, Maccapaiq (Majapahit), Senrijawa (Sriwijaya), Wadeng (Gorontalo), dan Sunraq (Sunda) pun masih dapat kita trace jejaknya hingga hari ini.

Galadriel v. We Tenri Abeng

Siapakah sosok wanita keibuan, bijaksana, penuh kasih namun pada saat yang bersamaan juga memiliki kekuatan yang luarbiasa di dalam LOTR? Yup, dialah Lady Galadriel, seorang elf yang menjadi penguasa negeri Lothlorien. Galadriel telah hidup lama di Dunia Tengah. Ia turut dalam banyak pertempuran besar selama tiga zaman. Kemampuannya dalam melihat masa depan membantu Frodo dalam perjalanannya memusnahkan Cincin Utama. Galadrieal banyak menolong sesama bangsa elf, dan bahkan manusia selama kekuasaan gelap Sauron berkuasa di Dunia Tengah.

Di dalam La Galigo, kita juga mengenal seorang figur wanita yang bijaksana, penuh kasih, memiliki kekuatan nan besar. Siapakah dia? Dialah pasangan saudari kembar emas Sawergading, We Tenri Abeng putri kerajaan Ale Luwu. Terlahir sebagai seorang bissu sejak lahir, We Tenri Abeng sering mengalami trans karena “disentuh” pasangan dewatanya, Remmang ri Langiq. Meskipun hidup disembunyikan di bagian tengah istana oleh kedua orang tuanya, We Tenri Abeng dengan sabar dan tulus ikhlas menjalani itu semua, demi sang kakak. Ketika Sawerigading mengamuk dan bahkan membunuh salah seorang sesepuh di istana karena keinginannya untuk menikahi sang adik, We Tenri Abeng muncul meredakan amarah sang kakak dengan kata-kata bijak. Dengan kekuatannya, We Tenri Abeng membuat Sawerigading dapat menyaksikan hologram wajah Putri Cina I We Cudai yang muncul di kuku-kuku jarinya. Tidak hanya itu, We Tenri Abeng pun bahkan terus membantu Sawerigading selama kesusahan demi kesusahan yang menimpanya di negeri Cina, termasuk melalui kekuatan meramalnya.

Pasukan Elf v. Pasukan Remmang ri Langiq

Bangsa elf adalah golongan makhluk istimewa yang hidup di Dunia Tengah sejak zaman dahulu kala. Mereka diciptakan lebih dahulu serta berusia lebih panjang daripada manusia. Tubuh mereka berkembang lebih cepat jika dibandingkan dengan manusia, itulah sebabnya banyak elf yang punya kekuatan fisik serta kecepatan di atas rata-rata. Bangsa elf menyukai hal-hal yang indah seperti sastra, musik, seni pembuatan senjata dan perhiasan, serta patung. Mereka juga adalah ras pemburu yang mahir serta memiliki kedekatan psikologis dengan hutan.

Bangsa Elf. Sumber: lotr.wikia.com

Di La Galigo, pasukan elf mungkin dapat kita bandingkan dengan pasukan dewa yang turun ke muka bumi. Remmang ri Langiq adalah seorang dewa di Boting Langiq yang telah ditakdirkan untuk menjadi pasangan bissu We Tenri Abeng. Ketika Sawerigading berangkat ke negeri Cina, Remmang ri Langiq turun ke istana Ale Luwu untuk menjemput sang calon istri menuju ke langit. Remmang ri Langiq amat mencintai sang istri, terbukti setelah We Tenri Abeng tinggal di Boting Langiq mereka tidak pernah sekejap pun berpisah. Suatu ketika Sawerigading berhadapan dengan La Tenrinyiwiq di tengah laut, seorang musuh yang amat kuat dan memiliki armada kapal sebesar gunung. Pasukan Sawerigading terdesak, sehingga ia pun meminta pertolongan kepada sang adik yang berada di Boting Langiq. We Tenri Abeng dengan hati yang dipenuhi kesedihan pun meminta kepada suaminya untuk turun ke bumi dan menolong sang kakak. Remmang ri Langiq turun bersama pasukan langitnya dan dengan gagah berani mengalahkan armada Wangkang Tana milik La Tenrinyiwiq dari Malaka. Tubuh mereka yang lebih gesit serta lebih kuat daripada manusia biasa dapat mengalahkan La Tenrinyiwiq. Pasukan Remmang ri Langiq tersebut terdiri atas prajurit dewa yang disebut “pemburu”, pasukan Peresola (makhluk halus) serta To Alebborang Pula Kalie alias bakteri-bakteri tak kasad mata yang dapat menimbulkan sensasi gatal di sekujur tubuh! Wow, bayangkan aja betapa serunya bertempuran tersebut 🙂

Appangara o Oddang Mpatara/ naripatteteng pabbaranie/ ata dewata le soloqe/ mupalluru i paddengngenge/ mupajappa i le setangnge/ peresolae mupallebbangngi/ To Alebboreng Pula Kalie/ mupattujungngi salangka musuq/ paddioloe tasialonrang/ mpali sanreseng La Tenrinyiwiq.

Memerintahlah engkau Oddang Mpatara/ supaya dikerahkan semua pasukan/ hamba dewa yang turun/ majukanlah para pemburu/ jelmakanlah setan-setan/ peresola, sebarkanlah/ To Alebborang Pula Kalie/ kau tebarkan tepat pada bahu musuh/ yang di depan kita, bertaruh/ dengan La Tenrinyiwiq

Demikian tadi tiga keistimewaan yang dimiliki oleh La Galigo dan karya fantasi yang paling dikenang sepanjang zaman, LOTR. Sebenarnya masih banyak lagi unsur-unsur fantasi menarik yang ada di La Galigo dan terdapat juga di LOTR seperti misalnya referensi terhadap Bahasa Sindarin (bahasa bangsa elf kelas tinggi yang diciptakan oleh Tolkien sendiri) dengan Bahasa Torilangiq Bissu (bahasa para dewa di langit yang hanya diketahui golongan bissu), keistimewaan senjata-senjata gaib yang ada di kedua cerita, serta mitos mengenai pohon pusaka bernama Welenrenge serta pohon Silmarillion dalam LOTR. Yang jelas, La Galigo oke banget deh Sobat Lontara, nggak kalah keren dengan LOTR! Malah yang membuat La Galigo lebih istimewa adalah karena usianya yang sudah tua dan karena berasal dari bangsa kita sendiri (bukan hasil adaptasi dari bangsa India, Cina atau Arab), bangsa Indonesia. So, bagi yang suka LOTR, nggak ada salahnya bagi kalian untuk mencoba membaca dan mencintai La Galigo juga 🙂

 

Referensi:
Nurhayati Rahman, Cinta, Laut dan Kekuasaan dalam Epos La Galigo, La Galigo Press.
David Colbert, The Magical Worlds of The Lord of The Rings, PT Gramedia Pustaka Utama.

 

Perang Gerilya Kita yang Nomer Satu?

Pagi ini di kelas Hukum Pidana Khusus saya mendapat informasi menarik tentang betapa hebatnya Indonesia “di masa lalu”. Seperti biasa, bahasan-bahasan mengenai local wisdom maupun fakta-fakta mengagumkan yang menjadi prestasi bangsa ini di era yang telah lampau selalu dapat menstimulus saya dengan berbagai inspirasi maupun optimisme akan masa yang akan datang, meskipun pada saat yang bersamaan juga membuat saya miris dengan keadaan di masa sekarang. Kali ini, kisah yang Ia tuturkan merefresh memori saya akan sejarah dan tokoh nusantara yang mewarnai dunia secara global hingga ke zaman modern ini.

Di sela-sela bahasan beliau mengenai Genosida, Kejahatan Terhadap Kemanusiaan, dan Kejahatan Perang, dosen saya memberikan intermezzo. Alkisah, jagoannya pertempuran laut di dunia ini pasca WWII adalah Inggris dan Uni Soviet. Negara lain hampir tidak ada yang bisa memenangkan pertempuran jika berhadapan dengan mereka. Adapun jagoan pertempuran udara ialah Amerika Serikat dan Prancis. Jangan ditanya, Paman Sam memang memegang teknologi udara militer yang paling canggih di abad ini. Pesawat Siluman merupakan salah satu inovasi mereka yang dapat masuk ke area musuh tanpa terbaca radar. Yang terakhir inilah yang mengejutkan. Siapakah jagoan perang di darat? Jawabannya ialah Jerman dan Indonesia.

