Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Perbandingan Mitos Todipanurung di Mandar dan Kisah Tomanurung Batara Guru dalam La Galigo

Mandar ialah suatu kesatuan etnis yang berada di Sulawesi Barat. Dulunya, sebelum terjadi pemekaran wilayah, Mandar bersama dengan etnis Bugis, Makassar, dan Toraja mewarnai keberagaman di Sulawesi Selatan. Meskipun secara politis Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan diberi sekat, secara historis dan kultural Mandar tetap terikat dengan “sepupu-sepupu” serumpunnya di Sulawesi Selatan. Istilah Mandar merupakan ikatan persatuan antara tujuh kerajaan di pesisir (Pitu Ba’ba’na Binanga) dan tujuh kerajaan di gunung (Pitu Ulunna Salu). Secara etnis Pitu Ulunna Salu atau yang biasa dikenal sebagai Kondosapata tergolong ke dalam grup Toraja (Mamasa dan sebagian Mamuju), sedangkan di Pitu Ba’ba’na Binanga sendiri terdapat ragam dialek serta bahasa yang berlainan. Keempat belas kekuatan ini saling melengkapi, “Sipamandar” (menguatkan) sebagai satu bangsa melalui perjanjian yang disumpahkan oleh leluhur mereka di Allewuang Batu di Luyo.  

Lontara Pattodioloang Mandar

Berbeda dengan sepupu-sepupunya seperti Bugis-Makassar dan Toraja, informasi seputar kebudayaan Mandar di internet maupun lewat buku-buku amatlah terbatas. Saya sendiri yang berdarah setengah Mandar dan seumur-umur hidup di perantauan mengetahui Mandar hanya dari cerita-cerita singkat ayah saya saja. Menyedihkannya, kosakata Bahasa Inggris dan Spanyol saya  jauh lebih kaya daripada pemahaman akan Bahasa Mandar. Yang melekat di kepala saya tentang Mandar ialah jejeran pohon kelapa di kebun keluarga di Polewali, bau peappi, perahu Sandeq, dan ilmu hitam.

Suatu hari di bulan April yang kadang basah kadang cerah, saya menikmati liburan semester dengan pulang ke Makassar dan mengunjungi Museum La Galigo di Fort Rotterdam pasca renovasi. Setelah puas berkeliling, saya dan adik Rafika Ramli memutuskan untuk iseng ke perpustakaan di pojok belakang benteng ini. Perpustakaannya bagus, sayang kurang terawat dan koleksi bukunya pun tidak begitu banyak. Ada meja tua Belanda yang masih kuat serta buku-buku sejarah dan budaya yang tergolong langka di sana.  Rak-rak bukunya di tata mengelilingi ruangan. Mata saya yang sedari tadi menelusuri judul-judul buku di rak tua nan berdebu itu seketika membelalak ketika membaca “LONTARA PATTODILOANG DI MANDAR”.

Terus terang, buat saya sebagai seorang pecinta budaya dan pendalam La Galigo, hal-hal yang berbau lontar itu fascinating. Apalagi ini lontar yang berasal dari Mandar, daerah dimana ekspresi budayanya kurang terekspos di panggung nasional. Setelah memutuskan untuk memfoto-kopi naskahnya, saya pun pulang. Salinan naskah tersebut ditransliterasi dan diterjemahkan oleh Drs. M. T. Azis Syah pada masa almarhum Prof. DR. H. A. Amiruddin masih menjabat sebagai gubernur. Naskah asli lontaraq ini ditemukan pertama kali pada tahun 1982 dalam keadaan menyedihkan karena kumal dan robek-robek sehingga banyak bagiannya yang hilang. Bentuknya bergulung, dan apabila dibentangkan panjangnya bisa sampai 30 meter! Almarhum Drs. Muhammad Salim (penerjemah dua naskah pertama La Galigo di Leiden) merupakan tokoh penting yang memiliki andil dalam menyelamatkan naskah ini. Beliau membantu memperbaiki dan mengopi naskahnya sedemikian rupa sehingga bentuknya yang tadi memanjang dapat menjadi lembaran dan diberi nomer halaman.

Lontaraq ini kemudian dilengkapi bagian-bagiannya yang hilang oleh Bapak Muhammad Salim dengan menggunakan lontaraq-lontaraq sejenis yang diolah dari kepingan lontar yang juga mulai hancur. Wah, tragis sekali ya kondisi harta karun budaya di negara kita. Dengan sabar dan telaten Bapak Muhammad Salim menyusun kembali lontaraq ini sehingga dapat dibaca (meskipun pada beberapa bagian terdapat sobekan-sobekan yang hilang dan sudah tidak dapat ditolong lagi). Usia naskah ini telah berumur lebih dari 200 tahun. Ditulis pada abad ke-18 Masehi, sebagaimana tertera dalam halaman 71 naskah: ri 26 Nopember 1800, ri 15 September 1801 dan seterusnya. Bahan tulisannya berasal dari naskah lontaraq dan tradisi lisan yang berumur jauh lebih tua lagi. Naskah ini berbahasa Mandar Pantai dan Pegunungan kuno dengan campuran Bahasa Bugis dan Makassar. Satu hal yang membuat saya terkagum-kagum dengan naskah ini ialah ditemukannya berlembar-lembar halaman berisi ilustrasi yang –bagi saya– untuk ukuran zaman itu tergolong rapi, cantik, dan luarbiasa unik! Ilustrasi-ilustrasi ini tidak hanya terletak di pinggiran atau sela-sela naskah, namun menghiasi kertas dengan penuh. Ilustrasi-ilustrasinya berhubungan dengan cerita yang dituliskan di halaman sebelum atau sesudahnya.

