Categories
Cerita Silat Bersambung Galigoku

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode III – “Gedik” dan “Sambut Isi”

Bab IV:  Gedik!

Tak terasa gua sudah 8 bulan berlatih bersama Mas Ka. Setiap latihan set latihan berubah, mereka menjadi lebih menantang, dan lebih banyak yang harus gua lakukan. Tetapi memang Mas Ka yang luar biasa, setiap latihan walaupun mungkin mengulang hal yang sama lagi dan lagi, gua tidak pernah bosan. Beliau selalu berhasil memancing rasa penasaran gua dan menantang gua untuk bisa lebih.

Gerakan demi gerakan diperbaiki,  tetapi dari cara Mas Ka melatih, beliau akan memberikan satu rangkaian gerakan terlebih dahulu, lalu aspek dari satu rangkaian itu akan dibedah dan dipertajam satu per satu.  Suatu kali kita berlatih, beliau sudah menambahkan lebih lagi variasi langkah silatnya. Rambet, sikut, lepas, dilanjutkan rambet, gepruk gentus, rambet patah sodok, GEDIK lancar.

Nama-namanya lucu, tetapi memang mereka dirancang sederhana dan mudah diingat. Zaman dahulu memang gerakan ini diperuntukkan untuk tarung jarak dekat yang praktis dan cepat, maka si pesilat pun harus cepat bisa. Sebutan-sebutannya pun “Betawi Banget”, gepruk gentus contohnya, sebenarnya pukulan yang dilancarkan ketika lengan lawan sudah dirambet, dan pukulan dilancarkan untuk mematahkan sendi sikut lawan dari dalam. Sederhananya, lengan lawan di’gepruk’ dan setelah itu dihantam dengan punggung kepalan kearah muka, sehingga muka lawan di’gentus’. Rambet – patah – sodok, dari rangkaian itu sudah jelas, setelah lengan lawan terkunci (diputar rambet), sikut dipatahkan dari bawah, dan titik dibawah ketiak lawan disodol (ini sakit banget lho).

Gedik. Nah, kita sudah masuk ke bagian paling penting dari Silat Tunggal Rasa. Setiap Mas Ka menggedikkan kakinya, bunyinya seperti kalau kita melemparkan atau menjatuhkan barang yang padat ke lantai: “Dug” atau “Dhum”. Sementara gedik gua bunyinya cemen, sama dengan suara kecipak air atau tepuk tangan yang keras: “Plek”.

Jengkelnya bukan main, sudah latihan hampir 9 bulan, tetapi suara gedik masih payah. “Mas, sebenarnya gedik tuh buat apa sih? Kenapa harus keras?” Mas Ka tersenyum, dan gua pun ditunjukkan sembari beliau menjelaskan.

Mas Ka mendekat,

“Gedik itu penting dan harus keras. Karena fungsinya itu begini, coba kamu deketan sini…”

Gua mendekat, dia memasang posisi siap, gua pun secara reflek begitu, dan tiba-tiba pisau kakinya sudah menekan jari-jemari kaki gua “… Coba kamu bayangin kalau aku gediknya keras, nanti bunyinya kamu ‘WUUAADOOW’ hahahahhaha.”

Gua tercengang. Gedik, begitu sederhana, begitu efektif. Menginjak kaki lawan.

“Tapi bukan itu doang, kalau nginjek kaki orang, semua juga bisa kan? Filosofinya begini…”

Mas Ka sembari menuang air minum, “Kita ini hidup dari bumi, dan nanti pada saatnya, akan kembali ke bumi untuk mengembalikan apa yang kita sudah ambil dari bumi. Gedik ini untuk mengingatkan kita kalau kita hidup di bumi ini, dan satu bentuk pernyataan diri kalau kita tetap harus menjejak bumi. Intinya, menjaga diri untuk tetap rendah hati. Selain itu, ini juga merupakan self-statement kalau kita lagi di gelanggang atau kalangan pendekar silat lain.”