Jerman dengan teknologi tempur, strategi militer yang kuat, dan otot-otot pasukan bangsa Arya yang terlatih memang pantas berulang kali memenangi pertempuran darat di benua Eropa. Satu per satu daerah terbuka maupun kota takluk di hadapan bala tentara Hitler. Tapi, Indonesia? Benarkah negara yang sekarang ini tengah dilanda krisis sosial, korupsi yang mengakar di pemerintahannya, serta pesawat militer maupun komersil yang terus menerus jatuh layak menjadi jagoan pertempuran darat? Sekali lagi, kita bicara dalam konteks “masa lalu.”

Jerman, mempelajari banyak literatur kuno dari berbagai bangsa di Eropa demi menyempurnakan strategi perang mereka. Salah satu yang mereka perhatikan dengan seksama ialah dokumentasi perang kerajaan Belanda dengan golongan pemberontak pribumi di Dutch East Indies alias Hindia Belanda. Bagi bangsa Belanda, menjajah Indonesia selama 300 tahun lebih itu bukannya tanpa biaya. Bangsa timur yang barbar itu dalam pandangan mereka merupakan budak sekaligus musuh yang paling berbahaya. Ambil contoh De Java Orloog atau Perang Diponegoro yang terjadi selama 5 tahun (1825-1830). Perang tersebut menurut sumber Belanda menjadi perang termahal yang pernah dihadapi oleh pemerintah kolonial Eropa di wilayah jajahannya.

Perang mengambil tempat di seluruh daratan, di daerah kota maupun desa-desa yang jarang penduduknya. Belanda mengandalkan formasi pasukan ala Napoleon Bonaparte yang saat itu sedang ngetrend si Eropa. Ada barisan infanteri, kavaleri, dan artileri, pasukan dipecah menjadi 3 unit dengan konsentrasi yang berbeda-beda. Perang tersebut berlangsung sengit dan sempat membuat pihak Belanda frustasi. Bayangkan saja, daerah yang telah mati-matian mereka taklukkan pada siang hari, di malam hari sudah berhasil direbut kembali oleh pasukan pribumi melalui aksi gerilya mereka. Masyarakat pribumi yang dipimpin oleh para senopati dengan pendidikan mereka yang tradisional mampu memanfaatkan medan pertempuran dan keadaan cuaca sehingga dapat berulang kali membuat kondisi tentara Belanda terpuruk, tidak hanya oleh serangan fisik namun juga oleh serangan hujan tropis maupun penyakit musiman.

Kondisi pertempuran menjadi benar-benar mengerikan ketika untuk pertama kalinya di pulau kecil seperti Jawa, Belanda menurunkan 23.000 orang personil. Inilah perang pertama yang dicatat dalam sejarah sebagai perang modern, karena menggunakan segala taktik kemiliteran yang kita ketahui di masa sekarang ini. Usaha-usaha seperti perang terbuka maupun serangan gerilya hingga telik sandi dilakukan dalam perang ini, menjadi cikal bakal unsur-unsur perang modern. Dunia menyaksikan bahwa setelah ribuan penduduk sipil meninggal dan ribuan tentara Belanda tewas di medan laga, akhirnya Pangeran Diponegoro dapat ditaklukkan. Namun sejak hari itu, dunia melihat nusantara dengan perspektif yang berbeda. Nusantara menjadi daerah yang ditakuti karena kegigihan rakyat pribumi serta kemahiran mereka menjalankan serangan darat yang diam-diam, cepat, dan mematikan.

Tidak hanya di Jawa, namun perang yang terjadi di daerah Indonesia Timur seperti Makassar pun membuat Belanda kecut. Sebuah catatan mengenai peristiwa yang terjadi pada tanggal 8 Agustus 1668 menjadi rekaman pahit Belanda ketika berhadapan dengan Kerajaan Gowa. Ketika itu, pasukan Belanda memasuki pelabuhan dan mendekati daerah Somba Opu yang terletak di pinggir pantai. Masyarakat yang tinggal di sekitar situ pun berteriak-teriak siap menyambut kedatangan para penjajah. Mereka menantang dengan gagah berani, sehingga membuat pasukan Belanda yang membawa mesiu dan senjata api gentar menyaksikan semangat pribumi Makassar. Catatan tersebut kemudian bercerita bahwa pertempuran berlangsung amat dahsyat dan mengerikan, bahkan konon “als crijgers van hoogen ouderdom mischien in Europa selve niet dickwiljs gehoort hebben”  (prajurit-prajurit yang sudah lanjut usianya di Eropa sekalipun tidak pernah mendengarkannya).

Cornelis Speelman yang saat itu menjabat sebagai panglima tinggi Belanda pun mengakui bahwa perlawanan tersebut merupakan yang paling hebat yang pernah Ia temui selama menjalankan misi di nusantara. Saking mengerikannya pertempuran tersebut, sampai-sampai pihak Belanda memberikan salutation kepada pemimpin kerajaan Gowa saat itu, Sultan Hasanuddin, dengan gelar“Haantje van het Oosten” alias Si Ayam Jantan dari Timur. Menurut Nasarudin Koro, seorang mantan diplomat sekaligus penulis buku sejarah Makassar, salah satu pendukung kuatnya barisan Makassar saat itu adalah keberadaan para putra Wajo yang jago bertempur di laut, pasukan Melayu, serta putra-putra Mandar yang punya reputasi sebagai penembak meriam nan jitu. Pada masa itu memang kerajaan Gowa bersekutu dengan kerajaan Wajo dan federasi Mandar di utara. Salah satu penembak meriam yang disegani Belanda dari Mandar ialah Daenna Dollah. Kehebatan Daenna Dollah membuat Ia juga dipanggil oleh Sultan Ternate untuk menghadapi Belanda. Saking terkenalnya, tentara Belanda sambil berdecak kagum berkata: “Hij is een goed kanonneer”.

Selain di Makassar, pertempuran habis-habisan rakyat Aceh yang dipimpin oleh Teuku Umar dan Cut Nyak Dien juga mengilhami pasukan Jerman saat Perang Dunia II. Taktik bumi hangus yang Jerman lakukan sebenarnya  mereka tiru dari catatan Belanda ketika berhadapan dengan rakyat Aceh ini. Saat itu Belanda menganggap rakyat Aceh sebagai momok, mereka ketakutan dengan kekuatan armada laut Aceh yang mereka sebut sebagai “bajak laut nan beringas.” Semangat tempur rakyat Aceh dalam perang habis-habisan membela bangsa dan agama ini terekam abadi dalam nyanyian pengantar tidur berjudul “Dodaidi” yang iramanya mendayu-dayu namun liriknya begitu tajam.

Terakhir, dosen saya menutup ceritanya dengan kutipan dari pidato salah satu petinggi militer Amerika Serikat untuk Perang Vietnam:

“apabila yang kita hadapi di Vietnam adalah para pasukan guerilla Indonesia, maka nasib kita tidak akan sebaik sebagaimana yang kita alami pada hari ini.” Nama Abdul Haris Nasution pun Ia sebutkan sebagai seorang pria asal Republik Indonesia yang telah memberikan sumbangsih bagi dunia pertempuran militer di darat. Buku Jendral Nasution yang berjudul Fundamentals of Guerilla Warfare (terbit tahun 1965 di New York) would become one of the most studied books on guerrilla warfare along with Mao Zedong’s works on the same subject matter (Emmet McElhatton: 2008).

Tidak hanya mengulas hingga menciptakan metode perang gerilya, beliau juga bahkan membuat ‘anti-virus’ atau tangkisan bagi pihak yang menghadapi perang gerilya. Ia menjadi seorang ahli strategi perang dari Indonesia serta peletak dasar atas perang gerilya.

Itu cerita dulu, kawan-kawan, dan prestasi dari bapak-bapak kita yang telah meninggal. Terlepas dari benar tidaknya cerita beliau, fakta punya versinya sendiri. Yang jadi soalan sekarang, masih sanggupkah kita meneruskan jejak mereka dan menomorsatu-kan kembali Indonesia di mata dunia?

Gawai Gedang Masyarakat Adat Talang Mamak

Talang Mamak adalah salah satu suku asli di Provinsi Riau. Mereka mendiami daerah hilir sungai Indragiri dan memilih hidup dengan mengasingkan diri. Asal usul dari suku ini terdiri dari dua versi. Pertama, berasal dari penelitian seorang asisten residen Belanda yang mengatakan bahwa suku ini berasal dari Pagaruyung Sumatera Barat yang terdesak akibat konflik adat dan agama. Sedangkan versi yang kedua berasal dari hikayat turun temurun yang dipercaya oleh masyarakat adat itu sendiri bahwa mereka adalah keturunan dari Nabi Adam ketiga. Dalam kesehariannya, mereka sama dengan masyarakat pada umumnya. Mereka menggantungkan hidup mereka dengan kemudahan yang alam berikan, berladang dan  berkebun karet adalah mata pencaharian mereka.

