Seorang warga Panakkukang yang sedang belajar hukum dan sejarah di Universiteit Leiden, Belanda. Sedari kecil sudah sering berpindah-pindah, dari Pulau Timor hingga Athens (Ohio, Amerika Serikat). Saat ini ia juga menjadi Guest Researcher di Royal Netherlands Institute of Southeast Asian & Carribean Studies (KITLV) Leiden. Punya hobi jalan-jalan, membaca buku dan karaoke.
World Heritage Day akan diselenggarakan secara serentak di beberapa titik di Indonesia. Yogyakarta menjadi salah satu titik perayaannya. Kegiatan ini digagas oleh Lontara Project bersama alumni Heritage Camp 2013. kami percaya bahwa remaja adalah agen konservasi pusaka yang paling tepat, karena pengalaman dan daya kreatif mereka sangat tinggi. Oleh karena itu, kami mengajak teman-teman baik individu maupun komunitas untuk bergabung dalam acara ini. acara ini merupakan wujud sosialisasi kami kepada seluruh warga Yogyakarta tentang perlunya perhatian terhadap pusaka yang notabene memiliki tuntunan untuk mengadvokasi tatanan hidup masyarakat. Dalam World Heritage Day yang akan kami gelar nanti, akan ada parade buadaya. para partisipan akan menggunakan baju adat, atau baju yang menggambarkan Indonesia, kemudian akan berjalan di sepanjang jalan Malioboro. berawal dari jalan abu abakar ali dan berakhir di benteng Vredeberg. di Benteng nantinya akan ada flashmob dan pentas budaya yang diisi dari beberapa komunitas seni.
Venue: Kedai Buku Jenny, Perumahan Budi Daya Permai Waktu: 18 April 2013, 04.00 PM – selesai Judul Acara: OBRAK! (Obrolan Pusaka)
Deskripsi kegiatan: Diskusi ringan mengenai pusaka yang ada di sekitar kamu. Pusaka (heritage) sesuai definisi yang dianut oleh Balai Pelestari Pusaka Indonesia mencakup tiga aspek: pusaka budaya (ragawi, non-ragawi), pusaka alam dan pusaka saujana (kesatuan kondisi alam dan manusia di sekitar lingkungan situs). Diharapkan melalui diskusi ini dapat semakin memperluas perspektif kita semua akan pentingya melestarikan pusaka sebagai warisan leluhur bangsa. Diskusi akan diselingi oleh pemutaran kondisi situs pusaka Makam We Tenri Dio di Selayar serta pusaka Gong Nekara terbesar di dunia yang kurang dijaga. Akan ada penampilan musik akustik dari personil HILITE yang akan membawakan lagu dari La Galigo Music Project.
What you should bring: untuk meramaikan diskusi, yuk bawa foto pusaka yang kamu punya! Dapat berupa benda yang memiliki sejarah di keluarga kamu, atau foto-foto situs yang pernah kamu kunjungi. Bersama-sama kita akan mendiskusikan apa peran pusaka tersebut, masalah yang tengah dihadapinya, serta solusi yang bisa kita aplikasikan untuk melestarikannya.
Twitter CP: @hey_louie
WORLD HERITAGE DAY di JAKARTA
Bidik Misi UNJ presents: Walau Berbeda, Kita Tetap Satu Ayo sama-sama peringati hari pusaka dan situs se-dunia “World Heritage Day 2013” di Kampus Hijau kita dengan memakai Batik pada tanggal 18 April 2013.