Gua terdiam, sambil minum air dingin, gua berpikir. Seperti biasa, Mas Ka membaca pikiran gua lagi, “Mungkin kamu bingung kenapa gedikmu bunyinya kayak kaki bebek ya? Haha, itu sih gampang, masalah teknik saja kok. Kamu gedik jangan pakai telapak kaki lah, orang kalau diinjek pakai telapak kaki juga enggak sakit kan.” Gua mengangguk, dan Mas Ka menambahkan, “Kamu kalau mau gediknya mantep, gedik pakai pisau kakimu nih…” Beliau menunjukkan sisi pisau kaki yang digunakan.

“AHA!” Gua mendadak bersemangat, dan langsung mencoba gedik dengan teknik yang disarankan… dan bunyi yang terdengar adalah ‘duk’ pelan. Mas Ka tersenyum lebar, “Nah, itu udah mulai bagus suaranya! Tapi masih mendem yah? Hahahaha.” Gua ikut tertawa.

Latihan hari itu selesai, dan Mas Ka menutup dengan pesan yang pada saat itu gua tolak, tetapi sekarang gua terus ingat: “Kamu jangan latihan terus ya dirumah. Badan dan pikiran kamu juga perlu istirahat. Main lah sama teman-teman kamu, jalan ke mall kek, nonton anime baru kek, baca komik kek, yang penting istirahat dan enggak mikirin latihan dulu. Harus seimbang ya.” Tetapi ya begitulah anak umur 11 tahun yang keras kepala, gua cuman “Iya Mas.” Dimulut, tetapi bersikeras latihan di rumah.

Setelah minum es teh manis yang menyegarkan dan ganti baju, Mas Ka melemparkan handuk kearah muka gua dan Set! Secara reflek gua berhasil mencengkram handuk itu, menangkapnya dan menariknya dengan cepat kearah badan gua. “Hiyah! Rambetmu udah jadi tuh! Hyeheheheheh.” Mas Ka berseru sambil tertawa girang, Rambet gua sudah matang! Ternyata banyak sekali yang gua pelajari hari ini. Bersama Mas Ka pun kita berseru: “TOS!

 

Bab V: Sambut Isi

 

Setelah 9 bulan berlatih, gua merasa bisa banyak. Langkah 1 sudah lancar, jurus-jurus sudah hapal dan gerakan mulai terlihat bagus. Arahan-arahan dari Mas Ka sudah mulai bisa diikuti dengan baik, dan set latihan mulai bisa dikuasai.

Suatu saat selesai latihan, gua pulang kerumah. Setelah menikmati makan malam bersama keluarga, orangtua gua bertanya: “Jadi, kamu sudah belajar apa saja sama Mas Ka?” Gua menjelaskan panjang lebar tentang latihan, apa saja yang dilakukan pada saat latihan, langkah apa saja yang sudah dipelajari, nama-nama gerakan, gedik, rambet, semuanya.

Ayah gua yang sepak terjangnya di dunia persilatan sudah lama melegenda ini meminta gua untuk menunjukkan langkah silat yang sudah dipelajari. Dengan penuh percaya diri, gua segera menunjukkan apa yang sudah gua latih selama ini. Setelah beberapa detik bergerak, ayah berdiri dari sofa.

“Bagus tuh gerakanmu” Beliau berkata sembari melihat gerakan gua.

“Oke, Papa mau tanya deh, gerakan itu tadi buat apa ya?”

Dan gua pun terdiam. Kepala kosong, selama ini yang gua pelajari adalah gerakkan yang kosong. “Belum dikasihtahu Pa, gerakannya untuk apa.”

Ayah gua tersenyum, “Besok tanya deh ke Mas Ka, Papa jadi pengen tahu juga hehe.”

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Categories
Cerita Silat Bersambung Galigoku

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode II – ‘Latihan’ dan ‘Rambet, Sikut, Lepas’

Bab II: Latihan

Latihan bersama Mas Ka itu kerap kali di sore menjelang malam. Kebanyakan perguruan Silat Tradisional akan mulai berlatih sore pada saat matahari terbenam, atau selesai Sholat Maghrib. Kenapa begini? Sejarahnya adalah, ketika Nusantara ini masih dijajah Belanda, pemerintahan Belanda melarang penduduk untuk berlatih segala bentuk beladiri atau ilmu perang apapun. Alhasil, para jawara, pendekar, dan jago silat jaman itu mencari waktu dimana serdadu Belanda tidak akan mencurigai: di malam hari dan ditempat-tempat yang tidak biasa (seperti dapur, kebun pisang, hutan, di gua, dan bahkan dibawah meja makan. Cerita lebihnya nanti ya!).

