Categories
101 La Galigo Kareba-Kareba

Bule-Bule yang Kepincut La Galigo: B.F. Matthes

B. F. Matthes (16 Januari 1818 –  9 Oktober 1908)

Siapa sangka manuskrip La Galigo yang terlengkap di dunia ternyata diselamatkan oleh seorang misionaris dari negri Van Oranje?

Benjamin Frederik Matthes

Benjamin Frederik Matthes adalah seorang lulusan Sastra Semitik dan Teologi Universitas Leiden. Ia lulus pada tahun 1836 dengan predikat cum laude, kemudian melanjutkan pendidikannya di Seminari Lutheran, Amsterdam. Setelah tiga tahun menuntut ilmu di sana, Ia diangkat sebagai Pendeta Gereja Lutheran dan kemudian bekerja sebagai wakil direktur di N.Z.G. Rotterdam. Pada tahun 1848 Ia dianugerahi gelar doctor honoris causa dari Universitas Leiden, dan pada tahun yang sama pula Ia menikah dengan nona C. N. Engelenburg.

Awal Juli 1848 (beberapa minggu setelah pernikahannya), Ia berangkat untuk memenuhi misi mempelajari dan menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Bugis dan Makassar. Setelah berlayar selama 112 hari bersama sang istri, Ia mendarat di Batavia pada tanggal 28 Oktober 1848. Dia baru tiba di Sulawesi Selatan pada tanggal 20 Desember 1848. Untuk menjalankan misinya sebagai utusan Nederlansch Bijbelgenootschap, Ia meninggalkan tempat kediamannya di Maros menuju Pangkajene, Bungoro, Labakkang, Segeri, hingga akhirnya bertemu dengan Arung Pancana We Tenri Olle, putri Datu Tanete (Colliq Pujie). Di sanalah Ia bersahabat dengan sang ratu Tanete, mempelajari adat-istiadat Bugis dengan penuh keseriusan, serta berjuang menyalin lembar demi lembar lontaraq yang dimiliki oleh masyarakat sekitar. Selain memperhatikan unggah-ungguh di kebangsawanan Bugis, Ia juga terjun langsung mempelajari masyarakat dengan cara turun ke pasar-pasar, menonton upacara-upacara tradisional, bahkan hingga menginap di rumah penduduk.

Ia merupakan orang Barat pertama yang mempelajari bahasa dan literatur Bugis secara mendalam. Ia terpesona oleh Sureq Galigo, mendengarkan dengan penuh seksama ketika galigo dilagukan dan gigih mengumpulkan bahan-bahan mengenai epik besar yang tersebar di banyak lontaraq ini. Di dalam bukunya Ia menulis bagaimana La Galigo ini meskipun tidak pernah dikumpulkan oleh masyarakat Bugis ke dalam sebuah buku yang utuh, tetap hidup dalam kehidupan mereka sehari-hari. Perjuangannya nampak dari kesabarannya menyalin lontaraq yang tidak boleh dipinjam dari si pemilik. Selama berhari-hari Ia sanggup menghabiskan waktu dengan menyalin ulang lontaraq tersebut di atas kertas beralaskan kopor. Selama 23 tahun Ia berkeliling Sulawesi Selatan dengan diselingi oleh dua kali cuti ke Belanda tahun 1858-1861 dan 1870-1876. Pada tahun 1906 Ia meninggal dan dikebumikan di negrinya.

Cuplikan Bible berbahasa Bugis dalam Aksara Lontaraq (Bijbelgenootschap, 1893)

Tiga masterpiece Mathes yang hingga saat ini masih digunakan sebagai rujukan oleh sarjana-sarjana maupun para peneliti kebudayaan Sulawesi Selatan antara lain; Terjemahan Alkitab dalam Bahasa Makassar-Bugis tahun 1887 dan 1900,  Makassaarsche en Boegineesche Woordenboek (kamus bahasa Makassar-Bugis) serta tiga jilid Boegineesche chrestomathie (bunga rampai budaya Bugis). Jasa terbesar Matthes selain “penyelamatan” La Galigo dalam bentuk naskah yang utuh adalah usahanya membakukan aksara lontaraq dengan pola dasar segi empat guna mempermudah proses percetakan. Bentuk aksara lontaraq yang mengambil sifat sulapak eppak walasuji sebagaimana yang kita kenal hari ini sejatinya merupakan hasil prakarsa kreatif Matthes. Sebelum itu (pra abad ke-19), naskah-naskah lontaraq ditulis dalam bentuk aksara jangang-jangang (burung-burungan) yang  bentuknya sama sekali berbeda dari pola dasar sulapak eppak  namun mirip dengan aksara dari India, Kamboja dan Kawi (Jawa kuno).