Spesial Kota Tua Jakarta: Flashmob, diskusi bersama Lontara Project dan alumni Heritage Camp 2013, dan Jelajah Malam
Twitter CP: @pu3simatupang
WORLD HERITAGE DAY di SAMARINDA
Kegiatan akan terpusat di Kota Samarinda dan mencoba bekerja sama dengan organisasi Junior Chamber International (JCI) Kaltim dalam pelaksanaannya. kegiatan yang akan dilaksanakan adalah 1. Lomba mewarnai gambar Ukiran Dayak Untuk Anak PAUD tujuannya : menanamkan rasa cinta kebudayaan lokal secara dini 2. Jelajah Kampung Bugis Wajo “Cikal Bakal Kota Samarinda” 3. Pentas Seni di Tepian Sungai Mahakam bersama Komunitas-komunitas yang ada di Samarinda
Twitter CP: @adityakurniad
Rangkaian WORLD HERITAGE DAY di BANDUNG
7 April 2013: “Painting Session” at Car Free Day, Dago
14 April 2013: World Heritage Campaign at Car Free Day, Dago
18 April 2013: Online publication rangkaian acara WHD di Bandung
Setelah 9 bulan berlatih, gua merasa bisa banyak. Langkah 1 sudah lancar, jurus-jurus sudah hapal dan gerakan mulai terlihat bagus. Arahan-arahan dari Mas Ka sudah mulai bisa diikuti dengan baik, dan set latihan mulai bisa dikuasai
Suatu saat selesai latihan, gua pulang kerumah. Setelah menikmati makan malam bersama keluarga, orangtua gua bertanya: “Jadi, kamu sudah belajar apa saja sama Mas Ka?” Gua menjelaskan panjang lebar tentang latihan, apa saja yang dilakukan pada saat latihan, langkah apa saja yang sudah dipelajari, nama-nama gerakan, gedik, rambet, semuanya.
Ayah gua yang sepak terjangnya di dunia persilatan sudah lama melegenda ini meminta gua untuk menunjukkan langkah silat yang sudah dipelajari. Dengan penuh percaya diri, gua segera menunjukkan apa yang sudah gua latih selama ini. Setelah beberapa detik bergerak, ayah berdiri dari sofa.
“Bagus tuh gerakanmu,”bBeliau berkata sembari melihat gerakan gua. “Oke, Papa mau tanya deh, gerakan itu tadi buat apa ya?”
Dan gua pun terdiam. Kepala kosong, selama ini yang gua pelajari adalah gerakkan yang kosong. “Belum dikasih tahu Pa, gerakannya untuk apa.”
Ayah gua tersenyum, “Besok tanya deh ke Mas Ka, Papa jadi pengen tahu juga hehe.”
“Aduh, masih hari Jumat depan latihannya” gua ngedumel dalam benak gua, dan gua harus menghadapi sekolah selama seminggu kedepan. Baiklah, tidak apa, gua harus sabar menunggu, karena beberapa penantian itu memang nikmat.
Seminggu itu sekolah berlalu SANGAT lambat. Banyak sekali PS (bagi teman-teman yang membaca dan kelahiran 1990 – 1993 pasti tahu kalau PS itu bukan “Plaza Senayan”, atau “Playstation”, melainkan “Pekerjaan Sekolah”), PR (yang ini tahu kan kalau “Pekerjaan Rumah”?) dan tugas-tugas kelompok yang harus dikerjakan. Ditambah badan dan kaki yang pegal-pegal, gua pun berjalan seperti kakek-kakek yang lututnya goyang.
Dikarenakan gua mengendarai mobil antar-jemput ketika SMP, tidak banyak hal yang bisa gua lakukan setelah sekolah. Gua harus langsung lari ke parkiran antar jemput ketika bel sekolah berbunyi, dan ketika sampai rumah, gua mengerjakan PR dan… berlatih silat.
Suatu saat, sahabat-sahabat gua di SMP memperhatikan kenapa cara jalan gua aneh dan jari-jemari gua gemetar ketika menulis.
“Put, lu kenapa sih? Kok jalannya aneh?”
“Iya nih… Gua lagi sering latihan silat”
Didalam benak seorang bocah yang menghabiskan masa kecilnya dibacakan cerita wayang, didongengi cerita-cerita silat, dan menonton serial-serial seperti “Wiro Sableng” dan atau “Si Buta Dari Gua Hantu”, gua merasa gagah bisa cerita kalau gua pegal-pegal habis latihan silat.