 

Masyarakat adat Talang Mamak ini masih mempertahankan adat istiadat mereka dengan kuat. Hal tersebut bisa temukan dalam sistem “administrasi” yang mereka gunakan. Mereka membagi kedudukan di dalam masyarakat tesebut dalam bentuk PatihBatinMangkuManti dan Dubalang,yang masing masing memiliki fungsi dan kedudukan. Selain itu, ritual-ritual adat masih mereka lakukan, salah satunya adalah Gawai Gedang. Menurut  mereka, ritual ini sudah hampir 30 tahun tidak dilaksanakan.

Gawai Gedang adalah ritual pernikahan bagi masyarakat Talang Mamak, ritual ini berlangsung selama tiga hari dengan berbagai macam prosesi. Di mulai dengan ritual yang di namakan menegakkan tiang gelanggang. Prosesi penegakan tiang gelanggang ini adalah proses yang sangat sakral. Masyarakat Talang Mamak percaya bahwa tiang gelanggang adalah “perwakilan” dari tiang aras yang ada di langit. Sehingga dalam proses nya mereka sangat berhati hati, karena karma yang akan datang ke mereka akan berlipat ganda jika dalam prosesi ini terdapat kesalahan.

Setelah prosesi menegakkan tiang Gelanggang. Pencak Silat dan Sabung ayam akan berlangsung, silat dan sabung ayam ini merupakan “syarat” dalam upacara adat. Sabung ayam memiliki filosofi, yaitu agar setan-setan yang ada tidak mengganggu para Batin yang sedang sibuk mengurus acara ini. Setan setan tersebut akan menonton judi ayam, sehingga para batin dapat dengan tenang melaksanakan kegiatan gawai gedang ini.

Setelah silat dan sabung, patih dan para batin yang terlibat dalam acara adat ini akan datang satu per satu. Dalam prosesi kedatangan mereka, para batin dan patih akan di sambut oleh tuan rumah, dan mereka akan menuju sebuah replika perahu yang di namakan Kajang Serong, di sini para batin akan membicarakan adat dalam pelaksanaan upacara Gawai Gedang. Di dalam upacara adat, selain pencak silat dan sabung ayam, terdapat juga syarat lain, syarat itu di namakan rukun lima. Rukun lima tersebut adalah sirih, pinang,gambir,tembakau dan kapur, di Kajang Serong, rukun lima ini disajikan kepada kedua belah pihak.

Sebelum para batin masuk ke Kajang Serong, mereka akan di arak terlebih dahulu mengelilingi Tiang Gelanggang sejumlah tiga kali, dan tiang ini akan di putar sebanyak tiga kali. Mempelai Pria dan Wanita juga di arak mengelilingi tiang gelanggang tersebut, unik nya dalam upacara gawai ini kedua mempelai tidak di arak menyentuh tanah namun mereka di gendong oleh masing masing pihak keluarga.

Dari Kajang Serong. Patih, para batin, kedua mempelai dan masing masing pihak keluarga akan menuju ke rumah. Di rumah ini acara adat berlangsung. Sedangkan di sekitar tiang gelanggang acara sabung ayam akan terus berlangsung. Di dalam rumah,patih, para batin dan pihak keluarga  akan makan berhidang bersama. Mereka akan makan  nasi manis yang sudah di persiapkan sehari sebelum acara. Nasi manis  ini adalah semacam ketan yang di masak  dengan gula merah, kita  mengenal nya dengan sebutan wajik. Makan behidang  merupakan bagian dari ritual acara

Setelah  makan behidang, para batin dan para patih akan kembali menuju ke kajang serong, ritual adat yang akan mereka lakukan adalah membuka gulungan daun. Di dalam gulungan daun ini terdapat beberapa barang yang nanti nya akan di berikan kepada ke dua mempelai, barang barang tersebut berupa sirih dan rokok. Barang barang ini nanti nya akan di makan dan di bakar oleh kedua pasangan tersebut beserta pihak keluarga. Setelah semua ritual selesai, patih dan para batin akan beristirahat  untuk melanjutkan ritual keesokan hari nya

Pada hari ke dua, ritual yang dilaksanakan di namakan Basipat, basipat adalah upacara penyerahan mas kawin. Mas kawin ini berupa tombak, kain putih sebanyak 13 lembar, gelang perak dan sirih. Gelang perak sebagai mas kawin  menunjukkan identitas perempuan yang akan di nikahi. Jika berjumlah satu, maka calon pengantin nya masih gadis. Namun, jika berjumlah dua maka calon pengantin nya adalah janda. Setelah penyerahan mas kawin, di lanjutkan ritual makan gadang.

Makan Gadang adalah ritual makan bersuap suapan,di dalam ritual ini. akan di persiapkan tiga pasangan muda yang berasal dari kampung tersebut untuk di libatkan dalam ritual selain kedua mempelai. Di dalam makan gadang ini, ada sebuah pantangan yang masih berlaku sampai sekarang. Pantangan  tersebut adalah jika saat salah satu pasangan muda yang ikut dalam ritual ini salah dalam melakukan urutan makan dalam acara makan gadang ini. Maka mereka akan langsung di nikahkan saat itu juga. Akibat takut akan pantangan yang masih berlangsung ini maka dalam ritual makan gadang mereka sangat berhati hati.

Kegembiraan masyarakat adat yang ikut dalam upacara ini makin dapat terlihat dalam ritual makan gadang ini, mereka akan terus menertawakan para pasangan muda yang canggung dan terkesan sangat berhati hati dalam menjalankan ritual. Teriakan “ ayo, salah, nanti langsung kita nikah kan di sini” terus terdengar. Setelah makan gadang, selanjutnya adalah  acara ijab kabul.

Bagi masyarakat adat Talang Mamak, aliran kepercayaan mereka adalah Islam langkah lama, sehingga ijab kabul yang mereka gunakan tidak menggunakan syariat Islam, prosesi ijab kabul menggunakan media yang di namakan dengan minum pengangsi. Ritual tersebut  adalah ritual minum bersama antara kedua mempelai, mereka akan minum air gula yang ada di tempayan yang terlebih dahulu di doakan. Sebelum kedua pasangan ini meminum air  tersebut, terlebih dahulu patih, batin dari kedua belah pihak akan meminum air, setelah itu  giliran kedua mempelai meminum air pengangsi tersebut. Setelah minum, maka sah lah mereka sebagai pasangan suami isteri.

Acara di hari ke dua ini,berlangsung hingga larut malam, acara ini di tutup dengan ritual sembah ajar penghulu dan tagur ajar. Tujuan dari acara ini adalah agar nanti nya kedua pasangan suami isteri ini tahu masing masing fungsi dan kedudukan nya di dalam rumah tangga. Berbagai macam petatah petitih masyarakat adat Talang Mamak mengenai kehidupan berumah tangga akan di perdengarkan pada ritual ini

Di hari ke tiga, yang merupakan hari terakhir bagi upacara adat gawai akan di tutup dengan penurunan tiang Gelanggang. Pencak Silat dan Sabung ayam masih akan berlangsung dalam penurunan tiang, Prosesi yang sama dengan menaikkan tiang gelanggang, dan setelah penurunan tiang. Maka acara gawai selesai.

 

Bayu Amde Winata, pria kelahiran Pekanbaru, Riau ini sekarang berdomisili di Yogyakarta. Kegemaran menulisnya tersalurkan dengan menjadi kontributor di Majalah Digital infobackpacker.com dan Lontara Project. Ingin kenal lebih jauh dengan Bayu? Ia dapat dihubungi via email di winatabayu@ymail.com.

 

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode V – “Titik Zen”

Bab VI: Titik Zen

“Tadi Mas Ka ngajarin aku aplikasi gerakan-gerakan yang waktu itu aku tunjukkin Papa.” Gua menjawab (masih sembari mengunyah).

“Hmmm, Oke. Nanti habis makan Papa mau lihat.” Ayah gua melanjutkan makannya.

Beberapa menit kemudian, setelah gua dan adik gua membereskan meja makan, Ayah gua memanggil gua ke ruang tengah. “Put! Sini sini!”

Dengan menyeret badan gua, gua datang menjawab panggilan beliau.

“Tunjukkin Papa dong tadi latihan apa.”