Tiga sampai lima bulan pertama, Mas Ka memberi gua latihan-latihan yang tujuannya menguatkan tubuh untuk nantinya siap latihan jurus. Selama 3 bulan pertama, Mas Ka TIDAK PERNAH menunjukkan gua jurus silat atau langkah silat apapun, 3 bulan awal latihan bersama Mas Ka itu diisi dengan latihan fisik yang keras. Latihan fisik yang “silat banget”, dimulai dari kuda-kuda, latihan pukulan, lari keliling kompleks, dan masih banyak lagi yang akan gua ceritakan. Bagi orang awam, 3 bulan latihan fisik itu pasti membosankan. Tetapi memang Mas Ka itu seru orangnya, sampai saat ini gua latihan bareng sama Mas Ka, gua enggak pernah bosan. Beliau berhasil membuat setiap latihan menjadi satu pengalaman dan pembelajaran yang baru.

Setting latihan kita kali ini adalah di garasi rumah gua. Kalau sama Mas Ka, latihan itu fleksibel, bisa dimana saja. Tetapi tempat favorit kita latihan biasanya di rumah, apakah itu rumah gua atau rumah Mas Ka.

“Yuk lebih rendah lagi coba kuda-kudanya” Suara Mas Ka tenang sambil merendahkan kuda-kudanya

“Ah Mas, pegel niih,” dan bayangkan suara gua masih baru pecah akibat puber

“Ayo yuk, kamu bisa kok. Kemarin aja udah tahan kuda-kuda satu menit kan”

“Pegel nih mas….Paha udah gemeteran…”

“Yaudah, kalau gitu kita istirahatin dulu pahanya…” Perlahan-lahan Mas Ka meregangkan kakinya, dan dia berdiri tegak “… Tapi kalau kamu udah kuat kuda-kudanya, nanti kamu bisa begini lho..” Mas Ka tersenyum, dan ia menghentakkan kakinya ke ubin garasi rumah gua… dan terdengar suara dentuman ‘DHUM’

Dan pada saat itulah, Mas Ka memperkenalkan gua dengan ‘Gedik’.

Gua tercengang, menganga lebar dan mata terbelalak. Dalam benak gua, “Itu apaan barusan??”

Seakan-akan bisa baca pikiran, Mas Ka tersenyum sambil tertawa kecil “Hahaha, nanti ya aku ajarin. Yuk latihan kuda-kuda lagi? Kali ini kalau kamu bisa tahan satu menit lebih 15 detik aja, aku kasih pinjem komik baru!”

Buyarlah konsentrasi gua mendengar kata “Komik baru” dan dengan cepat gua menjawab “OKEH MAS AYO!”

 

Bab III: Rambet, Sikut, Lepas.

Setelah 5 bulan yang cukup seru dan meletihkan berlalu, gua merasa cukup percaya diri akan kondisi fisik gua untuk seorang bocah berumur 11 tahun. Gua bisa menahan kuda-kuda yang kuat, melakukan push up 30 kali non-stop untuk 3 set, dan lari non stop selama 15 menit. Gua merasa kuat, dan paling pentingnya, sehat.

Hari Sabtu sore itu, gua menggowes sepeda gua kerumah  Mas Ka untuk latihan. Seperti biasa, Mas Ka sudah berdiri menunggu di pintu gerbang rumahnya sambil meregangkan kaki dan badannya.

Gua langsung semangat, segera gua lompat turun dari sepeda, dan memarkir sepeda gua di samping pohon kelapa yang sudah menjulang tinggi di depan rumah Mas Ka.

“Mas! Latihan apa kita hari ini?” Celoteh gua dengan nada penuh semangat

“Sabar… Kamu stretching dulu deh, terus kamu push up dulu 30 kali, dan kuda-kuda dulu 30 detik biar hangat dulu badannya.” Mas Ka menjawab dengan kalem.