Ruang Perpustakaan Benteng Fort Rotterdam, Makassar

Mitos Todipanurung di Mandar

Ketika membaca foto-kopi naskah ini, khususnya pada bagian asal-muasal penghuni Mandar Pesisir dan Kondosapata, saya menemukan banyak hal menarik yang mengingatkan saya akan epos besar La Galigo. Di Passaleng Ma’duaE (Pasal Dua), dikisahkan tentang Tomanurung (lontar ini menggunakan terminologi “Todipanurung”, namun dalam terjemahan istilah yang dipakai Bapak Azis ialah Tomanurung) atau orang yang turun dari langit di daerah hulu Sungai Saddang yang menjadi nenek moyang mereka. Tomanurung ini ada dua orang; To Kombong di Bura yang berjenis kelamin laki-laki dan To Bisse di Tallang yang berjenis kelamin perempuan. Mereka menikah dan kemudian melahirkan seorang putra bernama To Banua Pong (“Orang Kampung Tua”). To Banua Pong bermukim di Rattebulawang atau Rantebulahan lalu menikah dengan sepupu sekalinya (?) dan menurunkan lima orang anak.

Kelima anak To Banua Pong ini antara lain; I Landoq Beluaq sebagai anak perempuan sulung, I Laso Keppang, I Landoq Guttuq, Usuqsabambang, dan I Paqdorang. I Landoq Beluaq secara harfiah berarti “Si Rambut Panjang”. Ia dikisahkan menikah dengan seorang bangsawan dari daerah Bone yang menelusuri sehelai rambutnya yang lepas di sungai ketika mandi. Mirip dengan dongeng Rapunzel si Putri Berambut Panjang dari Jerman, ya. Hanya saja di versi ini I Landoq Beluaq tidak dikurung oleh seorang ibu tiri yang jahat, Ia justru dibebaskan untuk menikah dengan sang pangeran lalu pergi menuju ke selatan, menjadi leluhur bangsa Makassar. Anak kedua, I Laso Keppang, berangkat ke Belawa di Luwu. I Landoq Guttuq anak perempuan lainnya pergi ke Ulu Saddang. Usuqsabambang bermukim di Karonnangan, dan yang terakhir Paqdroang tinggal di Bittuang.

Paqdorang memperisterikan seorang wanita bernama Rattebiang. Dari pasangan ini lahir empat bersaudara: I Tasudidi, Sibannangang yang menjadi leluhur orang Mamasa, anak ketiga tidak diketahui namanya namun menjadi leluhur orang Masuppu, dan anak keempat bernama I Pongkapadang yang tinggal di Gunung Mambuliling. Pongkapadang menikah dengan seorang wanita dari Sanrabone (Gowa) di Buttu Bulu. Dahulu laut hanya sampai di situ, sehingga di situlah perahu Pongkapadang berlabuh. Dalam versi Kondosapata, Pongkapadang mengembara hingga tiba di pesisir pantai Ulu Manda’, Mamuju yg kemudian menjadi wilayah kekuasaannya. Di tepi laut Ia menemukan seorang wanita asal Bugis Makassar. Wanita itu Ia angkat sebagai isteri dan Ia beri nama Torije’ne’ (Bahasa Makassar: to=manusia, ri=dari, je’ne’=air). Torije’ne’ ini kemungkinan besar adalah wanita yang dalam versi Lontara Pattodioloang disebut sebagai I Sanrabone. Dari hasil perkawinannya dengan Torije’ne’, Pongkapadang mendapat tujuh orang anak dan sebelas orang cucu, sehingga timbul ungkapan dalam Bahasa Kondosapata; Dadi Tau Pitu, Tau Sapulo Mesa. Sosok Pongkapadang inilah yang kemudian dianggap sebagai leluhur bangsa-bangsa di Sulawesi Barat, Tengah dan Selatan.

Putri-Putri Bangsawan Mandar dalam pakaian Tari Pattuduq. Sumber: Wikipedia

Todipanurung di Mandar dan Tomanurung di Bugis

Kisah di dalam Lontar Pattodioloang Mandar maupun epos besar La Galigo sama-sama berawal dari tradisi lisan yang telah ratusan tahun berkembang sebelum dituliskan. Entah, kisah mana yang terlebih dahulu muncul di tengah masyarakat. Meskipun keduanya tampak berbeda, terdapat kesamaan-kesamaan unsur yang berkembang sesuai dengan karakter kebudayaan masing-masing. Kedua kisah mengenai asal mula manusia di bumi diawali oleh kemunculan manusia-manusia supranatural dari atas langit atau dari bawah bumi (lautan).

Karakter Todipanurung yang merintis kehidupan umat manusia dalam kebudayaan Mandar ialah To Kombong Di Wura dan To Bisse di Tallang. To Kombong di Wura secara harfiah berarti “manusia yang muncul meniti buih” sedangkan To Bisse di Tallang “manusia yang keluar dari bambu”. Dari namanya, kedua karakter ini identik dengan tokoh Batara Guru dan We Nyiliq Timoq, Tomanurung dan Totompoq dalam La Galigo. Batara Guru diturunkan dari langit melalui sebilah bambu betung, sehingga kelak cucunya dinamai Sawe ri Gading (lahir dari bambu). We Nyiliq Timoq yang dimunculkan dari dalam samudera memiliki julukan To TompoE ri Busa Empong alias orang yang dimunculkan dari buih-buih lautan. Perbedaan antara kedua mitos ini terletak pada jenis kelamin karakternya. Apabila di dalam La Galigo tokoh laki-laki ialah Ia yang menetas dari bambu betung, maka di dalam versi Lontara Pattodioloang Ia justru seorang perempuan. Demikian pula ketika di dalam La Galigo tokoh yang keluar dari samudera dengan meniti buih ialah seorang perempuan, di versi Lontara Pattodioloang Ia justru berjenis kelamin laki-laki. Perlu dicatat, pada sumber naskah sejarah Mandar lainnya seperti Lontaraq Pattappingan karakter To Kombong di Wura ialah seorang laki-laki dan To Bisse di Tallang ialah seorang perempuan. Demikian pula dalam versi silsilah Mandar oleh Andi Syaiful Sinrang.