Gua pun menjelaskan satu per satu, bagaimana menyikapi serangan, tata krama menghadapi lawan di gelanggang, bahkan mempraktikkan jurus-jurus yang dilatih tadi. Ayah gua nampak makin penasaran, sehingga pada suatu titik beliau berkata, “Coba Papa serang ya.”

Gua yang lunglai pun terbelalak mendadak. “Papa kan pelan-pelan nyerangnya haha, tenang aja lah.” Dan beliau menyodorkan kepalannya. Gua mencoba merambet tangan beliau, dan menarik beliau seperti yang dipraktekkan Mas Ka. Ayah gua mengikuti alur gerakan gua, dan beliau pun nampak cukup terkesan.

“Hmmm, boleh juga ya yang Mas Ka ajarin kamu. Oke, coba Papa serang beneran ya kali ini.”

“Pa, akunya capek, coba besok aja deh ya, atau minggu depan deh pas sudah latihan lagi sama Mas Ka.” Gua menggerutu

Tiba-tiba, Ayah gua melontarkan tinju kearah muka gua. Tetapi entah kenapa, gerakan beliau melamban ketika tinju itu sudah dua jengkal dari wajah gua. Gua sadar gerakan tubuh beliau pun tampak melamban… Seakan-akan menjadi slow-motion. Gua berkelit perlahan, menghindari tinju beliau, gua menepis kepalannya keatas, dan gua melacarkan pukulan kearah rusuk beliau yang terbuka. Deb! Pukulan gua mendarat perlahan tanpa tenaga, dan ayah gua nampak terkejut.

“Gerakan kamu kok cepat sekali tadi?!” Ayah gua heran.

“Papa yang lambat banget tadi mukulnya.” Jawab gua singkat.

“Wah… Good.” Bokap gua tersenyum.

Seminggu berlalu dan gua bercerita tentang apa yang terjadi kepada Mas Ka. Mas Ka tersenyum lebar dan merespon cerita gua:

“Put, kamu itu mengalami yang disebut ‘Titik Zen’. Titik ‘Zen’ itu adalah titik dimana kamu sadar akan segala hal yang terjadi, tetapi kamu sudah mencapai titik ketenangan tersendiri dimana kamu siap menghadapi apa yang terjadi kepada kamu. Titik Zen ini hanya bisa dicapai ketika kamu sudah memiliki cukup pengalaman, atau ketika kamu mencapai titik kelelahan fisik yang luar biasa, sehingga mental kamu menjadi sangat tajam. Disitulah ungkapan ‘mind over matter’ benar teraplikasi, soalnya badan kamu sudah sangat capek, dan disitu intuisi dan refleks naluri kamu yang bereaksi pada keadaan. Untung kamu kontrol pukulannya ya, kalau enggak, bisa kamu pukul beneran rusuk Papa.”

Titik Zen. Wow.

BERSAMBUNG…

 

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

 

RSVP! Agenda Perayaan World Heritage Day 18 April 2013 oleh Lontara Project, Komunitas Heritage Camp dan BPPI di 5 Kota!

WORLD HERITAGE DAY di YOGYAKARTA

World Heritage Day akan diselenggarakan secara serentak di beberapa titik di Indonesia. Yogyakarta menjadi salah satu titik perayaannya. Kegiatan ini digagas oleh Lontara Project bersama alumni Heritage Camp 2013. kami percaya bahwa remaja adalah agen konservasi pusaka yang paling tepat, karena pengalaman dan daya kreatif mereka sangat tinggi.
Oleh karena itu, kami mengajak teman-teman baik individu maupun komunitas untuk bergabung dalam acara ini. acara ini merupakan wujud sosialisasi kami kepada seluruh warga Yogyakarta tentang perlunya perhatian terhadap pusaka yang notabene memiliki tuntunan untuk mengadvokasi tatanan hidup masyarakat.
Dalam World Heritage Day yang akan kami gelar nanti, akan ada parade buadaya. para partisipan akan menggunakan baju adat, atau baju yang menggambarkan Indonesia, kemudian akan berjalan di sepanjang jalan Malioboro. berawal dari jalan abu abakar ali dan berakhir di benteng Vredeberg. di Benteng nantinya akan ada flashmob dan pentas budaya yang diisi dari beberapa komunitas seni.

Tutorial flashmob –> https://www.youtube.com/watch?v=Px_hJNShMAI&feature=youtube_gdata_player

Twitter CP: @enisimatupang

WORLD HERITAGE DAY di MAKASSAR

Venue: Kedai Buku Jenny, Perumahan Budi Daya Permai
Waktu: 18 April 2013, 04.00 PM – selesai
Judul Acara: OBRAK! (Obrolan Pusaka)

Deskripsi kegiatan: Diskusi ringan mengenai pusaka yang ada di sekitar kamu. Pusaka (heritage) sesuai definisi yang dianut oleh Balai Pelestari Pusaka Indonesia mencakup tiga aspek: pusaka budaya (ragawi, non-ragawi), pusaka alam dan pusaka saujana (kesatuan kondisi alam dan manusia di sekitar lingkungan situs). Diharapkan melalui diskusi ini dapat semakin memperluas perspektif kita semua akan pentingya melestarikan pusaka sebagai warisan leluhur bangsa. Diskusi akan diselingi oleh pemutaran kondisi situs pusaka Makam We Tenri Dio di Selayar serta pusaka Gong Nekara terbesar di dunia yang kurang dijaga. Akan ada penampilan musik akustik dari personil HILITE yang akan membawakan lagu dari La Galigo Music Project.

What you should bring: untuk meramaikan diskusi, yuk bawa foto pusaka yang kamu punya! Dapat berupa benda yang memiliki sejarah di keluarga kamu, atau foto-foto situs yang pernah kamu kunjungi. Bersama-sama kita akan mendiskusikan apa peran pusaka tersebut, masalah yang tengah dihadapinya, serta solusi yang bisa kita aplikasikan untuk melestarikannya.

Twitter CP: @hey_louie

WORLD HERITAGE DAY di JAKARTA

Bidik Misi UNJ presents: Walau Berbeda, Kita Tetap Satu
Ayo sama-sama peringati hari pusaka dan situs se-dunia “World Heritage Day 2013” di Kampus Hijau kita dengan memakai Batik pada tanggal 18 April 2013.

Spesial Kota Tua Jakarta: Flashmob, diskusi bersama Lontara Project dan alumni Heritage Camp 2013, dan Jelajah Malam

Twitter CP: @pu3simatupang

WORLD HERITAGE DAY di SAMARINDA

Kegiatan akan terpusat di Kota Samarinda dan mencoba bekerja sama dengan organisasi Junior Chamber International (JCI) Kaltim dalam pelaksanaannya.
kegiatan yang akan dilaksanakan adalah
1. Lomba mewarnai gambar Ukiran Dayak Untuk Anak PAUD
tujuannya : menanamkan rasa cinta kebudayaan lokal secara dini
2. Jelajah Kampung Bugis Wajo “Cikal Bakal Kota Samarinda”
3. Pentas Seni di Tepian Sungai Mahakam bersama Komunitas-komunitas yang ada di Samarinda

Twitter CP: @adityakurniad

Rangkaian WORLD HERITAGE DAY di BANDUNG

7 April 2013: “Painting Session” at Car Free Day, Dago

14 April 2013: World Heritage Campaign at Car Free Day, Dago

18 April 2013: Online publication rangkaian acara WHD di Bandung

20 April 2013: “Indonesia dalam Bahasa”

Twitter CP: @salsabie

 

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode IV – “Penantian Sambut”

Bab V: Penantian Sambut

 

Setelah 9 bulan berlatih, gua merasa bisa banyak. Langkah 1 sudah lancar, jurus-jurus sudah hapal dan gerakan mulai terlihat bagus. Arahan-arahan dari Mas Ka sudah mulai bisa diikuti dengan baik, dan set latihan mulai bisa dikuasai

Suatu saat selesai latihan, gua pulang kerumah. Setelah menikmati makan malam bersama keluarga, orangtua gua bertanya: “Jadi, kamu sudah belajar apa saja sama Mas Ka?” Gua menjelaskan panjang lebar tentang latihan, apa saja yang dilakukan pada saat latihan, langkah apa saja yang sudah dipelajari, nama-nama gerakan, gedik, rambet, semuanya.

Ayah gua yang sepak terjangnya di dunia persilatan sudah lama melegenda ini meminta gua untuk menunjukkan langkah silat yang sudah dipelajari. Dengan penuh percaya diri, gua segera menunjukkan apa yang sudah gua latih selama ini. Setelah beberapa detik bergerak, ayah berdiri dari sofa.

“Bagus tuh gerakanmu,”bBeliau berkata sembari melihat gerakan gua. “Oke, Papa mau tanya deh, gerakan itu tadi buat apa ya?”

Dan gua pun terdiam. Kepala kosong, selama ini yang gua pelajari adalah gerakkan yang kosong. “Belum dikasih tahu Pa, gerakannya untuk apa.”

Ayah gua tersenyum, “Besok tanya deh ke Mas Ka, Papa jadi pengen tahu juga hehe.”

“Aduh, masih hari Jumat depan latihannya” gua ngedumel dalam benak gua, dan gua harus menghadapi sekolah selama seminggu kedepan. Baiklah, tidak apa, gua harus sabar menunggu, karena beberapa penantian itu memang nikmat.

Seminggu itu sekolah berlalu SANGAT lambat. Banyak sekali PS (bagi teman-teman yang membaca dan kelahiran 1990 – 1993 pasti tahu kalau PS itu bukan “Plaza Senayan”, atau “Playstation”, melainkan “Pekerjaan Sekolah”), PR (yang ini tahu kan kalau “Pekerjaan Rumah”?) dan tugas-tugas kelompok yang harus dikerjakan. Ditambah badan dan kaki yang pegal-pegal, gua pun berjalan seperti kakek-kakek yang lututnya goyang.

Dikarenakan gua mengendarai mobil antar-jemput ketika SMP, tidak banyak hal yang bisa gua lakukan setelah sekolah. Gua harus langsung lari ke parkiran antar jemput ketika bel sekolah berbunyi, dan ketika sampai rumah, gua mengerjakan PR dan… berlatih silat.

Suatu saat, sahabat-sahabat gua di SMP memperhatikan kenapa cara jalan gua aneh dan jari-jemari gua gemetar ketika menulis.

“Put, lu kenapa sih? Kok jalannya aneh?”

“Iya nih… Gua lagi sering latihan silat”

Didalam benak seorang bocah yang menghabiskan masa kecilnya dibacakan cerita wayang, didongengi cerita-cerita silat, dan menonton serial-serial seperti “Wiro Sableng” dan atau “Si Buta Dari Gua Hantu”, gua merasa gagah bisa cerita kalau gua pegal-pegal habis latihan silat.

Lain ceritanya ketika anak-anak Jakarta masa kini (pada jaman itu) yang menghabiskan waktunya menonton acara-acara MTV, beli barang-barang dari toko-toko macam Point Break atau Surfer Girl (kalau gua belanja, Ibu tercinta akan membawa gua ke department store lokal macam “Matahari” atau mungkin “Aneka Busana”), dan membaca novel-novel ‘teenlit’ (dimana gua akan disajikan TJERITA WAYANG oleh ayah gua yang digambar dan ditulis oleh mendiang R.A. Kosasih). Gua adalah orang aneh dimata mereka. Dan seperti yang mungkin teman-teman bayangkan, gua jadi bahan ketawaan.

“HUAHAHAHAHAH Latihan silat??? Lu bisa keluarin sinar ungu dong dari tangan lu, terus nembak batu nanti batunya pecah? HAHAHAHAHA” ~ ini mungkin mereka membuat sebuah referensi dari film-film silat yang dimata mereka itu norak.

“Ehm… Enggak sih… Tapi ya ini silat tradisional…” tukas gua dengan nada pelan tetapi pasti.

“Terus kenapa sih lu mau belajar silat gitu? Emang lu bisa apa sekarang?” ledek mereka

“Iya namanya kan juga proses latihan, enggak langsung lah hasilnya, sakitnya sekarang, tapi sehatnya nanti kedepan.” Jawab gua sambil tersenyum percaya diri.

“Tapi lu jalan sekarang kayak kakek-kakek! HAHAHAHAH”

Yap,  itulah silat dimata mereka.

Seminggu itu akhirnya berlalu, dan gua sudah sampai di akhir pekan. “Akhirnya, gua bisa latihan.” Gumam gua di dalam benak gua. Sepulang sekolah pada hari Jumat, gua langsung menggowes sepeda gua kerumah Mas Ka.

“Mas Ka!” Gua lompat dari sepeda gua, dan langsung lari masuk ke garasi Mas Ka

“Yop! Masuk Put!” Suara Mas Ka terdengar menyahut dari dalam rumah. Gua langsung stretching dan pemanasan sendiri, Mas Ka pun keluar dari rumah dan tersenyum lebar.

“Put, hari ini kita latihan sambut ya.”

“Sambut itu apaan mas? Latihan hormat gitu?” Tanya gua dengan dungu dan polos

“Haha enggak lah Put, ‘Sambut’ itu kalau di Silat Betawi, artinya sparring. Kalau kamu lagi di acara silat gitu, dan ada yang bilang ‘Mas, boleh saya sambut?’ itu artinya nantang kamu sparring. Jadi kamu ‘disambut’ sama jurus-jurusnya dia, dan kamu harus tau cara ‘menyambut’ yang baik, dan yang sopan.” Mas Ka menjelaskan dengan kalem.

“Sopan? Kok kita ditantang harus sopan mas? Orang yang nantang saja udah enggak sopan.” Gua mendadak sewot.

“Put, kalau di Silat Betawi itu, ada yang namanya ‘Lu Jual, Gua beli’. Memang kita enggak mau dan enggak boleh cari gara-gara, tapi kalau di gelanggang, itu memang sudah tempatnya kita unjuk ilmu dan cobain ilmu lain. Selain itu, Silat itu juga ada tata kramanya! Kan kamu sudah aku ajarin, kalau misalnya kuda-kuda aku merendah, kamu ikut merendah juga. Ini tuh gesture-gesture kecil yang menunjukkan kalau kamu itu pesilat yang mengerti tata krama dan orang yang santun.”

“Oh gitu ya mas. Hmm… contohnya gimana mas?”

Mas Ka pun mendekat, dia memasang kuda-kuda siap,

“Ini Put, posisiku kalau siap sambut. Kalau di silat Betawi yang ‘main’nya jarak dekat, kamu tempel tangan kamu sama tanganku.”

Gua mengerjakan apa yang Mas Ka diktekan, dan gua mencoba untuk bersikap dan memasang kuda-kuda yang sama dengan Mas ka. Kepalan Mas Ka gua tempelkan dengan kepalan kanan gua.

“Nah, ini kamu mau adu keras kalau gaya kamu kayak gini Put.” Mas Ka terkekeh.

Gua bingung, “Maksudnya gimana Mas?”

“Kamu nyodorin kepalan pas aku nyodorin kepalan. Itu artinya kamu siap melawan aku dengan keras. Kecuali kalau kamu begini…”

Mas Ka membuka kepalan tangannya, dan menyodorkan tangan terbuka dengan telapak menghadap keatas,  beliau pun mengubah posisi tubuhnya. Dada mengahadap kedepan, tangan kiri tetap menyilang dada dengan mengepalkan tangan, seakan “mempersilahkan” gua untuk memulai.

“Put, kamu coba serang aku ya, aku isi sambut dari kamu pakai langkah yang udah kita latih selama ini.” Raut Mas Ka mendadak berubah menjadi serius.

Gua deg-degan, Mas Ka seakan-akan mengubah atmosfer yang biasanya dipenuhi penuh pembelajaran dan canda tawa menjadi tenang tetapi menegangkan.

“Mas Ka, aku mesti nyerang gimana nih?” Suara gua mendadak parau dan menunjukkan betapa bingung akan apa yang harus gua lakukan. Mendengar pertanyaan gua, kuda-kuda Mas Ka merendah, beliau tidak bergeming.

Akhirnya gua melakukan apa yang Mas Ka instruksikan, gua memasang kuda-kuda siap, dan gua melontarkan sebuah pukulan ke arah dada Mas Ka. Bet! Pergelangan tangan gua dirambet, dan sikut Mas Ka sudah di depan muka gua (ya karena Mas Ka itu tinggi, dan gua pada saat itu masih setinggi pohon singkong), secara reflek, gua menepis sikutan Mas Ka, dan tiba-tiba tangan Mas Ka merambet telapak gua dan mendorong pundak gua kesamping, dan bruk! Gua kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

“Hyeh hyeeeh Putra… kaget ya? He he he he” Mas Ka terkekeh sembari membantu gua berdiri,

“Katanya mau pakai langkah yang Mas Ka latih aku, kok aku belum apa-apa jatuh duluan coba.” Gua menggerutu sambil mengusap-usap pundak.

“Nah, Put, namannya juga lagi sparring, berarti harus bereaksi dong sama sambutan yang kamu kasih. Kan setiap orang enggak pasti memukul kearah perut, ada nanti yang tiba-tiba nendang, ada yang bisa ngerambet tangan kamu duluan. Intinya, kamu harus siap dengan apa yang orang mau kasih kamu.”

Mas Ka bersiap lagi, dan gua pun memasang kuda-kuda. “Put, sekarang kamu aku serang, nah, kamu harus bisa ‘ngisi’ pakai semua yang kita udah latih ya.” Sembari berbicara, Mas Ka melancarkan pukulan dengan pelan, “Ayo, dirambet tanganku.”

Instruksi beliau gua ikuti perlahan-lahan, setiap pukulan, egosan, kuncian, berhasil gua tangani dengan langkah-langkah yang Mas Ka sudah latih gua. Tiba di suatu gerakan, dimana Mas Ka menyerukan “Tendang!” dan karena gua dulu sempat ikut olahraga Korea yang diminati anak-anak karena banyak tendangan, gua reflek menendang tinggi.

“Put! Kalau Silat Betawi jangan nendang tinggi-tinggi! Bahaya!” Mas Ka menegur gua,

“Lho, kan Mas Ka yang bilang nendang. Ya aku tendang.” Dengan lugunya gua menjawab.

“Oke, coba deh kamu tendang lagi.” Mas Ka mendadak memicikkan mata dan memberikan senyuman yang licik dan khas.

Gua tidak ragu, gua lancarkan tendangan tinggi, dan Wut! Tiba-tiba badan gua sudah terbalik! Kaki diatas, kepala dibawah, dan pinggang gua sudah dipegangi Mas ka. Posisi yang sangat ajaib ini diiringi kekeh Mas Ka yang khas. “Keh keh keeeh Puuut… kamu udah aku bilangin jangan nendang tinggi-tinggi.. Hyeh hyeeeh.”

“MAS!! INI AKU DIAPAIIIN” Suara cempreng belum pecah itu keluar lagi dari mulut gua.

Hari itu kami menghabiskan berjam-jam (sungguh!) untuk berlatih sambut, sampai di satu titik, gua sudah sangat lelah, berdiri pun goyah. Mas Ka menyuruh gua pulang untuk beristirahat, dan gua menggowes sepeda gua dengan lunglai sampai di rumah.

Sesampainya gua dirumah, pas waktunya makan malam. Ibu pun bertanya setelah melihat tampang gua yang amburadul dan kemleh-kemleh (maksud gua, lemas), “Kamu habis latihan apa tadi? Kok lemes banget?”

Gua menjawab singkat sembari berusaha mengangkat sendok nasi, “Latihan sparring Ma.”

Ayah gua tersenyum sembari mengunyah, “Oh ya? Jadi kamu sekarang udah bisa apa?”

BERSAMBUNG…

 Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

Cikal Bakal Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu

Pernah dengar tentang Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu? Mendengar nama ini untuk pertama kalinya mungkin akan membuat kita langsung teringat akan salah satu suku di Kalimantan yang beragama Hindu dan/atau Buddha. Lalu, apa hubungannya dengan Indramayu? Yuk, mari menelusuri tulisan Muhamad Handar untuk mengetahui jawabannya.

Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu merupakan sebuah komunitas. Orang luar sering menyebutnya dengan istilah “Dayak Losarang” atau “Dayak Indramayu”. Namun, sebelum membahas komunitas ini lebih lanjut. Ada baiknya kita menilik pengertian dan serba-serbi komunitas terlebih dahulu.

Konsep komunitas telah mulai memainkan peranan penting dalam penulisan sejarah pada beberapa tahun terakhir.[1] Studi tentang komunitas telah menjadi bagian antropologi dan sosiologi sejak pertengahan abad ini.

Akhir-akhir ini, para sosiologiwan dan antropologiwan mulai memandang kota sebagai kumpulan komunitas atau “kampung-kampung kota”. Antropologiwan Victor Turner, yang mengembangkan gagasan Durkheim tentang pentingnya acara-acara ‘pesta buih kreatif’ bagi pembaharuan sosial, menciptakan istilah ‘communitas’ untuk menyebut solidaritas sosial yang spontan dan tidak terstruktur (contoh-contohnya meliputi kaum Franciskan awal hingga kaum hippies). Solidaritas tentu saja bersifat sementara karena suatu kelompok informal sering bubar secara perlahan-lahan atau melebur ke dalam institusi formal. Walaupun begitu, komunitas dapat hidup kembali sewaktu-waktu di dalam institusi, berkat ritual dan acara-acara lain atas apa yang dinamakan ‘pembentukan komunitas secara simbolik’.

Ritual Adat Suku Dayak Losarang, Indramayu. (Sumber: http://danielmsy.com/dayak-losarang-indramayu/)

Menurut Benedict Anderson, misalnya faktor penting dalam penciptaan ‘komunitas yang dibayangkan’ ini adalah mundurnya agama dan tumbuhnya bahasa lokal (yang didorong oleh ‘kapitalisme cetak’. Bagi Ernest Gellner, faktor terpentingnya adalah tumbuhnya masyarakat industri, yang menciptakan keseragaman budaya yang ‘di permukaan muncul dalam bentuk nasionalisme’. (Burke, Peter. 2003: 84)

Komunitas merupakan istilah “masyarakat” yang dipakai untuk menyebut dua wujud kesatuan manusia yang menekan kepada aspek lokasi hidup dan wilayah, konsep “kelompok” yang menekan kepada aspek organisasi dan pimpinan dari suatu kesatuan manusia. Ada tiga wujud kesatuan manusia yang tidak dapat disebut “masyarakat”, karena memang tidak memenuhi ketiga unsur yang merupakan syarat dari konsep “masyarakat”, yaitu “kerumunan”, “kategori sosial”, dan “golongan sosial”. Sedangkan “perkumpulan” lazimnya juga tidak disebut demikian juga walaupun memenuhi syarat tersebut.

Nah, kembali pada Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu. Mereka dapat digolongkan sebagai salah satu contoh komunitas masyarakat karena memenuhi syarat-syarat tersebut. Komunitas tersebut tepatnya bermukim di Kampung Segandu. Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.[2] “Suku Dayak Indramayu” mulai mencuat ke permukaan sejak pernyataan mereka untuk menjadi golput (golongan putih) pada Pemilu tahun 2004 yang diungkap beberapa media massa, antara lain Harian Umum Pikiran Rakyat (Bandung) dan Radar Cirebon.

Asal usul penamaan Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu :

  • Kata “suku”, artinya kaki, yang mengandung makna bahwa setiap manusia berjalan dan berdiri di atas kaki masing-masing untuk mencapai tujuan sesuai dengan kepercayaan dan keyakinannya masing-masing.
  • Kata “dayak” berasal dari kata “ayak” atau “ngayak”  yang artinya memilih atau menyaring. Makna kata dayak disini adalah menyaring, memilih mana yang baik dan yang salah.
  • Kata “hindu” artinya kandungan atau rahim. Filosofinya adalah bahwa setiap manusia diklahirkan dari kandungan Sang Ibu (perempuan).
  • Kata “budha” berasal dari kata “wuda” yang artinya telanjang. Makna filosofisnya adalah bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan telanjang.
  • Kata “bumi segandu” yaitu, “bumi” mengandung makna wujud, “segandu” mengandung makna sekujur badan. Gabungan kedua kata tersebut “bumi segandu” mempunyai makna filosofis yaitu kekuatan hidup.
  • Kata “Indramayu” mengandung kata pengertian, “In memiliki kata “inti, ‘Darma artinya orangtua dan kata “Ayu” artinya perempuan. Makna filosofis yaitu bahwa ibu merupakan sumber hidup karena dari rahimnyalah kita semua dilahirkan.

    Suku Dayak Losarang (Sumber: http://fujiprastowo.files.wordpress.com/2012/03/dayak-losarang.jpg)

Jadi, penyebutan kata “suku” pada komunitas tersebut bukan dalam konteks terminologi suku bangsa (etnik) dalam pengertian antropologis, melainkan penyebutan istilah yang diambil dari kata-kata dalam bahasa daerah (Jawa). Demikian pula, dengan kata “dayak” bukan dalam pengertian suku bangsa (etnik) Dayak yang berada di daerah Kalimantan, kendati pun dari sisi performan ada kesamaan yakni mereka (kaum laki-laki) sama-sama tidak mengenakan baju serta mengenakan aksesoris berupa kalung dan gelang (tangan dan kaki).