Dengan penuh semangat gua selesaikan set latihan yang diberikan Mas Ka, dan setelah beberapa detik mengatur napas, Mas Ka mendekati gua dengan perlahan, dan beliau berdiri di samping gua.

“Nah, kamu coba ikutin gerakan aku deh.” Kata Mas Ka

Beliau memposisikan tubuhnya tegak dengan dada menghadap depan, kuda-kuda dengan posisi kaki kanan didepan, lutut sedikit tertekuk, kaki kiri sedikit kebelakang. Berat badan rata pada kedua kaki. Gua pun mencoba mengikuti sembari memperhatikan dengan seksama.

Mas Ka memposisikan tangannya demikian: Kepalan tangan kanan di samping dada, tangan kiri menutupi dada, dengan posisi telapak terbuka mendampingi kepalan tangan kanan.

“Put, ini namanya kuda-kuda siap ya.” Mas Ka menjelaskan,

“Trus posisi begini, lanjutannya begini… Rambet” Dalam benak bocah umur 11 tahun, pikiran gua bisa gua tulis seperti ini: Tangan kiri dengan telapak terbuka Mas Ka itu seolah-olah mengambil sesuatu, tetapi kok cara ngambil sesuatu itu aneh sekali ya?

Yang setelah beberapa sesi latihan kemudian, Mas Ka menjelaskan gua, dan gua pun sadar itu gunanya apa. Maka gua akan menuliskan isi benak gua dengan baik dan benar agar teman-teman yang baca pun mengerti dengan baik dan benar, bukan dengan narasi bocah suara pecah baru mau puber berusia 11 tahun.

Tangan kiri Mas Ka digerakkan seolah-olah menjemput pukulan yang datang, gerakkannya mirip dengan menepis atau mengalihkan pukulan itu kesamping kiri tubuh kita, tetapi ini satu lagi ciri khas dari Silat Tunggal Rasa yang diperkenalkan ke gua hari itu: Rambet.

Apakah ‘Rambet’ itu? Rambet adalah gerakan dimana telapak tangan terbuka, menjemput pergelangan tangan dari lawan kita ketika melancarkan pukulan. Uniknya, setelah dijemput, telapak tangan kita tempelkan ke pergelangan tangan lawan, dan kita genggam dengan kencang – caranya adalah dengan menggengam secara berurutan menutup tangan dari jari kelingking hingga ibu jari – dan kita putarkan pergelangan kita agar pergelangan tangan lawan terpelintir. Ketika pergelangan tangan lawan terpelintir, maka sendi sikut lawan akan berada diluar posisi yang biasa, menyebabkan rasa nyeri dan mengekspos lengan lawan untuk dipatahkan.

“Setelah kamu rambet… terus kamu lanjutin ini… “ Set! Mas Ka mengayunkan pundaknya dan melancarkan sebuah ayunan “… Sikut kanan. Habis sikut, kamu lepas.” Bet! Dan dari gerakan sikutan tadi dilancarkanlah kepalan kanan.

“Oke, coba sekarang kamu yang gerakin pelan-pelan barengan sama aku yuk.”

Gua nyengir kegirangan, gua langsung pasang kuda-kuda siap, dan mencoba untuk melakukan gerakan tadi sebagai rangkaian. Setelah 15 menit mencoba, dan dengan hasil yang amatir dan berantakan, Mas Ka masih tetap sabar. Setiap gua menggerakan rangkaian Rambet – Sikut – Lepas itu, beliau memperhatikan dengan seksama, tanpa berkomentar, dan hanya berdiri sambil melipat tangannya.

“Oke, cukup dulu. Kita coba pecah dulu ya gerakannya. Besok kita mulai latihan pukul-rambet dulu ya. Ini supaya nanti rangkaian gerakan kamu mantep.” Kata Mas Ka sambil melemparkan handuk kearah muka gua… dan pluk! Berhasil mendarat menutupi muka gua.

‘Besok’ pun menjadi hari ini, dan hari ini gua kembali menggowes sepeda dengan penuh semangat ke rumah Mas Ka. “Mas Ka!” Gua memanggil  beliau sembari memarkir sepeda di pohon yang biasa, dan terdengar suara Mas Ka menyahut “Masuk aja! Pagarnya enggak aku kunci.”

Gua masuk dan memulai stretching dan pemanasan. Sembari stretching, gua agak heran ketika melihat ada bangku abang-abang (bangku yang biasa diduduki abang-abang di warung rokok, bentuknya hanya sebalok kayu diberi kaki-kaki yang menyokong), dua batu-bata, dan sepasang barbel 2 kg.

Mas Ka terlihat berjalan keluar dari pintu rumahnya menuju garasi (tempat latihan), “Gimana? Udah pemanasan kan?” Gua mengangguk dan Mas Ka melanjutkan, “OK, latihan hari ini, kita mulai latihan kuda – kuda yang lebih mantap, terus kamu latihan pakai barbel ini buat latihan egosan.

“Egosan? Egosan itu apa mas?” Gua bertanya dengan lugu. Layaknya seorang guru dan kakak yang baik, Mas Ka menjawab dengan detil:

“Egosan itu ayunan pundak, tapi kamu ga sembarang ngayun. Ayunan ini ada maksudnya, apakah itu mengelak pukulan lawan, atau justru mau menyerang. Sini coba aku tunjukkin. Kamu berdiri pundak kiri kamu tempel sama pundak kiri aku deh.”

Gua berdiri mendekat, dan gua menempelkan pundak kiri terhadap pundak kiri Mas Ka seperti diinstruksikan. “Gini nih kalau egosan kamu udah mantep..” Dug! Gua merasakan ngilu mendadak dan terhentak kebelakang.

Inilah salah satu lagi ciri khas Silat Tunggal Rasa, dan banyak Silat Betawi lainnya. Karena permainan (di Betawi, ketika bertukar pikiran antara dua jago silat, mereka menyebutnya ‘main’. Sehingga ini dianggap juga sebagai permainan) mereka banyak sekali yang memang berjarak sangat dekat, bahkan kadang hanya berjarak dua jengkal dari hadapan lawan. Dari jarak yang begitu dekat ini, mereka harus bisa memanfaatkan bagian tubuh manapun yang bisa digunakan untuk bertahan dan menyerang.

“Wuiiih… KEREN MAS! Tapi sakit.” Gua mengomel sembari mengusap-usap pundak gua. Mas Ka pun tertawa kecil, dia membantu gua berdiri, dan segera menginstruksikan gua untuk mengerjakan beberapa set latihan.

Di sini gua sadar kalau level gua sudah mulai naik, karena set latihan yang diberikan sudah mulai susah: menahan kuda-kuda diatas kursi abang-abang selama 30 detik, turun dari situ, memegang beban dan berdiri tegak sembari melatih egosan, dan melakukan rangkaian gerakan rambet – sikut – lepas sebanyak 15 kali, dan melatih rambet tangan Mas Ka. Setiap kali jatuh dari kursi abang-abang, maka hukumannya adalah push up 5 kali dan set rambet pun ditambah 5 repetisi.

Set pertama: oke, bisa pelan-pelan… Enggak jatuh… oke. Nah, latihan egosan… Oke, enggak seberapa, bisa lah 5 kali lagi, nah selesai. Rambet – sikut – lepas (ulangi 15 kali) selesai. Rambet lengan dan tangan Mas Ka… Waduh.

Lengan Mas Ka terasa seperti balok kayu. Mas Ka hanya menyipitkan mata sembari tersenyum. Khas sekali, “Wah, gua dikerjain nih.” Bocah 11 tahun ini menggerutu dalam benaknya tanpa disadari bahwa guru silatnya sedang menaikkan standar latihan. Setelah merambet lengan Mas Ka 10 kali masing-masing sisi, dan 3 set kedepan, gua kelelahan.

Mas Ka banyak tertawa dalam latihan ini, nampaknya beliau menikmati melihat gua berusaha begitu keras untuk memutar lengannya.  “Kita sudah dulu ya latihan hari ini, kamu kan besok sekolah, nanti pas nulis catatan, tangan kamu gemetaran kan lucu hahaha.” Mas Ka tertawa, dan gua hanya bisa terkekeh sambil cemberut.

Beliau kembali mengambilkan handuk kecil untuk menyeka keringat di muka gua yang sudah kusut, dan dari jauh, beliau melemparkan handuk itu dan pluk! Mendarat tepat menutupi muka gua. Latihan hari itu pun selesai.

 

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

 

Categories
Cerita Silat Bersambung Galigoku

Cerita Silat Bersambung: “Lompat Kiri Tampar Kanan” Episode I – Mas Ka

Putra terduduk lunglai di matras merah. Keringatnya bercucuran, nafasnya terengah-engah, ia nampak frustasi. Di depannya berdiri seorang pria berkulit kuning langsat, berpakaian hitam-hitam, dengan ikat kepala khas Jawa, terkekeh-kekeh sambil memegangi perut besarnya yang tertutup ikatan kain putih yang berfungsi sebagai sabuk.

“He he he he… Ayo Putra… Apa kamu masih sanggup?”

Putra berdiri dengan susah payah, ia memasang kuda-kudanya.

“Ayo coba lagi Kangmas! Hup!”

Putra menyerang pria yang dipanggilnya ‘Kangmas’, yang adalah guru silatnya. Walaupun bertubuh tambun, bukan namanya seorang guru kalau memang ia tidak lihai. Badanya berkelit menghindari jurus-jurus Putra, tiba-tiba pukulan Putra dijepit oleh kedua lengan sang guru, lalu dia merendahkan kuda-kudanya membuat Putra kehilangan keseimbangan, dan sang guru memutar pinggangnya. Putra terlempar ke samping dan gubrak! Suara badan yang menghantam matras kembali terdengar untuk kesekian kalinya di malam itu.

Eeets, tunggu dulu, mungkin lebih baik kalau gua cerita kenapa gua bisa dalam situasi dan kondisi yang tertulis di atas kali ya.

Nama gua Putra, dan gua mungkin bisa masuk dalam kategori ‘not your average guy’. Gua tergila-gila dengan yang namanya Silat Tradisional, dan gua sudah berlatih silat sedari janin. Enggak kok, gua ga segila itu, tapi gua sudah latihan silat sejak gua berumur 11 tahun. Dan gua hanya belajar Silat tradisional, yang mengutamakan aspek filosofi dan ilmu-ilmu hampir terancam punah yang dipenuhi nilai-nilai luhur.

Mungkin beberapa dari kalian penasaran, apa sih bedanya Pencak Silat ‘biasa’ dan Silat Tradisional?

Well, let me clarify for you. Indonesia ini memiliki sekitar 600 aliran pencak silat berbeda. Silat di pandangan umum sekarang itu dibagi dua: Pencak Silat Olahraga, dan Silat Tradisional. Nah, Silat Tradisional inilah yang gua sangat gemari. Silat tradisional itu lebih ‘underground’. Mereka punya sistem pelatihan sendiri, teknik-teknik yang sangat khas, aspek tradisionalnya masih kental, dan hubungan guru-murid itu masih sangat pribadi, bahkan terkadang sakral. Kayak musik-musik indie aja, bukan major label, dan masing-masing punya warna yang unik yang menunjukkan identitas musikusnya. Maksud gua dari ‘aspek tradisional yang kental’ itu supaya kalian tahu aja kalau memang ada aliran-aliran silat yang ‘berbau mistis’, ‘potong ayam hitam’, ‘mandi air kembang’, dan segala macem ritualnya. Namanya tradisional, pasti ada gono-gononya.

Nah ini adalah cerita gua, cerita bagaimana gua bisa belajar silat dan apa yang gua pelajari dari silat-silat ini. Mungkin ini bisa dibilang jadi ‘jurnal keilmuan’ gua, curhatan gua akan silat, supaya Silat Tradisional itu tidak cuman “kampungan” di mata pemuda sekarang. Karena silat itu bukan hanya sekedar senggol,  bacok, tangkis,  tendang, pukul, atau jurus lemparan maut.

Tetapi silat itu juga termasuk seni dan cara menghidupi kehidupan kita yang sekali ini.

Perguruan Pertama: Tunggal Rasa

Bab I : Mas Ka

Semua itu berawal dari satu. Sepak terjang gua di dunia persilatan pun berawal dari satu perguruan, guru pertama gua. Dengan julukannya: “Si Jalu.”  Nah di sinilah ceritanya dimulai, “Si Jalu” ini akrab dipanggil “Mas Ka”. Karena sosoknya selalu pas sebagai sosok seorang ‘big brother’, dengan keramahannya yang khas dan selera humornya yang pas. Tidak pernah lupa, ilmu silatnya yang mantap.

Mas Ka ini badannya tinggi, berdada bidang, tampak muda, dan selalu fresh. Raut wajahnya susah ditebak, karena ketika diam, beliau akan terlihat dingin. Tetapi begitu disapa, senyuman beliau bisa dari kuping ke kuping. Penampilan kesehariannya tidak akan terlihat seperti jagoan silat sama sekali, tetapi lebih seperti atlit basket. Dengan celana jeans yang agak gombrong, dan kaos tim basket kesukaan. Beliau ini gemar sekali main basket, koleksi action figures dan komik, tidak lupa berlatih silat. Mas Ka ini pendengar yang baik, beliau bisa mengerti kapan harus tegas, dan kapan bisa bercanda. Pokoknya ‘big brother’ banget deh.

Bagaimana caranya sampai gua ini bisa ketemu sama Mas Ka? Nah semua itu berawal di acara 17 Agustusan di kompleks gua. Setelah beberapa lomba yang 17 Agustusan banget, kayak panjat pinang, makan kerupuk, guling-guling di lumpur (lho?), dan lain-lain, tibalah sebuah pertunjukkan silat. Pada saat itu, gua tidak di situ. Gua lupa lagi ngapain, tapi yang jelas lagi melakukan sesuatu yang penting (sehingga gua tidak datang ke acara 17 Agustusan kompleks gua. Meh.).

Tetapi,  Ayah gua ada di situ.

Dengan pengalamannya yang sudah setinggi-gunung-sedalam-lautan-seluas-pulau-Kalimantan ini, dia melihat bahwa aliran silat yang dipertontokan itu cocok buat gua.

Dengan keramahan ayah gua bak seorang begawan Jawa sakti ini, ia menghampiri Mas Ka yang sedang berjalan keluar gelanggang. Dan setelah mengenalkan dirinya, beliau memutuskan untuk ngobrol dengan Mas Ka, yang menurut versi beliau seperti ini:

Sang Ayah: “Halo Mas, wah ini aliran silat apa ya?”

Mas Ka: “Halo Mas, oh ini namanya Tunggal Rasa…”

Sang Ayah: “Wah bagus ya… Mas, kira-kira Mas Ka mau ajarin saya?”

Mas Ka: “Wah Mas, gimana kalau kita latihan sama-sama saja,  jadi dua-duanya saling berbagi ilmu…”

Gua ga percaya versinya beliau pada saat itu. Gua yang masih bocah singkong bau kencur itu (dan tukang khayal) berpikir seperti ini lebih cocok versinya:

Suasana tiba-tiba hening, dan ayah gua menghampiri Mas Ka

Sang Ayah: “Fu fu fu… Ilmu silat ini lumayan juga.”

Mas Ka: “Siapakah gerangan kisanak?”

Sang Ayah: “Aku adalah adipati Kalamangga. Apa kiranya kisanak mau menunjukkan kehebatan ilmu ini?”

Mas Ka: “Silahkan.”

Tapi sayangnya, tidak begitu kenyataannya.

But anyways, I’ll get to the gist of the story.

Pada zaman itu, ketika gua berumur 11 tahun, waktu senggang masih banyak. Setiap ada waktu kosong, gua akan menggowes sepeda menuju rumah Mas Ka dan latihan sampai ditelepon Ibu disuruh pulang. Sama sekali tidak kepikiran kalau latihan silat itu akan bikin sakti atau gimana, tetapi Mas Ka dengan suksesnya menanamkan benih cinta akan silat dalam hati, jiwa, dan jasmani gua. Gimana caranya sih menanamkan cinta silat ke anak umur 11 tahun? Reward System!

Setiap gua berhasil menuntaskan satu bentuk jurus, Mas Ka akan memberikan gua waktu istirahat yang lebih lama, dan setelah latihan, Mas Ka akan meminjamkan gua sebuah komik untuk dibaca setelah latihan! Gua senang sekali setiap tamat satu jurus, gua bisa minum es teh manis sambil baca komik. Dalam benak gua pada saat 11 tahun, hidup gua lengkap sudah.

Silat Tunggal Rasa ini adalah satu aliran yang sangat menarik, karena langkahnya (note: di banyak aliran silat Betawi, ‘jurus’ biasanya disebut sebagai ‘langkah’, dan langkah – footwork- dalam setiap ‘langkah’ ini pendek-pendek dan tidak berkuda-kuda rendah) sifatnya itu pendek dan praktis. Tunggal Rasa ini unik karena ini merupakan ramuan beberapa ilmu silat Betawi lainnya, sehingga menciptakan suatu bentuk yang sangat khas, praktis, sederhana, namun sangat ampuh.

Semua pengetahuan dasar gua akan silat itu diajarkan Mas Ka. Berlatih dengan beliau itu memang merupakan pengalaman yang gua enggak akan bisa lupa. Sekarang coba, mana ada guru silat yang bakal ngerti kalau kita ngobrolin Doraemon, atau serial anime apa gitu, dan bisa langsung nimpalin obrolan nya? Belajar sama Mas Ka ini memang salah satu pengalaman paling berkesan di hidup gua.

Untuk memberi sedikit gambaran tentang apa saja yang gua pelajar dan apa saja yang Mas Ka latih itu bisa dirangkum dalam beberapa poin:

  1. Keluarga selalu nomor satu
  2. Hormati orangtua dan para pendahulumu
  3. Sadarlah dalam bertutur kata dan bertindak
  4. Kalau mau sehat dan kuat, urusin badan
  5. Jangan pernah cari gara-gara.
  6. Kalau ketemu gara-gara, ajak ngobrol dulu baik-baik
  7. Kalau ngobrol baik-baik tidak ada gunanya, ladeni baik-baik.
  8. Hukum sebab-akibat itu berlaku di kehidupan dan dalam bersilat

Bentuk-bentuk latihan yang Mas Ka sajikan pun sangat khusus. Setiap orang yang berlatih bersama atau belajar dari Mas Ka akan mendapatkan beberapa bentuk latihan fisik yang mendasar, lalu dia akan diberi kebebasan untuk melanjutkan ke ‘spesialisasi’ tertentu: Pencak silat, Pernapasan (Tenaga Halus), atau Tenaga Dalam (Tenaga Keras).

Sebelum hilang fokus, mungkin teman-teman yang sedang membaca penasaran: “Kenapa sih judul bab 1 nya itu ada Ayam Pop-nya?” Ayam Pop ini juga merupakan bentuk dari “Reward System” yang Mas Ka aplikasikan. Jadi setiap kita menyelesaikan beberapa rangkaian jurus, beliau akan memberi tahu kami sekitar seminggu sebelumnya bahwa kami akan diuji.

Dalam perguruan silat tradisional, setiap guru yang ditanya: “Apa yang akan diuji?” Pasti akan terkekeh-kekeh dan menjawab dengan sederhana: “Ya apa yang sudah kamu pelajari.” Mas Ka pun begitu, tetapi ekspresi beliau akan lebih datar, dan mungkin tersenyum sambil menyipitkan mata licik. Ujiannya seperti apa, akan gua ceritakan lebih lanjut nanti, tetapi setiap kita selesai ujian, Mas Ka akan menyajikan Ayam Pop masakan ibunya yang super istimewa ini. Semua sakit dan lelah setelah ujian akan hilang sekejap ketika ayam pop sudah disajikan dipiring dengan nasi panas dan sambal hijau yang membuat lidah menari kegirangan.

 BERSAMBUNG…

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.