Sebagian sumber sejarah Mandar, sebagaimana yang disarikan oleh Drs. Anwar Sewang, konon menyebut sosok Pongkapadang yang dianggap sebagai leluhur orang Mandar dan Kondosapata itu bersaudara dengan Sawerigading dan We Tenri Abeng. Sureq Galigo tidak menyebutkan nama Pongkapadang sebagai saudara keduanya sepanjang cerita, akan tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa saudara yang dimaksud di sini bisa berarti putra Batara Lattuq dari perempuan lain selain permaisurinya, We Datu Sengngeng. Bisa jadi Pongkapadang disebut dengan nama lain sesuai karakter penamaan Bugis. Melalui trah “manusia yang menetas dari bambu betung” dan “manusia yang muncul dari busa-busa di lautan” inilah generasi maddara-takku menyemarakkan bumi dengan peradaban dan sistem-sistem nilai.

Hal yang menarik dari mitos Todipanurung ialah; pasca masa-masa chaotic yang dikenal dengan periode sianre bale tauwwe, bermunculan banyak Tomanurung di berbagai daerah di Sulawesi Selatan. Ada Mata Si LompoE di Bone, Putri Tammalate dan Karaeng Bajo di Gowa, Guru ri Selleng di Enrekang, dan lain sebagainya. Akan tetapi, di daerah Mandar sepanjang sejarahnya hanya ada Tomanurung yang mengikat seluruh etnis di Pitu Ba’ba’na Binanga dan Pitu Ulunna Salu; To Kombong di Wura dan To Bisse di Tallang. Tomanurung ini mampir ke muka bumi hanya untuk memulai kehidupan dan membuka jalan menuju peradaban. Sisanya, keturunan mereka yang dibekali leadership dan kemampuan luar biasa lah yang menjadi pemimpin (tomakaka, maraqdia) di tengah masyarakat. Contohnya seperti Pongkapadang, To Lombeng Susu, Maraqdia Todilaling, Tomepayung, dan lain sebagainya.

Siti KDI dalam balutan Baju Pokkoq, busana khas Mandar

Sebenarnya ada sosok Tomanurung lain dalam kebudayaan Mandar, seperti Putri Tonisesse di Tingalor. Akan tetapi, Ia tidak dapat digolongkan ke dalam kategori Tomanurung yang sengaja turun untuk membina umat manusia. Tonisesse di Tingalor merupakan putri seorang dewa yang jatuh terpeleset dari tangga langit ketika tengah berlatih menari untuk upacara kahyangan. Ia terjatuh ke bumi dan turun menuju lautan, namun diselamatkan oleh seekor ikan hiu besar (Bahasa Mandar: Tingalor) dengan cara ditelan. Seorang nelayan di daerah Pamboang berhasil menangkap ikan hiu tersebut dan mendengar ada suara perempuan yang sedang bernyanyi dari dalam perut ikan.

Ketika dibelah, Ia menemukan sang putri yang sedang duduk dalam pakaian kahyangan lengkap. Hingga saat ini bangsawan di Pamboang masih menyimpan bakkar (anting-anting) dan kuku-kuku hias yang berasal dari sang putri sebagai pusaka. Sang putri di bawa kepada raja Pamboang lalu dinikahkan dengan putra mahkota. Pernikahan tersebut dikaruniai seorang putra. Sebagai seorang penghuni kahyangan, Tonisesse di Tingalor memiliki pantangan untuk bernyanyi dihadapan manusia biasa. Suatu hari Ia tengah bernyanyi untuk bayinya, sang suami datang dan meminta sang putri bernyanyi pula untuk dirinya. Meskipun telah ditolak, sang suami tetap memaksa. Dengan berat hati, Tonisesse di Tingalor lalu bernyanyi dari dalam sarung yang ujung-ujungnya terikat karena takut akan dijemput pulang ke Boting Langiq. Ternyata benar, setelah Ia mulai bernyanyi untuk suaminya, celah kecil di atap rumah mereka membuka dan tiba-tiba Tonisesse di Tingalor melayang ke angkasa. Dengan penuh tangis Ia terbang kembali ke kahyangan. Gerakan Tonisesse di Tingalor ketika terbang kembali ke kahyangan itulah yang menjadi asal mula Tari Pattuduq Mandar.

Kesamaan budaya antara Mandar, Bugis, Makassar, dan Toraja memang amat menarik untuk dikaji. Tidak hanya dari segi mitos, namun juga dari bahasa, pakaian, motif-motif lokal, serta adat-istiadat. Perbedaan yang ada antara keempat etnis serumpun ini janganlah dijadikan sebagai penghalang untuk saling mengerti, menghargai, dan belajar. Keunikan budaya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat dapat menjadi aset besar demi kemajuan Indonesia di masa mendatang. Saya bangga sebagai seorang putra daerah dengan campuran darah Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, bahkan Jawa dan Melayu. Karena dengan mengakui, menjaga serta mengkaji semuanya tanpa membeda-bedakan, saya dapat menjadi orang Indonesia sesungguhnya.

Malilu sipakaingaq, raqbaq sipatokkong, tuppang sipakalewa, manus siparappe (lupa sama mengingatkan, runtuh sama membangunkan, tenggelam sama mengapungkan, hanyut sama mendaratkan)!

 

Referensi:
Andi Syaiful Sinrang, 1980, Mengenal Mandar Sekilas Lintas, Penerbit Tipalayo Polemaju.
Drs. M. T. Azis Syah, 1993, Lontarak Pattodioloang di Mandar Jilid I, Taruna Remaja, Ujung Pandang.
Muhammad Ridwan Alimuddin, http://www.radar-sulbar.com/feature/lombeng-susu-dan-banua-batang/, diakses pada tanggal 3 Juli 2012.
http://mamasa-online.blogspot.com/
http://mustarimula.blogspot.com/2010/10/entografi-budaya-masyarakat-mandar.html
http://putra-mandar.web.id/artikel/sejarah-lahirnya-kondosapata-3.html

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Mencari Cina untuk We Cudai – Part II

 Setelah pada tulisan sebelumnya team kami menyoroti kemungkinan lokasi Ale Cina = Tiongkok berdasarkan Riwayat Kelantan dan arah pelayaran Sawerigading, di tulisan kali ini kami akan memaparkan bukti-bukti lainnya. Stereotype kebangsaan, mitos lokal, serta peninggalan sejarah di Selayar ternyata menyajikan bukti-bukti mengejutkan terkait lokasi negri Cina.