Kesimpulan yang bisa diambil mengenai komunitas Suku Dayak Indramayu, yaitu :

  1. Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu merupakan sebuah komunitas independen yang tidak mengikatkan diri pada salah satu agama, organisasi, kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maupun partai politik tertentu serta organisasi kemasyarakatan.
  2. Warga komunitas ini meyakini ajaran yang diajarkan oleh pimpinan mereka, Takmat Diningrat, yang disebut dengan ajaran ‘Sajarah Alam Ngaji Rasa’. Inti dari ajaran ini mencari kebenaran melalui penyatuan diri dengan alam, pemulian terhadap lingkungan alam, pengabdian kepada keluarga, berperilaku jujur dan sabar.
  3. Istilah “Suku Dayak” yang mereka gunakan sebagai identitas kelompok ini bukanlah ‘suku’ dalam etnik (suku bangsa), melainkan sebuah istilah dalam bahasa Indramayu. Demikian pula kata ‘Dayak’ bukan dalam arti suku bangsa Dayak, melainkan pula diambil dari bahasa Indramayu yang artinya memilih/menyaring.
  4. Pemimpin kelompok ini telah mengalami banyak kekecewaan hidup yang menimbulkan sikap apatis terhadap aturan-aturan formal pemerintah maupun hak-hak sipil mereka. Sikap ini kemudian diikuti oleh para pengikutnya. Selain itu, komunitas tersebut lebih mengarah pada suatu aliran kepercayaan, ketimbang kelompok suku bangsa sebagaimana mereka mengidentifikasikan dirinya ‘Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu Indramayu’. Kesatuan dan kebersamaan mereka lebih didasari oleh keyakinan bersama akan kebenaran ajaran yang diberikan oleh pemimpin mereka kepada warganya.

 


[1]  Burke, Peter. 2003. Sejarah dan Teori Sosial. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, hal. 81


[2]  Hasil temuan wawancara bersama Nurul Hidayat (berasal dari Indramayu) dari Jurusan Sosiologi Progam Studi Pendidikan Sosiologi Tahun 2008, tertanggal 22 Desember 2011.

 

Muhamad Handar merupakan salah satu alumni Heritage Camp 2013.  Saat ini sedang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan program studi Ilmu Sosial dan Politik. Pria yang hobi menulis ini punya tiga kata kunci untuk menggambarkan dirinya: inovatif, kreatif dan cerdas. Kenal lebih jauh dengan Handar lewat blognya http://handarsmart.blogspot.com/.

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode III – “Gedik” dan “Sambut Isi”

Bab IV:  Gedik!

Tak terasa gua sudah 8 bulan berlatih bersama Mas Ka. Setiap latihan set latihan berubah, mereka menjadi lebih menantang, dan lebih banyak yang harus gua lakukan. Tetapi memang Mas Ka yang luar biasa, setiap latihan walaupun mungkin mengulang hal yang sama lagi dan lagi, gua tidak pernah bosan. Beliau selalu berhasil memancing rasa penasaran gua dan menantang gua untuk bisa lebih.

Gerakan demi gerakan diperbaiki,  tetapi dari cara Mas Ka melatih, beliau akan memberikan satu rangkaian gerakan terlebih dahulu, lalu aspek dari satu rangkaian itu akan dibedah dan dipertajam satu per satu.  Suatu kali kita berlatih, beliau sudah menambahkan lebih lagi variasi langkah silatnya. Rambet, sikut, lepas, dilanjutkan rambet, gepruk gentus, rambet patah sodok, GEDIK lancar.

Nama-namanya lucu, tetapi memang mereka dirancang sederhana dan mudah diingat. Zaman dahulu memang gerakan ini diperuntukkan untuk tarung jarak dekat yang praktis dan cepat, maka si pesilat pun harus cepat bisa. Sebutan-sebutannya pun “Betawi Banget”, gepruk gentus contohnya, sebenarnya pukulan yang dilancarkan ketika lengan lawan sudah dirambet, dan pukulan dilancarkan untuk mematahkan sendi sikut lawan dari dalam. Sederhananya, lengan lawan di’gepruk’ dan setelah itu dihantam dengan punggung kepalan kearah muka, sehingga muka lawan di’gentus’. Rambet – patah – sodok, dari rangkaian itu sudah jelas, setelah lengan lawan terkunci (diputar rambet), sikut dipatahkan dari bawah, dan titik dibawah ketiak lawan disodol (ini sakit banget lho).

Gedik. Nah, kita sudah masuk ke bagian paling penting dari Silat Tunggal Rasa. Setiap Mas Ka menggedikkan kakinya, bunyinya seperti kalau kita melemparkan atau menjatuhkan barang yang padat ke lantai: “Dug” atau “Dhum”. Sementara gedik gua bunyinya cemen, sama dengan suara kecipak air atau tepuk tangan yang keras: “Plek”.

Jengkelnya bukan main, sudah latihan hampir 9 bulan, tetapi suara gedik masih payah. “Mas, sebenarnya gedik tuh buat apa sih? Kenapa harus keras?” Mas Ka tersenyum, dan gua pun ditunjukkan sembari beliau menjelaskan.

Mas Ka mendekat,

“Gedik itu penting dan harus keras. Karena fungsinya itu begini, coba kamu deketan sini…”

Gua mendekat, dia memasang posisi siap, gua pun secara reflek begitu, dan tiba-tiba pisau kakinya sudah menekan jari-jemari kaki gua “… Coba kamu bayangin kalau aku gediknya keras, nanti bunyinya kamu ‘WUUAADOOW’ hahahahhaha.”

Gua tercengang. Gedik, begitu sederhana, begitu efektif. Menginjak kaki lawan.

“Tapi bukan itu doang, kalau nginjek kaki orang, semua juga bisa kan? Filosofinya begini…”

Mas Ka sembari menuang air minum, “Kita ini hidup dari bumi, dan nanti pada saatnya, akan kembali ke bumi untuk mengembalikan apa yang kita sudah ambil dari bumi. Gedik ini untuk mengingatkan kita kalau kita hidup di bumi ini, dan satu bentuk pernyataan diri kalau kita tetap harus menjejak bumi. Intinya, menjaga diri untuk tetap rendah hati. Selain itu, ini juga merupakan self-statement kalau kita lagi di gelanggang atau kalangan pendekar silat lain.”

Gua terdiam, sambil minum air dingin, gua berpikir. Seperti biasa, Mas Ka membaca pikiran gua lagi, “Mungkin kamu bingung kenapa gedikmu bunyinya kayak kaki bebek ya? Haha, itu sih gampang, masalah teknik saja kok. Kamu gedik jangan pakai telapak kaki lah, orang kalau diinjek pakai telapak kaki juga enggak sakit kan.” Gua mengangguk, dan Mas Ka menambahkan, “Kamu kalau mau gediknya mantep, gedik pakai pisau kakimu nih…” Beliau menunjukkan sisi pisau kaki yang digunakan.

“AHA!” Gua mendadak bersemangat, dan langsung mencoba gedik dengan teknik yang disarankan… dan bunyi yang terdengar adalah ‘duk’ pelan. Mas Ka tersenyum lebar, “Nah, itu udah mulai bagus suaranya! Tapi masih mendem yah? Hahahaha.” Gua ikut tertawa.

Latihan hari itu selesai, dan Mas Ka menutup dengan pesan yang pada saat itu gua tolak, tetapi sekarang gua terus ingat: “Kamu jangan latihan terus ya dirumah. Badan dan pikiran kamu juga perlu istirahat. Main lah sama teman-teman kamu, jalan ke mall kek, nonton anime baru kek, baca komik kek, yang penting istirahat dan enggak mikirin latihan dulu. Harus seimbang ya.” Tetapi ya begitulah anak umur 11 tahun yang keras kepala, gua cuman “Iya Mas.” Dimulut, tetapi bersikeras latihan di rumah.

Setelah minum es teh manis yang menyegarkan dan ganti baju, Mas Ka melemparkan handuk kearah muka gua dan Set! Secara reflek gua berhasil mencengkram handuk itu, menangkapnya dan menariknya dengan cepat kearah badan gua. “Hiyah! Rambetmu udah jadi tuh! Hyeheheheheh.” Mas Ka berseru sambil tertawa girang, Rambet gua sudah matang! Ternyata banyak sekali yang gua pelajari hari ini. Bersama Mas Ka pun kita berseru: “TOS!

 

Bab V: Sambut Isi

 

Setelah 9 bulan berlatih, gua merasa bisa banyak. Langkah 1 sudah lancar, jurus-jurus sudah hapal dan gerakan mulai terlihat bagus. Arahan-arahan dari Mas Ka sudah mulai bisa diikuti dengan baik, dan set latihan mulai bisa dikuasai.

Suatu saat selesai latihan, gua pulang kerumah. Setelah menikmati makan malam bersama keluarga, orangtua gua bertanya: “Jadi, kamu sudah belajar apa saja sama Mas Ka?” Gua menjelaskan panjang lebar tentang latihan, apa saja yang dilakukan pada saat latihan, langkah apa saja yang sudah dipelajari, nama-nama gerakan, gedik, rambet, semuanya.

Ayah gua yang sepak terjangnya di dunia persilatan sudah lama melegenda ini meminta gua untuk menunjukkan langkah silat yang sudah dipelajari. Dengan penuh percaya diri, gua segera menunjukkan apa yang sudah gua latih selama ini. Setelah beberapa detik bergerak, ayah berdiri dari sofa.

“Bagus tuh gerakanmu” Beliau berkata sembari melihat gerakan gua.

“Oke, Papa mau tanya deh, gerakan itu tadi buat apa ya?”

Dan gua pun terdiam. Kepala kosong, selama ini yang gua pelajari adalah gerakkan yang kosong. “Belum dikasihtahu Pa, gerakannya untuk apa.”

Ayah gua tersenyum, “Besok tanya deh ke Mas Ka, Papa jadi pengen tahu juga hehe.”

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sandeq: Sang Primadona dari Mandar

Bulan Februari 2013 lalu, desainer kondang Indonesia Ivan Gunawan mengangkat tema “Malolo” dalam acara Indonesia Fashion Week. Pada kesempatan itu untuk pertama kalinya Ia membuat gebrakan dengan memodifikasi kain tenun Mandar yang terkenal berkualitas wahid ke dalam beragam bentuk pakaian masa kini. Selain kain tenun, Mandar juga populer dengan perahu sandeq-nya. Penasaran apakah itu sandeq? Mari kita baca tulisan rekan Fitria berikut ini!

Pelayaran dengan menggunakan perahu tradisional telah berlangsung selama berabad-abad oleh nenek moyang kita di Nusantara. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya 10 relief perahu kuno di dinding Candi Borobudur. Yang pernah main ke Candi Borobudur mungkin pernah lihat. Nah, relief perahu kuno tersebut kemungkinan besar adalah jenis kapal yang digunakan oleh dinasti Sailendara dan kekaisaran bahari Sriwijaya yang menguasai perairan Nusantara pada abad ke-7 hingga ke-13. Sebagai negara yang 2/3 wilayahnya adalah laut, Indonesia memang dianugerahi banyak warisan yang berkaitan dengan maritim, salah satunya perahu tradisional.

Bagi yang bersuku Mandar ataupun yang pernah tinggal lama di pulau Sulawesi, perahu tradisional bernama sandeq mungkin sudah tidak asing di telinga. Perahu sandeq merupakan perahu bercadik khas suku Mandar yang terkenal sebagai perahu tradisional tercepat di Austronesia. Suku Mandar sebagai salah satu suku di Sulawesi Barat (dulu termasuk bagian Sulawesi Selatan) memang mempunyai budaya yang berorientasi bahari. Laut menjadi sumber kehidupan mereka. Pelras, seorang etnolog asal Prancis, dalam bukunya “The Bugis” bahkan menuliskan bahwa suku Mandar dikenal sebagai pelaut yang ulung.

Kata sandeq sendiri berarti ‘runcing’, mengacu pada haluan yang tajam dari perahu. Sandeq digunakan untuk berbagai kegiatan maritim, mulai dari memancing hingga transportasi antarpulau. Pada masa kejayaan perdagangan kopra, sandeq mengarungi 700 mil laut dari Mandar ke Bali dan Jawa Timur. Selain di dalam negeri, perahu ini telah terkenal di mancanegara. Perancis, Jepang, Malaysia, Vietnam, dan Filipina adalah beberapa negara yang pernah dijelajahinya.

Si Cantik Sandeq (Source: http://www.geocities.co.jp/SilkRoad-Desert/1367/kanko/sandeq.html)

Selama puluhan tahun, perahu sandeq telah menemani dan memungkinkan bangsa Austronesia dalam menjelajahi lautan. Desain sandeq yang berumur sekitar 3000 tahun pun menjadi warisan pembangunan perahu dan navigasi yang mampu mempengaruhi arsitektur naval Barat, seperti model kapal trimaran dan catamaran modern yang didesain seperti kapal Austronesia.

Berdasarkan buku “Orang Mandar Orang Laut” karya Muhammad Ridwan Alimuddin, nelayan Mandar mulai menggunakan perahu sandeq pada tahun1930-an. Konon, di daerah tersebut, perahu ini pertama kali dikembangkan oleh tukang perahu di Kampung Pambusuang, sebuah kampung yang terletak di pantai Teluk Mandar, sekitar 300 km di sebelah utara Makassar. Pembuatan perahu tersebut terinspirasi oleh model  salah satu perahu besar di pelabuhan Makassar kala itu. Sebelum sandeq, perahu yang biasa digunakan adalah jenis pakur yang bentuknya sekilas seperti sandeq. Perahu pakur ini menggunakan layar tanja’, layar berbentuk segiempat yang tidak bisa ditarik ataupun digulung. Karena tidak praktis, layar tersebut kemudian diganti dengan layar segitiga. Perubahan layar tersebut kemudian diikuti dengan perubahan  bentuk lambung, tiang layar, dan cadik. Nah, inilah awal mula dari perahu sandeq. Dari perubahan-perubahan tersebut kemudian terciptalah perahu sandeq yang kita kenal sekarang ini.

Menurut ukurannya, perahu sandeq terbagi dua, yaitu sandeq kecil dan besar. Perahu sandeq kecil memiliki panjang 5 m, bermuatan 1-2 orang, dan dapat mengarungi laut sejauh 1-5 km dari garis pantai, sedangkan perahu sandeq besar memiliki panjang 7-11 m, bermuatan 3-5 orang, dan dapat mengarungi laut dengan jarak yang lebih jauh.

Para Pasandeq sedang unjuk gigi di Brest, Prancis (Source: http://www.geocities.co.jp/SilkRoad-Desert/1367/kanko/sandeq.html)

Seiring berkembangnya teknologi, jumlah perahu sandeq semakin berkurang. Kehadiran sandeq memang perlahan-lahan telah tergeser oleh kehadiran perahu mesin yang lebih modern yang disebut kappal dan bodi-bodi. Kappal merupakan perahu penangkap ikan terbesar bermotor terbesar yang juga biasa disebut perahu gae karena menggunakan alat penangkap ikan yang disebut gae (pukat cincin), sedangkan bodi-bodi berukuran lebih kecil dari kappal, lebih ramping dan panjang, serta tidak bercadik.

Dalam artikel Ketika Layar Sandeq Tak (Lagi) Berkembang, (Kompas, 28 Februari 2012), diketahui bahwa di Desa Tangnga-Tangnga, hanya 60 dari 510 nelayan yang masih menggunakan sandeq. Itu pun sandeq bermesin. Sedangkan, di Pambusuang, hanya ada 30 unit sandeq dari 769 kapal bermotor yang dipakai oleh sekitar 900 nelayan. Walaupun demikian, sandeq tanpa motor tetap digunakan, terutama dalam balapan sandeq.

Seiring berjalannya waktu, lomba balap sandeq mulai diadakan, salah satunya Sandeq Race. Lomba ini dirancang oleh Horst H. Liebner, seorang peneliti ilmu maritim asal Jerman,  pada tahun 1995. Sampai sekarang, lomba ini masih diadakan dan menarik perhatian turis lokal maupun mancanegara. Pada umumnya, setiap desa memiliki kapal yang didesain khusus untuk balap dan menjadi pemenang perlombaan adalah kebanggaan pemilik perahu dan desanya. Selain untuk keperluan melaut, masyarakat di Kampung Pambusuang memang membuat sandeq untuk keperluan lomba. Pada Juli 2012 lalu, tiga perahu sandeq asal Polewali Mandar, bersama 12 awaknya mewakili Asia di festival maritim internasional di Perancis. Bangga nggak, tuh? 😀

 

Referensi:
Alimuddin, M. Ridwan. 2005. Orang Mandar Orang Laut. Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Kerin & Horst. 2001. What is a Sandeq?
Aswin Rizal Harahap, Mohamad Final Daeng, dan Nasrullah Nara. 2012. Ketika Layar Sandeq Tak (Lagi) Berkembang
Junaedi . 2012. Berwisata Sambil Belajar Tentang Perahu Sandeq