Bab II: Latihan

Latihan bersama Mas Ka itu kerap kali di sore menjelang malam. Kebanyakan perguruan Silat Tradisional akan mulai berlatih sore pada saat matahari terbenam, atau selesai Sholat Maghrib. Kenapa begini? Sejarahnya adalah, ketika Nusantara ini masih dijajah Belanda, pemerintahan Belanda melarang penduduk untuk berlatih segala bentuk beladiri atau ilmu perang apapun. Alhasil, para jawara, pendekar, dan jago silat jaman itu mencari waktu dimana serdadu Belanda tidak akan mencurigai: di malam hari dan ditempat-tempat yang tidak biasa (seperti dapur, kebun pisang, hutan, di gua, dan bahkan dibawah meja makan. Cerita lebihnya nanti ya!).

Tiga sampai lima bulan pertama, Mas Ka memberi gua latihan-latihan yang tujuannya menguatkan tubuh untuk nantinya siap latihan jurus. Selama 3 bulan pertama, Mas Ka TIDAK PERNAH menunjukkan gua jurus silat atau langkah silat apapun, 3 bulan awal latihan bersama Mas Ka itu diisi dengan latihan fisik yang keras. Latihan fisik yang “silat banget”, dimulai dari kuda-kuda, latihan pukulan, lari keliling kompleks, dan masih banyak lagi yang akan gua ceritakan. Bagi orang awam, 3 bulan latihan fisik itu pasti membosankan. Tetapi memang Mas Ka itu seru orangnya, sampai saat ini gua latihan bareng sama Mas Ka, gua enggak pernah bosan. Beliau berhasil membuat setiap latihan menjadi satu pengalaman dan pembelajaran yang baru.

Setting latihan kita kali ini adalah di garasi rumah gua. Kalau sama Mas Ka, latihan itu fleksibel, bisa dimana saja. Tetapi tempat favorit kita latihan biasanya di rumah, apakah itu rumah gua atau rumah Mas Ka.

“Yuk lebih rendah lagi coba kuda-kudanya” Suara Mas Ka tenang sambil merendahkan kuda-kudanya

“Ah Mas, pegel niih,” dan bayangkan suara gua masih baru pecah akibat puber

“Ayo yuk, kamu bisa kok. Kemarin aja udah tahan kuda-kuda satu menit kan”

“Pegel nih mas….Paha udah gemeteran…”

“Yaudah, kalau gitu kita istirahatin dulu pahanya…” Perlahan-lahan Mas Ka meregangkan kakinya, dan dia berdiri tegak “… Tapi kalau kamu udah kuat kuda-kudanya, nanti kamu bisa begini lho..” Mas Ka tersenyum, dan ia menghentakkan kakinya ke ubin garasi rumah gua… dan terdengar suara dentuman ‘DHUM’

Dan pada saat itulah, Mas Ka memperkenalkan gua dengan ‘Gedik’.

Gua tercengang, menganga lebar dan mata terbelalak. Dalam benak gua, “Itu apaan barusan??”

Seakan-akan bisa baca pikiran, Mas Ka tersenyum sambil tertawa kecil “Hahaha, nanti ya aku ajarin. Yuk latihan kuda-kuda lagi? Kali ini kalau kamu bisa tahan satu menit lebih 15 detik aja, aku kasih pinjem komik baru!”

Buyarlah konsentrasi gua mendengar kata “Komik baru” dan dengan cepat gua menjawab “OKEH MAS AYO!”

 

Bab III: Rambet, Sikut, Lepas.

Setelah 5 bulan yang cukup seru dan meletihkan berlalu, gua merasa cukup percaya diri akan kondisi fisik gua untuk seorang bocah berumur 11 tahun. Gua bisa menahan kuda-kuda yang kuat, melakukan push up 30 kali non-stop untuk 3 set, dan lari non stop selama 15 menit. Gua merasa kuat, dan paling pentingnya, sehat.

Hari Sabtu sore itu, gua menggowes sepeda gua kerumah  Mas Ka untuk latihan. Seperti biasa, Mas Ka sudah berdiri menunggu di pintu gerbang rumahnya sambil meregangkan kaki dan badannya.

Gua langsung semangat, segera gua lompat turun dari sepeda, dan memarkir sepeda gua di samping pohon kelapa yang sudah menjulang tinggi di depan rumah Mas Ka.

“Mas! Latihan apa kita hari ini?” Celoteh gua dengan nada penuh semangat

“Sabar… Kamu stretching dulu deh, terus kamu push up dulu 30 kali, dan kuda-kuda dulu 30 detik biar hangat dulu badannya.” Mas Ka menjawab dengan kalem.