  • Stereotype We Cudai Terhadap Sawerigading

“Tuanku, aku tak menyembunyikan perasaanku, aku tak ingin menjadi milik orang Luwu, seketiduran dengan orang Bajo dan satu sarung dengan orang yang bukan senegeriku: I Mettang, I Menrokoli dari negeri Selayar itu. Orang yang dipenuhi badannya bulu dan kumisnya panjang yang dapat membakar seluruh badannya, apabila berkata-kata ucapannya terputus-putus, tak jelas apa yang diucapkannya, tak terdengar apa yang dibicarakannya, tak teratur makannya, tak ditenun sarung dan pakaiannya, tak terlihat asap apinya, tak disaksikan tanah tempat kelahirannya, makanan di kampungnya hanyalah ular.” (Naskah X halaman 39)

“Dengarlah kataku, We Tenriesang! Jika engkau yang menginginkan orang Luwu itu, maka engkau sajalah yang kawin dengan Mettang dan Menrokoli itu. apabila rumah tanggamu telah baik maka tinggalkanlah suamimu itu. Kelak apabila perkawinanmu telah baik maka pilihlah malam tertentu untuk pindah ke tempat orang Wangkang itu. Apabila harta bendanya yang kau inginkan maka janganlah aku ini yang engkau susahkan.” (Naskah X halaman 75)

Apa yang Anda bayangkan ketika membaca dialog berisi penolakan We Cudai terhadap lamaran Sawerigading di atas? We Cudai yang belum pernah bertemu langsung dengan Sawerigading termakan oleh desas-desus dari dayang-dayangnya tentang perawakan orang-orang Luwu. Tidak hanya itu, We Cudai juga menyebut suku bangsa Bajo dan Selayar yang berasal dari daratan Sulawesi secara derogatif, serta menegaskan status mereka sebagai orang Wangkang (perahu). Jika benar Ale Cina terletak di Sulawesi Selatan, bagaimana mungkin penghuni Ale Cina memiliki gambaran yang kabur serta memandang rendah bangsa sesamanya?

Figurin gadis pemusik dari era Dinasti Tang. Sumber: http://english.cri.cn/6566/2009/04/03/1301s471106.htm

Terlepas dari penggalan kisah yang memaparkan bagaimana Settia Bonga –dengan penuh kekesalan karena dikalahkan Sawerigading– memerintahkan nelayan-nelayan di sekitar Ale Cina untuk menyebarkan desas-desus negatif mengenai Pangeran Luwu ini, teks La Galigo menyajikan fakta bahwa kedua negri yang terpisahkan oleh samudera raya sebenarnya tidak saling kenal satu sama lain. Lazimnya, stereotype kesukuan yang sifatnya negatif melekat kepada orang-orang asing dari daerah yang tidak diketahui. Hal ini akan menjadi masuk akal ketika Ale Cina berlokasi jauh dari Ale Luwu, dan kedua daerah tersebut terdiri atas penduduk dengan kebangsaan yang berbeda. Dialog di atas wajar dilontarkan oleh seorang putri raja jika kerajaan Annam kita anggap sebagai Ale Cina. Karena telah ratusan tahun berada di bawah kekuasaan Dinasti Tang yang berperadaban maju, masyarakat Annam memandang rendah orang-orang berperahu dari kepulauan Melayu.

Asumsi belaka kah dugaan stereotype penduduk Annam kepada bangsa Luwu? Ada bukti sejarah menarik mengenai cara pandang penduduk Cina pada zaman Dinasti Tang terhadap orang-orang kepulauan nusantara. Berikut ini kutipan dari buku Ancient China karangan Edward Schafer, terbit tahun 1970 oleh penerbit Time Inc., Belanda;

“The few Chinese traders who braved these remote waters in foreign ships became accustomed to the black and malicious (as they thought) faces of the Indonesians.” (Beberapa pedagang Cina yang cukup berani untuk melayari perairan terpencil ini dengan menggunakan perahu-perahu asing menjadi terbiasa terhadap (dalam bayangan mereka) orang-orang hitam dan barbar dari Indonesia).

“The dark-skinned, wavy-haired men of Cambodia and Malaya were called “ghosts”, “goblins”, and “demons” in some Tang books.” (Orang berkulit hitam dan berambut ikal dari Kamboja dan Malaya dijuluki “hantu”, “siluman”, dan “setan” di dalam beberapa buku zaman Dinasti Tang).

Secara gamblang buku ini menyajikan fakta mengenai kehidupan masyarakat Cina dan jajahannya di abad ke-8 Masehi. Uraian di dalam buku Schaffer amat sesuai dengan ejekan We Cudai yang dialognya diabadikan dalam naskah La Galigo. Bagi seorang bangsawan seperti We Cudai memiliki stereotype buruk terhadap pendatang dari kepulauan nusantara amatlah masuk akal, karena pada zamannya seperti itulah masyarakat memandang mereka.

  • Kondisi Budaya Annam dan Mitos “Tomanurung”

Hingga hari ini, seorang bangsawan atau raja di Sulawesi Selatan harus dapat merunut silsilah leluhur mereka ke tokoh-tokoh yang namanya termaktub dalam epos La Galigo atau kepada sosok manusia gaib yang disebut sebagai Tomanurung. Siapakah Tomanurung ini? Tidak ada yang tahu pasti, karena kemunculan mereka pun tiba-tiba. Yang jelas para Tomanurung ini muncul beruntun pada berbagai wilayah di Sulawesi Selatan di abad ke-15 Masehi. Mereka dianggap sebagai keturunan dewa yang mewujudkan diri di bumi untuk membangun peradaban manusia. Wah, mirip dengan hipotesis ilmuwan Barat yang mengatakan bahwa manusia dipandu oleh alien atau makhluk asing dari langit untuk membangun peradaban ya!

Ragam hias kuno yang menunjukkan bentuk peralihan dari buaya menjadi naga pada fragmen tanah liat di Bac Ninh, Vietnam. Sumber: http://vnexplore.net/index.php?news=33/

Batara Guru, sebagai keturunan dewa sekaligus manusia pertama di muka bumi memiliki nama asli La Togeq Langiq, yang terjemahannya berarti “Sang Putra Langit”. Sebagai putra sulung dari pasangan Datu PatotoE dan Datu Palingeq, Ia yang paling bijaksana sekaligus paling mumpuni kesaktiannya. Para penguasa Annam juga memiliki gelar serupa. Mereka mengadopsi abisheka kaisar-kaisar Cina kuno yang menganggap diri mereka keturunan dewa. Raja-raja Annam menggelari diri mereka sebagai “Tianzi” alias Son of Heaven. Dengan kata lain, raja-raja Annam di Indocina mempercayai bahwa diri mereka pun keturunan Tomanurung, atau orang-orang langit. Hal ini tidak terlepas dari kepercayaan lokal mereka mengenai asal-muasal bangsa Yuwana.

Alkisah, samudera yang luas membentang di bumi ini dikuasai oleh ras naga. Seorang raja naga yang bernama Lac Long Quan memunculkan dirinya ke atas daratan dan jatuh cinta dengan seorang wanita (bidadari) yang turun dari kerajaan langit, Au Co. Pernikahan Lac Long Quan dan Au Co ini menghasilkan 100 orang putra, dimana 50 di antaranya berkuasa di pegunungan sedangkan 50 sisanya berkuasa atas lautan. Putra tertua mereka menjadi raja pertama di tanah Annam yang terletak di delta Sungai Merah sekarang ini.

Ilustrasi Loc Long Quan, Au Co, dan putra mereka Raja Hung. Sumber: http://holiday.yeudoi.net/2010/11/gio-to-hung-vuong-103-am-lich.html

Mitos Annam di atas mengandung unsur-unsur yang sama dengan riwayat asal mula manusia di Sulawesi Selatan. Batara Guru yang berasal dari langit turun ke bumi dan menikah dengan We Nyiliq Timoq yang berasal dari Peretiwi. Dewa-dewa penghuni Peretiwi ketika akan muncul ke permukaan bumi biasanya mengambil penyamaran (larukodo) dalam bentuk buaya. Buaya sebagai penguasa air juga dikenal pada mitos-mitos kuno Annam, hanya saja ketika pengaruh Cina masuk, sosok buaya digantikan oleh naga. Dari keturunan Batara Guru & We Nyiliq Timoq lahirlah raja-raja yang memerintah di atas dunia (bahkan hingga Senrijawa dan Maccapaiq).

  • Mitos Nekara Kembar dan Kebudayaan Dongson

Di Selayar, terdapat sebuah nekara raksasa yang memiliki hiasan kodok serta diukir dengan ornamen-ornamen berbentuk gajah, burung, pohon sirih, dan ikan. Gong yang terbuat dari logam ini dipercaya sebagai nekara terbesar sekaligus tertua di dunia. Ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang petani pada tahun 1686, sejak saat itulah nekara ini dijadikan sebagai arayang atau pusaka kerajaan Bontobangun. Legenda lokal mempercayai bahwa nekara tersebut dibawa oleh Sawerigading ke Selayar. Nekara tersebut juga diyakini memiliki pasangan di negri Cina, “istri”-nya, yaitu nekara Ngoc Lu di Hanoi, Vietnam.

Nekara Selayar. Sumber: Wikipedia

Nekara dengan karakteristik yang ada di Pulau Selayar tersebut digolongkan sebagai model Heger I. Persebaran nekara di Indonesia mengikuti jalur perdagangan laut yang ditempuh sebelum tahun Masehi, mulai dari Tanah Melayu hingga ke Papua. Nekara-nekara tersebut dipercaya dibuat antara tahun 500 sampai 100 SM di Vietnam Utara atau Cina Selatan. Pembuatan nekara berkembang pesat seiring dengan kebangkitan Kebudayaan Dongson di delta Sungai Merah (Annam kuno) sekitar tahun 1000 SM hingga 1 SM. Masyarakat Dongson tergolong sebagai bangsa Austronesia yang hidup melalui pertanian dan peternakan. Mereka juga terkenal sebagai pelaut ulung yang mengarungi Laut Cina Selatan. Kemahiran masyarakat Dongson dalam mengolah perunggu nampak dari beranekaragamnya perkakas mereka yang terbuat dari logam.

Apabila kita mengaitkan mitos lokal mengenai nekara Sawerigading dengan bukti-bukti sejarah kebudayaan Dongson, maka anggapan bahwa Ale Cina terletak di Indocina menjadi semakin kuat. Hubungan melalui laut antara Luwu dan Annam dengan Selayar sebagai pulau transit menjelaskan kehadiran nekara raksasa buatan Vietnam di sana. Bukankah pelaut-pelaut tangguh Sawerigading yang mendayung Welenrenge berasal dari Selayar dan Waniaga (Bira)? Jika Ale Cina terletak di Pammana, lantas bagaimana relevansi kesejarahan nekara Sawerigading yang jelas-jelas dibuat di Dongson itu?

Nekara Ngoc Lu, Vietnam. Sumber: Wikipedia

Selain dugaan di atas, ada pula usaha untuk mengaitkan gong nekara Selayar dengan Genderang Manurung yang disebut-sebut di dalam teks La Galigo. Genderang Manurung atau Genderang Emas (Genrang Mpulaweng) ini diturunkan oleh Dewata dari langit, kemudian diangkut ke dalam kapal Sawerigading. Genderang Manurung ditabuh sebagai tanda peringatan, metode komunikasi, maupun untuk keperluan upacara adat. Nekara yang dikait-kaitkan dengan Sawerigading merupakan satu-satunya bentuk alat musik pukul yang sesuai dengan gambaran mengenai Genderang Manurung ini. Nekara ini juga dianggap sakral, dipercaya memiliki kekuatan magis sehingga identik dengan peran Genderang Manurung anugerah dari langit.

Setelah membaca penjelasan-penjelasan dari team kami, apakah Sobat Lontara sudah dapat menyimpulkan dimana letak negri Cina-nya Putri We Cudai? Untuk masing-masing teori, tidak ada yang 100% betul-betul yakin. Apakah benar area di sekitar Danau Tempe merupakan lokasi yang dituju oleh Sang Pangeran Luwu? Atau negri Annam yang subur dan berbukit-bukit di Indocina sana? Kepingan puzzle terakhir untuk melengkapi jawaban-jawaban di atas belum dapat ditemukan hingga saat ini.

Kisah-kisah yang tertuang dalam La Galigo pun banyak yang menganggapnya sebagai dongeng semata, tidak usah dibuktikan kesejarahannya karena tidak pernah benar-benar terjadi. Anakroniksme muncul ketika kita membicarakan lokasi daerah-daerah yang disebut di dalam teksnya. Demikian pula terhadap perkiraan kurun waktu terjadinya peristiwa-peristiwa yang dikisahkan. Namun, epos besar ini menyimpan gambaran akan cara pandang leluhur kita terhadap kehidupan. Mereka memiliki cara sendiri dalam memandang dunia. Dengan membaca, menelaah, serta melestarikan La Galigo, kita telah menghidupkan kembali warisan dari nenek moyang yang jaraknya terpisah ribuan tahun. Entah benar pernah terjadi atau tidak, sejarah dan kisah-kisah masa lalu adalah pembelajaran berharga untuk mereka yang hidup di masa depan.

 

Referensi:
Ancient China, Edward Schafer. Time Inc. Nederland. 1970.
Cinta, Laut dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo, Nurhayati Rahman.La Galigo Press. 2006.
La Galigo, Dul Abdul Rahman. Diva Press. 2012.
La Galigo ( Episode Mutiara Tompoq Tikkaq), Idwar Anwar. Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Sulawesi Selatan dan Tenggara. 2004.
La Galigo Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia. Pusat Studi La Galigo Universitas Hasanuddin. 2003.
Manusia Bugis, Christian Pelras. Penerbit Nalar. 2006.

Categories
101 La Galigo Featured Old Stuff Good Stuff

Mencari Cina untuk We Cudai – Part I

 Sobat Lontara yang pernah membaca cuplikan epos besar La Galigo pasti kenal dengan tokoh yang satu ini. I We Cudai alias Daeng Risompa, putri bungsu dari raja Ale Cina adalah seorang wanita yang amat cantik namun tinggi hati. Ulahnya menolak lamaran Pangeran Sawerigading dari Ale Luwu menimbulkan banyak sekali masalah, bahkan Ia tega membiarkan kerajaan Cina terbakar oleh api. Dimanakah sebenarnya letak negri Cina tempat Putri We Cudail? Apakah Cina yang dimaksud merupakan nama sebuah daerah di Sulawesi Selatan atau  justru –sesuai kepercayaan awam– merujuk kepada negri Tiongkok di Asia Daratan?

Gambaran Robert Wilson terhadap Putri We Cudai pada pementasan teater I La Galigo. Sumber: http://sriqadariatin.wordpress.com/

Para penulis dan peneliti sejarah lokal mayoritas sepakat untuk ‘meletakkan’ Ale Cina pada sebuah wilayah di sekitar semenanjung Sulawesi Selatan. Menurut tradisi setempat, kerajaan Ale Cina yang terbagi dua itu berada di sebelah timur Teluk Bone dan di sebelah barat lembah Cenrana. Istana La Tanete tempat Putri We Cudai bersemayam terletak di situs bukit Allangkanangnge ri La Tanete (Pammana, Wajo Selatan). Dataran rendah yang subur ini diyakini sebagai tanah air Suku Bugis (Tana Ugiq), yang namanya diambil dari Opunna Cina (ayah We Cudai), La Sattumpugiq. Penemuan-penemuan benda-benda bersejarah mengindikasikan bahwa wilayah tersebut mulai dihuni dan berperadaban sekitar tahun 1200-1400 Masehi. Setelah itu, tingkat kepentingan wilayah ini mulai menurun dan akhirnya ditinggalkan sama sekali pada abad ke-17.

Peristiwa-peristiwa dalam kisah La Galigo, oleh Christian Pelras, dianggap terjadi pada periode peralihan antara “zaman perunggu-besi” (bronze-iron age), waktu penduduk mungkin masih berpuak-puak, hingga zaman sejarah yang kita kenal berdasarkan naskah lontaraq attorioloang. Rentang waktu yang entah kapan dimulainya tersebut berakhir ketika Sulawesi Selatan memasuki zaman kerajaan. Pelras mengosongkan sama sekali periode antara prasejarah hingga abad ke-15 dan meyakini bahwa sumber-sumber cerita lisan maupun tulisan La Galigo terjadi pada kurun waktu tersebut. Umur temuan arkeologis di Allangkanangnge ri La Tanete dianggap sesuai dengan kronologis sejarah, karena tepat setelah tahun 1400-an kerajaan-kerajaan yang disebut di dalam La Galigo (ex: Luwu, Cina) kehilangan pengaruh seiring bermunculannya kerajaan-kerajaan Bugis yang lebih muda (Bone, Soppeng, Wajo). Bukti berupa nama, penyebutannya di dalam lontaraq, serta artefak-artefak kuno dianggap cukup membuat Pammana sebagai lokasi kerajaan Ale Cina.

Menariknya, ada sebagian penggemar konspirasi yang ‘meletakkan’ negri Ale Cina di Asia Daratan. Tak puas dengan teori “Cina = Pammana”, mereka menghubung-hubungkannya dengan peninggalan-peninggalan kebudayaan logam (nekara, kapak corong) dan jalur perdagangan laut. Fakta bahwa Sulawesi Selatan merupakan salah satu provinsi yang menjadi pusat penemuan keramik Cina kuno terbesar di Indonesia tentunya menarik; hubungan seperti apakah yang terjalin antara daerah ini dengan negri Sang Putra Langit nun jauh di sana? Hmmm… membuat penasaran ya? Katanya, kebudayaan logam bangsa Indonesia dibawa oleh orang-orang Austronesia dari Cina Bawah (Yunnan) kemudian menyebar ke kepulauan nusantara. Adakah kaitannya dengan We Cudai dan asal-usul penghuni Sulawesi Selatan?

Team kami menghimpun beberapa alasan mengapa “Cina”-nya Putri We Cudai seharusnya terletak di Asia Daratan, bukan di semenanjung Sulawesi Selatan. Tidak berarti kemudian kami melawan teori Cina = Pammana lho, kami hanya sekedar bertujuan untuk memberikan balancing opinion. Yuk, simak satu per satu!

  • Riwayat Kelantan tentang Suwira Gading dan Negri Annam

Riwayat Kelantan memegang kunci penting sebagai patokan kita dalam menentukan lokasi geografis Ale Cina serta prakiraan zaman berlangsungnya “Abad La Galigo”. Data yang kami dapat ini bersumber dari tulisan Abdullah Nakula, seorang sejarawan Melayu yang membedah riwayat Kelantan. Riwayat Kelantan mengisahkan seorang panglima bernama Suwira Gading yang bersama dengan Raja Dewa Muda Anak Tok Raja Jawa (Raja Sanjaya) berlayar menuju Giao Chi (ibukota Annam, sekarang menjadi kota Hanoi) untuk memerangi orang-orang Cina. Bangsa Yuwana mendiami Annam, negara yang kini bernama Vietnam. Selama berabad-abad Annam menjadi bagian dari provinsi sebelah selatan kekaisaran Tang dan mengalami Cinaisasi dari segi kebudayaan. Bangsa Yuwana sengaja memanggil bantuan Suwira Gading dan Sanjaya untuk membebaskan mereka dari bayang-bayang Kekaisaran Tang.

Koleksi Keramik Cina Kuno yang tersimpan di Museum Balla Lompoa, Gowa

Sekitar tahun 760 dan 762 Masehi, dua kali Ngo Sri Voung Ngan duta dari Annam datang menghadap ke Medang Bhumi (Kelantan). Dihadapan Sri Vijayandraraja Ia memohon bantuan tentara untuk membebaskan negri mereka. Menurut Abdullah Nakula negri Annam inilah yang kemudian dilambangkan dengan Putri We Cudai. Selama lima tahun diatur siasat untuk membebaskan Putri We Cudai dari penjajahan Cina, hingga kemudian pada tahun 767 berangkatlah pasukan yang dipimpin oleh Sanjaya dari Jawa, Sang Satiaki Satirta dan Suwira Gading. Beberapa bulan sebelum keberangkatan, sejumlah pasukan dari Laos dan berbagai wilayah di Kepulauan Melayu lainnya turut pula menggabungkan diri dalam barisan.

Kemudian dikisahkan pula bagaimana 3.000 orang tentara menyamar sebagai pedagang dan berlayar menggunakan perahu perdagangan ke kota Giao Chi. Pada malam hari mereka keluar dari tempat persembunyian dan bersama dengan bangsa Yuwana menyerang tentara Cina. Prajurit lainnya menyusul dengan berlayar di atas 5.700 kapal, mereka diibaratkan berlayar dalam formasi yang bentuknya bagaikan deretan pulau yang bergerak menuju ke Timur. Rombongan kapal tersebut menyeberangi Teluk Serendah Sekebun Bunga (Teluk Siam) terus menuju ke kota Giao Chi. Disebutkan pula kehadiran prajurit bergajah dan berkuda yang muncul dari arah pegunungan menuju ke ibukota. Pertempuran berlangsung dengan dahsyat, hingga pada akhirnya ibukota Gioa Chi jatuh setelah berperang selama enam bulan.

Riwayat Kelantan merupakan salah satu tradisi yang menyebutkan nama tokoh Sawerigading dan lokasi Ale Cina dengan pasti. Berita penyerangan ini pun dimuat di dalam beberapa kronik penjelajah, seperti yang dicatat oleh Abu Zaid Hasan pada tahun 774 dan 787 Masehi. Jika pendapat di atas benar, maka Ale Cina pastilah berada di negri Annam, dan pelayaran Sawerigading terjadi sekitar abad ke-8 ketika Annam masih menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Dinasti Tang.

Periode sejarah tersebut bersamaan dengan kebangkitan kerajaan Sriwijaya (Senrijawa dalam La Galigo) di Sumatera Selatan. Prasasti Ligor di Semenanjung Melayu menjadi bukti bahwa Sriwijaya berkuasa atas wilayah itu hingga tahun 775 Masehi. Ligor dijadikan pangkalan untuk menyerang Kamboja dan Campa. Kekuasaan Sriwijaya di Semenanjung Melayu kelak dipatahkan oleh tentara Mataram Kuno dari Bhumi Jawa, yang diisyaratkan dengan kehadiran Raja Sanjaya oleh riwayat Kelantan. Penaklukkan Melayu dan Campa oleh Raja Sanjaya dengan bantuan Suwira Gading diabadikan pula dalam Carita Parahyangan, naskah Sunda Kuno dari abad ke-16.

  • Rute Pelayaran Sawerigading ke Negri Cina

Mari sama-sama kita perhatikan rute pelayaran Sawerigading ke Ale Cina! Sumber rekonstruksi rute ini diambil dari buku Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo karya Prof. Nurhayati Rahman.

Rekonstruksi Perjalanan Sawerigading ke Negri Cina. Gambar oleh Maria Yohana Kristyadewi

Sawerigading yang bergelar Opunna Wareq sudah terbiasa berlayar, menjelajahi berbagai macam negri dan pulau di nusantara, bahkan hingga ke Majeng (negri kematian). Sawerigading berangkat dari Ale Luwuq dengan perahu raksasa Welenrenge beserta banyak perahu pengiring lainnya. Kurang lebih lima belas malam setelah meninggalkan Ale Luwuq, rombongan Sawerigading bertemu dengan perompak Banynyaq Paguling dari Maccapaiq (Majapahit?). Tujuh hari kemudian rombongan mereka bertemu dengan La Tupu Soloq To Apunge, sembilan malam kemudian dengan La Tuppu Gellang (berperang selama 3 malam), tiga hari kemudian bertemu La Togeq Tana, sembilan malam kemudian bertemu La Tenripula, sembilan malam kemudian bertemu La Tenrinyiwiq To Malaka, dan puluhan malam kemudian bertemu dengan Settia Bonga Lompeng Ri Jawa Wolio (Buton).

Setelah berhasil mengalahkan seluruh musuhnya, tujuh malam kemudian Sawerigading dan rombongannya mendarat di negri Wewang Nriwuq, yang lokasinya berada di Teluk Mandar/Selat Makassar. Wewang Nriwuq merupakan salah satu dari trio kerajaan Manurung di muka bumi, dengan Tejjoq Risompa sebagai pemegang kedatuannya. Secara geografis kerajaan ini berada di sebuah teluk besar sebelah barat Ale Luwu, sebagaimana Tompoq Tikkaq berkuasa atas sebelah timurnya. Tejjoq Risompa yang tiada lain ialah paman Sawerigading menyambut kemenakannya tersebut dengan senang hati. Sawerigading kemudian melanjutkan pelayaran hingga Ia bertemu dengan I La Pewajoq yang baik hati, sang penguasa Pao (Davao, Filipina Selatan).

Letak Aleluwu dan Alecina Menurut Teori Pammana

Berdasarkan deskripsi I La Pewajoq, Ale Cina ternyata masih nun jauh di sana letaknya! Kerajaan tersebut diapit oleh negri Sabbang Mparu dan Baebunta. Sawerigading masih harus berlayar berpuluh malam lagi hingga bertemu samudera, berhadapan dengan “perempatan” yang terbentuk oleh belahan arus sungai di laut, hingga Ia menemukan sungai yang banyak ditumbuhi oleh pohon asana. Itulah Ale Cina.

Perjalanan ke Ale Cina memakan waktu yang lama karena luarbiasa jauh jaraknya. Dapat dibayangkan, jika kita berpegang teguh dengan teori yang mengatakan bahwa Cina terletak di Pammana, Kab. Wajo sekarang ini, maka pelayaran Sawerigading di atas hanya perjalanan fiktif belaka mengingat jarak pelayaran dari Luwu ke Pammana tidaklah sejauh gambaran tersebut. Meskipun cerita La Galigo memiliki beragam versi, namun perjalanan panjang  dari Ale Luwu menuju ke Ale Cina sudah mengendap dalam imajinasi masyarakat Bugis klasik. Episode ini merupakan peristiwa sentral karena menggambarkan kesengsaraan Sawerigading menggapai cintanya yang jauh di ujung samudera.

Tahta Kerajaan Annam. Sumber: http://www.royalark.net/Vietnam/annam.htm

Ada beberapa hal menarik yang terungkap melalui pelayaran Sawerigading. Pertama; dari Luwu Ia berlayar ke selatan, lalu merubah haluannya (setelah melalui Selat Selayar) ke utara hingga akhirnya mendarat di Wewang Nriwuq (Teluk Mandar). Sebelum sampai di Barat (baca: Wewang Nriwuq) Ia sudah mengalahkan tujuh penguasa laut dari berbagai daerah yang berlayar di Teluk Bone (di antaranya bajak laut Jawa, Malaka, dan Buton). Dari sana Ia mengarungi Selat Makassar menuju utara, sampai bertemu dengan kapal penguasa Davao di Laut Sulawesi. Perjumpaan dengan penguasa Davao yang letaknya di pulau Mindanao ini mengindikasikan bahwa Sawerigading melanjutkan pelayaranannya ke arah utara.

Kedua; setelah mendapatkan arahan mengenai lokasi Ale Cina, Sawerigading terus berlayar sampai menemukan daerah berbukit-bukit namun subur serta di dalamnya mengalir sungai-sungai dengan banyak pohon asana. Asana (Pterocarpus indicus) alias kayu narra merupakan sejenis pohon kayu yang endemik di kawasan hutan hujan tropis. Tumbuhan ini dapat ditemukan mulai dari Burma selatan, Kamboja, kepulauan Asia Tenggara, Pasifik barat, bahkan hingga Cina selatan. Daerah Annam (Indocina) sampai hari ini pun masih kaya dengan kayu yang kuat dan awet sebagai bahan furnitur ini. Kayu narra banyak digunakan sebagai bahan untuk membuat alat musik dan konstruksi bangunan. Kerajaan Cina yang terkenal dengan ukiran-ukiran serta kemampuan mereka di bidang arsitektur menjadikan provinsi Annam sebagai gudang alam yang berlimpah kayu narra.

Ketiga, perihal kondisi alam Annam. Berdasarkan data terbaru (2011) dari Index Mundi terkait geografi Vietnam, 40% wilayah negara ini terdiri atas perbukitan, 42% terdiri atas hutan tropis, dan sisanya adalah dataran rendah. Bagian utara negri ini (yang berbatasan dengan Cina) terdiri dari dataran tinggi dan delta Sungai Merah (Song Hong). Sungai Mekong yang terkenal itupun juga mengaliri bumi Vietnam, dari utara ke selatan. Ale Cina yang dialiri oleh tujuh sungai dan daratannya terdiri atas negri berbukit-bukit indah sempurna sekali untuk diletakkan di Annam. Lebar Sungai Merah di Vietnam amat sangat memungkinkan digunakan sebagai tempat pelabuhan internasional yang ramai dikunjungi oleh berbagai macam pedagang dari mancanegara.

Logika arah pelayaran Sawerigading menuju barat-utara serta informasi mengenai spesies tumbuhan dan bentang alam Annam ternyata 90% cocok dengan deskripsi tentang Ale Cina di dalam naskah La Galigo! 

Selanjutnya… Mencari Cina untuk We Cudai – Part II