Putra terduduk lunglai di matras merah. Keringatnya bercucuran, nafasnya terengah-engah, ia nampak frustasi. Di depannya berdiri seorang pria berkulit kuning langsat, berpakaian hitam-hitam, dengan ikat kepala khas Jawa, terkekeh-kekeh sambil memegangi perut besarnya yang tertutup ikatan kain putih yang berfungsi sebagai sabuk.

“He he he he… Ayo Putra… Apa kamu masih sanggup?”

Putra berdiri dengan susah payah, ia memasang kuda-kudanya.

“Ayo coba lagi Kangmas! Hup!”

Putra menyerang pria yang dipanggilnya ‘Kangmas’, yang adalah guru silatnya. Walaupun bertubuh tambun, bukan namanya seorang guru kalau memang ia tidak lihai. Badanya berkelit menghindari jurus-jurus Putra, tiba-tiba pukulan Putra dijepit oleh kedua lengan sang guru, lalu dia merendahkan kuda-kudanya membuat Putra kehilangan keseimbangan, dan sang guru memutar pinggangnya. Putra terlempar ke samping dan gubrak! Suara badan yang menghantam matras kembali terdengar untuk kesekian kalinya di malam itu.

Eeets, tunggu dulu, mungkin lebih baik kalau gua cerita kenapa gua bisa dalam situasi dan kondisi yang tertulis di atas kali ya.

Nama gua Putra, dan gua mungkin bisa masuk dalam kategori ‘not your average guy’. Gua tergila-gila dengan yang namanya Silat Tradisional, dan gua sudah berlatih silat sedari janin. Enggak kok, gua ga segila itu, tapi gua sudah latihan silat sejak gua berumur 11 tahun. Dan gua hanya belajar Silat tradisional, yang mengutamakan aspek filosofi dan ilmu-ilmu hampir terancam punah yang dipenuhi nilai-nilai luhur.

Mungkin beberapa dari kalian penasaran, apa sih bedanya Pencak Silat ‘biasa’ dan Silat Tradisional?

Well, let me clarify for you. Indonesia ini memiliki sekitar 600 aliran pencak silat berbeda. Silat di pandangan umum sekarang itu dibagi dua: Pencak Silat Olahraga, dan Silat Tradisional. Nah, Silat Tradisional inilah yang gua sangat gemari. Silat tradisional itu lebih ‘underground’. Mereka punya sistem pelatihan sendiri, teknik-teknik yang sangat khas, aspek tradisionalnya masih kental, dan hubungan guru-murid itu masih sangat pribadi, bahkan terkadang sakral. Kayak musik-musik indie aja, bukan major label, dan masing-masing punya warna yang unik yang menunjukkan identitas musikusnya. Maksud gua dari ‘aspek tradisional yang kental’ itu supaya kalian tahu aja kalau memang ada aliran-aliran silat yang ‘berbau mistis’, ‘potong ayam hitam’, ‘mandi air kembang’, dan segala macem ritualnya. Namanya tradisional, pasti ada gono-gononya.

Nah ini adalah cerita gua, cerita bagaimana gua bisa belajar silat dan apa yang gua pelajari dari silat-silat ini. Mungkin ini bisa dibilang jadi ‘jurnal keilmuan’ gua, curhatan gua akan silat, supaya Silat Tradisional itu tidak cuman “kampungan” di mata pemuda sekarang. Karena silat itu bukan hanya sekedar senggol,  bacok, tangkis,  tendang, pukul, atau jurus lemparan maut.

Tetapi silat itu juga termasuk seni dan cara menghidupi kehidupan kita yang sekali ini.

Perguruan Pertama: Tunggal Rasa

Bab I : Mas Ka

Semua itu berawal dari satu. Sepak terjang gua di dunia persilatan pun berawal dari satu perguruan, guru pertama gua. Dengan julukannya: “Si Jalu.”  Nah di sinilah ceritanya dimulai, “Si Jalu” ini akrab dipanggil “Mas Ka”. Karena sosoknya selalu pas sebagai sosok seorang ‘big brother’, dengan keramahannya yang khas dan selera humornya yang pas. Tidak pernah lupa, ilmu silatnya yang mantap.