Dengan penuh semangat gua selesaikan set latihan yang diberikan Mas Ka, dan setelah beberapa detik mengatur napas, Mas Ka mendekati gua dengan perlahan, dan beliau berdiri di samping gua.

“Nah, kamu coba ikutin gerakan aku deh.” Kata Mas Ka

Beliau memposisikan tubuhnya tegak dengan dada menghadap depan, kuda-kuda dengan posisi kaki kanan didepan, lutut sedikit tertekuk, kaki kiri sedikit kebelakang. Berat badan rata pada kedua kaki. Gua pun mencoba mengikuti sembari memperhatikan dengan seksama.

Mas Ka memposisikan tangannya demikian: Kepalan tangan kanan di samping dada, tangan kiri menutupi dada, dengan posisi telapak terbuka mendampingi kepalan tangan kanan.

“Put, ini namanya kuda-kuda siap ya.” Mas Ka menjelaskan,

“Trus posisi begini, lanjutannya begini… Rambet” Dalam benak bocah umur 11 tahun, pikiran gua bisa gua tulis seperti ini: Tangan kiri dengan telapak terbuka Mas Ka itu seolah-olah mengambil sesuatu, tetapi kok cara ngambil sesuatu itu aneh sekali ya?

Yang setelah beberapa sesi latihan kemudian, Mas Ka menjelaskan gua, dan gua pun sadar itu gunanya apa. Maka gua akan menuliskan isi benak gua dengan baik dan benar agar teman-teman yang baca pun mengerti dengan baik dan benar, bukan dengan narasi bocah suara pecah baru mau puber berusia 11 tahun.

Tangan kiri Mas Ka digerakkan seolah-olah menjemput pukulan yang datang, gerakkannya mirip dengan menepis atau mengalihkan pukulan itu kesamping kiri tubuh kita, tetapi ini satu lagi ciri khas dari Silat Tunggal Rasa yang diperkenalkan ke gua hari itu: Rambet.

Apakah ‘Rambet’ itu? Rambet adalah gerakan dimana telapak tangan terbuka, menjemput pergelangan tangan dari lawan kita ketika melancarkan pukulan. Uniknya, setelah dijemput, telapak tangan kita tempelkan ke pergelangan tangan lawan, dan kita genggam dengan kencang – caranya adalah dengan menggengam secara berurutan menutup tangan dari jari kelingking hingga ibu jari – dan kita putarkan pergelangan kita agar pergelangan tangan lawan terpelintir. Ketika pergelangan tangan lawan terpelintir, maka sendi sikut lawan akan berada diluar posisi yang biasa, menyebabkan rasa nyeri dan mengekspos lengan lawan untuk dipatahkan.

“Setelah kamu rambet… terus kamu lanjutin ini… “ Set! Mas Ka mengayunkan pundaknya dan melancarkan sebuah ayunan “… Sikut kanan. Habis sikut, kamu lepas.” Bet! Dan dari gerakan sikutan tadi dilancarkanlah kepalan kanan.

“Oke, coba sekarang kamu yang gerakin pelan-pelan barengan sama aku yuk.”

Gua nyengir kegirangan, gua langsung pasang kuda-kuda siap, dan mencoba untuk melakukan gerakan tadi sebagai rangkaian. Setelah 15 menit mencoba, dan dengan hasil yang amatir dan berantakan, Mas Ka masih tetap sabar. Setiap gua menggerakan rangkaian Rambet – Sikut – Lepas itu, beliau memperhatikan dengan seksama, tanpa berkomentar, dan hanya berdiri sambil melipat tangannya.

“Oke, cukup dulu. Kita coba pecah dulu ya gerakannya. Besok kita mulai latihan pukul-rambet dulu ya. Ini supaya nanti rangkaian gerakan kamu mantep.” Kata Mas Ka sambil melemparkan handuk kearah muka gua… dan pluk! Berhasil mendarat menutupi muka gua.

‘Besok’ pun menjadi hari ini, dan hari ini gua kembali menggowes sepeda dengan penuh semangat ke rumah Mas Ka. “Mas Ka!” Gua memanggil  beliau sembari memarkir sepeda di pohon yang biasa, dan terdengar suara Mas Ka menyahut “Masuk aja! Pagarnya enggak aku kunci.”

Gua masuk dan memulai stretching dan pemanasan. Sembari stretching, gua agak heran ketika melihat ada bangku abang-abang (bangku yang biasa diduduki abang-abang di warung rokok, bentuknya hanya sebalok kayu diberi kaki-kaki yang menyokong), dua batu-bata, dan sepasang barbel 2 kg.

Mas Ka terlihat berjalan keluar dari pintu rumahnya menuju garasi (tempat latihan), “Gimana? Udah pemanasan kan?” Gua mengangguk dan Mas Ka melanjutkan, “OK, latihan hari ini, kita mulai latihan kuda – kuda yang lebih mantap, terus kamu latihan pakai barbel ini buat latihan egosan.

“Egosan? Egosan itu apa mas?” Gua bertanya dengan lugu. Layaknya seorang guru dan kakak yang baik, Mas Ka menjawab dengan detil:

“Egosan itu ayunan pundak, tapi kamu ga sembarang ngayun. Ayunan ini ada maksudnya, apakah itu mengelak pukulan lawan, atau justru mau menyerang. Sini coba aku tunjukkin. Kamu berdiri pundak kiri kamu tempel sama pundak kiri aku deh.”

Gua berdiri mendekat, dan gua menempelkan pundak kiri terhadap pundak kiri Mas Ka seperti diinstruksikan. “Gini nih kalau egosan kamu udah mantep..” Dug! Gua merasakan ngilu mendadak dan terhentak kebelakang.

Inilah salah satu lagi ciri khas Silat Tunggal Rasa, dan banyak Silat Betawi lainnya. Karena permainan (di Betawi, ketika bertukar pikiran antara dua jago silat, mereka menyebutnya ‘main’. Sehingga ini dianggap juga sebagai permainan) mereka banyak sekali yang memang berjarak sangat dekat, bahkan kadang hanya berjarak dua jengkal dari hadapan lawan. Dari jarak yang begitu dekat ini, mereka harus bisa memanfaatkan bagian tubuh manapun yang bisa digunakan untuk bertahan dan menyerang.

“Wuiiih… KEREN MAS! Tapi sakit.” Gua mengomel sembari mengusap-usap pundak gua. Mas Ka pun tertawa kecil, dia membantu gua berdiri, dan segera menginstruksikan gua untuk mengerjakan beberapa set latihan.

Di sini gua sadar kalau level gua sudah mulai naik, karena set latihan yang diberikan sudah mulai susah: menahan kuda-kuda diatas kursi abang-abang selama 30 detik, turun dari situ, memegang beban dan berdiri tegak sembari melatih egosan, dan melakukan rangkaian gerakan rambet – sikut – lepas sebanyak 15 kali, dan melatih rambet tangan Mas Ka. Setiap kali jatuh dari kursi abang-abang, maka hukumannya adalah push up 5 kali dan set rambet pun ditambah 5 repetisi.

Set pertama: oke, bisa pelan-pelan… Enggak jatuh… oke. Nah, latihan egosan… Oke, enggak seberapa, bisa lah 5 kali lagi, nah selesai. Rambet – sikut – lepas (ulangi 15 kali) selesai. Rambet lengan dan tangan Mas Ka… Waduh.

Lengan Mas Ka terasa seperti balok kayu. Mas Ka hanya menyipitkan mata sembari tersenyum. Khas sekali, “Wah, gua dikerjain nih.” Bocah 11 tahun ini menggerutu dalam benaknya tanpa disadari bahwa guru silatnya sedang menaikkan standar latihan. Setelah merambet lengan Mas Ka 10 kali masing-masing sisi, dan 3 set kedepan, gua kelelahan.

Mas Ka banyak tertawa dalam latihan ini, nampaknya beliau menikmati melihat gua berusaha begitu keras untuk memutar lengannya.  “Kita sudah dulu ya latihan hari ini, kamu kan besok sekolah, nanti pas nulis catatan, tangan kamu gemetaran kan lucu hahaha.” Mas Ka tertawa, dan gua hanya bisa terkekeh sambil cemberut.

Beliau kembali mengambilkan handuk kecil untuk menyeka keringat di muka gua yang sudah kusut, dan dari jauh, beliau melemparkan handuk itu dan pluk! Mendarat tepat menutupi muka gua. Latihan hari itu pun selesai.

 

Raka Siga Panji Pradsmadji adalah sulung dari dua bersaudara. Terlahir di Jakarta, bankir muda berdarah campuran Jawa dan Manado ini merupakan alumni dari program pertukaran pelajar Youth Exchange and Study (YES) ke Amerika Serikat tahun 2007-2008. Lulusan Unisadhuguna International College dan Northumbria University ini amat mencintai keberagaman budaya Indonesia; mulai dari wayang, silat, makanan tradisional, bahkan hingga aliran kebatinannya.

 

Published by Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat selama setahun di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Penulis novel "The Extraordinary Cases of Detective Buran" ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku, dan karaoke. Find out more about him personal blog.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *