Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Dua Orang Pangeran Louis dari Makassar di Paris

Paris, ibukota fashion dunia. Paris juga tempat lahirnya sebuah revolusi besar yang menjadi sendi konsep negara modern di dunia. Paris, terima kasih atas kesuksesan seri buku Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata, juga menjadi destinasi utama mahasiswa-mahasiswa Indonesia untuk berburu ilmu pengetahuan di luar negeri. Akan tetapi tidak banyak yang mengetahui bahwa di kota Paris ini terdapat sebuah situs bersejarah tempat dimana dulu dua orang pangeran Makassar yang tumbuh besar di negeri Siam pernah disambut oleh Raja Perancis. Penulis buku “Manusia Bugis” yaitu almarhum Christian Pelras pernah membahas perihal kedua pangeran ini di majalah Archipel tahun l997, dengan judul artikel “La premiere description de Celebes-Sud en francais et la destinee remarquable de deux jeunes princes makassar dans la France de Louis XIV”.

Alkisah, Perjanjian Bongaya mengakibatkan terjadinya eksodus besar-besaran di Sulawesi Selatan. Banyak penduduk Makassar, Bugis dan Mandar yang memutuskan untuk berdiaspora keliling Nusantara karena tak sudi tunduk di bawah kekuasaan VOC. Demikian pula halnya dengan seorang bangsawa dari Gowa yang bernama Daeng Mangalle. Bersama dengan kedua orang puteranya, Daeng Ruru dan Daeng Tulolo, ia berhijrah ke negeri Siam (Thailand) yang saat itu dipimpin oleh baginda raja Phra Narai. Daeng Ruru dan Daeng Tulolo kemudian dikirim untuk bersekolah di sebuah kolese Jesuit bernama Louis Le-Grand setelah terjadi kudeta mengerikan yang dilakukan oleh orang-orang Makassar terhadap Phra Narai akibat muslihat adu domba dari orang-orang yang tidak menyukai kedekatan antara sang raja dengan kaum pendatang.

Gereja Saint Paul-Saint Louis di Paris (sumber: http://www.unjourdeplusaparis.com/en/paris-culture/visiter-eglise-saint-paul-saint-louis)

Kedua kakak beradik ini tiba di Paris dan disambut oleh Raja Louis XIV pada tahun 1687. Mereka berdua dibaptis di gereja Saint Paul-Saint Louis dan berada di bawah tanggung langsung Raja Louis XIV. Mereka berdua juga diberi nama baru yaitu Louis Pierre Macassar dan Louis Dauphin Macassar, mengikut kepada nama Raja Penguasa Istana Versailles tersebut. Tahun 1688, Pendeta Nicolas Gervaise menerbitkan sebuah buku berjudul “Description historique du Royaume Macassar” yang ditulis berdasarkan informasi yang ia terima dari kedua orang muridnya, kakak-beradik Louis berdarah Makassar serta budak asal Toraja yang ikut ke Paris. Setelah belajar Bahasa Perancis serta keagamaan di kolese Louis Le-Grand, kedua Louis kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah militer Clermont yang bergengsi. Nasib kedua kakak-beradik ini cukup cemerlang di Angkatan Laut Kerajaan Perancis. Daeng Ruru bahkan pernah berperang di Hindia Barat (kepulauan Karibia). Sayang, setelah itu tidak ada lagi kabar yang terdengar dari mereka berdua. Konon Daeng Ruru meninggal saat melaksanakan tugas di Havana sedangkan Daeng Tulolo dimakamkan di sebuah gereja bernama Louis de Brest.

Nah, jika teman-teman berkunjung ke kota Paris, jangan hanya mejeng di depan Menara Eiffel aja! Sempatkan untuk berziarah ke gereja Saint Paul-Saint Louis, tempat dimana kedua pangeran muda dari Makassar ini disambut untuk memulai kehidupan mereka di benua biru yang penuh tantangan.

Salam hangat dari “Louie” yang lain di kota Leiden!

Categories
Featured Lontara Project

Perayaan World Heritage Day 2016

Makassar World Heritage Day 2016 Empat tahun Komunitas Lontara Project memperingati Perayaan World Heritage World (Hari Pusaka Dunia). Dalam tahun keempat ini, LP mempersembahkan WHD dengan mengangkat tema Warisan Budaya Takbenda dan Konservasi yang difokuskan pada warisan dalam lingkup wilayah Sulawesi Selatan. Mari kita membangun kesadaran akan warisan nenek moyang kita yang ada di sekitar. Lihat lebih dekat, karena dari akar budaya kita kembali. Ayo turut berpartisipasi dengan daftarkan diri teman-teman segera mungkin karena kuota peserta terbatas. RM. Makassar Tempo Doeloe Jl. Bonerate No 11A Makassar (Samping gedung Societeit De Harmonie 17 April 2016, 13.00 – 17.00 wita ProgramPresentasi: Sosialisasi Warisan Budaya TakBenda, Berbagi Komunitas, Studi Kasus dan Konservasinya, Pameran Barang antik, Pertunjukan Sinrilik dan Diskusi sejarah.
Categories
101 La Galigo Featured Galigoku

Senja di Desa Lemo-Lemo

Di tengah hiruk pikuk Kota Makassar sulit bagi kita untuk menemukan cerita kehidupan warga apalagi berbaur dengan mereka untuk menemukan makna dari sebuah cerita. Cerita kehidupan warga hanya ada di pelosok-pelosok negeri. Di sanalah ada berbagai ragam kehidupan yang masih tersimpan rapi dalam setiap langkah yang berdebu. Meski perjalananku kali ini ke Bulukumba bukanlah yang pertama kalinya, perjalanan ini merupakan kesempatan pertamaku untuk hidup berbaur ditengah-tengah warga pedesaan dan belajar menemukan makna dari kehidupan mereka.

Hari itu, Jumat tanggal 27 Februari 2015, kurang lebih 30 orang berpartisipasi dalam kegiatan “ Heritage Trail: Experience Of Phinisi”. Acara ini mengajak para pemuda mengenal budaya Sulawesi Selatan dengan hidup bersama warga di desa dan melakukan konservasi warisan budaya di Dusun Kajang serta Kapal Phinisi. Hari pertama, kami berkunjung ke salah satu desa di Kabupaten Bulukumba, yaitu Desa Lemo-Lemo, kurang lebih 6 jam dari Kota Makassar. Dalam perjalanan kupandangi setiap sudut Kota Makassar yang semakin hari tenggelam dalam era modernitas. Bus yang kami tumpangi semakin menjauh, menyisakan puncak gedung-gedung yang sekali-kali terlihat dari jendela.

Dalam perjalanan , kami berbagi keceriaan dan cerita. Beberapa teman mengisahkan tentang sejarah Sulawesi Selatan, yang seolah-olah mengajak kita mengarungi masa lalu. Walau perjalanan sangat melelahkan,aku tetap berusahadan terus membuka mata agar tidak ada yang terlewati dari proyeksi alam yang jauh membentang. Panoram pun mulai memanjakan mata dan di depanku terbentang-bentang jalan lurus yang disisinya dihiasi oleh hamparan padi yang menghijau. Bus yang kami tumpangi terasa sangat kecil ketika melintasi hamparan pedesaaan yang luas ini. Dari Bulukumba, kami harus menempuh satu jam perjalanan lagi untuk menuju Desa Lemo-Lemo. Sore menjelang dan sinar matahari mulai menyelinap di antara dahan-dahan pohon. Kira-kira pukul lima lewat kami pun sampai di Desa Lemo-Lemo.

Perjalanan menuju Desa Lemo-Lemo

Malam pertama kegiatan Heritage Trail dihabiskan untuk menghibur warga Desa Lemo-Lemo, yakni memutar beberapa film dokumenter yang menceritakan ekspedisi “NKRI” dan “Penyebaran Islam di Sulawesi Barat”. Warga nampak sangat antusias menikmati tayangan tersebut seolah-olah baru pertama kalinya. Ini adalah kesempatan pertama kami dengan warga setempat untuk berbaur dan merasakan dinginnya angin malam yang bersiul membelai daun di dahan pepohonan. Nyiur daun kelapa yang tumbuh di sepanjang pantai di tengah larutnya malam membuat suasana kehidupan di Desa Lemo-Lemo semakin tenang. Cahaya pelita mengintip dari celah-celah dinding dan bising kendaraan yang menabuh gendang telinga para penduduk kota tak akan terdengar sampai disini.

Badanku terlentang diatas papan untuk beristirahat melewati malam yang panjang. Meski sebagian dari teman-teman mulai mengayuh ke alam mimpi, aku masih tetap terjaga. Muncul sejuta pertanyaan : inikah rasanya hidup di pedesaan yang jauh dari keramaian? Walau ada rasa gelisah, aku tetap berusaha untuk beristirahat untuk mempersiapkan diri esok hari.

Aku bersama anak-anak di Desa Lemo-Lemo

Hari menjelang pagi, sinar matahari menyelinap di jendela dapur. Bersama keluarga Pak Said, kami mulai sibuk menyiapkan sarapan. Pagi ini kami mempunyai kesempatan untuk belajar menggunakan peralatan dapur yang tampak sederhana, salah satunya tungku yang menggunakan kayu bakar. Bagi saya, memasak dengan menggunakan kompor tradisional sangatlah berat, tetapi bagi istri Pak Said nampak mudah saja.

Istri Pak Said menggunakan tungku kayu bakar untuk memasak

Nun jauh disana, hamparan pasir putih yang terhempas oleh ombak membuatku ingin tinggal lebih lama di Desa Lemo-Lemo. Pemandangan pagi ini memberikanku pemahaman baru tentang kehidupan karena baru kali ini aku bersentuhan langsung dengan alam. Kehidupan warga di Desa Lemo-Lemo mengajarkan banyak hal tentang kesederhanaan dan ketekunan hidup yang mereka jalani meskipun sarana di pedesaan mereka belum tersentuh oleh pembangunan.

Pengalaman yang kami rasakan di Lemo-Lemo hanyalah sebuah potongan kecil dari bagian kehidupan warga desa yang utuh. Paling tidak, jika kita pahami, terdapat sejuta makna kehidupan yang sebenarnya ketika kita mampu menyatu dengan alam dan hidup dalam kesederhanaan. 

 


Anna Asriani de Sausa
atau Anna Young Hwa, lulusan Ilmu Sejarah UNHAS 2013 yang fanatik dengan Mie Awa ini   merupakan pribadi yang heboh dan menggelegar. Kesukaannya terhadap sejarah, khususnya Sulawesi Selatan, membawanya bertemu langsung denganpara Sejarawan dan Budayawan yang tersebar di Indonesia. Anna bercita-cita untuk membangkitkan lagi kesadaran anak-anak muda akan kearifan lokal dengan bergabung menjadi Volunteer di Lontara Project. Di setiap kesempatan, Anna selalu bersemangat mengunjungi tempat-tempat baru, dan paling utama adalah mencicipi makanan khasnya. Kunjungi FBnya di : Anna Asriani De Sausa.