Mas Ka ini badannya tinggi, berdada bidang, tampak muda, dan selalu fresh. Raut wajahnya susah ditebak, karena ketika diam, beliau akan terlihat dingin. Tetapi begitu disapa, senyuman beliau bisa dari kuping ke kuping. Penampilan kesehariannya tidak akan terlihat seperti jagoan silat sama sekali, tetapi lebih seperti atlit basket. Dengan celana jeans yang agak gombrong, dan kaos tim basket kesukaan. Beliau ini gemar sekali main basket, koleksi action figures dan komik, tidak lupa berlatih silat. Mas Ka ini pendengar yang baik, beliau bisa mengerti kapan harus tegas, dan kapan bisa bercanda. Pokoknya ‘big brother’ banget deh.

Bagaimana caranya sampai gua ini bisa ketemu sama Mas Ka? Nah semua itu berawal di acara 17 Agustusan di kompleks gua. Setelah beberapa lomba yang 17 Agustusan banget, kayak panjat pinang, makan kerupuk, guling-guling di lumpur (lho?), dan lain-lain, tibalah sebuah pertunjukkan silat. Pada saat itu, gua tidak di situ. Gua lupa lagi ngapain, tapi yang jelas lagi melakukan sesuatu yang penting (sehingga gua tidak datang ke acara 17 Agustusan kompleks gua. Meh.).

Tetapi,  Ayah gua ada di situ.

Dengan pengalamannya yang sudah setinggi-gunung-sedalam-lautan-seluas-pulau-Kalimantan ini, dia melihat bahwa aliran silat yang dipertontokan itu cocok buat gua.

Dengan keramahan ayah gua bak seorang begawan Jawa sakti ini, ia menghampiri Mas Ka yang sedang berjalan keluar gelanggang. Dan setelah mengenalkan dirinya, beliau memutuskan untuk ngobrol dengan Mas Ka, yang menurut versi beliau seperti ini:

Sang Ayah: “Halo Mas, wah ini aliran silat apa ya?”

Mas Ka: “Halo Mas, oh ini namanya Tunggal Rasa…”

Sang Ayah: “Wah bagus ya… Mas, kira-kira Mas Ka mau ajarin saya?”

Mas Ka: “Wah Mas, gimana kalau kita latihan sama-sama saja,  jadi dua-duanya saling berbagi ilmu…”

Gua ga percaya versinya beliau pada saat itu. Gua yang masih bocah singkong bau kencur itu (dan tukang khayal) berpikir seperti ini lebih cocok versinya:

Suasana tiba-tiba hening, dan ayah gua menghampiri Mas Ka

Sang Ayah: “Fu fu fu… Ilmu silat ini lumayan juga.”

Mas Ka: “Siapakah gerangan kisanak?”

Sang Ayah: “Aku adalah adipati Kalamangga. Apa kiranya kisanak mau menunjukkan kehebatan ilmu ini?”

Mas Ka: “Silahkan.”

Tapi sayangnya, tidak begitu kenyataannya.

But anyways, I’ll get to the gist of the story.

Pada zaman itu, ketika gua berumur 11 tahun, waktu senggang masih banyak. Setiap ada waktu kosong, gua akan menggowes sepeda menuju rumah Mas Ka dan latihan sampai ditelepon Ibu disuruh pulang. Sama sekali tidak kepikiran kalau latihan silat itu akan bikin sakti atau gimana, tetapi Mas Ka dengan suksesnya menanamkan benih cinta akan silat dalam hati, jiwa, dan jasmani gua. Gimana caranya sih menanamkan cinta silat ke anak umur 11 tahun? Reward System!

Setiap gua berhasil menuntaskan satu bentuk jurus, Mas Ka akan memberikan gua waktu istirahat yang lebih lama, dan setelah latihan, Mas Ka akan meminjamkan gua sebuah komik untuk dibaca setelah latihan! Gua senang sekali setiap tamat satu jurus, gua bisa minum es teh manis sambil baca komik. Dalam benak gua pada saat 11 tahun, hidup gua lengkap sudah.

Silat Tunggal Rasa ini adalah satu aliran yang sangat menarik, karena langkahnya (note: di banyak aliran silat Betawi, ‘jurus’ biasanya disebut sebagai ‘langkah’, dan langkah – footwork- dalam setiap ‘langkah’ ini pendek-pendek dan tidak berkuda-kuda rendah) sifatnya itu pendek dan praktis. Tunggal Rasa ini unik karena ini merupakan ramuan beberapa ilmu silat Betawi lainnya, sehingga menciptakan suatu bentuk yang sangat khas, praktis, sederhana, namun sangat ampuh.

Semua pengetahuan dasar gua akan silat itu diajarkan Mas Ka. Berlatih dengan beliau itu memang merupakan pengalaman yang gua enggak akan bisa lupa. Sekarang coba, mana ada guru silat yang bakal ngerti kalau kita ngobrolin Doraemon, atau serial anime apa gitu, dan bisa langsung nimpalin obrolan nya? Belajar sama Mas Ka ini memang salah satu pengalaman paling berkesan di hidup gua.

Untuk memberi sedikit gambaran tentang apa saja yang gua pelajar dan apa saja yang Mas Ka latih itu bisa dirangkum dalam beberapa poin:

  1. Keluarga selalu nomor satu
  2. Hormati orangtua dan para pendahulumu
  3. Sadarlah dalam bertutur kata dan bertindak
  4. Kalau mau sehat dan kuat, urusin badan
  5. Jangan pernah cari gara-gara.
  6. Kalau ketemu gara-gara, ajak ngobrol dulu baik-baik
  7. Kalau ngobrol baik-baik tidak ada gunanya, ladeni baik-baik.
  8. Hukum sebab-akibat itu berlaku di kehidupan dan dalam bersilat

Bentuk-bentuk latihan yang Mas Ka sajikan pun sangat khusus. Setiap orang yang berlatih bersama atau belajar dari Mas Ka akan mendapatkan beberapa bentuk latihan fisik yang mendasar, lalu dia akan diberi kebebasan untuk melanjutkan ke ‘spesialisasi’ tertentu: Pencak silat, Pernapasan (Tenaga Halus), atau Tenaga Dalam (Tenaga Keras).

Sebelum hilang fokus, mungkin teman-teman yang sedang membaca penasaran: “Kenapa sih judul bab 1 nya itu ada Ayam Pop-nya?” Ayam Pop ini juga merupakan bentuk dari “Reward System” yang Mas Ka aplikasikan. Jadi setiap kita menyelesaikan beberapa rangkaian jurus, beliau akan memberi tahu kami sekitar seminggu sebelumnya bahwa kami akan diuji.

Dalam perguruan silat tradisional, setiap guru yang ditanya: “Apa yang akan diuji?” Pasti akan terkekeh-kekeh dan menjawab dengan sederhana: “Ya apa yang sudah kamu pelajari.” Mas Ka pun begitu, tetapi ekspresi beliau akan lebih datar, dan mungkin tersenyum sambil menyipitkan mata licik. Ujiannya seperti apa, akan gua ceritakan lebih lanjut nanti, tetapi setiap kita selesai ujian, Mas Ka akan menyajikan Ayam Pop masakan ibunya yang super istimewa ini. Semua sakit dan lelah setelah ujian akan hilang sekejap ketika ayam pop sudah disajikan dipiring dengan nasi panas dan sambal hijau yang membuat lidah menari kegirangan.

 BERSAMBUNG…

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

Published by Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama setahun di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Penulis novel "The Extraordinary Cases of Detective Buran" ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku, dan karaoke. Find out more about him personal blog.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *