Categories
101 La Galigo Featured Liputan

Marvel ‘Eternals’, La Galigo dan Mitos Tomanurung

Sobat Lontara, Marvel Studio yang terkenal dengan film-film bergenre superhero kembali mempersembahkan sebuah karya terbarunya: ‘Eternals’. Film yang disutradarai oleh Chloé Zhao dan bertaburkan bintang-bintang terkenal Hollywood seperti Angelina Jolie, Salma Hayek, Gemma Chan, Kit Harington serta Richard Madden ini diadaptasi dari komik Marvel berjudul “The Eternals” karangan Jack Kirby yang pertama kali rilis pada tahun 1976. Eternals mengambil latar tempat dan waktu di dunia yang sama dengan para Avengers, tepatnya pasca Thanos menghilangkan setengah populasi umat manusia dengan kekuatan Infinity Stones. Film ini berkisah tentang para Eternal, yaitu sekelompok manusia abadi dengan kekuatan superior (Homo immortalis) yang turun dari ruang angkasa sejak era Mesopotamia kuno (3000 tahun sebelum Masehi) untuk membantu umat manusia di planet bumi membangun peradaban. Lewat artikel kali ini, kita akan membedah kemiripan plot dalam kisah Eternals dengan mitos mengenai sosok ‘Tomanurung’ atau manusia-manusia yang turun dari langit ke Dunia Tengah dalam epos La Galigo. Selamat membaca!

Eternals dan Tomanurung: Utusan Celestials dan Utusan Dewata

Alkisah, para Eternal diciptakan oleh mahluk-mahluk kosmik adikuasa misterius yang dikenal dengan sebutan Celestials. Sesosok Celestial bernama Arishem mengutus para Eternal ke bumi dengan misi utama melindungi manusia dari serangan mahluk predator jahat bernama Deviant. Seperti halnya dengan para Eternal, Deviant adalah mahluk ciptaan Celestials. Sejatinya, mereka diutus sebagai mahluk pemangsa predator alami planet bumi yang membahayakan umat manusia, namun pada tahapan selanjutnya Deviant mengalami penyimpangan dan justru memangsa manusia itu sendiri. 

Para Eternal yang berjumlah sepuluh orang diturunkan Arishem dengan kekuatan-kekuatan super sebagai bekal mereka dalam berhadapan dengan Deviant. Gilgamesh memiliki kekuatan tinjuan super; Thena dapat menciptakan senjata apapun dari energi kosmik; Ajak dapat berkomunikasi dengan para Celestials di dimensi lain;  Makkari adalah manusia paling cepat di jagad raya; Sprite dapat menciptakan ilusi visual; Ikaris dapat terbang serta mengeluarkan sinar laser dari matanya; Sersi memiliki kemampuan transmutasi materi; Kingo dapat menembakkan energi dari kedua tangannya; Phastos dapat merancang teknologi paling mutakhir di dunia serta Druig mempunyai kekuatan untuk mengendalikan pikiran. Kemampuan yang beraneka ragam ini ditujukan untuk menjaga manusia agar mereka dapat berkembang secara alamiah serta membangun peradaban di muka bumi.

Di dalam epos La Galigo, Tomanurung berarti penghuni kahyangan (Torilangiq) yang turun ke Ale Lino(Dunia Tengah). Tomanurung ditugaskan oleh Dewata yang diketuai oleh Datu Patotoé dan Datu Palinge selaku duo penguasa negeri Boting Langiq (Dunia Atas) dan Opu Samudda bersama Guru ri Selleng penguasa Toddang Toja (Dunia Bawah) untuk membina kehidupan di Ale Lino. Misi utama para Tomanurung ini adalah untuk menumbuh-kembangkan umat manusia, mengajarkan mereka untuk menyembah Dewata, termasuk menjadi pemimpin yang adil serta membangun peradaban. Epos La Galigo menyebutkan Batara Guru La Toge Langiq sebagai Tomanurung pertama yang diturunkan oleh Dewata ke negeri Ale Luwu. Selanjutnya, diturunkan pula Tomanurung di negeri Tompoq Tikkaq yaitu We Pada Uleng dan La Urung Mpessi, sedangkan di negeri Wewang Nriwuq muncul pula Tejjoq Risompa dari Toddang Toja dan istrinya, Polalengé Tojang Mpulaweng. 

Para Tomanurung tersebut dibekali oleh pusaka yang mengandung kekuatan supranatural serta kekuatan gaib di luar nalar manusia biasa. Melalui pusaka dan kekuatan dari Dewata tersebut, para Tomanurung dapat mengendalikan berbagai elemen alam, memanggil mahluk-mahluk dari dimensi lain termasuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati! Akan tetapi, berbeda dengan para Eternal yang tidak dapat berkembang biak, para Tomanurung justru diperintahkan untuk membentuk dinasti manusia keturunan Dewata di Dunia Tengah. Keturunan dari para Tomanurung ini konon darahnya berwarna putih (maddara takkuq) serta menjadi cikal-bakal generasi para penguasa yang memerintah di Pulau Sulawesi. Wah, baik Eternal maupun Tomanurung sama-sama diutus dari dimensi atas (ruang angkasa/langit) untuk umat manusia ya!