Lain ceritanya ketika anak-anak Jakarta masa kini (pada jaman itu) yang menghabiskan waktunya menonton acara-acara MTV, beli barang-barang dari toko-toko macam Point Break atau Surfer Girl (kalau gua belanja, Ibu tercinta akan membawa gua ke department store lokal macam “Matahari” atau mungkin “Aneka Busana”), dan membaca novel-novel ‘teenlit’ (dimana gua akan disajikan TJERITA WAYANG oleh ayah gua yang digambar dan ditulis oleh mendiang R.A. Kosasih). Gua adalah orang aneh dimata mereka. Dan seperti yang mungkin teman-teman bayangkan, gua jadi bahan ketawaan.
“HUAHAHAHAHAH Latihan silat??? Lu bisa keluarin sinar ungu dong dari tangan lu, terus nembak batu nanti batunya pecah? HAHAHAHAHA” ~ ini mungkin mereka membuat sebuah referensi dari film-film silat yang dimata mereka itu norak.
“Ehm… Enggak sih… Tapi ya ini silat tradisional…” tukas gua dengan nada pelan tetapi pasti.
“Terus kenapa sih lu mau belajar silat gitu? Emang lu bisa apa sekarang?” ledek mereka
“Iya namanya kan juga proses latihan, enggak langsung lah hasilnya, sakitnya sekarang, tapi sehatnya nanti kedepan.” Jawab gua sambil tersenyum percaya diri.
“Tapi lu jalan sekarang kayak kakek-kakek! HAHAHAHAH”
Yap, itulah silat dimata mereka.
Seminggu itu akhirnya berlalu, dan gua sudah sampai di akhir pekan. “Akhirnya, gua bisa latihan.” Gumam gua di dalam benak gua. Sepulang sekolah pada hari Jumat, gua langsung menggowes sepeda gua kerumah Mas Ka.
“Mas Ka!” Gua lompat dari sepeda gua, dan langsung lari masuk ke garasi Mas Ka
“Yop! Masuk Put!” Suara Mas Ka terdengar menyahut dari dalam rumah. Gua langsung stretching dan pemanasan sendiri, Mas Ka pun keluar dari rumah dan tersenyum lebar.
“Put, hari ini kita latihan sambut ya.”
“Sambut itu apaan mas? Latihan hormat gitu?” Tanya gua dengan dungu dan polos
“Haha enggak lah Put, ‘Sambut’ itu kalau di Silat Betawi, artinya sparring. Kalau kamu lagi di acara silat gitu, dan ada yang bilang ‘Mas, boleh saya sambut?’ itu artinya nantang kamu sparring. Jadi kamu ‘disambut’ sama jurus-jurusnya dia, dan kamu harus tau cara ‘menyambut’ yang baik, dan yang sopan.” Mas Ka menjelaskan dengan kalem.
“Sopan? Kok kita ditantang harus sopan mas? Orang yang nantang saja udah enggak sopan.” Gua mendadak sewot.
“Put, kalau di Silat Betawi itu, ada yang namanya ‘Lu Jual, Gua beli’. Memang kita enggak mau dan enggak boleh cari gara-gara, tapi kalau di gelanggang, itu memang sudah tempatnya kita unjuk ilmu dan cobain ilmu lain. Selain itu, Silat itu juga ada tata kramanya! Kan kamu sudah aku ajarin, kalau misalnya kuda-kuda aku merendah, kamu ikut merendah juga. Ini tuh gesture-gesture kecil yang menunjukkan kalau kamu itu pesilat yang mengerti tata krama dan orang yang santun.”
“Oh gitu ya mas. Hmm… contohnya gimana mas?”
Mas Ka pun mendekat, dia memasang kuda-kuda siap,
“Ini Put, posisiku kalau siap sambut. Kalau di silat Betawi yang ‘main’nya jarak dekat, kamu tempel tangan kamu sama tanganku.”
Gua mengerjakan apa yang Mas Ka diktekan, dan gua mencoba untuk bersikap dan memasang kuda-kuda yang sama dengan Mas ka. Kepalan Mas Ka gua tempelkan dengan kepalan kanan gua.
“Nah, ini kamu mau adu keras kalau gaya kamu kayak gini Put.” Mas Ka terkekeh.
Gua bingung, “Maksudnya gimana Mas?”
“Kamu nyodorin kepalan pas aku nyodorin kepalan. Itu artinya kamu siap melawan aku dengan keras. Kecuali kalau kamu begini…”
Mas Ka membuka kepalan tangannya, dan menyodorkan tangan terbuka dengan telapak menghadap keatas, beliau pun mengubah posisi tubuhnya. Dada mengahadap kedepan, tangan kiri tetap menyilang dada dengan mengepalkan tangan, seakan “mempersilahkan” gua untuk memulai.
“Put, kamu coba serang aku ya, aku isi sambut dari kamu pakai langkah yang udah kita latih selama ini.” Raut Mas Ka mendadak berubah menjadi serius.
Gua deg-degan, Mas Ka seakan-akan mengubah atmosfer yang biasanya dipenuhi penuh pembelajaran dan canda tawa menjadi tenang tetapi menegangkan.
“Mas Ka, aku mesti nyerang gimana nih?” Suara gua mendadak parau dan menunjukkan betapa bingung akan apa yang harus gua lakukan. Mendengar pertanyaan gua, kuda-kuda Mas Ka merendah, beliau tidak bergeming.
Akhirnya gua melakukan apa yang Mas Ka instruksikan, gua memasang kuda-kuda siap, dan gua melontarkan sebuah pukulan ke arah dada Mas Ka. Bet! Pergelangan tangan gua dirambet, dan sikut Mas Ka sudah di depan muka gua (ya karena Mas Ka itu tinggi, dan gua pada saat itu masih setinggi pohon singkong), secara reflek, gua menepis sikutan Mas Ka, dan tiba-tiba tangan Mas Ka merambet telapak gua dan mendorong pundak gua kesamping, dan bruk! Gua kehilangan keseimbangan dan terjatuh.
“Hyeh hyeeeh Putra… kaget ya? He he he he” Mas Ka terkekeh sembari membantu gua berdiri,
“Katanya mau pakai langkah yang Mas Ka latih aku, kok aku belum apa-apa jatuh duluan coba.” Gua menggerutu sambil mengusap-usap pundak.
“Nah, Put, namannya juga lagi sparring, berarti harus bereaksi dong sama sambutan yang kamu kasih. Kan setiap orang enggak pasti memukul kearah perut, ada nanti yang tiba-tiba nendang, ada yang bisa ngerambet tangan kamu duluan. Intinya, kamu harus siap dengan apa yang orang mau kasih kamu.”
Mas Ka bersiap lagi, dan gua pun memasang kuda-kuda. “Put, sekarang kamu aku serang, nah, kamu harus bisa ‘ngisi’ pakai semua yang kita udah latih ya.” Sembari berbicara, Mas Ka melancarkan pukulan dengan pelan, “Ayo, dirambet tanganku.”
Instruksi beliau gua ikuti perlahan-lahan, setiap pukulan, egosan, kuncian, berhasil gua tangani dengan langkah-langkah yang Mas Ka sudah latih gua. Tiba di suatu gerakan, dimana Mas Ka menyerukan “Tendang!” dan karena gua dulu sempat ikut olahraga Korea yang diminati anak-anak karena banyak tendangan, gua reflek menendang tinggi.
“Put! Kalau Silat Betawi jangan nendang tinggi-tinggi! Bahaya!” Mas Ka menegur gua,
“Lho, kan Mas Ka yang bilang nendang. Ya aku tendang.” Dengan lugunya gua menjawab.
“Oke, coba deh kamu tendang lagi.” Mas Ka mendadak memicikkan mata dan memberikan senyuman yang licik dan khas.
Gua tidak ragu, gua lancarkan tendangan tinggi, dan Wut! Tiba-tiba badan gua sudah terbalik! Kaki diatas, kepala dibawah, dan pinggang gua sudah dipegangi Mas ka. Posisi yang sangat ajaib ini diiringi kekeh Mas Ka yang khas. “Keh keh keeeh Puuut… kamu udah aku bilangin jangan nendang tinggi-tinggi.. Hyeh hyeeeh.”
“MAS!! INI AKU DIAPAIIIN” Suara cempreng belum pecah itu keluar lagi dari mulut gua.
Hari itu kami menghabiskan berjam-jam (sungguh!) untuk berlatih sambut, sampai di satu titik, gua sudah sangat lelah, berdiri pun goyah. Mas Ka menyuruh gua pulang untuk beristirahat, dan gua menggowes sepeda gua dengan lunglai sampai di rumah.
Sesampainya gua dirumah, pas waktunya makan malam. Ibu pun bertanya setelah melihat tampang gua yang amburadul dan kemleh-kemleh (maksud gua, lemas), “Kamu habis latihan apa tadi? Kok lemes banget?”
Ayah gua tersenyum sembari mengunyah, “Oh ya? Jadi kamu sekarang udah bisa apa?”
BERSAMBUNG…
Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.
Tak terasa gua sudah 8 bulan berlatih bersama Mas Ka. Setiap latihan set latihan berubah, mereka menjadi lebih menantang, dan lebih banyak yang harus gua lakukan. Tetapi memang Mas Ka yang luar biasa, setiap latihan walaupun mungkin mengulang hal yang sama lagi dan lagi, gua tidak pernah bosan. Beliau selalu berhasil memancing rasa penasaran gua dan menantang gua untuk bisa lebih.
Gerakan demi gerakan diperbaiki, tetapi dari cara Mas Ka melatih, beliau akan memberikan satu rangkaian gerakan terlebih dahulu, lalu aspek dari satu rangkaian itu akan dibedah dan dipertajam satu per satu. Suatu kali kita berlatih, beliau sudah menambahkan lebih lagi variasi langkah silatnya. Rambet, sikut, lepas, dilanjutkan rambet, gepruk gentus, rambet patah sodok, GEDIK lancar.
Nama-namanya lucu, tetapi memang mereka dirancang sederhana dan mudah diingat. Zaman dahulu memang gerakan ini diperuntukkan untuk tarung jarak dekat yang praktis dan cepat, maka si pesilat pun harus cepat bisa. Sebutan-sebutannya pun “Betawi Banget”, gepruk gentus contohnya, sebenarnya pukulan yang dilancarkan ketika lengan lawan sudah dirambet, dan pukulan dilancarkan untuk mematahkan sendi sikut lawan dari dalam. Sederhananya, lengan lawan di’gepruk’ dan setelah itu dihantam dengan punggung kepalan kearah muka, sehingga muka lawan di’gentus’. Rambet – patah – sodok, dari rangkaian itu sudah jelas, setelah lengan lawan terkunci (diputar rambet), sikut dipatahkan dari bawah, dan titik dibawah ketiak lawan disodol (ini sakit banget lho).
Gedik. Nah, kita sudah masuk ke bagian paling penting dari Silat Tunggal Rasa. Setiap Mas Ka menggedikkan kakinya, bunyinya seperti kalau kita melemparkan atau menjatuhkan barang yang padat ke lantai: “Dug” atau “Dhum”. Sementara gedik gua bunyinya cemen, sama dengan suara kecipak air atau tepuk tangan yang keras: “Plek”.
Jengkelnya bukan main, sudah latihan hampir 9 bulan, tetapi suara gedik masih payah. “Mas, sebenarnya gedik tuh buat apa sih? Kenapa harus keras?” Mas Ka tersenyum, dan gua pun ditunjukkan sembari beliau menjelaskan.
Mas Ka mendekat,
“Gedik itu penting dan harus keras. Karena fungsinya itu begini, coba kamu deketan sini…”
Gua mendekat, dia memasang posisi siap, gua pun secara reflek begitu, dan tiba-tiba pisau kakinya sudah menekan jari-jemari kaki gua “… Coba kamu bayangin kalau aku gediknya keras, nanti bunyinya kamu ‘WUUAADOOW’ hahahahhaha.”
Gua tercengang. Gedik, begitu sederhana, begitu efektif. Menginjak kaki lawan.
“Tapi bukan itu doang, kalau nginjek kaki orang, semua juga bisa kan? Filosofinya begini…”
Mas Ka sembari menuang air minum, “Kita ini hidup dari bumi, dan nanti pada saatnya, akan kembali ke bumi untuk mengembalikan apa yang kita sudah ambil dari bumi. Gedik ini untuk mengingatkan kita kalau kita hidup di bumi ini, dan satu bentuk pernyataan diri kalau kita tetap harus menjejak bumi. Intinya, menjaga diri untuk tetap rendah hati. Selain itu, ini juga merupakan self-statement kalau kita lagi di gelanggang atau kalangan pendekar silat lain.”
Gua terdiam, sambil minum air dingin, gua berpikir. Seperti biasa, Mas Ka membaca pikiran gua lagi, “Mungkin kamu bingung kenapa gedikmu bunyinya kayak kaki bebek ya? Haha, itu sih gampang, masalah teknik saja kok. Kamu gedik jangan pakai telapak kaki lah, orang kalau diinjek pakai telapak kaki juga enggak sakit kan.” Gua mengangguk, dan Mas Ka menambahkan, “Kamu kalau mau gediknya mantep, gedik pakai pisau kakimu nih…” Beliau menunjukkan sisi pisau kaki yang digunakan.
“AHA!” Gua mendadak bersemangat, dan langsung mencoba gedik dengan teknik yang disarankan… dan bunyi yang terdengar adalah ‘duk’ pelan. Mas Ka tersenyum lebar, “Nah, itu udah mulai bagus suaranya! Tapi masih mendem yah? Hahahaha.” Gua ikut tertawa.
Latihan hari itu selesai, dan Mas Ka menutup dengan pesan yang pada saat itu gua tolak, tetapi sekarang gua terus ingat: “Kamu jangan latihan terus ya dirumah. Badan dan pikiran kamu juga perlu istirahat. Main lah sama teman-teman kamu, jalan ke mall kek, nonton anime baru kek, baca komik kek, yang penting istirahat dan enggak mikirin latihan dulu. Harus seimbang ya.” Tetapi ya begitulah anak umur 11 tahun yang keras kepala, gua cuman “Iya Mas.” Dimulut, tetapi bersikeras latihan di rumah.
Setelah minum es teh manis yang menyegarkan dan ganti baju, Mas Ka melemparkan handuk kearah muka gua dan Set! Secara reflek gua berhasil mencengkram handuk itu, menangkapnya dan menariknya dengan cepat kearah badan gua. “Hiyah! Rambetmu udah jadi tuh! Hyeheheheheh.” Mas Ka berseru sambil tertawa girang, Rambet gua sudah matang! Ternyata banyak sekali yang gua pelajari hari ini. Bersama Mas Ka pun kita berseru: “TOS!
Bab V: Sambut Isi
Setelah 9 bulan berlatih, gua merasa bisa banyak. Langkah 1 sudah lancar, jurus-jurus sudah hapal dan gerakan mulai terlihat bagus. Arahan-arahan dari Mas Ka sudah mulai bisa diikuti dengan baik, dan set latihan mulai bisa dikuasai.
Suatu saat selesai latihan, gua pulang kerumah. Setelah menikmati makan malam bersama keluarga, orangtua gua bertanya: “Jadi, kamu sudah belajar apa saja sama Mas Ka?” Gua menjelaskan panjang lebar tentang latihan, apa saja yang dilakukan pada saat latihan, langkah apa saja yang sudah dipelajari, nama-nama gerakan, gedik, rambet, semuanya.
Ayah gua yang sepak terjangnya di dunia persilatan sudah lama melegenda ini meminta gua untuk menunjukkan langkah silat yang sudah dipelajari. Dengan penuh percaya diri, gua segera menunjukkan apa yang sudah gua latih selama ini. Setelah beberapa detik bergerak, ayah berdiri dari sofa.
“Bagus tuh gerakanmu” Beliau berkata sembari melihat gerakan gua.
“Oke, Papa mau tanya deh, gerakan itu tadi buat apa ya?”
Dan gua pun terdiam. Kepala kosong, selama ini yang gua pelajari adalah gerakkan yang kosong. “Belum dikasihtahu Pa, gerakannya untuk apa.”
Ayah gua tersenyum, “Besok tanya deh ke Mas Ka, Papa jadi pengen tahu juga hehe.”
Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.