Referensi:
Sewang, Ahmad. “Islamisasi Kerajaan Gowa (Abad XVI-XVII)”. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2005.
Rahim, Abdur Rahman. “Nilai-Nilai Utama Kebudayaan Bugis.” Yogyakarta: Ombak, 2011.
Universitas Hasanuddin. “La Galigo: Menelusuri Jejak Warisan Dunia.”  Kerjasama Pusat Studi La Galigo, Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora, Pusat Kegiatan Penelitian, Universitas Hasanuddin [dan] Pemerintah Daerah Kabupaten Barru, 2003

Categories
101 La Galigo Old Stuff Good Stuff

Kisah La Galigo dalam Tiga Paragraf

La Galigo Pelayaran ke Tanah Cina

Banyak yang penasaran dengan cerita yang dikisahkan dalam La Galigo. Namun berhubung tidak banyak terjemahan yang tersedia (serta belum lengkapnya usaha para ahli untuk menerjemahkan 12 volume manuskripnya), hanya sedikit yang mengetahui inti cerita naskah terpanjang di dunia ini. Di sini kami berusaha untuk merangkum ke-300.000 baris teksnya ke dalam tiga buah paragraf untuk Anda, pecinta La Galigo muda 🙂

Dahulu kala, orang Bugis memiliki kepercayaan tentang keberadaan dewa-dewi yang  mendiami tiga dimensi berbeda. Dimensi pertama ialah Boting Langiq (kerajaan langit) atau yang biasa disebut “dunia atas”. Ada Buriq Liu (kerajaan bawah laut) atau disebut juga Pérétiwi (dunia  bawah). Dimensi ketiga yang berada di antara keduanya ialah Alé kawaq, bumi yang kita tempati.

Dalam Naskah “Mula Tau” diceritakan bahwa Patotoé atau Dewa Tertinggi yang bertahta di  Boting Langiq mempunyai saudara perempuan bernama Sinauq Toja, dewi di Pérétiwi. Sinauq Toja kawin dengan Guru Ri Selleq dari Pérétiwi, sementara  Guru Ri Selleq juga mempunyai saudara perempuan bernama Datu Palinge. Datu  Palinge inilah yang menjadi istri Patotoé. Perkawinan Patotoé dengan Datu Palinge membuahkan beberapa anak. Salah satunya bernama La Togeq Langiq yang selanjutnya diutus ke bumi untuk menjadi penguasa di sana. La Togeq Langiq lebih dikenal dengan gelar Batara Guru di dalam naskah-naskah La Galigo. Batara Guru kemudian kawin dengan sepupunya dari Pérétiwi bernama Wé Nyiliq Timoq, dimana selanjutnya dari Wé Nyiliq Timoq lahirlah Batara Lattuq, ayah Sawérigading. Sawérigading inilah yang kemudian menjadi ayah I La Galigo (Nurhayati Rahman, 2006:13).

Sawérigading dikisahkan memiliki saudara kembar perempuan yang bernama Wé Tenriabéng, yang dipisahkan sejak lahir karena sebagai “Anak Kembar Emas”, ditakutkan mereka berdua akan saling jatuh cinta saat dewasa. Namun pada kenyataannya, Sawérigading bertemu dengan Wé Tenriabéng di sebuah jamuan makan tanpa sengaja, terjadilah apa yang ditakutkan selama ini. Singkat cerita, Sawérigading gagal meminang adik kandungnya sendiri karena hal itu sangat bertentangan dengan adat dan kebiasaan, dan akhirnya memutuskan berlayar menuju tanah Cina. Ditemani pengawal dan ajudan-ajudannya, Ia menemui Putri Cina bernama I Wé Cudai untuk dinikahi. Dari keseluruhan cerita, petualangan Sawérigading ke tanah Cina lah yang paling mendominasi dan menjadi topik hangat yang sering diperbincangkan oleh para peminat kisah La Galigo. Epik La Galigo adalah rangkaian cerita dari beberapa generasi keturunan Tomanurung (anak-cucu para dewa) yang berisi petualangan seru, magis, dan penuh dengan drama.