Eternals dan Tomanurung Generasi Kedua: Mahluk Superior yang merubah sejarah

Di film Eternals, kita dijelaskan bahwa tokoh-tokoh Eternal menjadi inspirasi umat manusia dalam menciptakan beragam mitologi dan legenda. Sosok Thena yang lincah dan kuat menjadi inspirasi dari Dewi Athena dalam kepercayaan masyarakat Yunani kuno. Ikaris adalah tokoh yang menjadi sumber cerita Ikarus, seorang pemuda yang dapat terbang dengan sepasang sayap buatan ciptaan ayahnya, namun mengalami kecelakaan karena mengabaikan instruksi untuk tidak melayang terlalu dekat dengan matahari. Demikian pula halnya dengan Gilgamesh nan perkasa yang menginspirasi sosok bernama sama dalam mitologi Mesopotamia kuno. Aksi-aksi para Eternal tersebut diromantisasi menjadi cerita-cerita yang mempengaruhi umat manusia dalam perkembangan peradaban mereka. 

Ikaris, salah satu Eternal terkuat. Credit: Marvel Studios.

Tomanurung pada periode setelah era La Galigo pun dipercaya merubah sejarah lewat kehadiran mereka. Setelah berlalunya zaman La Galigo, yaitu ketika tujuh keturunan para Tomanurung dari angkatan Batara Guru naik kembali ke langit, maka umat manusia memasuki zaman kegelapan yang dikenal sebagai “Sianre Bale Tauwe” (yang kuat memangsa yang lemah). Selama zaman kegelapan itu, manusia bagaikan kehilangan arah. Tidak ada pemimpin yang dapat mempersatukan rakyatnya, semua orang bertindak sekehendak hatinya sehingga kekacauan pun muncul dimana-mana. Setelah mengalami masa zaman kegelapan itu selama Pitu Pariyama (tujuh masa) lamanya, kemudian bermunculan lah para Tomanurung generasi kedua di berbagai kawasan di Sulawesi Selatan. 

Di daerah Luwu misalnya, muncul Tomanurung bernama Simpurusiang. Di Toraja, sesosok Tomanurung bernama Puang Tamboro Langiq turun dari Dunia Atas melalui pelangi di puncak Gunung Kandora. Di daerah Gowa turun seorang dewi yang disebut dengan nama Tumanurunga ri Tamalaté. Di daerah Mamuju ada seorang ratu dari langit bernama Tonisseseq ri Tingalor yang keluar dari perut ikan merah raksasa. Di daerah Bone muncul Mata Silompoé Manurungé ri Matajang, sedangkan di Soppeng, seekor burung kakatua mengantarkan para tetua adat kepada sosok La Temmamala Manurungé ri Sekkanyiliq. Para Tomanurung ini berperan sebagai pembentuk kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan yang kita kenal hingga hari ini. Kehadiran mereka mengakhiri periode panjang era kegelapan, dimana kemudian masyarakat mulai membangun negara sesuai ketentuan adat dan berasaskan kepada keadilan. Selain mengajarkan bagaimana caranya menjalankan negara serta hidup berdampingan, para Tomanurung ini juga memiliki kekuatan supranatural. Sebagian dari Tomanurung ini dapat terlihat di beberapa tempat pada saat yang bersamaan. Ada yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan cuaca. Ada pula yang mampu melihat masa depan serta dapat menyembuhkan penyakit. Lewat kekuatan supranatural mereka, para Tomanurung dihormati dan dipuja oleh masyarakat. 

Eternals dan Tomanurung: Manusia-Manusia Abadi

Para Eternal menyatukan kekuatan untuk membentuk ‘Uni-Mind’. Credit: Marvel Studios.

Setelah berhasil mendirikan kerajaan di daerah masing-masing, para Tomanurung ini akan menghilang. Seperti halnya Eternal yang abadi, para Tomanurung dipercaya tidak mengalami kematian melainkan raib kembali ke dimensi langit. Bedanya, apabila Eternal dapat kembali muncul ke tengah masyarakat untuk menolong manusia pada saat-saat tertentu, maka Tomanurung tidak mungkin turun kembali ke Dunia Tengah. Manusia telah diserahkan amanat untuk mengelola dunianya sendiri, termasuk menyelesaikan dan menghadapi segala permasalahannya. 

Sebagai ganti kehadiran mereka, Tomanurung meninggalkan pusaka berupa artefak-artefak bernama arajang atau kalompoang yang dipercaya memiliki kekuatan gaib. Artefak-artefak tersebut lah yang kemudian menjadi wakil dari kuasa Tomanurung di muka bumi. Melalui artefak-artefak ini, kekuatan Tomanurung dari Dunia Atas terpancar untuk umat manusia. Konon, siapa yang diwarisi arajang, maka dialah yang memiliki hak sebagai penguasa di daerah tersebut.

Demikianlah tadi beberapa persamaan dan perbedaan antara tokoh-tokoh Eternal dalam film Marvel dan sosok-sosok Tomanurung dalam epos La Galigo serta legenda di Sulawesi Selatan. Ternyata, ada banyak elemen-elemen cerita rakyat yang dapat dikembangkan sebagai hiburan untuk menarik minat generasi muda agar lebih peduli kepada budayanya sendiri. Kira-kira inspirasi seperti apakah yang Sobat Lontara dapatkan setelah melihat perbandingan ini? Yuk, berkarya sambil melestarikan budaya!

By Louie Buana

Alumni Universitas Gadjah Mada yang sedang melanjutkan studinya di Universiteit Leiden, Belanda. Pernah mengikuti pertukaran pelajar ke Amerika Serikat di bawah program AFS Youth Exchange & Study (YES). Peneliti di bidang hukum dan sejarah ini memiliki hobi jalan-jalan, membaca buku dan karaoke. Dengarkan dongengnya tentang folklor Nusantara dan pop culture di Kacrita podcast via Spotify.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *