New Year Gift from La Galigo: a free wallpaper!
Selamat tahun baru 2012! Tanpa watermark, semoga kalian suka ^^
*Klik gambarnya untuk original size
“ciccing rakkileq ri abéona Palingéqé, mattali ulu wennang sokori.”
… cincin kilat di sebelah kiri milik Palingé, memakai tutup kepala benang bersulam. (Nurhayati Rahman, 2006:224)*
Sawérigading adalah tokoh utama yang terdapat di dalam naskah meskipun bukan sebagai tokoh yang paling banyak berperan dalam mengisi alur dari awal hingga akhir. Tapi dialah awal segala penyebab terjadinya semua peristiwa dan kejadian, yang menyebabkan bergeraknya alur secara dinamis, sejak awal sampai akhir.
Ia merupakan sosok pribadi Bugis yang mempunyai watak yang berdimensi ganda, yakni cinta dan dendam, benci dan sayang, tegar dan cengeng, lembut dan kasar, halus dan keras. Sejauh mana sifat dan karakter tersebut mengejawantah dalam diri pribadinya, bergantung dari rangsangan-rangsangan yang diterimanya dari luar. Ia tidak mengenal kompromi, hanya ada dua pilihan hitam dan putih.
Secara fisik, Sawérigading tidak terlalu banyak digambarkan dan disinggung oleh pengarang (Nurhayati Rahman), kecuali sebagai seorang tokoh yang besar, sebagai tanda kebesarannya ia selalu menggunakan pakaian kebesaran raja yang semua terbuat dari emas, berupa payung kebesaran yang terbuat dari emas, cincin emas yang semuanya turun dari langit dibawa oleh leluhurnya; di pinggangnya selalu melekat keris emas sebagai simbol keberanian dan kejantanan.
Ekspresi kejantanan itu mendapatkan spirit dari empat sifat yang melekat dalam diri pribadinya, yakni 1) Getteng (teguh pendirian), 2) Warani (berani), 3) Lempuq (jujur), dan 4) Macca (pintar).
*Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.
Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.
PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!
“… La Pangoriseng dan La Temmalureng, kemudian mengenakan pula pakaian kebesarannya, sarung sutera dengan sulaman bulan emas, yang di tepi bagian atasnya bersuji benang emas lima kati, dan tujuh kati bawahnya. Bajunya berasal dari negeri Timor. Gelang berurat keramat dari Boting Langiq melekat kokoh pada lengannya. Keris emas dari Rualetté yang terselip pada ikat pinggang kain sutera dari Uluwongeng, menambah keperkasaan kedua orang kepercayaan Batara Lattuq itu.” (Idwar Anwar, 2004:110)*
Seperti halnya La Pangoriseng dan La Temmalureng merupakan orang kepercayaan Batara Lattuq, La Pananrang juga merupakan sosok paling dekat dengan Sawérigading.
La Pananrang adalah pengawal yang paling dekat dengan Sawérigading dan masih sepupu sekali dengannya. Seperti halnya dengan Sawérigading di dalam diri La Pananrang, juga mengalir darah dewa, meskipun tidak seasli dan semurni dengan Sawérigading. Namun, akibat dari keturunan dewa juga berimplikasi pada tindakannya. Ia merupakan sosok manusia yang disamping memiliki sifat kedewaan juga memiliki sifat kemanusiaan. Sifat kedewaannya antara lain : mampu menghidupkan orang mati. Sementara sifat kemanusiaannya sangat halus dan lembut, arif dan bijaksana.
Sebagai penasehat, fungsinya khusus mendampingi raja saat raja sedang menghadapi persoalan sulit dan akan mengambil keputusan. Disini ia hadir penuh kearifan untuk memberikan pertimbangan-pertimbangan yang baik dan benar. Dalam menghadapi musuh, ia pulalah yang selalu tampil ke depan untuk bernegosiasi dengan musuh, pengetahuannya sangat luas dan mendalam, dan nasehat-nasehatnya sangat filosofis.
Salah satu sifatnya yang menonjol adalah lemah-lembut, bertutur kata halus, dan selalu memusyawarahkan segala sesuatu keputusan yang akan diambil.**
*Anwar, Idwar. 2004. La Galigo (Episode Mutiara Tompoq Tikkaq). Makassar: Jarahnitra.
**Rahman, Nurhayati. 2006. Cinta, Laut, dan Kekuasaan Dalam Epos La Galigo (Episode Pelayaran Sawérigading ke Tanah Cina: Perspektif Filologi dan Semiotik. Makassar: La Galigo Press.
Dikutip dari Landasan Teori BAB II, Tugas Akhir “Ilustrasi Karakter Utama Naskah La Galigo Episode SSLTC”, Maharani Budi, STISI-Telkom Bandung, 2011.
PS : Kalau page/gambar/teks ini mau kamu salin ke blog/web lain, jangan asal copas, cantumkan sumbernya! Tolong hargai karya dan usaha tim kami. Tanggungjawab dimulai dari diri kamu sendiri, oke!